Wuihhh … Meriahnya di Pasirmukti … Ah, Masa’ Koor Ama Kami Liar?

Bertepatan dengan libur Lebaran Idul Adha 1430 H (27/11/09) yang lalu, perkumpulan paduan suara kaum bapak (Koor Ama) jemaat kami beserta keluarga mengadakan rekreasi di Kawasan Wisata Pasirmukti di Cibinong, Jawa Barat. Rencana ini sudah dibicarakan berbulan-bulan yang lalu saat diadakan perkumpulan partangiangan di rumah salah seorang anggota. Saat itu ada yang iseng mengingatan bahwa perkumpulan kami itu sudah lama tidak mengadakan rekreasi, yang langsung saja bersambut kepada hal-hal yang berhubungan dengan itu. Mungkin karena kawan-kawan tahu bahwa aku baru saja selesai membawa rombongan parhalado partohonan melaksanakan pembinaan, spontan aku pun diminta untuk menjadi ketua panitia. Karena fasilitas di Pasirmukti itu sangat cocok dengan kegiatan rekreasi keluarga, maka aku pun mengiyakan saja. Tak ada yang susah kalau dilakukan dengan sungguh-sungguh, ‘kan?

Perkumpulan koor kami ini adalah sekumpulan kaum bapak yang usianya masih relatif muda. Relatif muda, maksudnya dibandingkan dengan perkumpulan paduan suara kaum bapak yang sebelumnya sudah ada. Secara guyon, orang-orang di jemaat akan dengan mudah mengatakan bahwa perkumpulan paduan suara satunya lagi adalah dikhususkan bagi bapak-bapak yang sudah punya cucu.

Dalam perkembangan persiapan kegiatan rekreasi ini, kemudian muncul ideku untuk sekalian saja mengadakan acara perayaan ulang tahun paduan suara kami ini (yang anehnya, barulah kemudian orang-orang sadar bahwa paduan suara kami ini memang dilahirkan bulan November sembilan tahun yang lalu …). Klop-lah sudah.

Sebagai ketua panitia – dan sudah punya hubungan sebelumnya dengan Pasirmukti – aku pun melakukan negosiasi untuk mendapatkan fasilitas yang lebih memadai untuk acara ini. Namun saat itu belum dapat diputuskan, karena jumlah peserta yang final masih belum didapatkan (yang benar-benar final barulah satu minggu sebelum hari-H …).

Seksi Acara Punya Kawan …

Untuk mengatur kegiatan dan acara selama di Pasirmukti ditunjuklah pak Silalahi sebagai penangggung jawabnya. Karena membatalkan jadual survai lokasi secara mendadak (karena beliau “tiba-tiba” diajak bermain golf oleh rekanan perusahaannya) dan aku sudah punya kegiatan lainnya, maka untuk survai lokasi aku serahkan saja selanjutnya kepada mereka. Nah, ternyata General Manager (GM) Pasirmukti adalah bekas kawan kerjanya yang mengundurkan diri dari perusahaan beberapa tahun yang lalu. Dan dengan bangga beliau mengatakan mendapat banyak kemudahan dari pertemanan itu.

Sayangnya hal tersebut kemudian terbukti tidak semuanya benar. Bahkan dibandingkan dengan negosiasi awal yang aku lakukan bukan dengan GM dan dibandingkan saat kami melakukan pelatihan parhalado partohonan sebelumnya, yang kami dapatkan jauh lebih baik. “Tapi sudahlah, kita sudah mempercayakan kepada lae itu untuk mengurus, jadi kita terima saja semua itu sebagai yang terbaik untuk saat ini”, kataku menenteramkan keluhan salah seorang kawan setelah mengetahui paket yang kami terima kali ini ternyata tidak lebih baik dari sebelumnya.

Tidak Ada Api Unggun Karena Bakalan Turun Hujan

Salah satu yang membuatku terheran-heran adalah saat mengetahui bahwa kegiatan api unggun yang sudah disusun jauh-jauh hari ternyata ditiadakan, dengan alasan bahwa hujan akan turun pada malam hari. ”Dari mana kalian tahu?”, kataku coba bertanya, yang kemudian dijawab oleh beliau dan panitia seksi acara lainnya: ”Dari orang Pasirmukti di sini, lae. Tiap malam pasti turun hujan, karena lokasinya sangat dekat dengan Bogor”. Jawaban itu memancingku untuk mengingatkan mereka, ”Tidak semua mereka tahu tentang lokasi ini. Kalau kita semua meminta sungguh-sungguh kepada Tuhan untuk menunda turunnya hujan supaya kegiatan yang sudah dirancang sedemikian rupa agar dapat berjalan dengan baik, masakkan Dia tidak mendengarkan permohonan kita? Lagian, tidak ada resikonya bagi kita karena kalaupun hujan turun kita tidak harus membayar ongkos penyiapan api unggun, koq. Kami sudah pengalaman saat pelatihan bulan lalu di sini”.

Kelihatannya mereka memang tidak terlalu serius mempersiapkan acara api unggun (yang sebelumnya mereka sendiri sudah rancang), akhirnya memang tidak dipersiapkan api unggun tersebut. Dan terbukti bahwa hujan memang datang pada hari itu, namun setelah lewat tengah malam ketika kami mulai memadamkan api panggangan dan bakaran ikan dan daging untuk kemudian bersiap-siap pergi istirahat dan tidur …

Semua Gembira … Auli juga!

Karena acaranya yang bagus, terlihat semua peserta bersukacita. Terlebih anak-anak yang kegiatannya diisi oleh banyak permainan dan pengetahuan: lomba tarik tambang, memancing ikan, membajak sawah, bermain di lumpur, melukis caping, dan lain-lain. Bapak-bapak dan ibu-ibu juga terlibat perlombaan tarik tambang dan lomba bakiak.

Ada tambahan sukacita bagiku, yaitu tatkala melihat Auli mulai berinteraksi dengan anak-anak lainnya yang kebanyakan adalah baru dikenalnya hari itu. Selama ini Auli tidak mudah menemukan kawan yang cocok untuk diajak bermain. Berulangkali aku mengingatkannya untuk menjadi pemberani, karena memang tidak ada yang perlu ditakutkan dari semua kegiatan itu. Dan aku membuktikan dengan selalu mendampinginya dan anak-anak serta peserta lainnya untuk memastikan bahwa semuanya beraktivitas dalam keadaan aman dan nyaman. Mungkin ini bagian dari naluri sebagai petugas SHE (safety, health, and environment) di kantor …

Renungan Singkat yang Sangat Singkat

Malamnya aku mendapat tugas (atau kepercayaan?) untuk memimpin ibadah malam sekaligus menyampaikan renungan singkat. Dan waktunya sangat singkat, karena panitia acara sudah menyampaikan bahwa waktu sudah sangat terlambat dari jadual sebelumnya. Bayangkan saja, ibadah yang dijadualkan jam 20.00 akhirnya baru ada kesempatan setelah jam 22 lewat beberapa menit. Dan itulah saatnya aku menyampaikan renungan singkat dari perikop yang sangat panjang yang dipesankan oleh panitia seksi acara.

Dalam situasi seperti itu, akhirnya aku punya ide: tidak berkhotbah, tetapi berinspirasi. Usai membaca perikop, kemudian aku bercerita tentang apa yang dirindukan seorang anak terhadap bapaknya, dan sebaliknya. Menyadari situasinya saat itu, aku pun tidak terlalu banyak berharap bahwa semua pesan yang aku sampaikan akan dapat diterima dengan baik oleh pendengar (saat itu sudah mulai banyak anak-anak yang tertidur di pangkuan orangtuanya, dan beberapa orang dewasa juga sudah menampakkan tanda-tanda kelelahan …). Itulah sebabnya aku jadi kaget, ketika esok paginya ada seorang bapak yang berkata, ”Kita harus rajin latihan koor supaya lebih sering tampil di gereja saat ibadah. Dan anak-anak kita pun akan berteriak dengan bangga kepada kawan-kawannya: ’Itu bapakku …”. Aku jadi tersenyum dalam hati mengingat bahwa kebanggaan akan anak terhadap orangtuanya adalah salah satu pesan yang aku sampaikan malam sebelumnya.

Kita Bukan Organisasi Resmi di Gereja. Bah, Macam Mana Pula Itu ?!

Sesuai permintaanku pada masa-masa persiapan sebelumnya, pengurus memanfaatkan satu jam lebih untuk berdiskusi tentang perkumpulan ini dan rencana ke depannya. Sebenarnya yang aku bayangkan adalah, pak ketua Simanjuntak akan menampilkan analisa SWOT (strength, weakness, opportunity, threatment yaitu kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman). Ternyata tidak. Lebih banyak dimanfa’atkan untuk mencurahkan isi hatinya terhadap kejadian-kejadian di masa lalu. Salah satu pernyataannya yang membuatku tersengat adalah, “Meskipun kita akui bahwa organisasi kita ini tidak diakui di tengah-tengah gereja kita karena tidak terdaftar sebagai perkumpulan kaum bapak…”.

Begitu kesempatan pertama datang, segera aku sambar dengan mengatakan, “Aku tidak terima dengan pernyataan pak ketua yang mengatakan bahwa organisasi kita ini tidak terdaftar dan tidak diakui di gereja. Padahal kita ini sudah banyak berkontribusi dalam banyak kegiatan di gereja. Kalau tidak diakui, itu berarti kita ini liar. Apa iya memang begitu? Bukankah tidak sebaiknya kita bubar saja, ’ngapain masuk organisasi liar … Kalau pun dirasakan perlu, kenapa kita tidak mendaftar saja. Di tengah-tengah kita ada pak pendeta sebagai uluan huria, mari kita tanyakan syarat-syarat pendaftarannya …”. Sudah tentu hal ini membuat riuh suasana pada tengah malam itu dan sebagian besar menyesalkan pernyataan pak ketua tersebut, sampai akhirnya ditengahi oleh beberapa orang dan disimpulkan oleh pak pendeta.

Untuk mencairkan suasana sekaligus memberikan penekanan untuk mendapatkan dukungan, aku sampaikan ”pesan khusus” kepada kaum ibu: ”Untuk ibu-ibu, percayalah bahwa kami setiap Jum’at malam di gereja benar-benar kami manfa’atkan untuk latihan koor. Kalau belum latihan, biasanya kami pakai untuk membicarakan hal-hal apa yang bisa kami lakukan untuk kebaikan di jemaat. Oleh sebab itu, aku sarankan agar ibu-ibu mengusir kami kaum bapak jika masih ada di rumah pada Jum’at malam agar pergi latihan koor di gereja.”. Dan benarlah, semua menjadi tertawa sambil manggut-manggut. Mudah-mudahan pesan yang ini masuk juga dalam pikiran semua ibu-ibu sehingga kami pun menjadi lebih bersemangat untuk latihan koor di gereja.

About these ads

3 comments on “Wuihhh … Meriahnya di Pasirmukti … Ah, Masa’ Koor Ama Kami Liar?

  1. Selamat Natal 25 Desember 2009 dan selamat menyongsong tahun baru 1 Jan 2010. Semoga kasih karunia Kristus bersinar di setiap langkah yg kita lalui.

    Shalom ma di laeku
    Kel R Agus Sihotang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s