Kantong Persembahan-2: Kotak Bekas Kardus

 

kolekte-1-kardus1

Berdasarkan pengalamanku, kotak bekas ini dipakai sebagai sarana persembahan dengan berbagai alasan. Pernah terjadi di masa yang lampau, namun tetap ada kemungkinan masih terjadi lagi di masa kini.

 

Pertama, situasinya darurat. Bisa terjadi pada kebaktian di mana saja. Di luar gereja, bahkan di dalam (lingkungan) gereja. Waktu ber-NHKBP di Medan dulu, sebelum menutup pertemuan dan latihan koor ada kolekte. Latihan koornya di wisma huria di sebelah bangunan gereja. Karena malam, bangunan gereja biasanya sudah tutup, jadi tidak ada kantong persembahan yang “resmi” (maksudnya yang biasanya dipakai pada setiap kebaktian Minggu yang ada lambang salibnya). Nah, kami selalu memanfaatkan setiap sumber daya yang ada. Termasuk kreativitas dalam mengumpulkan persembahan. Entah kenapa, kotak bekas seperti ini seringkali ada di sana (jangan-jangan pertemuan dan atau ibadah persekutuan yang lain juga mengalami situasi darurat yang sama …). Bekas kotak kapur tulis, kardus minuman dalam kemasan, kotak alat-alat tulis dan kantor, adalah ”media” yang paling sering kami manfa’atkan. Sekarang aku menjadi heran dengan keanehan ini: kami organisasi jemaat dan di dalam jemaat, namun untuk sekadar mendapatkan kantong persembahan yang “resmi” saja tidak pernah kami dapatkan setiap persekutuan minggu …

 

Kedua, persekutuan dilakukan tidak terencana. Apa iya, ada ibadah yang tidak direncanakan? Bukan ibadahnya, tetapi pengumpulan persembahannya. Misalnya dalam suatu kebaktian ada yang ‘nyeletuk:”Mardurung do hita?”, lalu yang lain mengamini untuk menjalankan kolekte dengan memanfaatkan apa yang ada yang kira-kira pantas untuk tempat persembahan. Lalu, jadilah demikian …

 

Ketiga, enggan. Dalam suatu ibadah padang di kebun raya yang diselenggarakan oleh persekutuan mahasiswa Kristen, Panitia “enggan” (atau sungkan?) membawa kantong persembahan yang “resmi” (ma’af, kalau sekali lagi menggunakan istilah ini untuk memaksudkan yang biasa dipakai di lingkungan gereja). Lalu dipakailah kotak bekas yang dianggap pantas untuk mengumpulkan persembahan.

 

Keempat, lupa. Nah, ini yang sering terjadi. Petugas lupa membawa kantong persembahan. Bisa juga karena marsitugan-tuganan. Atau mengira petugas yang lain yang membawa yang ”resmi” (ma’af lagi…), jadi dia merasa tidak perlu lagi membawanya. Pada suatu partangiangan di rumah seorang warga jemaat, pernah terjadi seperti itu. Lagu pengantar persembahan sudah mulai dikumandangkan. Sintua celingak-celinguk melihat sesamanya yang diharapkan ada membawa kantong persembahan yang ”resmi” (duh, ma’af lagi …), namun tidak ada reaksi positif. Karena tidak ada, akhirnya dicari alternatif. Tak ada pula kotak bekas. Untunglah (masih untung juga …), masih ada yang kreatif. Dibuatlah dari kertas tertib acara, dengan bentuk kerucut (mirip pembungkus kacang …), lalu diedarkan untuk mengumpulkan durung-durung. Sambil tersenyum di kulum, orang-orang memasukkan uang kolekte ke dalamnya. Creative by kepepet, ya …

About these ads

5 comments on “Kantong Persembahan-2: Kotak Bekas Kardus

  1. Persembahan apalagi perpuluhan adalah topik yg sering dihindari oleh pendeta atau Hamba Tuhan untuk dikhotbahkan. Alasannya:
    1. Pendeta/ Hamba Tuhan sendiri, tak pernah/jarang kasi perpuluhan
    2. Pendeta/ Hamba Tuhan takut dibilang ‘matre’ alias ‘mata duitan’ sama jemaat.
    3. Jangan2 Pendeta/ Hamba Tuhan kurang memahami persembahan/ perpuluhan..??

    Jemaat sendiri bagaimana?
    1. “Pingin sih ngasi, tapi kebutuhan hidup lagi banyak, jadi udah kepake tuh duitnya..”
    2. “Wah kalau kasih perpuluhan ntar keenakan pendetanya, kan yg cari duit aku”. (Di Swedia aku pernah selewat diskusi ini dgn wanita Swedia pekerja Ericsson, dia bilang “enak amat gereja dikasi perpuluhan. Gajiku bukan utk gereja!”)
    3. Masih bingung dgn perpuluhan dan pengelolaannya.
    4. Pernah ngasih, tp lebih banyak tidak ngasihnya sih..!

    Perpuluhan/persepuluhan adalah perintah Tuhan kepada orang Israel agar sepuluh bagian dari hasil pencaharian mereka dipersembahkan kepada Tuhan. Tujuannya agar ada persediaan di rumah Tuhan. Pada waktu itu perpuluhan dikelola oleh imam Harun atau orang2 suku Lewi, yg memang profesinya melayani di rumah Tuhan/ Bait Suci.

    Persembahan jaman orang2 Israel dulu gunanya macam2, sebagai korban bakaran karena dosa2 atau korban syukur.
    Lewat kitab Maleakhi kita tahu bahwa “bawalah persembahan dgn sukacita, siapa yg menabur banyak dia akan menuai berlipat ganda”

    Maaf di HKBP (contoh HKBP Teladan) jemaatnya banyak, tp kenapa persembahannya (total) sedikit (jika dilihat rata2 status kerja jemaat)? Kenapa sulit mengencourage jemaat di HKBP utk setia kepada perpuluhan dan persembahan?
    Di gereja2 karismatik pendeta kecenderungannya lebih berani ngomongin perpuluhan, walaupun belum tentu semua jemaat melakukannya. Ada kritik gereja karismatik memakai teologi kemakmuran, supaya jemaat memiliki kesadaran yg tinggi memberikan perpuluhan/ persembahan.

    Beberapa gereja membuat kebijakan bahwa seluruh perpuluhan adalah untuk gembala jemaat dan pendeta pendamping lainnya. Sedangkan persembahan adalah utk gereja.
    Ada gereja menerapkan baik perpuluhan maupun persembahan dikelola gereja. Pendeta dan petugas2 lainnya digaji oleh gereja.

    Apapun gerejanya, apapun sistem pengelolaanya, marilah taat pada Firman Tuhan. Setialah memberikan 10% bagiannya Tuhan. 90% bagian kita dan keluarga. Yakinlah pasti tidak kekurangan, bahkan berkelimpahan berkat. Kiat Tung Desem: 1-2-7.
    10% buat Tuhan
    20% ditabung
    70% untuk kita nikmati…God bless you and your family

  2. ya jelas bingung, gaji cuma ump (upah minimum propinsi ), gmana cara membaginya, dilingkungan keluarga juga kita sudah melakukan perpuluhan, ada saudara yang tiap bulan kita santuni, mungkin lebih dari 10% apa itu tidak perpuluhan dan jelas kita lihat manfaatnya, kalau ke Gereja gak jelas penggunaanya….. tapi kalau ke Kharismatik jelas juga yaitu pendetanya jadi kaya, naik mercy dan pakai supir.
    Mengenai kantong persembahan ada satu lagi yang sering dipergunakan dan sangat simpel yaitu amplop coklat seukuran kertas HVS. Ini dipakai kebanyakan pada waktu pesta bona taon dan Natal yang dilaksanakan diGedung2 pertemuan.

  3. Kalau tempat pandurungan resmi kan kalau ada yang pegang semua orang pasti perhatian, tapi kalau dari kardus tak pala diperhatikan jadi bisa ada tangan jahil tak diperhatikan.

    Kalau perpuluhan itu dimatematikkan artinya 10% penghasilan. Kalau aku bergaji 1 jt/bln. Pengeluaran ongkos kerja, makan, dll setiap bulan habis 999.000, sisa 1000. jadi perpuluhanku yang 10% x 1000 = 100, ya itu saja seratus rupiah. masya harus 10% x 1 jt. nggak benar lagi itu, masya Tuhan rakus sih. Nggak maulah aku yang tadinya naik angkot jadi jalan kaki, yang tadinya sarapan indomi jadi sarapan ubi goreng, yang tadinya bisa beli celana sekali setahun masya jadi salang-salang. Tu sadaan ma i bah perpuluhan i !

  4. @maridup : Firman Tuhan berkata di Maleakhi “UjiLah aku, apa aku tidak membukakan tingkap” Langit untuk mu..?”
    nah, sebagai orang yg benar” kristen dan bukan orang kristen KTP, jgn lihat kemana perpuluhan anda itu digunakan, tetapi lihat kalau anda menimbun harta ada di SURGA, karena jika disurga tidak ada ngengat yg akan menggrogoti harta anda disurga, sedangkan di bumi, segala sesuatunya akan tinggal pada waktu kedatangan Tuhan ke 2x…
    apakah anda menyadari kalau Tuhan kita itu Rela miskin supaya kita KAYA..? apakah Tuhan kita MISKIN..? Tidak…Tuhan kita itu Kaya, oleh sebab itulah Dia mau menguji kita daLam hal persembahan/perpuluhan, sadariLah kaLau UANG itu adaLah pengujian PALING RENDAH terhadap manusia skarang, karena dimata manusia tanpa uang tidak bisa apa”…makanya manusia skarang jadi buta ROHANI, oLeh sebab itu, Matius berkata “tepapi cariLah dahulu kerajaan Allah, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu”…iniLah Firman yg sudah sangat di abaikan oleh orang kristen…so..jadiLah Orang kristen yg Benar” mengenaL akan arti KEKRISTENAN sebenarnya…dan bukan KRISTEN KTP…!

    so…keep fire on God…jgn curi miLik Tuhan..berikan yg terbaik dan jangan kurangi…Tuhan minta di UJI…jadi ujiLah TUhan,, maka smuanya akan ditambahkan kepadamu…ok…GOD BLEZZ

    • Terimakasih kotbahnya dan sudah sejak kecil dan sampai sekarang yang anda jelaskan itu adalah nats kotbah yang paling laris disampaikan oleh pengkhotbah. Oleh karena itu saya tentusaja tidak usah membandingkan apa yang kau beri kepada tuhanmu dan apa yang saya beri kepada tuhanku. Memberi selalu saja tangan diatas. Apakah makna pemberian berupa sogokan atau pemberian itu kepada yang kekurangan. Anda sendiri yang menilai. Thanks, Nice sermon.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s