Batak! Kita Sudah Satu Abad Ternyata …

Batak, Satu Abad Perjalanan Anak Bangsa

Dr. Ir. Bisuk Siahaan

Kempala Foundation, Jakarta, 2011

468 halaman

Jujur saja, ini buku bagus. Bagus banget! Pertama kali melihatnya di toko buku jaringan nasional di Jakarta aku langsung jatuh hati. Mau beli, harganya “mahal banget” … Memang masih masuk dalam anggaran bulananku untuk beli buku, namun saat itu masih ada beberapa buku yang sudah aku pegang yang sudah membuatku jatuh hati terlebih dahulu. Ketika menimbang-nimbang dan akan memutuskan untuk membeli, ketika membuka halaman demi halamannya lebih perlahan … aku ketemu halaman 164 yang langsung membuatku kehilangan semangat untuk membelinya saat itu.

“Sabar saja, nanti pasti ada saatnya. Beli yang paling penting saja dulu …”, kata mak Auli isteriku menyabarkanku karena melihatku penuh pertimbangan saat itu.

“Tapi aku belum pernah melihat buku ini dijual di Bandung“, kataku mencoba mempertimbangkan untuk membeli. Namun, hasilnya tetap tidak membeli. Sampai beberapa lama, bahkan ketika sudah kembali ke Bandung, aku masih mengidamkan buku bagus tersebut.

Bukunya bagus dari luar dan sangat tebal. Isinya meneceritakan fase-fase kehidupan orang Batak sejak zaman prasejarah sampai dengan masa terkini. Juga dilengkapi pengetahuan tentang asal muasal Danau Toba sebagai “sentral” kehidupan masyarakat Batak. Bagi yang menyukai sejarah (seperti aku ini) pasti akan terpuaskan, apalagi dilengkapi penuh dengan gambar-gambar.

Aku sangat menyukai gambar-gambar orang Batak zaman dahulu. Di antara kesukaan pada gambar-gambar tersebut, aku melihat ada satu hal yang memprihatinkan: tidak satupun foto zaman baheula yang masih hitam putih tersebut menampilkan orang-orang Batak yang tersenyum. Selain bersedih, yang menonjol adalah tampilan kekerasan hidup yang tergambar di wajah mereka. Dan sangat kontras dengan orang-orang bule di sebelahnya. Lihatlah salah satu contohnya di bawah ini …

Meskipun demikian, ada satu foto yang membuatku bangga sehingga menjadikannya foto sampul di facebook-ku. Mudah-mudahan tidak masalah dengan izinnya …

Puji Tuhan, pada periode berikutnya – tepatnya setelah disentuh oleh kekristenan – wajah-wajah nenek moyang kita mulai terlihat tersenyum. Ada yang tertawa. Apalagi orang-orang Batak “kontemporer”,  sudah banyak yang terlihat sukacita.

Bagiku – yang sangat bangga menjadi orang Batak dan (puji Tuhan!) Kristen pula – buku ini semakin memperlengkapi pengetahuanku tentang berbagai istilah yang beberapa di antaranya mengalami pergeseran arti. Bukan hanya dalam hidup keseharian, melainkan juga berhubungan dengan kehidupan gereja. Misalnya joro yang sebelumnya diperuntukkan sebagai media untuk berhubungan dengan arwah orang yang sudah mati, kemudian bergeser menjadi bagas joro yang berarti gereja. Ada juga pengetahuan yang baru, ternyata orang Batak zaman dulu sudah mengenal konsep tritunggal, yakni Debata na Tolu,  yakni adanya tiga “oknum” ketuhanan.

Banyak lagi hal-hal lain. Aku sarankan untuk mengoleksi buku ini. Bagus untuk pengetahuan pribadi, dan juga dibagikan dan atau diwariskan kepada anak cucu (sebagaimana disampaikan penulis pada halaman iii: “untuk anak dan cucu di Parserahan“). Putriku si Auli juga aku persilahkan membaca buku ini untuk mengenal Batak yang sudah “terlanjur” melekat pada dirinya.

Bagaimana akhirnya buku ini bisa aku peroleh? Saat ulang tahunku yang lalu! Sudah aku jadikan tradisi sejak dipercayakan jadi pemimpin kantor di Bandung di sini untuk menghadiahkan buku pada setiap momen penting, misalnya ulang tahun, perpindahan tugas, dan lain-lain. Nah, ketika ulang tahunku yang lalu, ternyata anak buahku menghadiahkan buku ini kepadaku. Dan itu membuatku terharu manakala menerimanya, dan aku sampaikan rasa terima kasih dan penghargaanku pada mereka yang tahu apa yang menjadi kerinduanku.

Di rumah, mak Auli kaget dan tersenyum gembira manakala aku membawa buku hadiah tersebut ke rumah (sekaligus memintanya untuk menyampul rapi …): “Benar. ‘kan pa yang aku bilang, sabar saja. Pasti ada saja jalan untuk mendapatkannya. Tuhan mendengar permohonan papa dan mendapat buku yang bagus ini …”. Aku hanya tersenyum dan mengamini ucapannya.

Oh, ya … apa sebenarnya isi halaman 164 yang sempat membuatku “kehilangan gairah” tersebut? Begini, pada halaman tersebut dicantumkan beberapa pejabat HKBP, persisnya Eforus dan Sekjen, dan di antaranya tertulis “Pdt. Dr. J. R. Hutauruk Ephorus HKBP 2004-2012″ dengan wajah tersenyum di sebelah foto Dr. SAE Nababan yang terlihat sangat semangat berpidato (atau berkhotbah?). Saking ‘nggak percayanya aku dengan yang tertulis, aku sempat bertanya kepada mak Auli: “Sekarang tahun 2012, ‘kan? Siapa Eforus HKBP sekarang? Bukan lagi Dr. J. R. Hutauruk, ‘kan?”

Sayang sekali … Semoga tidak membuat orang-orang mengurungkan niat untuk membelinya karena kesalahan “kecil” ini. Rugi juga sih sebenarnya kalau sampai tidak mengoleksi buku yang bagus seperti ini. “Gangguan” foto-foto berwarna yang lumayan banyak menyita isi buku yang menampilkan “keluarga-keluarga yang belum tentu dikenal oleh banyak orang” tanpa penjelasan yang memadai menjelang akhir buku, dan urutan yang kadangkala tidak ‘nyambung, masih bisalah tergantikan dengan hal-hal yang bagus lainnya di halaman-halaman sebelumnya …

Horas ma halak hita! Nunga saratus taon hape hita on, bo …!

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s