jump to navigation

Andaliman-43 Khotbah 18 Oktober 2009 Minggu XIX setelah Trinitatis 9 Oktober 2009

Posted by tanobato in Andaliman.
Tags: , , , , , ,
trackback

Paul & Timothy (101009) 

Tuhan yang memampukan, laksanakan tugas pelayananmu!

 

Nas Epistel: 2 Timotius 4 : 1-5

Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya: Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!

 

Nas Evangelium: Keluaran 4:10-17 (bahasa Batak: 2 Musa 4 : 10-17)

Lalu kata Musa kepada TUHAN: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.” Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: “Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN? Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan.” Tetapi Musa berkata: “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus.” Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Musa dan Ia berfirman: “Bukankah di situ Harun, orang Lewi itu, kakakmu? Aku tahu, bahwa ia pandai bicara; lagipula ia telah berangkat menjumpai engkau, dan apabila ia melihat engkau, ia akan bersukacita dalam hatinya. Maka engkau harus berbicara kepadanya dan menaruh perkataan itu ke dalam mulutnya; Aku akan menyertai lidahmu dan lidahnya dan mengajarkan kepada kamu apa yang harus kamu lakukan. Ia harus berbicara bagimu kepada bangsa itu, dengan demikian ia akan menjadi penyambung lidahmu dan engkau akan menjadi seperti Allah baginya. Dan bawalah tongkat ini di tanganmu, yang harus kaupakai untuk membuat tanda-tanda mujizat.”

 

Masih tentang pelayan. Kalau Minggu lalu lebih kepada sikap dalam melayani, kali ini secara spesifik tentang penyampaian kabar baik alias firman. Nas Ep adalah surat Paulus kepada Timotius, “anak rohaninya”. Yang terakhir, karena saat dipenjara, Paulus seakan sudah berfirasat bahwa kematiannya sudah dekat. Beberapa tradisi gereja menyebutkan bahwa saat itu Kaisar Nero sedang bernafsu sekali untuk memusnahkan pengikut Kristus dengan mengejar, menganiaya, dan membunuh orang-orang Kristen. Oleh sebab itu, mulai banyak orang-orang meninggalkan keagamaannya. Atau, paling tidak, menurunkan eksistensinya. Di sisi lain, guru-guru agama palsu dan pengajar-pengajar sesat sedang merajalela dengan cara mengajarkan dongeng-dongeng yang hanya enak didengar oleh telinga.

 

Dalam situasi tersebutlah Paulus menulis surat ini untuk memotivasi semangat penginjilan Timotius untuk jangan sampai menyerah kalah pada keadaan yang memang sangat menekan. Masih sangat muda dan pemalu, tentu saja Timotius sangat memerlukan dorongan dari mentornya. Dan Paulus melakukan peran itu pada saat-saat akhir kehidupannya.

 

Hal yang disampaikan Paulus untuk mengingatkan Timotius akan komitmen pelayanannya adalah bahwa penugasan sebagai penyampai kesaksian tentang Kristus harus berlanjut. Dan hanya Dia yang berhak menghakimi manusia (baik yang mati maupun yang hidup) pada saat kedatangan-Nya, bukan Nero sang kaisar yang sangat berkuasa saat itu. Dan upah yang disiapkan bagi orang-orang yang mengikut Kristus dengan sungguh-sungguh adalah kerajaan sorga.

 

Perintah untuk pelayan dan penyampai kabar gembira itu adalah: beritakan, siap sedia selalu, tegas dalam menyatakan yang salah, menegor, dan menasihati. Syarat untuk itu juga dinyatakan, yaitu penguasaan diri, sabar menderita, tetap bersungguh-sungguh memberitakan Injil dan menunaikan tugas pelayanan sampai akhir.

 

Pada nas Keluaran yang menjadi Ev Minggu ini, Tuhan dengan tegas mengatakan kepada Musa untuk tidak menjadi rendah diri dengan kekurangcakapannya dalam berbicara. Tuhan mengatasi masalah tersebut dengan meyakinkannya bahwa Dia mampu melakukan mujizat apa saja, dan menitipkan Harun (abangnya) sebagai juru bicara bagi Musa. Dan tambahan bekal berupa tongkat untuk membuat mujizat.

 

Karunia berbicara – dalam hal ini adalah penyampai firman – kata banyak orang tidak diberikan kepada semua orang. Berdasarkan pengalamanku saat pelatihan pelayan tahbisan, seringkali peserta mengajukan pertanyaan tentang teknik berkhotbah yang hampir semuanya datang dengan pesimisme bahwa mereka tidak mampu karena (merasa) tidak punya bakat berkhotbah. Hal yang sama aku rasakan dulu sebelum aku kemudian menyadari bahwa berkomunikasi adalah lebih banyak kepada ketrampilan daripada bakat. Artinya, kemampuan berkhotbah (yang juga bagian dari berkomunikasi) dapat dilatih dan ditingkatkan. Merujuk kepada Musa, Tuhan dengan tegas mengatakan bahwa Dia mampu menjadikan apa saja. Apalagi sekadar meningkatkan kemampuan berkhotbah. Syaratnya adalah: asalkan mau dipakai oleh Tuhan sebagai alat-Nya. Lihatlah Musa dan tongkatnya. Dengan tongkat tersebut kemudian Musa melakukan berbagai mujizat luar biasa. Padahal itu hanyalah sekadar tongkat kayu biasa, namun Tuhan menjadikannya luar biasa. Pastilah aku (dan kau juga, tentunya …) lebih berharga daripada sebuah tongkat kayu …  

       

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Kita diberikan karunia oleh Tuhan. Berbagai karunia yang sesuai dengan kehendak-Nya. Dan semua itu dapat kita jadikan sebagai bekal dalam melakukan pelayanan. Tidak harus (dan atau sebatas) berkhotbah saja, melalui kesaksian dalam semua segi kehidupan juga adalah bagian dari pemberitaan kerajaan Allah. Dengan segala yang ada pada diri kita, Tuhan dapat memakainya dan memampukan kita dalam melakukan pelayanan dan bersaksi dalam kehidupan. Asalkan kita bersedia menyerahkan diri untuk dipakai oleh-Nya.

 

Dan siap sedialah selalu untuk memberitakan firman Tuhan. Dikatakan ”baik atau tidak baik”, namun sangat diperlukan hikmat dalam melakukannya agar jangan malah menjadi batu sandungan. Dan sampaikanlah pengajaran yang sehat (bukan yang sesat!), alkitabiah bukan sekadar dongeng-dongeng yang menyenangkan untuk didengar. Firman Tuhan harus punya kuasa untuk menegur dan mengubahkan, bukan lelucon yang menjadi bahan tertawaan. Kecenderungan saat ini adalah orang-orang lebih menyukai mendengarkan hal-hal (termasuk khotbah) yang enak didengar, bukan yang harus didengar.

 

Itulah yang terjadi dengan salah satu jemaat di tengah kota Jakarta. Pak pendeta terbeban dengan persembahan Minggu yang masih didominasi oleh denominasi (pecahan) uang seribu rupiah dan menyampaikan kerinduannya pada saat berkhotbah bahwa tahun depan tidak akan ditemukan lagi uang seribuan tersebut dalam persembahan. Namun apa yang terjadi? Warga jemaat menyampaikan protes keras kepada pak pendeta dengan alasan ketidakpantasan.

 

Waspadalah!


Komentar»

1. friandi sinaga - 8 November 2009

saya ingin khobah bahasa batak