Hari Ini Aku Datang (bersama tiga perempuan perkasa) …

 

Ada kegembiraan padaku hari ini. Sukacita yang lebih dari biasanya. Kerinduan untuk memiliki media seperti ini sudah sangat lama menggumpal dalam dada.

Aku bukanlah siapa-siapa. Apalagi jika dibandingkan dengan orang lain yang dirasakan lebih memiliki sesuatu yang sangat menonjol. Aku hanya punya tekad yang kuat dan harapan untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik.

Untuk itu, sangat dibutuhkan dukungan dari banyak orang. Itulah engkau, sahabatku …

Salamku,

St. Rodlany A. Lbn. Tobing, SE, MBA, MMin

Ulang Tahun yang Istimewa

Tidak ada “ritual” yang dilakukan oleh keluarga terdekat pada Kamis, 19 Juni 2014 yang lalu. Biasanya ada saja yang dilakukan, dari menaburkan bedak begitu terbangun dari tidur pada pagi-pagi hari (saat masih tinggal di Bandung), sampai acara peniupan lilin ulang tahun (yang memang tahun ini aku ‘nggak begitu menginginkannya karena merasa sudah ‘nggak pantas lagi, hehehe …)

Oh, Parhalado … Oh, Buku “Impola ni Jamita” …

Sudah beberapa kali berulang, namun saat sermon parhalado Jum’at 30 Mei 2014 yang lalu aku sudah harus menyampaikan apa yang “mengganjal di hati”: “Aku perhatikan, hampir setiap kali selesai pembahasan perikop Epistel untuk dikhotbahkan di partangangan wejk selalu ada waktu yang terbuang karena ‘nggak ada seorang pun yang mengajukan pertanyaan atau komentar atau tanggapan atas materi yang sudah disiapkan oleh sintua yang mendapat giliran sebagai penyaji bahan sermon. Malam ini bahkan sudah dua kali diajukan pertanyaan oleh pendeta kepada kita semua untuk bertanya namun tak seorang pun yang bertanya. Sudah lewat lima belas menit, dan kita semua terdiam …”.

Yang bertanya biasanya “yang itu-itu aja” penatuanya. Aku adalah satu di antaranya yang sedikit. Malam itu aku “segan” untuk bertanya karena memang bahan yang disajikan sangat jauh melenceng dari perikop yang dibahas. Perikopnya adalah Mazmur, namun hanya satu paragraf yang ‘nyambung dengan perikop tersebut (dan untuk hal ini beberapa penatua sudah “bersungut-sungut” …).

Lalu aku sambung lagi, “Sayang sekali waktu kita terbuang karena harus menunggu semua orang untuk membaca-ulang dan mencoba memahami isi materi yang disampaikan. Kalau begini keadaannya, ‘kan sayang sekali usaha yang dilakukan oleh penatua penyaji dalam mempersiapkan bahannya menjadi kurang berguna karena kurang ditanggapi untuk memperkaya bahan yang sudah disajikan. Kenapa kita ‘nggak memakai saja buku Impola ni Jamita yang dari Kantor Pusat HKBP yang penulisnya terdiri dari para pendeta dengan gelar yang hebat-hebat. Tiap tahun kita menghabiskan dana untuk membeli buku ini, namun lihatlah apa ada yang membawanya setiap kali marsermon? ‘Gimana kawan-kawan penatua, tolong berikan tanggapan karena aku tahu banyak dari antara kita sebenarnya kesulitan dalam mempersiapkan bahan sermon ini. Biasanya aku butuh lebih dari tiga minggu untuk mencari bahan dan membuat tulisan kalau aku dapat giliran bertugas membuatnya. Dan juga kita perlu mewaspadai jangan sampai berdusta, misalnya dengan membuat tulisan yang jelas-jelas kita ambil utuh dari sumber lain namun menuliskan nama kita sendiri sebagai penulisnya.

Kemudian ada komentar dari beberapa sintua dan pendeta:

(1) Ini sudah kesepakatan bersama

(2) Permintaan penatua membuatkan bahan sermon adalah sebagai salah satu cara untuk “memaksa” penatua dalam meningkatkan kemampuannya dalam menulis dan menyiapkan bahan khotbah (cita-cita yang “mulia”  ini menggelikan bagiku melihat faktanya selama ini bahwa hampir 100% penatua yang merasa ‘nggak berbakat dalam menulis dan berkhotbah melakukan hal ini secara terpaksa tanpa melihat konsekuensi lainnya …)

(3) Keputusan diserahkan kembali kepada masing-masing penatua, apakah akan tetap menulis bahan sermon seperti yang sudah berjalan selama ini (dengan kondisi yang jelas-jelas tidak terlalu positif …) atau menggunakan buku Impola ni Jamita saja tanpa harus membuatkan tulisan lainnya.

Langsung saja aku men-declare bahwa untuk sermon parhalado Jum’at, 20 Juni 2014 aku akan menggunaan buku Impola ni Jamita sebagai bahan diskusi, sekaligus mengingatkan kawan-kawan penatua untuk membawanya pada hari itu. Dan paling penting: sudah dibaca sebelumnya di rumah sehingga bisa punya waktu lebih banyak untuk berdiskusi.

Hari Ini Masih Jum’at Agung, Kawan … Belum Paskah!

“Jum’at Agung datang lagi. ‘Nggak terasa, rasanya baru kemarin kita merayakannya. Dan aku mengingat tahun lalu sangat istimewa karena berdekatan dengan perjalananku pulang dari Yerusalem …”, demikian percakapan kami di mobil dengan keluarga paribanku dalam perjalanan Bandung – Bekasi. Beberapa hari ini aku memang bertugas dari kantor untuk mengadakan business review dengan Yogya dan Borma, dua supermarket besar yang jadi peganganku sejak akhir tahun 2013 yang lalu sebagai bagian dari tugas dan tanggung jawabku. Seperti biasanya, aku naik bis pulang dan pergi karena terminalnya juga sangat dekat dengan tempat tinggal kami saat ini di Heliconia Extension Harapan Indah.

Karena tahu bahwa paribanku yang beberapa tahun ini bertugas di Kantor Pusat PT Pos Indonesia di Bandung selalu pulang Jum’at ke Bekasi untuk bertemu dengan keluarganya, maka aku pun iseng-iseng mengirim Whatsapp untuk bareng pulang naik bis. Tak ‘kusangka, ternyata keluarganya sedang ada di Bandung menikmati liburan Paskah yang dimulai Kamis kemarin. Aku pun menumpang di mobil Toyota Avanza mereka, berempat dengan anak semata wayang mereka.

“Memang kenapa, bang?”, tanyanya

“Tahun berganti, umur bertambah, semakin tua, namun keimanan masih begini-begini aja …”, jawabku spontan

“Masak sih, bang? Bukan abang menjadi semakin baik sekarang ini?”, timpalnya sambil nyetir di kemacetan lalu lintas yang sangat padat di jalan yang seharusnya bebas hambatan tersebut (berangkat jam setengah lima dari pintu tol Buah Batu sampai jam setengah sebelas malam di komplek perumahan kami di Bekasi).

“Maksudku, sampai sekarang pun aku merasa masih sangat jauh dibandingkan karakter Yesus yang menjadi idola dan model bagiku …”, jawabku yang masih dalam nada spontan. Itulah yang aku rasakan saat ini.

Dan pagi ini aku masih menemukan kesalahan dalam komunikasi di facebook, ketika salah seorang kawanku sesama anggota NHKBP di Medan yang sekarang menjadi calon legislator (yang kemungkinan besar gagal, yang terlihat dari penghilangan nama partainya dari nama facebook-nya yang selama ini menjadikannya sebagai nama tengahnya) menyampaikan selamat Paskah. Hal yang masih sering terjadi salah kaprah, bahkan di jemaat gereja juga yang mengucapkan “selamat Paskah” setelah usai ibadah Jum’at Agung. Untuk “mencegah” kesalahan lebih banyak, maka aku pun menulis di statusku: “Hari ini masih Jum’at Agung, kawan! Hari Minggu besok barulah Paskah …”. Puji Tuhan, jika dibandingkan tahun lalu kesalahan “membedakan” Jum’at Agung dengan Paskah, tahun ini sangat jauh berkurang. Tentunya, bukan karena penulisan statusku itu, ya!

Selain itu, aku juga menuliskan status kesaksianku bahwa setiap Jum’at Agung selalu terjadi bahwa jam tiga siang akan terjadi mendung (biar bagaimana pun teriknya matahari!) yang menunjukkan bahwa alam pun turut bersedih saat wafatnya Yesus Kristus. Kemarin pun hal yang sama aku sampaikan kepada salah seorang kawanku di kantor Bandung yang muslimah saat dia bertanya tentang Jum’at Agung dan Paskah: “Koq liburnya Jum’at, bukan Minggu pak? Bukankah Paskahnya itu hari Minggu sesuai penjelasan bapak tadi?”.

Puji Tuhan, setelah aku terbangun sore tadi (sangat lelap karena letih dalam perjalanan pulang tadi malam sehingga tidak ikut menyaksikan alam yang bersedih pukul tiga siang …), ucapan yang pertama kali aku dengar dari mak Auli adalah: “Wah, enak kali papa tidurnya sampai ‘nggak lihat alam yang bersedih karena kematian Yesus di kayu salib. Bukan cuma mendung, bahkan tadi hujan turun …”. Dan di facebook aku membaca beberapa status yang mempersaksikan bahwa siang tadi alam turut bersedih dengan cuaca mendung dan hujan yang turun walau sebelumnya sangat cerah.

Terpujilah Tuhan yang masih tetap menunjukkan kemuliaan-Nya! Selamat Jum’at Agung, kawan …

Logam Mulia untuk Auli: Selamat Ulang Tahun!

Auli Birthday Cake (280314)

Hari ini Auli berulangtahun. Umurnya 12 tahun, itu berarti sudah 12 tahun kami sekeluarga merasakan sukacita dengan kehadirannya melengkapi keluarga kami. Hadiah ulang tahun dariku sudah aku berikan beberapa minggu lalu, yakni berupa dompet cantik berwarna kombinasi biru muda yang kami beli di toko buku Gramedia bersama Auli dan mamaknya pada suatu hari Minggu. Itu adalah permintaan dan sesuai dengan keinginannya. Walau semula berjanji untuk mulai memakainya pada hari ulang tahun, namun faktanya dia hanya bisa bertahan dalam satu hari. Besoknya Auli sudah membawanya ke sekolah.

Kemarin waktu mau berangkat ke kantor, mak Auli bertanya kepadaku tentang rencana merayakan ulang tahun Auli pada Sabtu atau Minggu besok. “Hanya mengundang keluarga dekat kita saja. Karena long weekend sampai Senin, biasanya anak-anak yang di Jakarta mau ‘nginap di rumah. Sekalian aja kita bikin perayaannya”, demikian kata mak Auli pagi itu yang sekaligus meralat rencananya semula mengajak keluarga lebih banyak (orang-orang tua plus anak-anak) untuk menikmati Transera Waterpark (taman rekreasi wisata air yang baru diresmikan 28 Februari 2014 yang lalu yang terletak di komplek perumahan tempat kami tinggal saat ini). 

“Baguslah, kalau begitu. “Nggak usah rame kali, karena toh Auli juga ‘nggak meminta seperti itu. Mendingan uangnya yang dihemat bisa dipakai untuk membeli hadiah tas untuk ulang tahunnya yang dimintanya kemarin itu“, jawabku sambil mengingatkan tentang kerinduan anakku untuk memiliki tas JanSport yang lumayan mahal (‘nggak kebayang kalau aku bisa memilikinya waktu zaman seusia dia, bahkan memintanya pada orangtuaku ku pun pasti aku ‘nggak berani!) yang saat diskusi menjelang tidur malam pernah disampaikannya padaku yang aku jawab “terlalu mahal untuk tas seharga itu, lagian kamu ‘kan masih punya tas yang masih bagus …”.

“Iya, betul pa. Auli bahkan bilang kami berbagi dua uang untuk membelinya”.

Lalu aku mengusulkan agar mak Auli membuat kertas yang bergambar berbagai tas bermerek itu dengan mencetak dari komputer. Gambar tersebut – yang sekaligus sebagai ganti kartu ucapan selamat ulang tahun – akan diserahkan pagi hari saat hari ulang tahun Auli, namun sayangnya mak Auli batal membuatnya …

***

Aku ingin memanfa’atkan momen ini untuk membuat sesuatu yang berkesan bagi Auli. Itulah sebabnya kemarin aku membeli logam mulia seberat tiga gram sebagai hadiah tambahan baginya. Auli Birthday Gold (280314)Dan tadi pagi usai acara pengembusan lilin, aku sampaikan dengan menyampaikan kalimat-kalimat yang menurutku bagus untuk diingatnya:

“Ini emas murni, seperti yang tadi kamu bilang. Logam mulia juga namanya. Papa berikan sebagai pertanda bahwa hidup kita harus murni dan mulia juga yang artinya terhormat. Dan memuliakan Tuhan. Beratnya tiga gram untuk mengingatkan bahwa kita satu keluarga ada tiga orang. Kita satu tim. Selalulah untuk bersama, dan mengutamakan keluarga. Dan yang lebih berarti daripada itu adalah tiga mengingatkan pada Allah Bapa, Tuhan Yesus, dan Roh Kudus yang menjadi pedoman dalam kehidupan kita …”

“Papa bersyukur kepada Tuhan untuk 12 tahun kebersamaan kita sebagai keluarga. Papa sangat bersukacita dengan kehadiranmu sebagai jawaban atas kerinduan kami untuk punya anak, dan Tuhan menitipkanmu bagi kami. Usiamu sekarang sudah bukan lagi usia anak-anak, kamu sebentar lagi sudah masuk SMP. Mulailah bertanggung jawab. Yang utama adalah sekolahmu. Lebih rajin dan mandirilah. Bangun sendiri, makan sendiri, dan belajar sendiri. Mama sudah ‘nggak bisa mengikutimu terus, karena pelajaranmu juga akan semakin berat. Ingat dan lakukanlah itu ya, nak …”

Lalu mak Auli menyampaikan kalimat harapan yang singkat. Dan Auli juga menyampaikan terima kasih kepada kami berdua.

Selanjutnya aku tutup dengan do’a. Berterima kasih kepada Tuhan untuk kebersamaan dan sukacita yang selalu mengiringi kami. Juga aku memohon penyertaan Tuhan bagi anakku Auli dalam menjalani hari-harinya ke depan …

***

Songon umpama (bukan umpasa, karena ini adalah hasil karanganku sendiri) ma dohononhu:

Habang si anduhur, songgop di ginjang ni punsu.

Sai ganjang ma umur, huhut taruli nasa pasupasu.

 

Horas! Horas! Horas!

Bahan Sermon Minggu Judika

Khotbah 06 April 2014 Minggu Judika

Mulak mangolu ala hata ni Debata/Dipahehe Jahowa do hita asa unang mandate

Keinginan Daging atau Roh? Pilihlah Hidup!

Evangelium Yehezkiel 37:1-14 (bahasa Batak Hesekiel)

Kebangkitan Israel

37:1 Lalu kekuasaan TUHAN meliputi aku dan Ia membawa aku ke luar dengan perantaraan Roh-Nya dan menempatkan aku di tengah-tengah lembah, dan lembah ini penuh dengan tulang-tulang.

37:2 Ia membawa aku melihat tulang-tulang itu berkeliling-keliling dan sungguh, amat banyak bertaburan di lembah itu; lihat, tulang-tulang itu amat kering.

37:3 Lalu Ia berfirman kepadaku: “Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?” Aku menjawab: “Ya Tuhan ALLAH, Engkaulah yang mengetahui!”

37:4 Lalu firman-Nya kepadaku: “Bernubuatlah mengenai tulang-tulang ini dan katakanlah kepadanya: Hai tulang-tulang yang kering, dengarlah firman TUHAN!

37:5 Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada tulang-tulang ini: Aku memberi nafas hidup di dalammu, supaya kamu hidup kembali.

37:6 Aku akan memberi urat-urat padamu dan menumbuhkan daging padamu, Aku akan menutupi kamu dengan kulit dan memberikan kamu nafas hidup, supaya kamu hidup kembali. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.”

37:7 Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan kepadaku; dan segera sesudah aku bernubuat, kedengaranlah suara, sungguh, suatu suara berderak-derak, dan tulang-tulang itu bertemu satu sama lain.

37:8 Sedang aku mengamat-amatinya, lihat, urat-urat ada dan daging tumbuh padanya, kemudian kulit menutupinya, tetapi mereka belum bernafas.

37:9 Maka firman-Nya kepadaku: “Bernubuatlah kepada nafas hidup itu, bernubuatlah, hai anak manusia, dan katakanlah kepada nafas hidup itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Hai nafas hidup, datanglah dari keempat penjuru angin, dan berembuslah ke dalam orang-orang yang terbunuh ini, supaya mereka hidup kembali.”

37:10 Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan-Nya kepadaku. Dan nafas hidup itu masuk di dalam mereka, sehingga mereka hidup kembali. Mereka menjejakkan kakinya, suatu tentara yang sangat besar.

37:11 Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, tulang-tulang ini adalah seluruh kaum Israel. Sungguh, mereka sendiri mengatakan: Tulang-tulang kami sudah menjadi kering, dan pengharapan kami sudah lenyap, kami sudah hilang.

37:12 Oleh sebab itu, bernubuatlah dan katakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya, dan Aku akan membawa kamu ke tanah Israel.

37:13 Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, pada saat Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya.

37:14 Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan membuatnya, demikianlah firman TUHAN.”

Epistel Roma 8:6-11

8:6 Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.

8:7 Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.

8:8 Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.

8:9 Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.

8:10 Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.

8:11 Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.

Hidup Adalah Pilihan!

Demikianlah salah satu semboyan yang seringkali kita dengar dalam kehidupan kita sehari-hari. Maksudnya – baik dalam konotasi positif, maupun negatif – mengajarkan bahwa apapun yang kita jalani dalam kehidupan ini adalah merupakan pilihan atau kombinasi pilihan yang sudah dilakukan. Tidak mudah memang dalam menjatuhkan pilihan, karena setiap pilihan akan datang dengan konsekuensi dan resiko masing-masing.

Hal yang sama akan menghampiri kita manakala membaca nas perikop Minggu Judika ini, baik Ev maupun Ep; namun pada akhirnya kita diarahkan untuk memilih kehidupan.

Eksegese Nas Perikop

Nas : Yehezkiel 37:1-14

Melalui Roh Kudus Yehezkiel melihat di dalam penglihatan suatu lembah penuh tulang. Tulang-tulang tersebut melambangkan “seluruh kaum Israel” (Yeh 37:11), yaitu Israel dan Yehuda dalam pembuangan, yang harapannya telah punah ketika tersebar di antara orang asing. Allah memerintahkan Yehezkiel untuk bernubuat kepada tulang-tulang itu (Yeh 37:4-6). Tulang-tulang itu kemudian dibangkitkan dalam dua tahap:

  1. suatu pemulihan politis kembali ke negeri itu (ayat Yeh 37:7-8), dan
  2. pemulihan rohani kepada iman (ayat Yeh 37:9-10). Penglihatan ini diberikan untuk meyakinkan para buangan bahwa mereka akan dipulihkan oleh kuasa Allah dan menjadi masyarakat yang hidup di tanah perjanjian lagi kendatipun keadaan mereka sekarang kelihatanya suram (Yeh 37:11-14).

Karena partangiangan wejk kita menjadikan nas Ep sebagai bahan khotbah, maka pembahasannya akan lebih banyak memberikan porsi kepada surat Paulus kepada jemaat Roma, yakni Roma 8:6-11.

Nas : Roma 8:5-14

Paulus menguraikan dua golongan orang: mereka yang hidup menurut daging (tabiat berdosa) dan mereka yang hidup menurut Roh.

  1. Hidup “menurut daging” berarti mengingini, menyenangi, memperhatikan, dan memuaskan keinginan tabiat manusia berdosa. Ini meliputi bukan saja kedursilaan seksual, perzinaan, kebencian, kepentingan diri sendiri, kemarahan, dan sebagainya (Gal 5:19-21), tetapi juga percabulan, pornografi, obat bius, perjudian, mabuk-mabukan,dan lain-lain.
  2. Hidup “menurut Roh” ialah mencari dan tunduk kepada pimpinan dan kemampuan Roh Kudus dan memusatkan pikiran pada hal-hal dari Allah
  3. Mustahil untuk mengikuti hukum daging dan pimpinan Roh pada saat yang bersamaan (Rom 8:7-8Gal 5:17-18). Jikalau seorang gagal melawan keinginan dosa dengan pertolongan Roh dan sebaliknya hidup menurut hukum daging (Rom 8:13), dia menjadi seteru Allah (Rom 8:7Yak 4:4) dan dapat menantikan kematian rohani yang kekal (ayat Rom 8:13). Mereka yang terutama mengasihi dan memperhatikan hal-hal dari Allah dalam hidup ini dapat mengharapkan hidup kekal dan hubungan dengan Allah (Rom 8:10-11,15-16).

Refleksi/Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Tidak mudah, bahkan sangat sulit untuk selalu hidup di dalam Roh dan meninggalkan sama sekali keinginan daging. Tubuh jasmani kita yang sudah sangat dipengaruhi oleh dosa, sangat sulit untuk begitu saja bertransformasi kepada kehidupan yang dikuasai oleh Roh. Butuh penyesuaian dan pembentukan yang terus-menerus agar bisa benar-benar sampai kepada kondisi tersebut. Nah, hal yang sangat sulit tersebut dapat diatasi dengan pertolongan Roh yang ada di dalam diri kita, yakni Roh Kudus.

 Roh Kudus dimiiki oleh setiap orang yang sudah menerima Kristus sebagai juru selamatnya. Dan Dia selalu berada di dalam diri setiap orang tersebut. Oleh sebab itu, kita menolak ajaran yang mengatakan bahwa Roh Kudus harus terlebih dahulu diundang agar datang dalam diri seseorang, ataupun diundang untuk hadir dalam ibadah atau persekutuan. Dengan memilih jalan bersama Roh Kudus, maka kita akan beroleh hidup yang sebenarnya, dan bolehlah pula berharap akan kehidupan kekal yang sangat didambakan oleh setiap orang percaya. Sebagaimana Kristus sudah dibangkitkan dari kematian, orang-orang percaya juga akan mengalami hal yang sama dengan iman pada kebangkitan.

 Karena salah satu fungsi Roh di dalam diri orang percaya adalah sebagai pendorong (sering dianalogikan sebagai “angin” atau “udara”), maka sebagai warga jemaat HKBP Immanuel Kelapa Gading kita sebenarnya punya Roh yang memampukan kita untuk tidak lagi melakukan pelayanan dan mengikuti pelayanan pada tingkatan “sekadar”. Misalnya, sekadar menjadi warga jemaat, sekadar menghadiri ibadah Minggu dan partangiangan wejk, sekadar ikut dalam kegiatan kategorial, bahkan sekadar memberikan persembahan dan persepuluhan. Dan sebagai pelayan jemaat, misalnya sekadar maragenda, sekadar menyampaikan firman, bahkan sekadar marsermon. Jika tidak dilakukan dalam Roh, ada kecenderungan dan bahkan potensi bahwa semua pelayanan yang seolah-olah dilakukan untuk Tuhan tersebut, ternyata pada dasarnya adalah untuk memenuhi kebutuhan daging.

Waspadalah! Pilihlah hidup dalam Roh supaya mendaptkan hidup yang sesungguhnya.