jump to navigation

Jas, Batik, Batak … 27 Agustus 2009

Posted by tanobato in Aku dan Tiga Perempuan Perkasa, HKBP.
Tags: , , , ,
add a comment

Batik versus Jas (270809)

Ini tentang pakaian yang dihubungkan dengan gereja. Masih ingat dengan ceritaku saat pendeta resort dan para penatua lengkap datang ke rumah untuk meminta konfirmasi kesediaanku menjadi calon sintua pada 01 Agustus yang lalu? http://tanobato.wordpress.com/2009/08/09/dipatota-dan-diririt-untuk-jadi-calon-sintua-konde-untuk-kaum-ibu/ Salah satu topik menarik yang kami bicarakan (dan didukung oleh pendeta resort dan sintua senior …) adalah usulanku agar parhalado tidak usah harus memakai jas saat bertugas, apalagi saat tidak bertugas. Berbatik saja cukuplah. Alasan yang aku sampaikan saat itu adalah fleksibilitas parhalado sebagai pelayan jemaat (misalnya jika ada seorang anak yang menangis karena terjatuh di gereja, besar kemungkinan parhalado yang notabene adalah pelayan akan menjadi “sungkan” untuk menolong mengangkat anak tersebut karena terganggu dengan jahitan jas dan “kebersihan” jas yang dipakainya saat itu …). Kondisi cuaca dan jemaat juga belum tentu mendukung penggunaan jas (di jemaat kami, misalnya tidak ada pendingin udara untuk menghalau panasnya udara Jakarta …). Dan juga, biaya perawatan jas tentulah lebih mahal daripada biaya perawatan kemeja batik (bukankah kita harus berhemat?). Dengan mengisahkan pengalaman mereka saat mengikuti Sinode Godang yang lalu dengan berkemeja batik di antara peserta yang memakai jas terbaik mereka, aku kira hal berbatik ini sudah jelas. Paling tidak, untuk parhalado yang hadir pada malam itu di rumah kami.

Hal yang berbeda ternyata terjadi pada Minggu, 16 Agustus 2009 yang lalu di gereja kami, yakni saat penahbisan penatua baru dan pengenalan sintua learning kepada jemaat. Karena hari-hari sebelumnya aku bertugas ke berbagai daerah (sehingga tidak menghadiri parguru-endean dan partangiangan wejk sebagaimana sudah aku sampaikan kepada parhalado sebelumnya), maka informasi yang aku miliki hanyalah apa yang kami bicarakan pada partangiangan wejk terakhir yang aku hadiri dan pesan-pendek ketua Koor Ama yang hanya menyampaikan bahwa kami perlu latihan Minggu pagi itu jam 07.30 WIB karena  kami akan mengisi acara dengan paduan suara.

Pagi itu, jam tujuh lewat sedikit kami (aku, Auli, dan mamaknya) sudah tiba di gereja. Setelah memarkirkan kendaraan, di depan pintu masuk kami bertemu dengan ketua lunggu yang hari itu isterinya akan ditahbiskan sebagai sintua. Memakai jas yang sangat kelihatan masih sangat baru, beliau memberikan komentar positif kepada mak Auli yang patuh mengikuti aturan berpakaian yang disampaikan oleh isteri beliau saat datang ke rumah kami beserta rombongan pada malam awal Agustus itu). Ada juga seorang bapak aktivis gereja yang ikut ‘ngobrol saat itu. Tak lama kemudian datang sintua yang bendahara huria (atau bendahara huria yang sintua?) ikut nimbrung. Eh tiba-tiba, sang benhur (singkatan dari bendahara huria …) menarik tangan dan mengajakku ke samping sehingga terjadi dialog:

Benhur         : Hubereng adong na hurang pas … Aku lihat ada yang kurang  pas …

Aku              : Aha i, amang. Na adong do na sala? Apa, ya amang? Ada yang salah?

Benhur         : Paheanmuna i, amang. Boasa ‘ndang marjas hamu? Pakaian amang itu. Kenapa tak berjas?

Aku              : Ingkon marjas do, amang? Ndang huboto na adong ketentuanna na songon i. Harus berjas, ya amang? Tak tahu aku ada ketentuan seperti itu.

Benhur         : Ndang adong paboan tu hamu na ingkon marjas? Asa toman jala suman do daba … ‘Nggak ada yang memberitahu harus berjas? Supaya berwibawa dan pantas, ah …

Aku              : I do, amang? Panghilalaanku suman do songon on. Anggo toman, ndang huboto. Di tingki ro rombongan parhalado tu jabu mangaririt ndang adong dipaboa na ingkon marjas. Boha na ma i? Begitu, ya amang? Menurutku, bagusnya begini. Kalau tentang wibawa, tak tahulah aku. Waktu rombongan datang ke rumah, tak ada pemberitahuan harus berjas. ‘Gimana, ya? 

Benhur         : Marboha bahenon ma … Apa boleh buatlah …

Menjelang mulai ibadah, kami pun ke bilut parhobasan alias konsistori. Di depan pintu, aku bertemu dengan sintua senior yang juga sama kagetnya ketika melihatku tidak berjas. Tentu saja aku ingatkan pembicaraan di rumah saat itu yang aku sampaikan bahwa aku lebih memilih batik daripada jas, dan juga tidak ada pemberitahuan tentang keharusan berjas pada hari itu. Tawarannya untuk meminjamkan jas yang dipakainya (karena nanti saat ibadah dia akan menggunakan toga sebagai par-agenda) tentu saja aku tolak. Di konsistori pun, beberapa parhalado sempat bertanya (dan tertanya-tanya dalam hati, mungkin …) melihatku. Menyadari hal itu, mak Auli yang berdiri di sampingku sempat berbisik,”Cuma papa aja yang tidak memakai jas. ‘Gimana itu?”. Lalu aku jawab,”Tenang saja, bukan pakaian yang dipakai bertugas itu yang paling perlu … Lagian, ‘kan sudah dibicarakan saat rombongan datang ke rumah.”.

Lalu pembagian tugas dan penjelasan liturgi oleh pendeta resort. Lalu prosesi memasuki ruang ibadah. Dari tatapan warga jemaat yang hadir, aku sempat menangkap nada bertanya di mata mereka. Saat punguan koor ama kami bernyanyi, aku juga menjadi satu-satunya peserta paduan suara yang tidak berjas. Ternyata kawan-kawanku itu sepakat berjas (sesuatu yang belum pernah terjadi tahun ini, dan tidak pula diberitahu padaku …).

Usai ibadah – yang di dalamnya diisi dengan penahbisan sintua baru yang sebelumnya didahului dengan pengenalan calon sintua (kami ada tiga orang …) – dilanjutkan dengan makan bersama sekaligus ucapan syukur ulang tahun gereja yang ke-22.

Sebagaimana lazimnya, beberapa kenalan menyampaikan ucapan selamat menjadi calon sintua yang aku balas dengan mengucapkan terima kasih. Yang mengesankan bagiku adalah saat seorang ibu setengah baya datang menyalam sambil mengucapkan: “Selamat, amang. Aku bersyukur pada Tuhan karena amang bersedia menjadi calon sintua. Aku banyak berharap pada amang untuk melakukan perbaikan dan perubahan di gereja ini. Jangan mau terbawa dengan yang lainnya. Doa khususku pada amang aku sampaikan kepada Tuhan supaya amang diberkati, disertai-Nya selalu dengan diberikan kekuatan dan kemampuan.”.  Beliau aku kenal sebagai isteri dari donatur gereja yang juga aktivis (kami sama-sama pelayan di Dewan Marturia), yang juga setia dan teratur beribadah di denominasi lain sebagaimana suami dan anak-anaknya (karena merasa lebih pas pelayanannya dibanding di HKBP). Beliau juga tahu aku alumni STT yang dosenku adalah pendeta yang dikaguminya di gereja non-HKBP tersebut …

Karena terasa “berlebihan” (jujur saja, terasa berat bagiku untuk mewujudkannya ‘dalam tempo yang sesingkat-singkatnya’ meskipun itu adalah mimpi yang selalu menantangku untuk membuatnya menjadi kenyataan …), aku hanya tersenyum dan memohon agar beliau selalu mendoakan. Ketika duduk di bangku paling belakang di ruang pertemuan itu, di tengah hiruk pikuknya orang-orang yang berbicara satu sama lain dan diimbangi suara protokol acara (yang juga kawanku di koor ama sekaligus calon sintua se-wejk) yang berusaha mengatur hadirin, aku bertanya dalam hati sejenak: “Mungkinkah inang itu tadi menangkap ‘gelagat’ bahwa aku adalah seseorang yang ‘berbeda’ dengan parhalado lainnya? Apakah ada orang-orang yang lain yang menangkap kesan yang sama dengan beliau?” Mudah-mudahan saja …

Yang penting bagiku, bukan sekadar berbeda. Tapi harus lebih baik segala-galanya dalam pelayanan jemaat. Dan paling penting, bukan aku, melainkan untuk kemuliaan nama-Nya. Do’akan saja!

Marhata Batak ma Hita: Sada Nari Taringot tu na mar-SMS (di Ulaon Halak na Marsahit …) 8 Juli 2009

Posted by tanobato in HKBP.
Tags: , , , , , ,
2 comments

Manggarar utang janji tu sada SMS (= short message service = pesan pendek marhite ponsel manang HP) sian sada dongan ama na raphat mangurus di ulaon panghobasion di huria i ma alus ni boa-boa nasida paboahon na marsahit stroke jala opname do parsonduk bolonna di rumah sakit, na arian lao do ahu marnidasa. Ndang hea dope hutanda nasida, ala holan sahali dope ra pajumpang di parrapotan. Alai mauliate ma di Tuhanta, marhite ponsel boi do ahu muse pajumpa bohi na arian di rumah sakit i (i ma martalipon muse nang pe nunga di sada ruangan na dos …).

Nunga saminggu halak inang i (pardijabu nasida) peak di ruang gawat darurat (ICU = Intensive Care Unit) di bagasan na so sadar dope. Dibahen i, ndang diloas dokter dope pasien i dijumpangi angka tondong. Sian ruar di jolo ni pintu ma ahu nangkin manatap nasida. Suang songon i muse keluarga na ro dungkon ahu.

Duansa nasida (amang, dohot inang na marsahit) dohot do gabe pangurus Marturia. Ala dua hali dope hami marrapot, jala nasida sian huria na asing, jadi ndang hea dope hami manghatai. Sadari on dope tinanda nasida. Songon i ma dope parjadina, marboha bahenon nama jolo …

Ari Jumahat minggu na salpu ma masuk SMS ni amang i paboahon na marsahit halak inang. Hupaboa ma na di luar kota dope ahu. Mulak tu Jakarta ma muse asa pajumpang hami. I ma binahen na husangahon ro na arian tu rumah sakit (ala pas cuti muse do ahu saminggu on …).

Di pardalanan dung sae sian rumah sakit, hutongos ma SMS tu sude dongan pangurus Marturia asa dilehon nasida roha nasida tu dongan na manean parsahitan songon na nialaman ni dua dongan pangurus i. Songon on ma isina hubahen: “Boa2. Dirawat do nuaeng Inang br Sinaga (Ny St BTH Sihombing – Pelaut)di ICU RS Abdi Waluyo Jln. HOS Cokroaminoto, Menteng, Jkt. Taida las boan di tangiangta. Horas!” Sahat tu tingki on holan opat halak dope na mangalusi. Dua halak holan mandok mauliate ala naung pinaboa, sada nari manungkun andigan do na naeng laho marnida tu si. Sada nai? I ma na mambahen ahu mengkel mardongan asi roha manang lungun (hata Indonesia-na: prihatin …). Songon on ma didok di si: “Tlng kirimin alamat rumah sakitnya dimana yg jelas bls makasih”.

Sanga do ahu tarhatotong satongkin: di dia na dope na hurang alamat i? Naeng do balosononku mandok songon on: “Porlu dope hukirim peta dohot gombar ni rumah sakit i?” Alai sundatma ala marpikir dope ahu tu hapantunon manang etika. Ala so hutanda dope tangkas na dia halak na manongos SMS i. Aru satobang niba tong do marpikir dope ahu, ba boha muse las dao di ginjanghu umur nasida? Maila ma da. Jala ndang siulaon na hurang suman, ate …

Semangat Marturia, Rapat, E-mail, dan Blog Komunitas 16 Juni 2009

Posted by tanobato in HKBP.
Tags: ,
1 comment so far

Pengurus 150609

Tadi malam (15/06/09) berlangsung Rapat Pengurus/Pelayan Marturia Wilayah Kerja Jakarta Utara di HKBP Immanuel Kelapa Gading yang dijadikan sebagai sekretariat. Rapat yang pertama sejak dilantik tanggal 31 Mei 2009 yang lalu. Aku diberikan kepercayaan menjadi sekretaris. Mau ‘nolak, rasanya tak enak melihat ekspresi para senior yang memintaku untuk bersedia menjadi pengurus (jujur saja, aku lebih memilih kata “pelayan” ketimbang “pengurus” …). Apalagi mengingat janjiku pada diri sendiri untuk jangan pernah menolak kesempatan untuk menjadi pelayan seperti ini. Kalau kemudian dirasakan tidak cocok, barulah mempertimbangkan-kembali kelanjutannya … Paling tidak, ada dasarnya untuk membuat keputusan kemudian.

Begitulah. Undangan sudah aku buat dan sudah didistribusikan kepada semua pengurus, eh pelayan, saat hari pelantikan bulan lalu. Dan sudah pula aku mintakan bantuan parhalado tuan rumah dan mereka semua bersedia membantu: ruang rapat, laptop dan LCD-projector, serta konsumsi (nasi kotak yang akhirnya aku tidak mendapat jatah karena datang terlambat …). Dan satu lagi, kemakluman untuk datang terlambat karena sudah pasti aku ‘nggak bakalan mampu ‘ngejar jam dimulainya rapat, yakni jam enam karena masih ‘ngantor …

Benar juga, aku datang menjelang jam delapan dan ruang rapat sudah dihadiri para peserta. Lumayan banyak jika dibanding dengan rapat-rapat yang biasa digelar di lingkungan gereja (26 orang yang menandatangani absensi), namun dibandingkan dengan jumlah pelayan terpilih yang 72 orang (belum termasuk para evangelis yang entah berapa orang …), angka kehadirannya ‘cuma’ 36,1%. Dan ada dua bidang pelayanan yang tidak menghadirkan wakilnya, yaitu Seksi Pelayanan Kelompok Marjinal dan Seksi Pelayanan Komunitas Baru. Namun, seksi pelayanan lain datang dengan tanggapan masing-masing. Aku menyimak semua yang disampaikan dan mendapatkan tambahan pengetahuan dari penyampai (dan berterima kasih pada mereka untuk itu …).

Karena sudah akan berakhir dan ingin menjawab tanggapan dan usulan salah seorang ibu yang sudah berumur tentang pentingnya dokumentasi dan berbagi pengetahuan, maka aku meminta kesempatan untuk berbicara. Pertama, aku memohon ma’af karena terlambat sambil memberitahu bahwa sangat sulit bagiku untuk dapat hadir lebih awal karena pekerjaan. Lalu berbagi pengalaman kawan-kawanku sesama mahasiswa STT Jakarta ketika berpraktek di rumah sakit yang tidak harus selalu membawa “amplop kasih” sebagai buah tangan, malah kadangkala disodori amplop kasih oleh pasien (dan atau keluarganya …) ketika usai melakukan perkunjungan (meskipun adakalanya ditolak juga kehadirannya yang dirasakan mengganggu …). Hal ini menjawab “keluhan” pelayan yang mengemukakan kesulitan mereka karena belakangan sudah tidak lagi dibekali buah tangan.

Kemudian aku sampaikan ketertarikanku untuk terlibat dalam pelayanan kepada kelompok marjinal karena tertantang melihat potensi pada pengemudi angkot dengan memanfaatkan kaca belakang angkot mereka dengan pesan misioner (berupa stiker berisi ayat Alkitab atau semboyan lainnya …) dan tape-recorder yang memperdengarkan lagu-lagu rohani. Sangat menantang untuk mengubah persepsi orang-orang tentang supir angkot (yang kebanyakan berasal dari etnik Batak …) yang kasar menjadi yang bertanggung jawab akan keimanannya. Mimpi, ‘kali …? Mungkin saja, tapi semuanya harus dimulai dengan impian, ‘kan?

Kemudian menjawab pertanyaan ibu yang terakhir tadi. Aku sampaikan bahwa untuk komunitas ini sudah aku sediakan e-mail dan website sebagai wadah berkomunikasi. Semua hal yang patut dibagi dengan orang lain, silakan kirimkan padaku via e-mail untuk kemudian aku akan posting ke blog komunitas. Walaupun sudah aku cantumkan pada kop surat undangan rapat, ternyata masih banyak yang belum tahu dan menanyakan alamat e-mail dan blog dimaksud. Kembali ini membuktikan betapa kurangnya perhatian masyarakat kita dan kesediaan untuk membaca …

Selain itu, aku sampaikan kesediaanku untuk setiap saat dihubungi melalui ponsel (sambil mengucapkan nomor ponselku …). “Aku boleh tidur, namun ponselku tetap terjaga. Kirim saja SMS, pasti aku balas. Jika ada missed call, aku pastikan untuk menghubunginya kembali”, kataku mencoba meyakinkan semua peserta rapat. Sekilas aku melihat wajah-wajah yang kurang percaya, itulah yang membuatku tertantang untuk membuktikannya. Toh bukan hal yang baru bagiku karena selama ini aku sudah melakukannya untuk orang lain koq …

Setelah ditutup dengan do’a, semua peserta bubar. Tiba-tiba wakil sekretaris agak tergopoh-gopoh mendatangiku sembari menyodorkan sehelai kertas, ”Perlu tanda tangan amang untuk undangan rapat pengurus tanggal 29 Juni nanti.”. Selain karena penandatangan lainnya sudah tidak kelihatan, aku berujar: ”Tak usahlah pakai undangan khusus seperti ini, inang. Untuk berhemat. Lagian, ‘kan tadi sudah diberitahu jadual rapatnya. Nanti saja menjelang tanggalnya kita ingatkan lagi melalui SMS”.

Pagi tadi, sebelum rapat dengan International Auditor yang sedang memeriksa di kantor, aku sempatkan mem-posting ke blog komunitas tentang perubahan susunan pelayan sesuai pembicaraan rapat pelayan tadi malam. Lalu aku kirim pesan-pendek (alias SMS) memberitahu ke semua peserta rapat tadi malam yang aku sudah punya nomor ponselnya. Tadi, waktu istirahat makan siang, aku sempatkan mengakses blog dimaksud untuk melihat jumlah pengunjung. Ternyata tidak bergerak dari angka 11 sebagaimana kemarin malam. Artinya, masih belum ada yang berkunjung lagi. Untuk menghibur diri, aku hanya bergumam dalam hati, “Ya namanya perubahan, tentulah membutuhkan proses …”. Kita lihat saja kemudiannya.

Undangan Mendadak, bah … Masih Ada Juga’ ? 10 Juni 2009

Posted by tanobato in HKBP.
Tags: ,
add a comment

warp time

Barusan, seusai briefing pagi, aku mendapat kiriman pesan-pendek (= SMS = short message service) dari Amang St. M. Pakpahan (penatua senior dari HKBP Immanuel Kelapa Gading) salah seorang pengurus Marturia Wilayah Kerja Jakarta Utara. Beliau meneruskan SMS yang begini bunyinya:

Syalom. Selamat pagi Shalom! Tu angka dongan pengurus Wilker Marturia(pengurus inti ket. wk. sek.wk dan bend. wk) se Distrik XXI, diundang menghadiri sosialisasi PI sian kep Dep Marturia HKBP DRBinsarNainggolan, ari Rabu, tgl 10/6/09, jam 10.00, di HKBP RawaMangun. Mauliate ANainggolan (sek)

Kalimat-kalimat tersebut aku copy sesuai dengan yang tertulis pada layar ponselku. Jam 08.25, sementara acara dilaksanakan hari ini jam 10. Luar biasa! Dengan situasi kemacetan lalu lintas Jakarta, aku meragukan orang yang menerima pesan seperti aku, bisa menghadiri acara tersebut. Sampai saat ini baru satu orang yang menanggapi pesan yang tadi aku teruskan ke beberapa pengurus yang aku tahu nomor ponselnya, dengan catatan:”… akan aku usahakan untuk bisa hadir ...”.

Aku tak tahu pasti apa yang melatarbelakangi bisa terjadi seperti ini. Yang aku sangat sayangkan adalah pengaturan acara yang (mungkin) sangat penting ini. Mengundang Kepala Departemen Marturia Kantor Pusat HKBP dari Tarutung ke Jakarta bukanlah tidak berbiaya. Namun melihat pelaksanaannya seperti ini, sudah pastilah sasarannya tidak akan tercapai. Alasan yang (mungkin?) dapat diterima adalah: acara ini dilaksanakan mendadak (artinya tidak direncanakan sejak semula atau jauh-jauh hari sebelumnya …), tidak diagendakan (ini terasa aneh juga …), tidak punya sasaran alias target (lebih aneh lagi …), dan memang tidak diharapkan untuk dihadiri oleh banyak orang termasuk pengurus/pelayan Marturia (ini yang paling aneh di antara yang paling aneh …). Selain pemberitahuan yang mendadak, juga pemilihan waktunya yang pasti mengundang pertanyaan: Rabu jam 10 pagi (kalau masih pekerja aktif, sudah pastilah berfikir berkali-kali untuk bersedia menghadirinya …). Jangan-jangan, memang acara ini bukan ditujukan kepada orang-orang seperti aku ini?

Sangat jauh dari kesan dikerjakan secara sungguh-sungguh. Profesional? Wah, masih sangat jauh … Memprihatinkan, memang mengetahui penyelenggaraan seperti ini. Entah kapan orang-orang di HKBP mampu berubah. Kembali lagi terngiang di telingaku ucapan mak Auli tahun lalu yang melihatku kecewa dengan pembatalan rapat mendadak (tanpa pemberitahuan sebelumnya) di HKBP: “Kayak belum tau aja HKBP. Dari dulu juga udah kayak gitu …”. Alamakkk …

Yang Sudah Lama Tak ‘Kulakukan: Papungu Pelean … 9 Juni 2009

Posted by tanobato in Aku dan Tiga Perempuan Perkasa, HKBP.
Tags: , , , ,
1 comment so far

Minggu (07/06/09) kemarin aku mendapat tugas mengumpulkan persembahan (bahasa Batak: papungu pelean = papungu durung-durung). Sebagai bagian dari program jemaat yang salah satunya adalah setiap wejk mendapat giliran melayani kebaktian Minggu. ”Amang ma na papungu pelean ari Minggu marsogot”, kata inang Sintua kami ketika aku mau mengikuti rapat Panitia Hari Ulang Tahun Gereja di gereja. Sebagai warga jemaat yang baik, tentulah aku tidak akan menolak penugasan seperti ini. ”Ala amang do na umposo, amang ma annon na mambuat durung-durung sian parhobas na hundul di altar.”, kata beliau menjawab pertanyaanku tentang bagaimana cara bertugasnya. Tidak ada hal yang khusus, termasuk tempat duduk di tempat di mana biasanya duduk. Artinya, tak perlu duduk berdampingan dengan pelayan ibadah pada Minggu itu.

Pada saat ibadah – ketika paragenda memberitahu bahwa saatnya untuk memberikan persembahan – aku pun langsung berdiri dan berjalan menuju altar ke depan. Lalu tiga orang bapak-bapak dongan sa-wejk juga beranjak dari tempat duduknya mengikuti langkahku. Karena pertama berjalan, maka akulah yang pertama menerima pandurungan dari sintua paragenda. Lalu, aku membuat kesalahan … Karena tidak melihat gelagat pemandu lagu (alias song leader) akan memberikan persembahannya, maka aku langsung menuju bangku pada barisan pertama menyodorkan kantong persembahan tanpa mendatangi mereka (tiga orang pemandu lagu). Salah seorang kawan pengumpul persembahan malah mendatangi mereka untuk mengambil persembahan dengan menyodorkan kantong persembahan. Benar saja – karena memang tidak punya persiapan untuk memberikan persembahan – sambil bernyanyi, mereka merogoh saku masing-masing (lebih dalam, karena tertutup jubah khusus pemandu lagu …). Akibatnya pengumpulan kolekte untuk barisan paling belakang (yang merupakan ”jatah” kawanku pengumpul persembahan tersebut) menjadi tertunda dan menimbulkan keriuhan dari ibu-ibu yang duduk di barisan depan yang mengingatkannya untuk segera saja ke barisan paling belakang mengumpulkan persembahan.

Ketika peristiwa itu terjadi, aku sedang mengumpulkan persembahan di barisan kelima dan sedikit menyesal mengapa hal itu harus terjadi … Nah, ketika saat pengumpulan persembahan kedua (tepatnya adalah persembahan kantong ketiga) – ini HKBP, bung … – supaya jangan terjadi lagi, aku mulai dengan mendatangi inang sintua panjaha tingting di langgatan (= altar) yang paling tinggi sebagai isyarat bagi pemandu lagu untuk mereka mempersiapkan persembahannya, karena posisi berdiri mereka berdekatan dengan tempat duduk ibu penatua pembaca warta jemaat tersebut. Dan benar saja, semua akhirnya menjadi lancar …

Sekembalinya ke bangku tempat dudukku semula, aku merenung. Ternyata pekerjaan ringan dan ”remeh” seperti ini belum tentu mudah dilakukan dengan lancar. Di sinilah sangat dibutuhkan kerendahan hati. Bagaimana pula dengan pelayanan jemaat lainnya? Memang sudah sangat lama aku tidak bertugas mengumpulkan persembahan pada ibadah Minggu seperti ini. Sudah tak ingat kapan aku terakhir kali melakukannya.

Usai kebaktian, kami masih harus menghitung persembahan di bilut parhobasan (= konsistori). Melihat uang dituang dari kantong persembahan ke atas meja, aku jadi teringat dengan almarhum bapakku yang hampir dua puluh tahun yang lalu ditugaskan menjadi Bendahara Huria yang salah satu tugasnya adalah merekonsiliasi uang hasil persembahan yang diterima pada setiap ibadah Minggu dan menyetornya ke bank (BRI dengan jenis tabungan Simpedes alias simpanan pedesaan pada saat itu …).

Pada masa itu, setiap Minggu siang (usai ibadah terakhir yang disebut dengan parmingguan na magodang, aku sendiri ikut ibadah pagi jam setengah sembilan yang disebut dengan parmingguan na poso ) aku mendatangi konsistori, melihat mereka (bapakku, beberapa penatua yang bertugas mengumpulkan persembahan, dan guru huria alias voorhanger) merampungkan penghitungan dengan membuat berita acara. Lalu aku seringkali disuruh membeli makan siang (biasanya dengan lauk sangsang atau panggang ke lapo terdekat). Setelah makan siang dan penghitungan rampung (biasanya mendekati jam tiga), aku memboncengkan bapakku ke rumah dengan membawa semua uang persembahan dalam kantongan yang terbuat dari bahan kain (dari yang semula baru, sampai akhirnya bertambal karena sudah tua dan bolong di beberapa tempat di kemudian harinya …). Itulah kegiatan rutinku setiap Minggu selama bapak menjadi bendahara huria. Bertahun-tahun (sangat lama …) karena selalu dipilih terus, sampai akhirnya pensiun sebagai penatua. Selama itulah aku punya jadual “ketat” seperti itu. Apapun kegiatanku harus aku tinggalkan jika ”panggilan” mangalap durung-durung tiba …

Lalu besoknya bapakku ke bank menyetor uang persembahan tersebut dengan mengendarai sepeda motor tuanya (Honda bebek super cub 700 merah) kendaraan kebanggaan kami di rumah yang setiap hari dipakai bapak ke sekolah untuk mengajar …). Dengan mengepit tas tadi yang diletakkan di antara kedua lutut beliau, bapak ke bank yang jaraknya 25 menit perjalanan dari rumah kami. Sendirian, karena aku bersekolah. Begitulah setiap minggu. Dan puji Tuhan, tidak pernah satu kali pun mengalami gangguan. Dirampok, misalnya …

Ada lagi yang berbeda. Minggu lalu saat aku menghitung persembahan di ruang konsistori, aku tidak menemukan uang logam dan uang kertas pecahan seratus dan lima ratus rupiah lagi. Dulu itu, uang logam denominasi dua puluh lima, lima puluh, dan seratus rupiah, yang sangat banyak yang kemudian harus dimasukkan ke dalam plastik-plastik yang biasa dipakai untuk membuat jajanan minuman es lilin. Itulah yang menambah berat tas. Berat dalam arti timbangan yang sebenarnya, dan berat dalam arti kerepotan harus menghitungnya lagi di hadapan kasir bank satu per satu untuk memastikan jumlahnya sudah tepat.

Oh ya, denominasi? Iya, itulah istilah yang sekarang dipergunakan untuk mengatakan betapa banyaknya ”jenis” gereja saat ini …