Bahan Sermon Parhalado (2)

Marpos ni Roha tu Sangkap dohot Asi ni Roha ni Debata

Bahan sermon parhalado HKBP Immanuel Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Kamis, 15 September 2011

  1. Nas[1] Pembimbing

Epistel[2]  Roma 8:12-17

8:12 Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging.

8:13 Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.

8:14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.

8:15 Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!”

8:16 Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.

8:17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

Evangelium[3] Markus 1:40-45

1:40 Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.”

1:41 Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.”

1:42 Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir.

1:43 Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras:

1:44 “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.”

1:45 Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.

  1. Pendahuluan

Membaca nas perikop Epistel dari Roma 8:12-17 yang menjadi bahan diskusi malam ini untuk disampaikan sebagai bahan renungan/khotbah pada partangiangan weijk Rabu mendatang, ada beberapa pokok pikiran yang dapat ditarik, antara lain adalah:

(1)   tentang daging dan keinginan daging

(2)   kedagingan berakibat kematian, roh membawa kehidupan

(3)   status sebagai anak Allah, bukan roh perbudakan yang membuat ketakutan, dan “berhak” berseru “ya Abba, ya Bapa”

(4)   ahli waris dan berhak menerima janji-janji Allah akan kemuliaan

Tergantung pada situasi dan kondisi warga jemaat – yaitu psikologis dan keimanan sebagian besar yang hadir – dan sasaran khotbah yang ingin disampaikan tanpa melupakan nas perikop Evangelium dari Markus 1:40-45 yang menceritakan Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta, dan thema Minggu ini yang adalah “percaya akan rencana dan kasih Tuhan”, firman Tuhan dalam Minggu XIV setelah Trinitatis ini sebaiknya lebih diarahkan kepada konsepsi anak Allah yang menjadi ahli waris dengan menyebutkan syarat menjadi anak Allah. Keterkaitan antara nas perikop Ep dan Ev kemungkinan dapat dijalin dengan cara:

-       adanya pemahaman bahwa sakit penyakit adalah ditimbulkan oleh dosa (sakit kusta sebagaimana dipahami oleh masyarakat Yahudi pada masa itu), sesuatu yang dianalogikan oleh Paulus sebagai hidup menurut daging yang harus ditinggalkan dan diganti dengan hidup menurut Roh yang mampu mentahirkan setiap orang dari kuasa dosa.

-       sebagai anak Allah, kita berhak akan janji-janji Allah yang akan dinyatakan melalui kita untuk kemuliaan-Nya, dan kesembuhan dari penyakit adalah salah satunya (sebagaimana orang yang disembuhkan dari kusta tersebut, lalu memuliakan Allah).

  1. Daging versus Roh, dan Ahli Waris Kemuliaan Allah

Kalimat pembuka nas perikop ini mengantarkan kita kepada konsepsi hutang-pihutang, namun analogi tersebut sebaiknya dipahami dengan tepat sebagai “berkewajiban kepada”. Paulus mengingatkan, bahwa kewajiban kita bukanlah kepada daging, melainkan kepada Roh. Sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan, kehidupan kita bukan lagi didorong oleh keinginan daging, melainkan dipimpin oleh kuasa Roh.

Kerangka berpikir antara “daging” diperhadapkan dengan “roh”. Yang termasuk dalam kelompok “daging” adalah orang-orang yang sibuk dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan hidup penuh dosa. Pada sisi lainnya – dan yang bertentangan dengan itu – adalah orang-orang yang sibuk dengan segala sesuatu yang berkenaan dengan hidup menurut pimpinan dan kuasa roh[4]. Ayat-ayat terdahulunya dalam pasal ini sudah banyak menjelaskan tentang konsepsi hidup menurut daging dan hidup menurut roh ini.

Orang-orang percaya ada di dalam Roh, dan Roh tinggal di dalam mereka. Melalui Dia mereka akan memiliki tubuh yang dimuliakan. Kenyataan-kenyataan ini membawa kepada satu kesimpulan yang pasti sebagaimana disampaikan dalam ayat-12. Dengan menganggap pembacanya masih hidup menurut daging, Paulus mengatakan bahwa mereka akan mati. Yang dimaksudkan adalah kematian rohani. Tetapi dengan menganggap mereka oleh Roh senantiasa mematikan perbuatan-perbuatan jahat, mereka akan hidup.

Anak Allah ialah orang-orang yang dipimpin oleh Roh Allah. Roh itulah yang memimpin. Untuk lebih mudah memahami, ada yang menyarankan terjemahan ayat-15 sebaiknya dengan keinginan yang berkaitan dengan hal dijadikan budak dan keinginan yang berkaitan dengan hal dijadikan anak. Akibat dari yang pertama adalah ketakutan, sedangkan hasil dari yang terakhir adalah kemampuan untuk berdoa dan menyapa Allah sebagai Bapa. Sebagai rujukan, kata Abba adalah sebuah istilah Aram yang kemudian dialihaksarakan ke dalam aksara Yunani yang lalu disalin ke dalam bahasa Inggeris. Arti kata ini adalah Bapa. Bersatunya orang Yahudi dan orang Yunani (bangsa non-Yahudi) di dalam Kristus tampak di dalam kata-kata pembukaan doa ini.

Roh Kudus ikut bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Ini benar-benar berarti bahwa Roh Kudus ikut bersaksi bersama dengan diri kita. Kesaksian ini diarahkan kepada setiap aspek dari kepribadian kita yang ikut membentuk diri kita. Dikemukakan bahwa orang percaya adalah ahli waris. Kita adalah ahli waris dari segala sesuatu yang akan dicurahkan oleh Allah, yang berarti kita adalah ahli waris bersama dengan Kristus, kepada siapa Allah telah memberikan segala sesuatu. Namun, menjadi ahli waris bersama Kristus berarti bersedia menderita bersama dengan Kristus. Penderitaan merupakan peranan yang ditetapkan Allah untuk Kristus. Penderitaan juga merupakan pengalaman yang ditetapkan Allah bagi orang-orang percaya di dalam Kristus. Orang-orang yang ikut berbagi penderitaan dengan Kristus juga akan ikut berbagi kemuliaan dengan Dia. Orang percaya lebih dahulu mengalami penderitaan sebelum ia mengalami kemuliaan.

Salah satu sumber terpercaya memberikan catatan yang berhubugan dengan perikop dimaksud sebagaimana kutipan berikut ini:

Salah satu tugas Roh Kudus ialah menciptakan perasaan kasih anak di dalam hati anak-anak Allah yang menyebabkan mereka mengenal Allah sebagai Bapa. Roh menyebabkan kita berseru kepada Allah. Dua tanda yang pasti dari pekerjaan Roh di dalam kita adalah seruan spontan kepada Allah sebagai “Bapa”, dan ketaatan spontan kepada Yesus Kristus sebagai “Tuhan”.[5]

  1. Refleksi

Dari uraian yang menjelaskan nas perikop tersebut di atas, kita dapat melihat bahwa:

-       Untuk hidup menurut Roh, kita harus meninggalkan (atau paling tidak, menjauhkan …) dari hidup yang menuruti keinginan daging. Kedua hal yang memang saling bertentangan ini tidak mungkin dapat berlangsung pada saat yang bersamaan

-       Roh yang ada di dalam diri kitalah yang memampukan kita berseru “Abba” kepada Allah, yakni bilamana kita hidup menurut Roh. Menjadi anak, berarti memiliki karakter yang serupa dengan bapaknya. Syarat tersebut yang harus kita penuhi untuk berhak menjadi ahli waris kemuliaan

Jika ditarik dalam kehidupan kita masa kini dan di sini, kita yang berada dalam lingkungan orang-orang percaya (baca: lingkungan gereja dan terlibat dalam kehidupan jemaat HKBP Immanuel Kelapa Gading), ketegasan dalam memosisikan diri kita untuk hidup menurut daging atau menurut Roh adalah tuntutan yang disampaikan oleh nas perikop Epistel ini. Hal yang sama juga berlaku bagi semua warga jemaat[6]. Pada ayat-ayat di awal pasal-8 ini, Paulus sudah menunjukkan bahwa hidup tanpa kasih karunia Kristus adalah kekalahan, kesedihan, dan perbudakan kepada dosa.

Kini kita diberitahu oleh Paulus bahwa kehidupan rohani, kebebasan dari hukuman, kemenangan atas dosa, dan persekutuan dengan Allah, dapat terjadi melalui persekutuan dengan Kristus oleh Roh Kudus yang mendiami kita. Dengan menerima dan mengikuti pimpinan Roh, kita dibebaskan dari kuasa dosa dan dituntun kepada pemuliaan terakhir dalam Kristus. Inilah kehidupan Kristen yang normal di bawah pengertian sepenuhnya dari Injil.

  1. Ilustrasi

Rencana Tuhan dan Kita

      Menghakimi Tuhan hanya karena Anda sedang mengalami penderitaan dan tidak bisa memahami rencana yang dibuat-Nya adalah seperti seekor tikus yang memasuki piano yang besar dan merasa terganggu oleh kunci-kunci yang dimainkan oleh seorang pianis yang sedang mempesona pendengarnya dengan lagu-lagu Chopin dan Beethoven. Dalam otaknya yang kecil, tikus itu tidak bisa berpikir lain kecuali menarik kesimpulan  bahwa seluruh alam ini sudah menjadi kacau. Apakah kita tidak seperti itu ketika menghakimi rencana Tuhan dari sudut pandang kita?

      Contoh yang serupa adalah tentang seekor laba-laba, yang ketika membuat sarangnya di pinggir sebuah balok baja, tidak bisa melihat adanya kebaikan dalam kerusakan sarangnya yang terjadi karena gerakan dari balok itu pada konstruksi sebuah jembatan besar. Ia tidak pernah berpikir bahwa rencana dari arsitek yang cerdas itu mungkin lebih penting daripada sarang laba-labanya.[7]

Dari ilustrasi tersebut di atas, apa yang dapat kita peroleh sebagai pesan moral? Sebagaimana tertera pada ayat-17, yakni tentang janji-janji, di mana disediakan menurut kehendak Allah yang seringkali tidak kita pahami karena lebih cenderung pada penderitaan yang sedang kita alami. Bukan kepada apa yang ada di balik penderitaan tersebut.

  1. Diskusi/Tantangan/Bekal Warga Jemaat

Dalam sesi diskusi, ada kemungkinan warga jemaat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kritis yang seharusnya disikapi sebagai refleksi kerinduan untuk lebih meningkatkan kualitas keimanan. Beberapa pertanyaan yang mungkin akan timbul adalah:

(i)    Apakah ada pembeda yang signifikan antara keinginan daging dan perbuatan-perbuatan tubuh?

(ii)   Jika ahli waris dunia barulah berhak mendapatkan warisan setelah orangtuanya meninggal, apakah hal yang sama berlaku juga untuk janji-janji Allah?

(iii)  Tentang Roh yang menjadikan kita sebagai anak-anak Allah, apakah merupakan Oknum yang harus dipanggil ataukah memang sudah ada pada setiap orang sejak dilahirkan?

  1. Estimasi Waktu yang Dibutuhkan

Kegiatan

Waktu (menit)

Keterangan

Doa pembuka, dan pembacaan firman

7

Nas Epistel dibacakan secara responsoria

Penyampaian materi

30

Dari Pendahuluan sampai Ilustrasi

Diskusi dan doa penutup

23

Bergantung pada respon warga jemaat yang hadir, dan kesepakatan bersama tentang waktu.


[1] Nas berasal dari kata naskah yang disingkat menjadi nas. Pada literatur lama biasanya digunakan kata nats yang mungkin kata serapan bahasa asing, berasal dari naats. Dalam tulisan-tulisan masa kini sudah lazim menggunakan nas daripada nats.

[2] Epistel sebenarnya berarti surat-surat rasuli, yaitu pesan yang ditujukan untuk menggembalakan jemaat. Surat Rasul Paulus yang ditujukan kepada jemaat mula-mula (misalnya Galatia, Efesus, Filipi, dan lain-lain) adalah termasuk dalam kategori ini. Berbeda dengan HKBP, beberapa denominasi misalnya Gereja Kristen Indonesia masih menjunjung tinggi ketentuan ini dalam pembacaan firman Tuhan pada setiap ibadahnya.

[3] Evangelium berasal dari eungaleon yang kemudian diadaptasi menjadi Injil yang berarti kabar sukacita atau kabar baik. Sehubungan dengan Alkitab, yang dimaksud dengan Injil adalah kitab-kitab pertama Perjanjian Baru, yakni Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Almanak HKBP – salah satu hal baik yang mencerminkan keteraturan, yang tidak dimiliki oleh gereja/denominasi lain – seringkali masih mencantumkan perikop di luar keempat Injil dimaksud sebagai nas Evangelium; sesuatu yang sebenarnya sangat menyimpang dari pengertian dasar istilah ini.

[4] Charles F. Pfeiffer & Everett F. Harrison, The Wycliffe Bible Commentary Volume 3 (terj.) (Malang: Gandum Mas, 2008), 556

[5] Donald C. Stamps, Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan (terj.) (Malang: Gandum Mas, 2006), 1950

[6] Perkataan jemaat (= huria, dalam bahasa Batak) semakin jauh dari arti yang sebenarnya, karena seringkali dicampuradukkan dengan warga jemaat (= ruas, dalam bahasa Batak). Jemaat adalah kongregasi atau persekutuan Contoh yang benar, misalnya: Tobing adalah warga jemaat (= ruas) dari gereja HKBP jemaat (= huria) Immanuel Kelapa Gading.

[7] Frank Mihalic, 1500 Cerita Bermakna Jilid Satu (terj.), (Jakarta: Obor, 2008), 184

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s