Ada Lagi Kelas Pra-sidi

Tahun 2009 yang lalu atas inisiatif Ketua Dewan Koinonia di jemaat kami dibuka Kelas Prasidi. Ini dirasakan perlu sebagai “jembatan” antara anak-anak yang sudah “lulus” Sekolah Minggu (artinya bukan lagi usia anak-anak) dengan remaja dan naposobulung. Artinya, mereka – yang duduk di SMP kelas satu dan kelas dua – sudah merasa malu bergabung dengan anak-anak Sekolah Minggu namun terlalu muda untuk bergabung dengan remaja (biasanya murid SMU), apalagi untuk bergabung ke naposobulung yang adalah mahasiswa dan yang sudah bekerja. Saat dibentuk, dicetuskan bahwa sertifikat Kelas Pra-sidi menjadi salah satu syarat untuk mendaftar di Kelas Sidi (= parguru malua) kemudian (yang saat itu banyak ditentang karena dirasakan kontroversial …).

Saat itu aku masih “warga jemaat biasa”, namun karena diketahui lulusan Sekolah Tinggi Teologi (pasca sarjana lagi …) aku pun diminta menjadi penanggung jawab dalam membuat kurikulum (karena belum ada jemaat yang pernah melakukannya, katanya …). Tak apalah, menurutku, tokh banyak bahan yang bisa dijadikan referensi.

Setelah melalui beberapa kali diskusi, akhirnya rancangan kurikulum yang aku usulkan dapat disepakati dan disyahkan sebagai dasar pelaksanaan. Ditetapkan juga yang menjadi pengajar (aku sebenarnya lebih suka menyebutnya dengan pembicara atau malah fasilitator), yakni Ketua Dewan Koinonia, Ketua Dewan Marturia (hanya satu kali pertemuan), Pendeta Resort, Calon Pendeta (yang kemudian ditahbiskan menjadi pendeta), dan aku sendiri. Dilakukan setiap Minggu sore dengan alokasi 90 menit maksimum untuk setiap kali pertemuan. Maksimum? Ya, karena sore harinya jam enam ada ibadah Minggu sore (ini juga salah satu strategi untuk menambah jumlah orang yang mengikuti ibadah sore yang saat itu memrihatinkan …). Kelas dimulai jam empat dan harus berhenti sebelum setengah enam.

Saat itu aku mengusulkan untuk disediakan LCD projector. Masak gereja di tengah kota Jakarta yang sangat modern tidak ada alat seperti itu yang sudah mudah ditemukan di mana-mana. Tidak ada dianggarkan, kata Bendahara. Lalu, kami – beberapa orang yang merasa berpikiran maju – mengumpulkan uang untuk membelinya. Berhasil! Namun tak lama kemudian hilang di rumah pendeta! Ini mengherankan, koq berani-beraninya pencuri memasuki rumah pendeta (menurut saksi mata yang terakhir melihat LCD projector itu yang tak lain adalah calon pendeta yang menyimpankannya …) pada sore hari lagi! Sempat juga agak lama dibahas dengan berbagai tanda tanya, namun kembali kami berinisiatif mengumpulkan uang dan kembali berhasil membelinya.

Setelah selesai satu angkatan, Kelas Pra-sidi sempat terhenti. Penyebabnya adalah tidak adanya peminat Kelas Sidi. Agak mengherankan memang, kenapa karena ‘nggak ada Kelas Sidi malah ikut-ikutan membatalkan Kelas Pra-sidi? Waktu itu aku melihat sisi positifnya saja, aku lebih punya banyak waktu untuk kegiatan pelayanan yang lain. Dan memang, pada periode itu aku mulai mengikuti pembekalan menjadi penatua alias learning sintua.

Nah, mendadak diumumkan bahwa mulai Agustus akan dimulai lagi Kelas Pra-sidi. Kaget juga saat mendengar tingting saat itu. Warta Jemaat saat itu mengundang para peserta beserta orangtuanya untuk menghadiri ibadah pembukaan Kelas Pra-sidi. Tahu diri karena sudah lebih banyak tinggal di Bandung sebagai tempat tugas yang baru, aku memaklumi saja kalau aku tak tahu dan tak dilibatkan.

Ternyata tidak. Suatu hari aku ditelepon Ketua Dewan Koinonia yang bertanya apakah hadir saat ibadah pembukaan Kelas Prasidi pada Minggu kemarin. Tentu saja aku jawab “tidak” dengan tambahan “bumbu” bahwa aku seharian di gereja pada Minggu itu (karena ada rangkaian pertandingan olah raga dalam rangka menyambut hari ulang tahun gereja …) namun tidak ada ajakan untuk bergabung pada ibadah pembukaan dimaksud. Langsung saja Amang Ketua Dewan Koinonia menumpahkan kekesalannya karena tidak juga dilibatkan (padahal beliau merasa itu adalah bagian dari tugasnya sebagai Ketua Dewan Koinonia, apalagi selaku orang yang berinisiatif mengadakan Kelas Pra-sidi. Oh ya, beliau juga yang mengusulkan Kelas Pra-nikah di jemaat kami yang lagi-lagi memintaku banyak terlibat sebagai pembuat kurikulum dan penyampai materi.

Komplain yang sama pada akhirnya terjadi di depan mataku pada salah satu sermon parhalado. Saat itu sermon baru saja ditutup dengan resmi, lalu pak pendeta resort mengajak berbicara di salah satu sudut konsistori tempat Ketua Dewan Koinonia berdiri. Pak pendeta menanyakan kapan kami (para penyampai materi tahun lalu) bisa mengadakan rapat membicarakan pelaksanaan Kelas Pra-sidi untuk tahun ini. Karena ‘nggak kuat menyaksikannya, aku pun beranjak pergi. Beberapa hari kemudian aku menyampaikan keberatanku kepada Ketua Dewan Koinonia tersebut karena merasa ‘nggak pantas memperlakukan pak pendeta dengan cara seperti itu (meskipun di salah satu sudut, tetaplah orang-orang di ruang konsistori dapat melihat dan mendengar, walau dengan samar-samar). Kalau mau marah, bicaralah ketika tidak ada orang lain yang tidak berkepentingan. Lagian, pak pendeta sudah menyatakan penyesalan dan mengakui kesalahannya dengan tidak melibatkan kami di awal.

Akhirnya rapat tersebut terselenggara juga, walau hanya sekadar meresmikannya saja karena kami berdua (aku dan Ketua Dewan Koinonia) sudah membicarakannya ketika beliau berlibur Lebaran bersama keluarga di Bandung). Aku pun menyusun jadual dan menetapkan tanggal-tanggal, sambil tak lupa meminta kesediaan yang lain untuk memberikan “kekhususan” padaku di mana jadual aku menjadi pembicara adalah bersamaan dengan tugasku melayani ibadah Minggu (supaya kedatanganku ke Jakarta dari Bandung bisa lebih optimal …). Puji Tuhan, semua peserta rapat (amang pendeta, inang calon pendeta, dan amang Ketua Dewan Koinonia) menyetujuinya dengan sukacita.

Jadilah aku menjadi pembicara. Pertama kali pada Minggu, 03 Oktober yang lalu. Kelas ini rasanya sangat “senyap”, kurang interaktif, dan pesertanya hampir semuanya pasif. Berulangkali aku menanyakan “apakah ada pertanyaan?” untuk memancing mereka mulai membuka suara sekaligus memastikan bahwa materi yang aku sampaikan tidak terlalu “tinggi” bagi mereka. Dan ada beberapa hal yang mengejutkan bagiku, ternyata tidak seorangpun yang tahu (atau sekadar pernah dengar) tentang Saksi Yehuwa, gereja kharismatis (walau pada kenyataannya di sekeliling mereka di Kelapa Gading sangat banyak jemaat-jemaat kharismatis), bahkan wejk (wilayah) pun sesuatu yang asing bagi mereka. Tapi aku tetap bersyukur karena aku punya sesuatu yang baru yang dapat menambah wawasan mereka. Juga dengan demikian, diharapkan mereka akan mencari tahu kemudian, terutama saat mengikuti Kelas Sidi dengan sertifikat yang sudah mereka miliki …

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s