Andaliman – 202 Khotbah 04 November 2012 Minggu-XXII Setelah Trinitatis

Tuhan Itu Esa, Tuhan Itu Satu! Kasihilah Tuhan dan Sesama Manusia, dengan Sepenuh Hati !

Nas Epistel:  Ulangan 6:1-9 (bahasa Batak 5 Musa 6:1-9)

6:1 “Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya,

6:2 supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu.

6:3 Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.

6:4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!

6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.

6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, 6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.

6:8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,

6:9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.  

Nas Evangelium: Markus 12:28-34

Hukum yang terutama

12:28 Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?”

12:29 Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.

12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. 12:31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” 12:32 Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.

12:33 Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.”

12:34 Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. 

Waktu masih kuliah di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta beberapa tahun yang lalu, satu di antara banyak hal perdebatan yang sengit di kalangan kami mahasiswa yang berasal dari berbagai denominasi gereja adalah tentang keesaan Allah. Semua sepakat bahwa Tuhan itu esa alias satu, namun waktu aku tanyakan: “Kalau begitu, Tuhan yang kita sembah sama dong dengan yang disembah umat beragama lain, Islam misalnya?”, suasananya seketika berubah. Apalagi manakala seorang mahasiswa yang berasal dari gereja karismatis yang mengatakan bahwa mereka hanya menyembah Yahweh (yang terkesan berbeda dengan Tuhan dan atau Allah …), maka semakin serulah perdebatan. Tentu saja membuatku menjadi terheran-heran, lha ‘gimana wong mahasiswa pasca-sarjana sekolah tinggi teologi aja masih berbeda pendapat tentang satunya Allah … Padahal, Alkitab sudah jelas-jelas mengatakan bahwa Tuhan itu satu dan Dia-lah satu-satunya yang layak disembah …

Begitu juga waktu aku memimpin diskusi di partangiangan wejk, warga jemaat ada yang protes keras karena aku mengatakan bahwa Tuhan kita satu sehingga semua penyembah Tuhan memiliki Tuhan yang sama. “Ah, saya hanya mau menyembah Tuhan orang Kristen, si tolu sada, saya ‘nggak mau dan ‘nggak setuju kalau dikatakan Tuhan orang Kristen sama dengan Tuhan orang Islam juga. Jangan dikacaukan iman kepercayaan kami, sintuanami!”. 

Tanggapan seperti itu jugalah yang aku lontarkan pertama kali “diguncang” dengan prinsip keesaan Allah ini (monoteisme, istilah yang lazim digunakan) di bangku kuliah beberapa tahun yang silam. Aku protes kalau dikatakan Tuhan orang Kristen sama dengan Tuhan agama lain. Aku tak rela!, hehehe … Namun dengan perenungan yang mendalam dan dituntun oleh Tuhan melalui firman-Nya aku menjadi yakin  bahwa Tuhan itu adalah satu. Kenapa ada perbedaan? Itu disebabkan oleh pemahaman bangsa yang pertama kali menerima wahyu tersebutlah yang menjadi penyebabnya sehingga ada agama-agama yang berbeda dengan perbedaan yang diajarkannya (selain banyak persamaan yang disampaikannya juga …). Perlu diingat pula, bahwa agama adalah buatan manusia, dan bukan agama pula yang menyelamatkan sehingga manusia masuk surga. Latar belakang orang-orang zaman dulu tentu saja mempengaruhi konsep pemahamannya tentang Tuhan. Dan itulah yang memperkaya keberagaman cara menyembah Tuhan. Orang Batak sekarang ini saja bisa berbeda (walaupun sangat sedikit …) tentang pemahaman iman kristiani dengan suku bangsa lain, bahkan dengan sesama Batak sendiri pun (apalagi bila mereka sudah tidak mar-HKBP lagi alias sudah ke karismatis …).   

Nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini merupakan perintah Allah melalui Musa tentang hukum mematuhi Allah dan mengingatkan bangsa Israel untuk menyembah hanya Allah yang satu. Bagian ini sering kali disebut sebagai “shema” (bahasa Ibrani shama = mendengar). Bagian ini sangat dikenal orang Yahudi pada zaman Yesus karena diucapkan setiap hari oleh orang Yahudi yang saleh dan secara tetap dalam kebaktian di sinagoge. Shema ini merupakan pernyataan terbaik tentang kodrat monoteistis Allah. 

Supaya lebih mantap (bila masih ragu karena mengira bahwa pernyataan tersebut hanya dicantumkan di Perjanjian Lama), nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini juga mengutip ucapan Yesus tentang keesaan Allah: “… Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.” (ayat 29). Jadi, kalau Yesus juga sudah mengatakannya, tentulah kita juga ‘nggak perlu ragu lagi untuk meyakininya, ya …

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Perlunya pemahaman tentang satunya Allah yang kita sembah (dan yang juga disembah oleh umat manusia di dunia ini, apapun agamanya!) sangat kita butuhkan, khususnya dalam melaksanakan hukum yang utama dan terutama untuk mengasihi Allah dan sesama manusia. Kita harus memahami bahwa sebagai sesama ciptaan Tuhan (yang memerintahkan untuk mengasihi-Nya dan juga manusia lainnya) maka kita harus menghindari fanatisme yang sempit untuk hanya mengasihi sesama orang Kristen. Oh ya, fanatisme yang sempit ini berpotensi kepada hal yang lebih buruk bahwa kita hanya perlu mengasihi sesama warga HKBP, sesama satu wejk, sesama orang Batak, sesama marga, sesama keluarga satu ompung,  sesama satu ayah-ibu, … wah, lihatlah … ini semakin menjauhkan kita dari prinsip yang diajarkan oleh Yesus dengan memberikan ilustrasi tentang orang Samaria yang baik hati, ‘kan?

Orang Israel (yang beragama Yahudi) sampai sekarang masih sangat taat untuk mengikatkan firman (setelah dimasukkan dalam kotak kecil berupa potongan kertas) pada lengannya dan tanda pada dahinya (secara harafiah sebagaimana orang Yahudi yang sangat legalistik) dan pada pintu masuk rumahnya. Bagi kita saat ini salah satu cara utama untuk mengungkapkan kasih kepada Allah ialah mempedulikan kesejahteraan rohani anak-anak kita dan berusaha menuntun mereka kepada hubungan yang setia dengan Allah (sebagaimana disampaikan dalam salah satu rujukan), melalui:

(1)   Pembinaan rohani anak-anak, seharusnya merupakan perhatian utama semua orang-tua

(2)   Pengarahan rohani harus berpusat di rumah, dan melibatkan ayah dan ibu. Pengabdian kepada Allah di dalam rumah tangga wajib dilakukan; hal itu adalah perintah langsung dari Tuhan.

(3)   Tujuan dari pengarahan oleh orang-tua ialah mengajar anak-anak untuk takut akan Tuhan, berjalan pada jalan-Nya, mengasihi dan menghargai Dia, serta melayani Dia dengan segenap hati dan jiwa.

(4)   Orang percaya harus dengan tekun memberikan kepada anak-anaknya pendidikan yang berpusatkan Allah di mana segala sesuatu dihubungkan dengan Allah dan jalan-jalan-Nya.   

Dan semua itu dilakukan setiap hari, dan berulang-ulang, dan melalui teladan kita selaku orang tua. Perlu pula diingat dan dicamkan, bahwa patuh pada perintah Tuhan adalah suatu keharusan, bukan pilihan. Dan kebaikan akan selalu menyertai kita dalam menjalani kehidupan ini. “Tidak jauh dari kerajaan Allah“, sebagaimana disampaikan oleh Yesus kepada orang Farisi yang bijaksana tersebut pada ayat terakhir (Markus 12:34). Apalagi upah yang lebih baik daripada itu? Bukankah kita harusnya lebih baik daripada orang Farisi yang seringkali digambarkan secara negatif dalam Alkitab? 

Belajar dari Rangkaian Acara Pengebumian Mertua (2): Awas Hula-Hula Palsu!

Ma’af, bukan mau menyombongkan diri. Bukan pula mau menunjukkan “ke-kami-an” bila aku harus menampilkan guntingan iklan di koran Sinar Indonesia Baru (koran terbitan Medan yang lebih dikenal dengan “SIB”) untuk memberitahukan kepada keluarga, kerabat, dan handai tolan tentang berita kematian mertua laki-laki. Oh ya, di baris paling bawahnya tertulis dalam bahasa Batak yang berarti “… ini adalah juga pemberitahuan kepada keluarga dekat dan hula-hula kami yang mengasihi kami.”.

Dari sinilah cerita ini bermula: koran SIB (koran yang banyak memuat berita tentang Batak dan kampung halaman, yang mertua pun berlangganan koran ini hanya untuk mengetahui berita bona pasogit karena bila mencari info terkini yang lebih bermutu sudah banyak media lain …), dan hula-hula. Tulisan ini pun lebih terpicu oleh adanya pesan facebook dari situs gobatak (yang belakangan ini suka aku ikuti untuk menambah pengetahuan tentang habatahon dan mendengarkan lagu-lagu Batak) tentang mulai seringnya terjadi “hula-hula palsu” di pesta orang Batak.  

Berdasarkan pengalaman saat upacara pemberangkatan mayat leluhur (paborhathon natua-tua tu inganan parsatongkinan) yakni ompung kami pada tahun lalu, utamanya ketika manortor menghormati hula-hula (kerabat dari pihak perempuan sesuai konsep dalihan na tolu yang umumnya menempati posisi yang sangat khusus sehingga pada saat saweran uang jumlahnya lebih banyak disematkan ke jari-jari tangan yang manortor), beberapa orang menyampaikan keheranannya: “Koq ada di antara yang manortor tadi tidak aku kenal, ya? Padahal seharusnya semua keluarga yang jadi rombongan kita adalah keluarga dekat kita, masak aku ‘nggak kenal? Aneh juga …”. Kecurigaan merebak, dan dugaan adalah: ada orang yang sebenarnya bukan keluarga, namun ikut rombongan manortor untuk mengharapkan saweran uang. Ikut rombongan hula-hula karena biasanya uang yang disematkan di jari oleh pihak keluarga yang menjadi tuan rumah (suhut bolon) jumlahnya lebih besar dibandingkan yang diberikan kepada rombongan lain. Itulah yang belakangan disebut dengan “hula-hula palsu”. Sebenarnya dia ‘nggak punya hubungan dengan pihak keluarga yang menyelenggarakan pesta dan atau upacara adat, namun selalu ikut rombongan hula-hula untuk mendapatkan uang saweran yang banyak.

Kebanggaan pada diri orang Batak bila banyak orang yang datang menghadiri pestanya juga salah satu yang menanamkan benih ini. Apalagi sekarang dengan banyaknya anggota keluarga yang merantau jauh sehingga tidak begitu mengenal lagi keluarga dan kerabat dekat orang tuanya sehingga pada saat manortor semua yang ikut (dan banyak pula orangnya …) mendatangkan sukacita bagi keluarga yang menjadi suhut bolon. Inilah satu keprihatinan terhadap generasi muda Batak saat ini. Yang lebih memprihatinkan adalah oknum-oknum orang Batak yang mencari uang dengan “rela” menjadi hula-hula palsu seperti ini, suatu hal  yang sangat jauh dari karakter orang Batak yang sangat menjunjung kehormatan dan harga diri … 

Meskipun kecurigaan akan hula-hula palsu ini selalu muncul pada setiap penyelenggaraan upacara adat di keluarga kami, namun semuanya masih bisa menoleransi: “Ya sudahlah kalau begitu, biarin saja … ‘nggak sering koq kita bikin pesta. Anggap sajalah cara kita memberi kepada orang yang membutuhkan. Juga supaya bertambah orang yang bersukacita. Lagian, siapa yang masih punya kesempatan memperhatikan satu per satu anggota rombongan yang datang manortor? Siapa pula kita yang kenal sama semua anggota rombongan keluarga orang tua kita?”. Begitulah beberapa pernyataan secara umum dari keluarga tentang hal ini.

Pada acara partuathon sebagai rangkaian upacara pengebumian mertua laki-laki ini memang banyak sekali yang datang (jika memperhitungkan dari jumlah makanan yang dipesan dan terbagi dengan baik ke semua orang, diperkirakan ada dua ribu orang yang hadir). Dan memang kami sangat bangga, karena berarti banyak orang yang memberikan “penghormatan terakhir” kepada almarhum mertua. Dan kegiatan panortoran pun berjalan dengan meriah. Ruang tamu keluarga yang sudah dimodifikasi sejak tahun lalu sebagai antisipasi kegiatan seperti ini pun masih ‘nggak cukup untuk menampung banyaknya anggota rombongan yang manortor. Selain berdesakan di pintu, seringkali pula kami suhut bolon harus mendatangi anggota rombongan yang ada di halaman.

Nah, setelah usai acara partuathon, dibarengi minum kopi untuk melepas lelah sejenak, aku pun ‘ngobrol dengan dongan sahuta yang sangat membantu pelaksanaan upacara adat ini. Dan ada satu orang yang dulu adalah kawanku di lingkungan rumah mertua di Medan itu sejak sama-sama ikut Sekolah Minggu. Mamaknya sintua, dan bapakku juga sintua di jemaat yang sama. Setiap kali aku pulang ke Medan dan beribadah di gereja tersebut, pastilah bertemu dengan orang ini. Latar belakang kehidupannya dan saudara kandungnya yang banyak di kalangan “pasaran” menjadikannya cocok untuk dimintai tolong “mengamankan” acara pesta dan adat seperti ini. Saat minum kopi itulah aku baru tahu ternyata ada “kehebohan” tadi.

“Itulah, lae. Ada dua orang yang tertangkap tadi hula-hula palsu itu”, katanya membuka cerita yang sekaligus menunjukkan perannya dalam mengatasi masalah. 

“Masih ada juga, ya?”, kataku menanggapi.

“Bah, semakin banyak sekarang ini orang mencari makan dan cari kesempatan dengan jadi hula-hula palsu”, lalu menceritakan beberapa kasus yang terjadi di beberapa pesta.“Waktu aku tangkap dan sebelum kami serahkan ke polisi untuk diproses, di tangannya masing-masing ada uang tiga ratus ribu lebih yang sudah berhasil didapatnya. Sempat tadi dia minta ma’af dan minta untuk berdamai saja, tapi paribannya lae bilang tetap harus dibawa ke polisi supaya jera“. 

“Dari mana mereka tahu untuk datang ke pesta dan jadi hula-hula palsu?”, tanyaku mulai tertarik.

“Dari koran SIB-lah, lae. ‘Kan cuma ada di situ kalau ada berita orang Batak yang mati. Lalu dia lihat keluarga yang meninggal si paradongan atau tidak. ‘Nggak mungkin mereka jauh-jauh datang dari Mandala kalau ‘nggak memperhitungkan berapa nanti uang yang akan didapat. Tadi aku tanya dua-duanya, lae dan dibilang kek gitu samaku makanya aku tahu”, katanya menjelaskan panjang lebar dengan ekspresi mantap selaku orang yang paling banyak tahu dengan gaya khas Medan-nya.

“Oh, gitu … Terus, dari mana lae tahu koq bisa langsung menduga dan mencurigai hula-hula palsu itu?”, kataku penasaran.

“Ah, lae ini … bikin aku malu aja. Dari pengalaman sendirilah, lae. Aku dulu ‘kan seperti itu juga …”, jawabnya dengan sedikit tersipu.

Bah! Patutlah, kataku dalam hati. Ada-ada saja …

 

Andaliman – 201 Khotbah 28 Oktober 2012 Minggu-XXI Setelah Trinitatis

Air Mata Kemarin dan Hari Ini, Pengharapan akan Sukacita Besok!

Nas Epistel:  Mazmur 126:1-6 (bahasa Batak Psalmen)

Pengharapan di tengah-tengah penderitaan

126:1 Nyanyian ziarah. Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi.

126:2 Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: “TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!”

126:3 TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita. 126:4 Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb!

126:5 Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.

126:6 Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.  

Nas Evangelium: Yeremia 31:7-9

31:7 Sebab beginilah firman TUHAN: Bersorak-sorailah bagi Yakub dengan sukacita, bersukarialah tentang pemimpin bangsa-bangsa! Kabarkanlah, pujilah dan katakanlah: TUHAN telah menyelamatkan umat-Nya, yakni sisa-sisa Israel! 31:8 Sesungguhnya, Aku akan membawa mereka dari tanah utara dan akan mengumpulkan mereka dari ujung bumi; di antara mereka ada orang buta dan lumpuh, ada perempuan yang mengandung bersama-sama dengan perhimpunan yang melahirkan; dalam kumpulan besar mereka akan kembali ke mari!

31:9 Dengan menangis mereka akan datang, dengan hiburan Aku akan membawa mereka; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, di jalan yang rata, di mana mereka tidak akan tersandung; sebab Aku telah menjadi bapa Israel, Efraim adalah anak sulung-Ku.     

Too good to be true, adalah ungkapan yang beberapa kali aku dengar. Biasanya dipakai oleh beberapa kawan yang pergi dan pindah ke perusahaan lain dalam mengekspresikan betapa jauh lebih baik yang didapatkan di perusahaan yang baru daripada yang diperoleh selama ini. Selain itu, kalimat tersebut juga diungkapkan untuk sesuatu hasil pekerjaan yang sangat bagus yang tidak terbayangkan sejak semula. Terlalu bagus untuk jadi kenyataan, itulah artinya.

Hal yang samalah yang diekspresikan oleh bangsa Israel ketika membayangkan keadaannya bebas dari pembuangan Babel. “…keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi”, demikianlah ungkapan yang dipakai oleh pemazmur dalam ayat 1 nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini. Tidak terbayangkan oleh mereka yang sedang terbuang dan dijajah oleh bangsa Babel yang penuh dengan penderitaan. Mereka berteriak kepada Tuhan untuk memulihkan, karena pengharapan hanya diletakkan pada kemurahan hati Tuhan yang mampu melakukan perkara-perkara besar. Manusia ‘nggak bakal mampu melakukannya. Negeb yang adalah gurun pasir (melambangkan ketandusan hidup) dengan serta-merta diubahkan menjadi tanah yang subur dengan air yang melimpah. 

Pengharapan. Itulah yang menjadi bekal dalam menghadapi penderitaan dan hal-hal yang sulit dalam hidup. Yang menabur benih dengan air mata (artinya melakukan perbuatan baik dan terpuji walaupun dengan penuh pengorbanan) pada saatnya akan menuai dengan bersorak sorai (artinya akan mendapatkan hasil yang menyukacitakan). Jargon in sering dipakai dalam dunia penginjilan untuk mengungkapkan betapa sulitnya dalam menghadapi tantangan saat mengabarkan firman Tuhan, namun jika dijalankan dalam suasana hati yang penuh sukacita maka saatnya akan tiba manakala melihat semakin banyak orang-orang yang diselamatkan.

‘Nggak jauh berbeda dengan pengalaman kami satu keluarga besar yang dibesarkan oleh orangtua dengan penghasilan pas-pasan. Kegigihan orangtua kami dalam membesarkan kami dengan bersekolah sampai di perguruan tinggi – yang seringkali berpikir keras untuk mendapatkan hutangan manakala tiba saatnya untuk membayar uang sekolah – tentu saja dengan bercucuran air mata (ini bisa difahami dalam arti kiasan maupun arti yang sebenarnya …) tentu dengan keyakinan dan pengharapan bahwa kehidupan kami anak-anak mereka akan menjadi lebih baik daripada kehidupan mereka saat itu. Terpujilah Tuhan dengan doa yang tulus dan terus-menerus, Tuhan memberkati kerja keras mereka sehingga kami bisa bersekolah dan hidup lebih baik secara umum. Jika dengan logika semata, sudah pasti ‘nggak bakalan masuk hitung-hitungannya … 

Tuhan menjanjikan kehidupan yang menyukacitakan, itu juga yang ingin disampaikan oleh Yeremia melalui nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini. Yang semula bersedih dan mencucurkan air mata, pada saatnya akan diubahkan dan terhibur dengan berkat yang dilimpahkan. Syaratnya: menjadikan Tuhan sebagai bapak alias pemimpin dalam kehidupan.  

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Mazmur yang sedang kita bicarakan ini adalah satu bagian dari apa yang sering disebutkan dengan “nyanyian ziarah” atau “nyanyian pendakian”. Disebutkan demikian karena mengisahkan perjalanan bangsa Israel dari pembuangan menuju Yerusalem, tanah kelahiran. “Mendaki”, karena diibaratkan sedang berjuang untuk meraih penghidupan yang lebih baik (mendaki tentunya ke tempat yang lebih tinggi, ‘kan?) setelah melalui jalan yang terjal (harus melalui tantangan dan kesulitan yang luar biasa). Ada juga unsur kekecewaan di dalamnya sebagaimana yang mereka alami yang memang berulangkali kecewa karena tidak selalu sesuai dengan harapan mereka (yang memang cenderung lebih bersifat kedagingan).

‘Nggak jauh berbeda dengan kehidupan kita juga, ‘kan? Hidup kita ini adalah ‘nggak jauh berbeda dengan orang yang melakukan ziarah alias perjalanan yang sangat jauh. Sepanjang apapun umur kita, pada akhirnya akan berhenti, dan tiba pada satu titik. Sebagai orang percaya, tentulah kita mengharapkan agar tiba di “Yerusalem yang baru” (bukan Yerusalem yang dituju oleh orang Israel pada masa Perjanjan Lama ini, ya …). Selama melakukan “perjalanan” tentu saja kita mengalami berbagai macam peristiwa. Suka dan duka bergantian, ada juga kecewa, kegagalan, frustrasi, dan lain-lain.

Nah, perikop ini mengingatkan kita: jadikanlah Tuhan sebagai pemimpin. Air mata yang banyak bercucuran selama ini dan selama kita hidup anggaplah itu sebagai air yang akan membasahi tanah yang kering untuk menyuburkan gurun pasir dari hati kita yang kering dan tandus dengan selalu berharap kepada Tuhan. Dan pada saatnya, kita akan beroleh penghiburan dan sukacita sebagaimana yang dijanjikan oleh Tuhan yang selalu menyertai kita dalam kehidupan.