Andaliman-45 Khotbah 01 November 2009 Minggu XXI setelah Trinitatis

231009

Beribadahlah kepada Tuhan. Lakukan dengan tulus ikhlas dan setia, sebagai ibadah yang sejati!

Nas Epistel: Yosua 24:14-24

24:14 Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN.

24:15 Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”

24:16 Lalu bangsa itu menjawab: “Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain!

24:17 Sebab TUHAN, Allah kita, Dialah yang telah menuntun kita dan nenek moyang kita dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, dan yang telah melakukan tanda-tanda mujizat yang besar ini di depan mata kita sendiri, dan yang telah melindungi kita sepanjang jalan yang kita tempuh, dan di antara semua bangsa yang kita lalui,

24:18 TUHAN menghalau semua bangsa dan orang Amori, penduduk negeri ini, dari depan kita. Kamipun akan beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah kita.”

24:19 Tetapi Yosua berkata kepada bangsa itu: “Tidaklah kamu sanggup beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah yang kudus, Dialah Allah yang cemburu. Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu.

24:20 Apabila kamu meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada allah asing, maka Ia akan berbalik dari padamu dan melakukan yang tidak baik kepada kamu serta membinasakan kamu, setelah Ia melakukan yang baik kepada kamu dahulu.”

24:21 Tetapi bangsa itu berkata kepada Yosua: “Tidak, hanya kepada TUHAN saja kami akan beribadah.”

24:22 Kemudian berkatalah Yosua kepada bangsa itu: “Kamulah saksi terhadap kamu sendiri, bahwa kamu telah memilih TUHAN untuk beribadah kepada-Nya.” Jawab mereka: “Kamilah saksi!”

24:23 Ia berkata: “Maka sekarang, jauhkanlah allah asing yang ada di tengah-tengah kamu dan condongkanlah hatimu kepada TUHAN, Allah Israel.”

24:24 Lalu jawab bangsa itu kepada Yosua: “Kepada TUHAN, Allah kita, kami akan beribadah, dan firman-Nya akan kami dengarkan.”

Nas Evangelium: Roma 12:1-3

12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

12:3 Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.   

Membaca perikop yang menjadi nas Ep Minggu ini menimbulkan pertanyaan bagiku. Aku rencananya akan menanyakannya pada saat sermon parhalado, tapi sayang sekali Kamis malam tadi tidak ada sesi diskusi karena diselenggarakan kebaktian bulanan parhalado partohonan di rumah salah seorang sintua sehingga pembahasan khotbah ditiadakan. Karena alasan waktu, maka acaranya adalah pembagian tugas Minggu nanti, pengumuman, kebaktian keluarga, lalu ditutup dengan makan bersama.

Pesannya secara umum adalah tentang keharusan beribadah hanya kepada Tuhan, Allah Israel dan satu-satunya yang benar. Bukan dewa-dewa. Meskipun peristiwanya terjadi abad-abad yang lalu, tentu saja itu sangat relevan dengan iman kepercayaanku saat ini. Tapi, ucapan Yosua pada ayat 15 yang mengatakan “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah …”, tentu saja mengusik aku. Terkesan bahwa dia fleksibel tentang kepercayaan kepada Tuhan yang satu, karena seakan-akan memberikan kelonggaran bagi umat Israel untuk memilih allah yang lain selain Allah Israel.

Setelah aku baca berulang kali dan merenungkannya, aku dapat menangkap maksudnya (eksegese) dengan cara menarik kalimat itu dalam kehidupan saat ini. Memang setiap orang diberikan pilihan: mau ikut Tuhan atau tidak, namun orang seperti aku ini memilih untuk mengikuti Tuhan dan menyembah-Nya. Sekilas terlihat bahwa Yosua memberikan kelonggaran pilihan, tapi kalimatnya “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”, merupakan suatu “pesan sponsor” yang sekaligus mengarahkan agar bangsa Israel memilih Allah sebagaimana Yosua menjatuhkan pilihannya beserta seisi rumahnya.

Selanjutnya nas Ev memberitahukan bagaimana beribadah yang sejati, yaitu dengan cara mempersembahkan tubuh yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Berubahlah dengan melakukan pembaharuan budi agar tidak sama dengan dunia ini, bahkan mampu menguasai diri. Pengalaman aktual seorang pendeta (yang sudah aku dengarkan sampai lebih dari tiga kali selama dua bulan belakangan ini …) mungkin menjadi ilustrasi yang menarik dan pas dengan topik ini.

Saat berpraktek sebagai pendeta muda di salah satu jemaat HKBP di Jakarta, beliau diundang oleh salah satu persekutuan mahasiswa untuk memimpin ibadah di kampus. Sebagai pendeta yang baru keluar dari bangku kuliah, tentu saja beliau menyampaikan khotbah dengan sangat semangat dan menarik. Dan para mahasiswa sangat tertarik dengan penyampaian khotbahnya sehingga sempat terbersit kerinduan untuk menjadikannya sebagai pendeta pendamping mereka.

Sayangnya, tatkala usai ibadah dan diajak berisitirahat di kantin, beliau dengan gagahnya menghisap rokok dan menariknya dalam-dalam. Melihat pendetanya belum “hidup baru” (karena masih merokok), para pengurus persekutuan mahasiswa tersebut mengingatkan (tepatnya mempertanyakan …) tentang ayat yang mengatakan bahwa tubuh adalah bait Allah sehingga tidak pantas dikotori dengan nikotin, eh pak pendeta malah menantang: “Bukan karena merokok itu menandakan seseorang sudah hidup baru atau tidak. Saya punya dasar alkitabiahnya.”. Sikap seperti itu malah membuat persekutuan mahasiswa tersebut memutuskan untuk tidak akan pernah lagi mengundang beliau dalam pelayanan di kampus. Kesan pertama yang tadinya sudah baik, langsung runtuh berkeping-keping dengan sikap dan pernyataan seperti itu.

Dari pengalaman pak pendeta tersebut aku belajar bahwa kalaupun punya dasar alkitabiah untuk membenarkan sesuatu, tetapi kalau punya potensi menjadi batu sandungan, lebih baik ditinggalkan. Kalaupun bertentangan dengan “keyakinan”, tapi dengan iman dan akal budi (misalnya dengan berpikiran bahwa tidak merokok adalah lebih baik daripada merokok) kesempatan berubah alias bertransformasi menjadi terbuka, kenapa tidak melakukan perubahan saja?       

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Pernyataan Yosua dengan memberikan kebebasan memilih antara allah dan Allah sebagaimana tercantum pada ayat 15 di atas, pastilah menarik untuk didiskusikan. Meskipun mengarahkan pilihan kepada beribadah kepada Allah, tetapi Yosua tetap kembali menanyakan komitmen bangsa Israel kepada Allah. Dan harus konsisten, karena Allah yang mendampingi bangsa Israel dengan berbagai mujizat dalam membebaskan mereka dari perbudakan Mesir, adalahh Dia juga yang pencemburu dan yang akan menghukum orang-orang yang tidak setia pada-Nya.

Coba tanyakan pada diri kita sendiri. Tentu saja kita harus mengakui penyertaan Allah dalam hidup kita dengan berbagai “mujizat” sehingga kita bisa seperti apa kita sekarang ini. Tapi apakah kita juga masih mantap dengan pilihan kita untuk menyembah-Nya semantap jawaban bangsa Israel atas pertanyaan Yosua? Dan sedemikian jugakah keimanan kita sebagaimana bangsa Israel yang juga berulang kali meninggalkan Tuhan karena tantangan dan cobaan yang mereka hadapi?

Sebagai pelayan jemaat, prinsip yang terkandung dalam nas Ev kali ini juga sangat relevan: jadikanlah pelayanan sebagai persembahan yang hidup dan sebagai ibadah yang sejati. Dengan menjadikan iman sebagai landasan, maka kita dijanjikan untuk punya kemampuan mengetahui mana yang menjadi kehendak Allah, menguasai diri agar tidak terbawa kepada dunia (serupa dengan dunia), bahkan akan menjadi lebih besar daripada dunia ini.

About these ads

2 comments on “Andaliman-45 Khotbah 01 November 2009 Minggu XXI setelah Trinitatis

  1. saya da kegundahan dlm keluarga istri saya selalu bimbang dgn tuhan. sdh 5x di melamar CPNS slalu saja kalah dan dia slalu mengatakn bhwa tuhan tdk adil. sdh berkali2 slalu bhwa hidup ni prlu kesbran tetapi dia slalu bersungut2. jd yg kutnyakn apakah tuhan akan marah dan tak akan membantu bila begitu sikap istri saya?

  2. Sampai detik ini aku juga masih punya permintaan yang belum dikabulkan oleh Tuhan. Kadangkala godaan untuk mengatakan bahwa Tuhan itu tidak adil datang menggoda, yang juga berpotensi melemahkan semangat pelayananku. Tapi, puji Tuhan, tatkala godaan itu datang, selalu dengan sendirinya ada suara hati yang mengingatkanku bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik (walaupun kadangkala tidak cocok dengan pikiran dan kemauan diri sendiri …). Yang membuatku selalu tetap antusias adalah suatu keyakinan bahwa Tuhan pasti punya rencana terindah di balik ini. Dan aku selalu bersiap menantikannya setiap hari …

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s