Almanak HKBP, Epistel, dan Evangelium

almanak-hkbp-ep-dan-ev

 Dulu saat mengikuti perkuliahan, pada mata kuliah Liturgika aku sempat tersanjung ketika dosen pengampu memuji bahwa HKBP adalah satu-satunya gereja yang telah memiliki almanak sendiri sejak berpuluh tahun yang lalu. Dan ini aku aminkan sambil ingatanku menerawang pada masa masih ikut Singkola Minggu, bapakku mengoleksi Almanak HKBP dengan bentuk yang sama selama bertahun-tahun, yakni dengan sampul plastik hitam (hanya tahunnya saja yang berbeda). Waktu itu aku tidak tahu itu buku apa, tapi bapakku selalu membawanya pada saat ibadah di gereja. Dengan bangga, karena tidak semua orang memilikinya, ternyata (hal ini baru ‘kusadari setelah mengetahui bahwa beliau adalah Sintua). Satu kemajuan, dulunya Almanak HKBP didahului dengan foto Presiden Soeharto dan wakilnya yang sekarang sudah tidak ada. Bagusnya, diganti dengan foto lukisan Yesus. Mungkin ini salah satu dampak reformasi politik Indonesia yang paling terasa di HKBP. “Atau malah satu-satunya ?”, celetuk salah seorang yang mulai apatis melihat minimnya dan lambatnya perubahan di HKBP. Kesan kurangnya profesionalisme makin terkesan dengan melihat statistik jemaat dari masing-masing resort yang tercantum dalam Almanak HKBP tersebut. Statusnya ada yang masih tahun 2006. Bahkan ada yang kosong sama sekali. Memprihatinkan! Dalam era informasi saat ini, masih ada lembaga sebesar HKBP yang tidak peduli dengan data internalnya. ”Tapi coba tanya tentang durung-durung, pasti ingat luar kepala …”, sambung kawanku tadi ’nyindir. 

Selain formatnya yang tidak banyak berubah, masih ada lagi yang tidak pernah berubah pada Almanak HKBP: foto para petingginya yang dimuat pada halaman-halaman awal. Selalu sendirian dan profil wajah yang cenderung serius (atau sok serius?), tidak banyak yang rileks. Apa kesan yang dapat ditangkap? Serius, tegang, individualis? Bisa saja orang beranggapan demikian. Saat Sinode Godang yang lalu, aku minta salah seorang peserta utusan untuk mengusulkan agar pada Almanak HKBP 2009 para pemimpin HKBP berfoto bersama dengan wajah gembira agar berkesan hangat, kekeluargaan, menyejukkan, dan bersuasana damai. Mungkin karena lebih konsentrasi kepada pemilihan Eforus dan kawan-kawan, usulan ini tidak pernah disampaikan.

 

 Selain berisi nama-nama ”yang terpilih”, di dalam Almanak HKBP juga terdapat tuntunan ayat bacaan Alkitab setiap hari dan lagu Buku Ende untuk dinyanyikan. Khusus Minggu, ada perikop Alkitab sebagai Epistel (Ep) dan Evangelium (Ev). Nah, ini. Menurut pemahamanku, Ep adalah surat-surat rasuli (Roma, Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, dan lain-lain …); dan Ev adalah Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes). Tapi lihatlah Almanak HKBP, selain tertukar antara Injil dan Apostel, juga dimasukkan Perjanjian Lama. Tentang hal ini aku sudah pernah sampaikan pada pemimpin jemaat kami untuk mengusulkan hal ini agar dibahas pada rapat-rapat pendeta agar disesuaikan supaya tidak membingungkan warga jemaat. Pada salah satu partangiangan wejk, aku pernah sampaikan hal ini kepada pendeta yang mengaku-aku sebagai Majelis Pekerja Sinode dan juga anggota tim penyusun Almanak HKBP, dengan menambahkan: ”Masak di HKBP yang sangat banyak doktor dan master teologi tidak menyadari tentang hal ini?”. Pada waktu Sinode Godang yang lalu pun aku kembali menitip pesan kepada beliau agar tidak lupa mengusulkan hal ini. Hasilnya? Seperti diduga, nihil!       

 ”Mengubah hal yang gampang seperti ini saja HKBP tidak mampu, bagaimana pula untuk hal yang lebih berat?”, tukas kawanku lagi, kali ini dengan nada putus asa.

 Bagaimana dengan denominasi lain? Yang aku tahu, Gereja Kristen Indonesia (GKI) mengadopsi leksionari yang disusun secara internasional, yang terdiri dari perikop pilihan dari Perjanjian Lama, Mazmur, Surat Rasuli, dan Injil. Dengan pedoman ini, semua ayat-ayat Alkitab dalam tiga tahun akan habis terbaca. Pada saat ibadah Minggu, seorang warga jemaat masing-masing membacakan perikop tersebut ke depan mimbar. Didahului pembacaan firman dari Perjanjian Lama, lalu Mazmur dengan bertanggapan (adakalanya oleh pendeta dan atau penatua), dilanjutkan dengan Surat Rasuli (= Ep kalau di HKBP). Akhirnya, pengkhotbah akan membacakan Injil (= Ev kalau di HKBP) sekaligus menjadikannya sebagai bahan khotbah yang dihubungkan dengan perikop lainnya yang dibacakan pada hari Minggu tersebut.    

About these ads

4 comments on “Almanak HKBP, Epistel, dan Evangelium

  1. Horas ma di lae nampuna blog on sai horas ma dihita sasude..

    Salam dame jolo dilaeku

    On ma komentar parjolo sian iba.

    Selamat Advent da lae

    GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s