jump to navigation

Adven atau Natal: Saatnya Kita Kembali … 21 November 2008

Posted by tanobato in Kristianitas.
Tags:
trackback

advent-candle1Sudah terima undangan untuk menghadiri perayaan Natal tahun ini? Aku sudah. Dari pengurus Persekutuan Do’a di kantor, via e-mail pula. Ini sudah tradisi yang dipelihara bertahun-tahun. Panitia pelaksananya bergantian dari departemen yang satu ke departemen lainnya. Tahun ini agak “lain” sepertinya. Tidak ada latihan paduan suara, carol, atau rapat-rapat panitia rutin. Langsung saja undangan untuk dapat menghadirinya.

Minggu lalu aku singgah ke salah satu toko buku Kristen (tepatnya: toko yang menjual buku, kaset, dan pernak-pernik yang berbau agama Kristen …) di Bekasi. Selama ini aku tidak begitu tertarik datang ke sana karena koleksinya yang ala kadarnya. Minggu lalu aku singgah, karena harus ke toko sebelahnya untuk menjilid naskah. Tidak terpikirkan sebelumnya, namun karena si pemilik toko gencar mempromosikan, akhirnya aku membeli kaset lagu rohani DR. Niko Notoraharjo (dulu lebih dikenal dengan Ir. Niko Notoraharjo) dan … kaset Lea yang berisi lagu-lagu Natal! Nah, ini …

Terus terang saja, tahun ini aku mendapat “pencerahan” dari salah seorang pendeta HKBP yang mengajak untuk kembali memosisikan Adven dan Natal dengan melakukan perayaan yang sesuai dengan waktunya masing-masing. Artinya, jika melakukan perayaan sebelum 25 Desember, itu adalah perayaan Adven. Bukan perayaan Natal. Aku sangat setuju. Dan beliau (maksudnya pak pendeta tersebut) berkomitmen untuk tidak menerima undangan berkhotbah kalau disebutkan sebagai perayaan Natal. Luar biasa!

Aku juga akan melakukan hal yang sama. Dimulai dengan mengirim pendapat dan saran ke semua karyawan yang beragama Kristen untuk mengganti perayaan tersebut menjadi perayaan Adven.

Bertahun-tahun aku menjalani “kebingungan”. Dalam tradisi orang Batak, perayaan Natal sudah mulai dilakukan sejak memasuki minggu Adven pertama. Undangan perayaan Natal sudah mulai berdatangan: perkumpulan wilayah (parsahutaon), kerabat (marga-marga), bahkan kelompok kategorial di gereja. Rasanya aneh, pada saat kebaktian Minggu, pak pendeta dalam khotbahnya di mimbar menghimbau warga jemaat untuk mempersiapkan diri menyambut hari kelahiran Yesus, eh malamnya beliau berkhotbah pada saat perayaan Natal (salah satu yang disebutkan di atas …) yang menyerukan agar peserta ibadah bersukacita karena telah lahir sang juru selamat. Pada kebaktian Minggu yang akan datang, kembali lagi berkhotbah tentang persiapan menyambut kelahiran sang juru selamat. Aneh, ‘kan?

Bertahun-tahun mengikuti perkuliahan di STT Jakarta, kami tidak pernah melakukan perayaan Natal. Karena diselenggarakan pada awal Desember, maka disebutkan sebagai perayaan Adven. Inilah yang sebenarnya dan paling pas. Apalagi dilakukan secara sederhana. Tak perlu dilakukan secara glamor. Tidak pantas. Bukan semata-mata karena situasi krisis saat ini, tapi seharusnya kita malu karena Yesus pun (menurut Injil) dilahirkan dalam kesederhanaan.

Komentar»

No comments yet — be the first.