Andaliman-42 Khotbah 11 Oktober 2009 Minggu-XVIII setelah Trinitatis 5 Oktober 2009
Posted by tanobato in Andaliman.Tags: HKBP, almanak, Minggu, ilustrasi, refleksi
trackback

Jadilah hamba yang setia dan rendah hati. Yusuf dan Yesus sebagai modelnya.
Nas Epistel: Kejadian 39: 1-10 (bahasa Batak: 1 Musa 39:1-10)
Adapun Yusuf telah dibawa ke Mesir; dan Potifar, seorang Mesir, pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja, membeli dia dari tangan orang Ismael yang telah membawa dia ke situ. Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu. Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya, maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf. Sejak ia memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, TUHAN memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat TUHAN ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang. Segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf, dan dengan bantuan Yusuf ia tidak usah lagi mengatur apa-apapun selain dari makanannya sendiri. Adapun Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya. Selang beberapa waktu isteri tuannya memandang Yusuf dengan berahi, lalu katanya: “Marilah tidur dengan aku.” Tetapi Yusuf menolak dan berkata kepada isteri tuannya itu: “Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku, bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” Walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuk Yusuf, Yusuf tidak mendengarkan bujukannya itu untuk tidur di sisinya dan bersetubuh dengan dia.
Nas Evangelium: Yohanes 13: 12-17
Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.
Tentang pelayan, itulah yang menjadi bahasan dominan yang paling pas menurutku dari kedua perikop ini. Yang – sekali lagi, sebagaimana seringkali aku “keluhkan” sebelumnya tentang keharusan melihat Ep dan Ev sebagai suatu kesatuan yang mutlak – dapat saja memiliki fokus berbeda bilamana melihatnya terpisah satu dengan yang lainnya. Ep menjadikan Yusuf sebagai model, dan Ev mengingatkan ulang bahwa Yesus-lah model yang paling utama.
Dengan latar belakang sebagai budak belian orang Mesir, tak ada yang menduga perjalanan hidup Yusuf dapat berbalik arah sedemikian rupa (yang kemudian terjadi lagi kemudian saat dia dimasukkan penjara, lalu berbalik lagi menjadi penasehat dan orang kedua di kerajaan Mesir setelah Firaun yang maha kuasa …) menjadi orang kepercayaan Potifar untuk mengurus rumah tangganya (semua, kecuali keperluan makannya dan … isterinya!).
Potifar memercayainya dan memberinya kuasa penuh atas rumah tangganya karena melihat betapa Tuhan memberkati rumahnya karena Yusuf yang selalu disertai Tuhan. Secara fisik, Yusuf juga sangat menarik (tidak jauh berbeda dari ibunya, Rahel, yang juga diakui kecantikannya sebagaimana tertulis dalam Alkitab …) sehingga isteri Potifar sangat kesengsem padanya. Sebagai anak Tuhan, sudah tentulah Yusuf menolak ajakan berselingkuh tersebut, berkali-kali, hingga pada suatu saat isteri Potifar memfitnahnya sehingga dia harus masuk penjara.
Tidak persis sama dengan Yusuf, namun riwayat pekerjaanku sebagai orang profesional memiliki sedikit kemiripan, sekaligus kisah Yusuf ini menjadi pembelajaran bagiku. Aku dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang sangat loyal pada pemerintah sehingga tujuh orang saudara tertuaku semuanya menjadi birokrat alias pegawai negeri (dan jalanku pun sudah diarahkan dan disiapkan untuk juga menjadi pegawai negeri). Menjelang sarjana (yang waktunya bersamaan dengan abangku, yang juga kemudian diwisuda pada hari yang sama), orangtuaku sudah menasehatkan untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk melamar menjadi pegawai negeri. Dan itu dituruti oleh abangku yang kemudian hingga saat ini menjadi birokrat. Tapi aku tidak. Aku sudah berniat untuk bekerja di perusahaan (pegawai swasta, istilahnya, sesuatu yang “menakutkan” bagi keluargaku saat itu karena memahami bahwa perusahaan dapat saja memecatku setiap saat, sementara pegawai negeri akan menjamin secara ekonomis seumur hidup …).
Bermodalkan selembar kertas segel dan daftar riwayat hidup yang aku beli dengan sisa uangku saat itu, aku mengirimkan lamaran ke satu PO Box sesuai yang aku baca di koran terbitan Medan (“Analisa”) saat ditraktir makan mi pangsit oleh kawanku sesama anggota NHKBP, di pinggir jalan Iskandar Muda. Setelah melalui proses yang baru pertama kali aku ikuti, aku akhirnya diterima bekerja. Tahun berikutnya aku mengundurkan diri, lalu melamar lagi dengan cara yang sama (membaca koran di warung lalu mengirimkan lamaran ke PO Box tertentu), dan diterima. Tidak ada seorang pun yang aku kenal. Lalu menjalani kehidupan profesionalku (dengan segala sepak terjang yang membutuhkan perjuangan yang tidak mudah …) dari tingkatan yang paling rendah: helper alias kenek yang sehari-harinya memundak barang dari truk pengantar barang untuk disampaikan ke toko pelanggan di seluruh wilayah Kota Medan dan sekitarnya. Bayangkan saja, sebagai seorang sarjana (yang saat itu aku bangga sekali memakai kemeja lengan panjang putih dan bercelana panjang hitam …) aku harus melakukan itu. Pernah suatu kali ketemu dengan eks kawan kuliahku yang menjadi penyelia di supermarket besar yang baru buka di Medan saat itu, yang mengernyitkan keningnya melihatku dan bertanya kenapa aku mau melakukan pekerjaan seperti itu … “Sarjana koq mundak barang kayak kuli?’, begitulah ekspresinya saat itu.
Tahun berikutnya aku dipromosikan, dan seturut perjalanan waktu, karirku juga mulai meningkat. Sejalan dengan itu, kuasa alias otoritas yang diberikan oleh Perusahaan padaku pun semakin meningkat. Bahkan pada suatu masa, aku pernah menjadi “the number one” pada suatu wilayah kerja yang sangat signifikan, sehingga aku dapat menentukan banyak hal dan “nasib” banyak orang. Sudah tentu pula, godaan banyak dan sangat deras datang menghampiri. Dan yang selalu aku lakukan adalah mengingatkan diriku bahwa aku dulu bukanlah siapa-siapa dan saat itu pun tetap bukan siapa-siapa jika hanya mengandalkan diriku. Itu hanyalah sekadar titipan kepercayaan dari pemberi kepercayaan kepadaku pada saat itu. Artinya, setiap saat dapat diambil dan diberikan kepada orang lain. Sampai saat ini pun, prinsip itu tetap aku pertahankan manakala diberikan otoritas yang lebih luas. I am nobody, and still nobody without Him …
Nas Ev menceritakan tentang salah satu episode yang paling menggetarkan dalam sejarah kehidupan Yesus. Sesuatu yang tidak banyak orang (besar) mampu melakukannya. Apalagi dalam kehidupan yang sangat menjunjung tinggi harkat, martabat, dan pangkat keduniawian saat ini, tak terbayangkan seorang pemimpin mau dan mampu membasuh kaki anak buahnya dengan sungguh-sungguh. Ya, dengan sungguh-sungguh, karena pada tahun lalu pernah ada kabar seorang pemimpin partai politik yang membasuh kaki “anak buahnya” yang dilanjutkan dengan melakukan perjamuan kudus sebagai tanda perdamaian pada kedua belah pihak yang sebelumnya bertikai. Tapi kemudiannya setelah kembali ke kehidupan yang sebenarnya, malah pertikaian semakin tajam. Ternyata semua itu hanyalah sekadar ritual, dan terlupakan sama sekali manakala berbicara tentang kekuasaan yang harus diperebutkan. Itulah kalau menganggap jabatan sebagai ekspresi kekuasaan, bukan sebagai pelayanan …
Kepemimpinan melalui teladan. Itulah yang ditunjukkan Yesus selalu, dan selalu juga menginspirasiku: menjadikan Yesus sebagai model kepemimpinan yang ideal. Dalam semua aspek kehidupan. Dan tindakan Yesus dengan mencuci kaki murid-murid secara kemanusiaan melambangkan apa yang harus dilakukan murid yang satu terhadap yang lain. Artinya, jadilah pelayan bagi orang lain. Dengan kerendahan hati, yakni melibatkan diri sepenuhnya dalam melayani orang lain. Dan episode ini adalah suatu teladan. Bukan sakramen, karena tidak ada dalam Alkitab yang mendukung hal itu. Ini adalah pelayanan kasih.
Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi
Sebagai anak Tuhan, kita adalah hamba-Nya. Artinya orang yang harus menuruti perintah-Nya, dan menjadikan-Nya sebagai model dalam kehidupan. Yesus telah memberi teladan untuk menjadi pelayan dengan kerendahan hati.
Sebagai ciptaan Tuhan, tentulah kita masing-masing diberikan kelebihan yang mungkin saja menarik perhatian orang lain. Layaknya Yusuf yang memiliki kelebihan fisik, kita juga pasti memiliki sesuatu yang sama atau mirip dengannya. Dan nas ini mengingatkan kita bahwa ada banyak “isteri Potifar – isteri Potifar” di sekitar kita, yang mengancam, dan setiap saat akan datang menggoda sampai berhasil. Jika tidak kuat, nasib buruk yang akan menimpa. Jabatan juga memiiki kecenderungan yang sama. Ungkapan “jika hari panas, lupa kacang akan kulitnya” membuktikan bahwa dalam kehidupan ini seringkali terjadi bahwa orang-orang akan “kehilangan identitas” bilamana ditempatkan pada suatu posisi dan atau kondisi yang sangat menguntungkan baginya.
Bagaimana kita menghadapi semuanya itu? Kali ini Yusuf dan Yesus dengan kisah sebagaimana termaktub dalam perikop Ep dan Ev ini darang pada kita untuk menjadikannya sebagai teladan: tetap setia pada pemberi kuasa (sebagaimana Yusuf pada Potifar, dan Yesus pada Bapa-Nya …), melayani dengan kerendahan hati (sebagaimana Yusuf tidak menjadi sombong dengan jabatannya, dan Yesus yang bersedia dengan tulus membasuh kaki murid-murid-Nya …), dan tetap ingat bahwa “hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya”.
Kita ingatlah itu sepanjang hayat dikandung badan …
Saya suka dgn cerita anda,krn mmg hdup adl hny utk mlkukan khdakNya,memuliaknNya.Thx y
Terima kasih. Aku memang selalu berupaya menjadikannya sebagai refleksi kehidupanku daripada “sekadar” menjelaskan perikop khotbah, dengan harapan menjadi lebih dekat dalam kehidupan banyak orang. Dan kiranya menjawab kerinduan untuk dapat menjadi berkat bagi pembacanya.
Horas!