Andaliman-204 Khotbah 18 November 2012 Minggu XXIV Setelah Trinitatis

Benar, ‘kan? Orang Mati ‘Nggak Langsung Masuk Surga, tapi Harus Dihakimi Dulu. Percaya Sajalah dengan Iman Teguh dan Hati Tulus, Karena Yesus Kristus!

Nas Evangelium Ibrani 10: 19-25 (bahasa Batak: Heber)

10:19 Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus,

10:20 karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri,

10:21 dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.

10:22 Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.

10:23 Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.

10:24 Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.

10:25 Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat   

Nas Epistel Daniel 12:1-3

12:1 “Pada waktu itu juga akan muncul Mikhael, pemimpin besar itu, yang akan mendampingi anak-anak bangsamu; dan akan ada suatu waktu kesesakan yang besar, seperti yang belum pernah terjadi sejak ada bangsa-bangsa sampai pada waktu itu. Tetapi pada waktu itu bangsamu akan terluput, yakni barangsiapa yang didapati namanya tertulis dalam Kitab itu.

12:2 Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal.

12:3 Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.

Di sermon parhalado, kami mengalami diskusi yang mengasyikkan. Tentang beberapa hal: ke manakah orang yang sudah mati? Lalu siapa yang akan masuk ke surga, yang tertulis di kitab yang mana namanya?

Untuk pertanyaan pertama, dengan tegas aku jawab: tidak ke surga sampai ada bunyi sangkakala yang membangunkan semua orang yang mati dan menjalani penghakiman untuk menentukan ke mana selanjutnya. Jadi adalah tidak tepat manakala menyampaikan kata-kata penghiburan dengan mengatakan: “Tidak usah bersedih, percayalah bahwa orang yang kita kasihi yang meninggal ini sudah berada di surga saat ini”. Ucapan yang sangat membuatku ‘nggak nyaman ketika suatu kali mengikuti ibadah tutup peti, seorang pendeta kharismatis dengan enteng dan sangat pede mengatakan: “Saya yakin bahwa almarhum ini sudah bersama Yesus di surga”. Padahal aku ‘nggak yakin kalau pendeta kharismatis yang “penuh kuasa” itu mengenal almarhum dengan baik.

Untunglah, puji Tuhan, pendeta kami yang HKBP tidak bersikap demikian. “Mengatakan bahwa yang mati itu sudah di surga semula hanya untuk menghibur keluarga yang berduka agar jangan terlalu bersedih sehingga bisa-bisa kehilangan kepercayaannya kepada Tuhan.”. Aku setuju, tapi aku ‘nggak bakalan pernah mau (lagi) mengatakan seperti itu. Yang aku pahami, semua orang yang mati berada di suatu tempat – sheol dalam bahasa Yunani atau adian dalam bahasa Batak – menunggu dibangunkan dari “tidurnya yang panjang” untuk menyongsong Yesus yang datang kembali di awan-awan. Itulah pesan yang mau disampaikan oleh nas perikop Minggu ini.

Lantas ada buku lain selain buku kehidupan yang dibacakan? Iya, memang. Ada satu kitab yang menuliskan semua perbuatan dari masing-masing orang, baik yang jahat maupun yang baik. Setelah dibacakan, maka yang perbuatannya yang lebih banyak adalah yang jahat, maka – ma’af, ya … – akan diusir dan disuruh ke tempat penyiksaan selama-lamanya yaitu neraka yang baka. Lalu, yang lebih banyak melakukan perbuatan baik akan dipersilakan masuk ke surga? Tidak juga, bergantung apakah ada namanya tertera dalam kitab kehidupan. Kalau ada, silakan masuk melalui pintu surga. Kalau ‘nggak ada, ma’af saja, silakan ikut yang lainnya yang jahat ke neraka. Lho? Ya, iyalah … bukan perbuatan yang menentukan orang masuk ke surga bukan? Tapi motivasi di balik perbuatan baiknyalah yang menjadi pertimbangan. Itulah makanya Yesus dengan tegas mengatakan, “Bukan semua orang yang memanggil nama-Ku dan berseru ‘Tuhan … Tuhan …’ akan masuk dalam kerjaan surga”.

Rumit? Memang, kalau semata-mata menggunakan pikiran manusia yang sangat terbatas. Apalagi belum pernah ada manusia yang pernah mengalami kembali pulang dari surga. Kalau sudah sampai di surga, ‘ngapain pula mau capek-capek ke dunia ini lagi ya, hehehe … Jadi adalah suatu kebohongan besar jika ada yang mengklaim dirinya bolak-balik pergi-pulang dari surga. Apalagi masih hidup sampai sekarang ini. Luar biasa! Luar biasa keberaniannya untuk berbohong. Karena iman percaya kristiani hanya mengakui bahwa Yesus-lah satu-satunya yang sudah pernah ke surga. Awas penyesatan dan jangan menyesatkan, kawan!

Dengan situasi seperti itulah dituntut iman yang teguh untuk mempercayai hal supra-natural ini. Perikop yang menjadi nas Ev Minggu ini mengingatkan untuk percaya saja dan semunya boleh terjadi karena Yesus semata. Untuk itu, persekutuan bersama orang-orang kudus yang diselamatkan dengan mengimani Yesus sebagai juru selamat harus diperkuat. Karena dengan itu memungkinkan keimanan tidak menjadi goyah, malah semakin memperteguh satu sama lain.

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Ada beberapa hal dalam praktik kehidupan kita yang sebenarnya ‘nggak alkitabiah tapi mulai dianggap suatu kebenaran karena dilakukan berulang-ulang, dan oleh banyak orang. Perkataan bahwa orang yang mati sudah berada di surga adalah salah satu di antaranya. Biarpun ada unsur untuk menghibur (azas pembenaran yang seolah-olah bertujuan baik …), sebaiknya jangan lagi diucapkan ketika menghadapi upacara kematian. Sebaliknya jangan pula dikatakan, “Ah, ‘nggak tahu pula ke mana perginya saudara kita yang meninggal ini …”. Jangan, bisa repot kita nanti. Sebaiknya, katakanlah: “Kita percaya Tuhan turut bekerja dalam setiap perkara kehidupan kita. Demikian pula dengan kematian orang yang kita kasihi ini, inilah yang terbaik yang datangnya dari Tuhan. Kita boleh bersedih, tapi janganlah sampai menjauhkan iman percaya kita dari Tuhan …”.

Percaya saja! Percayakan kepada Yesus Kristus, sang juru selamat!

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s