Andaliman-57 Khotbah 24 Januari 2010 Minggu III setelah Epifani

 

Tuhan adalah satu. Ajarkanlah firman-Nya … 

Nas Epistel: Matius 7:24-27

7:24 “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.

7:25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.

7:26 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.

7:27 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”   

 

Nas Evangelium: Ulangan 6:4-9 (bahasa Batak: 5 Musa 6:4-9)

6:4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!

6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.

6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,

6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.

6:8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,

6:9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.  

 

Aku pernah berdebat sangat serius dengan salah seorang kawanku yang dulu adalah kawan sebangku ketika sekolah di SD di Medan. Beliau sekarang menjadi orang profesional di BUMN, dan terlibat juga dalam pelayanan di gereja “karismatis”. Topiknya saat itu adalah tentang ke-esa-na Tuhan. Meskipun sudah aku sampaikan dasar alkitabiahnya, beliau tetap ‘ngotot dan sangat keberatan jika dikatakan bahwa Tuhan itu adalah satu (“Aku tidak setuju jika dikatakan bahwa Tuhan yang aku sembah adalah sama dengan Tuhan yang disembah oleh orang-orang “seberang” yang berbeda agama dengan kita”, itu dikatakannya berulang-ulang pada malam itu). Hal yang sama aku alami (dan aku nyatakan dengan tegas …) ketika tersentak saat membahas pertama kali tentang hal ini saat berdiskusi di kelas salah satu mata-kuliah di STT Jakarta beberapa tahun yang lalu.

 

Berdasarkan pengalaman itulah, aku menyampaikannya dengan elegan ketika diminta mengisi renungan pada salah satu partangiangan wejk. Menyadari bahwa topik ini menarik – persisnya: berpotensi menimbulkan kontradiksi – aku membuka diri untuk menggunakan format diskusi interaktif (jadi sangat berbeda dengan penyampaian khotbah konvensional yang cenderung monoton dan satu arah …).  Dan terbukti memang bahwa masih banyak orang-orang yang memandang ketuhanan sebagai suatu eksklusivitas. Tuhan itu hanya milik orang Kristen, kalau pun ada agama yang lain, mereka punya Tuhan yang berbeda dengan Tuhan orang Kristen … (!). Apalagi kalau bicara tentang Yesus, sontak semua berpendapat yang mengesankan bahwa Yesus adalah milik eksklusif orang-orang Kristen!

 

Ayat 4 dari nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan itu adalah esa. Artinya, Tuhan itu satu adanya dan satu-satunya. Itulah yang aku sampaikan dalam berbagai kesempatan yang tentunya sejalan dengan pesan Ep dan Ev Minggu ini untuk menyampaikan firman Tuhan dalam setiap kesempatan dan kepada setiap orang (yang tepat dengan hikmat Tuhan …). Tentu saja dimulai dengan keluarga sendiri sebagai lingkungan yang terdekat. Menurutku, harus dimulai dengan diri sendiri terlebih dahulu dengan keyakinan penuh akan firman Tuhan sebagai satu-satunya kebenaran dan landasan kebenaran.

 

Matius menganalogikannya dengan pendirian rumah di atas batu sebagai orang bijaksana yang mendengar dan melakukan firman Tuhan, dan sebaliknya mengumpamakannya sebagai orang bodoh yang mendirikan rumah di atas pasir bagi orang-orang yang tidak melakukannya. Analogi yang sama mungkin juga dapat diterapkan pada orang-orang yang menyampaikan firman Tuhan yang tidak alkitabiah, dan bagi orang-orang yang mendengarkan firman Tuhan yang tidak alkitabiah, dan apalagi bagi orang-orang yang melakukan firman Tuhan yang tidak alkitabiah (tentu saja terjadi penyimpangan tindakan karena mendapatkan petunjuk yang sama-sama menyimpang …).

 

Nas Ev Minggu ini mengingatkanku supaya semakin intensif mengajarkan firman Tuhan kepada keluargaku (isteri dan anak-anakku). Berulang-ulang, dan dalam setiap kesempatan. Juga melalui perlakuan yang dapat menjadi kesaksian yang dapat langsung secara nyata dilihat dan dirasakan. ’Nggak pantas ’kan, kalau pelayan jemaat berapi-api dalam melayani orang-orang namun di rumah sendiri belum dianggap memenuhi kelayakan …

 

Ada juga sebagian orang yang memahami bahwa ”membuat tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu” dengan menampilkan berbagai asesori kristiani (salib, kalung, gelang, stiker, dan lain-lain …) pada tempat-tempat dimaksud. Kalau dilandasi dengan keimanan ditambah perlakuan yang sejalan (artinya bukan sekadar ”pamer kekuatan” …), bagus juga. Tapi, bagiku, yang utama adalah bagaimana diriku benar-benar mampu merefleksikan keimananku pada Tuhan melalui setiap tindakan dan ucapan. Itu lebih efektif daripada semua asesori yang dapat dibeli di banyak toko-toko buku Kristen saat ini. Tidak mudah, memang … (jujur saja, aku pun malu sebenarnya mencantumkan kalimat-kalimat ini karena menyadari bahwa aku pun sebenarnya masih sangat jauh dari ideal …), namun dengan upaya terus-menerus sambil memohon kekuatan pada Tuhan pastilah akan bertambah kemauan dan kemampuan dari hari ke hari.   

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Pilihan ada pada kita, apakah mau mendirikan di atas batu atau di atas pasir. Apakah mau menjadi orang bodoh atau menjadi orang bijaksana. Tentu saja pilihan dijatuhkan kepada yang baik. Mungkin saja tidak mudah, tapi dengan keyakinan teguh bahwa Tuhan pasti menolong, beban kita akan menjadi lebih ringan dan bahkan mampu melaksanakannya.

 

Sebagai pelayan jemaat, kita harus punya keyakinan tentang ajaran alkitabiah yang besar kemungkinan terlebih dahulu kita dengar daripada warga jemaat. Dan kita pun – sebagai bagian dari fungsi pelayanan – harus menyampaikannya kepada warga jemaat, tidak untuk disimpan-sendiri. Sebelum membaginya kepada orang lain, seharusnyalah kita sudah meyakini dan mengimaninya terlebih dahulu.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s