Andaliman-41 Khotbah 04 Oktober 2009 Minggu-XVII setelah Trinitatis

Lord is my light (280909)

Tuhan menyertai, sumber kekuatan, gembala kita, untuk selama-lamanya …

Nas Epistel: Yesaya 46:3-4

Dengarkanlah Aku, hai kaum keturunan Yakub, hai semua orang yang masih tinggal dari keturunan Israel, hai orang-orang yang Kudukung sejak dari kandungan, hai orang-orang yang Kujunjung sejak dari rahim. Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.

Nas Evangelium: Mazmur 28:6-9

Terpujilah TUHAN, karena Ia telah mendengar suara permohonanku. TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya. TUHAN adalah kekuatan umat-Nya dan benteng keselamatan bagi orang yang diurapi-Nya! Selamatkanlah kiranya umat-Mu dan berkatilah milik-Mu sendiri, gembalakanlah mereka dan dukunglah mereka untuk selama-lamanya.

 

Betapa indah janji Tuhan pada nas kedua perikop ini, baik Ep maupun Ev. Dari mulai masih dalam proses di rahim ibu sampai memutih rambut, Tuhan selalu menyertai. Kata-kata yang dipakai dalam Ep ini adalah: junjung, menggendong, memikul, dan menyelamatkan. Yesaya dengan keahliannya berkomunikasi mempertentangkan pemahaman tentang kemahakuasaan Allah dengan allah-allah pada zaman itu. Sebagaimana dewa-dewa pada zaman itu yang dikemas dalam bentuk patung tuangan logam dan atau pahatan seniman yang notabene adalah buatan tangan manusia, yang harus dibawa-bawa ke mana pun mereka pergi. Dalam satu episode, patung-patung tak berdaya dari dewa-dewa mereka itu harus dikemas seperti barang di atas binatang pengangkut para pengungsi Kasdim ketika mereka lari dari hadapan orang-orang Persia yang menyerang. Orang-orang kafir itu harus mengangkut allah-allah mereka, tetapi Tuhan menggendong dan memelihara umat-Nya sejak masa kanak-kanak mereka sebagai bangsa, dan telah memelihara mereka sampai penghujung perjalanan hidup mereka sebagai sebuah bangsa (pada akhir zaman ini). Pemahamannya adalah Tuhan seakan tidak mengizinkan kaki untuk menjejak tanah, karena Dia selalu menatang. Menjauhkan dari mara bahaya.

 

Pemazmur dalam nas perikop Ev Minggu ini menaikkan pujian dan syukurnya atas jawaban-jawaban doanya. Janji Tuhan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Apalagi yang masih harus diragukan, ya?

 

Di situlah terletak kata kuncinya: ragu. Aku sudah lama tahu tentang betapa pedulinya Tuhan dan betapa penuh kasihnya Tuhan padaku. Dalam malam-malam yang sepi saat aku merenungkan perjalanan hidupku – terlebih saat menghadapi suatu situasi dan kondisi yang sedang dipergumulkan – aku pasti meyakini kehadiran-Nya dalam hidupku. Seringkali ketika sampai pada titik di mana aku sudah mantap menyerahkan sepenuhnya pada-Nya, tiba-tiba datang pikiran/logika yang merasuki yang membuatku goyah sehingga kembali ragu. Juga orang-orang di sekitar acapkali berupaya memengaruhi sehingga membuatku ragu.

 

Sejauh mana sepatutnya harus yakin? Biasanya yang aku lakukan adalah: selalu memberi streching ( = tarikan ke atas) pada sasaran yang aku tuju. Misalnya dengan perhitungan matang (dan dalam keadaan yang biasa), aku hanya mampu mecapai 100, tapi aku berupaya untuk menaikkan sasaran menjadi 110 dengan mengatakan: ”Tuhan, dengan kemampuanku sendiri aku sanggup mencapai yang 100, tetapi aku menginginkan 110 dan percaya bersama Tuhan aku sanggup mencapainya”.  Atau, kadangkala aku memohon seperti ini, ”Tuhan, aku sudah mengerjakan apa yang aku mampu lakukan. Inilah yang maksimal bisa aku lakukan untuk saat ini, dan aku tahu tidak semua dapat aku lakukan sebagaimana tidak semua pula aku bisa kendalikan. Untuk itu semua, aku mohon pertolongan Tuhan. Mampukan aku juga menerima apapun yang harus aku terima hasilnya”. Dengan kondisi seperti itu, biasanya aku selalu lebih siap dan lebih mudah menerima apa pun keadaan yang terjadi kemudian. Karena aku meyakini, semua hasil yang aku dapatkan adalah datangnya dari Tuhan dan Beliau pasti punya sesuatu yang indah di balik semuanya itu …

      

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Tuhan adalah gembala kita, yang membawa kita ke mana Sang Gembala mau. Dia juga melindungi dan menjagai kita, serta menjauhkan kita dari mara bahaya. Sebagai domba yang baik, tidak bisa tidak, kita harus tertuju pada-Nya. Bukan kepada yang lain.

 

Tuhan telah memelihara kita dari sejak dikandung oleh ibu yang kemudian melahirkan kita. Menyertai kehidupan kita, dengan segala konsekuensi dan dinamika kehidupan. Bahkan sampai memutih rambut. Ragu pada janji-Nya? Janganlah meragukannya! Jujur saja, kita tidak punya pilihan lain yang pasti lebih baik koq. Benar, ‘kan?

Buku Ende Dibajak?

Punya berapa buku nyanyian untuk ibadah persekutuan di HKBP yang disebut Buku Ende ini? Aku ada beberapa dengan berbagai versi Buku Ende (selanjutnya kita singkat dengan BE saja). Aku ingat, yang pertama aku beli (setelah sebelumnya “meminjam” milik orang tua …) adalah tahun 1991 ketika singgah makan pangsit di Pematang Siantar dalam perjalanan ke Porsea. Berwarna coklat (sebenarnya lebih mirip merah maron, tetapi karena kualitasnya seadanya sehingga tidak terlalu kontras …) bersampul plastik dengan logo pesta jubileum HKBP, masih ada pemisah antara buku logu dengan haluan na gok. Saat itu aku beli bersamaan dengan Bibel yang setelah sampai di rumah ternyata banyak kesalahan penjilidannya. Menjelang Natal (kalau tak salah, itu termasuk selling point yang disampaikan pria muda penjual buku tersebut selain keaslian cetakannya …) dan sedang di kota tempat percetakan HKBP berada, tak salahlah kalau aku beli buatku.

Itu yang pertama. Ada lagi Bibel Dohot Ende cetakan tahun 1998 di mana bahasa Batak-nya masih memakai ejaan lama. Ini milik almarhum bapakku, yang tertinggal saat mamakku menginap di rumah selama beberapa bulan.

Lalu, beberapa tahun lalu saat mengikuti kebaktian Minggu di Medan, aku melihat BE versi baru, yaitu penggabungan buku logu dan haluan na gok yang ditambah dengan lagu-lagu saduran dari berbagai sumber yang populer, Ketika kembali ke Jakarta pada awal tahun lalu, seorang pendeta memberikannya padaku, yakni yang ukuran kecil. Dengan senang hati aku menggunakannya dengan membawanya ke gereja dan partangiangan wejk, sampai suatu kali (dan beberapa kali kemudiannya …) aku mengalami gangguan dengannya: ternyata banyak teks lagunya yang berbeda dengan BE yang umumnya dipakai oleh warga jemaat lainnya. Misalnya teks yang seharusnya “Tuhan-ki” pada “BE ‘ngawur” tersebut menjadi “Tuhan-mu”, demikian sebaliknya. ‘Ngawur banget, ‘kan? Bayangkan saja betapa tidak nyamannya aku ketika dengan semangatnya menyanyikan lagu tersebut dengan teks yang salah di partangiangan wejk yang biasanya cuma dihadiri belasan orang. Mudah sekali ketahuan siapa yang salah, dan mata orang-orang pastilah terarah padaku (selain karena teksnya ’ngawur, juga karena suaraku memang cenderung fals …). Dan tidak hanya satu-dua lagu saja yang salah, ada banyak, sehingga dalam BE tersebut saat ini akan terlihat banyak coretan yang aku buat untuk mengoreksi setiap teks yang salah. Banyak yang tidak percaya ketika saat partangiangan wejk beberapa kali aku sampaikan ke warga jemaat bahwa BE milikku cetakannya banyak yang salah. Pada suatu hari aku menemukan kejanggalan yang lain, ternyata judul BE-nya salah.  Tertulis Buku Ende Sangap di Jahoha, dari yang seharusnya adalah Buku Ende Sangap di Jahowa …

Puji Tuhan, awal tahun ini ada sintua di jemaat kami yang menanggapi kerinduan untuk memiliki BE yang benar, dengan menawarkan untuk memesankan Buku Ende Sangap di Jahowa. Tentu saja aku pesan satu buatku. Setelah beberapa bulan memakainya, masih ada kesalahan cetak yang menganggu. Agak sedikit memang bila dibandingkan dengan BE yang sebelumnya. Walau agak mengganggu, namun aku tidak terlalu merisaukannya. Selain kuatir nanti dicap sebagai warga jemaat yang banyak mengeluh, juga menjaga jangan sampai amang sintua tadi tersinggung.

Nah, tadi malam – saat sermon parhalado – pak pendeta resort mengajak kami berlatih menyanyikan lagu BE No. 493 Logu No. 335 U. L. No. 99 dengan judul Naeng Modom do Sudena. Ketika menyanyikan not pada baris ke dua, ternyata ada perbedaan nada antara yang dinyanyikan pak pendeta (nada sol) dengan yang lainnya (nada do). Ternyata pak pendeta menyanyikan BE yang bergabung dengan Bibel (= Alkitab berbahasa Batak), sementara sebagian besar peserta (termasuk aku) menggunakan Buku Ende Sangap di Jahowa. Penasaran, pak pendeta membuka BE versi yang lain (dan satu di antaranya adalah yang mirip dengan Buku Ende Sangap di Jahoha-ku yang ”ngawur” itu … Dan masih ada lagi, yaitu perbedaan satu bar yang terdapat pada Buku Ende Sangap di Jahowa yang tidak terdapat pada BE versi lainnya. Terbuktilah sudah, sehingga pak pendeta memutuskan untuk ”membuang” saja satu bar yang ”kelebihan” itu … Ada juga usulan satu inang sintua untuk memeriksanya di Buku Logu, namun tidak terlalu digubris (karena tindakan itu bukan yang sangat dibutuhkan saat itu …). Bagaimana nanti saat partangiangan wejk? Karena lagu tersebut salah satu yang akan dinyanyikan, maka pak pendeta mengusulkan: ”Molo adong sian ruas na malo mar-not di partangiangan i, mardos ni roha ma hita mangendehon dia na dumengganna …”.

Sebelumnya, pada Rabu malam yang lalu (23/09/09) ketika bertemu dengan amang Pdt. JAU Doloksaribu. M. Min (mantan praeses Jakarta yang sekarang melayani sebagai pendeta resort di Bekasi) yang mana beliau salah seorang penggubah/penyadur beberapa lagu sehingga paling banyak namanya tercantum pada Buku Ende Sangap di Jahowa melontarkan kalimat yang membuatku terperangah sejenak: ”I ma hudongkon tu angka dongan di HKBP: ’Nunga diboto hamu tung mansai godang buku ende na dibajak nuaeng na beredar manang di dia, nunga marribu … gabe pembajak i do na mangallangi. Hape, aha ma dapot ni iba. Nanggo sada buku ende pe ndang adong dilean.’ Ala ni i, molo olo do hamu amang, asa hupesan buke ende dohot Bibel sian Yasuma. Holan lima puluh ribu do argana. Na asli do on, jala denggan cetakanna. Paboa hamu ma piga buku na porlu tu huriamuna” yang terjemahan bebasnya kira-kira menjadi begini: “Begitulah saya katakan kepada kawan-kawan di HKBP: ‘Sudah kalian tahun bahwa sudah sangat banyak buku ende yang dibajak sekarang ini beredar di banyak tempat, sudah ber-ribu …. jadi pembajak itulah yang makan. Padahal, apalah yang saya dapat. Bahkan satu buku pun tidak ada diberikan’. Oleh sebab itulah, jika kalian mau, supaya aku pesan buku ende yang digabung dengan Alkitab berbahasa Batak dari Yasuma. Hanya lima puluh ribu harganya. Asli, dan bagus cetakannya, Beritahu saya berapa buku yang diperlukan jemaat kalian.”.

Ada komentar, kawan?

Undangan Pelatihan Kepemimpinan di Haggai Institute, Hawaii

Haggai Institute (230909)

Hari ini aku terperanjat ketika pertama kali membuka laptop/notebook dan membaca pesan yang masuk: dari Haggai Institute (HI). Dua buah pula lagi. Mulanya aku rada kaget juga. Yang pertama muncul adalah ”peringatan” bahwa tanggal tenggat untuk memberikan tanggapan konfirmasi sudah semakin dekat, dan aku terancam dikeluarkan dari rombongan yang dimaksud alias harus menunggu giliran berikutnya.

Tentu saja aku kaget. Memang, aku sudah dua kali meminta penjadualan-ulang untuk mengikuti seminar (Advanced Leadership Session) ini. Alasannya sederhana: jadualnya tidak sesuai dengan kalender pekerjaanku. Walau selalu mengusulkan tanggal tertentu, selalu saja undangannya menyimpang dari tanggal yang aku usulkan. Bulan lalu HI mengirimkan beberapa opsi jadual, yang sampai hari ini belum aku tanggapi karena belum sesuai dengan jadual yang aku usulkan. Tempat yang selalu disediakan bagiku adalah Singapura. Begitulah, tidak semua harus sama dengan yang diusulkan. Selain tanggal, aku juga meminta untuk lokasinya di Hawaii.

Dan hari ini ada dua pesan tentang undangan dari HI ini. Yang satu seperti yang aku sebutkan di atas. Agak bingung juga, ’koq tiba-tiba ada desakan seperti ini yang mengesankan aku tidak menanggapi dengan memadai. Ketika sudah bulat tekad untuk membalas e-mail tadi untuk memberi tahu bahwa aku belum pernah menerima undangan untuk jadual dimaksud (pertengahan November sampai pertengahan Desember tahun ini), eh … tiba-tiba muncul lagi satu pesan baru dari HI: undangan untuk mengikuti seminar dengan jadual dimaksud. Owalah, ternyata di negeri sono masih ada juga kesimpangsiuran yang lazim terjadi dengan bangsa kita ini …

Begitulah, sekarang aku yang harus bergumul. Selain waktunya rada mepet – kurang lebih satu bulan untuk persiapan administrasi termasuk visa ke Amerika – juga izin cutiku yang belum aku daftarkan. Lama pula lagi: 18 hari! Yang paling membuatku menjadi ragu adalah: minggu lalu aku ditunjuk sebagai ketua panitia National Distributor Convention yang akan diselenggarakan di Surabaya pada awal Desember … pas dengan jadual seminar ini. Berdasarkan pengalaman pada NDC terakhir di Denpasar dua tahun yang lalu yang aku juga ditunjuk jadi ketuanya, kesibukannya memang luar biasa. Tahap persiapan, maupun pelaksanaan di hari H-nya.

Mau diskusi sekalian minta izin, boss-ku lagi menikmati cuti Lebaran pula. Ya sudah, yang dapat aku lakukan adalah memasukkan tanggal usulan cuti ke sistem (sambil berharap dapat disetujui …), lalu menjawab e-mail HI dengan memberitahu situasi yang aku alami. Oh iya, lagian aku pula yang ditunjuk kawan-kawan jadi ketua panitia wisata keluarga koor ama tanggal 27-28 November yang akan datang … Alamakkk, macam mana pula ini bah ?!

Saat makan siang tadi, aku bicarakan dengan kawanku yang alumni HI Singapura tahun lalu dan beliau memesankan: ”Bawa dalam do’a aja, bang. Saya waktu mau berangkat ke Singapur kemaren mendapat banyak kemudahan dan mujizat. Selain izin cuti yang pas banget, juga dukungan secara finansial dari orang-orang yang tidak saya duga ternyata banyak sekali membantu.”. Ya, pastilah aku akan bawa dalam do’aku pada Tuhan yang pagi ini sudah menjawab untuk hal lain, yaitu kemudahan mendapat fasilitas untuk pelatihan pelayan tahbisan yang akan kami selenggarakan tanggal 02-03 Oktober yang akan datang di Pasirmukti.

Liburan Lebaran, Pelayanan, dan Partangiangan

Partangiangan & Lebaran (230909)

Pada sermon parhalado Kamis (17/09/09) yang lalu aku rada terkejut dan merasa “aneh” saat pandita resort manolopi alias menyetujui usulan beberapa penatua untuk meniadakan partangiangan wejk dan pelayanan lainnya pada minggu ini. Alasannya, warga jemaat masih pada liburan panjang memanfaatkan suasana Lebaran. Sebelum pendeta resort hadir, di konsistori aku sudah mendengar tentang hal itu di mana inang sintua menyampaikan bahwa berdasarkan polling pada minggu sebelumnya, diperkirakan hanya akan tiga atau empat orang saja yang akan hadir bila “dipaksakan” melaksanakan partangiangan wejk pada Rabu (23/09/09) malam ini sesuai jadual mingguan. Saat itu aku mengusulkan kepada yang hadir untuk tidak meniadakan partangiangan wejk, melainkan menggabungkan saja dengan menyelenggarakannya di gereja. Masak gara-gara Lebaran partangiangan wejk jadi ditiadakan? Juga kegiatan pelayanan lainnya? Aneh, ‘kan?

Saat ditawarkan untuk libur sintua learning hari Jum’at (25/09/09) nanti, dengan tegas kami menolak. Belajar harus jalan terus … Sang pendeta resort masih berusaha “membujuk” dengan mengatakan: “Ahu pe rade do molo diajak hamu angka casi ( = calon sintua) mardalani tu Puncak manang di dia pe sambil marsiajar …”. Karena sebelumnya aku sudah sempat diskusikan dengan kawan-kawan calon penatua, ajakan tersebut tidak kami gubris. Juga ledekan beberapa sintua senior yang mengatakan: “Bah, antar-antar ringgas do hamu angka casi i. Atik na sonang do hamu sabotulna na libur i …”.

Angkatan kali ini memang hanya ada tiga orang calon penatua. Umur kami hampir sebaya (lahir pasca G30S/PKI alias angkatan 65-an …), dan datang dengan idealisme bahwa penatua adalah sungguh-sungguh pelayan. Sesuatu yang kami rasakan sudah mulai luntur pada banyak penatua senior di jemaat kami saat ini. Oleh sebab itu, kami sepakat untuk selalu menunjukkan bahwa kami adalah berbeda … Dan ini salah satu momennya.

Terus terang, alasan meliburkan partangiangan wejk sangat tidak bisa aku terima. Kalau hanya sedikit saja yang hadir, bukankah memang tugas parhalado untuk melayani warga jemaat? Berapapun jumlahnya! Bukankah dengan dua atau tiga orang sajapun yang hadir sudah cukup jumlahnya untuk mengundang kehadiran Yesus dalam persekutuan tersebut? Aneh, dan koq ”tega-teganya” parhalado melupakan hal yang prinsip seperti ini, ya?

Oh iya, kemarin saat ibadah Minggu, pak pendeta yang berkhotbah dalam mengomentari tingting yang menyampaikan peniadaan partangiangan wejk, dari mimbar malah mengomentari: ”Itu menandakan toleransi kita kepada umat lain yang sedang bersukacita merayakan hari kemenangan …”.

Owalah, weleh weleh weleh …

Situasi terkini 280909

Jum’at jam 16.18 WIB pak pendeta meneleponku. Karena beberapa jam sebelumnya sudah beberapa kali berbicara di telepon membicarakan tentang lokasi pelatihan pelayan tahbisan, kali itu pun aku mengira akan membicarakan hal yang sama. Ternyata berbeda: beliau memberitahu tentang peniadaan kelas sintua learning hari ini, karena gereja akan memberikan penghiburan kepada keluarga salah seorang warga jemaat yang paginya meninggal dunia (sebagaimana SMS yang aku terima sebelumnya, almarhum adalah keluarga yang baru saja minggu lalu diterima kembali sebagai warga gereja setelah kena ruhut-ruhut parmahanion dohot paminsangon = hukum siasat gereja).

 

Berikut adalah dialog telepon yang terjadi sore itu:

Aku                : Pukul ualu do kan acara penghiburan i, amang? Tapatibu ma masuk amang, unang be pukul pitu hita mulai marsiajar. Pukul onom ma, asa hupaboa tu angka dongan calon sintua na asing asa dipatibu parrona. Ala ndang pala godang dope sikarejoan di kantor saonnari ala cuti Lebaran dope angka dongan, boi ma ahu pukul lima annon borhat tu gareja.

Pendeta          : Ndang boi, amang. Ahu pe di bandara dope nuaeng mangalap Amang Ketua Departemen Koinonia tu acara peresmian pokja marsogot. Jala nunga hupaboa tu angka calon sintua na asing, nasida pe nunga mangoloi.

Aku              : … ? Nauli ma, amang anggo songon i …

 

Benarlah seperti apa yang tertulis, bahwa apa yang kita pikirkan itulah (biasanya) yang akan terjadi pada kita. Karena “dorongan” yang kuat untuk meliburkan, maka situasi yang lain akan membantu terciptanya apa yang diharapkan itu.

Hikmah Bulan Puasa … Minal Aidin wal’faidzin …

Hikmah Ramadhan (230909)

Karena tidak mengambil cuti – sebagai “penjaga-gawang” karena yang lainnya pada cuti – hari ini aku masuk kembali ke kantor setelah menikmati libur Lebaran Senin dan Selasa kemarin. Kembali aku bisa menikmati jalanan bebas macet, suatu kemewahan hidup di Jakarta yang hanya beberapa kali bisa terjadi selama aku menumpang di ibukota republik tercinta ini. Parkiran juga sepi sehingga aku bebas untuk memarkirkan mobil pada kapling yang biasanya sangat sulit didapatkan. Sempat juga bingung karena begitu banyak pilihan …

Tak terasa, bulan puasa berlalu begitu cepatnya. Hampir sebulan aku merasakan suasana berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Tak salahlah bila pada hari pertama ’ngantor pasca-Lebaran ini aku berupaya mencatatkan kesan-kesan (tepatnya: dampak positif …) Ramadhan terhadap kehidupanku. Ya, dampak positif, di samping beberapa hal yang membuatku sempat kurang nyaman, antara lain: kebisingan aktivitas di masjid yang lebih heboh daripada biasanya, produktivitas kawan-kawan yang rada menurun, penjual makanan di kantor yang menutup warungnya selama beberapa hari, dan … hawa kurang sedap dari beberapa orang yang sedang berpuasa saat berdiskusi dengan mereka.

Di rumah

Bangun pagi menjadi relatif lebih mudah karena si Atik bangun lebih pagi untuk persiapan sahurnya. Biasanya dia melanjutkan bersih-bersih rumah dan penyiapan sarapan setelah usai menyantap sahur. Mendengar suara ”gaduh”, aku menjadi lebih mudah terbangun. Berangkat ke kantor juga tidak terburu-buru, karena jalanan menjadi relatif sepi (mungkin karena sebagian besar sekolah mulai libur, dan jam kerja menjadi lebih siang dimulainya …), aku masih nekad meninggalkan rumah setelah jam tujuh. Dengan demikian, aku jadi punya waktu lebih banyak bersama keluarga pada pagi hari itu.

Tiba di rumah juga tidak terlalu malam. Dengan suasana di mana banyak orang pulang lebih cepat (dengan alasan berbuka puasa bersama, baik di rumah maupun pada perkumpulan lainnya), aku pun seakan-akan mendapat ”kemudahan” untuk pulang lebih awal (artinya tepat waktu sesuai jam kerja di kantor yang jam lima sore) dari yang biasanya lewat jam tujuh. Meskipun tidak setiap hari, karena secara moral aku juga harus tinggal lebih lama di kantor untuk beberapa pekerjaan yang harus segera aku selesaikan (sekalian berbuka bersama di kantor …). Kecuali ada kegiatan di gereja, aku biasanya langsung pulang ke rumah.

Di gereja

Berhubungan dengan kebolehan pulang lebih awal (persisnya adalah tepat waktu …), aku pun jadi lebih mampu berkomitmen terhadap jam kegiatan di gereja. Rapat Marturia (yang aku sudah dapat ”izin terlambat” karena selalu dimulai jam 6 sore …), partangiangan wejk (yang memang biasanya dimulai lewat jam delapan malam …), dan sermon parhalado aku pastikan 100% tidak terlambat. Bahkan untuk kelas belajar calon panatua (sintua learning) setiap Jum’at malam aku berkomitmen harus bisa dimulai jam tujuh karena akan dilanjutkan dengan latihan koor ama (awalnya amang pandita resort sempat ragu karena angkatan sebelumnya selalu dimulai setelah jam delapan malam …).

Ketibaanku pada ibadah Minggu juga menjadi lebih awal. Selain situasi jalanan yang menjadi lengang (mungkin karena sebagian besar umat muslim yang berpuasa mengurangi kegiatan luar-ruangnya alias lebih banyak beraktivitas di rumah), juga kewajiban moralku untuk selalu hadir di konsistori untuk memastikan pelaksana tugas pelayanan sudah siap melaksanakan tugasnya. Sebagai calon penatua, otomatis aku (bersama dua kawan sesama calon penatua) adalah sukarelawan yang siap menggantikan peran para penatua senior yang berhalangan (pernah terjadi aku harus menjadi kolektan selain yang wajib adalah penghitung hadirin …). Situasi ini juga mendukung ”pesan moral” yang selalu aku sampaikan di rumah, bahwa malu kalau ke gereja saja pun (masih) harus terlambat … (dan sering aku bandingkan dengan acara nonton di bioskop yang rela menunggu ’ngantri sebelum film diputar di studio …).

Di kantor

Karena sedang berpuasa, kebanyakan orang-orang terkesan dalam suasana damai. Kalau meeting yang biasanya ”fight each other” dan saling mempertahankan pendapat masing-masing, kali ini menjadi lebih ”cool”. Selain karena semangat puasa yang mengajarkan perdamaian dan menahan diri, kondisi fisik juga pastilah salah satu faktor penunjang suasana yang lebih damai.

Orang-orang juga terkesan menjadi lebih jujur. Atau paling tidak, ”menunda” kebiasaan yang harus berbohong?

Boss-boss juga jadi lebih banyak senyum dan tertawa. Termasuk yang selama ini terkenal sebagai boss dengan sumbu pendek … 

Wahai, alangkah indahnya Ramadhan … Apalagi kalau bisa terjadinya pada bulan-bulan yang lainnya juga …

Wallahualam bis’sawab …