Andaliman – 157 Khotbah 25 Desember 2011 Minggu Pesta Perayaan Kelahiran Yesus Kristus

Sang Raja Sudah Lahir! Kita adalah Anak-anak Allah …

Nas Epistel:  Mika 5:1-5

(5-1) Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.

5:3 (5-2) Sebab itu ia akan membiarkan mereka sampai waktu perempuan yang akan melahirkan telah melahirkan; lalu selebihnya dari saudara-saudaranya akan kembali kepada orang Israel.

5:4 (5-3) Maka ia akan bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN, dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya; mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi,

5:5 (5-4) dan dia menjadi damai sejahtera. Apabila Asyur masuk ke negeri kita dan apabila ia menginjak tanah kita, maka kita akan membangkitkan melawan dia tujuh gembala, bahkan delapan pemimpin manusia.

5:6 (5-5) Mereka itu akan mencukur negeri Asyur dengan pedang dan negeri Nimrod dengan pedang terhunus; mereka akan melepaskan kita dari Asyur, apabila ia ini masuk ke negeri kita dan menginjak daerah kita.

Nas Evangelium: 1 Yohanes 3:1-6

3:1 Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.

3:2 Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.

3:3 Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.

3:4 Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.

3:5 Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa.

3:6 Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.

Aku tidak begitu mengenal salah satu toko Alkitab yang bernama Mikha ini. Namanya yang berarti “ siapakah seperti Tuhan” menunjukkan orang yang sangat berkharisma. Keberaniannya menyuarakan suara kenabian – yang sangat berbeda dengan situasi dan kondisi kehidupan yang sedang terjadi saat itu – menunjukkan bahwa Mikha bukanlah sembarang nabi. Yeremia pun kemudian terinspirasi oleh keberanian Mikha ini dalam menyuarakan suara kenabian. Hal yang sangat dirindukan saat ini mengingat betapa banyaknya manusia sekarang ini yang sudah ‘nggak punya nyali lagi dalam menyampaikan kebenaran. Apalagi memperjuangkannya! Menurutku, kebanyakan para pemimpin sekarang – yang seharusnya punya lebih banyak kesempatan dalam menegakkan kebenaran – malah berlaku hal yang sebaliknya. Sangat menyedihkan, memang …

Selain keberanian, hal luar biasa lainnya yang dimiliki oleh Mikha adalah dalam hal bernubuat, memandang jauh ke depan. Ini beda dengan meramal sebagaimana yang biasa akan bermunculan di layar televisi dan media massa lainnya menjelang akhir tahun seperti sekarang ini. Jujur saja, aku sendiri ‘nggak begitu yakin tentang siapa yang sebenarnya yang dimaksud dengan Mikha tentang pemimpin Israel yang akan muncul dari Betlehen Efrata, dusun yang sangat terpencil di Israel.

Apakah yang dimaksudkannya adalah Daud? Bisa jadi. Melihat bahwa ke-raja-annya sebagai orang yang selalu menang perang dengan pedang terhunus dan mengalahkan bangsa-bangsa dengan peperangan (secara harafiah, bukan rohaniah …), toloh yang dimaksud lebih mengarah kepada Daud, raja Israel yang tiada bandingnya. Atau keturunan Daud? Paling mungkin. Utamanya bila berusaha memahami nas perikop Ep Minggu ini sebagai pengertian rohaniah. Tentu saja yang dimaksud adalah Yesus. Dalam Perjanjian Baru kemudian nubuatan Mikha ini dpandang telah digenapi dengan kelahiran Yesus.

Kesederhanaan dan kerendahhatian. Itulah pesan yang dapat aku baca dari nas perikop Ep Minggu ini. Kota yang kecil yang dipakai Tuhan untuk menunjukkan kuasa-Nya. Sangat bertentangan dengan pikiran manusia. Siapa yang kepikiran bahwa seorang raja yang besar lahir dari dusun yang sangat terpencil? Meskipun sejarah republik ini memunculkan presiden adalah kelahiran dusun terpencil, namun hal-hal besar muncul dari sesuatu yang dipandang sebelah mata tetaplah mengejutkan bagi banyak orang …

Kelahiran Yesus di kandang domba – tempat yang paling hina dibandingkan kelayakan manusia biasa – menunjukkan betapa Allah dengan segala kerendahan hati datang kepada manusia melalui kelahiran anak-Nya ke dunia. Bukan di istana layaknya seorang raja dan putera mahkota. Sekali lagi: ini menunjukkan kesederhanaan dan kerendahan hati (itulah sebabnya aku selalu prihatin bilamana melihat perayaan Natal yang jauh dari semangat kesederhanaan dan kerendahan hati ini …).

Itulah pesan yang ingin disampaikan oleh nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Sebagaimana Yesus, anak-Nya yang tunggal yang datang ke dunia dengan kesederhanaan dan kerendahan hati, orang-orang percaya yang mengaku sebagai murid Yesus tentu saja harus menyerupai Yesus. Bukan profil secara fisik (berkumis, berjanggut, berambut gondrong …), melainkan karakter yang dimiliki dan ditunjukkan Yesus sebagaimana ketika Yesus hidup di dunia ini. Karena kita adalah anak-Nya, maka sepatutnyalah karakter kita menyerupai karakter Yesus. Yesus yang penuh kasih, dan selalu melakukan semua tindakan-Nya berdasarkan kasih.

Menjadi semakin menyerupai Yesus, itulah yang dimintakan kepada kita sebagai anak-anak Allah, sebagai orang-orang percaya. Dan empat Minggu Adven diberikan kepada kita untuk mempersiapkan diri dalam menyambut kelahiran-Nya. Dan Minggu ini adalah Natal – sesuatu yang baru kali ini aku mengalaminya dengan “penuh kesadaran” bilamana Natal tahun ini adalah hari Minggu sehingga menambah keistimewaan perayaan Natal tahun 2011 ini – salah satu momen terpenting dalam keimanan orang Kristen.

Saatnya kita bertanya, apakah kita sudah siap menyambut kelahiran Yesus? Kalau peristiwa nyata itu terjadi berabad-abad yang lalu nun jauh di negeri Israel, apakah juga nyata kelahiran-Nya di hati kita saat ini? Jawabannya ada pada diri kita sendiri.

Selamat hari Natal!

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s