Hari Ini Aku Datang (Bersama Tiga Perempuan Perkasa)… 20 November 2008
Posted by tanobato in Aku dan Tiga Perempuan Perkasa.Tags: Umum
comments closed

Ada kegembiraan padaku hari ini. Sukacita yang lebih dari biasanya. Kerinduan untuk memiliki media seperti ini sudah sangat lama menggumpal dalam dada.
Aku bukanlah siapa-siapa. Apalagi jika dibandingkan dengan orang lain yang dirasakan lebih memiliki sesuatu yang sangat menonjol. Aku hanya punya tekad yang kuat dan harapan untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik.
Untuk itu, sangat dibutuhkan dukungan dari banyak orang.
Itulah engkau, sahabatku …
Andaliman-47 Khotbah 15 November 2009 Minggu XXIII Setelah Trinitatis 9 November 2009
Posted by tanobato in Andaliman.Tags: batak, HKBP, khotbah, Minggu, persekutuan, refleksi
add a comment
Dia-lah satu-satunya Tuhan dan juru selamat. Jadilah saksi-Nya dengan setia! Jangan malu, dan jangan takut!
Nas Epistel: Yesaya 43:8-13
43:8 Biarlah orang membawa tampil bangsa yang buta sekalipun ada matanya, yang tuli sekalipun ada telinganya!
43:9 Biarlah berhimpun bersama-sama segala bangsa-bangsa, dan biarlah berkumpul suku-suku bangsa! Siapakah di antara mereka yang dapat memberitahukan hal-hal ini, yang dapat mengabarkan kepada kita hal-hal yang dahulu? Biarlah mereka membawa saksi-saksinya, supaya mereka nyata benar; biarlah orang mendengarnya dan berkata: “Benar demikian!”
43:10 “Kamu inilah saksi-saksi-Ku,” demikianlah firman TUHAN, “dan hamba-Ku yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi.
43:11 Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku.
43:12 Akulah yang memberitahukan, menyelamatkan dan mengabarkan, dan bukannya allah asing yang ada di antaramu. Kamulah saksi-saksi-Ku,” demikianlah firman TUHAN, “dan Akulah Allah.
43:13 Juga seterusnya Aku tetap Dia, dan tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku; Aku melakukannya, siapakah yang dapat mencegahnya?”
Nas Evangelium: 2 Timotius 1:6-12
1:6 Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.
1:7 Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.
1:8 Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah.
1:9 Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman
1:10 dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.
1:11 Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru.
1:12 Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.
Pada masa-masa tertentu, aku sering mendengar lagu yang diciptakan dan dinyanyikan oleh Bimbo, salah satu grup legendaris nusantara yang syairnya melantunkan: “ … bermata tapi tak melihat, berkuping tapi tak mendengar …”. Aku rasa syair itu sangat relevan dengan situasi bangsa Israel pada nas Epistel Minggu ini. Walau sudah begitu nyata kebaikan Tuhan dalam menyertai mereka saat meninggalkan perbudakan Mesir menuju tanah yang dijanjikan, namun tetap saja mereka merasakan bahwa Tuhan “belum ada apa-apanya”. Dan selalu mereka bandingkan dengan allah-allah (sesembahan berhala) mereka yang masih lebih “unggul”.
Oleh sebab itu, Allah kembali mengingatkan mereka untuk hanya percaya pada satu Allah saja, yaitu Allah yang harus mereka persaksikan keturutcampuran-Nya dalam perjalanan hidup bangsa Israel. Tidak ada yang lain! Hanya ada satu Allah, dan Dia-lah satu-satunya dari dahulu, sekarang, dan selama-lamanya.
Sejalan dengan itu, Rasul Paulus mengingatkan untuk berani bersaksi tentang Injil dan Kristus. Jangan malu, jangan takut, dan siaplah menderita. Sebagai orang Kristen (yang sudah dibaptis dan diberikan berkat dan kuasa melalui penumpangan tangan) sudah sepantasnya menjadi saksi Kristus, yang sudah dilimpahi roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.
Tentu saja Allah yang dikenal melalui Alkitab-lah yang disaksikan dalam hidup, yaitu ajaran yang benar tentang Dia. Aku mengatakan tentang hal ini, karena belakangan ini semakin banyak saja terdengar sikap orang-orang Kristen yang cenderung memberhalakan Tuhan. Memberhalakan Tuhan? Ya, menjadikan Tuhan sebagai berhala sebagaimana yang dulu banyak dilakukan oleh orang-orang yang belum mengenal Tuhan! Aku punya seorang kawan sekolah yang di dompetnya selalu terselip foto lukisan Yesus yang sangat diyakininya memberikan kekuatan (kayak jimat, ya?) dan ketenangan baginya. Suatu kali dia mengalami kecelakaan lalu lintas yang berat dan puji Tuhan dia selamat dan hanya mengalami luka-luka ringan. Lalu dia bersaksi: “Saya selamat dari kecelakaan itu karena ada yang menyertai dan menyelamatkan saya, yang tidak terduga dan tidak kelihatan …”, – lalu berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya yang membuat kami semua yang mendengarnya menduga bahwa yang dia maksud dan yang akan dikatakannya adalah bahwa Tuhan yang menyelematkan. Namun apa yang terjadi? Dia mengeluarkan dompet dari saku celananya, dan mengambil foto Yesus untuk dipertunjukkan kepada kami sambil berucap: “Inilah dia yang menyelamatkan saya. Foto ini, yang selalu saya bawa ke mana pun saya pergi …”. Mengejutkan, sekaligus mengecewakan!
Ada juga yang menjadikan salib layaknya jimat, misalnya menggantungkannya di atas setiap pintu sebagai penjaga rumah. Zaman waktu aku masih anak-anak, ada beberapa keluarga yang menitipkan Alkitab di sisi dalam peti mati dengan alasan supaya nanti ada yang dibaca-baca di alam baka sana … (padahal selama hidupnya tidak pernah atau sangat jarang baca Alkitab …). Bahkan sekarang ini ada trend untuk membuat mezbah doa di rumah (ini sih, bagus dan sah-sah aja …), yang sayangnya malah membuat pemilik rumah hanya mau berdoa kalau di mezbah tersebut sehingga enggan berdoa di tempat lain …
Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi
Kita juga acapkali berkelakuan seperti bangsa Israel ini yang buta dan tuli (secara rohani, karena secara jasmani tentulah mereka adalah sehat wal’afiat …) akan kebaikan Tuhan dalam menyertai kehidupan mereka. Tak ada yang akan membantah, jika kita mengambil waktu sejenak untuk merenung tentang campur tangan Tuhan dalam tahun-tahun dan hari-hari kehidupan kita, bahwa betapa sangat baiknya Tuhan pada kita. Namun – dengan berbagai dalih – acapkali pula kita melupakan itu semua, dalam bentuk tidak mempersaksikannya dalam kehidupan kita. Cara yang paling sederhana mempersaksikannya adalah dengan cara menyembah-Nya. Frekuensi dan motivasi menyembah-Nya.
Tanpa sadar, dalam praktik kehidupan kita, kita melaksanakan apa yang ternyata menyimpang dari pengertian menyembah Tuhan dan menjadi saksi-Nya yang sebenarnya. Ada yang semula sebenarnya berniat dan menjalankan ibadah sesuai ajaran Alkitab, namun kemudian berbelok sehingga menjauh dari alkitabiah. Contoh tentang mezbah doa tadi. Mungkin ide ini berasal dari kerinduan untuk berdoa secara khusyuk dan fokus kepada Allah sehingga dibuatlah ruangan khusus yang tentu saja dilengkapi dengan segala asesori (salib, foto-foto, lilin, dan lain-lain) yang diharapkan mampu membawa orang yang berdoa di ruangan tersebut ke dalam suasana khidmat dan sorgawi. Karena sudah menjadi kebiasaan, dan terbukti dengan meyakinkan bahwa semua doa yang didaraskan di mezbah doa di rumah tersebut dikabulkan oleh Tuhan, sehingga orang tersebut hanya mau berdoa di mezbah tersebut dan enggan untuk berdoa di tempat lain.Padahal, Yesus sendiri sudah mengatakan bahwa berdoa tidak harus pada tempat-tempat tertentu. Berdoa tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, karena Bapa ada di segala tempat saat kita memanggil dan berseru kepada-Nya.
Sebagai warga jemaat, kita harus menyadari bahwa Tuhan yang benar dan yang layak disembah hanyalah Allah sebagaimana yang tertulis di Alkitab. Dan cara menyembah-Nya haruslah juga alkitabiah.
Sebagai pelayan di jemaat, kita juga harus mempraktikkan sebagaimana yang dimaksud dalam Alkitab. Dan memberi tahu kepada warga jemaat, serta meluruskan jika kita tahu tentang praktik penyembahan yang berbeda dari apa yang dimaksud oleh Gereja yang juga seharusnya adalah sejalan dengan Alkitab. Pengalaman pribadi bergaul dengan Allah tersebutlah yang kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa malu, tanpa ragu, dan tanpa takut, sebab Tuhan tidak pernah memberikan roh ketakutan kepada kita, anak-anak-Nya.
Selamat Ulang Tahun, Hasian … 3 November 2009
Posted by tanobato in Aku dan Tiga Perempuan Perkasa.Tags: ibadah, sukacita, ulang tahun
add a comment
Hari ini (03/11/09) salah seorang dari tiga perempuan perkasa dalam hidupku berulang tahun. Ke-41, suatu tahun yang tidak bisa lagi dibilang singkat. Apalagi jika mengingat betapa banyak berkat Tuhan yang telah diterimanya. Juga yang sudah kami sekeluarga terima melalui dirinya. Tadi malam sebelum tidur, aku dan Auli sudah mendiskusikan perayaan yang akan kami lakukan. Memang, hampir setiap malam aku sempatkan ‘ngobrol dengan gadis kecilku. Tentang apa saja hal yang menarik untuk kami bicarakan pada malam itu. Biasanya menjelang tertidur, yaitu usai mendaraskan do’a yang biasanya dipimpin oleh Auli. Melanjutkan diskusi sebelumnya – karena membicarakan hal “rahasia” beberapa malam ini kami berdua tidur di kamar Auli sementara mak Auli di kamarnya – tadi malam kami merencanakan untuk bangun lebih pagi (sebelum mak Auli terbangun …) lalu memasak nasi goreng (spesial, kata Auli, karena dicampur dengan nugget kesukaannya …) untuk dihidangkan. Setelah tersedia di meja, barulah kami bangunkan yang berulang tahun. Auli juga sudah menyiapkan tiga kertas warna-warni yang berisi ucapan selamat ulang tahun dalam dua bahasa. Lalu makan malam di Mal Kelapa Gading. Itulah rencana kami untuk bersyukur atas ulang tahun mak Auli hari ini. Oh ya, saat berdoa, Auli mengucapkan, “Untuk mama Auli yang mau berulang tahun besok, Tuhan, berikan kesehatan. Dan kesabaran juga untuk mau mengajari Auli supaya makin pintar …”. Faktanya ternyata jadi berbeda. Jam lima pagi tadi suara alarm di ponselku berbunyi, dan aku pun terbangun. Walau sudah berbisik berulangkali ke telinganya, Auli ternyata tidak bergeming, masih terlelap. Dari dapur kedengaran suara menggoreng di dapur. Ternyata mak Auli sudah bangun dan buru-buru menyiapkan sarapan. ”Wah, batal deh rencana kami pagi ini”, pikirku dalam hati. Sendirian, aku ke dapur untuk menyampaikan selamat ulang tahun. Hari ini aku tidak ke kantor Pasar Minggu seperti biasanya, melainkan berkantor di Kantor Wilayah (State) di Rawamangun, jadi aku bisa pergi dari rumah lebih lambat karena rapat dimulai jam sembilan pagi. Artinya, aku punya waktu lebih banyak untuk tinggal di rumah pagi ini. Tak lama kemudian, mertuaku dari Medan menelepon dan dengan fasilitas video call mereka berbicara untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada mak Auli. Karena di kamarnya, Auli jadi terbangun. Usai bertelepon, kami bertiga pun berdoa. Lalu Auli memberikan kertas warna-warni ucapan selamat ulang tahunnya pada mak Auli yang dibacakan mak Auli dengan terharu. Kemudian ditempel di pintu kamar. Ketika akan ke mobil untuk ke kantor, aku sampaikan rencana untuk makan malam bertiga karena aku sore bisa pulang lebih cepat yang ditolak oleh mak Auli. Alasannya, mukanya lagi jelek karena sedang mengalami perawatan wajah. Sesuatu yang baru aku tahu pagi ini, ternyata wajah isteriku itu terdapat bintik-bintik layaknya penderita cacar. ”Supaya lebih puas, Sabtu pagi aja pa.”, yang lalu aku sahut, ”Aku tak bisa karena mau survai ke Pasirmukti sama kawan-kawanku koor ama:”. Sekarang ini aku sudah mulai rampung bekerja. Tinggal merapikan sedikit, lalu sudah bisa pulang ke rumah untuk besok aku akan lanjutkan di kantor. Ayam kampung dengan masakan na pinadar yang tadi pagi dikatakan mak Auli sebagai hidangan utama makan malam mengajakku untuk segera beranjak setelah semua bisa aku bereskan sore ini.
Andaliman-46 Khotbah 08 November 2009 Minggu XXII Setelah Trinitatis 30 Oktober 2009
Posted by tanobato in Andaliman.Tags: almanak, HKBP, ilustrasi, khotbah, Minggu, persekutuan, refleksi
add a comment

Berpuasa dan memberi, motivasinya yang penting!
Nas Epistel: 2 Korintus 9:6-15
9:8 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.
9:7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.
9:8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.
9:9 Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.”
9:10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;
9:11 kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.
9:12 Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah.
9:13 Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang,
9:14 sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu.
9:15 Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!
Nas Evangelium: Yesaya 58:4-12
58:4 Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.
58:5 Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada TUHAN?
58:6 Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,
58:7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!
58:8 Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.
58:9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,
58:10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.
58:11 TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.
58:12 Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus”, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni”.
Banyak hal dalam hidup ini yang sudah dilakukan, namun tidak dengan cara yang benar. Meskipun melakukannya dengan sungguh-sungguh, namun karena caranya masih tidak tepat maka tidak menghasilkan secara maksimum. Contohnya jika kita masuk dalam kehidupan duniawi yang materialistis: ada orang yang sudah bekerja keras namun tidak menjadi kaya juga. Di dunia pekerjaan: ada orang bekerja habis-habisan (memang ada yang seperti ini, ya?), namun jabatannya tidak naik-naik juga. Bahkan dalam dunia kerohanian, ada pelayan yang menghabiskan banyak waktu dan tenaga dalam melayani di jemaat, tapi hidupnya sendiri tidak damai dan sejahtera (nah, kalau yang ini bolehlah dikatakan sebagai hal yang sangat menyedihkan …).
Perikop Minggu ini menceritakan tentang hal itu, yang secara khusus berbicara tentang berpuasa dan memberi. Keduanya adalah tindakan yang sebenarnya sangat baik, sehingga patut untuk ditiru. Namun, ternyata keduanya belum tentu memberikan kebaikan apabila tidak dilakukan dengan cara yang benar. Salah satunya adalah motivasi yang melatarbelakangi tindakan berpuasa dan memberi dimaksud.
Jika dilakukan untuk sok-sokan (supaya diketahui dan dipuji oleh orang lain), tindakan yang seharusnya mulia tersebut malah berpotensi menjadi nista. Tidak akan mendapat upah yang dijanjikan oleh Tuhan. O ya, pengertian upah dalam hal ini janganlah dipahami sebagai bentuk kompensasi secara materi. Bukan itu.
Nas perikop Ev menjelaskan bahwa dimaksud dengan berpuasa yang berkenan bagi Tuhan adalah ”membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (ayat 6 dan 7). Dan kesemuanya itu dilakukan dengan motivasi yang benar, yaitu untuk kemuliaan Tuhan.
Tadi malam, ketika membaca firman ini, aku menjadi tertegun dan tertegur. Aku seringkali melakukannya dengan motivasi untuk kemegahan diriku sendiri. Aku menjadi malu pada diriku sendiri. Selain karena cara berpuasa, juga karena caraku dalam hal memberi.
Padahal, jika memberi, sebenarnya ada tiga pihak yang menjadi tujuan pemberian itu yang menjadi dasar yang harus dipahami dalam melakukannya, yaitu:
(1) Diri sendiri. Memberi haruslah dengan kesadaran bahwa itu harus dilakukan sebagai perwujudan rasa syukur atas pemberian Tuhan yang terlebih dahulu sudah aku terima. Berkat, kasih karunia, dan … Yesus! Apalagi yang melampuai daripada itu?
(2) Orang lain. Jelaslah ini, ya. Memberi tentulah kepada orang lain.
(3) Allah. Jangan salah mengerti, bukan karena Tuhan berkekurangan. Tapi karena Tuhan mau memakai orang-orang yang memberi untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Pernah mendengar kisah tentang seseorang yang tiba-tiba terpikir untuk membantu anak-anak putus sekolah, lalu memberikan beasiswa melalui suatu yayasan? Besar kemungkinan pada tempat lain (mungkin ratusan atau ribuan kilometer jaraknya …) ada seorang anak yang sedang berdoa kepada Tuhan yang menyampaikan kerinduannya untuk melanjutkan sekolah, padahal orangtuanya sudah menyatakan ketidakmampuannya lagi untuk membiayai … Artinya, Allah memakai orang-orang yang belum tentu saling mengenal untuk menyatakan kuasa-Nya. Luar biasa!
Dari pengalaman, aku ingin berbagi tentang hal-hal sebagai berikut:
(1) Memberi bukanlah dari kelebihan, apalagi dari sisa-sisa, melainkan dari hasil yang disisihkan sejak awal, atau spontanitas sesuai dorongan hati. Banyak orang beranggapan bahwa memberi merupakan suatu kerugian, karena melihatnya sebagai ”pengurangan dari apa yang dimilik saat ini”. Menurutku, sebaiknya memberilah dengan ”terluka”, dalam arti dapat merasakan dampak dari perbuatan saat memberi ini. Belakangan ini aku sudah mulai meneladani sikap ini, yakni dengan cara tidak lagi memesan jus buah saat makan siang di kantor (karena sudah ”menghitung” bahwa kebutuhan serat dan vitamin sudah terpenuhi dari makanan lainnya …), dan uang yang berhasil dihemat tersebut akan aku kumpulkan untuk diberikan kepada orang-orang yang sudah menyampaikan kerinduannya untuk membeli sesuatu yang berguna.
(2) Memberi bukanlah karena diiming-imingi oleh janji tentang perlipatan pemberian, tetapi memberilah dengan kesadaran bahwa pemberian harus dilakukan karena Tuhan sudah memberikan terlebih dahulu. Jadi, pemberian dilakukan sebagai bentuk pengembalian dari apa yang telah diberikan Tuhan. Jangan ”berdagang” dengan Tuhan melalui pemberian! Apalagi memaksa-Nya! Belakangan ini ada pemahaman, kalau memberi persembahan dalam jumlah besar maka Tuhan akan mengabulkan semua permohonannya (ini pemaksaan namanya …) dengan memberikan berkat berlimpah-limpah, 20 kali lipat, 40 kali lipat, atau 100 kali lipat (ini bisnis namanya …). Aku pernah mendengar pendoa yang berulangkali mengatakan seperti ini saat mendoakan persembahan: ”Kami mau Tuhan melipatgandakan persembahan ini dan memberkati orang-orang yang telah memberikannya kepada Tuhan dengan mengabulkan semua permohonan …”.
(3) Perpuluhan tidaklah selalu berarti sepersepuluh dari penghasilan. Keragu-raguan dalam menghitungnya (misalnya 10% dari mana, setelah dipotong pajak atau tidak, bagaimana penghasilan yang tidak menentu, dan lain-lain). Menurutku, bukanlah jumlah itu yang terpenting, melainkan cara memberikannya. Berapapun yang kita berikan, jika dengan sukacita dan memberikan damai sejahtera yang sesungguhnya, itulah yang paling pas.
Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi
Topik ini termasuk hal yang sensitif untuk dibahas di kalangan warga jemaat. Mudah sekali orang tersinggung jika khotbah tentang hal ini diutarakan. Ada jemaat yang sampai saat ini pendetanya menjadi trauma tentang hal ini karena diprotes keras oleh ”tokoh-tokoh jemaat” karena salah satu khotbahnya yang menyampaikan kerinduan untuk tidak mendapati lagi uang pecahan seribu rupiah di kantong persembahan.
Sebagai warga jemaat, yang penting kita ingat adalah – sekali lagi – motivasi dalam melakukan puasa dan juga pemberian. Sebagai pelayan jemaat, kita harus menyampaikan teologi yang benar kepada warga jemaat agar memiliki pemahaman yang benar tentang hal ini. Jangan sampai terkontaminasi oleh ajaran-ajaran yang semakin menjamur belakangan ini yang menekankan tentang persembahan (agar warga jemaat memberikan lebih banyak …) dengan iming-iming berkat yang melimpah-limpah.
Kontroversi Pesan-pendek Firman Tuhan 23 Oktober 2009
Posted by tanobato in Parhalado.Tags: ilustrasi
add a comment
Pagi ini begitu sampai di kantor dan saat akan membasuh muka di kamar mandi, ponselku berbunyi menandakan ada pesan-pendek (= SMS = short message service) masuk. Sekilas sempat aku lihat isinya tentang Tuhan dan pengirimnya dari orang yang sangat aku kenal. Jika firman Tuhan dari orang yang aku tahu disiplin dalam menjalankan kebiasaan bersaat teduh, bukanlah sesuatu yang sangat luar biasa. Belakangan ini semakin banyak saja orang-orang yang suka mem-forward pesan–pendek berisi firman Tuhan kepadaku yang sebagian besar mungkin berasal dari pelayan Tuhan (yang selebritis, karena sering muncul di layar televisi dan ikut-ikutan ”latah” membuat langganan pengiriman firman Tuhan setiap hari dengan cara mengetik kode tertentu sehingga hampir tidak dapat dibedakan dengan yang dilakukan oleh peramal, paranormal, dan artis-artis lainnya …). Lalu kegiatan membasuh muka aku lanjutkan yang kemudian terdengar lagi suara tanda pesan-pendek masuk lagi.
Saat minum susu cokelat Milo hangat di vending-machine (bagian dari rutinitas pagiku kalau ada di kantor), ponselku berdering. Dari pengirim pesan-pendek tadi. Langsung menanyakan, ”Sudah baca isi SMS tadi, amang?”, lalu aku jawab, ”Sudah, inang dan terima kasih sudah mengirim firman. Tapi, koq ’nggak biasa-biasanya pakai ’ngirim firman Tuhan hari ini? Pagi-pagi lagi …”. Dan dijawab, ”Bukan aku yang bikin itu, amang. Aku terima dari adik kita (sambil menyebutkan nama seseorang yang juga sangat aku kenal sebagai orang yang seringkali menimbulkan masalah dalam keluarga besar kami). Barusan aku telepon dia untuk minta penjelasan apa maksudnya mengirimkan yang seperti itu. Dia bilang dia baru membaca Alkitab dan khotbah dari pendetanya dan cocok sekali untuk dibagi kepada keluarga. Tapi aku curiga maksudnya sebenarnya menyindir kami tentang tanah yang …” Lalu pembicaraan menjadi sangat panjang (hampir satu jam …) tentang tanah di kampung warisan orangtua yang satu yang dibeli oleh orang tua satunya lagi tanpa diskusi dengan adik kami tersebut yang tersinggung sehingga merasa tanah yang seharusnya diwariskan padanya (sebagai anak tertua dari orangtuanya tersebut) dicaplok oleh abang dari orang tuanya, yakni mertua dari orang yang mengirim pesan-pendek dan menelepon aku, yang aku panggil dengan ”inang” tersebut. Padahal inang tersebut (menurut pengakuan yang disampaikannya padaku) juga tidak tahu-menahu tentang mertuanya yang sudah membeli tanah warisan tersebut.
Karena pagi-pagi sudah ”terganggu” dengan pembicaraan tersebut, membuatku menjadi semakin tertarik untuk mengetahui dengan lebih jelas apa sebenarnya isi pesan-pendek dimaksud. Beginilah bunyinya: ”Tuhan adalah pemberi, & jika km menginginkan Dia mencurahkan berkat & kemurahannya dlm hidup km, km hrs belajar menjadi seorang pemberi bkn pengambil. G. B. U”. Pesan yang bagus sebenarnya, tapi sayang waktunya dan sasarannya tidak tepat sehingga berpotensi menimbulkan kontroversi.
