jump to navigation

Bukan Jubileum 150 Tahun HKBP Ternyata …? 19 Desember 2011

Posted by tanobato in HKBP, KOLEKSI: Milik untuk Berbagi.
trackback

Pemikiran Tentang Batak Setelah 150 Tahun Agama Kristen di Sumatera Utara

Editor: Prof. Dr. Bungaran Antonius Simanjuntak

Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta, 2011

Meskipun diterbitkan tahun ini, ternyata buku ini adalah hasil penulisan-ulang (menurut editornya adalah “lanjutan dari buku sebelumnya dengan judul yang sama”, meskipun ada lagi pernyataan bahwa buku ini adalah “pengembangan dan perluasan”). Sangat kental terasa ada salah satu alasan diterbitkan kembali tahun 2011 adalah memanfaatkan gembar-gembor yang didengung-dengungkan di HKBP sebagai tahun di mana akan dirayakan Jubileum 150 Tahun HKBP. Berisi pemikiran yang berhubungan dengan Batak, salah satu suku bangsa terbesar di nusantara. Dengan gereja terbesar di Asia Tenggara, konon HKBP pernah mengklaim demikian.

Bunga rampai dari penulis berkaliber dan handal di bidangnya masing-masing menjadikan buku ini lengkap sebagai rujukan. Lihatlah penulisnya. Ada mantan Eforus (yang ternyata tulisannya agak “berseberangan” dengan prinsip umum HKBP, organisasi yang pernah dipimpin oleh mantan ompu i ini, sehingga mengingatkanku dengan sindrom yang dialami oleh mantan pejabat di negeri ini yang baru kemudian berani bersuara berbeda setelah tidak lagi menjabat dan tidak lagi berkuasa …), guru besar teologi, pendeta dan dosen aktif di lingkungan pendidikan HKBP (sempat membuatku respek dengan kegigihannya membela “kaum lemah” di HKBP dan keberaniannya melakukan otokrtitik, namun sedikit berkurang rasa kagumku manakala melihatnya berkhotbah yang diiringi dengan “panorangion” yang cenderung memanas-manasi warga jemaat daripada sekadar menyampaikan kebenaran …), mantan pemimpin gereja, tokoh gereja dan tokoh adat Batak, serta sastrawan nasional. Kecuali orang bule, semuanya adalah Batak. Sekali lagi, benar-benar komplit.

Kata Pengantar dan Refleksi yang Menohok

Sebagaimana buku lainnya, buku ini juga diawali dengan kata pengantar. Prof BAS – demikian beliau suka menyingkat nama dengan hanya sekadar inisial – menyampaikan alasan singkat dan latar belakang munculnya buku ini. Secara eksplisit tidak disebutkan untuk menyambut jubileum HKBP sebagai salah satu alasannya, memang. Namun, masih di lembaran kedua pengantar, pak BAS sudah mempertanyakannya dengan hanya menyebutkan bahwa “… HKBP sendiri baru dikenal sesudah tahun 1932 dengan keluarnya pengakuan pemerintah …”.

Ada dua refleksi. Satunya dengan tegas dicantumkan bahwa penulisnya adalah Eliakim Sitorus dengan judul 150 Tahun Injil di Tapanuli.  Alinea pertama tulisan refleksi ini sudah menegaskan bahwa 7 Oktober 1861 adalah tanggal bersejarah di mana empat orang misionaris – Heine, Klammer, Betz, dan van Asselt yang kemudian dengan “sangat kreatif” huruf awal nama mereka disingkat menjadi HKBP … – melakukan rapat kordinasi penginjilan di Parausorat. Sejarawan gereja di Tapanuli kemudian menyebutkan rapat itu sebagai sinode pertama, lalu diklaim sebagai hari lahirnya gereja Batak pertama, yakni Huria Kristen Batak Protestan. Agak aneh memang, karena para misionaris itu masih membawakan organisasi pengutus mereka, yakni Rijnische Mission Gesselschaft (RMG) yang berkedudukan di Wuppertal, Jerman. Tentu saja belum sedikit pun “berbau” HKBP …

Tulisan refleksi kedua dengan judul tulisan yang sama dengan yang pertama – aku ‘nggak tahu siapa penulisnya – disebutkan di akhir sebagai “diterjemahkan oleh Bungaran Antonius Simanjuntak”. Lebih merupakan kilas balik singkat sejarah masuknya Injil di Tanah Batak. Lalu konflik yang terjadi di HKBP, yang puncaknya adalah dualisme kepemimpinan 1988-1994 di mana pada masa itu ada dua orang yang mengaku sebagai Eforus HKBP. Masa yang sangat kelam yang pernah aku alami sebagai warga HKBP. Sangat “membingungkan”, karena kedua belah pihak yang sama-sama dipimpin pendeta sama-sama mengklaim sebagai yang benar dan paling sah sebagai pemilik “merek” HKBP. Menjadi semakin membingungkan lagi karena kelakuannya sudah sangat mirip dengan premanisme yang “dipakai” (atau malah “memakai”?) untuk menguasai bangunan gereja. Dengan segala cara, tentu saja.

Juga sudah dicantumkan konflik di HKBP Banda Aceh paska tsunami. Bayangkan saja, di daerah “100% Islam” yang mengklaim dirinya sebagai serambi mekah dengan menjalan syariat Islam yang paling menyerupai zaman nabi di antara wilayah nusantara yang sudah menjalankan syariat Islam, masih juga terjadi konflik kepemimpinan yang kemungkinan besar adalah juga ada faktor kepemimpinan Kantor Pusat. Di wilayah yang seharusnya kita mengumandangkan syukur alhamdulillah hirabbal al’amin karena gereja masih bisa berdiri, koq “tega-teganya” dibiarkan tercipta perpecahan, bahkan dipertahankan perpecahan …

Dan yang terakhir adalah perilaku seksual yang menyimpang dari seorang pendeta aktif HKBP terhadap siswi-siswinya dengan melakukan pelecehan seksual yang sangat memalukan. Bahkan menjijikkan, menurutku. Lebih menjijikkan lagi adalah kesan HKBP (baca: pemimpinnya) yang melindungi dan membela sang pendeta laknat tersebut seakan-akan itu semua ‘nggak benar (walau sudah masuk ranah hukum publik dan sudah diputus oleh pengadilan). Aku jadi sempat bercuriga, jangan-jangan tindakan seperti itu sudah seringkali terjadi di lingkungan pendeta HKBP sehingga merupakan sesuatu yang biasa. Orang bijak mengatakan, air yang kotor jangan diharapkan untuk bisa membersihkan kekotoran. Betul juga …

Konfesi HKBP, oh … Pendeta Pelaksana Konfesi …

Ini adalah dua tulisan yang paling sering aku baca berulang-ulang. Keduanya tentang Konfesi HKBP, pengakuan iman yang dianut HKBP. Ditulis oleh guru besar, dan anak murid dari anak muridnya di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Sangat menyemangati ketika membaca tulisan Lothar Schreiner yang menginspirasi perjalanan HKBP dalam tahun-tahun kesejarahannya. Sebaliknya, keprihatinan yang amat sangat ketika membaca tulisan Dewi Sri Sinaga yang membahasnya dengan menjadikan peristiwa pelecehan seksual yang dilakukan oleh pendeta HKBP di Sekolah Bijbelvrouw HKBP di Laguboti.

Yang paling menyedihkan adalah tanggapan pemimpin HKBP yang menanggapinya secara dingin. Bukan melindungi para siswi korban pelecehan yang tentu saja tertekan secara psikologis, malah meneror para korban dan mengintimidasi dengan arogan. Bukan pemimpin, malah mereka menunjukkan sebagai penguasa HKBP yang bisa dengan semena-mena memamerkan kekuasaannya untuk melindungi korpsnya (atau kroninya, atau malah dirinya sendiri? Entahlah …).

Banyak hal-hal menarik yang bisa didapatkan dari buku yang lumayan tebal ini. Apalagi untuk memenuhi kerinduan tentang pemikiran kontemporer orang Batak. Sudah Batak, Kristen pula … Saranku, bacalah untuk menambah pengetahuan. Dan dengan kejernihan hati dan kejernihan berpikir. Itu semua akan menambah referensi kita dalam memahami Batak. Dan juga memahami HKBP bilamana masih berada di lingkungan HKBP. Karena selalu saja ada kemungkinan bahwa sejarah adalah sekadar siklus hidup. Jadi, apa yang terjadi pada HKBP saat ini tidaklah jauh dari apa yang ditabur oleh orang-orang yang berpengaruh pada HKBP pada masa-masa yang lalu.

Alangkah Indahnya …

Janganlah pernah berharap pada sesuatu yang benar-benar sempurna. ‘Nggak bakalan menemukannya selagi hidup di dunia yang fana ini. Begitu juga dengan buku ini. Baru di bab-bab awal, aku sudah seringkali terganggu dengan kesalahan tulis maupun penggunaan istilah yang seharusnya sudah baku. Misalnya kata teologi yang merupakan kata serapan yang sudah dibakukan dalam bahasa Indonesia, masih memakai teologia, dan bahkan teologies.   

Untuk membuatnya lebih bermanfaat, aku sarankan:

(1)     Membaca buku ini dengan penuh kerinduan akan perbaikan pelayanan di jemaat HKBP, bukan untuk mencari tahu kebobrokan HKBP

(2)     Cukup mendiskusikannya dengan warga jemaat yang sudah dewasa, bukan sekadar usia, namun juga pemahaman tentang jemaat

Buku ini pertama kali aku lihat di salah satu toko buku terkemuka dengan jaringan nasional di Serpong, Tangerang beberapa bulan yang lalu. Bersebelahan dengan hotel tempatku menginap saat menghadiri rapat di Kantor Wilayah di Jakarta, aku pun berkunjung ke toko buku tersebut usai makan malam. Tertarik membacanya dengan menyempatkan diri di kamar hotel menjelang istirahat tidur, aku pun memutuskan untuk membagikannya kepada pelayan gereja di lingkungan HKBP. Yang pertama kali aku berikan – dengan mengirimkannya via kurir dari Bandung – adalah pendeta resort tempatku berjemaat saat ini di Jakarta. Lalu mendiskusikan tentang tanggal jubileum sebagai salah satu isi dari buku yang akan aku kirimkan kepada beliau (saat itu aku “sekadar” menunjukkan buku yang aku beli pertama kali sambil berjanji akan membeli yang baru dan mengirimkannya karena buku pertama tersebut sudah aku corat-coret …):

Aku : Kalau aku Eforus, aku akan memberikan pengakuan kepada semua jemaat HKBP tentang kesalahan tanggal penetapan hari lahir HKBP. Lalu, mengajak semua gereja-gereja di Sumatera Utara dengan berbagai denominasi yang lahir karena penginjilan RMG Jerman untuk sama-sama merayakan Jubileum Injil di Sumatera Utara. Jadi, bukan Jubileum HKBP, amang.
Pendeta : Bukan itu yang penting sebenarnya, amang. ‘Nggak perlulah harus dipersoalkan lagi tanggal lahirnya HKBP karena kita akan berkutat di situ-situ terus. Kapan lagi kita punya waktu untuk memikirkan kemajuan HKBP kalau habis untuk berdebat tentang hal yang tidak prinsipil.
Aku : Bukankah kebenaran harus disampaikan, amang? Kalau memang lahirnya bukan tahun 1861, kenapa kita tidak jujur saja mengakuinya? Menurutku, warga jemaat sekarang sudah banyak yang pintar, dan kita patut bersyukur pada Tuhan tentang hal itu. Mereka akan menganggap kita berdusta karena ‘nggak menyampaikan hal yang benar. Memang untuk melakukan itu perlu kesadaran yang dalam dan kerendahan hati yang tidak semua orang memilikinya …

Usia sekali lagi tidak menentukan keluasan wawasan dan kesediaan menerima pembaharuan. Pendeta resort kawanku berbicara ini masih sangat muda. Usia beliau masih  di bawahku beberapa tahun. Waktu mulai bertugas di jemaat kami lima tahun yang lalu, aku sempat berharap banyak bahwa beliau akan membawa angin segar pembaharuan pelayanan di jemaat kami. Apalagi mengingat pengalaman beliau di mana sebelumnya adalah bertugas di jemaat di Jakarta yang jaraknya sangat dekat dengan jemaat kami sehingga ‘nggak butuh banyak penyesuaian dalam melayani jemaat yang sekarang. Lima tahun berlalu, secara umum menurutku adalah ‘nggak jauh dengan HKBP pada umumnya. Berjalan di tempat, kalau tidak mundur. Sangat kontras dengan agresivitas gereja-gereja di seputaran lingkungan gereja kami …

Aku kurang yakin apakah beliau memang benar-benar membaca buku yang aku kirimkan. Atau hanya sekadar melihat sekilas, lalu tahu isinya “bukan dari golongan kami”, lantas menyimpannya di suatu tempat yang disediakan bukan untuk dibaca kembali. Apalagi kecenderungan beliau yang lebih terkesan sebagai “pegawai HKBP” daripada pelayan jemaat yang sangat mendambakan peningkatan kerinduan untuk selalu datang ke gereja untuk bersekutu.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.