Koinonia, oh … Koinonia

Aku ‘nggak pernah punya ambisi apapun untuk jabatan di gereja, selain hanya untuk pelayanan jemaat. Apalagi kalau sampai membangga-banggakan latar belakang pendidikan teologi yang pernah aku ikuti di Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Malah sebaliknya, salah satu yang mendorongku untuk mengikuti pendidikan tersebut adalah agar aku memiliki bekal yang cukup untuk terlibat lebih aktif dalam pelayanan jemaat. Bukan sekadar “cheque kosong” … Walaupun banyak yang bilang bahwa Tuhan akan melengkapi segala sesuatu yang dibutuhkan dalam pelayanan, prinsip bahwa Tuhan “sekadar” melengkapi. Artinya, aku juga harus memiliki – katakanlah “sekadar” – bekal sebelum kemudian Tuhan menambahkan hal-hal lain supaya membuatku semakin lengkap.

Sejak di Medan aku sudah terlibat sebagai aktivis jemaat. Mulai Sekolah Minggu sampai NHKBP.  Setelah kawin lalu merantau, maka aku bergabung dengan Koor Ama. Jadi, kehidupanku ‘nggak jauh-jauh dari kehidupan berjemaat. Salah satu pesan yang aku ingat dari mamakku adalah untuk selalu mencari rumah tinggal yang tidak jauh dari komplek gereja. meskipun saat itu pasti yang dimaksud oleh beliau adalah kedekatan secara geografis, namun sekarang aku lebih melengkapinya dengan pemahaman secara psikologis juga. Saat tinggal di Jakarta, bertahun-tahun kami masih bisa memenuhi “amanat” tersebut. Rumah kontrakan kami di Kelapa Gading Permai masih dekat dengan komplek Gereja HKBP Immanuel. Sehubungan dengan perubahan lokasi kerja dan kondisi yang diberikan oleh perusahaan, kami pun pindah ke Bekasi. Namun tetap berjemaat di HKBP Immanuel. Sampai sekarang …

Oh ya, selama tinggal di Kelapa Gading aku sempat ‘nggak aktif di jemaat. Alasannya: saat itu yang menjadi pendeta adalah lae-ku, yang kawin dengan salah seorang ito-ku. Begitu tahu beliau yang akan menjadi pendeta, aku segera bilang ke mak Auli isteriku, “Sebaiknya kita jangan banyak terlibat dalam jabatan di gereja selama masih lae yang jadi pemimpin jemaatnya”. Tujuannya cuma satu: jangan sampai terjadi “conflict of interest“. Hanya kurang lebih satu tahun, kemudian beliau pindah tugas ke jemaat lain di Jakarta.

Marturia: Masuk Rumah Tuhan Bersukaria

Empat tahun yang lalu – sebegitu tamat kuliah dari STT Jakarta – aku ditunjuk untuk menjadi Sekretaris Dewan Marturia. Nah, ini dia, pikirku. Kesempatan untuk melakukan perubahan dengan mempraktikkan pengetahuan yang aku miliki. Beberapa tahun di Koor Ama Josua membuatku mampu memetakan situasi jemaat. Dan mengetahui apa yang sedang terjadi dan apa yang diharapkan oleh jemaat.

Rapat pertama Dewan Marturia aku sempatkan berpresentasi menyampaikan visi, misi, strategi, dan taktik yang harus dilaksanakan untuk memperbaiki pelayanan (yang ‘nggak ‘nyangka, ternyata yang hadir saat itu heran melihatku harus berpresentasi, yang membuat menjadi lebih heran, koq warga jemaat di tengah kota Jakarta masih belum biasa dengan cara kerja profesional seperti yang aku tunjukkan saat itu …).  Sebagai orang profesional dan berpengalaman di dunia pemasaran dan penjualan, tentu saja aku coba aplikasikan (bukankah kita harus membawa hal-hal baik dari luar ke lingkungan gereja?), salah satunya dengan memunculkan tag agar memudahkan komunikasi dan pemahaman jemaat tentang Marturia sebagai singkatan dari “masuk rumah Tuhan dengan bersukaria” yang memang sangat relevan karena Dewan Marturia “membawahi” seksi musik dan seksi kesaksian.

Gairah yang menggebu-gebu ternyata cepat menurun seiring dengan tanggapan lingkungan sekitar. Rapat dengan minutes yang rapi dan tindak lanjut yang selalu aku ikuti kepada masing-masing person in charge ternyata aku rasakan mengganggu kenyamanan para kawan-kawan aktivis lainnya yang sudah bertahun-tahun hidup dalam pelayanan yang ala kadarnya. Tanpa target tertentu, tanpa rasa tanggung jawab, tanpa evaluasi teratur, yah … pokoknya sekadar “mengandalkan Tuhan” …

Satu tahun bergaul dan bergumul dengan orang-orang seperti itu membuatku harus memutuskan untuk “mengundurkan diri”. Capek … Selalu saja ada orang-orang yang menarikku ke bawah saat aku akan naik, menarikku mundur saat aku akan maju. Saat itulah aku baru sadar kenapa pelayanan di jemaat ini sekadar jalan di tempat, kalau tidak mau dikatakan malah mundur. Sangat ironis bila dibandingkan lingkungan jemaat di mana sangat banyak gereja yang berdiri di Kelapa Gading (Jakarta Utara) bak jamur di musim hujan yang menawarkan berbagai hal menarik (yang terbukti efektif menarik warga jemaat, bahkan tidak sedikit yang meninggalkan HKBP …), yang tidak membuat para pelayan tidak bergeming. Seakan tidak ada masalah dengan pelayanan jemaat … Terakhir kali aku terlibat penuh adalah saat diminta menyiapkan strategi menyongsong Tahun Marturia.

Oh ya … di bilut parhobasan alias konsistori tercantum daftar nama aktivis. Di situ ada namaku. Mungkin orang lain bangga bilamana melihat namanya tercantum di situ, namun aku sebaliknya. Ada perasaan malu dan bersalah timbul dalam diriku setiap kali melihat daftar tersebut, karena merasa tidak bertanggung jawab dan tidak memberikan kontribusi yang memadai untuk pelayanan yang dipercayakan padaku.

2012, Apakah Akan Terjadi Lagi?

Sejak akhir tahun lalu sudah mulai dibicarakan tentang pengurus empat tahun ke depan karena periodisasi yang segera berakhir. Hampir sepuluh kali diadakan rapat, dan selalu terjadi perubahan daftar pengurus yang tercantum. Banyak hal yang menyebabkan keterlambatan ini yang mengesankan bertele-tele. Di bawah ini adalah beberapa yang dapat aku simpulkan:

(1) tidak semua peserta rapat (parhalado) memahami Aturan dan Peraturan yang mengatur tentant pengurus pelayanan ini. Jangankan memahami, tidak sampai lima orang yang membacanya, dan aku lebih yakin lagi bahwa kebanyakan tidak tahu di mana meletakkan buku Aturan dan Peraturan tersebut.

(2) ketidakkonsistenan peserta rapat dengan aturan yang dibuat, hal ini utamanya menyangkut pendeta sebagai uluan huria. Kadangkala mau kaku untuk mengikuti AP HKBP tersebut, namun ketika membicarakan jabatan lain dengan enteng mengatakan, “Tak perlu kaku dengan aturan, kita memyesuaikan diri saja“, sambil memberikan ilustrasi jemaat HKBP di pelosok Tapanuli yang membuatku geli melihat ketidakrelevan tersebut. Bagaimana membandingkan gereja di tengah kota Jakarta dengan gereja di kampung terpencil di Tapanuli?

(3) ketidakkonsistenan tersebut mudah membuat orang bercuriga bahwa ada “muatan” tertentu untuk menempatkan orang tertentu pada jabatan tertentu. Yang ini membuatku prihatin, seakan menempatkan gereja tidak jauh berbeda dengan dunia politik Indonesia yang sangat buruk saat ini.

(4) orang-orang yang ditempatkan pada jabatan tertentu umumnya sekadar memenuhi agar setiap penatua mendapat porsi pada kepengurusan. Menurutku ini sangat memprihatinkan, karena seringkali orang menempati jabatan tersebut menjadi tidak sesuai dengan kompetensinya.

(5) suasana rapat yang tidak kondusif berpotensi mengakibatkan keputusan yang diambil menjadi tidak berkualitas. Hampir dalam setiap rapat ada celetukan, “Ya sudah, putuskan saja. Sudah malam ini. Biar kita cepat pulang!“. Terus terang, ini membuatku sangat sedih. Koq beraninya atau teganya keputusan pelayanan di gereja Tuhan dianggap enteng oleh orang-orang yang mengaku dirinya sebagai hamba Tuhan? Tentang pulang malam, aku saja yang harus kembali ke Bandung (dan selalu tiba dini hari) tidak mengeluhkan tentang hal tersebut.

(6) mulai timbul di beberapa penatua yang sebenarnya memprihatinkan pelayanan dan sangat merindukan perubahan dan peningkatan pelayanan jemaat, namun dengan gaya kepemimpinan pendeta yang sudah lima tahun di jemaat (dan sudah dirasakan mulai tidak punya “greget” lagi …) akhirnya menjadi apatis. “Suka pendeta sajalah mau apa yang dibuatnya dengan gereja ini. Dia sudah ‘nggak mau mendengar masukan lagi. Yang penting, kita kerjakan saja apa yang baik menurut kita. ‘Nggak usah mau ribut-ribut …”.

Aku di Mana? Koinonia … oh, Koinonia …

Sejak awal rapat majelis tahbisan sudah mempersiapkanku untuk di Dewan Koinonia. Pembicaraan awal dengan semua yang masuk dalam pengurus DK juga sudah sepakat untuk memilihku menjadi Ketua DK. Sesuatu yang sejak awal aku sampaikan untuk mempertimbangkan keterbatasan jarak dan waktu karena aku tinggal dan bekerja di Bandung. Namun mereka tetap “memaksa” dengan alasan bahwa mereka melihat kesungguhanku untuk selalu berusaha hadir di Jakarta meskipun harus bolak-balik Bandung-Jakarta. Ya sudah, karena aku sudah berjanji pada Tuhan untuk mempersembahkan diriku dan hidupku pada-Nya melalui pelayanan jemaat, aku tidak pernah menolak permintaan tersebut. Oh ya, beberapa orang bahkan sudah memperkenalkanku sebagai “Ketua DK” yang membuatku tersenyum dalam hati …

Beberapa kali rapat pelayan tahbisan yang membicarakan pengurusan empat tahun yang akan datang, konstelasinya tidak berubah. Hanya Dewan dan Seksi lain yang cenderung berubah orang-orangnya. Sampai suatu kali aku menerima pesan-pendek bahwa 24 Januari akan dilakukan pemilihan ketua Dewan dan Seksi. Ini mengagetkan, karena sesuai AP HKBP yang berhak memilih Ketua dan Sekretaris Dewan adalah Rapat Anggota Dewan, bukan digabungkan dengan yang lainnya. Harus rapat tersendiri.

Sesuai jadual yang diberikan kepada semua pelayan tahbisan, tanggal 24 Januari 2012 adalah kebaktian awal tahun pelayan tahbisan dan keluarga (yang ini mudah memancing kecurigaan orang-orang tentang adanya agenda tersembunyi …), jadi bukan rapat penetapan pengurus. Dan aku ‘nggak bisa menghadiri rapat karena bertugas di Cianjur beberapa hari. Beberapa penatua “memaksa” agar aku bisa hadir untuk memastikan agar aku yang terpilih jadi Ketua DK. Sempat terkesan kekuatiran mereka terhadap “mau-maunya” pendeta, bahkan ada yang sempat menduga bahwa pendeta tidak setuju aku yang menjadi Ketua DK karena pendeta takut kalah populer. “Hanya yang di bawah kelasnya yang dikehendaki pendeta menjadi ketua dewan supaya bisa diaturnya sesuka-sukanya. Maklumlah, kita tahun bagaimana pendeta kita ini sekarang. Sudah lima tahun menjadi pimpinan jemaat dan kita sudah tahu kualitasnya, tapi dia merasa yang paling pintar dan paling tahu semuanya. Kita doakan sajalah supaya cepat-cepat saja dipindah dan penggantinya adalah orang yang benar-benar pantas menjadi pemimpin jemaat”.

Ada juga yang mengusulkan agar aku berkomunikasi kepada pendeta bahwa tidak bisa hadir, namun bersedia menjadi Ketua DK. Sesuatu yang tidak aku setujui karena terkesan aku “gila” jabatan. Yang aku mau adalah, benar-benar dipilih oleh peserta rapat. Lagian, berdasarkan pengalaman rapat selama ini, beberapa kali yang tidak hadirpun dapat dipilih menjadi pengurus. Bahkan suatu kali pendeta di depan peserta rapat menelepon sesorang untuk menjadi Bendahara Jemaat …

Karena memang ‘nggak punya ambisi tertentu dan ‘nggak pernah menganggap jabatan gereja sebagai pangkat yang harus diperebutkan (apalagi sampai diributkan, wah … ‘nggak pantas banget!). Dan aku juga ‘nggak bertanya kepada orang-orang tentang hasil rapatnya, sampai suatu kali ada seorang penatua yang mengirim pesan-pendek yang isinya menyampaikan bahwa beliau yang dipilih oleh peserta rapat menjadi Ketua DK. Meskipun menolak – karena merasa ‘nggak pantas – namun semua peserta memilihnya. Intinya, beliau meminta agar aku saja yang menjadi Ketua DK. Karena balasan pesan-pendek yang aku sampaikan bahwa kita semua harus tunduk pada keputusan rapat majelis, akhirnya beliau bertelepon yang intinya tetap memintaku menjadi Ketua DK. Karena sudah malam (dan di RS pula karena saat itu aku sedang membesuk ito-ku yang baru melahirkan di Cimahi) aku sampaikan untuk mengumpulkan semua anggota DK untuk mendiskusikan hal ini. Tapi, jangan aku yang mengundang.

Minggu, 29 Januari 2012 usai ibadah pagi, kami pun berkumpul di ruang Sekolah Minggu. Sebelumnya adalah rapat pemilihan pengurus kategorial kaum bapak. Pagi harinya saat bertemu dengan penatua terpilih sebagai Ketua DK, aku sampaikan bahwa pendeta harus tahu, yang dijawab beliau tidak usah. “Kita sajalah dulu yang ‘ngomong. Bagaimana hasilnya, itulah yang nanti kita sampaikan ke pendeta“.

Begitu rapat dimulai, ketua DK terpilih langsung mengarahkan agar semua bersedia memilih aku menjadi Ketua DK sekaligus meminta kesediaanku menerima jabatan Ketua DK tersebut. Segera saja aku menyela dengan mengatakan, “Ma’af, Amang Ketua. Ini adalah rapat di gereja, masa’ tidak kita buka terlebih dahulu dengan doa. Dan hari ini agendanya adalah kita berdiskusi. Seperti yang aku sampaikan melalui telepon, hari ini aku menyampaikan visi dan misi yang menurutku pas dengan Dewan Koinonia. Silakan Amang pimpin berdoa …”

Usai penyampaian presentasiku, beliau menyampaikan keinginannya kembali agar semua memilihku menjadi Ketua DK dan mempersilakan masing-masing menyampaikan pendapatnya. Dan semua yang hadir menyampaikan bahwa aku saja yang menjadi Ketua DK. Lalu, aku pun menjawab, “Kita harus realistis. Aku sekarang lebih banyak di Bandung yang sudah pasti akan terkendala dengan geografis yang sangat berpengaruh dengan pelaksanaan tugas sebagai Ketua DK. Namun, kalau kalian semua memaksa, aku tidak akan pernah menolak pelayanan di gereja. Aku meminta kesediaan Sekretaris DK sebagai penghubung aku yang ada di Bandung.” Dan semua kemudian setuju memilih beliau sebagai Sekretaris Dewan yang segera juga disanggupi. Beliau juga menyampaikan sukacitanya tentang keputusan tersebut, dan akan menyampaikan pengunduran dirinya pada sermon parhalado hari Selasa malam, 31 Januari 2012. Dan disepakati, Dewan Koinonia akan melakukan rapat pada Rabu malam, 01 Februari 2012 yang mengundang pendeta sebagai pimpinan jemaat untuk menetapkan aku sebagai Ketua DK dan beliau sebagai Sekretaris DK. Hari itu aku minta karena malam itu adalah partangiangan wejk bona taon yang dihadiri oleh semua warga jemaat, dan aku juga pas ada di Jakarta mengikuti rapat tahunan dari perusahaan. Klop-lah sudah …

Lho, Koq Jadi Begini …

Usai ibadah partangiangan bona taon di gereja, rapat DK pun dimulai di konsistori. Dihadiri oleh pendeta jemaat dan pendeta diperbantukan. Waktu membuka rapat, pendeta menyapa beliau dengan “Ketua DK”. Lalu beliau menyampaikan isi rapat kami Minggu sebelumnya bahwa DK telah menetapkan aku sebagai Ketua yang segera disela bapak pendeta yang kalimatnya ada yang membuatku geli karena terkesan dibuat-buat dan tidak konsisten, “Sebagai pemimpin jemaat, saya terkejut dengan apa yang mau kita bahas ini. Tadinya saya mengira kita akan berbicara tentang program kerja DK, karena sudah tidak relevan lagi membicarakan siapa yang menjadi ketua DK. Kita harus sepakati apa yang diputuskan oleh rapat tanggal 24 yang lalu. Saya meminta pendapat masing-masing utusan, tapi sebagai pimpinan jemaat sebaiknya kita tidak merubah keputusan lagi supaya jangan bolak-balik berganti-ganti.”.

Terpengaruh dengan “apa maunya” pak pendeta, masing-masing utusan menyampaikan pendapatnya bahwa tetaplah ketua DK terpilih menjadi ketua. ‘Nggak usah diganti lagi. Dalam hati aku merasa geli sendiri, karena ternyata semua orang sudah tidak punya pendirian lagi. Yang membuatku sempat merasa ‘nggak nyaman adalah pemahaman peserta rapat malam itu dikondisikan sebagai aku yang sangat berkeinginan menjadi Ketua DK. Bahkan ada yang mengira aku mau merebut jabatan Ketua DK karena merasa aku yang paling pantas. Duh, Tuhan …

Aku masih diam, sampai semua selesai menyampaikan pendapatnya, dan aku dipersilakan berbicara oleh pak pendeta. Aku pun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya. “Ma’af, jangan salah sangka. Pertama kali dihubungi amang ketua terpilih pun aku sudah menyampaikan bahwa kita semua harus patuh dan tunduk pada keputusan rapat pemilihan pengurus. Jangan diubah-ubah. Karena dipaksa oleh rapat Minggu lalu dan aku memahami bahwa tidak ada yang bersedia menjadi ketua, makanya aku bersedia. Itupun dengan catatan bahwa semua harus realistis dengan keterbatasan geografis kami karena tinggal di Bandung. Di jemaat HKBP yang memintaku melayani di Bandung pun aku sudah punya jadual pelayanan sebagai liturgis dan berkhotbah. Jadi, aku ‘nggak punya ambisi apalagi harus merebut menjadi ketua. Sampai tadi sebelum berangkat ke Jakarta, isteriku sudah memesankan agar aku jangan bersedia menerima jabatan ketua DK karena kami tinggal di Bandung. Membantu-bantu sajalah, kata boru ni raja i tadi. Dan pasti akan sangat senang kalau aku memang ‘nggak jadi ketua.“.

Ketua DK terpilih masih berkelit dengan mengatakan bahwa aku salah paham, yang membuatku malah menjadi heran dengan manuver yang sedang dilakukannya. Dan aku baru tahu malam itu, ternyata beliau tidak jadi menyampaikan pengunduran dirinya pada sermon parhalado Selasa malam sebelumnya. Owalah … mentalitas seperti ini ternyata masih ada menghinggapi pelayan jemaat, yang seharusnya berlaku jujur.

Diantarkan salah seorang anggota DK ke pangkalan taksi di depan Mal La Piazza, aku pun pulang ke Hotel Menara Peninsula. Di mobil yang aku tumpangi tadi, inang sintua yang memberikan tumpangan padaku menyampaikan uneg-uneg-nya, “Tak ‘ngerti aku apa maksudnya amang itu tadi. Plin plan, dan tak punya pendirian. ‘Nggak ada lagi yang berani berkata jujur, apalagi sama pendeta yang merasa dirinya paling pintar itu. Tiba-tiba saja aku tadi diajak rapat oleh amang itu. Tahu begini, ‘nggak mau aku ikut. Ada anggota DK yang ‘nggak setuju amang itu jadi ketua karena masalah perkawinan anaknya yang ‘nggak jelas, apakah sudah bercerai atau bagaimana … Namun dia ‘nggak sadar.”.

Sampai di hotel, aku sempat merenung sejenak. Berdoa pada Tuhan tentang apa yang aku alami hari itu, lalu tertidur di kursi di depan teve. Di kursi? Iya, benar di kursi. Karena dipan yang disediakan adalah single, maka aku pun merelakan untuk temanku sekamar yang dari Yogyakarta untuk menikmati tempat tidur yang cuma satu. Tapi hatiku senang, apalagi manakala ada jawaban dari mak Auli untuk pesan-pendek yang tadi aku kirimkan yang isinya menyampaikan bahwa Tuhan menjawab kerinduannya bahwa aku tidak jadi ketua DK … “Itu sudah tepat. Saatnya ada nanti”.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s