Andaliman – 201 Khotbah 28 Oktober 2012 Minggu-XXI Setelah Trinitatis

Air Mata Kemarin dan Hari Ini, Pengharapan akan Sukacita Besok!

Nas Epistel:  Mazmur 126:1-6 (bahasa Batak Psalmen)

Pengharapan di tengah-tengah penderitaan

126:1 Nyanyian ziarah. Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi.

126:2 Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: “TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!”

126:3 TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita. 126:4 Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb!

126:5 Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.

126:6 Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.  

Nas Evangelium: Yeremia 31:7-9

31:7 Sebab beginilah firman TUHAN: Bersorak-sorailah bagi Yakub dengan sukacita, bersukarialah tentang pemimpin bangsa-bangsa! Kabarkanlah, pujilah dan katakanlah: TUHAN telah menyelamatkan umat-Nya, yakni sisa-sisa Israel! 31:8 Sesungguhnya, Aku akan membawa mereka dari tanah utara dan akan mengumpulkan mereka dari ujung bumi; di antara mereka ada orang buta dan lumpuh, ada perempuan yang mengandung bersama-sama dengan perhimpunan yang melahirkan; dalam kumpulan besar mereka akan kembali ke mari!

31:9 Dengan menangis mereka akan datang, dengan hiburan Aku akan membawa mereka; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, di jalan yang rata, di mana mereka tidak akan tersandung; sebab Aku telah menjadi bapa Israel, Efraim adalah anak sulung-Ku.     

Too good to be true, adalah ungkapan yang beberapa kali aku dengar. Biasanya dipakai oleh beberapa kawan yang pergi dan pindah ke perusahaan lain dalam mengekspresikan betapa jauh lebih baik yang didapatkan di perusahaan yang baru daripada yang diperoleh selama ini. Selain itu, kalimat tersebut juga diungkapkan untuk sesuatu hasil pekerjaan yang sangat bagus yang tidak terbayangkan sejak semula. Terlalu bagus untuk jadi kenyataan, itulah artinya.

Hal yang samalah yang diekspresikan oleh bangsa Israel ketika membayangkan keadaannya bebas dari pembuangan Babel. “…keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi”, demikianlah ungkapan yang dipakai oleh pemazmur dalam ayat 1 nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini. Tidak terbayangkan oleh mereka yang sedang terbuang dan dijajah oleh bangsa Babel yang penuh dengan penderitaan. Mereka berteriak kepada Tuhan untuk memulihkan, karena pengharapan hanya diletakkan pada kemurahan hati Tuhan yang mampu melakukan perkara-perkara besar. Manusia ‘nggak bakal mampu melakukannya. Negeb yang adalah gurun pasir (melambangkan ketandusan hidup) dengan serta-merta diubahkan menjadi tanah yang subur dengan air yang melimpah. 

Pengharapan. Itulah yang menjadi bekal dalam menghadapi penderitaan dan hal-hal yang sulit dalam hidup. Yang menabur benih dengan air mata (artinya melakukan perbuatan baik dan terpuji walaupun dengan penuh pengorbanan) pada saatnya akan menuai dengan bersorak sorai (artinya akan mendapatkan hasil yang menyukacitakan). Jargon in sering dipakai dalam dunia penginjilan untuk mengungkapkan betapa sulitnya dalam menghadapi tantangan saat mengabarkan firman Tuhan, namun jika dijalankan dalam suasana hati yang penuh sukacita maka saatnya akan tiba manakala melihat semakin banyak orang-orang yang diselamatkan.

‘Nggak jauh berbeda dengan pengalaman kami satu keluarga besar yang dibesarkan oleh orangtua dengan penghasilan pas-pasan. Kegigihan orangtua kami dalam membesarkan kami dengan bersekolah sampai di perguruan tinggi – yang seringkali berpikir keras untuk mendapatkan hutangan manakala tiba saatnya untuk membayar uang sekolah – tentu saja dengan bercucuran air mata (ini bisa difahami dalam arti kiasan maupun arti yang sebenarnya …) tentu dengan keyakinan dan pengharapan bahwa kehidupan kami anak-anak mereka akan menjadi lebih baik daripada kehidupan mereka saat itu. Terpujilah Tuhan dengan doa yang tulus dan terus-menerus, Tuhan memberkati kerja keras mereka sehingga kami bisa bersekolah dan hidup lebih baik secara umum. Jika dengan logika semata, sudah pasti ‘nggak bakalan masuk hitung-hitungannya … 

Tuhan menjanjikan kehidupan yang menyukacitakan, itu juga yang ingin disampaikan oleh Yeremia melalui nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini. Yang semula bersedih dan mencucurkan air mata, pada saatnya akan diubahkan dan terhibur dengan berkat yang dilimpahkan. Syaratnya: menjadikan Tuhan sebagai bapak alias pemimpin dalam kehidupan.  

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Mazmur yang sedang kita bicarakan ini adalah satu bagian dari apa yang sering disebutkan dengan “nyanyian ziarah” atau “nyanyian pendakian”. Disebutkan demikian karena mengisahkan perjalanan bangsa Israel dari pembuangan menuju Yerusalem, tanah kelahiran. “Mendaki”, karena diibaratkan sedang berjuang untuk meraih penghidupan yang lebih baik (mendaki tentunya ke tempat yang lebih tinggi, ‘kan?) setelah melalui jalan yang terjal (harus melalui tantangan dan kesulitan yang luar biasa). Ada juga unsur kekecewaan di dalamnya sebagaimana yang mereka alami yang memang berulangkali kecewa karena tidak selalu sesuai dengan harapan mereka (yang memang cenderung lebih bersifat kedagingan).

‘Nggak jauh berbeda dengan kehidupan kita juga, ‘kan? Hidup kita ini adalah ‘nggak jauh berbeda dengan orang yang melakukan ziarah alias perjalanan yang sangat jauh. Sepanjang apapun umur kita, pada akhirnya akan berhenti, dan tiba pada satu titik. Sebagai orang percaya, tentulah kita mengharapkan agar tiba di “Yerusalem yang baru” (bukan Yerusalem yang dituju oleh orang Israel pada masa Perjanjan Lama ini, ya …). Selama melakukan “perjalanan” tentu saja kita mengalami berbagai macam peristiwa. Suka dan duka bergantian, ada juga kecewa, kegagalan, frustrasi, dan lain-lain.

Nah, perikop ini mengingatkan kita: jadikanlah Tuhan sebagai pemimpin. Air mata yang banyak bercucuran selama ini dan selama kita hidup anggaplah itu sebagai air yang akan membasahi tanah yang kering untuk menyuburkan gurun pasir dari hati kita yang kering dan tandus dengan selalu berharap kepada Tuhan. Dan pada saatnya, kita akan beroleh penghiburan dan sukacita sebagaimana yang dijanjikan oleh Tuhan yang selalu menyertai kita dalam kehidupan.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s