Hari Ini Aku Datang (bersama tiga perempuan perkasa) …

 

Ada kegembiraan padaku hari ini. Sukacita yang lebih dari biasanya. Kerinduan untuk memiliki media seperti ini sudah sangat lama menggumpal dalam dada.

Aku bukanlah siapa-siapa. Apalagi jika dibandingkan dengan orang lain yang dirasakan lebih memiliki sesuatu yang sangat menonjol. Aku hanya punya tekad yang kuat dan harapan untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik.

Untuk itu, sangat dibutuhkan dukungan dari banyak orang. Itulah engkau, sahabatku …

Salamku,

St. Rodlany A. Lbn. Tobing, SE, MBA, MMin

Kembali Menjadi “Orang Aneh” …

Hari Pertama Pasca Lebaran (300714)

Sejak bulan Juli 2014 ini kami menempati lokasi kantor yang baru. Setelah beberapa tahun menempati rumah yang luas dan asri di Jalan Paso di daerah Jagakarsa di Pasar Minggu di Jakarta Selatan (lengkap banget, ya …), kami pun pindah ke perkantoran yang baru (dalam artian memang baru selesai dibangun, bahkan masih belum tuntas banget dengan masih terdengarnya para tukang menuntaskan beberapa pekerjaan lainnya …). Tepatnya di gedung PT. Aneka Tambang. Masih di kawasan Pasar Minggu. Dari ruanganku di lantai 7 dengan jelas terlihat bangunan kantor pusat kami di seberang sana …

Banyak kenyamanan yang aku dapatkan di tempat yang baru ini. Ruangan kerjaku sekarang terasa lega. Dulu aku bergabung dengan empat orang manajer, sekarang hanya berdua … Dulu masih harus bermacet ria di jalan Cilandak KKO, sekarang bisa langsung masuk ke lokasi perkantoran setelah keluar dari gerbang tol Pasar Minggu. Jadi lebih hemat, jauh lebih hemat dari segi waktu dan konsumsi bahan bakar. Untuk makan pun sekarang jauh lebih nyaman, karena tersedia kantin di lantai dasar yang menyediakan berbagai jenis makanan untuk kebutuhan karyawan yang berkantor di komplek perkantoran ini. Oh ya, dari ruanganku jelas terlihat kondisi lalu lintas di jalan tol apakah sedang macet atau lancar jaya …

Yang aku mau ceritakan adalah tentang “beban psikologis” bekerja pada hari Sabtu. Waktu masih di Kantor Pusat aku sangat menikmati libur setiap Sabtu. Hari itu aku dedikasikan benar-benar untuk keluarga (dan diriku sendiri, tentunya …). Oh ya, sesekali untuk pelayanan jemaat sesuai jadwal pelayananku. Tapi hampir setahun belakangan ini, semuanya itu jadi kerinduan dengan ketentuan bahwa staf penjualan lapangan seperti aku ini yang wajib bekerja enam hari dalam seminggu. Sesuatu yang tidak lazim bagi sebagian besar warga Jakarta dan sekitarnya yang pada umumnya sudah menjadikan Sabtu sebagai hari libur. Bagi karyawan, pun bagi anak sekolah.

Jadilah aku setiap Sabtu jadi “orang aneh” … Di komplek perumahan, di mana semuanya sedang menikmati libur bersama keluarga, eh … aku “rajin banget” berangkat ke tempat pekerjaan. Demikian pula di komplek perkantoran sekarang ini, selalu dibutuhkan menjelaskan tujuan kantor yang dituju ke satpam yang menjaga pintu gerbang di depan komplek perkantoran karena selalu ditutup pada setiap Sabtu karena hanya kantor kami yang mewajibkan karyawannya bekerja pada Sabtu. Yang lainnya? Libur, sudah tentu … Selain PT Aneka Tambang sendiri selaku pemilik bangunan, ada juga Bank Mandiri, Bank Permata, dan beberapa perusahaan lain yang berkantor bersama kami di komplek ini.

Demikian jugalah yang terjadi pagi tadi. Aku membutuhkan lebih dua menit menunggu di depan pintu gerbang yang tertutup rapat sebelum kemudian benar-benar dibukakan oleh satpam yang sebelumnya hanya melihat kedatanganku. Seakan mereka baru tersadar setelah aku klakson, lalu salah seorang satpam mendatangiku untuk bertanya mau ke mana. Dengan jawaban yang sama yang selalu aku sampaikan setiap Sabtu, maka pintu gerbang pun dibuka … Pasti beliau bertanya-tanya di dalam hati, koq sudah ada orang yang bekerja pada hari ini …

Memang hanya ada empat orang kami yang masuk kantor hari ini, semuanya tentu saja yang tidak mengambil cuti Lebaran sehingga hanya berhak menikmati libur Lebaran yang dua hari, yakni Senin dan Selasa. Sepi, tentu saja. Oh ya, ada satpam kantor kami, operator, dan dua orang OB alias office boy (yang salah seorang dengan bangga menyajikan kacang dan kue buatan isterinya, yang tentu saja dengan ekspresi sukacita aku mengambil dan melahapnya …).

Menjelang makan siang, kawan seruanganku permisi pulang. “Masih ada beberapa keluarga yang belum sempat saya kunjungi kemarin, pak. Jadi sambil sekadar kerja hari ini, saya langsung mau ke rumah keluarga bersilaturahim …”, katanya sambil bergegas meninggalkan ruangan untuk pulang.

Jam makan siang, aku ke dapur dan ruang tamu untuk mencari OB untuk memesan makan siang. Yang seorang yang tadi membawa kue dan kacang sedang makan mi instan, yang seorang lagi ‘nggak kelihatan (ternyata sedang merebus mi instan buatnya …). Sekembali dari kamar mandi (di seberang ruangan karena sharing dengan perusahaan lain di lantai yang sama …) aku bertanya ke operator dan satpam, “Sudah makan siang kalian? Masa’ sudah Lebaran masih tetap puasa. Mending kalau puasa Syawal masih ada pahala, ini malah makan mi instan pula …”. Lalu hampir serempak menjawab, “Iya sudah, makan mi instan, pak …”.

Dheg! Aku tersentak kaget; koq sampai begitunya? Lantas secara spontan aku mengeluarkan lembaran seratus ribu yang masih ada di dompetku sambil berujar: “Begini saja, belikan aku makan siang dengan sayur daun singkong dan ikan sambal. Habiskan uang ini untuk membeli makan siang buatmu dan juga buat yang lainnya. Cukup, ‘kan?”

“Wah, cukup banget, pak … Cuma rumah makan Padang yang sudah buka. Saya beli ke sana aja”, sambar seorang OB dengan sigap lalu pergi.

Kami pun makan siang dengan gembira …

Tak lama, dua orang karyawan seperusahaanku (oh ya, OB dan satpam adalah karyawan outsourcing yang dipekerjakan di kantor ini …). Aku bertanya di mana mereka makan tadi, koq langsung ‘nggak kelihatan saat makan siang. Ternyata mereka makan di luar kantor dengan bersepeda motor. “Sekalian kami mau pamit pulang, pak …”, kata mereka berdua hampir serempak.

“Lho, ini ‘kan baru jam berapa … Koq sudah pada mau pulang?”

“Ini ‘kan hari pertama kerja setelah Lebaran, pak. Bolehlah pulang cepat. Mumpung masih siang, pak”

“Wah, koq begitu ya? Memang cuma kita yang bekerja hari ini, yang lain termasuk atasan kita ‘nggak masuk. Mereka ‘kan memang cuti. Harus disiplin, dong! Memang ada yang sakit?”, pertanyaan standar yang sering aku sampaikan kalau ada karyawan yang belum lebih cepat daripada biasanya.

“Betul, pak. Ada keluarga yang sakit …”, jawab salah seorang gelagapan yang aku tahu dia ‘nggak ber-Lebaran karena non muslim. Mereka berdua pun beranjak sambil coba mempengaruhi aku dengan berkata, “Hati-hati, pak. Mendingan pulang saja, jangan mau bekerja sendirian. Ini ‘kan kantor baru, kita ‘nggak tahu dulunya ada apa di sini. Apalagi ruangan yang lainnya pada ditutup, apa ‘nggak seram bapak kerja sendirian?”

Bah! Yang ‘nggak tahunya mereka ini bahwa aku sudah ‘nggak takut lagi sama hantu, malah hantunya yang takut samaku sekarang. Tahu kenapa? Karena wajahku lebih seram daripada hantu dan iblis yang ada saat ini! Hahaha … Betul, ‘kan? Jangan bilang sama siapa-siapa, ya …

Ulang Tahun yang Istimewa

Tidak ada “ritual” yang dilakukan oleh keluarga terdekat pada Kamis, 19 Juni 2014 yang lalu. Biasanya ada saja yang dilakukan, dari menaburkan bedak begitu terbangun dari tidur pada pagi-pagi hari (saat masih tinggal di Bandung), sampai acara peniupan lilin ulang tahun (yang memang tahun ini aku ‘nggak begitu menginginkannya karena merasa sudah ‘nggak pantas lagi, hehehe …)

Oh, Parhalado … Oh, Buku “Impola ni Jamita” …

Sudah beberapa kali berulang, namun saat sermon parhalado Jum’at 30 Mei 2014 yang lalu aku sudah harus menyampaikan apa yang “mengganjal di hati”: “Aku perhatikan, hampir setiap kali selesai pembahasan perikop Epistel untuk dikhotbahkan di partangangan wejk selalu ada waktu yang terbuang karena ‘nggak ada seorang pun yang mengajukan pertanyaan atau komentar atau tanggapan atas materi yang sudah disiapkan oleh sintua yang mendapat giliran sebagai penyaji bahan sermon. Malam ini bahkan sudah dua kali diajukan pertanyaan oleh pendeta kepada kita semua untuk bertanya namun tak seorang pun yang bertanya. Sudah lewat lima belas menit, dan kita semua terdiam …”.

Yang bertanya biasanya “yang itu-itu aja” penatuanya. Aku adalah satu di antaranya yang sedikit. Malam itu aku “segan” untuk bertanya karena memang bahan yang disajikan sangat jauh melenceng dari perikop yang dibahas. Perikopnya adalah Mazmur, namun hanya satu paragraf yang ‘nyambung dengan perikop tersebut (dan untuk hal ini beberapa penatua sudah “bersungut-sungut” …).

Lalu aku sambung lagi, “Sayang sekali waktu kita terbuang karena harus menunggu semua orang untuk membaca-ulang dan mencoba memahami isi materi yang disampaikan. Kalau begini keadaannya, ‘kan sayang sekali usaha yang dilakukan oleh penatua penyaji dalam mempersiapkan bahannya menjadi kurang berguna karena kurang ditanggapi untuk memperkaya bahan yang sudah disajikan. Kenapa kita ‘nggak memakai saja buku Impola ni Jamita yang dari Kantor Pusat HKBP yang penulisnya terdiri dari para pendeta dengan gelar yang hebat-hebat. Tiap tahun kita menghabiskan dana untuk membeli buku ini, namun lihatlah apa ada yang membawanya setiap kali marsermon? ‘Gimana kawan-kawan penatua, tolong berikan tanggapan karena aku tahu banyak dari antara kita sebenarnya kesulitan dalam mempersiapkan bahan sermon ini. Biasanya aku butuh lebih dari tiga minggu untuk mencari bahan dan membuat tulisan kalau aku dapat giliran bertugas membuatnya. Dan juga kita perlu mewaspadai jangan sampai berdusta, misalnya dengan membuat tulisan yang jelas-jelas kita ambil utuh dari sumber lain namun menuliskan nama kita sendiri sebagai penulisnya.

Kemudian ada komentar dari beberapa sintua dan pendeta:

(1) Ini sudah kesepakatan bersama

(2) Permintaan penatua membuatkan bahan sermon adalah sebagai salah satu cara untuk “memaksa” penatua dalam meningkatkan kemampuannya dalam menulis dan menyiapkan bahan khotbah (cita-cita yang “mulia”  ini menggelikan bagiku melihat faktanya selama ini bahwa hampir 100% penatua yang merasa ‘nggak berbakat dalam menulis dan berkhotbah melakukan hal ini secara terpaksa tanpa melihat konsekuensi lainnya …)

(3) Keputusan diserahkan kembali kepada masing-masing penatua, apakah akan tetap menulis bahan sermon seperti yang sudah berjalan selama ini (dengan kondisi yang jelas-jelas tidak terlalu positif …) atau menggunakan buku Impola ni Jamita saja tanpa harus membuatkan tulisan lainnya.

Langsung saja aku men-declare bahwa untuk sermon parhalado Jum’at, 20 Juni 2014 aku akan menggunaan buku Impola ni Jamita sebagai bahan diskusi, sekaligus mengingatkan kawan-kawan penatua untuk membawanya pada hari itu. Dan paling penting: sudah dibaca sebelumnya di rumah sehingga bisa punya waktu lebih banyak untuk berdiskusi.

Hari Ini Masih Jum’at Agung, Kawan … Belum Paskah!

“Jum’at Agung datang lagi. ‘Nggak terasa, rasanya baru kemarin kita merayakannya. Dan aku mengingat tahun lalu sangat istimewa karena berdekatan dengan perjalananku pulang dari Yerusalem …”, demikian percakapan kami di mobil dengan keluarga paribanku dalam perjalanan Bandung – Bekasi. Beberapa hari ini aku memang bertugas dari kantor untuk mengadakan business review dengan Yogya dan Borma, dua supermarket besar yang jadi peganganku sejak akhir tahun 2013 yang lalu sebagai bagian dari tugas dan tanggung jawabku. Seperti biasanya, aku naik bis pulang dan pergi karena terminalnya juga sangat dekat dengan tempat tinggal kami saat ini di Heliconia Extension Harapan Indah.

Karena tahu bahwa paribanku yang beberapa tahun ini bertugas di Kantor Pusat PT Pos Indonesia di Bandung selalu pulang Jum’at ke Bekasi untuk bertemu dengan keluarganya, maka aku pun iseng-iseng mengirim Whatsapp untuk bareng pulang naik bis. Tak ‘kusangka, ternyata keluarganya sedang ada di Bandung menikmati liburan Paskah yang dimulai Kamis kemarin. Aku pun menumpang di mobil Toyota Avanza mereka, berempat dengan anak semata wayang mereka.

“Memang kenapa, bang?”, tanyanya

“Tahun berganti, umur bertambah, semakin tua, namun keimanan masih begini-begini aja …”, jawabku spontan

“Masak sih, bang? Bukan abang menjadi semakin baik sekarang ini?”, timpalnya sambil nyetir di kemacetan lalu lintas yang sangat padat di jalan yang seharusnya bebas hambatan tersebut (berangkat jam setengah lima dari pintu tol Buah Batu sampai jam setengah sebelas malam di komplek perumahan kami di Bekasi).

“Maksudku, sampai sekarang pun aku merasa masih sangat jauh dibandingkan karakter Yesus yang menjadi idola dan model bagiku …”, jawabku yang masih dalam nada spontan. Itulah yang aku rasakan saat ini.

Dan pagi ini aku masih menemukan kesalahan dalam komunikasi di facebook, ketika salah seorang kawanku sesama anggota NHKBP di Medan yang sekarang menjadi calon legislator (yang kemungkinan besar gagal, yang terlihat dari penghilangan nama partainya dari nama facebook-nya yang selama ini menjadikannya sebagai nama tengahnya) menyampaikan selamat Paskah. Hal yang masih sering terjadi salah kaprah, bahkan di jemaat gereja juga yang mengucapkan “selamat Paskah” setelah usai ibadah Jum’at Agung. Untuk “mencegah” kesalahan lebih banyak, maka aku pun menulis di statusku: “Hari ini masih Jum’at Agung, kawan! Hari Minggu besok barulah Paskah …”. Puji Tuhan, jika dibandingkan tahun lalu kesalahan “membedakan” Jum’at Agung dengan Paskah, tahun ini sangat jauh berkurang. Tentunya, bukan karena penulisan statusku itu, ya!

Selain itu, aku juga menuliskan status kesaksianku bahwa setiap Jum’at Agung selalu terjadi bahwa jam tiga siang akan terjadi mendung (biar bagaimana pun teriknya matahari!) yang menunjukkan bahwa alam pun turut bersedih saat wafatnya Yesus Kristus. Kemarin pun hal yang sama aku sampaikan kepada salah seorang kawanku di kantor Bandung yang muslimah saat dia bertanya tentang Jum’at Agung dan Paskah: “Koq liburnya Jum’at, bukan Minggu pak? Bukankah Paskahnya itu hari Minggu sesuai penjelasan bapak tadi?”.

Puji Tuhan, setelah aku terbangun sore tadi (sangat lelap karena letih dalam perjalanan pulang tadi malam sehingga tidak ikut menyaksikan alam yang bersedih pukul tiga siang …), ucapan yang pertama kali aku dengar dari mak Auli adalah: “Wah, enak kali papa tidurnya sampai ‘nggak lihat alam yang bersedih karena kematian Yesus di kayu salib. Bukan cuma mendung, bahkan tadi hujan turun …”. Dan di facebook aku membaca beberapa status yang mempersaksikan bahwa siang tadi alam turut bersedih dengan cuaca mendung dan hujan yang turun walau sebelumnya sangat cerah.

Terpujilah Tuhan yang masih tetap menunjukkan kemuliaan-Nya! Selamat Jum’at Agung, kawan …

Logam Mulia untuk Auli: Selamat Ulang Tahun!

Auli Birthday Cake (280314)

Hari ini Auli berulangtahun. Umurnya 12 tahun, itu berarti sudah 12 tahun kami sekeluarga merasakan sukacita dengan kehadirannya melengkapi keluarga kami. Hadiah ulang tahun dariku sudah aku berikan beberapa minggu lalu, yakni berupa dompet cantik berwarna kombinasi biru muda yang kami beli di toko buku Gramedia bersama Auli dan mamaknya pada suatu hari Minggu. Itu adalah permintaan dan sesuai dengan keinginannya. Walau semula berjanji untuk mulai memakainya pada hari ulang tahun, namun faktanya dia hanya bisa bertahan dalam satu hari. Besoknya Auli sudah membawanya ke sekolah.

Kemarin waktu mau berangkat ke kantor, mak Auli bertanya kepadaku tentang rencana merayakan ulang tahun Auli pada Sabtu atau Minggu besok. “Hanya mengundang keluarga dekat kita saja. Karena long weekend sampai Senin, biasanya anak-anak yang di Jakarta mau ‘nginap di rumah. Sekalian aja kita bikin perayaannya”, demikian kata mak Auli pagi itu yang sekaligus meralat rencananya semula mengajak keluarga lebih banyak (orang-orang tua plus anak-anak) untuk menikmati Transera Waterpark (taman rekreasi wisata air yang baru diresmikan 28 Februari 2014 yang lalu yang terletak di komplek perumahan tempat kami tinggal saat ini). 

“Baguslah, kalau begitu. “Nggak usah rame kali, karena toh Auli juga ‘nggak meminta seperti itu. Mendingan uangnya yang dihemat bisa dipakai untuk membeli hadiah tas untuk ulang tahunnya yang dimintanya kemarin itu“, jawabku sambil mengingatkan tentang kerinduan anakku untuk memiliki tas JanSport yang lumayan mahal (‘nggak kebayang kalau aku bisa memilikinya waktu zaman seusia dia, bahkan memintanya pada orangtuaku ku pun pasti aku ‘nggak berani!) yang saat diskusi menjelang tidur malam pernah disampaikannya padaku yang aku jawab “terlalu mahal untuk tas seharga itu, lagian kamu ‘kan masih punya tas yang masih bagus …”.

“Iya, betul pa. Auli bahkan bilang kami berbagi dua uang untuk membelinya”.

Lalu aku mengusulkan agar mak Auli membuat kertas yang bergambar berbagai tas bermerek itu dengan mencetak dari komputer. Gambar tersebut – yang sekaligus sebagai ganti kartu ucapan selamat ulang tahun – akan diserahkan pagi hari saat hari ulang tahun Auli, namun sayangnya mak Auli batal membuatnya …

***

Aku ingin memanfa’atkan momen ini untuk membuat sesuatu yang berkesan bagi Auli. Itulah sebabnya kemarin aku membeli logam mulia seberat tiga gram sebagai hadiah tambahan baginya. Auli Birthday Gold (280314)Dan tadi pagi usai acara pengembusan lilin, aku sampaikan dengan menyampaikan kalimat-kalimat yang menurutku bagus untuk diingatnya:

“Ini emas murni, seperti yang tadi kamu bilang. Logam mulia juga namanya. Papa berikan sebagai pertanda bahwa hidup kita harus murni dan mulia juga yang artinya terhormat. Dan memuliakan Tuhan. Beratnya tiga gram untuk mengingatkan bahwa kita satu keluarga ada tiga orang. Kita satu tim. Selalulah untuk bersama, dan mengutamakan keluarga. Dan yang lebih berarti daripada itu adalah tiga mengingatkan pada Allah Bapa, Tuhan Yesus, dan Roh Kudus yang menjadi pedoman dalam kehidupan kita …”

“Papa bersyukur kepada Tuhan untuk 12 tahun kebersamaan kita sebagai keluarga. Papa sangat bersukacita dengan kehadiranmu sebagai jawaban atas kerinduan kami untuk punya anak, dan Tuhan menitipkanmu bagi kami. Usiamu sekarang sudah bukan lagi usia anak-anak, kamu sebentar lagi sudah masuk SMP. Mulailah bertanggung jawab. Yang utama adalah sekolahmu. Lebih rajin dan mandirilah. Bangun sendiri, makan sendiri, dan belajar sendiri. Mama sudah ‘nggak bisa mengikutimu terus, karena pelajaranmu juga akan semakin berat. Ingat dan lakukanlah itu ya, nak …”

Lalu mak Auli menyampaikan kalimat harapan yang singkat. Dan Auli juga menyampaikan terima kasih kepada kami berdua.

Selanjutnya aku tutup dengan do’a. Berterima kasih kepada Tuhan untuk kebersamaan dan sukacita yang selalu mengiringi kami. Juga aku memohon penyertaan Tuhan bagi anakku Auli dalam menjalani hari-harinya ke depan …

***

Songon umpama (bukan umpasa, karena ini adalah hasil karanganku sendiri) ma dohononhu:

Habang si anduhur, songgop di ginjang ni punsu.

Sai ganjang ma umur, huhut taruli nasa pasupasu.

 

Horas! Horas! Horas!