Puji Tuhan, Kerinduanku Jadi Kenyataan: Sai Mulak, Sai Mulak …

Ibadah Terakhir (211212)

Tiga tahun lalu, ketika mengetahui bahwa aku pindah tugas ke Bandung, seorang penggiat jemaat yang juga adalah pengacara beberapa jemaat HKBP yang “teraniaya” memintaku untuk menjadi pelayan di salah satu persekutuan di Bandung. Sebagai ekses konflik kepemimpinan HKBP dengan adanya Eforus “kembar” yakni Dr. S. A. E. Nababan dan Pdt. Dr. P. W. T. Simanjuntak lebih sepuluh tahun yang lalu, ada sekelompok warga jemaat yang pergi meninggalkan HKBP Jalan Riau dengan menamakan dirinya sebagai HKBP Resort Bandung Riau. Saat aku datang, ibadah dilakukan di Gedung Keuangan Kodam Siliwangi di Jl. Sumatera, Bandung. Menempati aula tentara yang berdekatan dengan mushola, ibadah dilakukan setiap Minggu (pernah sekali mendadak dipindahkan ke lokasi lain karena komplek tersebut dipakai tentara berkegiatan pada suatu Minggu …).

Sebelumnya aku sudah meminta izin kepada pendeta resort kami untuk melayani di jemaat yang kecil tersebut (“Sebelumnya kami sangat banyak, Amang namun karena ada kawan-kawan yang ‘nggak kuat bertahan sehingga menyerah dan mengaku salah ke pimpinan pusat HKBP di Pearaja, tinggallah kami sekarang yang lebih sedikit”, kata seorang tokohnya padaku pada berbagai kesempatan manakala aku melayani di tempat itu). Pesan pendeta resort saat itu kepadaku jelas, “Boleh aja, Amang melayani di sana. Tapi jangan terlibat dalam urusan dan konflik mereka yang dianggap membangkang oleh Kantor Pusat HKBP”.

Jadilah aku melayani di sana. Berganti-ganti. Manakala tidak sedang bertugas di Jakarta, maka aku pun bertugas di jemaat yang kecil tersebut. Sebelumnya juga sebagai liturgis, namun setelah ada penambahan penatua yang ditahbiskan, maka aku praktis hanya berkhotbah. Kerinduanku sejak awal adalah bagaimana agar tercipta rekonsiliasi. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Tokh, semua orang pernah melakukan kesalahan. Itulah sebabnya, setiap ada kesempatan ketika berkhotbah aku selalu selipkan “pesan sponsor” tentang indahnya perdamaian.

Cuma, sayangnya … dalam beberapa kesempatan aku melihat bahwa beberapa pendeta yang diundang berkhotbah di sana malah menyemangati untuk tetap bertahan dan berjuang sampai “titik darah penghabisan”. Sayangnya lagi, pesan disampaikan seringkali dengan nada dan kalimat yang menyalahkan orang-orang yang mereka anggap seharusnya bertanggung jawab terhadap nasib perjemaatan mereka. Jujur saja, setiap kali selesai beribadah di sana, aku bertanya-tanya dalam hati bagaimana Tuhan menilai ibadah Minggu kami itu?

***

Pada suatu Minggu, usai ibadah, seorang penatua yang aktif mengajakku berdiskusi tentang masa depan persekutuan tersebut. Ternyata tuntutan tentang kejelasan status mereka semakin santer dari beberapa orang warga jemaat. Bahkan ada yang sudah tidak aktif lagi beribadah di sana walau sudah diajak berulang kali. Faktor utamanya adalah tentang kejelasan status. Ini bukan yang pertama kali. Biasanya aku hanya menawarkan diri untuk membantu mereka dalam pelayanan, bagaimana caranya agar penatua semakin percaya diri dalam maragenda dan memahami khotbah. 

Beberapa minggu sebelumnya disampaikan bahwa setelah pergantian Eforus menjadi Pdt. Simarmata ada secercah harapan untuk meraih mimpi setelah bertahun-tahun terkatung-katung. “Kita diberikan opsi apakah mau jadi resort, atau jemaat biasa. Syaratnya harus ada jumlah kepala keluarga sesuai ketentuan yang diminta. Oleh sebab itu, kita harus mulai mengajak kawan-kawan yang dulu sama-sama berjuang untuk kembali ke mari”.

Mungkin setelah berjuang memanggil kembali belum menunjukkan hasil seperti yang diharapkan, maka hari itu sudah semakin kuat tekad sebagian orang untuk “membubarkan diri”. “Bagaimana lagi kita mau pertahankan, Amang kalau jumlah yang rajin beribadah tinggal sebegini saja. Untuk merayakan Natal nanti aja kita jadi ragu apakah masih ada yang akan hadir dalam jumlah yang sama seperti tahun lalu. Mana kodam juga sudah menyampaikan rencana untuk merehab gedung aula ini, jadi semakin kuranglah semangat untuk terus berjuang”, kata seorang isteri penatua yang juga tokoh sentralnya.

Tak berapa lama, beberapa hari kemudian, beliau bertelepon kepadaku setelah beberapa kali missed call (yaitu ketika kami melaksanakan Rapat Jemaat yang gagal di Jakarta saat itu). “Begini, Amang … kami sudah rapat dan memutuskan untuk membubarkan diri saja. Jadi, bagi pelayan yang pernah melayani kami seperti amang kami undang untuk mengikuti ibadah Minggu terakhir. Rencananya mau dibikin saat Natal 25 Desember nanti, tapi karena banyak yang ‘nggak bisa maka kita rencanakan pada Minggu, 16 Desember nanti. Amang bisa hadir?”

Dheg! Aku terkejut. Kaget karena tetap berita ini mengejutkan dan mendadak. Yang kedua, karena pada hari Minggu itu aku juga sudah diminta untuk menjadi pendo’a syafa’at pada perayaan Natal Tobing sa-ompu di Jakarta. Selain berdo’a, aku juga mendapat kehormatan untuk menyediakan hadiah Natal bagi anak-anak (yang sudah jadi rutin setiap tahun yang tetap membuatku bahagia, hehehe …).

Di tengah menimbang-nimbang harus pilih yang mana, kawanku yang juga aktif melayani jemaat tersebut meneleponku: “Sudahlah, Amang Sintua. Ke acara yang di Bandung ajalah kita. Saya juga sebenarnya ada acara bertemu Eforus di peresmian distrik Jakarta dan pelantikan praeses. Tapi karena jemaat yang kita layani ini sangat khusus, maka saya memutuskan untuk ke Bandung karena diminta juga marjamita karena pendeta yang selama ini sangat setia mendampingi mereka hanya sanggup menahbiskan penatua yang baru karena belum begitu pulih dari sakit stroke-nya yang dulu. Melayani di jemaat yang kecil itu ajalah kita …”.

Bukan suatu kebetulan, karena beberapa menit sebelumnya, di mobil kami mendiskusikan apakah mau tetap ber-Natal di Jakarta atau ke Bandung karena Auli juga ada acara pada hari yang sama di Bandung, yakni festival paduan suara mewakili sekolahnya di Trans Studio karena masuk semi final setelah Minggu sebelumnya berhasil menjadi juara ketiga ketika diselenggarakan di Lottemart. Sebelumnya itu suasana diskusi sempat memanas, “Kalau papa tetap memaksa ke Natal Tobing di Jakarta, kalau gitu kami dengan Auli pulang ke Bandung untuk acara festival Auli. Apa papa tega karena Auli sendiri sudah sangat gembira untuk tampil sama kawan-kawan sekolahnya?”, kata mak Auli dengan nada setengah “mengancam” (setengahnya lagi pasrah dan kecewa, mungkin …. hehehe …).

“Iya, pa … kata ibu guru kalau Auli ‘nggak ikut, ‘nggak ada yang bisa menggantikan posisi Auli menyanyikannya nanti di festival”, kata si boru Tobing pula memelas yang membuatku ‘nggak tahan untuk mengecewakannya.

Tak berapa lama aku menelepon dongan tubu di Jakarta untuk permisi dan meminta kemakluman mereka atas ketidakhadiranku di perayaan Natal Tobing di Jakarta tersebut. Hadiah untuk anak-anak sudah aku kirim sebelumnya, jadi ‘nggak bakalan mengganggu kemeriahan perayaan Natal bagi anak-anak nantinya.

***

Maka kami pun mengikuti ibadah Minggu di jemaat kecil tersebut pada Minggu yang lalu. Setelah khotbah, dilanjutkan dengan penahbisan dua orang penatua (yang menurutku sangat “istimewa” karena begitu ditahbiskan mereka langsung ‘nggak punya jemaat lagi, melainkan “jemaat baru” nantinya …). Benarlah, pak pendeta sudah sangat sulit membacakan agenda penahbisan, dengan terbata-bata akhirnya penahbisan selesai (namun sangat berbeda ketika menyampaikan “kata perpisahan” yang berapi-api setelah acara makan siang …).

Lalu kami semua yang pernah melayani di sana dipanggil ke depan untuk menerima hadiah (seperangkat pulpen yang bagus dan handuk yang dikemas khusus …). Terharu juga melihat situasi peribadahan hari itu. Ada yang menangis karena menyadari akan berpisah dengan kawan-kawan seperjuangan.

“Kita masih akan merayakan malam Natal tanggal 24 Desember dan Natal tanggal 25 Desember di sini yang dilayankan oleh inang pandita. Saat itulah akan dibagikan hadiah kenang-kenangan kepada semua jemaat. Dan kita akan tartingting di HKBP Bandung Timur pada minggu kedua Januari 2013. Bagi yang tidak ke Bandung Timur, silakan ke jemaat lain yang sesuai dengan kehendak hati masing-masing …”, kata isteri sintua yang sangat aktif melayani di jemaat tersebut.

“Kita akan tetap bertemu, paling tidak sekali tiga bulan. Undangannya akan kami sampaikan …”.

Ketika mau berpisah pulang, kawanku sesama penatua di jemaat yang sama di Jakarta yang tadi berkhotbah, mengatakan: “Sudah paslah itu semua diatur Tuhan, amang sintua. Dulu itu yang menjadi kerinduan sintua waktu melayani mereka pertama kali sejak ditempatkan di Bandung, ‘kan? Nah, sekarang jemaatnya sudah bergabung kembali dan amang kembali pindah tugas dari kantor ke Jakarta. Memang begitulah yang diminta Tuhan dari amang sintua.“. Aku sempat kaget sejenak, namun segera teringat bahwa rencana kepindahanku kembali ke Jakarta sudah pernah aku sampaikan ke beliau pada minggu lalu ketika aku mengikuti rapat dinas di Jakarta dan malam sebelumnya bareng membesuk kawan penatua yang terbaring dirawat di Rumah Sakit Gatot Subroto di Jalarta. 

Haleluya! Terpujilah Tuhan!

Rapat Jemaat yang “Cacat” (2): Lho, koq ‘Nggak Ada “Sense of Crisis”?

Rapat Jemaat yang batal karena ‘nggak cukup quorum Minggu, 09 Desember 2012 yang lalu membuat prihatin beberapa orang. Baik beberapa penatua, juga beberapa warga jemaat yang langsung mengajakku berbicara. Berikut ini adalah beberapa yang masih aku ingat:  

“Kalau rapat jemaat baru dilakukan Januari tahun depan, apa ‘nggak ada pengaruhnya pada pelayanan?”

“Setelah dua puluh lima tahun gereja kita ini berdiri, baru kali ini kita gagal mengadakan rapat jemaat.”

“Walau banyak yang bilang pendeta resort yang dulu kurang bagus, nyatanya lancar-lancar saja di rapat jemaat. Ini belum satu tahun, dan baru pertama kali memimpin rapat jemaat sudah gagal begini …”

“Bertahun-tahun kita rapat jemaat, jumlahnya ya segini-segini juga, tapi tetap memenuhi quorum, koq hari ini dikatakan tidak memenuhi jumlah persyaratan?”

“Ada bagusnya juga ditunda, karena saya lihat ada beberapa hal yang tercantum di sini yang perlu dibicarakan lagi. Belum sesuai dengan usulan yang pernah disampaikan”

Memprihatinkan, memang …

***

Senin pagi sebelum ke kantor, kembali aku membuka-buka dokumen yang dibagikan saat Rapat Jemaat yang tertunda Minggu sebelumnya. Dan aku menemukan beberapa hal yang masih perlu untuk diperbaiki, antara lain:

(1) Rencana pemasukan yang tidak begitu optimis. Terlihat dari estimasi penerimaan dari ucapan syukur yang diperkirakan hanya 50% dari aktual tahun 2012 ini. Saat sermon  parhalado hal ini sudah pernah ditanyakan sebelumnya yang dijawab pak pendeta: “Segala hal akan saya lakukan untuk memperbaiki pelayanan di jemaat sini, tapi yang namanya persembahan ucapan syukur tidak seharusnya diperhitungkan karena itu sangat bergantung dari hati warga jemaat untuk memberikan ke gereja”. Walau mantan Bendahara menanggapi dengan “Bertahun-tahun saya jadi bendahara di jemaat ini, ‘nggak pernah terjadi penurunan penerimaan dari ucapan syukur dari warga jemaat. Malahan meningkat terus dari tahun ke tahun …”, pak pendeta tetap tak bergeming. Ada yang berbisik, “Tak tahulah apa maunya pendeta kita ini. Katanya mau memperbaiki pelayanan, tapi dari cara-caranya ‘nggak mencerminkan apa yang diucapkannya”.

(2) Rencana pengeluaran yang menurutku bukanlah prioritas dan penting serta mendesak bagi jemaat. Apalagi membutuhkan uang yang banyak, ratusan juta rupiah pula, misalnya membangun rumah pendeta diperbantukan dan menara gereja (dengan salib yang menjulang tinggi agar gereja menjadi icon untuk wilayah tersebut …).

(3) Sebaliknya, banyak rencana pengeluaran untuk membiayai kegiatan di jemaat yang dipotong yang menyebabkan pengurus seksi yang anggarannya tersebut dipotong datang kepadaku menyampaikan kekesalannya. “Gimana kita mau berkegiatan dan mengajak warga jemaat untuk bergabung dalam pelayanan kalau huria sendiri hanya mendukung dengan dana yang sangat minim begini, Amang?”. Bahkan ada yang menimpali, “Kalau huria hanya sanggup menyediakan dana empat juta selama setahun lebih baik ‘nggak usah. Saya sendiri pun sanggup menyediakan kalau uang cuma segitu. Terus, apa lagi tanggung jawab huria? Bubar sajalah!“.  

***

Aku menjadi terkejut dan sempat “panik” ketika membaca lembaran yang memuat tata tertib rapat. Selain melanggar Pasal-27 ayat 2 dengan “lupa” membacakan firman Tuhan, Rapat Jemaat yang batal lalu ternyata menyalahi Pasal-27 ayat-4 yakni tentang:

(1) quorum, yang menuntut setengah dari jumlah yang diundang, bukan dua pertiga sebagaimana yang disampaikan oleh pendeta sebagai alasan pembatalan

(2) penundaan rapat, yang bilamana terjadi di jemaat (seperti yang kami alami saat ini) harus dilakukan tiga hari kemudian. Karena Rapat Jemaat yang batal tersebut adalah Minggu, 09 Desember 2012 maka rapat susulan harus dilakukan pada Rabu, 12 Desember 2012. Bukan malah ditunda sampai Januari 2013

Itulah yang membuatku segera bertindak dengan memberitahukan hal ini kepada beberapa penatua yang aku anggap sangat concern dengan pelayanan jemaat. Dan disepakati bahwa saat sermon parhalado Selasa malam, 11 Desember 2012 hal ini akan dibicarakan sekaligus menindaklanjuti rapat jemaat yang batal tersebut.

***

Jika hanya mempertimbangkan betapa capeknya karena urusan pekerjaan di Bandung, maka sudah pasti aku tidak datang ke sermon parhalado. Tapi, mengingat penting dan “genting”nya persoalan yang harus dibicarakan, maka aku pun memaksakan diri juga untuk berangkat ke Jakarta marsermon Selasa sore itu. Tapi kenyataan yang aku hadapi sungguh mengecewakan. Sampai di komplek gereja, lapangan parkir sepi. Di konsistori belum ada orang. Kemudian aku dapat info bahwa malam itu sedang ada perayaan Natal Seksi Parompuan Distrik di Gedung Manggala Wanabhakti sehingga penatua perempuan menghadirinya dan tidak ikut marsermon. Itu sudah diwartakan pada Ibadah Minggu yang lalu, jadi bisalah dimaklumi kalau ibu-ibu semua berangkat ke acara tersebut. Juga inang pandita diperbantukan na manguluhon, karena masih berhubungan dengan tugas pelayanannya. Tapi kalau penatua yang kaum bapak yang ‘nggak hadir di sermon parhalado setelah rapat jemaat yang batal, bagaimana bisa?

Bagaimana kalau pak pendeta resort yang adalah kaum bapak juga ‘nggak hadir? Dan rencana ketidakhadirannya pada sermon parhalado malam itu tidak pernah disampaikan pada sermon sebelumya.

Dan itulah yang terjadi pada malam itu, sehingga ada yang ‘nyeletuk: “Mungkin yang adanya urusannya dengan pejabat-pejabat HKBP yang akan hadir di acara Natal kaum ibu itu. Paling ‘nggak, setor mukalah … Atau, jangan-jangan memang ada urusannya dengan ibu-ibu yang hadir di situ. Makin ‘nggak ‘ngertilah dengan pendeta kita ini. Kayak ‘nggak ada perasaan terbebannya dengan kegagalan rapat jemaat yang kemarin itu. Baru kali ini memimpin rapat jemaat, sudah gagal, ‘gimanalah nanti pelayanannya selanjutnya di jemaat kita ini?”

Sermon malam itu dipimpin penatua yang menjadi ketua Dewan Koinonia. “Saya baru tadi diberitahu pendeta tentang harus memimpin sermon malam ini karena beliau menghadiri perayaan natal SPD. Saya juga sudah meminta untuk beliau tetap hadir walaupun terlambat di sermon malam ini karena ada banyak hal yang mau kita sampaikan sehubungan dengan rapat jemaat yang gagal Minggu lalu”, kata beliau sebelum memulai membuka sermon dan melakukan pembagian tugas pelayanan ibadah Minggu, yang ternyata sampai sermon selesai dan ditutup, pendeta tidak pernah hadir di parsermonan.

Karena merasa terpanggil, aku pun menyampaikan tentang pelanggaran tata tertib rapat saat Rapat Jemaat yang batal tersebut. Dengan tidak lupa menyampaikan bahwa kesempatan untuk memperbaiki agar jangan menjadi “cacat total” adalah mengundang peserta rapat untuk kembali melakukan Rapat Jemaat pada Rabu, 12 Desember (besoknya) sesuai amanat yang tercantum pada Tata Tertib Rapat. “Selagi masih ada waktu …”, kataku penuh harap. Yang aku bayangkan adalah: semua penatua bersemangat, lalu menghubungi pendeta, warga jemaat yang menjadi utusan rapat jemaat, dan pihak-pihak yang terkait sekaligus mengundang semuanya untuk menghadiri rapat besoknya.

Namun, apa yang terjadi? Malahan terjadi pertengkaran di kalangan penatua. Ada yang pro dan membela pak pendeta “mati-matian” (walaupun sudah jelas salah …), ada pula yang mengingatkan agar jangan membela dengan membabi buta. Yang lainnya? Cuek … seakan ‘nggak ada persoalan dan semuanya berjalan dengan baik. Selanjutnya pembicaraan semakin ‘nggak bermutu karena ‘nggak ada yang mau mengambil keputusan dengan alasan “tidak ada uluan huria” dan “kita belum cukup quorum untuk mengambil keputusan, nanti dibilang pula kita rapat dengan hantu …”.

Owalah … Sudah begini parahkah kita ini?

Andaliman – 209 Khotbah 23 Desember 2012 Minggu Adven Keempat

Lagu Pujian Maria, Lagu Pujian Kita Juga …

Nas Epistel:  Lukas 1:46-55

1:46 Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan,

1:47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,

1:48 sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,

1:49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.

1:50 Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.

1:51 Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;

1:52 Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;

1:53 Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;

1:54 Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,

1:55 seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”

1:56 Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.

Nas Evangelium: Mikha 5:1-5

5:2 (5-1) Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.

5:3 (5-2) Sebab itu ia akan membiarkan mereka sampai waktu perempuan yang akan melahirkan telah melahirkan; lalu selebihnya dari saudara-saudaranya akan kembali kepada orang Israel.

5:4 (5-3) Maka ia akan bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN, dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya; mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi,

5:5 (5-4) dan dia menjadi damai sejahtera. Apabila Asyur masuk ke negeri kita dan apabila ia menginjak tanah kita, maka kita akan membangkitkan melawan dia tujuh gembala, bahkan delapan pemimpin manusia.

Puji Tuhan! Sekarang sudah masuk Minggu Advent keempat untuk selanjutnya … Natal!

Nas perikop yang menjadi Ep dan Ev Minggu ini adalah ayat-ayat yang sangat populer (utamanya masa-masa menjelang Natal seperti sekarang ini …). Yang Ep sangat populer dengan lagu pujian Maria, ada yang menyebutnya dengan Magnificat Maria. Memang betapa sangat istimewalah Maria, perawan yang dipakai Tuhan untuk melahirkan Yesus. 

Menurutku, membaca nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini harus dalam satu kesatuan yang utuh. Jika tidak, maka pesan yang disampaikannya akan menjadi berbeda, bahkan “kontra-produktif”. Posisikan diri sebagai Maria yang dari awal mendapat kabar dari malaikat tentang akan mengandung bayi (padahal statusnya belum bersuami!) yang tentu saja menanggung penderitaan yang sangat berat. Bisa aku bayangkan celaan yang akan didapatnya: dari Yusuf tunangannya, keluarga, dan masyarakat sekelilingnya. Meskipun belakangan ini – utamanya di kalangan selebritas tertentu – hamil di luar nikah nyaris menjadi hal yang “biasa” (aduh, sedihnya …), namun pada masyarakat beradab hal ini masih merupakan kejadian yang memalukan. Apalagi pada zaman dulu, yang ancamannya adalah dihukum dilempari batu sampai mati.

Namun, dengan kepasrahannya pada Tuhan dan pengakuan imannya, hari-hari selanjutnya menjadi menyukacitakan. Tuhan campur tangan, dan menunjukkan pertanggungjawaban-Nya dengan memperlancar urusan selanjutnya. Pengalaman hidupku mengajarkan tentang kepasrahan kepada Tuhan (bukan tanpa mengerjakan apapun juga, tentunya …) menghasilkan hal-hal yang dahsyat. Itulah makanya jika ada yang mengatakan bahwa mukjizat itu nyata dan berlaku sampai sekarang, aku mengamininya dengan konteks pemeliharaan Tuhan. Bukan harus sesuatu yang ajaib, misalnya air menjadi anggur. Tidak harus begitu juga!

Untuk semua hal yang dialaminya, Maria memuji dan memuliakan Tuhan. Memutarbalikkan dari posisi yang terpuruk, yang rendah, yang hina, yang miskin, ke posisi yang jauh lebih baik, itulah pekerjaan Tuhan. Dan, bagi orang-orang yang takut akan Dia, artinya yang mengikuti perintah-Nya. Tapi, jangan salah sangka pula: tidak semua orang kaya akan menjadi miskin, tidak semua orang berkuasa akan diturunkan dari kekuasaannya. Bukan! Sebaliknya, bukan pula semua orang miskin akan menjadi kaya, dan orang lapar akan dikenyangkan. Yang perlu diingat dan dipahami, bahwa orang-orang yang percaya dan takut akan Tuhan akan beroleh rahmat. Dalam setiap kedudukannya. Jadi, jangan takut menjadi orang kaya, jadi pemimpin yang berkuasa. Asalkan di dalam Tuhan, ‘nggak usah takut! Dan jangan pula kalau masih miskin, hina, dan sakit saat ini karena Tuhan tidak mengasihi, bukan! Tapi Tuhan sedang memroses setiap orang menurut jalan-Nya yang memang seringkali tidak harus menuruti apa yang dimaui oleh manusia saja.

Penguatan dilakukan oleh nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini. Kota Betlehem Efrata, kota terkecil di antara bangsa-bangsa, yang “tidak ada apa-apanya” ternyata dipakai Tuhan untuk menunjukkan kebesarannya. Dari kota yang ‘nggak masuk hitungan itulah lahir Mesias, sebagaimana yang dinubuatkan Yesaya puluhan tahun sebelumnya. Kota yang kecil dan rendah, ditinggikan oleh Tuhan. Betapa ajaibnya Tuhan! Betapa rendah hatinya Tuhan! Itulah pesan yang bisa aku tangkap dan tanggapi sehingga menyadarkanku bahwa aku ini ‘nggak ada apa-apanya dalam hal kerendahan hati. Dan semakin merendahkan hati adalah tuntutan yang terus-menerus aku minta kepada Tuhan agar aku masuk dalam proses-Nya.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Ini adalah Adven terakhir dari rangkaian Minggu yang diatur Gereja agar kita umat Tuhan benar-benar mempersiapkan diri dalam menyambut kelahiran juru selamat. Kerendahan hati, itulah yang diminta dan diingatkan kepada kita untuk dengan tunduk hati menerima kelahiran Yesus. Jika bukan dengan kerendahan hati, akan sangat sulit menerima fakta dan mengimani kelahiran Yesus. Bagaimana mungkin:

(1)   perawan yang masih bertunangan bisa hamil -> kalau zaman sekarang yang mulai banyak hamil sebelum nikah, mungkin beda, ya?

(2)   Tuhan lahir dalam wujud manusia -> Tuhan masa’ dilahirkan?

(3)   Tuhan bersedia menjadi manusia dengan kehidupan yang sangat sederhana -> Tuhan yang adalah raja dan maha kuasa, seharusnya lahir di istana pantasnya, ‘kan? Bukan di kandang domba

Dan itu semua sudah direncanakan jauh-jauh hari. Terbukti dengan sudah dinubuatkan puluhan bahkan ratusan tahun sebelumnya. Jadi, betapa baiknya Tuhan. Tidak ada yang tidak dipersiapkan sebelumnya. Begitu pulalah hendaknya hidup kita. Kita harus persiapkan diri (hati, jiwa, dan raga) untuk menerima kelahiran Yesus dan bersedia dipakai oleh Tuhan sebagai alat-Nya.

Selamat menyambut Natal!

Ma’af, Aku Terpaksa “Melanggar Janji” …

Natal Singkola Minggu HKBP IKG (151212)

Sejak mendapat “pencerahan” dari seorang pendeta HKBP yang dulu rajin menulis di blog, sejak lima tahun yang lalu aku berjanji untuk ‘nggak pernah mau merayakan Natal sebelum 25 Desember alias ketika masih masa-masa Adven. Beberapa kali aku sempat berdebat dengan beberapa orang yang “terlanjur” terbiasa dengan tradisi bahwa Natal bisa dirayakan bahkan sejak 01 Desember. Juga beberapa kali aku dengan halus menolak permintaan persekutuan untuk berkhotbah karena Panitia tetap ‘ngotot ‘nggak mau mengubah perayaannya menjadi bukan Natal dan atau mengganti nas khotbah ke perikop yang bukan menceritakan kelahiran Yesus. Dan aku memang menjadi lebih khusyuk dalam memahami Adven dan Natal daripada sebelumnya yang “kacau” karena merayakan Natal sebelum 25 Desember.

Tahun ini – dengan sangat menyesal – aku harus merayakan Natal sebelum 25 Desember. Dan sangat khusus, yakni hanya pada perayaan Natal Sekolah Minggu di jemaat kami. Hal ini semata-mata disebabkan oleh “jabatan” yang diberikan jemaat HKBP tempatku melayani sebagai paniroi Seksi Sekolah Minggu. Dan Auli anakku juga ikut berliturgi pada perayaan ini. Kurang pas-lah kalau paniroi-nya sendiri ‘nggak ikut pada perayaan Natal Sekolah Minggu yang biasanya paling meriah karena pasti dihadiri oleh warga jemaat dari semua golongan usia, yakni dari anak-anak sampai ompung-ompung

***

Pagi hari Sabtu, 15 Desember 2012 itu ada acara family gathering dari kantor se-Jawa Barat Kalimantan Barat, tempatnya di Saung Mang Ujo di Bandung pula. Sama ‘nggak pasnya juga bila aku ‘nggak hadir di acara tahunan ini karena kami “tuan rumah”. Puji Tuhan, akhirnya boss-ku mengizinkanku pamit setelah makan siang untuk berangkat ke Jakarta walau sehari sebelumnya beliau memintaku untuk tetap ada di lokasi acara sampai usai (agar memudahkan mendapat izin, sebelumnya aku terlihat aktif berpartisipasi sampai mengundi dan menyerahkan hadiah kepada pemenang lucky draw …). 

Jalanan ke Bandung hari itu lancar sehingga kami bisa tiba di komplek gereja menjelang jam tiga siang. Rencana semula, acara akan dimulai jam empat agar tidak terlalu malam selesainya. Aku sempatkan menyapa anak-anak dan orangtua yang sudah datang terlebih dahulu, sebelum aku melihat persiapan acara. Lalu ke konsistori untuk duduk menenangkan diri.

Alangkah terkejutnya aku manakala melihat inang pendeta diperbantukan yang siap-siap dengan toganya layaknya yang akan maragenda. “Lho, koq jadi inang yang maragenda? Memangnya ke mana amang pandita, inang?”, tanyaku dengan heran.

“Ada koq, amang

“Kenapa bukan beliau yang maragenda sesuai dengan pembicaraan terakhir saat rapat persiapan Natal?”

“Wah, ‘nggak tahulah, amang. Saya ‘kan hanya patuh pada perintah atasan. Disuruh maragenda sekarang, ya saya ikut sajalah …”

“Patuh, sih patuh inang kepada atasan, tapi patuh kepada kesepakatan juga ‘kan suatu keharusan. ‘Nggak bisa diubah begitu saja tanpa pemberitahuan kecuali beliau memang ada urusan yang sangat penting dan mendadak”.

Ada memang rasa kesalku saat itu, tapi segera aku lawan supaya jangan menjadi terganggu dengan cara kerja pelayan yang ‘nggak teratur seperti ini. Ketika ketua seksi Sekolah Minggu juga mempertanyakan “keanehan” tersebut, aku tetap berupaya menenangkannya, juga semua orang yang merasa terganggu dengan ketidakhadiran pak pendeta resort. “Padahal dulu dia yang memaksa supaya harus hadir pada acara Natal Sekolah Minggu karena takut dipertanyakan oleh warga jemaat. Dan dia juga yang bilang bahwa Natal adalah pesta besar sehingga pendeta resort harus terlihat pada acara Natal dan berkhotbah. Ini koq malah ‘nggak kelihatan?”.

***

Memang, di awal persiapan perayaan Natal, Panitia sudah menghubungi pendeta dari luar untuk melayankan ibadah dengan berkhotbah interaktif pada acara yang memang harus bisa ‘nyambung dengan anak-anak. Aku pun baru tahu ketika Panitia datang kepadaku dan menyampaikan bahwa pendeta keberatan dan memaksa harus beliau yang berkhotbah. Lalu aku datang ke pendeta dan mengajak ‘ngobrol, “Amang, kita harus akui bahwa melayani sekolah Minggu berbeda dengan kategorial lain. Tidak mudah berkomunikasi dengan anak-anak sehingga ‘nggak semua orang bisa berkhotbah yang mampu membuat anak-anak tekun mendengarnya. Aku pun walau sudah belajar di STT tentang pelayanan tetap merasa ‘nggak mampu berkhotbah lebih baik daripada orang yang sudah berpengalaman. Dan guru Sekolah Minggu lebih tahu siapa yang pas dan mereka juga sudah menghubungi pendeta yang menurut mereka cocok dengan thema perayaan Natal tahun ini. Jadi, kita izinkan sajalah sambil kita lihat nanti apakah benar seperti yang mereka katakan. Bila tidak, maka tahun depan kita ‘nggak bisa lagi mempercayakan kepada mereka begitu saja …”, kataku panjang lebar mencoba meyakinkan pak pendeta. Benar juga, kan? 

Akhirnya didapatlah kesepakatan: pak pendeta yang akan maragenda dan pendeta dari luar yang akan berkhotbah interaktif. Bahkan tata ibadah perayaan Natal juga didiskusikan dan beliau memberikan beberapa koreksi untuk membuat acaranya lebih bagus. Makanya aku kaget waktu mengetahui bahwa pak pendeta resort sama sekali ‘nggak terlihat pada acara tersebut. Beliau muncul menjelang khotbah yang dibawakan dengan menarik oleh ibu pendeta dari luar tersebut yang memang terlihat sangat menguasai pekerjaannya. Pak pendeta aku lihat berdiri di pintu masuk, lalu pergi keluar selama khotbah berlangsung!

Usai khotbah, aku mengantarkan ibu pendeta ke tempat parkir karena meminta izin pulang lebih awal karena anaknya sakit (yang memang tadi sempat aku lihat karena dibawa juga ke gereja bersama suaminya yang adalah juga pendeta dan aku kenal ketika masih kuliah di STT Jakarta beberapa tahun yang lalu). Betapa kagetnya aku ketika melihat pak pendeta sedang duduk-duduk ‘ngobrol di bangku panjang yang diletakkan di samping gereja. Dengan seorang penatua yang sangat akrab dengan beliau, dan beberapa orang kaum bapak. Di keterkejutanku (karena belum pernah melihat kelakuan seorang pendeta resort seperti ini …) aku mendatangi tempat duduk mereka setelah mengantarkan kepergian ibu pendeta dan keluarganya pulang:

“Bah, kenapa di luar, amang pandita? Ayolah masuk ke dalam”, kataku mengajak.

“Kan sudah selesai, sintuanami?”

“Belum, amang. Lihat saja anak-anak masih berliturgi dan bernyanyi di dalam”

“Kami di sini sajalah, samanya itu di luar dan di dalam. Lagian, kami sudah dapat kue”, timpal yang seorang lagi.

“Bah, bukan kue itu yang perlu dan jadi ukuran, Amang. Kehadiran kita di dalam untuk menyemangati anak-anak dan warga jemaat yang ber-Natal yang perlu. Ayolah kita ke dalam, Amang …”.

“Tak usahlah. Di sini ajalah kami …”  

Karena bersikeras dengan prinsipnya – bahwa sama antara duduk di dalam bersama jemaat dengan duduk di luar ‘ngobrol ‘ngalor-’ngidul – dengan kecewa aku pun kembali ke dalam gereja. Di dalam aku bertemu dengan beberapa penatua yang mempertanyakan kehadiran pak pendeta karena selain maragenda harusnya juga ikut dalam penyalaan lilin karena namanya jelas tercantum pada buku acara. Lalu meluncurlah ucapan dengan kalimat yang mempertanyakan kelakuan yang kurang pantas seperti itu. “Kalau memang dia ‘nggak mau ikut acara perayaan Natal, sekalian aja dia ‘nggak usah terlihat di sini. Ini ‘kan jadi merusakkan citranya sendiri selaku seorang pendeta resort yang juga pimpinan di gereja ini. Aneh! Koq bisa ada pendeta yang seperti itu, ya?”. Karena ‘nggak mau terlibat lebih jauh dengan pembicaraan seperti itu, aku pun kembali ke tempat dudukku di depan di samping panggung.

Acara pun berlangsung terus …

‘Nggak tahu kenapa, mendadak pak pendeta resort datang ke atas panggung untuk menutup acara dengan do’a. Mengherankan, memang. Tapi apa yang mau dibilang, begitulah pendeta resort kami yang sekarang ini …

Andaliman – 208 Khotbah 16 Desember 2012 Minggu Adven Ketiga

Bersoraklah! Jangan Takut! Bersukacita karena Ada Harapan dan Tuhan …

Nas Epistel:  Yesaya 12:1-6

12:1 Pada waktu itu engkau akan berkata: “Aku mau bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, karena sungguhpun Engkau telah murka terhadap aku: tetapi murka-Mu telah surut dan Engkau menghibur aku.

12:2 Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku.”

12:3 Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan. 12:4 Pada waktu itu kamu akan berkata: “Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah, bahwa nama-Nya tinggi luhur!

12:5 Bermazmurlah bagi TUHAN, sebab perbuatan-Nya mulia; baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi!

12:6 Berserulah dan bersorak-sorailah, hai penduduk Sion, sebab Yang Mahakudus, Allah Israel, agung di tengah-tengahmu!”

 

Nas Evangelium: Zefanya 3:14-20

3:14 Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalahdan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem!

3:15 TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi.

3:16 Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem: “Janganlah takut, hai Sion ! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu.

3:17 TUHANAllahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai,

3:18 seperti pada hari pertemuan raya.” “Aku akan mengangkat malapetaka dari padamu, sehingga oleh karenanya engkau tidak lagi menanggung cela.

3:19 Sesungguhnya pada waktu itu Aku akan bertindak terhadap segala penindasmu, tetapi Aku akan menyelamatkan yang pincang, mengumpulkan yang terpencar dan akan membuat mereka yang mendapat malu menjadi kepujian dan kenamaan di seluruh bumi.

3:20 Pada waktu itu Aku akan membawa kamu pulang, yakni pada waktu Aku mengumpulkan kamu, sebab Aku mau membuat kamu menjadi kenamaan dan kepujian di antara segala bangsa di bumi dengan memulihkan keadaanmu di depan mata mereka,” firman TUHAN

Puji Tuhan! Sekarang sudah masuk Minggu Advent ketiga! Nas perikop yang menjadi Ep dan Ev Minggu ini masih memesankan untuk meluapkan kegembiraan atas pengharapan pada Tuhan yang akan datang. Kalau Minggu lalu hanya “sekadar” bersukacita, Minggu ini seruannya adalah untuk bersorak. Lebih atraktif. Faktor penambahnya adalah “jangan takut!”. Tidak perlu takut, karena Tuhan berada di antara umat-Nya, orang-orang percaya yang menyandarkan hidupnya pada pemeliharaan Tuhan.

Nas Ev mengingatkan bahwa Tuhan itu pema’af. Perikop ini sangat menarik bagiku, utamanya jika aku bawakan dalam kehidupanku. Betapa uniknya Tuhan! Lihatlah, aku yang begitu banyak melakukan kesalahan dan dosa, namun tangan-Nya tetap terulur (oh ya, aku semakin mengimani, bahwa kasih saying-Nya tidak dipengaruhi oleh perbuatan baik dan jahat …). Artinya, bukan karena aku baik, lalu Tuhan mengasihiku. Sebaliknya, kalau aku tidak melakukan perbuatan baik, maka Tuhan tidak akan mengasihiku. Tidak! Karena Tuhan sangat berbeda dengan manusia dalam hal ekspresi kasih ini …

Kalau Tuhan bukan pengasih, untuk apa Dia mau “repot-repot” datang ke dunia ini dalam rupa manusia dengan kelahiran Yesus Kristus yang tempat lahirnya juga sangat jauh rendahnya dibandingkan tempat kelahiran manusia yang “normal”. Bukan itu saja, untuk apa pula Dia mengorbankan anak-Nya yang tunggal dengan mati di kayu salib (setelah disiksa dan dianiaya pula …) untuk menebus dosa manusia.

Pujilah Tuhan, karena Dia baik. Dan sangat baik, dan kasih setia-Nya sampai selama-lamanya. Percayalah kepada-Nya dengan tidak gemetar dan ragu.

Itulah yang diminta oleh nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini. Lalu Ev memesankan bahwa Tuhan akan memulihkan semua hal yang jahat bilamana mau datang kepada-Nya. Bukan itu saja, Tuhan malah menjanjikan perlindungan, dan kebaikan menyertai orang-orang yang bersorak kepada-Nya (baca: memuliakan nama-Nya).  

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Banyak hal yang membuat kita takut dalam hidup ini. Banyak hal yang mengancam kita, dan berpotensi menjauhkan kita dari sikap percaya kepada Tuhan.

Memasuki Minggu Adven ketiga ini, kita diminta untuk mempersiapkan diri dengan cara:

(1)   berpegang teguh kepada Tuhan yang menjauhkan kita dari rasa kuatir dan takut yang seringkali meneror kehidupan dan menjauhkan dari Tuhan

(2)   bersorak, dalam artian mempersaksikan iman kita bahwa Tuhan itu sangat baik sehingga kita layak bersyukur atas pertolongan dan campur tanggan-Nya

(3)   Tuhan itu pengampun, bahkan memulihkan kita yang bersedia menyerahkan hidup kita pada-Nya semata

Apalagi? Masih belum cukup?