Family Gathering: Auli Mendapat Hadiah Kompor Gas

Sebagaimana dilakukan di setiap lokasi kerja (working site), acara yang melibatkan semua karyawan beserta keluarganya (disebut dengan family gathering atau family day) tahun ini diselenggarakan di Telaga Arwana, di Cibubur pada Sabtu, 23 Oktober 2010 yang lalu. Inilah yang pertama kali kami ikuti setelah bergabung kembali di State-2 (kantor wilayah yang mencakup Jabodetabek, Bandung, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta). Karena sudah menyelenggarakan tersendiri beberapa minggu lalu, Jawa Tengah dan Yogyakarta tidak diikutkan lagi di Cibubur ini.

Pada pertemuan ini diharapkan sesama karyawan dapat saling mengenal satu sama lain. Juga keluarganya masing-masing. Acara dipenuhi dengan permainan untuk anak-anak dan keluarga, perbincangan tentang memulai bisnis keluarga yang dipandu oleh pembicara dari Kompas Gramedia Group, pembagian sertifikat beasiswa bagi anak-anak karyawan yang menerima (uangnya sudah ditransfer bulan lalu …), dan banyak lagi. Oh ya, ada juga pembagian sebatang pohon untuk ditanam di rumah masing-masing. Ini bagus untuk penghijauan, cuma sayangnya karena pohon mangga yang diberikan untukku sudah terlalu besar (dan tidak pas lagi masuk ke mobil karena bagasi sudah disesaki barang-barang yang juga didapatkan dari acara rekreasi keluarga ini) sehingga harus kami tinggalkan di Bekasi. Mungkin lain kali akan kami bawa ke Bandung kalau datang ke Jakarta lagi …

Sebagai penerima beasiswa (untuk yang kedua kalinya), tentunya Auli dipanggil ke panggung untuk menerima beasiswa. Bangga juga melihat Auli saat diwawancarai dan menerima sertifikat dari boss-ku. ‘Gimana tak bangga kalau punya anak berprestasi, iya ‘kan?

Masih ada lagi. Karena “ketularan” acara Indonesia Mencari Bakat di salah satu stasiun televisi, Panitia juga melakukan hal yang sama. Beberapa hari sebelumnya melalui e-mail sudah dimintakan agar mendaftar, tapi aku tidak berminat. Ketika hari-H, hanya sedikit peminatnya. Itupun lebih banyak menunjukkan bakatnya dalam hal bernyanyi. Tidak terlalu istimewa menurutku, sehingga aku mengusulkan ke Auli untuk tampil bermain musik. Setelah melalui diskusi kecil di antara kami (aku, Auli, dan mamaknya), kami bersepakat, “Mainkan lagu yang akan dibawakan untuk konser Minggu depan aja, Auli.”. Auli setuju, lalu aku mendaftarkan Auli ke Panitia.

Sambil menanti giliran dipanggil ke depan, kami kembali duduk ke tempat kami bertiga duduk tadinya. “Pa … dengarkan, pa …”, kata Auli sambil menarik kepalaku untuk didekatkan ke dadanya. “Memangnya kenapa, nak?”, tanyaku pura-pura tak tahu. “Papa ‘nggak dengar suara jantung Auli? Tadi mama sudah dengar. Duk, duk, duk …” , katanya serius. Hebat juga anakku ini. Bagusnya, dia mengekspresikannya secara terus terang, tidak berusaha menutup-nutupi. “Biasa itu, nak. Tenang aja. Papa juga masih sering seperti itu. Yakin aja kamu mampu, pasti semua jadi beres”, ujarku menenangkan dirinya.

Usai dari kamar mandi, Auli dipanggil oleh pembawa acara untuk tampil ke depan. Auli menarik tanganku untuk mendampinginya. Di panggung, sambil menunggu Auli menyetem keyboard, aku diwawancara pembawa acara:

“Dari semua tadi yang sudah tampil dengan menyanyi, hanya Auli yang akan bermain musik. Mengalir dari siapa bakat main musik Auli? Apakah bapak juga punya bakat bermain musik?”

“Tidak”

“Kalau ibu bagaimana? Bermain musik juga?”

“Tidak juga”

“Koq bisa? Biasanya bakat seni itu diturunkan dari orangtuanya”

“Heran, ‘kan? Tuhan itu ajaib. Apa yang tidak kita miliki, jika Dia mau, anak-anak kita pun pasti diberikan-Nya kemampuan. Asalkan kita percaya dan memintanya dengan sungguh-sungguh”.

Habis satu lagu, Auli diminta memainkan satu lagu lagi, tapi Auli hanya mengulangi partitur yang sama. “Bayarannya ‘kan untuk satu lagu?”, kataku bercanda kepada pembawa acara yang menanyakan kenapa sekadar mengulangi lagu yang tadinya sudah dimainkan.

Ketika pengumuman pemenang, para penampil dipanggil ke atas panggung bersama orangtuanya. Aku pun turut dipanggil juga. Dan Auli dinyatakan sebagai juara ketiga. Juara keduanya adalah putri boss, dan juara pertamanya adalah anak ketua panitia … Jangan berburuk sangka, itu hanyalah suatu kebetulan (ma’af, aku bukan orang yang percaya kepada kebetulan, oleh sebab itu lebih suka menggunakan istilah “yang terbaik menurut Tuhan” …). Sebagai hadiahnya, Auli mendapat satu buah kompor gas. Hadiah yang paling berat! Aku pun sampai beberapa kali meletakkannya di lantai karena tidak kuat membopongnya terus-menerus.

“Dari tadi aku tersenyum terus melihat kalian di depan dengan hadiah kompor gas itu. Kayaknya pas kali dengan apa yang aku inginkan saat ini, karena memang kita sangat butuh kompor gas menggantikan yang kita pakai saat ini yang kita pinjam karena yang kita punya sebenarnya sedang rusak …”, kata mak Auli ketika kami kembali duduk ke kursi tempat kami semula. Rasa sedih yang tadi sempat terbersit di hatiku sedikit mencair melihat kegembiraan yang ditampilkan oleh mak Auli. Sedih? Koq? Iya, karena aku mengamat-amati kompor gas hadiah itu yang sedari tadi aku pegang di panggung. Kotak kemasannya terlihat sudah kusam, dan rusak di sana-sini. Dan ada tertulis: “dikembalikan 10/98”, yang ini mengingatkanku saat masih bekerja di Kantor State di Jakarta beberapa tahun yang lalu. Saat itu ada pelanggan yang mengembalikan hadiah karena spesifikasinya tidak cocok dengan komitmen kami sebelumnya. Salah satunya mungkin hadiah kompor gas yang aku terima sebagai hadiah dari kemampuan Auli dalam bermain musik saat acara yang mestinya menyukacitakan itu …

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s