Andaliman-54 Khotbah 03 Januari 2010 Minggu Setelah Tahun Baru

 

Kristus adalah batu penjuru, kita – aku dan kau – adalah bait Allah. Batu penjuru atau batu sandungan?

 

Nas Epistel: 1 Petrus 2: 4-8

2:4 Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah.

2:5 Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.

2:6 Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: “Sesungguhnya Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.

2:7 Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: “Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan.

2:8 Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan.

 

Nas Evangelium: 1 Korintus 3: 10-17

3:10 Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya.

3:11 Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.

3:12 Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami.

3:13 Sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab Ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu.

3:14 Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah.

3:15 Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.

3:16 Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?

3:17 Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.

 

Selamat Tahun Baru! Minggu pertama tahun 2010 ini – diberi tema Ojahan ni Hakristenon, yang diartikan sebagai dasar kekristenan – sangat pas sebagai landasan atau bekal ketika berada dalam minggu pertama tahun yang sangat menjanjikan. Tahun 2010 masih penuh misteri. Sampai saat ini aku belum mendengar atau melihat ramalan di televisi (biasanya sudah sangat ramai dengan ramalan-ramalan para ahli yang biasanya mengklaim bahwa banyak ramalannya untuk tahun 2009 dan tahun-tahun yang lalu terbukti menjadi kenyataan …), dan memang tidak pernah memasukkannya sebagai sesuatu yang “wajib” untuk dijadikan referensi. Jika kebetulan melihatnya pun, biasanya malah membuatku menjadi tersenyum geli.

 

Yang paling banyak diulas dalam ramalan biasanya adalah hal-hal negatif (bencana, kesulitan, kehilangan, kematian, perceraian, dan lain-lain …), dan sangat sedikit yang mengajak untuk optimis. Itulah salah satu sebabnya mengapa aku menjadi tidak begitu tertarik dengan ramalan, karena aku tidak mau kalau di awal tahun sudah dicekoki dengan hal-hal yang pesimis. Aku punya Tuhan yang selalu menyertaiku kemanapun aku pergi, lalu kenapa aku mesti menyediakan diri untuk hal-hal yang tidak membangun?

 

Nas perikop ini mengingatkanku bahwa diriku adalah bait Allah, dan harus selalu memastikan bahwa Allah selalu berada di dalam diriku. Dia tidak akan membiarkanku binasa, sebaliknya Dia akan membinasakan orang-orang dan upaya-upaya yang mencoba membinasakan diriku.  Syaratnya cuma satu: hal itu bisa terjadi kalau Allah yang berkuasa di dalam diriku. Jika Kristus satu-satunya yang menjadi landasan atau batu penjuru dalam setiap gerak langkah hidupku.

 

Dihubungkan dengan nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini, menganalogikan kehidupan berjemaat. Ada dua istilah yang berdekatan, namun sangat kontradiktif, yaitu batu penjuru dan batu sandungan. Batu yang terpilih yang sangat berharga adalah batu penjuru, dan siapa yang percaya kepadanya tidak akan dipermalukan. Sebaliknya, batu tersebut dapat menjadi batu sentuhan alias batu sandungan jika tidak taat kepada firman Allah. Perikop ini membawaku pada pelayanan yang aku jalankan saat ini: apakah itu menjadi batu penjuru, atau sebaliknya malah menjadi batu sandungan? Tidak tertutup kemungkinan, pelayanan yang seharusnya untuk memuliakan Tuhan (sebagai batu penjuru) malah menjadi batu sandungan manakala motifnya bukan lagi untuk kemuliaan Tuhan. Kabar baik yang aku beritakan dengan Yesus sebagai fokus (batu penjuru) menjadi hambar karena tidak didukung oleh perlakuanku yang sejalan dengan firman yang aku sampaikan (batu sandungan).

 

Ada yang masih menjadi pergumulanku saat ini, yaitu kewajiban berpakaian yang seturut dengan “tradisi” yang berlaku di jemaat (entah oleh siapa dan entah sejak kapan …). Menurut pemahaman sebagian besar orang (katanya begitu …), seorang pelayan jemaat (termasuk calon sintua seperti aku ini) adalah wajib hukumnya untuk berpakaian lengkap (kemeja dan berdasi) setiap Minggu. Karena menurutku tidak terlalu relevan (apa hubungannya antara berdasi dengan pelayanan?), saat pendeta dan semua sintua wejk datang ke rumah pertama kali memintaku untuk menjadi calon sintua, ini menjadi topik yang dibicarakan. Saat itu aku sampaikan bahwa aku akan lebih banyak memakai kemeja batik dalam bertugas. Jas lengkap hanya untuk momen-momen tertentu (misalnya saat prosesi untuk ibadah khusus sintua yang memasuki masa pensiun karena calon sintua belum berhak memakai toga …). Dan yang hadir saat itu tidak menyatakan keberatan (lihat Jas, Batik, dan Batak …).

 

Dalam perjalanannya kemudian, saat sermon parhalado, ada sintua senior yang protes yang meminta agar calon sintua pun berdasi setiap Minggu dan tidak memakai kemeja batik karena tidak sesuai dengan tradisi. Selain itu, agar kelihatan berbeda dengan warga jemaat (???). Bahkan – untuk lebih mayakinkan – beliau menceritakan pengalaman pribadinya yang bukan saja berdasi, malah berjas lengkap saat menjadi calon sintua. Sesuatu yang membuatku rada shock. Selain karena baru menyadari bahwa tingkatan pemahaman para pelayan tahbisan di jemaat kami masih dalam tingkatan berpakaian (belum pada kualitas pelayanan jemaat), ternyata pak pendeta sebagai pemimpin jemaat juga tidak bereaksi dengan tegas (apalagi bila mengingat tiadanya tanggapan keberatan saat pertama kali datang ke rumah memintaku menjadi calon penatua …).

 

Setelah berdebat, akhirnya kami calon sintua menyatakan akan berdasi saat ibadah berbahasa Batak dan berbatik saat ibadah berbahasa Indonesia. Prinsip kami berdua (karena kami hanya ada dua orang yang berpendapat yang sama) yang penting adalah kualitas pelayanan, bukan pakaian yang dikenakan. Batik dan kemeja berdasi adalah sama bagusnya. Bukan berhubungan dengan tradisi Batak, karena keduanya (batik dan dasi) bukanlah yang diwariskan oleh budaya Batak.

 

Perkembangan terakhir adalah saat perayaan Natal minggu lalu di mana kawanku sesama calon penatua menyampaikan keinginannya bahwa kami “menyerah” saja untuk berdasi dan berjas sesuai tradisi yang berlaku di jemaat kami. “Jangan sampai menjadi batu sandungan kepada jemaat, lae …”, katanya mencoba mempengaruhiku dengan menceritakan adanya beberapa orang yang menyampaikan keberatan kepadanya karena kami tidak mematuhi tradisi dimaksud. Aku hanya menjawab bahwa ini adalah komitmen bersama yang saat itu kami sepakati untuk menunjukkan bahwa kami “berbeda” dengan penatua lainnya yang terlanjur dicap kurang memuaskan pelayanannya. Saat itu, kami berdua bermoto: “bukan pakaian, melainkan pelayanan terbaik bagi jemaat”. Batu sandungan? Entahlah, aku sendiri belum mampu menjawabnya karena sejauh ini sangat sedikit yang menyampaikan keberatannya padaku, Kalaupun ada, aku selalu menjawabnya bahwa hal berpakaian ini tidak ada diatur dalam peraturan resmi jemaat. Jadi, tidak bisa dikatakan melanggar peraturan. Sebaliknya, aku meminta para “pemberi masukan” tersebut untuk memberikan penilaian terhadap pelayanan yang sudah aku jalankan yang (sayangnya …) semuanya menjawab baik.

  

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Batu penjuru dan batu sandungan, adalah istilah yang sangat besar kemungkinannnya sudah sangat akrab di telinga kita. Pun dalam hal yang berhubungan dengan pelayanan di jemaat: “jadikan Kristus sebagai batu penjuru”, sebaliknya “jangan sampai menjadi batu sandungan”, adalah kalimat yang acapkali kita dengar dan kita perdengarkan di gereja.

 

Nas perikop ini mengingatkan kita untuk menelisik, di tataran manakah pelayanan yang kta jalankan saat ini. Batu penjuru atau batu sandungan?

 

Kadangkala kita mengira bahwa apa yang kita kerjakan saat ini adalah sudah sangat baik, dan tak terduga ternyata punya potensi menjadi batu sandungan. Pernahkah kita berpikir bahwa dengan menjadi pelayan jemaat ternyata malah menjauhkan kita dari semangat pengabdi Kristus? Hati-hati (dan mudah-mudahan ini tidak terjadi pada diri kita …), kita juga bisa dipakai oleh iblis sebagai alatnya! Karena merasa diri kita suci (atau, paling tidak, lebih suci daripada orang-orang lain …) menjadikan diri kita hanya pantas bergaul dengan “orang-orang suci” lainnya.

 

Ingatlah, kita semua akan ditampi dan diuji oleh api yang dari itu akan terlihat yang mana yang layak mendapat upah kekal di sorga. Kita juga akan mempertanggungjawabkan diri kita, apakah sudah sesuai penggunaannya sebagai bait Allah sebagaimana dimaksud oleh firman Allah tersebut.

About these ads

2 comments on “Andaliman-54 Khotbah 03 Januari 2010 Minggu Setelah Tahun Baru

  1. saya tidak sependapat dengan anda jika sintua cukup dengan memakai batik. pasomal somal ma dirim tu hadaulaton….

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s