Si Batak, Calon (Wakil) Presiden, dan Para Jenderal …

29032009039

Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando

Hendro Subroto

Penerbit Buku Kompas, Maret 2009

 

Sebagai penikmat sejarah – dan hal-hal lain sebagai ”ikutannya” – aku menyukai jika semua pelaku sejarah menuliskan pengalamannya dalam bentuk buku seperti ini. ’Nggak apa walaupun kita menduga belum tentu benar semua yang dicantumkan di dalamnya, paling tidak, ada secuil kebenaran yang pasti akan terbukti di kemudian hari. Bisa saja melalui pelaku lainnya dengan kesaksian akan kebenaran yang lebih bisa dibuktikan. Luangkanlah waktu sebentar ke toko buku, di sana saat ini banyak sekali buku sebagai tanggapan terhadap buku Para Komando Sintong Panjaitan ini. Semua datang dengan versi masing-masing. Dan seringkali aku masih bisa tersenyum jika membaca beberapa di antaranya secara sekilas. Sifat dasar manusia selalu berupaya menunjukkan kebenaran dirinya …

 

Inisiatif Bagus dari Letjen (Purn) Sintong Panjaitan

Sejak di-soft launch, buku ini langsung menimbulkan kehebohan. Selain karena isinya, waktu yang dipilih (menjelang Pemilu Legislator) memang dengan mudah orang dapat menuduh ada maksud tertentu yang berbau politis di dalamnya. Dengan mudah orang merujuk bahwa ini merupakan salah satu upaya untuk mendiskreditkan Wiranto dan Prabowo yang sedang mencalonkan diri menjadi calon presiden (Status per hari ini, akhirnya Wiranto yang semula capres dari Partai Hati Nurani Rakyat yang didirikannya, menjadi lebih “tahu diri” dengan kesediaannya menjadi cawapres mendampingi Jusuf Kala. Sementara itu, Prabowo yang mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya mulai dibicarakan dalam Rapat Pimpinan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sebagai capres bersama Puan Maharani yang adalah putri bungsu Megawati Soekarnoputri sebagai cawapres) yang dalam buku ini dikisahkan tidak terlalu positif  dalam karir militernya di masa lalu.

 

Antara lain disebutkan, Wiranto yang “melepaskan tanggung jawab” dengan meninggalkan Jakarta yang genting sebagai ekses peristiwa Mei 1998, dan malah pergi ke Jawa Timur untuk menghadiri suatu upacara yang bobotnya pasti tidak lebih penting daripada keharusannya berada di ibukota negara (h. 28). Juga “ketakutannya” menggunakan SK Presiden (h. 5) untuk mengambil tindakan yang dianggap perlu untuk mengamankan negara (yang ini persis dengan Supersemar yang pada akhirnya mengantarkan Soeharto ke kursi presiden RI).

 

Prabowo mencatatkan diri dengan tindakannya yang aneh dengan mengembuskan “kudeta L. B. Murdani” yang memang tidak terbukti kebenarannya (yang ini juga mungkin ”diilhami” oleh keberhasilan mertuanya – Soeharto – dengan ide Dewan Jenderal …). Selain itu, berbagai tindakan yang tidak lazim dalam dunia militer juga ditampilkan Prabowo dalam buku ini.

 

Pemilihan atas Hendro Subroto sebagai penulis (yang konon menggantikan penulis sebelumnya yang terpaksa diganti karena kekurangpemahaman dunia militer dan menjadikan proses penyelesaiannya tertunda beberapa waktu), adalah tepat. Sebagai wartawan perang, pengalamannya yang sudah mengikuti perjalanan karir Sintong sejak masih perwira muda, menjadikan buku ini terasa lebih hidup.

 

Melalui buku ini aku menjadi tahu bahwa Sintong ternyata terlibat aktif dalam penggalian sumur Lubang Buaya untuk mengangkat mayat para jenderal dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S/PKI). Juga memimpin peletonnya merebut Gedung RRI di Jakarta yang sebelumnya telah dikuasai pemberontak. Selain itu, terbukti bahwa latar belakang agama ternyata masih sangat menentukan di negara ini. Bahkan dalam penentuan karir militer yang dipahami adalah lingkungan yang “steril dari isme”. Dalam salah satu bagian dikisahkan batalnya Mayjen TNI S. N. Suwisma menjadi Komandan Jenderal Kopassus meskipun telah diputuskan dalam rapat Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti), namun dibatalkan karena Prabowo memberikan masukan kepada Soeharto bahwa Suwisma yang beragama Hindu tidak sesuai dengan sebagian besar agama anggota Kopassus (h. 28-29). Muchdi P. R (yang belakangan kemudian diduga terlibat pada pembunuhan aktivis Munir) akhirnya yang diangkat untuk menduduki jabatan tersebut.

 

Sebagai epilog, disebutkan juga bahwa pada masa itu unsur nepotisme sangat kental dalam memengaruhi kepangkatan dan posisi yang dapat dipegang oleh seseorang. Seringkali bukan ditentukan oleh penilaian obyektif (h. 474).     

 

Si Batak …

Semua orang tahu bahwa Sintong adalah orang Batak. Dalam pergaulan kesehariannya di militer, para juniornya memanggilnya dengan “bang” sebagai singkatan dari “abang”, yakni panggilan yang biasa diberikan bagi laki-laki suku Batak (sebagaimana aku juga saat ini sering dipanggil oleh kawan-kawan yang bukan etnik Batak di kantor …).

 

Yang unik, Jenderal L. B. Murdani seringkali memanggilnya dengan ”Hai Batak, kamu tidak pernah bicara Daerah Istimewa dengan saya, tapi tiba-tiba berbicara Daerah Istimewa dengan Soeharto …” (h. 359), yaitu ketika Sintong dimarahi Soeharto karena memberikan pendapat yang tidak cocok dengan ide Presiden Soeharto. Dan “… Mana baret merah itu tadi? Ambil dulu, nanti marah si Batak ini.” (h. 327), yakni ketika L. B. Murdani mencampakkan baret merah yang diberikan Sintong dalam suatu upacara Kopassus karena masih menyimpan sakit hati kepada korps baret merah.

 

Meskipun seringkali panggilan dengan menyebutkan suku seperti itu bisa diartikan sebagai rasis, tapi aku jarang sekali menanggapi hal tersebut sebagai sikap merendahkan. Bahkan lebih sering dengan sikap positif sebagaimana yang tercermin pada dua dialog di atas.

 

Jenderal Pendoa

Menurut penulis, Sintong adalah seorang yang taat pada agamanya. Dalam setiap operasi militer selalu disempatkannya untuk mendahului dengan doa, termasuk ketika memimpin operasi pembebasan pesawat terbang Garuda “Woyla” di Bandara Don Muang, Bangkok. Berdoa dilakukan secara berbisik supaya tidak ketahuan dan terdengar oleh para pembajak (h. 477).

 

Terus terang, tidak banyak yang aku tahu perwira tinggi yang mempunyai kebiasaan berdoa seperti itu. Selain karena profesinya yang terkesan angker, keras, “sadis”, kejam, dan karakter lainnya yang sangat jauh berbeda dengan sikap rohani – yang biasanya dipahami sebagai lemah lembut, pema’af, manis budi, dan hal menyenangkan lainnya – juga tidak banyak biografi jenderal yang mencantumkan hal yang dipersepsikan sangat pribadi tersebut. Salah satunya adalah Mayjen D. I. Panjaitan yang menyempatkan diri berdoa dengan pakaian dinas lengkap sebelum akhirnya diekekusi oleh pasukan pembunuh dalam peristiwa G30S/PKI sebagaimana dulu setiap tahun kita saksikan di bioskop dan TVRI untuk mengenang peristiwa G30S/PKI.

 

Alangkah Indahnya …

Karena isinya, buku ini sangat menarik untuk dibaca sampai habis. Cara bertutur yang dipakai penulis mengesankan dia punya jarak terhadap pelaku sejarah yang diceritakannya. Hal ini mampu mengurangi kesan melebih-lebihkan diri bila bentuknya adalah otobiografi. Cuma, sayangnya, sampai halaman terakhir aku tidak (atau belum?) menemukan “sisi lain” sehingga membuat isinya menjadi berimbang, tidak mengesankan hanya mencatat prestasi seorang Sintong. Memang ada peristiwa insiden 12 November 1991 di Dili yang lebih dikenal dengan “tragedi Santa Cruz” yang menjerembabkan karir militernya, namun penyajiannya sangat kental mengesankan bahwa itu semua bukan kesalahannya; dan menduga adanya sabotase (h. 401). Bahkan Sintong menyebutkan bahwa cara kerja Dewan Kehormatan Perwira (tim yang terdiri dari perwira tinggi TNI yang bertugas menyelidiki keterlibatan perwira TNI AD dalam peristiwa yang mencoreng muka Indonesia di mata internasional) sebagai “serba tidak jelas” (h. 409).

 

Selain banyak sekali terjadi kesalahan cetak – yang bisa ditafsirkan sebagai dibuat secara terburu-buru – seringkali paragraf-paragraf berisi pemaparan yang tidak mudah dicerna oleh pembaca sepertiku yang sangat jauh dari kehidupan militer. Satu di antaranya adalah yang tercantum pada halaman 81 ketika dicobajelaskan tentang persenjataan militer: “… menggunakan senjata standar berupa senapan US M1 Garand, senapan mesin regu berupa Bren kaliber 7,62 mm dan diperkuat dengan Mortir 5 tingkat … senapan serbu Kalashnikov AK-47, senapan mesin regu Degtyarev RPD atau AKM dengan bi-pods kaliber 7,62 mm … peluncur roket RPG-2 90 mm … dengan daya tembus tiga kali lebih besar dibanding dengan proyektil HEAT 57 mm recoilles rifle.”  Pusing, ‘kan? Memang ada catatan-kaki, tetapi seringkali hanya menjelaskan kepanjangan dari singkatan yang disebutkan, bukan penjelasan. Dan ini seringkali terjadi.

 

Bacalah …

Ruang ini terasa sangat sempit untuk menyampaikan lebih banyak tentang apa yang tercantum dalam buku bagus ini. Selain berbagai peristiwa kontemporer yang selama ini masih ”gelap” coba dikuakkan, juga sikap hormat namun kritis Sintong terhadap Soeharto – misalnya menolak menghadap putera Presiden, yakni Bambang Trihatmojo di Jakarta untuk urusan yang tidak berhubungan dengan tugasnya sebagai Pangdam Udayana; dan juga keberaniannya untuk tidak hadir dan mewakilkan kepada orang lain ketika pak Harto melakukan kunjungan in-cognito di Bali sehingga membuat RI-1 tersebut marah – layak untuk dijadikan bahan perenungan dan bahan pembelajaran. Juga berbagai peristiwa lainnya. 

Buku yang aku miliki saat ini adalah cetakan keempat (oh ya, cetakan pertama dilakukan pada bulan yang sama dengan cetakan keempat tersebut, yakni Maret 2009 … luar biasa!). Perjuanganku dengan mengantri di kasir yang saat itu sangat dipadati oleh para pengunjung di toko buku – baru kali ini aku alami seperti ini – menjadi sebanding dengan mendapatkan buku dengan isi yang sangat menginspirasi. Ini bukanlah buku biografi pertama yang aku miliki dari kalangan tentara, namun sangat layak disejajarkan dengan buku-buku yang sudah aku miliki dan baca sebelumnya.

About these ads

5 comments on “Si Batak, Calon (Wakil) Presiden, dan Para Jenderal …

  1. saya turut prihatin,,tapi saya semakin bangga dengan tulang kita ini st panjaitan,,,terutam semua masyrakat indonesia khususnya BATAk,,,horas maju terus Pantang mundur

  2. Coba Salah satu Sinton Atau Luhut Panjaitan Jd CaPres…
    Pasti Beda Hasilnya… Negara sebenarnya butuh mereka… Huuuffftttt…

  3. apapun yang sedang terjadi negara ini,
    baik siapa yang nantinya menjadi pemimpin negara ini (NKRI).
    Tidak lepas dari campur tangan orang batak.
    khususya, darah batak..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s