Andaliman-06 Khotbah 30 Maret 2014 Minggu Letare

Berani Menjadi Terang? Lakukanlah Kebenaran dengan Hati yang Dipenuhi Roh, Karena Itulah yang Dilihat Oleh Tuhan

Evangelium Efesus 5: 8-14

5:8 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang,

5:9 karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,

5:10 dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.

5:11 Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.

5:12 Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan.

5:13 Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.

5:14 Itulah sebabnya dikatakan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.”

Epistel 1 Samuel 16: 1-13

Daud diurapi menjadi raja

16:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku.”

16:2 Tetapi Samuel berkata: “Bagaimana mungkin aku pergi? Jika Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku.” Firman TUHAN: “Bawalah seekor lembu muda dan katakan: Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN.

16:3 Kemudian undanglah Isai ke upacara pengorbanan itu, lalu Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kauperbuat. Urapilah bagi-Ku orang yang akan Kusebut kepadamu.”

16:4 Samuel berbuat seperti yang difirmankan TUHAN dan tibalah ia di kota Betlehem. Para tua-tua di kota itu datang mendapatkannya dengan gemetar dan berkata: “Adakah kedatanganmu ini membawa selamat?”

16:5 Jawabnya: “Ya, benar! Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. Kuduskanlah dirimu, dan datanglah dengan daku ke upacara pengorbanan ini.” Kemudian ia menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu.

16:6 Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: “Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya.”

16:7 Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”

16:8 Lalu Isai memanggil Abinadab dan menyuruhnya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata: “Orang inipun tidak dipilih TUHAN.”

16:9 Kemudian Isai menyuruh Syama lewat, tetapi Samuel berkata: “Orang inipun tidak dipilih TUHAN.”

16:10 Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: “Semuanya ini tidak dipilih TUHAN.”

16:11 Lalu Samuel berkata kepada Isai: “Inikah anakmu semuanya?” Jawabnya: “Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba.” Kata Samuel kepada Isai: “Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari.”

16:12 Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: “Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia.”

16:13 Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.

Jika suatu kali melihat orang bermain judi di gereja – siapapun itu, warga jemaat “biasa”, apalagi pelayan jemaat – apa yang akan engkau lakukan? Terkejut, lalu marah, dan menegur mereka untuk segera menghentikan perjudian tersebut? Atau malah pura-pura ‘nggak tahu? “Bukan urusanku”, berkata dalam hati sambil pergi …

Dulu, waktu masih anggota naposo bulung di Medan, aku terkejut dan ‘nggak percaya ketika mendengar ada sekelompok penatua yang berjudi di bilut parhobasan (konon di balik ruangan konsistori) sehabis melakukan sermon parhalado. Bukan di jemaat kami, melainkan di gereja pagaran di mana jemaat kami sebagai sabungan-nya. Karena kaget dan ‘nggak percaya tentang betapa rendahnya moral dan keimanan mereka yang “lupa” pada jabatan keimaman mereka, sekaligus aku juga ‘nggak tahu apa yang harus dilakukan dalam hal “kejadian luar biasa” ini aku benar-benar tidak melakukan apa-apa (sampai sekarang aku berharap bahwa sudah dilakukan tindakan tegas oleh yang berkompeten dalam hal ini …).

Pernah juga guru huria yang mengajar kami markoor ketika masih anggota NHKBP punya kebiasaan rutin minta ditemani minum kamput (nama minuman beralkohol di Medan dengan merek Cap Kambing Putih yang lalu disingkat dan lebih populer dengan nama “kamput”) setiap usai mengajari kami latihan koor di gereja. Tengah malam tersebut, sang guru huria (sekarang jadi pendeta resort di Jakarta …) mengajak kami ke warung grosir milik penatua jemaat yang juga adalah bendahara huria yang Cuma berjarak kurang dari satu kilometer dari lokasi gereja. Dengan berboncengan sepeda motor, biasanya mereka (guru huria dan kawan anggota NHKBP) menghabiskan waktu dengan menenggak alkohol di sana, di pinggir jalan raya yang tentu saja akan mudah terlihat oleh orang-orang yang melintas di jalan tersebut.

Pertama kali diajak, aku ikut karena mengira bahwa kegiatan usai latihan koor tersebut adalah sekadar minum kopi atau minuman ringan (sebagaimana ada tradisi kami saat itu untuk pergi rame-rame makan bubur kacang hijau dan minum bandrek, utamanya kalau ada perayaan kecil-kecilan). Setelah tahu bahwa yang diminum oleh guru huria dan beberapa kawan tersebut adalah kamput, maka aku pun bereaksi dengan cara mengajak pulang kawan-kawan yang sama terkejutnya dengan aku. Selanjutnya, aku ‘nggak pernah mau sekalipun ikut rame-rame usai latihan koor kalau pesertanya ada guru huria tersebut dalam rombongan.

Waktu itu aku merasa ‘nggak pantas kalau ada “orang-orang gereja” yang melakukan perbuatan tercela (yang sekarang aku semakin sadar bahwa gereja bukanlah dihuni oleh semua orang-orang yang suci, walaupun Tuhan memerintahkan untuk menjadi orang-orang yang kudus). Walau nyaris menjadi bagian dari kelompok “sesat” tersebut, aku bersyukur tidak ikut-ikutan dalam perbuatan tersebut, dan berharap bahwa apa yang aku lakukan sebagai bentuk protes dengan tidak pernah mau diajak bisa dianggap sebagai sebuah bentuk teguran. Aku bukanlah orang yang sangat baik (apalagi sempurna!), namun untuk hal-hal yang standar aku masih tahu mana yang pantas dan yang tidak pantas. Apalagi sekarang setelah menjadi penatua, ya …

Demikianlah pesan yang mau disampaikan oleh nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini. “Jadilah terang, jangan ikut menjadi bagian dari kegelapan, malah seharusnya menelanjangi kegelapan tersebut”. Artinya, harus dalam bentuk tindakan karena peneguran aadalah refleksi dari kasih, yakni kalau teguran tersebut dilakukan dengan hati yang tulus dan bersih. Bukan untuk menunjukkan kehebatan, atau kelebihan diri sendiri yang malah mengarah kepada kesombongan. Untuk itu meman dibutuhkan keberanian “ekstra” karena tidak semua orang yang ditegur dalam kegelapannya dapat dengan mudah menerima teguran.

Demikian jugalah dengan proses pengurapan Daud menjadi raja Israel sebagaimana dikisahkan dalam nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini. Samuel yang dulu mengurapi Saul menjadi raja Israel yang pertama, harus melaksanakan perintah Tuhan untuk mencari penggantinya. Ada beban moral, memang baginya. Tapi perintah Tuhan harus dilaksanakan. Oleh sebab itu, pergilah dia ke keluarga Isai sesuai petunjuk Tuhan.

Karena dipengaruhi profil Saul yang konon tinggi besar sebagai raja yang dulu dilantiknya, postur tersebut memengaruhi Samuel ketika menduga Eliab-lah yang akan mengganti Raja Saul, namun Tuhan menolaknya. Demikian juga dengan saudara-saudara lainnya (yang kemungkinan besar adalah berpostur yang mirip dengan Eliab yang adalah prajurit perang Israel yang tangguh), yang juga ditolak oleh Tuhan. Karena semuanya ditolak Tuhan, akhirnya Samuel menyuruh Isai untuk memanggil anaknya yang seorang lagi yang ternyata masih ada dan sedang bekerja di ladang.

Yang semula ‘nggak “masuk hitungan” karena posturnya yang relatif kecil dan profesinya yang “cuma” seorang gembala, malah akhirnya Daud yang terpilih menjadi (calon) Raja Israel dan yang berkenan bagi Tuhan. Sungguh tak terduga kehendak Tuhan, bisa sangat jauh berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh manusia!   

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Sebagai manusia yang terbiasa mengandalkan pikiran, kita terbiasa menetapkan suatu standar dalam menentukan pilihan. Termasuk di dalamnya dalam memilih seseorang, yang biasanya sangat ditentukan oleh apa yang kelihatan daripada apa yang tidak kelihatan. Fisik seringkali menjadi parameter utama, namun hari ini kita diingatkan bahwa bagi Tuhan yang utama adalah hati (sesuatu yang hanya Tuhan paling mengetahui …).

Berhubungan dengan hal itu, dalam menjalankan peran kita sebagai terang, kita juga harus melakukannya dengan hati yang sungguh-sungguh. Bukan untuk “sok-sokan”, supaya dilihat dan dipuji oleh orang-orang, yang berpotensi mengarah kepada mencuri kemuliaan Tuhan.

Bagaimana kita mengetahui tentang “hati” sebagaimana yang dimintakan oleh Tuhan? Nas Ev memberi petunjuk, yaitu dengan menguji segala sesuatu (ayat-10). Dan firman Tuhan adalah alat uji alias standar kualitasnya. Dengan terang Roh Kudus, kita pasti akan mengetahui apakah yang dilakukan oleh orang lain dan yang kita lakukan dalam pelayanan jemaat adalah sesuai dengan firman-Nya, ataukah sekadar untuk kesombongan dan kemuliaan diri sendiri.

Pertanyaan untuk Diskusi:

(1)    Tidak mudah dalam menjalankan peran sebagai terang dalam kegelapan, misalnya dengan menegur orang yang melakukan kesalahan. Apalagi bila orang tersebut adalah orang yang dihormati dalam lingkungan tersebut. Apa yang menjadi batasan Antara menjalankan peranh sebagai terang dengan mencampuri urusan orang lain?

(2)   Saul dipilih oleh Tuhan sebagai Raja Israel dengan perantaraan Samuel yang adalah nabi-Nya. Lantas, Samuel pula yang diminta Tuhan untuk mencari pengganti Saul dengan cara memilih Daud yang sebenarnya tidak “masuk hitungan” dalam kriteria sebagai raja. Bagaimana kita bisa memahami hal ini dalam terang Alkitab?

Daud walau sudah diurapi sebagai Raja Israel, ternyata tidak langsung secara otomatis menjadi Raja Israel karena masih mengalami berbagai peristiwa lain – antara lain menjadi pelayan Saul, mengalahkan Goliat, bahkan dilecehkan oleh saudara-saudara kandungnya juga – sebelum akhirnya dilantik menjadi raja setelah kematian Saul. Pesan apa yang bisa kita dapatkan dari proses yang masih harus dijalani oleh Daud ini?

Andaliman-05 Khotbah 16 Maret 2014 Minggu Reminiscere

Lahir Baru, atau Dilahirkan Kembali?

Evangelium Yohanes 3:1-17

Percakapan dengan Nikodemus

3:1 Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi.

3:2 Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.”

3:3 Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”

3:4 Kata Nikodemus kepada-Nya: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?”

3:5 Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.

3:6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.

3:7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.

3:8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.”

3:9 Nikodemus menjawab, katanya: “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?”

3:10 Jawab Yesus: “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?

3:11 Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami.

3:12 Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?

3:13 Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.

3:14 Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,

3:15 supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.

3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

3:17 Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.

Epistel Roma 4: 1-5 + 13-17

Abraham dibenarkan karena iman

4:1 Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita?

4:2 Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah.

4:3 Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”

4:4 Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya.

4:5 Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran.

4:13 Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman.

4:14 Sebab jika mereka yang mengharapkannya dari hukum Taurat, menerima bagian yang dijanjikan Allah, maka sia-sialah iman dan batallah janji itu.

4:15 Karena hukum Taurat membangkitkan murka, tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran.

4:16 Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, –

4:17 seperti ada tertulis: “Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa” — di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.

Andaliman-04 Khotbah 09 Maret 2014 Minggu Invocavit

Awas Jebakan Iblis! Pegang Teguh Keselamatan!

Evangelium Kejadian 2:16-17 + 3:1-7 (Bahasa Batak 1 Musa)

2:16 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,

2:17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

Manusia jatuh ke dalam dosa

3:1 Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?”

3:2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,

3:3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.”

3:4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati,

3:5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

3:6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.

3:7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

Epistel Roma 5: 12-19

Adam dan Kristus

5:12 Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.

5:13 Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat.

5:14 Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang.

5:15 Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.

 5:16 Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran.

5:17 Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.

5:18 Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup.

5:19 Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.

Andaliman-03 Khotbah 02 Maret 2014 Minggu Estomihi

Jangan Takut, dan Jangan Ragukan Keselamatanmu yang Datangnya dari Tuhan! Bagi Dia Sajalah Kemuliaan!

Evangelium Matius 17:1-9

Yesus dimuliakan di atas gunung

17:1 Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. 17:2 Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. 17:3 Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. 17:4 Kata Petrus kepada Yesus: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” 17:5 Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” 17:6 Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan. 17:7 Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: “Berdirilah, jangan takut!” 17:8 Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri. 17:9 Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: “Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorangpun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.”

Epistel Keluaran 14: 12-18 (Bahasa Batak 2 Musa)

14:12 Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini.” 14:13 Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya. 14:14 TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.”

Menyeberangi Laut Teberau

14:15 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat. 14:16 Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering. 14:17 Tetapi sungguh Aku akan mengeraskan hati orang Mesir, sehingga mereka menyusul orang Israel, dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya, keretanya dan orangnya yang berkuda, Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku. 14:18 Maka orang Mesir akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, apabila Aku memperlihatkan kemuliaan-Ku terhadap Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda.”

Alkitab itu sungguh luar biasa! Hari ini aku kembali terpesona dengan pesan yang disampaikannya melalui nas perikop Minggu ini. Beberapa simbolis tersirat di dalam nas Ev yang mengisahkan penglihatan luar biasa yang disaksikan oleh tiga orang murid pilihan Yesus untuk peristiwa sarat makna ini. Lihatlah:

  1. Yesus berubah rupa, yang dalam Bahasa aslinya menjelaskan bahwa perubahan tersebut berasal dari dalam diri Yesus. Artinya ekspresi yang disebabkan perubahan dari dalam diri Yesus, bukan dipengaruhi oleh faktor luar (sangat berbeda dengan perubahan wujud yang dilakukan oleh manusia, misalnya dengan bedah wajah, atau perawatan wajah di salon yang bisa dilakukan supaya menjadi apa saja sesuai dengan keinginan, bukan?). Perubahan dari dalam diri (secara rohani, itulah yang diinginkan bagi semua orang percaya, bukan sekadar tampilan luar yang adalah kepura-puraan …).
  2. Percakapan yang terjadi antara Yesus, Musa, dan Elia. Mereka bertiga membicarakan apa yang akan terjadi kemudian di Yerusalem (yang tentunya sekitar peristiwa kematian Yesus dan keselamatan atas kebangkitan-Nya dari kematian), yang ditunjukkan oleh Musa (tokoh besar bangsa Israel) yang mati dan mendapat tempat istimewa di surga, dan Elia (nabi besar bangsa Israel) yang naik ke surga tanpa melalui kematian, alias diangkat langsung ke surga. Menurutku, pemilihan kedua tokoh ini dan dipersaksikan oleh ketiga murid pilihan tersebut bukan tanpa alasan yang pasti. Ini membuktikan bahwa kisah surgawi (dan penghuninya) adalah hal yang pasti dan benar-benar ada. Dan tidak ada hambatan/pertentangan antara Perjanjian Lama dengan Tauratnya, dan Yesus yang adalah tokoh pada Perjanjian Baru yang menggenapi Taurat tersebut dengan hukum kasih. Suara Allah Bapa yang berseru di balik awan meneguhkan tentang ke-benar-an Yesus sebagai Anak Allah yang menjadi manusia.

Nas Minggu ini mengingatkanku untuk tidak takut (hal yang benar-benar relatif sering menghantuiku belakangan hari ini, utamanya bila memikirkan pekerjaanku sekarang ini …), sikap yang sudah sangat lama aku tinggalkan, bahkan ketika masih hidup di wilayah konflik Nanggroe Aceh Darussalam. Maklum ajalah kalau aku menjadi rada emosional membaca perikop ini. Dinihari tadi di doa pagiku aku masih protes kepada Tuhan (setelah sore hari kemarin protes keras secara langsung) manakala mendengar kabar bahwa seorang kawanku mantan sesama karyawan di satu perusahaan yang sama (dan beberapa kali di kota yang sama denganku) yang sudah berhenti bekerja beberapa tahun lalu dan beralih jadi pengusaha restoran yang mulai sukses (sehingga menurutku ‘nggak butuh lagi bekerja sebagai karyawan …) malah mendapat tawaran bekerja sebagai seorang professional dengan pekerjaan yang lebih pas (sekali lagi, ini menurutku ya …) bagiku karena sesuai dengan latar belakangku daripada beliau sendiri. “Aneh banget Kau, Tuhan! Aku yang memintanya dengan sungguh-sungguh karena sangat membutuhkan pekerjaan yang baru yang lebih punya banyak waktu untuk pelayanan jemaat, koq malah dia yang sepertinya ‘nggak butuh malah mendapat pekerjaan tersebut yang lebih cocok buatku?”

Betul-betul manusia banget aku ini, ya? Sudah manusia, sangat kedagingan pula! Ketika terbangun dari tidur tadi pagi, aku jadi tersipu malu (karena sadar akan kesombonganku yang sok protes kepada Tuhan karena merasa diri lebih pintar tentang keputusan-Nya yang adalah mutlak dan paling tepat, hehehe …) sambil bertanya-tanya tentang makna mimpiku sebelumnya yang dengan tegas ada kalimat: “Tunggu tujuh setengah tahun lagi …”. Alamakkkk!

Kelakuan orang Israel sebagaimana diceritakan di nas Ep ini rada mirip dengan apa yang aku lakukan belakangan ini. Berteriak-teriak, berseru-seru meminta, sambil bersungut-sungut (ini sedikit aku lakukan, tidak seperti bangsa Israel yang selalu menggerutu …). Untungnya ada Musa (bagiku siapa, ya? Ow, Yesus sajalah tentunya!) yang menjadi perantara mereka dengan Allah yang selalu menguatkan mereka agar selalu percaya dan berharap kepada Tuhan. Bahkan menghadapi kejaran orang Mesir, Musa menunjukkan kuasanya melalui tongkat yang diberkati oleh Tuhan untuk membelah dan mengeringkan laut.

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Sungguh menyejukkan perkataan yang disampaikan Yesus dan Allah dalam nas perikop Minggu ini: “Jangan takut!”. Lebih menguatkan lagi ucapan Musa (yang tentunya diilhami oleh Allah), “Kamu tidak akan bertemu dan melihat lagi orang Mesir”, yang kemudian membelah laut dengan tongkatnya sehingga memungkinkan bagi orang Israel untuk menyeberang dengan selamat, sedangkan laut yang sama kemudian menjadi kuburan bagi orang-orang Mesir.

Rasa takut dan kuatir adalah “makanan” sehari-hari bagi manusia pada zaman ini. Takut miskin (utamanya bagi pemuja materialisme), takut ‘nggak dapat jodoh (bagi yang sudah dewasa namun belum menemukan belahan jiwanya), takut ‘nggak dapat pekerjaan, takut ‘nggak diterima dalam pergaulan, dan banyak perasaan takut lainnya. Puji Tuhan, hari ini kita diingatkan untuk mengalahkan rasa takut tersebut berlandaskan iman kepada Tuhan dan Yesus yang dalam kemuliaan-Nya berkuasa dalam mengatasi segala masalah (apakah ada lagi masalah yang lebih berat daripada mengeringkan laut di tengah kejaran maut yang mengancam kehidupan secara nyata?) sehingga “kita tidak akan pernah lagi bertemu dengan masalah tersebut”.

Satu lagi, Tuhan itu sangat kreatif. Siapa yang menyangka Beliau “kepikiran” mengeringkan air laut (‘nggak seorang pun menduga itu sebagai jalan yang dilakukan Tuhan, bahkan mungkin sampai hari ini!) sebagai solusi jitu dalam menyelamatkan bangsa Israel yang kesehariannya adalah juga orang-orang yang tidak selalu patuh pada perintah-Nya. ‘Nggak jauh beda dengan kita juga, ‘kan? Lantas, koq masih ragu? Tuhan mampu melakukan hal luar biasa tersebut pada ratusan tahun yang lalu, apa alasannya kita meragukan kemampuan yang sama dalam mengatasi masalah kita saat ini?

Pertanyaan untuk Diskusi:

(1)         Pada nas Ev di ayat 9, Yesus mengingatkan ketiga murid tersebut untuk tidak memberitahu siapapun tentang penglihatan yang luar biasa tersebut sebelum Dia (“Anak Manusia”) dibangkitkan dari antara orang mati. Mengapa? Apakah Yesus “malu-malu” menunjukkan tentang diri-Nya? Dan bagaimana pula kedua murid tersebut mampu menahan diri merahasiakan hal tersebut? Bandingkan dengan situasi sekarang bilamana ada seseorang yang mengklaim dirinya melihat suatu penglihatan yang langsung berkoar-koar dalam khotbahnya kepada semua orang betapa luar biasanya dirinya, bukan diri-Nya (yang memberikan penglihatan tersebut!)

Jika dalam nas Ep ini bangsa Israel diselamatkan Tuhan melalui pimpinan Musa dengan tongkatnya yang luar biasa, siapakah yang menjadi “pengganti” Musa dan tongkat tersebut bagi kita saat ini?

Andaliman-01 Khotbah 16 Februari 2014 Minggu Septuagesima

Dipilih, Dipilih … Ayo Dipilih! Jangan Sampai Salah Pilih!

Evangelium Ulangan 30: 15-20 (bahasa Batak 5 Musa)

15 Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan,

16 karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya.

17 Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya,

18 maka aku memberitahukan kepadamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu akan binasa; tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya.

19 Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu,

20 dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.”

Epistel 1 Korintus 3:1-9

Perselisihan

1 Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus.

2 Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya.

3 Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?

4 Karena jika yang seorang berkata: “Aku dari golongan Paulus,” dan yang lain berkata: “Aku dari golongan Apolos,” bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani?

5 Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya.

6 Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.

7 Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.

8 Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.

9 Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.

Judul tulisan di atas terinspirasi oleh teriakan-teriakan pedagang kaki-lima dalam menjajakan daganganya. Umumnya barang-barang yang ditawarkannya adalah barang-barang keperluan sehari-hari, dan dijual dengan harga yang relatif murah. Mengesankan hal yang mudah kalau hanya sekadar mempertimbangkan bahwa uang yang “dipertaruhkan” adalah dalam jumlah yang sedikit. Tapi jangan salah, bagi yang sedang membutuhkan barang yang terkesan remeh tersebut (gayung plastik untuk mandi, misalnya …) kalau salah memilih tetap saja mengandung konsekuensi dan resikonya sendiri. Kalau gayung mandi tersebut ternyata ukurannya tidak sesuai dengan jumlah air yang bisa dimandikan (kebesaran atau kekecilan …), tentu saja pasti mengganggu kenyamanan mandi yang seharusnya dinikmati dengan sukacita karena merasakan sensasi kesegaran …

Hidup kita selalu diikuti dengan pilihan, dan keputusan untuk mendapatkan yang terbaik, tentunya. Dimulai dengan pagi hari ketika bangun dari tidur, kita akan mulai memilih, mau yang mana dulu: langsung mandi, atau sekadar sikat gigi terlebih dahulu, atau minum kopi? Tentunya setelah berdoa pagi dan membaca renungan, ya … Lalu memilih pakaian, mau pakai yang mana? Bahkan kalau ada kewajiban memakai seragam pun, tetap harus memilih (kalau ada lebih dari satu pakaian seragam yang tergantung di lemari pakaian, tentulah membutuhkan pilihan …). Demikian selanjutnya. Hidup adalah pilihan! Salah memilih, tanggung sendiri resikonya!

Demikianlah yang disampaikan oleh nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini. Melalui Musa, Tuhan menyampaikan, bahwa semua umat Israel diberikan kebebasan untuk memilih: ikut Allah, atau patuh kepada allah. Mau hidup, atau mau mati. Mati berkat, atau mau kutuk. Semua punya konsekuensi masing-masing. Untuk memilih dengan tepat, dibutuhkan kedewasaan. Bukan sekadar kedewasaan usia atau umur, melainkan juga kedewasaan dan kematangan berfikir. Termasuk juga di dalamnya adalah kedewasaan dalam menyikapi konsekuensinya. Tidak selamanya pilihan yang kita ambil adalah yang terbaik menurut kita, ‘kan? Jadi, diperlukan kedewasaan sikap dalam menerima dan menanggung akibatnya.

Bukan hanya kedewasaan dalam menerima kepahitan, namun juga dibutuhkan kedewasaan dalam menerima hasil yang menggembirakan. Betapa seringnya kita mendengar bahwa beberapa orang malah menjadi menderita setelah mendapatkan sesuatu yang semula dikira hal yang baik. Contohnya adalah betapa banyaknya orang terperosok dan menanggung derita setelah mendapatkan kekayaan, kenaikan pangkat, dan hal-hal lainnya. Orang yang semula baik, lalu terpilih menjadi bupati atau gubernur, malah kemudian masuk penjara, adalah satu contoh di antaranya.

Itulah sebabnya Paulus mengingatkan melalui nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini untuk bersikap dewasa. Jangan lagi menjadi anak-anak terus menerus yang selalu harus disuapi dengan susu, walau usia sudah seharusnya mampu memakan nasi yang keras. Sikap kekanak-kanakan jualah yang ditunjukkan oleh jemaat mula-mula tersebut dengan membanding-bandingkan diri mereka satu sama lain, yakni antara “geng” Paulus atau “geng” Apolos (ma’af, jangan salah memahami dengan penggunaan kata “geng” ini, ya?).

Yang satu menganggap dirinya lebih tinggi daripada yang lain. Mereka tidak memahami bahwa Injil bukanlah semata-mata mengandalkan intelektualitas, melainkan kepatuhan dalam menuruti perintahnya, itulah yang paling penting. Bukan duniawi atau manusiawi, melainkan rohani. Siapapun pemberita firman, yang utama bukanlah dirinya, melainkan hanya Tuhan-lah yang diberitakan dan dimuliakan. Dan hanya Tuhan sajalah yang berhak menerima kemuliaan, bukan pemberitanya yang bisa jadi besok malah menjadi penyesat umat.

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Sudahlah jelas bahwa jalan Tuhan-lah yang paling layak untuk diikuti. Sebagaimana Tuhan sudah menjanjikan – dan sekaligus menjadi saksi terhadap perjanjian kita untuk mengikuti-Nya – bahwa berkat akan selalu menyertai setiap orang yang mengikuti-Nya, kepatuhan yang mutlak sangat dimintakan dari kita yang mengaku sebagai pengikut-Nya.

Hari ini kita ditantang untuk menetapkan pilihan. Masih adakah yang belum menetapkan pilihannya? Atau, masih adakah yang sudah menetapkan pilihannya, namun berbeda dengan apa yang dipesankan oleh perikop ini?

Hanya Tuhan sajalah yang layak dipilih untuk diikuti, karena janji-Nya adalah teguh dan ‘ngak pernah meleset. Bukan manusia, siapapun itu, mau pendeta, sintua, raja, pejabat, atau siapapun dia atau siapapun mereka itu, janjinya bukanlah suatu jaminan yang mutlak untuk bisa mereka penuhi. Jangan salah pilih!