Hari Ini Aku Datang (bersama tiga perempuan perkasa) …

 

Ada kegembiraan padaku hari ini. Sukacita yang lebih dari biasanya. Kerinduan untuk memiliki media seperti ini sudah sangat lama menggumpal dalam dada.

Aku bukanlah siapa-siapa. Apalagi jika dibandingkan dengan orang lain yang dirasakan lebih memiliki sesuatu yang sangat menonjol. Aku hanya punya tekad yang kuat dan harapan untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik.

Untuk itu, sangat dibutuhkan dukungan dari banyak orang. Itulah engkau, sahabatku …

Salamku,

St. Rodlany A. Lbn. Tobing, SE, MBA, MMin

Hari Ini Masih Jum’at Agung, Kawan … Belum Paskah!

“Jum’at Agung datang lagi. ‘Nggak terasa, rasanya baru kemarin kita merayakannya. Dan aku mengingat tahun lalu sangat istimewa karena berdekatan dengan perjalananku pulang dari Yerusalem …”, demikian percakapan kami di mobil dengan keluarga paribanku dalam perjalanan Bandung – Bekasi. Beberapa hari ini aku memang bertugas dari kantor untuk mengadakan business review dengan Yogya dan Borma, dua supermarket besar yang jadi peganganku sejak akhir tahun 2013 yang lalu sebagai bagian dari tugas dan tanggung jawabku. Seperti biasanya, aku naik bis pulang dan pergi karena terminalnya juga sangat dekat dengan tempat tinggal kami saat ini di Heliconia Extension Harapan Indah.

Karena tahu bahwa paribanku yang beberapa tahun ini bertugas di Kantor Pusat PT Pos Indonesia di Bandung selalu pulang Jum’at ke Bekasi untuk bertemu dengan keluarganya, maka aku pun iseng-iseng mengirim Whatsapp untuk bareng pulang naik bis. Tak ‘kusangka, ternyata keluarganya sedang ada di Bandung menikmati liburan Paskah yang dimulai Kamis kemarin. Aku pun menumpang di mobil Toyota Avanza mereka, berempat dengan anak semata wayang mereka.

“Memang kenapa, bang?”, tanyanya

“Tahun berganti, umur bertambah, semakin tua, namun keimanan masih begini-begini aja …”, jawabku spontan

“Masak sih, bang? Bukan abang menjadi semakin baik sekarang ini?”, timpalnya sambil nyetir di kemacetan lalu lintas yang sangat padat di jalan yang seharusnya bebas hambatan tersebut (berangkat jam setengah lima dari pintu tol Buah Batu sampai jam setengah sebelas malam di komplek perumahan kami di Bekasi).

“Maksudku, sampai sekarang pun aku merasa masih sangat jauh dibandingkan karakter Yesus yang menjadi idola dan model bagiku …”, jawabku yang masih dalam nada spontan. Itulah yang aku rasakan saat ini.

Dan pagi ini aku masih menemukan kesalahan dalam komunikasi di facebook, ketika salah seorang kawanku sesama anggota NHKBP di Medan yang sekarang menjadi calon legislator (yang kemungkinan besar gagal, yang terlihat dari penghilangan nama partainya dari nama facebook-nya yang selama ini menjadikannya sebagai nama tengahnya) menyampaikan selamat Paskah. Hal yang masih sering terjadi salah kaprah, bahkan di jemaat gereja juga yang mengucapkan “selamat Paskah” setelah usai ibadah Jum’at Agung. Untuk “mencegah” kesalahan lebih banyak, maka aku pun menulis di statusku: “Hari ini masih Jum’at Agung, kawan! Hari Minggu besok barulah Paskah …”. Puji Tuhan, jika dibandingkan tahun lalu kesalahan “membedakan” Jum’at Agung dengan Paskah, tahun ini sangat jauh berkurang. Tentunya, bukan karena penulisan statusku itu, ya!

Selain itu, aku juga menuliskan status kesaksianku bahwa setiap Jum’at Agung selalu terjadi bahwa jam tiga siang akan terjadi mendung (biar bagaimana pun teriknya matahari!) yang menunjukkan bahwa alam pun turut bersedih saat wafatnya Yesus Kristus. Kemarin pun hal yang sama aku sampaikan kepada salah seorang kawanku di kantor Bandung yang muslimah saat dia bertanya tentang Jum’at Agung dan Paskah: “Koq liburnya Jum’at, bukan Minggu pak? Bukankah Paskahnya itu hari Minggu sesuai penjelasan bapak tadi?”.

Puji Tuhan, setelah aku terbangun sore tadi (sangat lelap karena letih dalam perjalanan pulang tadi malam sehingga tidak ikut menyaksikan alam yang bersedih pukul tiga siang …), ucapan yang pertama kali aku dengar dari mak Auli adalah: “Wah, enak kali papa tidurnya sampai ‘nggak lihat alam yang bersedih karena kematian Yesus di kayu salib. Bukan cuma mendung, bahkan tadi hujan turun …”. Dan di facebook aku membaca beberapa status yang mempersaksikan bahwa siang tadi alam turut bersedih dengan cuaca mendung dan hujan yang turun walau sebelumnya sangat cerah.

Terpujilah Tuhan yang masih tetap menunjukkan kemuliaan-Nya! Selamat Jum’at Agung, kawan …

Logam Mulia untuk Auli: Selamat Ulang Tahun!

Auli Birthday Cake (280314)

Hari ini Auli berulangtahun. Umurnya 12 tahun, itu berarti sudah 12 tahun kami sekeluarga merasakan sukacita dengan kehadirannya melengkapi keluarga kami. Hadiah ulang tahun dariku sudah aku berikan beberapa minggu lalu, yakni berupa dompet cantik berwarna kombinasi biru muda yang kami beli di toko buku Gramedia bersama Auli dan mamaknya pada suatu hari Minggu. Itu adalah permintaan dan sesuai dengan keinginannya. Walau semula berjanji untuk mulai memakainya pada hari ulang tahun, namun faktanya dia hanya bisa bertahan dalam satu hari. Besoknya Auli sudah membawanya ke sekolah.

Kemarin waktu mau berangkat ke kantor, mak Auli bertanya kepadaku tentang rencana merayakan ulang tahun Auli pada Sabtu atau Minggu besok. “Hanya mengundang keluarga dekat kita saja. Karena long weekend sampai Senin, biasanya anak-anak yang di Jakarta mau ‘nginap di rumah. Sekalian aja kita bikin perayaannya”, demikian kata mak Auli pagi itu yang sekaligus meralat rencananya semula mengajak keluarga lebih banyak (orang-orang tua plus anak-anak) untuk menikmati Transera Waterpark (taman rekreasi wisata air yang baru diresmikan 28 Februari 2014 yang lalu yang terletak di komplek perumahan tempat kami tinggal saat ini). 

“Baguslah, kalau begitu. “Nggak usah rame kali, karena toh Auli juga ‘nggak meminta seperti itu. Mendingan uangnya yang dihemat bisa dipakai untuk membeli hadiah tas untuk ulang tahunnya yang dimintanya kemarin itu“, jawabku sambil mengingatkan tentang kerinduan anakku untuk memiliki tas JanSport yang lumayan mahal (‘nggak kebayang kalau aku bisa memilikinya waktu zaman seusia dia, bahkan memintanya pada orangtuaku ku pun pasti aku ‘nggak berani!) yang saat diskusi menjelang tidur malam pernah disampaikannya padaku yang aku jawab “terlalu mahal untuk tas seharga itu, lagian kamu ‘kan masih punya tas yang masih bagus …”.

“Iya, betul pa. Auli bahkan bilang kami berbagi dua uang untuk membelinya”.

Lalu aku mengusulkan agar mak Auli membuat kertas yang bergambar berbagai tas bermerek itu dengan mencetak dari komputer. Gambar tersebut – yang sekaligus sebagai ganti kartu ucapan selamat ulang tahun – akan diserahkan pagi hari saat hari ulang tahun Auli, namun sayangnya mak Auli batal membuatnya …

***

Aku ingin memanfa’atkan momen ini untuk membuat sesuatu yang berkesan bagi Auli. Itulah sebabnya kemarin aku membeli logam mulia seberat tiga gram sebagai hadiah tambahan baginya. Auli Birthday Gold (280314)Dan tadi pagi usai acara pengembusan lilin, aku sampaikan dengan menyampaikan kalimat-kalimat yang menurutku bagus untuk diingatnya:

“Ini emas murni, seperti yang tadi kamu bilang. Logam mulia juga namanya. Papa berikan sebagai pertanda bahwa hidup kita harus murni dan mulia juga yang artinya terhormat. Dan memuliakan Tuhan. Beratnya tiga gram untuk mengingatkan bahwa kita satu keluarga ada tiga orang. Kita satu tim. Selalulah untuk bersama, dan mengutamakan keluarga. Dan yang lebih berarti daripada itu adalah tiga mengingatkan pada Allah Bapa, Tuhan Yesus, dan Roh Kudus yang menjadi pedoman dalam kehidupan kita …”

“Papa bersyukur kepada Tuhan untuk 12 tahun kebersamaan kita sebagai keluarga. Papa sangat bersukacita dengan kehadiranmu sebagai jawaban atas kerinduan kami untuk punya anak, dan Tuhan menitipkanmu bagi kami. Usiamu sekarang sudah bukan lagi usia anak-anak, kamu sebentar lagi sudah masuk SMP. Mulailah bertanggung jawab. Yang utama adalah sekolahmu. Lebih rajin dan mandirilah. Bangun sendiri, makan sendiri, dan belajar sendiri. Mama sudah ‘nggak bisa mengikutimu terus, karena pelajaranmu juga akan semakin berat. Ingat dan lakukanlah itu ya, nak …”

Lalu mak Auli menyampaikan kalimat harapan yang singkat. Dan Auli juga menyampaikan terima kasih kepada kami berdua.

Selanjutnya aku tutup dengan do’a. Berterima kasih kepada Tuhan untuk kebersamaan dan sukacita yang selalu mengiringi kami. Juga aku memohon penyertaan Tuhan bagi anakku Auli dalam menjalani hari-harinya ke depan …

***

Songon umpama (bukan umpasa, karena ini adalah hasil karanganku sendiri) ma dohononhu:

Habang si anduhur, songgop di ginjang ni punsu.

Sai ganjang ma umur, huhut taruli nasa pasupasu.

 

Horas! Horas! Horas!

Bahan Sermon Minggu Judika

Khotbah 06 April 2014 Minggu Judika

Mulak mangolu ala hata ni Debata/Dipahehe Jahowa do hita asa unang mandate

Keinginan Daging atau Roh? Pilihlah Hidup!

Evangelium Yehezkiel 37:1-14 (bahasa Batak Hesekiel)

Kebangkitan Israel

37:1 Lalu kekuasaan TUHAN meliputi aku dan Ia membawa aku ke luar dengan perantaraan Roh-Nya dan menempatkan aku di tengah-tengah lembah, dan lembah ini penuh dengan tulang-tulang.

37:2 Ia membawa aku melihat tulang-tulang itu berkeliling-keliling dan sungguh, amat banyak bertaburan di lembah itu; lihat, tulang-tulang itu amat kering.

37:3 Lalu Ia berfirman kepadaku: “Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?” Aku menjawab: “Ya Tuhan ALLAH, Engkaulah yang mengetahui!”

37:4 Lalu firman-Nya kepadaku: “Bernubuatlah mengenai tulang-tulang ini dan katakanlah kepadanya: Hai tulang-tulang yang kering, dengarlah firman TUHAN!

37:5 Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada tulang-tulang ini: Aku memberi nafas hidup di dalammu, supaya kamu hidup kembali.

37:6 Aku akan memberi urat-urat padamu dan menumbuhkan daging padamu, Aku akan menutupi kamu dengan kulit dan memberikan kamu nafas hidup, supaya kamu hidup kembali. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.”

37:7 Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan kepadaku; dan segera sesudah aku bernubuat, kedengaranlah suara, sungguh, suatu suara berderak-derak, dan tulang-tulang itu bertemu satu sama lain.

37:8 Sedang aku mengamat-amatinya, lihat, urat-urat ada dan daging tumbuh padanya, kemudian kulit menutupinya, tetapi mereka belum bernafas.

37:9 Maka firman-Nya kepadaku: “Bernubuatlah kepada nafas hidup itu, bernubuatlah, hai anak manusia, dan katakanlah kepada nafas hidup itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Hai nafas hidup, datanglah dari keempat penjuru angin, dan berembuslah ke dalam orang-orang yang terbunuh ini, supaya mereka hidup kembali.”

37:10 Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan-Nya kepadaku. Dan nafas hidup itu masuk di dalam mereka, sehingga mereka hidup kembali. Mereka menjejakkan kakinya, suatu tentara yang sangat besar.

37:11 Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, tulang-tulang ini adalah seluruh kaum Israel. Sungguh, mereka sendiri mengatakan: Tulang-tulang kami sudah menjadi kering, dan pengharapan kami sudah lenyap, kami sudah hilang.

37:12 Oleh sebab itu, bernubuatlah dan katakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya, dan Aku akan membawa kamu ke tanah Israel.

37:13 Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, pada saat Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya.

37:14 Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan membuatnya, demikianlah firman TUHAN.”

Epistel Roma 8:6-11

8:6 Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.

8:7 Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.

8:8 Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.

8:9 Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.

8:10 Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.

8:11 Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.

Hidup Adalah Pilihan!

Demikianlah salah satu semboyan yang seringkali kita dengar dalam kehidupan kita sehari-hari. Maksudnya – baik dalam konotasi positif, maupun negatif – mengajarkan bahwa apapun yang kita jalani dalam kehidupan ini adalah merupakan pilihan atau kombinasi pilihan yang sudah dilakukan. Tidak mudah memang dalam menjatuhkan pilihan, karena setiap pilihan akan datang dengan konsekuensi dan resiko masing-masing.

Hal yang sama akan menghampiri kita manakala membaca nas perikop Minggu Judika ini, baik Ev maupun Ep; namun pada akhirnya kita diarahkan untuk memilih kehidupan.

Eksegese Nas Perikop

Nas : Yehezkiel 37:1-14

Melalui Roh Kudus Yehezkiel melihat di dalam penglihatan suatu lembah penuh tulang. Tulang-tulang tersebut melambangkan “seluruh kaum Israel” (Yeh 37:11), yaitu Israel dan Yehuda dalam pembuangan, yang harapannya telah punah ketika tersebar di antara orang asing. Allah memerintahkan Yehezkiel untuk bernubuat kepada tulang-tulang itu (Yeh 37:4-6). Tulang-tulang itu kemudian dibangkitkan dalam dua tahap:

  1. suatu pemulihan politis kembali ke negeri itu (ayat Yeh 37:7-8), dan
  2. pemulihan rohani kepada iman (ayat Yeh 37:9-10). Penglihatan ini diberikan untuk meyakinkan para buangan bahwa mereka akan dipulihkan oleh kuasa Allah dan menjadi masyarakat yang hidup di tanah perjanjian lagi kendatipun keadaan mereka sekarang kelihatanya suram (Yeh 37:11-14).

Karena partangiangan wejk kita menjadikan nas Ep sebagai bahan khotbah, maka pembahasannya akan lebih banyak memberikan porsi kepada surat Paulus kepada jemaat Roma, yakni Roma 8:6-11.

Nas : Roma 8:5-14

Paulus menguraikan dua golongan orang: mereka yang hidup menurut daging (tabiat berdosa) dan mereka yang hidup menurut Roh.

  1. Hidup “menurut daging” berarti mengingini, menyenangi, memperhatikan, dan memuaskan keinginan tabiat manusia berdosa. Ini meliputi bukan saja kedursilaan seksual, perzinaan, kebencian, kepentingan diri sendiri, kemarahan, dan sebagainya (Gal 5:19-21), tetapi juga percabulan, pornografi, obat bius, perjudian, mabuk-mabukan,dan lain-lain.
  2. Hidup “menurut Roh” ialah mencari dan tunduk kepada pimpinan dan kemampuan Roh Kudus dan memusatkan pikiran pada hal-hal dari Allah
  3. Mustahil untuk mengikuti hukum daging dan pimpinan Roh pada saat yang bersamaan (Rom 8:7-8Gal 5:17-18). Jikalau seorang gagal melawan keinginan dosa dengan pertolongan Roh dan sebaliknya hidup menurut hukum daging (Rom 8:13), dia menjadi seteru Allah (Rom 8:7Yak 4:4) dan dapat menantikan kematian rohani yang kekal (ayat Rom 8:13). Mereka yang terutama mengasihi dan memperhatikan hal-hal dari Allah dalam hidup ini dapat mengharapkan hidup kekal dan hubungan dengan Allah (Rom 8:10-11,15-16).

Refleksi/Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Tidak mudah, bahkan sangat sulit untuk selalu hidup di dalam Roh dan meninggalkan sama sekali keinginan daging. Tubuh jasmani kita yang sudah sangat dipengaruhi oleh dosa, sangat sulit untuk begitu saja bertransformasi kepada kehidupan yang dikuasai oleh Roh. Butuh penyesuaian dan pembentukan yang terus-menerus agar bisa benar-benar sampai kepada kondisi tersebut. Nah, hal yang sangat sulit tersebut dapat diatasi dengan pertolongan Roh yang ada di dalam diri kita, yakni Roh Kudus.

 Roh Kudus dimiiki oleh setiap orang yang sudah menerima Kristus sebagai juru selamatnya. Dan Dia selalu berada di dalam diri setiap orang tersebut. Oleh sebab itu, kita menolak ajaran yang mengatakan bahwa Roh Kudus harus terlebih dahulu diundang agar datang dalam diri seseorang, ataupun diundang untuk hadir dalam ibadah atau persekutuan. Dengan memilih jalan bersama Roh Kudus, maka kita akan beroleh hidup yang sebenarnya, dan bolehlah pula berharap akan kehidupan kekal yang sangat didambakan oleh setiap orang percaya. Sebagaimana Kristus sudah dibangkitkan dari kematian, orang-orang percaya juga akan mengalami hal yang sama dengan iman pada kebangkitan.

 Karena salah satu fungsi Roh di dalam diri orang percaya adalah sebagai pendorong (sering dianalogikan sebagai “angin” atau “udara”), maka sebagai warga jemaat HKBP Immanuel Kelapa Gading kita sebenarnya punya Roh yang memampukan kita untuk tidak lagi melakukan pelayanan dan mengikuti pelayanan pada tingkatan “sekadar”. Misalnya, sekadar menjadi warga jemaat, sekadar menghadiri ibadah Minggu dan partangiangan wejk, sekadar ikut dalam kegiatan kategorial, bahkan sekadar memberikan persembahan dan persepuluhan. Dan sebagai pelayan jemaat, misalnya sekadar maragenda, sekadar menyampaikan firman, bahkan sekadar marsermon. Jika tidak dilakukan dalam Roh, ada kecenderungan dan bahkan potensi bahwa semua pelayanan yang seolah-olah dilakukan untuk Tuhan tersebut, ternyata pada dasarnya adalah untuk memenuhi kebutuhan daging.

Waspadalah! Pilihlah hidup dalam Roh supaya mendaptkan hidup yang sesungguhnya.

Slaid (Slides) Khotbah di RNHKBP: Set Your Goal!

Menggantikan penatua yang berhalangan, Sabtu (22 Maret 2014) yang lalu aku menyampaikan bahan renungan di persekutuan Remaja dan Naposobulung HKBP. Memenuhi permintaan kordinator RNHKBP untuk membawakan renungan sesuai topik bulanan mereka – yakni Set Your Goal! – yang berarti berbeda dengan nas perikop Almanak, aku pun menyiapkan bahan yang sesuai.

Dijadwalkan jam tujuh malam – dan aku juga datang sebelum jam tujuh setelah mengingatkan kordinator ibadah untuk tepat waktu – ternyata ibadah baru bisa dimulai jam delapan kurang (penyakit jam karet di kalangan gereja yang masih belum bisa disembuhkan, bahkan di kalangan remaja Batak …), yang hadir banyak juga, ternyata. Bahkan ada beberapa orang yang harus mengambil kursi dari konsistori dan duduk menempel ke dinding karena meja dan kursi di Ruangan Sekolah Minggu sudah terisi penuh.

Nas perikop aku bawakan dari pengalaman bangsa Israel yang mengirim para pengintainya dalam perjalanan dari Mesir ke Tanah Kanaan, yang terdiri dari orang-orang optimis (Kaleb dan Yosua) dan yang pesimis. Aku tampilkan juga video clip tentang Goal (cuplikan Steven Covey) dan tentang perlunya kerjasama (iklan biro perjalanan dengan model semut, pinguin, dan kepiting), sehingga membuat suasana sangat hidup. Lalu aku berbagi tentang pengalamanku berdoa belakangan hari ini yang sudah “otomatis” terbangun hampir setiap jam 3 dini hari untuk berdoa.

Slide19

Slide18 Slide17 Slide16 Slide15 Slide14 Slide13 Slide12 Slide11

Slide10

Slide9

Slide8 Slide7 Slide6

Slide5

Slide4

Slide3 Slide2 Slide1

Andaliman-06 Khotbah 30 Maret 2014 Minggu Letare

Berani Menjadi Terang? Lakukanlah Kebenaran dengan Hati yang Dipenuhi Roh, Karena Itulah yang Dilihat Oleh Tuhan

Evangelium Efesus 5: 8-14

5:8 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang,

5:9 karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,

5:10 dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.

5:11 Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.

5:12 Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan.

5:13 Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.

5:14 Itulah sebabnya dikatakan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.”

Epistel 1 Samuel 16: 1-13

Daud diurapi menjadi raja

16:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku.”

16:2 Tetapi Samuel berkata: “Bagaimana mungkin aku pergi? Jika Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku.” Firman TUHAN: “Bawalah seekor lembu muda dan katakan: Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN.

16:3 Kemudian undanglah Isai ke upacara pengorbanan itu, lalu Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kauperbuat. Urapilah bagi-Ku orang yang akan Kusebut kepadamu.”

16:4 Samuel berbuat seperti yang difirmankan TUHAN dan tibalah ia di kota Betlehem. Para tua-tua di kota itu datang mendapatkannya dengan gemetar dan berkata: “Adakah kedatanganmu ini membawa selamat?”

16:5 Jawabnya: “Ya, benar! Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. Kuduskanlah dirimu, dan datanglah dengan daku ke upacara pengorbanan ini.” Kemudian ia menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu.

16:6 Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: “Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya.”

16:7 Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”

16:8 Lalu Isai memanggil Abinadab dan menyuruhnya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata: “Orang inipun tidak dipilih TUHAN.”

16:9 Kemudian Isai menyuruh Syama lewat, tetapi Samuel berkata: “Orang inipun tidak dipilih TUHAN.”

16:10 Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: “Semuanya ini tidak dipilih TUHAN.”

16:11 Lalu Samuel berkata kepada Isai: “Inikah anakmu semuanya?” Jawabnya: “Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba.” Kata Samuel kepada Isai: “Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari.”

16:12 Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: “Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia.”

16:13 Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.

Jika suatu kali melihat orang bermain judi di gereja – siapapun itu, warga jemaat “biasa”, apalagi pelayan jemaat – apa yang akan engkau lakukan? Terkejut, lalu marah, dan menegur mereka untuk segera menghentikan perjudian tersebut? Atau malah pura-pura ‘nggak tahu? “Bukan urusanku”, berkata dalam hati sambil pergi …

Dulu, waktu masih anggota naposo bulung di Medan, aku terkejut dan ‘nggak percaya ketika mendengar ada sekelompok penatua yang berjudi di bilut parhobasan (konon di balik ruangan konsistori) sehabis melakukan sermon parhalado. Bukan di jemaat kami, melainkan di gereja pagaran di mana jemaat kami sebagai sabungan-nya. Karena kaget dan ‘nggak percaya tentang betapa rendahnya moral dan keimanan mereka yang “lupa” pada jabatan keimaman mereka, sekaligus aku juga ‘nggak tahu apa yang harus dilakukan dalam hal “kejadian luar biasa” ini aku benar-benar tidak melakukan apa-apa (sampai sekarang aku berharap bahwa sudah dilakukan tindakan tegas oleh yang berkompeten dalam hal ini …).

Pernah juga guru huria yang mengajar kami markoor ketika masih anggota NHKBP punya kebiasaan rutin minta ditemani minum kamput (nama minuman beralkohol di Medan dengan merek Cap Kambing Putih yang lalu disingkat dan lebih populer dengan nama “kamput”) setiap usai mengajari kami latihan koor di gereja. Tengah malam tersebut, sang guru huria (sekarang jadi pendeta resort di Jakarta …) mengajak kami ke warung grosir milik penatua jemaat yang juga adalah bendahara huria yang Cuma berjarak kurang dari satu kilometer dari lokasi gereja. Dengan berboncengan sepeda motor, biasanya mereka (guru huria dan kawan anggota NHKBP) menghabiskan waktu dengan menenggak alkohol di sana, di pinggir jalan raya yang tentu saja akan mudah terlihat oleh orang-orang yang melintas di jalan tersebut.

Pertama kali diajak, aku ikut karena mengira bahwa kegiatan usai latihan koor tersebut adalah sekadar minum kopi atau minuman ringan (sebagaimana ada tradisi kami saat itu untuk pergi rame-rame makan bubur kacang hijau dan minum bandrek, utamanya kalau ada perayaan kecil-kecilan). Setelah tahu bahwa yang diminum oleh guru huria dan beberapa kawan tersebut adalah kamput, maka aku pun bereaksi dengan cara mengajak pulang kawan-kawan yang sama terkejutnya dengan aku. Selanjutnya, aku ‘nggak pernah mau sekalipun ikut rame-rame usai latihan koor kalau pesertanya ada guru huria tersebut dalam rombongan.

Waktu itu aku merasa ‘nggak pantas kalau ada “orang-orang gereja” yang melakukan perbuatan tercela (yang sekarang aku semakin sadar bahwa gereja bukanlah dihuni oleh semua orang-orang yang suci, walaupun Tuhan memerintahkan untuk menjadi orang-orang yang kudus). Walau nyaris menjadi bagian dari kelompok “sesat” tersebut, aku bersyukur tidak ikut-ikutan dalam perbuatan tersebut, dan berharap bahwa apa yang aku lakukan sebagai bentuk protes dengan tidak pernah mau diajak bisa dianggap sebagai sebuah bentuk teguran. Aku bukanlah orang yang sangat baik (apalagi sempurna!), namun untuk hal-hal yang standar aku masih tahu mana yang pantas dan yang tidak pantas. Apalagi sekarang setelah menjadi penatua, ya …

Demikianlah pesan yang mau disampaikan oleh nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini. “Jadilah terang, jangan ikut menjadi bagian dari kegelapan, malah seharusnya menelanjangi kegelapan tersebut”. Artinya, harus dalam bentuk tindakan karena peneguran aadalah refleksi dari kasih, yakni kalau teguran tersebut dilakukan dengan hati yang tulus dan bersih. Bukan untuk menunjukkan kehebatan, atau kelebihan diri sendiri yang malah mengarah kepada kesombongan. Untuk itu meman dibutuhkan keberanian “ekstra” karena tidak semua orang yang ditegur dalam kegelapannya dapat dengan mudah menerima teguran.

Demikian jugalah dengan proses pengurapan Daud menjadi raja Israel sebagaimana dikisahkan dalam nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini. Samuel yang dulu mengurapi Saul menjadi raja Israel yang pertama, harus melaksanakan perintah Tuhan untuk mencari penggantinya. Ada beban moral, memang baginya. Tapi perintah Tuhan harus dilaksanakan. Oleh sebab itu, pergilah dia ke keluarga Isai sesuai petunjuk Tuhan.

Karena dipengaruhi profil Saul yang konon tinggi besar sebagai raja yang dulu dilantiknya, postur tersebut memengaruhi Samuel ketika menduga Eliab-lah yang akan mengganti Raja Saul, namun Tuhan menolaknya. Demikian juga dengan saudara-saudara lainnya (yang kemungkinan besar adalah berpostur yang mirip dengan Eliab yang adalah prajurit perang Israel yang tangguh), yang juga ditolak oleh Tuhan. Karena semuanya ditolak Tuhan, akhirnya Samuel menyuruh Isai untuk memanggil anaknya yang seorang lagi yang ternyata masih ada dan sedang bekerja di ladang.

Yang semula ‘nggak “masuk hitungan” karena posturnya yang relatif kecil dan profesinya yang “cuma” seorang gembala, malah akhirnya Daud yang terpilih menjadi (calon) Raja Israel dan yang berkenan bagi Tuhan. Sungguh tak terduga kehendak Tuhan, bisa sangat jauh berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh manusia!   

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Sebagai manusia yang terbiasa mengandalkan pikiran, kita terbiasa menetapkan suatu standar dalam menentukan pilihan. Termasuk di dalamnya dalam memilih seseorang, yang biasanya sangat ditentukan oleh apa yang kelihatan daripada apa yang tidak kelihatan. Fisik seringkali menjadi parameter utama, namun hari ini kita diingatkan bahwa bagi Tuhan yang utama adalah hati (sesuatu yang hanya Tuhan paling mengetahui …).

Berhubungan dengan hal itu, dalam menjalankan peran kita sebagai terang, kita juga harus melakukannya dengan hati yang sungguh-sungguh. Bukan untuk “sok-sokan”, supaya dilihat dan dipuji oleh orang-orang, yang berpotensi mengarah kepada mencuri kemuliaan Tuhan.

Bagaimana kita mengetahui tentang “hati” sebagaimana yang dimintakan oleh Tuhan? Nas Ev memberi petunjuk, yaitu dengan menguji segala sesuatu (ayat-10). Dan firman Tuhan adalah alat uji alias standar kualitasnya. Dengan terang Roh Kudus, kita pasti akan mengetahui apakah yang dilakukan oleh orang lain dan yang kita lakukan dalam pelayanan jemaat adalah sesuai dengan firman-Nya, ataukah sekadar untuk kesombongan dan kemuliaan diri sendiri.

Pertanyaan untuk Diskusi:

(1)    Tidak mudah dalam menjalankan peran sebagai terang dalam kegelapan, misalnya dengan menegur orang yang melakukan kesalahan. Apalagi bila orang tersebut adalah orang yang dihormati dalam lingkungan tersebut. Apa yang menjadi batasan Antara menjalankan peranh sebagai terang dengan mencampuri urusan orang lain?

(2)   Saul dipilih oleh Tuhan sebagai Raja Israel dengan perantaraan Samuel yang adalah nabi-Nya. Lantas, Samuel pula yang diminta Tuhan untuk mencari pengganti Saul dengan cara memilih Daud yang sebenarnya tidak “masuk hitungan” dalam kriteria sebagai raja. Bagaimana kita bisa memahami hal ini dalam terang Alkitab?

Daud walau sudah diurapi sebagai Raja Israel, ternyata tidak langsung secara otomatis menjadi Raja Israel karena masih mengalami berbagai peristiwa lain – antara lain menjadi pelayan Saul, mengalahkan Goliat, bahkan dilecehkan oleh saudara-saudara kandungnya juga – sebelum akhirnya dilantik menjadi raja setelah kematian Saul. Pesan apa yang bisa kita dapatkan dari proses yang masih harus dijalani oleh Daud ini?