jump to navigation

Mamak Pulang 7 Juli 2009

Posted by tanobato in Aku dan Tiga Perempuan Perkasa.
Tags: , , , ,
3 comments

Hari Minggu yang lalu (29/06/09), Mamak pulang kembali ke Medan. Tak terasa beberapa bulan ini beliau kembali menghabiskan waktu di Jakarta bersama kami beberapa anak dan boru beliau. Pengobatan yang dilakukan untuk mengurangi penderitaan saat ke kamar mandi (buang air kecil) telah kami upayakan. Setelah dilakukan pengobatan dengan antibiotik yang paling paten (menurut dokter spesialis yang menangani selama ini) selama dua kali, akhirnya sang dokter menyimpulkan bahwa rasa sakit tersebut tidak dapat dihilangkan sama sekali. “Karena usia tua sajalah itu, ompung …”, katanya ketika Kamis sebelumnya bertemu dengan sang dokter untuk melihat hasil laboratoriun yang ke sekian kalinya. Ucapan dokter tersebut semakin menambah dorongan Mamak untuk pulang ke Medan. Pagi harinya – ketika kami berjalan pagi sebelum ke dokter sore harinya – Mamak kembali mengulang penegasannya, “Manang aha pe didokkon doktor i anon, unang pola gabe manundati hamulakhanku tu Medan da, amang …”. Ada mengiba aku rasakan dari nada suaranya, yang menciptakan perasaan sedih padaku yang harus “merelakan” kepulangan Mamak ke Medan. “Pasti do mulak, inong. Nunga rade be tiket pesawatna”, jawabku menenteramkan hati.

Memang, aku merasa lebih tenang jika Mamak tinggal bersama kami. Kesehatannya lebih terawat dengan konsultasi ke dokter setiap Kamis, pengaturan makanan yang sesuai dengan diet penderita gula, dan disiplin memakan obat, menurutku lebih terjamin jika ada di Jakarta. Tapi itulah orangtua, selalu merasa lebih tenteram di rumah sendiri yang penuh kenangan dan lebih familiar. Kali ini kami anak-anaknya di Jakarta tidak lagi bias menahan keberadaan Mamak di Jakarta lebih lama lagi. Biarlah pulang dulu dan menikmati suasana di Medan bersama keluarga lainnya.

Setelah rekonsiliasi (tepatnya: reuni) bersama Tante yang selama bertahun-tahun tidak pernah saling menyapa, aku melihat perubahan dalam diri Mamak. Wajahnya sekarang menjadi lebih damai dan segar. Mudah-mudahan akan menjadi semakin baik pada hari-hari selanjutnya.

Mamak di BandaraDengan Lion Air sore itu Mamak berangkat ke Jakarta. Bandara sangat penuh dengan antrian calon penumpang pada setiap konter untuk check-in. Ada keluhan beberapa penumpang terhadap pelayanan petugas maskapai penerbangan ini yang tidak memuaskan pelanggan. Hal yang sama aku rasakan ketika meminta penyediaan kursi roda untuk Mamak yang membutuhkan waktu hampir sejam untuk mendatangkan petugas yang akan mengantarkan ke dalam pesawat. Untuk penerbangan kali ini (yang tumben jadualnya tepat waktu …), Mamak didampingi Mikhael, salah seorang cucu yang kuliah di FKUI dan akan menikmati liburan di Medan.

Minggu sore yang lalu – sebagaimana biasa aku lakukan untuk selalu menyempatkan diri bertelepon setiap Minggu sekadar menanyakan kabar (paling tidak, ‘apakah marminggu hari ini ‘…) aku menangkap sukacita dalam nada suara Mamak. Baguslah, dan puji Tuhan karena semuanya berjalan dengan baik.