Alkitab dalam “Kepungan” Agama-agama Lain 1 Juli 2009
Posted by tanobato in KOLEKSI: Milik untuk Berbagi.Tags: agama, alkitab, eksklusivitas, pluralisme
trackback

Alkitab dan Orang-orang yang Berkepercayaan Lain
Wesley Ariarajah
BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2003
Pendahuluan
Buku yang ditulis Ariarajah ini mengangkat topik yang sangat aktual yang berhubungan dengan konsep kehidupan pluralis yang tentu saja sangat relevan dengan masyarakat Indonesia saat ini. Pdt. Eka Darmaputera, Ph. D. selaku penerjemah menyambutnya dengan positif sambil mengingatkan bahwa buku ini tidaklah dimaksudkan sebagai jawaban, sebab jawaban itu harus kita temukan sendiri dan dari dalam konteks kita sendiri (h.x).
Penulis buku ini berusaha untuk mendengarkan berita Alkitab secara menyeluruh, dan secara Alkitabiah memikirkan masalah yang amat kontroversial tetapi juga amat penting bagi zaman kita ini. Masalah yang Alkitab sendiri tidak menyediakan jawaban siap-pakai sehingga harus mengungkapkan pemahamannya sendiri tentang bagaimana Alkitab harus ditafsirkan (h.xiii).
Sangat menarik membacanya, dan coba mendalami pemahaman yang disampaikan di dalamnya. Meskipun tidak memberikan suatu jawaban yang mutlak, Kelompok kami percaya bahwa bisa dijadikan referensi dalam membahas berbagai isu-isu kontroversial yang memang seringkali kita harus hadapi dalam kehidupan pluralis saat ini.
Tak Ada Allah Lain
Dimulai dengan pertanyaan yang menggelitik: apakah Allah itu satu. Artinya adalah sama dan tidak ada perbedaan antara Allah Kristen, dengan Allah agama-agama yang lain. Jika bertanya kepada beberapa orang, pastilah jawaban mereka akan berbeda dengan yang lainnya. Bukan karena perbedaan agama, bahkan bagi mahasiswa Program Magister Ministri STT Jakarta yang notabene adalah sesama Kristen, jawabannya bisa jadi akan berbeda.
Dalam sub-bab Awal dari Segala Awal, penulis menyatakan bahwa seluruh Alkitab berdiri di atas satu dasar yang kokoh: bahwa hanya ada satu Allah, tak ada yang lain. Tentang murtad, disebutkan sebagai percaya bahwa ada allah-allah lain, dan disembah (h.2). Itulah sebabnya mengapa Alkitab mulai dengan penciptaan, sebuah konsep dasar yang menyangkut hubungan kita dengan orang-orang yang berkepercayaan lain. Bukan penciptaan gereja, atau agama Kristen, bahkan Israel, melainkan penciptaan kosmos.
Dalam bagian selanjutnya disebutkan bahwa sifat perjanjian Allah adalah bersifat semesta, jadi tidak mengikat hanya suatu bangsa (Israel saja, meskipun diklaim sebagai ‘umat pilihan’). Implikasi logis ajaran Alkitab tentang Allah sebagai pencipta adalah, bahwa Ia adalah pencipta semua orang – apapun agamanya – dan pemelihara semua makhluk. Tidak ada Allah Kristen, Allah Hindu, atau Allah muslim; yang ada hanyalah pemahaman Kristen, Hindu, dan Muslim tentang Allah – atau penyangkalan bahwa Allah benar-benar ada oleh mereka yang tidak mau percaya. Ajaran Alkitab ialah bahwa tidak ada dua allah, hanya Allah. Tidak mungkin ada allah lain.
Tentang agama, disebutkan bahwa agama-agama tidaklah sama. Namun betapa pun berbeda, bagi pemeluknya masing-masing memiliki kadar kesahihan dan kebenaran yang luar biasa. Dan di dalam diri masing-masing agama, sama-sama terdapat unsur-unsur demonis pula (h. 15).
Dua Perjumpaan
Pada bagian kedua ini dibahas kisah tentang orang-orang yang mempuyai kepercayaan berbeda. Kisah pertama adalah tentang Yunus. Ketika Yunus dipanggil oleh Allah untuk pergi ke kota Niniwe dan berbicara kepada penduduk kota besar itu, ia memutuskan untuk pergi ke arah yang berlainan untuk menghindari tugas. Niniwe adalah ibu kota dari kerajaan besar Asyur, musuh bebuyutan Israel, dan yang berkepercayaan lain dari Israel. Untuk alasan-alasan tertentu, Yunus tidak mau melibatkan diri. Selanjutnya kapal Yunus diterpa badai dan Yunus ditelan oleh ikan besar dan dimuntahkan ke pantai. Kembali ia diutus oleh Allah untuk pergi ke Niniwe, untuk memperingatkan penduduknya tentang hukuman yang menanti oleh sebab kejahatan kota itu. Kali ini Yunus taat. Ia menyampaikan berita: Tuhan telah mengambil keputusan untuk menghancurkan kota itu oleh karena kejahatannya. “Empat puluh hari lagi maka Niniwe akan ditunggangbalikkan”.
Kemudian terjadilah sesuatu yang tidak pernah Yunus harapkan. Penduduk Niniwe memutuskan untuk berpuasa dan semua orang mengenakan pakaian berkabung dan berdoa untuk memperoleh pengampunan. Raja Niniwe juga menyerukan agar semua orang berbalik dari tingkah lakunya yang jahat. Raja itu benar. “Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, …. maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkannya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya”. (3:10). Namun Yunus menjadi marah akan hal ini. Ia berdoa dengan marah kepada Tuhan dan dalam kemarahannya ia minta Tuhan mencabut saja nyawanya. Dalam cerita ini Yunus lebih mengungkapkan karakter manusia dari pada sikap seorang nabi. Yunus mewakili persepsi dan pemahaman religius tertentu tentang orang-orang yang berkepercayaan lain.
Kemarahan Yunus terletak pada 3 hal. Pertama, ia tidak mengharapkan pertobatan orang-orang Niniwe. Baginya mereka itu sudah tidak mungkin lagi bertobat. Oleh karena itu ia tidak menyerukan agar mereka berhenti dari perbuatan jahat mereka. Ia hanya memberitakan tentang kehancuran yang menanti. Kedua, ia tidak mengharapkan Allah untuk memberikan tanggapan begitu cepat dan begitu mudah, dengan begitu mempermalukan nabi penghukuman yang Allah sendiri utus.
Ketiga, Yunus curiga bahwa sejak awal Allah memang tidak dapat dipercaya. Ia sebenarnya tidak ingin terlibat. Ia dipaksa dan kemudian dipermalukan. Kitab Yunus dimaksudkan untuk melukiskan kedaulatan Allah yang mutlak atas seluruh ciptaan. Allah yang rahmani dan mengasihi, yang lebih suka mengampuni dari pada menghancurkan. Bahwa rahmat dan kasih Allah tidak terbatas kepada bangsa-bangsa atau orang –orang tertentu.
Kisah kedua adalah mengenai perjumpaan antara Petrus dan Kornelius, seorang perwira pasukan Romawi. Kornelius adalah seorang yang “takut akan Allah”, sebuah istilah bagi seorang bukan Yahudi yang mempunyai minat yang aktif terhadap Taurat dan menaruh hormat kepada Allah orang Israel. Kornelius mendapat sebuah penglihatan. Ia disuruh oleh malaikat Allah menjemput Simon Petrus seorang penyamak kulit yang sedang berada di Yope. Kornelius mengutus tiga orang untuk mengundangnya datang ke rumahnya di Kaisara.
Sementara itu, Petrus naik ke atas rumah untuk berdoa. Ia juga mendapat penglihatan yang aneh. Tampak olehnya langit terbuka dan turunlah suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya, yang diturunkan ke tanah. Di dalamnya terdapat pelbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar dan burung. Kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata: “Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!”. Tetapi Petrus menjawab : “Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah memakan sesuatu yang haram dan tidak tahir”. Kedengaran pula untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya: “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram”. Hal ini terjadi sampai tiga kali dan segera sesudah itu terangkatlah benda itu ke langit.
Kornelius yang tengah mengutus orang untuk menjemput Petrus, adalah seorang “kafir”. Biasanya Petrus tidak akan pernah mau memasuki rumah atau makan bersama orang kafir. Petrus menyatakan hal ini ketika ia masuk ke rumah Kornelius. Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau kafir. (Kis 10:28).
Cerita ini diletakkan di dalam konteks pertobatan Kornelius. Namun dalam banyak hal, ia juga merupakan cerita pertobatan Petrus. Pertama, Petrus belajar bahwa hukum-hukum agama yang dilahirkan oleh tradisi-tradisi agama tidak dapat membatasi tindakan Allah. Hukum-hukum itu memang memberikan identitas, kesatuan dan makna bagi persekutuan religius tertentu. Banyak di antaranya lebih banyak dibentuk oleh kebutuhan kultural serta historis tertentu, ketimbang pemahaman yang mendalam tentang Allah dan tentang hubungan Allah dengan manusia. Masalah yang sesungguhnya mulai, ketika hukum-hukum tersebut diberi kesahihan yang bersifat universal, dan dipegangi sebagai batas-batas kegiatan Allah sendiri. Pada satu ketika, ada upaya untuk membatasi tindakan penyelamatan Allah di dalam batas-batas gereja, dengan menekankan bahwa “tidak ada keselamatan di luar gereja”. Kedua, bahwa Allah tidak membutuhkan “saluran” untuk mencapai manusia. Allah dapat mencapainya secara langsung, maka orang itu pun berada di dalam hubungan dengan Allah.
Di dalam kisah Kornelius kita diberitahu, bahwa Allah mendengar doa Kornelius dan menyukai perbuatan-perbuatan amalnya. Memang benar Kornelius kemudian menjadi murid Yesus. Namun jauh sebelum ia mendengar tentang Kristus, ia sudah berada dalam hubungan dengan Allah. Petruslah yang justru harus belajar tentang kebenaran itu. Samasekali tidak pernah terpikirkan oleh Petrus, bahwa Allah berkomunikasi begitu langsung dengan seseorang yang berada di luar agama Yahudi. Dan yang hidup keagamaannya tidak dapat diterima dari pandangan agama Yahudi.
Yesus Satu-Satunya Jalan?
Pemahaman yang menunjukkan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan dan bahwa seorang dapat masuk ke dalam keselamatan itu, hanya melalui iman kepada Yesus. Pemahaman seperti itu lebih diperkokoh lagi oleh apa yang biasanya disebut ayat-ayat eksklusif di dalam Alkitab, yang menampilkan Yesus sebagai jalan yang unik dan satu-satunya kepada Allah dan keselamatan (Yoh 3; 16,18; Yoh 14 : 5-6; Kis 4 : 11-12; Ibr 10 : 9-10; I Tim 2 : 3-6). Klaim-klaim dan pemahaman-pemahaman di atas, yang disajikan dalam bentuk kebenaran-kebenaran mutlak hanya akan menghasilkan keterasingan dan menutup jalannya dialog. Ia tidak hanya merupakan “batu sandungan” tetapi benar-benar penghalang yang diletakkan di jalan orang lain, yang akan mencegah mereka mengenal Yesus yang hidupnya ditandai pemberian diri.
Kata “satu-satunya” dipakai berulang-ulang. Satu-satunya Juruselamat, satu-satunya Injil, satu-satunya Allah-manusia, satu-satunya tebusan, satu-satunya pengantara. Tekanan diberikan kepada penegasan bahwa tidak ada nama lain melalui mana orang diselamatkan. Ini adalah sungguh sebuah cara penafsiran yang eksklusif tentang pemahaman Alkitab mengenai universilitas.
Apabila kita mempelajari Injil-injil Sinoptik, yaitu Matius, Markus dan Lukas, maka kita akan melihat Yesus yang sedikit banyak berbeda daripada Yesus yang ditampilkan oleh Yohanes. Fakta yang paling mencolok di dalam sinoptik adalah hidup Yesus yang betul-betul berpusat pada Allah. Ia tidak pernah menyebut diriNya sendiri Anak Allah, tetapi Anak Manusia. Bahkan lebih penting lagi, Yesus melihat fungsinya yang utama adalah sebagai pemula bagi Kerajaan Allah (Markus 1 : 14-15; Lukas 11 : 20). Yesus memberitakan pengampunan yang mengiringi kedatangan Kerajaan Allah, memanggil orang untuk bertobat, serta menantang mereka dengan sebuah pemahaman etis yang amat dalam tentang hubungan antara Allah dan manusia, dan antara manusia dengan sesamanya. Allah-lah yang menawarkan kehidupan bagi semua orang yang masuk ke dalam Allah dan terarah kepada Allah. Di dalam lingkungan sinoptik, akan terasa amat ganjillah, bila Yesus mengatakan : “Aku dan Bapa adalah satu,“ atau “Akulah jalan kebenaran dan hidup.“ Di dalam sinoptik, nampaknya tidak ada klaim tentang keilahian atau kesatuan dengan Allah. Yang ada ialah tantangan untuk menjalani kehidupan yang sepenuhnya tertuju kepada Allah.
Yang mesti kita ingat adalah, bahwa semua itu adalah pernyataan iman mengenai Yesus Kristus. Kita mengambil makna itu dalam konteks iman, dan oleh karena itu tidak mempunyai arti apa-apa di luar persekutuan iman. Konteks yang benar untuk memahami klaim-klaim bahwa Kristus adalah jalan satu-satunya, juru selamat satu-satunya, pengantara yang esa, dan sebagainya, itu dibuat dalam bahasa iman, dan harus dipahami dalam konteks komitmen iman gereja.
Suatu Dasar Alkitabiah Untuk Dialog?
Hakekat Allah adalah kasih. Yaitu bahwa Allah menghubungkan diri dengan manusia di dalam kasih (Mat 5: 45), Ia menandai seluruh hidup-Nya dan berita-Nya dengan keterbukaan dan penerimaan-Nya yang penuh sebab Injil bukanlah sebuah berita penolakan. Ia adalah sebuah berita penerimaan. Di dalam pengertian ini, inkarnasi adalah dialog Allah dengan dunia. Ia merupakan perwujudan tentang bagaimana Allah selalu bersama dengan umat manusia.
Semua itu ingin mengatakan, bahwa dialog antar-kepercayaan adalah didasarkan pada penerimaan, yang merupakan jantung dari berita Injil. Penerimaan yang tidak menuntut, tetapi memberi diri sendiri. Ia merupakan kemampuan untuk menerima yang lain di dalam ke”lain’an mereka. Bila kita tidak dapat menerima orang lain sebagai anak-anak Allah kecuali mereka percaya apa yang kita percayai, maka kita telah tidak bertindak atau berbicara dari berita Injil. Bila kita berkata, bahwa mereka yang tidak percaya kepada Kristus dan tidak termasuk di dalam persekutuan Kristen itu berada di luar pemeliharaan dan kuasa Allah yang menyelamatkan, maka kita telah berbicara tentang Allah yang bukan Allah dari Yesus Kristus.
Penolakan orang Kristen terhadap Hinduisme, Budhisme dan Islam, oleh karenanya sama sekali tidak boleh disamakan dengan tantangan Yesus kepada tradisi agama pada jaman-Nya. Yesus sendiri adalah bagian dari agama itu, Ia seperti nabi-nabi lain yang mendahului-Nya, menantang tradisi-Nya sendiri agar supaya setia kepada panggilannya yang sejati. Oleh sebab itulah, Ia dipandang sebagai guru dan nabi oleh bangsa-Nya.
Tentu saja kita tidak tahu, apakah yang kira-kira Yesus akan katakan tentang tradisi-tradisi agama “lain”! Catatan Injil yang tidak banyak tentang perjumpaan Yesus dengan orang –orang yang berada di luar Yudaisme, tidak menolong kita untuk mengambil kesimpulan. Namun ada beberapa kasus, dimana Yesus merasa heran ketika menemukan, bahwa yang disebut “orang luar”, seperti perempuan Kanaan itu, ternyata lebih responsif terhadap ajaran-Nya daripada banyak orang sebangsanya (Mat. 15 : 21-28).
Yesus berada dalam dialog dengan tradisi agama-Nya sendiri. Ia meng”ia”kannya, tetapi juga menantangnya bila ia menyeleweng dari maksud dan tujuan yang sebenarnya. Ia mempunyai persepsi yang baru tentang maksud Allah bagi hidup manusia, Ia mewujudkan persepsi itu melalui seleuruh sikap yang menunjukkan keikutsertaan dan keterlibatannya di dalam tradisi agama-Nya sendiri.
Dialog juga menyangkut upaya untuk mampu melihat. Panggilan untuk mampu melihat adalah sesuatu yang sentral di dalam berita yang disampaikan oleh Yesus. Dan bagaimanakah kita akan mampu melihat, bika kita tidak bersedia untuk mendengar dan belajar dari apa yang Allah lakukan dalam hidup orang-orang lain. Dialog dapat menjadi suatu pertalian, dimana orang-orang Kristen mampu melihat serta merayakan pemerintahan Allah yang sungguh-sungguh universal atas seluruh kehidupan.
Dengan kata lain, bahwa berita yang sentral dari Alkitab adalah amat dialogis. Sungguh disayangkan, bahwa banyak dari sikap kita terhadap kepercayaan-kepercayaan lain diperkembangkan hanya dari ayat-ayat Alkitab yang ekslusif, dan tidak dari beritanya yang sentral itu. Kita berada di dalam dialog, justru oleh karena Allah kita adalah Allah yang dinyatakan oleh Yesus kepada kita, dan kita percaya kepada kasih Allah yang merangkul seluruh umat manusia.
Orang-orang Kristen sesungguhnya tidaklah terpanggil oleh Alkitab untuk membuat klaim-klaim tetapi untuk membuat satu komitmen yang membukakan hidup mereka bagi orang-orang lain. Dan orang-orang lain itu juga mempunyai komitmen mereka. Jadi, dialog adalah ajang perjumpaan antar komitmen. Di dalam perjumpaan inilah, orang dapat melihat dan mendengar kesaksian yang saling ditawarkan.
Kesaksian dan Dialog
Dalam kesaksian belum tentu ada dialog tapi dalam dialog pasti juga berlangsung kesaksian, maksudnya didalam dialog setiap pihak harus mengalami apa yang dialami pleh tiap-tipa orang yang berdialog.
Apa yang dilakukan oleh murid-murid Yesus pada masa itu ialah memberi kesaksian tentang apa yang mereka ketahui dan alami mengenai Yesus yang di tolak, di salibkan namun telah bangkit, dalam kesksian tersebut juga berlangsung dialog dan itu mencakup berbagai kehidupan masyarakat oleh karena itu penting sekali untuk mengenal akan situasi ketika di langsungkan kesaksian maupun dialog.
Contoh dalam buku ini ialah bagaimana Paulus bersaksi dan berdialog ketika berada di tengah-tengah orang yang berkepercayaan lain seperti di Atena dimana ia bersaksi dan berdialog dimulai dengan apa yang dipahami oleh orang-orang yang mendengarnya artinya situasinya berbeda dengan ketika dia berhadapan dengan bangsanya sendiri. Oleh karena itu kita perlu melihat konteks situasi, waktu dan kehidupan kita bersama-sama dengan orang yang berkepercayaan lain.
Bersaksi dalam Berdialog
Dalam buku ini penulis memberi contoh tentang berhadapan dengan penganut agama Hindu, baginya bersaksi bukanlah sesuatu tindakan untuk melakukan pemaksaan agar orang yang mendengar kesaksian tersebut lantas berubah agamanya, berubah namanya dan berubah budayanya, tetapi bagaimana ia memahami dan mengenal Kristrus melalui pemahaman dirinya sendiri seperti juga murid-murid memahami Yesus dengan pemahaman yang mereka miliki.
Penting ketika kita bersaksi ialah bagaimana memahami apa yang kita saksikan kepada orang lain dan sekaligus juga memahami akan orang yang mendengar kesaksian kita, karena kesaksian Kristen harus bersifat membangun hidup bersama.
Kesaksian yang kita berikan harus lahir dari kehidupan spiritualitas kita yang dalam tanpa pemaksaan tetapi hanya dengan kerendahan hati, namun tidak berarti lantas kita tertutup untuk mendengar kesaksian yang mereka sampaikan kepada kita karena dengan demikian akan berlangsung juga dialog dalam kehidupan satu dengan yang lain, karena hubungan yang terbuka dan tulus dengan orang yang hidup dalam tradisi dan kepercayaan yang lain sama sekali tidak bertentangan dengan iman Kristen.
Menuju Suatu Teologi Dialog
Cara baru untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda kepercayaan, dengan memberikan tekanan kepada bagian-bagian dari Alkitab dan tujuan dalam teologi dialog, bukanlah untuk memenangkan atau mengalahkan sesuatu, tetapi yang diharapkan menunjukkan bahwa ada sisi lain yang menurut pandangan sentral dari sudut jiwa berita Alkitab – yang mendukung dan mengundang kita kepada suatu yang hidup berdialog. Semua pandangan selalu didasarkan pada pendekatan Alkitabiah yang selektif, misalnya seperti sikap Kriaten terhadap perang, Keterlibatan Kristen dalam politik, atau mengenai wanita dalam gereja dan masyarakat – untuk menyadari Alkitab dapat didekati dengan bermacam cara. Situasi sejarah gereja telah membentuk/mengubah bagaimana bagian Alkitab harus dipilih, ditafsirkan dan diterapkan di dalam hidup sehari-hari.
Tantangan Kemajemukan Agama
Gereja diperhadapkan kepada situasi yang baru secara hakiki. Sebelumnya kontak dengan agama-agama lain mempunyai dampak yang memperkaya dan memperluas iman Kristen. Gereja mempunyai pemahaman diri yang atas dasar ini ia menolak untuk memandang kepercayaan lain itu dengan serius. Teologi gereja untuk melayani misiologinya. Teologi dan filsafat agama yang lahir dari tradisi gereja pada akhirnya selalu bersifat apologetis. Mereka selalu menunjukkan mengapa iman kristiani itu superior terhadap kepercayaan-kepercyaan lain.
Sekarang kita berhadapan dengan situasi yang sungguh baru, dan penting sekali untuk mencatat beberapa ciri khas dari babakan baru sejarah manusia:
1. Tradisi agama lain telah pulih kembali dari penaklukan kolonial mereka, dan menampilkan diri sebagai alternatif yang universal bagi kepercayaan Kristen.
2. Ada kebangkitan kembali agama, ada vitalitas baru, tekad missioner yang baru.
3. Kemajemukan agama telah menjadi realitas pada setiap masyarakat; Di dalam segala situasi kehidupan, kelompok di dalam masyarakat memerlukan kerja sama untuk mencapai tujuan bersama dan menikmati hasilnya bersama-sama pula.
4. Telah bertumbuh kesadaran tentang kekayaan yang terdapat pada kepercayaan-kepercayaan lain. Kini Kristen menaruh minat terhadap meditasi Buddha dan Yoga Hindu. Dulu Islam dianggap sebagai saingan, kini bertumbuh minat yang besar terhadap pemahaman Islam tentang masyarakat dan doa.
Menuju sebuah Pendekatan Teologis yang Teosentris
Banyak suara kecaman terhadap kristomonisme dari teologi Protestan, adalah merupakan kelemahan teologi Protestan dalam menghadapi kemajemukan agama. Seperti ayat eksklusif dari Alkitab sebagai pernyataan kebenaran: “Tidak seorang pun tiba kepada Bapa, kecuali melalui Aku”, dan “Tidak ada nama lain di dalam mana keselamatan diberikan”. Pemahaman ini adalah menghimbau mereka untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan mereka. Hal ini merupakan koreksi kita yang akan memampukan kita untuk hidup di dalam dunia yang majemuk, dengan tanpa menyangkali panggilan kita yang khas, dan sekaligus memberi dasar teologis bagi kehidupan dan pengalaman orang-orang lain.
Meninjau Ulang Kristologi
Kristologi yang kita miliki dalam Alkitab adalah petunjuk jalan. Ia menunjukkan bagaimana murid-murid yang pertama dan para rasul bergumul untuk memahami makna Kristus di dalam kehidupan dan jaman mereka. Di dalam konteks yang baru dari kemajemukan agama, kita tidak dapat mengabaikan tanggung jawab kita untuk melanjutkan pergumulan ini. Saksi-saksi di dalam Alkitab kita meletakkan tugas ini di atas bahu kita.
Pemerintahan Allah dan Misi Allah
Kesulitan kita menghadapi kemajemukan agama kebanyakan bersangkutpaut dengan teologi yang ecclesio-sentris (berpusat kepada gereja). Tahapan sejarah yang mengatakan “Tidak ada keselamatan di luar Kristus” telah berubah menjadi “Tidak ada keselamatan di luar gereja” karena hal ini telah mengganggu dan merusak hubungan gereja dengan orang-orang yang berkepercayaan lain. Situasi baru menuntut upaya yang lebih keras memulihkan kerajaan atau pemerintahan Allah sebagai fokus dari teologi Kristen. Tugas yang paling penting untuk memahami kembali konsep tentang “Misi Allah” sebagai dasar dari hubungan kita dengan orang-orang lain. Kita sebagai Kristen hanyalah sebagian dari misi Allah yang lebih luas, akan memampukan kita bergandengan tangan dan bekerja sama dengan orang yang berkepercayaan lain dengan secara lebih sadar.
Teologi yang kita butuhkan adalah teologi “yang lebih setia kepada Allah, yaitu dengan lebih bermurah hati dan lebih terbuka, sebuah teologi yang lebih mengasihi sesama dengan lebih bersahabat dan mau mendengar, sebuah teologi yang tidak memisahkan kita dari sesama manusia kita tetap menopang kita dalam pergumulan dan pengharapan bersama. Ketika kita hidup bersama sesama kita, apa yang kita butuhkan sekarang adalah, sebuah teologi yang menolak untuk menjadi teologi yang selalu dapat mematahkan setiap serangan, tetapi sebuah teologi yang, di dalam semangat Kristus, bersedia dan mau untuk berada dalam situasi yang rawan dan mudah diserang”
Refleksi Teologis
Kita dapat dan harus menyambut baik suatu masyarakat yang majemuk karena dia memberikan kita suatu jangkauan pengalaman dan keberagaman yang lebih luas dari tanggapan-tanggapan manusia terhadap pengalaman, dan karena itu merupakan kesempatan-kesempatan yang lebih kaya untuk menguji kecukupan iman kita daripada yang dapat diperoleh dari corak saja. Sebagaimana kita harus mengaku Yesus di dalam suatu masyarakat yang majemuk dan sebagaimana Gereja bertumbuh melalui kedatangan orang-orang yang datang dari banyak tradisi kebudayaan serta keagamaan yang berbeda-beda untuk beriman kepada Kristus, kita dimampukan untuk lebih mempelajari betapa panjang dan lebarnya dan tingginya dan dalamnya kasih Allah (Efesus 3: 14-19).
Alkitab – dalam beberapa prinsip yang tercantum di dalamnya – mengenal semangat dialog, yang juga termasuk di dalamnya adalah dalam hubungannya dengan orang-orang yang berkepercayaan lain. Hal ini bisa dilihat dari keesaan Allah sebagai pencipta langit dan bumi (Kejadian 1:1, Mazmur 24:1, dan 104:24-30). Perjanjian-Nya bersifat semesta, tidak eksklusif pada bangsa-bangsa tertentu dan golongan-golongan tertentu. Dinyatakan melalui penciptaan dan kejatuhan Adam, perjanjian dengan Nuh, dengan Abraham, lalu penciptaan baru dan penebusan oleh Yesus Kristus (1 Petrus 2:9-10, dan 2 Korintus 5).
Kenyataan-kenyataan tersebut bisa dijadikan sebagai pendekatan dalam melakukan dialog dengan orang-orang yang berkepercayaan lain. Beberapa ayat yang bisa dirasakan sebagai bukti tentang eksklusivisme (misalnya Yohanes 3:16; 1 Timotius 2:3-6; Matius 28) sebaliknya dipahami di dalam konteks iman gereja karena dibuat dalam bahasa iman.
Masyarakat dunia kita terpecah-pecah menjadi banyak bagian yang saling bermusuhan, yang kaya tidak hidup dalam impian yang miskin; penganut ideologi kanan tidak mau mengerti penganut ideologi kiri. Umat manusia telah membangun umat manusia yang berbahaya. Agama-agama juga ikut mengakibatkan perpecahan masyarakat dunia. Dengan dialog kita dapat berbuat sesuatu guna mempertahankan sendi-sendi masyarakat dunia dari kehancuran lebih jauh, maka hanya dengan pertobatan yang dialogis yang diperlukan untuk tugas raksasa ini. Para ilmuwan dan teolog umat beragama dipaksa menilai ulang konsep-konsep yang berhubungan antara Allah, manusia dan alam. Akhirnya kita menyadari bahwa Allah tidak menyukai dogmatisme dan eksklusivisme.
Alkitab harus dipandang sebagai terang atau pelita yang memancarkan cahaya ke atas kehidupan orang-orang Kristen. Ketika mereka mencari bagaimana harus hidup bersama dengan orang-orang kepercayaan lain, ada Alkitab sebagai jawabannya karena di dalam Alkitab berisi pemahaman-pemahaman tentang Allah dan cara-cara Allah yang bekerja lebih terbuka, lebih murah hati dan lebih inklusif dan bahkan lebih dari yang kita sadari. Di dalam Alkitab, terdapat satu ajaran yang akan membebaskan kita dari diri kita sendiri dan memampukan kita untuk hidup bersama-sama dengan yang lain di dalam satu masyarakat.
Free Download Theme Song / Lagu KKR Army of God & Asia For Jesus – Surabaya
Download Gratis Lagu Army of God, yang merupakan theme song dari KKR
Army of God yang di laksanakan di Bandara Juanda Lama – Surabaya pada Tanggal
14 – 16 May 2009. Kiranya lagu ini dapat memberkati siapa saja yang
mendengarkannya. God Bless You.
Download Gratis di http://www.ziddu.com/download/5519943/ArmyofGod.zip.html
Apa artinya mempunyai Allah lain?
Menurut kebanyakan pemeluk agama, bahwa hanya ada satu Allah, yaitu Allah yang mereka akui yang berbeda dengan Allah agama orang lain. Di lain pihak, buku ini mengajak untuk memahami bahwa hanya ada satu Allah untuk semua agama. Jadi Allah agama yang satu adalah sama dengan Allah agama lainnya …