Andaliman-53 Khotbah 27 Desember 2009 Minggu Setelah Perayaan Natal 21 Desember 2009
Posted by tanobato in Andaliman.Tags: almanak, HKBP, ilustrasi, khotbah, Minggu, refleksi
add a comment
Keselamatan datang dari Allah, dan hanya dari Dia saja.
Nas Epistel: Yesaya 52 : 7-10
52:7 Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: “Allahmu itu Raja!”
52:8 Dengarlah suara orang-orang yang mengawal engkau: mereka bersama-sama bersorak-sorai. Sebab dengan mata kepala sendiri mereka melihat bagaimana TUHAN kembali ke Sion.
52:9 Bergembiralah, bersorak-sorailah bersama-sama, hai reruntuhan Yerusalem! Sebab TUHAN telah menghibur umat-Nya, telah menebus Yerusalem.
52:10 TUHAN telah menunjukkan tangan-Nya yang kudus di depan mata semua bangsa; maka segala ujung bumi melihat keselamatan yang dari Allah kita.
Nas Evangelium: Lukas 2 : 27-35
2:27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat,
2:28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:
2:29 “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,
2:30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,
2:31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,
2:32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”
2:33 Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia.
2:34 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
2:35 –dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri–,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”
Malam ini, usai pulang dari gereja karena ditugaskan dalam pelayanan ibadah Minggu sore yang dilanjutkan dengan rapat pembentukan Panitia Jubileum, tatkala membuka Almanak HKBP untuk membuat naskah ini, sejenak aku tersentak dan tercenung ketika menyadari bahwa ini adalah Minggu terakhir untuk tahun 2009. Dengan pertolongan Tuhan, aku dimampukan untuk menuntaskan komitmenku dalam memberikan bacaan persiapan dalam menerima khotbah Minggu yang juga sebagai bekal dalam mengikuti ibadah partangiangan wejk. Tanpa terasa, Andaliman (sebagai singkatan dari “antusias dalam iman” yang sekaligus menjadi artikel mingguan situs sederhana ini) telah hadir dalam ruang baca kita dengan setia. Sesuai dengan seruan situs tanobato ini, yaitu “berkat engkau, aku diberkati untuk menjadi berkat”, kiranya mampu menjadi berkat bagi semua pembacanya.
Adalah satu seruan “Allah-mu itu adalah raja!”, yang ingin disampaikan oleh Yesaya yang menjadi nas perikop Minggu ini. Ayat ini pertama-tama mengacu kepada orang yang memberitakan pembebasan tawanan di Babel. Ayat ini juga melambangkan pemberitaan keselamatan melalui Mesias yang akan datang. Bersorak-soraklah, karena Dia datang untuk menebus dan menyelamatkan!
Seruan keselamatan jugalah yang disampaikan oleh Simeon (sebuah nama yang tidak banyak disebutkan dalam Alkitab tentang siapa dirinya selain sebagai orang saleh dan setia di bait Allah dan orang yang dipenuhi Roh Kudus), ketika menyadari bahwa anak kecil yang dibawa orangtua-Nya adalah yang sudah lama dinanti-nantikannya sebelum ia “rela” meninggalkan dunia ini dengan damai sejahtera. Kesetiaannya dalam iman menantikan kedatangan Mesias dengan menjadi hamba yang tekun, itulah yang layak dijadikan teladan.
Ini menyadarkanku tentang komitmen untuk selalu setia menjadi pelayan yang sungguh-sungguh dengan keimanan teguh bahwa Tuhan pasti akan datang kelak. Aku tahu bahwa Dia pasti datang (pada 2012, sebelumnya, atau sesudahnya, hanya Tuhan yang tahu …), namun kesetiaanku acapkali terganggu dengan apa yang aku dengar dan aku lihat serta aku rasakan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Pelayanan di jemaat tetap aku lakukan, namun motivasinya itu lho yang seringkali harus jujur aku akui bukanlah semata-mata untuk Tuhan.
Nubuatan Simeon bahwa Yesus “ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan”, memang terbukti kemudian. Sampai saat ini aku rasa, apabila kita menilik sejarah kekristenan dari masa ke masa sampai situasi terkini. Begitu banyak orang yang terkorban dan yang mengorbankan dirinya untuk mempertahankan imannya yang seringkali mengalami perbantahan dari zamannya masing-masing. Sampai kini dan di sini … Bahkan di kalangan internal Kristen sendiri, kekristenan tetap masih salah satu bahan perbantahan. Meskipun semua mengaku alkitabiah dan pengikut Yesus, namun manakala membicarakan salah satu topik yang mengarah kepada ajaran, potensi perbantahan seringkali ada di sana. Dalam beberapa pengalaman, aku seringkali harus “menahan diri” jika memperkirakan perbantahan akan terjadi manakala membicarakan suatu ajaran. Yang ini tentu saja membutuhkan hikmat dari Tuhan agar percakapan selalu kondusif dan positif.
Ucapan Simeon kepada Maria, bahwa “suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri” dapat pembuktian manakala Maria menyaksikan Yesus dengan mata kepala sendiri mengalami prosesi sampai kematian-Nya di kayu salib. Dia yang sangat mengasihi Yesus dengan proses kelahiran-Nya yang sangat penuh tantangan dan riwayat kehidupan pelayanan-Nya yang kemudian sangat penuh dinamika (dan hanya keikhlasan dan kepasrahan sebagai hamba Allah saja yang mampu menguat Maria dalam menjalani itu semua …) harus menjadi saksi peristiwa itu semua. Dalam hal ini, aku berupaya melihat Mamakku – perempuan yang melahirkanku dan membesarkanku – seberapa seringkah aku menembus jiwanya dengan perlakuanku sendiri? (oh ya, aku baru saja tersadar bahwa Minggu ini aku belum menelepon beliau untuk sekadar menanya kabar, sesuatu yang secara rutin aku lakukan sejak tidak lagi tinggal bersama kami …).
Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi
Kita semua tentulah mengimani bahwa Yesus akan datang untuk kedua kalinya kelak. Berita keselamatan yang dibawa oleh peristiwa kelahiran Yesus yang kita peringati pada bulan ini, tentulah kita juga sudah menerimanya bertahun-tahun (yang cenderung menjadi suatu hal yang rutin bahwa Desember selalu dipenuhi dengan peristiwa dan perayaan Natal). Yang menjadi renungan bagi kita saat ini (setelah menjalani peristiwa “puncak” perayaan Natal pada tanggal 25 Desember 2009) adalah tentang kesetiaan kita dalam menjalani hari-hari penantian kedatangan-Nya kelak. Dengan perayaan kelahiran-Nya, apakah Yesus memang benar-benar telah lahir (kembali) di hati kita dan menguatkan kita dalam menjalankan pelayanan (apa pun bentuknya itu …) sehingga memampukan kita untuk melaksanakannya dengan penuh keimanan dan sungguh-sungguh.
Andaliman-52 Khotbah 20 Desember 2009 Minggu Adven IV 14 Desember 2009
Posted by tanobato in Andaliman.Tags: adven, batak, HKBP, ilustrasi, khotbah, Minggu, persekutuan, refleksi
4 comments
Jangan mau terganggu dengan pengejek-pengejek! Nantikan Tuhan dengan memelihara kehidupan dalam kasih Allah dan keimanan yang teguh.
Nas Epistel: Yudas 1:17-21
1:17 Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus.
1:18 Sebab mereka telah mengatakan kepada kamu: “Menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka.”
1:19 Mereka adalah pemecah belah yang dikuasai hanya oleh keinginan-keinginan dunia ini dan yang hidup tanpa Roh Kudus.
1:20 Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.
1:21 Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal.
Nas Evangelium: Yesaya 30:18-26
30:18 Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!
30:19 Sungguh, hai bangsa di Sion yang diam di Yerusalem, engkau tidak akan terus menangis. Tentulah Tuhan akan mengasihani engkau, apabila engkau berseru-seru; pada saat Ia mendengar teriakmu, Ia akan menjawab.
30:20 Dan walaupun Tuhan memberi kamu roti dan air serba sedikit, namun Pengajarmu tidak akan menyembunyikan diri lagi, tetapi matamu akan terus melihat Dia,
30:21 dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: “Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya,” entah kamu menganan atau mengiri.
30:22 Engkau akan menganggap najis patung-patungmu yang disalut dengan perak atau yang dilapis dengan emas; engkau akan membuangnya seperti kain cemar sambil berkata kepadanya: “Keluar!”
30:23 Lalu TUHAN akan memberi hujan bagi benih yang baru kamu taburkan di ladangmu, dan dari hasil tanah itu kamu akan makan roti yang lezat dan berlimpah-limpah. Pada waktu itu ternakmu akan makan rumput di padang rumput yang luas;
30:24 sapi-sapi dan keledai-keledai yang mengerjakan tanah akan memakan makanan campuran yang sedap, yang sudah ditampi dan diayak.
30:25 Dari setiap gunung yang tinggi dan dari setiap bukit yang menjulang akan memancar sungai-sungai pada hari pembunuhan yang besar, apabila menara-menara runtuh.
30:26 Maka terang bulan purnama akan seperti terang matahari terik dan terang matahari terik akan tujuh kali ganda, yaitu seperti terangnya tujuh hari, pada waktu TUHAN membalut luka umat-Nya dan menyembuhkan bekas pukulan.
Tentang akhir zaman. Hal yang semakin banyak dibicarakan belakangan hari ini. Bukan hanya di lingkungan gereja, khususnya HKBP sebagai bagian dari rangkaian perayaan Adven dan menjelang perayaan Natal, namun juga khalayak ramai di negara kita ini. Topik yang menjadi semakin menghangat, terlebih dengan pemutaran filem 2012 yang sempat menghebohkan dan menjadi bahan pembicaraan di mana-mana. Tadi malam aku sempat menonton rekamannya di rumah, dan jujur saja, aku tidak melihat ada yang sangat luar biasa di dalamnya. Selain teknik pembuatannya (selama pemutarannya, aku tak habis bertanya: bagaimana teknik animasi dan sinematografinya sehingga dapat sebagus dan sedahsyat itu tampilannya), isi dan alur ceritanya hampir tidak mengesankan sama sekali. Kesimpulannya: tidak usahlah ‘ngotot untuk bisa menonton filem itu. Apalagi jika terpengaruh dengan sensasi yang berkembang belakangan hari ini. Menurutku, menonton filem itu tidak akan terlalu berpengaruh terhadap iman dan kepercayaan. Sebagai sekadar menambah pengetahuan, bolehlah.
Khotbah Minggu lalu menceritakan tentang kerajaan Allah yang pintunya sangat sempit karena disesaki oleh orang-orang yang berebutan untuk memasukinya. Selain “tips”, Minggu lalu juga ada peringatan: “yang terdahulu jangan sampai menjadi yang terkemudian”. Tetaplah memegang teguh firman yang telah diterima, dan melakukannya dengan sungguh-sungguh.
Minggu ini sebagai rangkaian terakhir menjelang Natal, yakni Adven keempat, nas perikop Minggu ini kembali mengingatkan untuk tetap waspada akan ajaran-ajaran yang cenderung memutarbalikkan kebenaran. Nas Ep meminta untuk menjalankan keimanan dengan hidup yang suci dan memelihara kehidupan dengan Roh Kudus sambil menantikan tibanya rahmat Tuhan untuk kehidupan yang kekal. Jangan perdulikan para pengejek-pengejak yang akan semakin banyak menjelang akhir zaman.
Inilah yang disebut dengan penantian. Penantian orang Kristen berbeda dengan pemahaman orang awam tentang penantian itu sendiri. Orang Kristen menantikan secara aktif (biasanya menanti dengan pasif, ‘kan?). Artinya menantikan tibanya akhir zaman sambil tetap melakukan pekerjaan baik yang dilandasi oleh keimanan pada Yesus Kristus.
Dalam beberapa pertemuan, bilamana membincangkan tentang sesuatu yang direncanakan pada tahun-tahun mendatang selalu ada celetukan yang dihubungkan dengan kiamat tahun 2012. Misalnya: ”Tahun depan aja kita berangkat ke Yerusalem, ito. Jangan sampai 2012, nanti ’nggak keburu karena kiamat.”, kata seorang ibu di gereja ketika aku sampaikan rencana wejk kami yang mau rame-rame ke Yerusalem tahun 2012 yang akan datang. Bahkan, anakku, si Auli – yang ternyata sempat menonton filem 2012 bersama mamaknya – juga sampai menanyakan tentang apa itu kiamat yang tentu saja aku jawab dengan bijaksana dan teologis sedikit: ”Jangan percaya, nak dengan kiamat yang dibilang orang-orang itu. Tak ada seorang pun yang tahu kapan saatnya kecuali Tuhan yang di sorga. Waktu itu semua orang akan mati, dan bencana terjadi di mana-mana.” Dan ketika dia menyahut, “Pakai pelampung aja pa supaya jangan mati tenggelam kalau tak bisa berenang di ombak yang deras. Tapi kita tak usah takut, karena nanti pasti bersama Yesus di sorga.”, aku jadi tersenyum simpul dan merasa lega.
Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi
Di tengah simpang-siur ajaran tentang akhir zaman, dan kekuatiran memasuki tahun 2010 yang semakin mendekat, nas perikop Minggu ini semakin menguatkan dan membekali kita untuk tetap setia pada ajaran yang benar. Ev yang merupakan tulisan Yesaya juga menambahkan tentang keyakinan bahwa Tuhan pasti memberikan semua yang terbaik dan yang semakin baik dari hari ke hari bagi kehidupan kita.
Dalam keberadaan hidup kita saat ini yang terkadang serba memprihatinkan dan hanya sekadarnya secara duniawi (dianalogikan dengan air dan roti yang sangat sedikit …), kita dituntut untuk setia dan menyandarkan pengharapan pada kebaikan Tuhan yang pasti akan memberikan kelimpahan yang mencukupkan kebutuhan kita. Dia juga melindungi kita dari kemusnahan. Bahkan ketika segala sesuatunya sudah runtuh, Tuhan masih memberikan sungai-sungai yang memancarkan kehidupan bagi kita.
Jadi, apa lagi yang mesti diragukan? Peganglah iman percayamu dengan setia dan sungguh-sungguh sambil menanti-nantikan kedatangan-Nya!
Andaliman-51 Khotbah 13 Desember 2009 Minggu Adven III 12 Desember 2009
Posted by tanobato in Andaliman.Tags: HKBP, almanak, persekutuan, khotbah, Minggu, ilustrasi, refleksi, adven
add a comment
Berdirilah teguh dengan patuh pada ajaran yang benar tentang Yesus Kristus untuk dapat melalui pintu yang sesak agar masuk dalam Kerajaan Allah. Jangan sampai menjadi orang yang terakhir!
Nas Epistel: 2 Tesalonika 2:13-17
2:13 Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai.
2:14 Untuk itulah Ia telah memanggil kamu oleh Injil yang kami beritakan, sehingga kamu boleh memperoleh kemuliaan Yesus Kristus, Tuhan kita.
2:15 Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.
2:16 Dan Ia, Tuhan kita Yesus Kristus, dan Allah, Bapa kita, yang dalam kasih karunia-Nya telah mengasihi kita dan yang telah menganugerahkan penghiburan abadi dan pengharapan baik kepada kita, kiranya menghibur dan menguatkan hatimu dalam pekerjaan dan perkataan yang baik.
Nas Evangelium: Lukas 13:23-30
13:23 Dan seorang yang berkata kepada-Nya: ”Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?”
13:24 Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.
13:25 Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata: “Tuan, bukakanlah kami pintu! Dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang.
13:26 Maka kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami.
13:27 Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan!
13:28 Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi, apabila kamu akan melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar.
13:29 Dan orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah.
13:30 Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang terdahulu dan ada orang yang terdahulu akan menjadi orang yang terakhir.”
Tentang kerajaan Allah adalah topik yang selalu menarik untuk dibahas. Dibicarakan dengan pelbagai perspektif. Dari masa ke masa. Dengan latar belakang (juga kemungkinan dengan motivasi dan motif) yang berbeda, tentu saja berpotensi dalam menciptakan penafsiran yang berbeda. Yang juga menimbulkan penyimpangan dari ajaran kebenaran, tentunya. Bahkan pada masa-masa belakangan ini – ketika iklim keterbukaan di Indonesia semakin nyata – acapkali terjadi perdebatan yang bahkan cenderung menyalahkan ajaran yang satu dengan serta merta mengklaim bahwa ajarannya sajalah yang benar.
Minggu Adven ketiga dengan nas perikop ini mengingatkan untuk selalu berpegang teguh pada ajaran yang benar. Rasul Paulus dalam surat kepada jemaat di Tesalonika yang menjadi nas perikop Epistel Minggu ini kembali mengingatkan tentang satu ajaran yang benar, yaitu Injil sebagaimana yang diberitakannya: berpeganglah teguh pada apa yang mereka telah terima tentang Injil.
Yesus dalam kitab Lukas yang menjadi nas perikop Ev juga menyatakan hal yang sama ketika ada yang bertanya tentang hal kerajaan Allah. Yesus – sebagaimana pada Injil lainnya yang menunjukkan kepiawaian-Nya mengkomunikasikan ajaran-Nya dengan mengambil contoh kehidupan sehari-hari – menganalogikannya sebagai pintu yang sesak. Orang berbondong-bondong dan berebutan untuk masuk. Tentu saja tidak mudah untuk dilewati, karena memang tidak semua layak untuk memasukinya. Bahkan orang-orang yang ”merasa” mengenal-Nya, belum tentu bisa lolos dari seleksi dimaksud. Bahkan para pengajar firman yang sudah seringkali makan dan minum bersama-Nya pun belum tentu dapat memasuki kerajaan Allah, karena Yesus ”tidak mengenal mereka”.
Inilah yang kembali mengingatkan diriku. Meskipun aku sudah merasa diriku sebagai pelayan jemaat yang menghabiskan banyak sumber daya (waktu, pikiran, dan lain-lain) untuk ”memberitakan Injil”, ternyata bukan jaminan untuk masuk dalam kerajaan Allah jika itu semua hanya penampakan semata. Bukan dengan hati yang tulus dan sungguh-sungguh kepada Allah. Dan jujur saja, godaan untuk menjadikan pelayanan sebagai sarana dalam mempertunjukkan diri sendiri acapkali datang menghampiriku. Bahkan kadangkala aku sudah tidak dapat lagi membedakannya, apakah motifnya masih untuk Tuhan atau hanya untuk diri sendiri agar dilihat oleh orang-orang betapa baik dan betapa salehnya diriku ini. Puji Tuhan, masih seringkali ada tegoran yang datang dari dalam diri sendiri yang kemudian mengingatkan, ”Eh, ini bukan untuk dirimu. Kembalilah kepada semangat dan prinsip pelayanan jemaat, yaitu kepada Yesus Kristus.”.
Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi
Sudah yakin bakal masuk dalam Kerajaan Allah? Pasti lolos melewati yang sempit? Atau malah menjadi bagian dari orang-orang yang dicampakkan di mana terdengar ratapan dan kertak yang keras? Ah, janganlah sampai seperti itu! Janganlah sampai sia-sia ketaatan kita kepada Kristus dengan berusaha selalu mematuhi dan menjalankan apa yang diminta kepada kita sebagai anak-anak Allah.
Inilah saatnya bagi kita untuk merenungkan-kembali kehidupan kita selama ini. Sebagai pelayan di jemaat, inilah juga saatnya merenungkan motivasi pelayanan kita selama ini. Ke mana orientasinya? Jika masih belum, inilah saatnya mengalihkan fokus kepada Kristus.
Andaliman-50 Khotbah 06 Desember 2009 Minggu Adven II 26 November 2009
Posted by tanobato in Andaliman.Tags: HKBP, almanak, persekutuan, khotbah, Minggu, ilustrasi, refleksi, berbagi
add a comment
Ia pasti melawat kita. Persiapkan diri dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik sebagai kesaksian selama hidup di dunia.
Nas Epistel: 1 Petrus 2:11-12
2:11 Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa.
2:12 Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.
Nas Evangelium: Maleakhi 3:1-4
3:1 Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam.
3:2 Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu.
3:3 Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN.
3:4 Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati TUHAN seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.
Minggu Adven kedua dengan nas perikop ini mengingatkan untuk menggunakan waktu yang tersedia (maksudnya selama masih hidup di dunia) dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang diperintahkan Tuhan. Tidak sekadar baik, tetapi juga harus memulikan Allah. Nah, di sinilah aku terpaut.
Dalam kehidupan sekarang, melakukan perbuatan baik adalah suatu hal yang tidak mudah (maksudnya, tidak semudah melakukan perbuatan jahat …). Sudah begitu pun, kalau pun mampu melakukan perbuatan baik dimaksud, tetap harus mempertimbangkan motivasi di baliknya. Dengan tegas nas Ep mencantumkan syaratnya: ”memuliakan Allah”. Selanjutnya, nas Ev juga menyampaikan syarat yang sejalan dengan itu, yaitu ”menyenangkan hati Tuhan”. Tuhan tahu motivasi di balik setiap perbuatan baik, karena Ia mampu melihat sampai ke relung yang paling jauh. Layaknya ”api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu”. Analogi itu masih ditambahkan dengan ketegasan kemampuan-Nya bahkan mentahirkan orang Lewi dan menyucikan emas. Untuk kalimat yang terakhir ini, aku teras terang menjadi tertegur. Pemahamanku tentang orang Lewi adalah kaum pemimpin ibadah alias wakil Tuhan. Tentu saja, haparhaladoon-nya tidak usah diragukan lagi. Orang suci!
Namun ternyata Tuhan mampu melihat lebih jauh daripada kesucian dan kealiman yang kasat mata. Hal ini bisa saja terjadi padaku (dan jujur saja telah terjadi beberapa kali …) di mana dalam penampilanku orang-orang yang melihatku akan menganggapku sebagai orang baik dan alim. Taat beribadah. Pokoknya segala hal yang baik. Di dalamnya? Wah, hanya Tuhan-lah yang tahu …
Syukur pada Tuhan, dengan firman ini aku diingatkan untuk mengkaji-ulang pelayanan dan perbuatan-perbuatan baik yang aku lakukan dan yang masih akan aku lakukan di kemudian hari. Mengubah motivasinya, dari hal-hal yang lain, untuk hanya menjadi kemuliaan Tuhan. Tidak ada yang lain, karena memang tidak diperlukan dalam hal ini. Hanya Tuhan, dan untuk kemuliaan-Nya. Sampai kapan? Sampai Ia datang kembali. Kapan itu? Tidak ada yang tahu selain Ia seorang. Saatnya menjadi tidak perlu, karena memang tuntutannya jelas, yaitu siap sedia setiap waktu.
Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi
Inilah saatnya untuk mengkaji-ulang perbuatan-perbuatan kita selama hidup di dunia, motivasinya dan arahnya mau ke mana. Kemuliaan Tuhan, bukan untuk kemuliaan diri sendiri. Sampai tiba saatnya kita dipanggil menghadap-Nya, yaitu saat Ia melawat kita.
Andaliman-49 Khotbah 29 November 2009 Minggu Adven-I 23 November 2009
Posted by tanobato in Andaliman.Tags: HKBP, almanak, batak, khotbah, Minggu, ilustrasi, refleksi, kiamat, nubuatan
add a comment
Percayalah akan penglihatan ini, jangan menambahi dan atau mengurangi. Waktunya akan datang …
Nas Epistel: Wahyu 22: 16-20
22:16 “Aku, Yesus, telah mengutus malaikat-Ku untuk memberi kesaksian tentang semuanya ini kepadamu bagi jemaat-jemaat. Aku adalah tunas, yaitu keturunan Daud, bintang timur yang gilang-gemilang.”
22:17 Roh dan pengantin perempuan itu berkata: “Marilah!” Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: “Marilah!” Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!
22:18 Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini.
22:19 Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.”
22:20 Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: “Ya, Aku datang segera!” Amin, datanglah, Tuhan Yesus!
Nas Evangelium: Bilangan 24: 15-17
24:15 Lalu diucapkannyalah sanjaknya, katanya: “Tutur kata Bileam bin Beor, tutur kata orang yang terbuka matanya;
24:16 tutur kata orang yang mendengar firman Allah, dan yang beroleh pengenalan akan Yang Mahatinggi, yang melihat penglihatan dari Yang Mahakuasa, sambil rebah, namun dengan mata tersingkap.
24:17 Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel, dan meremukkan pelipis-pelipis Moab, dan menghancurkan semua anak Set.
Sampai sekarang aku masih punya “hutang”, yakni menyimpan kerinduan yang dalam untuk dapat mempelajari Kitab Wahyu dengan cara lebih serius. Ini sejak beberapa tahun yang lalu, namun sampai hari ini aku belum mampu mewujudkannya. Komitmenku saat ini, nanti ketika cuti Desember, aku akan mewujudkannya dengan tidak mau menunda-nunda lagi. Aku melihat bahwa Kitab Wahyu sangat dipenuhi oleh banyak misteri dan hal-hal yang membutuhkan konsentrasi yang lebih untuk dapat memahami maksud dan isinya.
Memanglah tidak mudah untuk memahami isi Kitab Wahyu. Pesan yang ingin disampaikannya sangat jarang menggunakan kata-kata yang lugas, melainkan penuh dengan simbol dan isyarat. Hal ini berpotensi dalam ”menggoda” orang-orang untuk menafsirkannya sesuai dengan batas kemampuannya (yang lebih repot lagi kalau ada yang menafsir sesuai dengan selera dan keinginan pribadinya!). Hal itulah yang coba diingatkan dalam nas yang menjadi perikop Minggu Adven pertama ini.
Jangan menambah-nambahi, dan jangan pula mengurang-ngurangi. Tuhan akan menambahkan malapetaka bagi yang menambahi pesan firman ini, sebaliknya akan mengurangi berkat bagi orang-orang yang menguranginya.
Sudan nonton film 2012? Hari-hari ini pemutaran film tentang hari kiamat yang diramalkan akan terjadi pada Desember 2012 (berdasarkan nubuatan suku bangsa Maya ratusan tahun yang lalu) menimbulkan kehebohan. Pro dan kontra, seperti biasanya. Yang kontra mengatakan bahwa isinya menyesatkan. Yang pro mengatakan bahwa pemutaran film ini dapat menyadarkan orang-orang untuk bertobat. Yang ini juga masih bisa diperdebatkan, karena ”ancaman” kiamat sejak dari dulu sudah disampaikan (aku ingat pengenalan pertamaku tentang kiamat adalah ketika di Sekolah Minggu, yang ketika itu bu guru Sekolah Minggu mengajarkan pada kami tentang konsep surga dan neraka).
Ketika ada yang menanyakan pendapatku tentang pemuatan filem ini, aku sampaikan bahwa sebaiknya tidak usah dilarang secara membabi buta. Memang, jika disalahpahami dapat saja mempengaruhi orang untuk menjadi panik, lalu melakukan apa saja dalam ”menyambut” kiamat 2012. Yang ini belum tentu semuanya berdampak positif, bahkan sangat berpotensi dalam menimbulkan kekacauan sosial. Yang aku sarankan adalah mendampingi penonton, misalnya dengan menambahkan pengarahan dari imam dan atau alim ulama yang kompeten sehingga dipercaya oleh masyarakat penjelasannya dalam setiap pemutaran film dimaksud. Aku sendiri, akan lebih terkesima dengan teknologi pembuatan film-nya daripada isi cerita film dimaksud. Untuk goyah dan berlaku di luar nalar? Pasti jauhlah dari itu semua. Walaupun dikatakan bahwa pembuatan film itu berdasarkan suatu penglihatan, tetapi tidaklah mudah bagiku untuk mempercayainya seratus persen.
Kedua nas perikop Minggu ini – baik Epistel maupun Evangelium – dengan tegas menyampaikan bahwa kita harus mempercayai penglihatan. Bukan sembarang penglihatan, melainkan penglihatan alkitabiah. Artinya yang benar-benar tertulis dalam Alkitab. Salah satunya adalah penglihatan Yohanes tentang kedatangan Yesus yang sudah pasti. Waktunya tidak perlu tahu, bagiku tidak terlalu perlu tahu pastinya kapan, karena yang penting bagiku adalah harus selalu siap sedia kapan pun tiba saatnya. Adakalanya rasa ketidaktahuan merangsang produktivitas, salah satunya ya tentang hari kedatangan Yesus ini …
Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi
Istilah penglihatan dan nubuatan belakangan hari ini semakin sering kita lihat dan dengar melalui berbagai media. Bahkan ada beberapa orang yang mengklaim telah mendapat nubuatan yang (mereka kira dan mereka yakini) yang sah yang datangnya dari Tuhan. Tentang kebenarannya, tentu membutuhkan waktu untuk membuktikannya kemudian.
Berdasarkan pengalaman, hampir semua tidak terbukti. Dan bagi penyampai nubuatan, selalu saja alasan untuk dalih dari penglihatannya yang melenceng. Yang anehnya, tetap saja masih ada orang yang mempercayainya. Bagi sebagian yang mengklaim bahwa nubuatannya terbukti, juga berupaya bahwa hal itu adalah sesuai dengan apa yang pernah disampaikannya sebelumnya (tentu saja dengan melakukan berbagai revisi dan improvisasi agar lebih mendekati kejadian yang sebenarnya …).
Karena kita memiliki Alkitab yang kita yakini dan akui kebenarannya yang mutlak, tetaplah kita jadikan satu-satunya referensi dalam menyikapi tentang hal ini. Tidak perlu menjadi goyah dengan godaan pernyataan dari orang-orang yang mengaku sebagai penubuat sejati dan pelihat apa yang akan terjadi di masa depan. Tetap saja fokus pada pengajaran Alkitab, dengan Yesus sebagai fokus utamanya!
Sebagai pelayan di jemaat, kita harus menguatkan keimanan kita dan warga jemaat bahwa Alkitab adalah jawaban untuk semua hal dalam kehidupan. Termasuk di dalamnya tentang kedatangan Yesus. Itu pasti, dan waktunya akan tiba sehingga kita semua harus selalu siap sedia … Setiap saat!





