jump to navigation

Hari Ini Aku Datang (Bersama Tiga Perempuan Perkasa)… 20 November 2008

Posted by tanobato in Aku dan Tiga Perempuan Perkasa.
Tags:
comments closed

with-3-women-0111084

Ada kegembiraan padaku hari ini. Sukacita yang lebih dari biasanya. Kerinduan untuk memiliki media seperti ini sudah sangat lama menggumpal dalam dada.

Aku bukanlah siapa-siapa. Apalagi jika dibandingkan dengan orang lain yang dirasakan lebih memiliki sesuatu yang sangat menonjol. Aku hanya punya tekad yang kuat dan harapan untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik.

Untuk itu, sangat dibutuhkan dukungan dari banyak orang.

Itulah engkau, sahabatku …

Janda, Ma’afkanlah Aku … 10 Februari 2010

Posted by tanobato in Aku dan Tiga Perempuan Perkasa, Parhalado.
Tags: ,
add a comment

Salah satu hal utama yang mendorong kami sekeluarga untuk mudik ke Medan pada tahun baru yang lalu adalah kerinduan untuk bersama-sama mengikuti partangiangan parsirangan ni taon di rumah mertuaku, yaitu ibadah tanggal 01 Januari jam nol nol lewat nol nol. Dalam usia perkawinan kami yang menginjak15 tahun, tak pernah sekalipun kami mengikuti acara yang biasanya terkesan “sakral” itu di rumah mertuaku. Selain karena kami biasanya di luar kota (karena penugasan dari kantor dan tidak mudik …), juga kecenderungannya kami mengikuti acara tersebut di rumah orangtuaku. Kalaupun kami di Medan, selalunya mertuaku yang perempuan menganjurkan kami untuk mengikuti acara tersebut di rumah orangtuaku dengan alasan jumlah yang hadir lebih sedikit (sementara kalau di rumah mertua biasanya penuh sesak dengan anak, menantu, dan cucu-cucu …).

Tahun ini mak Auli “protes”: “Harus di rumah mamak kamilah tahun ini, masak ‘nggak pernah sih …”. Aku setuju saja pada mulanya dan mempersiapkan diri untuk itu. Ternyata menjelang jam-J, pikiran mak Auli sedikit berubah. Mempertimbangkan jumlah yang diperkirakan hadir di rumah mamak kami semakin sedikit (paling ada sekitar lima orang jika tanpa kehadiran kami …), membuatnya sedih (prihatin, persisnya …), sehingga memutuskan kami melanjutkan tradisi yang ada sebagaimana lazimnya, yaitu mengikuti acara di rumah mamak kami saja. Supaya tidak terlalu merasa bersalah, maka aku usulkan untuk mengikutinya di rumah kedua keluarga: rumah mamakku dan rumah mamaknya alias mertuaku.

Keduanya? Ya, mulai di rumah mertuaku dulu, lalu dilanjut dengan di rumah mamakku. Toh jaraknya tidak terlalu jauh. Walau agak terlambat sedikit, paling tidak, kehadiran kami dapat meramaikan dan memgurangu kesunyian di rumah mamakku. Begitulah, tepat jam nol nol lewat nol nol kami yang sudah berkumpul mulai bersiap-siap mengadakan ibadah. Lembaran acara yang sudah disiapkan dari gereja sudah dibagi kepada semua peserta. Tak dinyana, mertuaku laki-laki malah menunjukku menjadi pemimpin ibadah. Bah! Karena ada pariban-ku bermarga Sibarani (suami kakakku yang sulung) yang ikut acara di situ, aku pun meminta izin dari beliau. Dan diizinkan, tentu saja.

Usai ibadah, kamipun bergegas ke rumah mamakku. Bagusnya, ada pula keluarga yang bersedia mengantarkan kami dengan mobil sehingga kami tiba lebih cepat. Dan mamakku pun tersenyum melihat kedatangan kami sambil berujar, “Disangahon ho do hape, amang tu jabunta on. Nunga parmisi hamu nangkin tu simatuam, kan? Mauliatema, jala nunga hupangan hami pe pizza na tabo na nipesanmi nangkin”. Aku melihat orangtua tersebut dengan lahap memakan makanan favoritnya itu yang sudah aku pilih menunya yang cocok dengan penderita gula.

Besok sorenya (01/01/10) ketika kami bermobil ke Berastagi, di tengah perjalanan ponsel mak Auli berbunyi. Dari pariban-ku satunya yang kawin dengan marga Simanjuntak, memintaku untuk menyampaikan firman Tuhan pada acara partangiangan bona taon keluarga di rumah mertuaku besoknya. Tak bisa menolak, aku iyakan saja. Dalam perjalanan aku berpikir thema khotbah yang akan aku sampaikan yang cocok dengan suasana keluarga saat itu. Untunglah ada Andaliman, yaitu pemahaman sederhana tentang khotbah mingguan sesuai Almanak HKBP yang selalu aku buat dan aku posting di blog pribadiku ini. Untung pula aku membawa laptop-ku. Dan coba mengingat dari koleksi yang ada, dan aku putuskan yang paling pas adalah tentang janda di Sarfat 1 Raja-raja 17:7-16). Sifatnya yang suka memberi dari keterbatasannya karena sangat percaya kepada nabi Elia dan kuasa Allah, menurutku sangat cocok untuk menyemangati memasuki tahun baru.

Ketika tiba saatnya – suhu udara di ruangan sangat panas karena banyaknya yang hadir, dan ada ”pesanan” dari adik mertua untuk menggunakan waktu dengan ”baik” karena menjelang makan siang – akupun menyampaikan khotbah dengan sangat fokus. Karena menangkap suasana yang rada tegang dan serius, aku berupaya untuk mencairkannya dengan menyebutkan kalimat, ”Ini tentang janda miskin. Hidupnya sangat sulit, hanya ada sedikit tepung dan minyak untuk dibuat roti untuk satu kali makan sebelum akhirnya dia beserta anaknya akan mati karena tidak punya persediaan makanan lagi. Sudah janda, miskin pula. Kalau janda kaya, pastilah jadi rebutan …”. Waktu aku sampaikan di gereja pada bulan September yang lalu, itu berhasil memancing tawa (paling tidak, senyum) dari orang-orang yang mendengarnya. Namun pada ibadah kali itu, tanggapan yang aku terima tidak seperti yang aku harapkan. Untuk menyampaikan pesan, barulah agak berhasil ketika aku berbagi tentang rencana perpindahanku bekerja yang aku percaya bahwa Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagiku dan keluargaku.

Usai ibadah dan makan siang, akupun bergegas ke rumah orangtuaku untuk pertemuan lainnya. Acara spontan dengan  bernyanyi per keluarga sore itu yang diiringi dengan keyboard tunggal tidak lama aku saksikan. Malam harinya ketika aku kembali ke rumah mertua, barulah aku mendengar tanggapan dari orang-orang. Ternyata kalimatku ’Sudah janda, miskin pula’ menjadi pembahasan setelah aku pergi tadi. Ternyata ada salah seorang anak dari keluarga besar kami satu ompung itu yang baru bercerai lalu menikah dengan seorang janda. Belakangan ”ketahuan”, bahwa janda tersebut tidak segemerlap penampilannya di awal sebelum menikah dengan anak uda-ku itu. Tentu saja banyak yang tidak setuju dengan pernikahan itu (termasuk uda dan inanguda-ku itu yang adalah pensiunan sintua dan aktivis gereja pula …), karena yang namanya perceraian pastilah hal yang tidak pantas karena tidak sesuai dengan iman Kristen. Nah, keluarga yang lain yang tidak setuju lalu mencibir. Mendengar kabar itu aku jadi kaget karena tidak menyangka akan ada tanggapan sejauh itu, dan berencana untuk segera berkomunikasi dengan parabangan-ku itu.

Besoknya ketika bertamu di rumah pariban-ku yang lain (bermarga Hutapea) aku juga mendengar hal yang sama. Dan itu semakin membangkitkan keinginanku untuk berkomunikasi dengan orang yang sudah aku buat terganggu itu. Namun, pariban-ku itu mencegah dengan mengatakan, ”Tak perlu minta ma’af. Untuk apa, karena itu bukan kesalahan. Khotbah memang harus seperti itu, harus punya kuasa untuk menegur. Apalagi itu disampaikan bukan dengan maksud untuk menyinggungnya, untuk semua orang yang hadir ’kan? Lagian, mana semua orang tahu kalau janda yang dinikahinya itu bagaimana kondisinya, kaya atau miskin, atau apapun itu.”.

Tapi di bandara Polonia, ketika akan kembali ke Jakarta aku merenung sejenak dan memutuskan untuk mengirim kabar melalui facebook di komputer yang tersedia di ruang tunggu. Sekalian meminta ma’af karena khotbah yang aku sampaikan membuat parabangan-ku itu terluka. Itu pada Januari 2010, sekarang sudah Februari, dan aku belum tahu apa dan bagaimana tanggapan parabangan-ku itu karena sampai detik ini pun aku belum pernah lagi membuka facebook-ku karena sejak beberapa bulan ini sudah ditutup aksesnya oleh perusahaan tempatku bekerja dengan alasan mencegah karyawan ber-fesbuk-ria sehingga lupa bekerja …

Frans, Kawanku, yang Masih Seperti Dulu … 9 Februari 2010

Posted by tanobato in Aku dan Tiga Perempuan Perkasa.
Tags: ,
add a comment

Ini bukan kisah tentang kehebatanku. Bukan. Dan ma’afkanlah aku jika masih terkesan seperti itu. Peristiwa ini terjadi ketika mengikuti partangiangan parsirangan taon  alias ibadah tutup tahun (31/12/09) di Medan. 

Malam itu – sama seperti tahun sebelumnya – aku mengambil tempat di deretan kursi di bawah tenda di halaman gereja, sesuatu yang biasa disediakan untuk mengantisipasi peserta ibadah yang datang dalam jumlah yang lebih banyak daripada yang biasanya. Untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam bangunan gereja, bagi kami peserta ibadah di luar, bisa menontonnya dari televisi yang disediakan di kiri dan di kanan halaman gereja. Di sebelah kananku Auli, lalu mamaknya.

Beberapa menit ibadah dimulai – usai votum introitus, mungkin – tiba-tiba aku didatangi oleh Frans, menanyakan kabarku sambil bersalaman dan serta merta duduk di sebelah kiriku. Di kursi yang memang sedari tadi masih kosong (ternyata peserta ibadah malam itu tidak sampai membeludak, mungkin mulai “bosan” dan atau sudah mulai mudik ke kampung masing-masing …). Inilah resikonya kalau duduk di luar bangunan gereja sehingga bagi sebagian besar orang (termasuk Frans) menganggap tidak termasuk peserta ibadah. Tanpa segan pada peserta ibadah lainnya, dia terus berbicara kepadaku.

Memang sudah sifatku, aku lebih bisa menikmati ibadah dengan tenang dan konsentrasi mengikuti liturgi. Itulah pula sebabnya dalam beberapa kali kebaktian di gereja, seringkali aku sampaikan keberatan kepada mak Auli yang masih tetap melayani permintaan Auli untuk keluar sebentar dengan berbagai alasan: ke kamar mandi atau ke minimarket di komplek gereja untuk membeli cemilan. “Kenapa bukan tadi sebelum masuk ibadah, sih dikerjakan semua itu? Apa ‘nggak bisa tenteram selama ibadah?”, kataku memprotes keberisikan mereka. Dan gangguan suasana seperti itulah yang aku alami malam itu.

Oh, ya Frans ini adalah kawanku dulu ketika sama-sama di Naposo Bulung Huria Kristen Batak Protestan (NHKBP). Termasuk aktif, dan bersedia disuruh apa saja asalkan disediakan konsumsi baginya (makan, minum, dan rokok) sekadarnya. Sebagai pengurus, aku tentu saja senang padanya dan sering meminta bantuannya. Apalagi dia salah seorang anggota NHKBP kami yang tidak melanjutkan sekolahnya setamat SMA, dan juga tidak punya kegiatan menetap. Jadi, kloplah, kalau kami memerlukan tenaga bantuan (sementara kami yang lain selaku pengurus tersita oleh kesibukan kuliah …), pastilah mencari Frans. Umurnya tidak terlalu jauh terpaut dariku (sampai sekarang kemungkinan dia masih melajang). Tinggalnya tidak jauh pula dari rumah orangtua mak Auli (alias mertuaku sekarang …), sehingga kalau aku dulu martandang sering berpapasan dengannya. Atau, paling tidak, berbarengan jalan kaki dari gereja (usai menghitung kolekte), sesuatu yang sering aku lakukan ketika masih pacaran. Aku singgah ke rumah mak Auli, lalu dia pulang ke rumahnya setelah minum teh sejenak di teras depan rumah. Di luar kelebihannya, Frans memiliki hambatan dalam berkomunikasi, sehingga acapkali jadi bahan olok-olok di antara kawan-kawan sesama anggota NHKBP. Oleh kondisi itu, dia seringkali berbicara dengan topik yang ‘nggak ‘nyambung sehingga semakin menambah keinginan orang-orang untuk melecehkannya.

Ketika malam itu pembicaraan masih bertukar kabar, aku masih belum begitu terganggu. Walau aku sudah memberi isyarat untuk berkonsentrasi pada ibadah, dia masih belum paham juga. Obrolannya mulai ‘ngelantur, ke harga celana panjangnya yang dibelikan oleh abangya (“Rupanya celana panjang seperti ini mahal juga, ya lae. Kata abangku seratus ribu dibelinya”), pelayan gereja (“Ah, payah kali lae sintua-sintua di gereja kita ini. ‘Nggak ada yang beres …”), dan kebiasaan merokoknya (“Aku sudah lama ‘nggak merokok lagi, lae. Sudah payah dapat rokok dari orang. Uang pun sudah tak ada untuk beli rokok”). Aku sempat tersenyum sejenak ketika sekilas menangkap pesannya bahwa dia sudah tidak merokok lagi, karena dulu pernah aku anjurkan untuk tidak merokok. Namun ketika mendengar alasannya karena tidak punya uang, aku malah tersenyum kecut. Apalagi ketika dia bilang, “Durung-durungku pun cuma ada seribu ini, lae. Tadi pun aku hampir saja tidak mau datang ke gereja ini karena malu tidak punya uang untuk durung-durung”, sambil memasukkan uang kertas seribuan yang sudah lecek ke dalam kantong persembahan. Hanya satu kantong yang diisinya, sementara kantong kedua segera disodorkannya padaku, sambil bertanya penuh harap, “Lae punya uang untuk aku kasih nanti ke durung-durung kedua habis khotbah? Boleh, lae aku minta?

Dheg! Ya, Tuhan … kataku dalam hati, alangkah memprihatinkannya keadaan kawanku ini. Kondisinya tidak jauh berbeda dengan lebih sepuluh tahun yang lalu. Bahkan lebih memprihatinkan. Baru kali ini aku menemukan secara langsung ada orang yang mengikuti ibadah di gereja yang tidak punya uang untuk kolekte sebagai persembahan. Di sisi lain, aku salut padanya, dengan keinginannya untuk tetap mau datang ke gereja. Tak peduli apapun motivasinya. Itu tetap lebih baik daripada orang yang punya uang, namun berat melangkahkan kaki ke gereja.

Selama mendengarkan khotbah pikiranku terus berkecamuk merenungkan pengalamanku malam itu. Berulangkali aku memuji Tuhan untuk semua yang aku rasakan malam itu. Dan aku putuskan untuk berbagi durung-durung padanya. Dan lihatlah betapa gembiranya dia menerima ketika aku sodorkan lima pecahan seribu rupiah padanya menjelang kantong persembahan mendatangi kami, seakan baru melepaskan beban yang berat dari pundaknya. Itu semua membuat perasaanku bercampur aduk, dan membuatku semakin takzim ketika sama-sama mengumandangkan ”amen, amen, amen …” pada penutupan ibadah malam itu.  

Beberapa hari di Medan membuat persediaan uang di kantongku menipis, sehingga tidak ada yang bisa aku berikan padanya lagi. Auli dan mamaknya juga tidak kelihatan sedari tadi setelah beringsut dari kursinya semula. ”Ayolah singgah ke rumah mertua, lae. Aku ’nginap di sana koq malam ini. Kita bisa ’ngobrol lebih puas dan lebih lama”, ajakku padanya sambil berharap bahwa ada yang bisa aku berikan nanti, karena kalau di rumah mertua ada saja orang yang bisa aku pinjami uang sebelum aku ambil ke ATM besoknya. Dan hal itu sudah aku ceritakan kepada mak Auli yang menanggapinya setengah tak percaya.

Malam itu, di teras depan rumah mertua kembali aku menghabiskan waktu menunggu ibadah akhir tahun di rumah dengan duduk-duduk sambil membayangkan kejadian lebih sepuluh tahun yang lalu. Ketika masih pemuda, dan betapa senangnya aku saat itu ketika mula-mula bisa diterima martandang dengan ”resmi” di rumah itu, apalagi bisa berbincang-bincang dengan orangtua yang sekarang menjadi mertuaku. Sampai menjelang dimulainya ibadah parsirangan taon di rumah mertua jam nol nol lewat nol nol, Frans tetap tidak muncul. Aku berharap malam itu dia menemukan kawan yang lain yang juga bisa memahami keadaan dirinya sehingga bisa melewatkan pergantian tahun dengan sukacita. Sambil berharap pada Tuhan bahwa 2010 selalu menjanjikan yang lebih baik dalam kehidupannya.

Andaliman-60 Khotbah 14 Februari 2010 Minggu Estomihi 8 Februari 2010

Posted by tanobato in Andaliman.
Tags: , , , , ,
add a comment

Untuk Parhalado, Sudahkah Memenuhi Persyaratan?

 

Nas Epistel: Keluaran 18: 17-23 (bahasa Batak: 2 Musa 18: 17-23)

18:17 Tetapi mertua Musa menjawabnya: “Tidak baik seperti yang kaulakukan itu.

18:18 Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja.

18:19 Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku, aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau. Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah dan kauhadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah.

18:20 Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan, dan memberitahukan kepada mereka jalan yang harus dijalani, dan pekerjaan yang harus dilakukan.

18:21 Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang.

18:22 Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya.

18:23 Jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya, dan seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya.”

 

Nas Evangelium: 1 Timotius 3: 1-7

3:1 Benarlah perkataan ini: “Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah.”

3:2 Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang,

3:3 bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang,

3:4 seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya.

3:5 Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?

3:6 Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis.

3:7 Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis.

 

Secara personal, nama minggu ini (Estomihi = Ho ma Jahowa, partanobatoanku) bagiku adalah sangat istimewa. Dan nas perikop yang menjadi Ep dan Ev juga terasa sangat ”menyentak” dan sangat pas dengan suasana batinku yang diliputi dengan keterkejutan sekaligus prihatin yang amat sangat. Minggu lalu Panitia Jubileum dilantik di jemaat kami, dan aku ditunjuk menjadi Sekretaris Umum dari kepanitiaan yang diisi oleh lebih dari delapan puluh orang itu. Usai ibadah, aku permisi kepada Ketua Umum untuk tidak hadir dalam acara jamuan makan siang bersama. Selain karena harus ke rumah sakit St. Carolus, aku juga tidak terlalu sreg dengan acara makan bersama tersebut. ”Belum kerja koq sudah bikin makan bersama? Apa kata ruas nanti … Kalaupun dana pribadi Panitia, tetaplah kurang pas karena pada hakekatnya kita masih perlu pencarian dana. Apakah tidak lebih baik kalau uangnya disumbangkan saja sebagai penambah modal dasar Panitia untuk bekerja, lae?”, kataku kepada Ketua Harian saat pertama kali mendengar pemberitahuan itu di partangiangan bona taon parhalado dan keluarga yang langsung disampaikannya kepada Uluan Huria saat itu. Tak bergeming, buktinya acara makan siang bersama tetap diadakan. Tak apalah, yang penting aku sudah sampaikan isi hatiku, kataku berupaya menghibur diri sendiri.

 

Ketika meminta izin meninggalkan gereja dan tidak ikut acara makan siang bersama tersebutlah, Ketua Umum menyahut dalam bahasa Batak, ”Sempatkanlah ikut sebentar. Aku pun harus terburu-buru nanti ke bandara. Saya nanti langsung ke bandara mau ke Laguboti menangani kasus Sekolah Bibelvrow dan dosennya yang memalukan itu. Sudah diliput MetroTV kayak gini, harus cepatlah diatasi.” Semula aku tidak terlalu paham – sehingga tidak terlalu mengambil hati, lagipula karena terburu-buru – namun komunikasi selanjutnya menjadi lebih jelas: ternyata telah terjadi pelecehan seksual terhadap 19 mahasiswi Sekolah Bibelvrow oleh salah seorang dosennya. Dan ini menambah daftar buruk para pendeta dengan kasus-kasus seperti ini (yang biasanya juga bermunculan-kembali dengan adanya perkembangan terbaru ini …). Sangat sangat sangat menyedihkan!!!

 

Nas Ep menceritakan Musa dalam kepemimpinannya yang menerima nasehat mertuanya dalam menangani pekerjaannya yang berat dan melelahkan jika dikerjakan sendiri. Mungkin inilah pertama kali Alkitab mencatat tindakan pendelegasian wewenang pada berabad-abad yang lalu. Selain menyangkut kompetensi (karena kemampuan manusia pastilah sangat terbatas …), hal ini juga berhubungan dengan pembatasan wewenang. Kecenderungan untuk menjadi tidak terkendali, adalah godaan yang sangat nyata dalam kepemimpinan dengan kuasa yang hampir tidak terbatas. Faktor kelelahan akibat terlalu bekerja keras adalah juga berpotensi dalam memberikan keputusan yang tidak tepat.

 

Itulah juga yang mungkin sedang dialami oleh sebagian besar para pendeta yang seharusnya menjadi pelayan jemaat. Dalam banyak kasus, terjadinya adalah pelecehan yang dilakukan atasan dengan bawahan (praeses dengan pendeta perempuan di distriknya, pendeta dengan bibelvrow, pendeta yang dosen dengan mahasiswi Sekolah Bibelvrow, dan lain-lainnya …).

 

Ketika membaca perikop ini, aku menjadi sedikit ”nakal” setelah membaca bait-bait sebelumnya di mana Yitro – sang mertua – akhirnya mendatangi Musa – sang menantu yang menjadi pemimpin besar umat Israel – setelah berbulan-bulan tidak pulang ke rumah menjumpai isterinya. Mungkin saja Yitro terdorong oleh keprihatinannya sehingga perlu menjumpai Musa dan meningatkannya tentang komitmen sebagai pria yang sudah beristeri …

 

Pada akhirnya, Yitro mengingatkan ”jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya …”. Artinya, pekerjaan menjadi pemimpin itu adalah berat (dan banyak godaan karena kuasa yang diembannya …), namun karena Allah yang dijadikan dasar, maka kekuatan akan diberikan-Nya. Termasuk di dalamnya adalah kekuatan dalam menahan diri agar tidak menjadi seorang pemarah, dan tentunya juga menahan diri dalam dorongan seksual!

 

Nas Ev membuatnya menjadi lebih rinci. Syarat-syarat menjadi pemimpin jemaat menjadi lebih jelas. Dulu ketika mengikuti pembinaan parhalado aku pernah mendengar ayat ini dijelaskan oleh pendeta senior mantan praeses, dan ketika mendengar “Laguboti-gate” ayat ini menjadi teguran padaku untuk menguji, apakah aku memang sudah layak menjadi penilik jemaat sebagaimana dimaksudkan dalam perikop ini?          

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Jika dilakukan dengan benar dan sungguh-sungguh, pekerjaan menjadi seorang pemimpin adalah sangat berat pertanggungjawabannya. Dibutuhkan kapasitas yang memadai untuk melaksanakan tugasnya dengan baik dan berhasil. Dengan besar hati dari seorang pemimpin dibutuhkan kesediaannya untuk berbagi dengan orang lain yang punya kapasitas yang memadai. Memang tidak mudah, namun nas perikop ini sudah membekali kita dengan ketegasan bahwa Allah pasti memberi kekuatan sepanjang kita menuruti apa yang menjadi kemauan-Nya.

 

Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan berkaitan dengan situasi yang terjadi belakangan hari ini yang melibatkan pemimpin jemaat (kita sebutkan saja dengan parhalado), antara lain adalah:

(1)     Sudahkah parhalado memahami dan bercermin-kembali terhadap syarat-syarat sebagaimana dimaksud dalam perikop di atas?

(2)     Mengapa dan bagaimana, sehingga parhalado yang seharusnya menjadi panutan di jemaat ternyata berkelakuan yang sangat memalukan (pelecehan seksual) yang bahkan non parhalado pun masih tidak pantas melakukannya? Pernyataan ”parhalado juga manusia”, adalah bukan jawaban yang pas untuk hal ini!

(3) Sudah adakah tindakan tegas yang dilakukan oleh yang berwenang dalam hal ini untuk parhalado pelaku tindakan yang memalukan seperti ini? Jika iya, apa sajakah itu? Jika tidak, kenapa dan apa penyebabnya?

Ale Tuhan 98x 4 Februari 2010

Posted by tanobato in Parhalado.
Tags: ,
add a comment

Aku sangat yakin dengan kekuatan doa. Dan sangat yakin bahwa Tuhan itu sangat dekat dengan orang Batak, salah satu sebabnya adalah sifat-Nya yang menyukai keterusterangan. Dan lugas, artinya tidak bertele-tele. Oleh sebab itulah, aku suka merasa ”salut” pada orang-orang yang suka berdoa panjang-panjang dengan kalimat yang dirangkai sangat indah. Malah seringkali menjadi terkesan basa-basi. Apalagi kalau dilakukan pengulangan kata, dan sering pula hanya perbedaan kosa kata, padahal artinya sama. Entah kenapa, mungkin masih banyak orang yang beranggapan bahwa do’a yang seperti ini menunjukkan kualifikasi dari pendo’a tersebut. Sayangnya kejadian seperti ini semakin sering harus aku temui seiring dengan semakin seringnya aku menghadiri ibadah. Nah, biasanya aku alami pada saat penyampaian do’a syafaat alias tangiang pangondianon, yaitu ketika salah seorang yang hadir diminta untuk mendoakan orang-orang lain dengan pergumulannya masing-masing. 

Yang mau aku ceritakan adalah pengalamanku saat beribadah di gereja pada Minggu lalu. Do’a syafa’at dibawakan oleh seorang inang sintua yang baru ditahbiskan akhir tahun yang lalu. Seperti biasa, topik do’a sudah dipersiapkan dalam warta jemaat, dan hari itu ada empat topik yang akan dido’akan. Karena penggunaan kalimat dan kata-katanya yang seringkali kurang pas (dan mulai terasa menggangguku …), tiba-tiba saja ”kenakalan’-ku muncul, apalagi tatkala aku menemukan bahwa perkataan ”ale Tuhan” (= ya Tuhan) seringkali dilontarkan. Mulailah aku menghitung. Ternyata menimbulkan keasyikan tersendiri. Dalam satu kalimat selalu ada perkataan ”ale Tuhan”, bahkan lebih dari dua kali per kalimatnya. Ketika do’a diakhiri dengan ”amen”, ada sembilan puluh delapan kali ”ale Tuhan” tersebut diucapkan. Itu belum termasuk perkataan ”Tuhan” yang diucapkan tersendiri. 

Sayangnya aku tidak sempat bertemu dan menanyakan hal tersebut kepada penatua tersebut. Tapi suatu saat – pada waktu yang tepat – aku akan memberanikan diri untuk bertanya kepada beliau: kenapa mesti sebanyak itu diucapkan (karena menurutku, satu kalipun diucapkan seruan bagi Tuhan tidak akan lebih rendah nilanya dibandingkan dengan berulang kali) karena Tuhan pasti tetap mendengarkan do’a kita dengan seksama. Beda dengan kita yang mungkin saja akan tertidur kalau mendengarkan do’a yang panjang-panjang.

 

Itulah sebabnya, kalau diminta untuk membawakan do’a syafaat jauh-jauh hari sebelumnya, aku selalu mengusahakan untuk membuat konsepnya secara tertulis. Selain supaya fokus pada topik do’a, juga supaya memastikan konsentrasi orang-orang yang ikut berdo’a bersama tidak menjadi buyar. Atau malah bisa menimbulkan dosa? 

Lain halnya kalau sedang berdo’a sendiri menjelang tidur pada malam hari atau saat terbangun pada pagi hari, do’aku biasanya panjang. Yaitu sesuai dengan hal-hal yang patut aku sampaikan pada Tuhan. Bertele-tele? Sudah pasti tidak, karena aku tidak mau menghabiskan waktu Tuhan untuk mendengarkan sebuah do’a yang hanya sekadar basa-basi, puja-puji yang tidak jelas juntrungannya …

Auli Terpilih Jadi Wakil Ketua Kelas 1 Februari 2010

Posted by tanobato in Aku dan Tiga Perempuan Perkasa.
Tags: ,
add a comment

Di sela kepenatanku bekerja dengan Distributor Ambon untuk mendampingi tim lokal petugas lapangan/penjualan kami, tiba-tiba ada masuk panggilan telepon dari Auli yang menggunakan nomor ponsel mamaknya (karena ponsel Auli sudah rusak …). Dengan gembira Auli menyampaikan bahwa dia terpilih menjadi wakil ketua kelas. Di tengah-tengah kekurangjelasan suara, pesan yang bisa aku tangkap: ternyata pagi harinya diadakan pemilihan ketua kelas di sekolah tempat Auli sekarang belajar. Ketua terpilih dengan 10 suara, sedangkan Auli memperoleh 8 suara. Ketua yang lama hanya memperoleh 2 suara. Sebagaimana yang lazim terjadi dalam pemilihan seperti ini, yang nomor dua otomatis menjadi wakil ketua mendampingi peraih suara terbanyak.

 

Tentu saja aku bangga akan hal ini, dan beberapa kali pernah aku sampaikan ke Auli dalam berbagai kesempatan berdiskusi supaya Auli ”berani” menjadi ketua kelas. Bagiku, ini menunjukkan bakat kepemimpinannya. Selain itu, aku juga bangga karena itu berarti Auli berhasil meruntuhkan tembok penghalang gender yang selama ini disampaikannya padaku tentang pemahamannya bahwa yang bisa menjadi ketua haruslah anak laki-laki. Tentu saja aku menyemangatinya dengan mengatakan bahwa anak perempuanpun bisa, asalkan mampu. Aku lebih memotivasinya dengan mengatakan bahwa Auli sudah memiliki salah satu ”modal” yang adalah menjadi juara kelas.

 

”Sekarang jadi wakil ketua kelas dulu, nak. Itu karena teman-temanmu sudah mempercayaimu. Kalau kamu tetap baik dan menjadi yang terbaik, pasti teman-temanmu akan memilihmu menjadi ketua nantinya. Tak apa, itu bagus koq …”, hiburku ketika mendengar sedikit nada keraguan karena hanya mampu ”sekadar” menjadi wakil ketua kelas. Rasanya ingin aku cepat-cepat pulang ke rumah untuk segera bertemu dengannya dan memberikannya bekal tentang kepemimpinan. Paling tidak, untuk tingkatan kelas dua sekolah dasar.