Andaliman – 196 Khotbah 23 September 2012 Minggu-XVI setelah Trinitatis

Menjadi Seperti Anak Kecil untuk Menjadi yang Terbesar. Jadilah Pelayan Tuhan walau Hidup (Kadangkala) Tidak Nyaman

 

Nas Epistel:  Markus 9:30-37

9:30 Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang;

9:31 sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.”

9:32 Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.

Siapa yang terbesar di antara para murid

9:33 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?”

9:34 Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.

9:35 Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”

9:36 Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka:

9:37 “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.”

Nas Evangelium: Yeremia 11:18-23 (bahasa Batak: Jeremia)

11:18 TUHAN memberitahukan hal itu kepadaku, maka aku mengetahuinya; pada waktu itu Engkau, TUHAN, memperlihatkan  perbuatan  mereka kepadaku.

11:19 Tetapi aku dulu seperti anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih, aku tidak tahu bahwa mereka mengadakan persepakatan jahat terhadap aku: “Marilah kita binasakan pohon ini dengan buah-buahnya ! Marilah kita melenyapkannya dari negeri orang-orang yang hidup, sehingga namanya tidak diingat  orang lagi !”

11:20 Tetapi, TUHAN semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku.

11:21 Sebab itu beginilah firman TUHAN tentang orang-orang Anatot yang ingin mencabut nyawaku dengan mengatakan: “Janganlah bernubuat demi nama TUHAN, supaya jangan engkau mati oleh tangan kami!” –

11:22 Sebab itubeginilah firman TUHAN semesta alam: “Sesungguhnya, Aku akan menghukum mereka: pemuda-pemuda mereka akan mati oleh pedang, anak-anak mereka yang laki-laki dan perempuan akan habis mati kelaparan;

11:23 tidak ada yang tinggal hidup di antara mereka, sebab Aku akan mendatangkan malapetaka kepada orang-orang Anatot pada tahun hukuman mereka.”  

Seperti Minggu lalu, nas perikop Minggu ini – baik Ep maupun Ev – masih berbicara tentang bekal sebagai pelayan. Tentu saja relevan buatku (yang adalah pelayan jemaat), buatmu (yang mungin juga pelayan atau warga jemaat biasa), buat kita semualah, dan semua orang percaya.

Selama hidupnya di dunia, Yesus banyak menghabiskan waktunya dengan mengajar banyak orang dan berkunjung ke banyak tempat. Agar lebih fokus – tidak terganggu oleh orang banyak yang sangat ingin memaksa Yesus sebagai raja (duniawi) yang akan membebaskan mereka dari penjajahan Roma – tercatat empat kali Yesus harus menyingkirkan diri. Selain orang banyak pada umumnya, Yesus juga mengajar murid-murid sebagai bekal agar mereka lebih memahami ajaran-Nya, kematian-nya, kebangkitan-Nya, dan siap melanjutkan pelayanan setelah Yesus pergi ke sorga. Walau murid-murid adalah orang yang lambat cara berpikirnya (sama kayak aku juga, kadang-kadang …), namun dalam perikop yang jadi nas Ep Minggu ini terlihat mereka mulai “besar kepala”. Lihatlah, mereka mulai mengukur-ukur (bertengkar, kata beberapa referensi) siapa di antara mereka yang paling besar. Godaan yang juga terjadi pada pelayanan jemaat masa kini, ya? Bukan supaya memirip-miripkan diri pada murid-murid Yesus, akupun acapkali tergoda untuk membanding-bandingkan diriku dan pelayananku kepada hamba Tuhan yang lainnya. Malu-maluin, ya?

Dan Yesus tahu (namanya juga Tuhan, tentulah serba tahu, ya …) apa yang dibahas oleh murid-murid-Nya, lalu bertanya (untuk menguji hati mereka …). Semua terdiam. Mulai merasa malu kelihatannya …

Lalu Yesus menyampaikan ajaran prinsip tentang pelayan dan pelayanan: dahulukanlah orang lain, layanilah orang lain. Kesediaan untuk menjadi yang terkecil, itulah yang terbesar! Untuk lebih memantapkan pemahaman murid-murid, Yesus membawa seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah kumpulan sambil mengatakan bahwa siapa yang bersedia menyambut seorang anak kecil (yang menggambarkan kepolosan hati, lemah, tidak punya kuasa) itu sama dengan menyambut Yesus, dan yang menyambut Yesus berarti menyambut Allah Bapa yang mengutus-Nya. Begitulah yang diminta kepada orang-orang percaya: menyambut firman Tuhan dengan kepolosan (pengakuan bahwa dirinya tidak ada apa-apanya), sebagai orang yang tidak punya kuasa (pengakuan bahwa hanya mengandalkan kekuatan dan kuasa Tuhan sematalah pelayanan bisa berjalan dengan baik).

Penyambutan pelayan dan pelayanan? Itulah tantangan yang dialami oleh nabi Yeremia dalam nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini. Dia sendiri diburu, dianiaya, dicela, dan diancam bunuh oleh orang-orang sekampungnya sendiri yakni Anatot. Sama dengan pengalaman Yesus, ‘kan? Tidak diakui di kampung halamannya sendiri! Karena apa? Karena ajaran yang disampaikan dan pemberitaannya! Begitulah, tidak semua orang suka mendengar kebenaran (apalagi kalau bukan kebenaran versi dirinya sendiri). Sekadar intermeso, usai Sinode Godang seorang penjabat yang sangat ambisius untuk mempertahankan jabatannya (setelah kalah “bertarung” untuk jabatan lain yang lebih tinggi …) ‘ngedumel di facebook yang kira-kira mengatakan bahwa begitulah sulitnya yang dihadapinya karena banyak orang berani mengatakan ketidakbenaran yang tidak diketahuinya sehingga banyak sinodistan yang terjebak …   

Susah memang menjadi penyampai kebenaran. Apalagi kebenaran yang disampaikan berbeda dengan kebenaran yang diakui oleh orang-orang sebelumnya. Bisa malah jadi sebaliknya, menjadi tuduhan menghujat. Aku mengalaminya, dan terjadinya di lingkungan gereja. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa gereja adalah komunitas yang benar-benar steril. Tidak!

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Kalau gereja saja tidak steril, maka jangan berharap pula bahwa dunia “sekular” adalah steril. Tidak! (lagi, ma’af dengan tanda seru …). Hampir tidak ada bedanya, bahkan Gereja seringkali lebih memprihatinkan. Bisa dibayangkan kalau firman Tuhan dipakai menjadi alasan pembenaran dari ketidakbenaran yang benar-benar ketidakbenaran. Bingung, ‘kan?

Ya, sudahlah. Yang penting kita punya teladan yang layak ditiru dan dijadikan model. Siapa lagi kalau bukan junjungan kita: Yesus Kristus. Nas Ev memberikan kekuatan kepada kita – baik sebagai pelayan maupun warga jemaat biasa – Yeremia 11:20 yang mengatakan: “Tetapi, TUHAN semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku.”. Jadi, pembalasan datangnya dari Tuhan, karena hanya Beliau sajalah yang berhak atas pembalasan. Bukan hak kita – yang hanyalah manusia yang terdiri dari debu – jadi jangan “sok-sokan” …

Yang penting: kerjakan pelayanan dengan segala kerendahan hati, kuat menahan penderitaan yang ditimbulkan oleh pelayanan tersebut tanpa harus ikut-ikutan membuat penderitaan bagi orang lain (dan diri sendiri juga …) dengan tidak melakukan pembalasan dan penghukuman, dan jangan lupa: fokus pada Kristus!

About these ads

One comment on “Andaliman – 196 Khotbah 23 September 2012 Minggu-XVI setelah Trinitatis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s