Menjadi Sintua (1): Satu Lagi Hari Bersejarah Bagiku

Minggu, 22 Agustus 2010

Pagi-pagi sekali aku sudah bangun (persisnya: terbangun). Berdoa pagi sesuai kebiasaan, dengan tambahan satu topik: penyertaan Tuhan untuk seluruh rangkaian kegiatan hari Minggu itu (di antaranya adalah Ibadah Minggu di gereja yang dibarengi dengan penahbisan sintua baru, dan perayaan syukur ulang tahun Gereja yang ke 23). Di gantungan baju langsung terlihat jubah putih berpita merah dan berasesori merah di ujung tangannya. Pakaian “kebesaran” untuk penahbisan yang baru saja diterima dari penjahit Sabtu malam sebelumnya, bersamaan dengan persiapan akhir seremoni penahbisan di gereja (latihan marsinggang, urutan protokoler beserta isteri, dan lain-lain).

Anakku Auli masih terlelap di pembaringannya, sementara mak Auli sudah bergegas sedari tadi ke salon. Hari ini harus lebih cepat dari biasanya karena ibadah Minggu akan dimulai jam delapan tepat. Mamakku ternyata sudah selesai mandi dan sedang disiapkan pakaiannya oleh Pupu, salah seorang bere-ku yang menemani Mamakku (ompung-nya) datang dari Medan beberapa hari yang lalu. Setamat Unimed, dia jadi guru bahasa Inggeris di Medan, dan sekarang sedang menikmati libur panjang bulan Ramadhan.

Usai mandi, aku langsung ke cermin di dapur. Tujuannya satu: mencukur kumis dan janggutku yang semakin lebat (yang sudah membuatku “terganggu” karena beberapa orang sudah “terganggu” dengan tampangku yang jadi jelek menurut beberapa orang yang menyampaikan “keberatannya” …). Di wastafel dengan cermin tersebut memang selalu aku letakkan pisau cukur beserta after shave lotion-nya yang sudah berumur lebih dari lima tahun (mungkin sudah kadaluarsa karena tidak habis juga aku pakai …). Dengan tersenyum aku meninggalkan wastafel setelah melihat wajahku yang kembali menjadi sangat muda kelihatannya  setelah klimis kembali.

Kembali ke kamar, aku pun berganti pakaian. Mak Auli telah menyiapkan setelan jasku (yang baru dijahit untuk dipakai saat pesta pernikahan lae-ku satu-satunya di Medan pada bulan Mei yang lalu). Aku pakai kemeja putih (bukan yang baru karena aku tidak melihat urgensinya ketika mak Auli menawarkan untuk membeli kemeja putih yang baru), dan memilih sendiri dasi merah yang ada pada gantungan baju di lemari. Praktis semua tidak ada yang baru, karena aku memang tidak menganggap itu sebagai sesuatu yang penting untuk dipertimbangkan.

Jasku aku tenteng dan letakkan di kursi jati di ruang tamu. Tidak aku pakai, karena aku bisa membayangkan betapa panas rasanya memakainya hari itu. Dan praktis hari itu aku tidak memakainya sama sekali!

Mamakku sudah semakin rapi. Padahal, kemarin aku sudah mengatakan beliau tidak usah terburu-buru. Kami (aku, Auli, dan mamaknnya) memang harus duluan ke gereja karena persiapan prosesi dan latihan koor dari kumpulan Josua-2 yang akan mengumandangkan dua lagu untuk hari istimewa tersebut. Untuk itu, aku sudah memesan taksi Blue Bird untuk kami tumpangi, dan mereka akan menaiki mobil kami yang akan disupiri oleh mak Elvis, paribanku yang tinggal di Bekasi. Ternyata mamakku lebih memilih berangkat bersama dengan kami.

Mak Auli tiba dari salon dan segera bergegas berganti pakaian dengan kebaya. Dan terkejut gembira ketika melihat Auli yang sudah rapi. Jam tujuh kami meluncur ke Kelapa Gading. Supir taksi tersenyum dan menjawab “tidak masalah” ketika aku meminta ma’af karena membuatnya lama menunggu kami.

Tiba di gereja, aku menuntun mamakku ke kursi di deretan paling depan. Ternyata di depan pintu gereja sudah ada ito-ku dan lae-ku yang sulung (bermarga Ginting), juga ada tulang dan nantulangku boru Napitupulu. Ketika hendak duduk, di deretan kursi yang paling depan ternyata sudah ada tanteku yang datang dari Sukabumi yang segera berdiri menyambut dan memeluk mamakku. Mamakku terkejut karena tidak menyangka berjumpa  (lagi) dengan si tante yang dulu sempat puluhan tahun tidak mau bertemu karena memiliki masalah pribadi dan masalah keluarga. Setelah menanyakan kabar masing-masing, aku pun bergegas ke bilut parhobasan.

Waktu cepat berlalu. Kami yang akan menerima penahbisan (ada tiga orang) sudah siap dengan jubah kebesaran. Begitu juga dengan sintua yang lainnya. Pak pendeta Sirait memimpin pembicaraan dengan memberikan petunjuk kepada semua tentang susunan acara dan pengaturan barisan. Ada juga “interupsi” dari beberapa sintua yang mempertanyakan kenapa ada perubahan dibandingkan dengan tradisi penahbisan sintua yang sudah pernah dilakukan sebelumnya (misalnya: kenapa pemberkatan dilakukan sekaligus, kenapa isteri harus mendampingi dalam rangkaian seremoni tertentu, kenapa tidak dibuat seimbang antara sintua laki-laki dan perempuan saat berdiri di altar dalam membacakan liturgi hasintuaon) yang menurutku tidak seharusnya lagi dibicarakan menjelang detik-detik pelaksanaan ibadah Minggu karena saat sermon parhalado Kamis sebelumnya sudah didiskusikan. Karena hal itu, prosesi baru dapat dilakukan menjelang pukul sembilan …

Tidak mudah ternyata mengatur para sintua itu. Ketika hendak meninggalkan pintu bilut parhobasan, pak pendeta masih harus memanggil untuk menyusun dan merapikan barisan agar sesuai dengan urutan. Sampai di depan pintu gereja (dan ketika ada seruan dari seksi acara untuk meminta warga jemaat berdiri karena akan ada prosesi), masih diperlukan berhenti sejenak oleh pak pendeta selaku kepala barisan untuk menunggu beberapa sintua yang masih berjalan belum pada formasinya …).

Tak lama, acara ibadah pun dimulai. Menurut buku acara, seharusnya didahului oleh paduan suara kumpulan ibu-ibu Seksi Parompuan Huria, tapi tidak muncul karena paragenda malah langsung memanggil Ketua Umum Panitia Jubileum 25 Tahun untuk menyampaikan kata sambutan. Oh ya, selain aku ada dua orang lagi yang menerima tahbisan sintua hari itu yang juga termasuk panitia inti, yaitu Togap Manalu (Ketua Harian) dan Donatus Pakpahan (Ketua Bidang Acara); sementara aku sendiri adalah Sekretaris Umum. Amangboru J. T. P. Silitonga mengharapkan agar kami sintua yang baru dengan usia yang masih muda harus bisa menjadi sintua yang reformis dan liberal dalam melakukan perubahan dalam pelayanan di jemaat. Aku mengerti maksudnya, karena di bilut parhobasan sebelumnya tadi beliau sudah menyampaikan rasa kekecewaannya karena tidak diutus ke Sinode Godang Amandemen padahal merasa dirinya yang paling pantas untuk mewakili jemaat pada perhelatan akbar HKBP tersebut …

Lalu ibadah pun dimulai. Pada gilirannya, kami diundang ke altar untuk menerima penahbisan. Ada acara pembacaaan ayat-ayat yang berhubungan dengan pekerjaan pelayanan yang dibacakan oleh masing-masing sintua yang telah menerima penahbisan tahun-tahun sebelumnya. Bersama isteri, kami pun menghadap warga jemaat segera setelah usai seremoni tersebut. Lalu ada paduan suara sintua yang nadanya fals karena partiturnya sebenarnya adalah untuk paduan suara perempuan …

Usai ibadah – entah dari mana idenya – pak pendeta berseru melalui mikrofon agar semua sintua segera masuk ke bilut parhobasan. Alasannya, agar segera dapat melanjutkan dengan acara ramah tamah. “Annon pe marsijalangan dohot angka keluarga. Langsung tu bilut parhobasan ma hita asa hatop tamulai acara ulang taon”. Kami pun menurut. Jadi, tidak ada acara foto bersama dengan menggunakan jubah kebesaran tersebut … Sesuatu yang sangat aku sesalkan. Memang ketika usai acara perayaan ulang tahun dan hendak pulang, pak pendeta menawarkan untuk foto bersama, lalu aku menjawab, “Ndang pola be, amang. Tingki martoga nangkinan do porlu hita marpoto. Suang songon i dohot keluarga, hape nuaeng nunga mulak be natua-tua i tu jabu …“. Beliau masih menjawab, “Boi do amang hupangke muse jubahku, asa hubuat satongkin sian jabu“. Dengan sedikit heran dan kecewa, aku pun menjawab, “Ndang be amang, manang andingan ma i muse“. Mengherankan juga cara berpikir pak pendeta ini …

Seperti biasa, acara ramah tamah dimulai dengan kata sambutan. Dimulai oleh St. P. Tambunan yang mewakili parhalado partohonan (beliau adalah mertua dari salah seorang sintua yang baru ditahbiskan), lalu dilanjutkan oleh Amang T. Malau yang mewakili warga jemaat (beliau adalah suami dari salah seorang sintua), lalu St. T. Manalu yang mewakili sintua yang baru ditahbiskan yang mengundang aku dan kawan satunya lagi untuk sama-sama berdiri di depan. Hanya aku yang mendampingi, karena St. D. F. Pakpahan tidak muncul setelah dipanggil berulang kali (menurut isterinya yang menjadi protokol, saat itu beliau sedang memberi makan anaknya di luar gedung gereja …).

Usai itu, tiba-tiba protokol meminta pak pendeta untuk menyampaikan kata sambutan sekaligus memimpin doa makan. Tentu saja aku kaget, dan segera beranjak ke depan untuk memberi tahu bahwa seharusnya masih ada kata sambutan mewakili keluarga sintua yang baru ditahbiskan. Aku punya kepentingan akan hal ini karena sudah meminta abangku (yang tertua yang tinggal di Jakarta) untuk menyampaikan kata sambutan, dan itu sudah tertulis di buku acara. Untung saja, pembawa acara menyadari kesalahannya, dan segera meralat sekaligus mengundang abangku untuk ke depan.

Setelah itu, barulah pak pendeta menyampaikan kata sambutannya. Suasana sudah riuh, sehingga pak pendeta sampai perlu meminta hadirin untuk diam. Alasan yang disampaikan bahwa masih kurang jam dua belas yang seharusnya belum lapar, tidak terlalu ampuh untuk menenteramkan warga jemaat yang kelihatan sudah mulai bosan. Bahkan ibu-ibu panitia seksi konsumsi yang sedang asyik menuangkan sangsang ke kotak nasi hadirin, diminta untuk menghentikan kegiatannya sejenak. Tak lama, doa makan pun dipanjatkan. Hening sejenak, yang segera menjadi riuh ketika “amen” diserukan …

Saat itulah aku bangkit berdiri dan mendatangi keluargaku satu per satu yang duduk di barisan depan. Ternyata ada amanguda-ku (adik bapakku almarhum yang tinggal di Tarutung) yang saat itu datang dengan anak dan parumaen-nya boru Simamora yang tinggal di Jakarta. Juga ada adikku (anak amanguda-ku satunya lagi yang juga sudah almarhum di Batam) beserta isterinya boru Hutabarat. Dari keluarga mak Auli ada paribanku tertua (yang kawin dengan marga Sibarani) yang datang dari Medan karena bersamaan dengan acara wisuda pasca sarjana menantunya tertua bermarga Manurung, ada lagi paribanku satunya (yang kawin dengan marga Simanjuntak) yang juga datang dari Medan bersamaan dengan mamakku karena mengantar anak bungsunya kuliah di Fakultas Hukum Unpad di Bandung). Masih ada satu lagi paribanku yang selama ini sangat setia ke mana pun kami pergi, yaitu yang kawin dengan marga Sinaga yang tinggal di Bandung (saat itu datang lengkap dengan Elvis, anaknya dan menjadi juru foto, sama dengan Mikail, mahasiswa Fakultas Kedokteran UI, anak tertua abangku).

Ini semua membuatku terharu karena tidak menyangka acara penahbisanku akan dihadiri oleh sebegitu banyak keluarga. Sejak semula aku sudah memutuskan untuk tidak mengadakan acara khusus di rumah karena di gereja diadakan acara sekaligus perayaan ulang tahun yang diagendakan sampai jam tiga sore. Pertimbangan lainnya adalah, kondisi fisik mamakku yang sudah tidak kuat untuk acara-acara seremonial. Juga mengingat prinsipku bahwa menjadi sintua adalah pelayanan, jadi bukan sesuatu yang perlu “dibesar-besarkan”. Yang penting ‘kan pelayanannya, dan harus dengan rendah hati, begitulah yang kami sepakati di rumah ketika memutuskan untuk tidak mengadakan acara “selamatan” dengan mengundang orang-orang ke rumah.

Itulah sebabnya, aku hanya menyampaikan kepada abang dan dua itoku yang semuanya tinggal di Jakarta agar mereka berkenan untuk menghadiri ibadah dan acara syukuran di gereja. Ternyata Tuhan membuatnya menjadi lebih lengkap dengan mengundang mereka yang lainnya untuk datang bersukacita bersama pada hari yang bersejarah tersebut …

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s