jump to navigation

Liburan Lebaran, Pelayanan, dan Partangiangan 23 September 2009

Posted by tanobato in Islam & Agama, Parhalado.
Tags: , , , , ,
add a comment

Partangiangan & Lebaran (230909)

Pada sermon parhalado Kamis (17/09/09) yang lalu aku rada terkejut dan merasa “aneh” saat pandita resort manolopi alias menyetujui usulan beberapa penatua untuk meniadakan partangiangan wejk dan pelayanan lainnya pada minggu ini. Alasannya, warga jemaat masih pada liburan panjang memanfaatkan suasana Lebaran. Sebelum pendeta resort hadir, di konsistori aku sudah mendengar tentang hal itu di mana inang sintua menyampaikan bahwa berdasarkan polling pada minggu sebelumnya, diperkirakan hanya akan tiga atau empat orang saja yang akan hadir bila “dipaksakan” melaksanakan partangiangan wejk pada Rabu (23/09/09) malam ini sesuai jadual mingguan. Saat itu aku mengusulkan kepada yang hadir untuk tidak meniadakan partangiangan wejk, melainkan menggabungkan saja dengan menyelenggarakannya di gereja. Masak gara-gara Lebaran partangiangan wejk jadi ditiadakan? Juga kegiatan pelayanan lainnya? Aneh, ‘kan?

Saat ditawarkan untuk libur sintua learning hari Jum’at (25/09/09) nanti, dengan tegas kami menolak. Belajar harus jalan terus … Sang pendeta resort masih berusaha “membujuk” dengan mengatakan: “Ahu pe rade do molo diajak hamu angka casi ( = calon sintua) mardalani tu Puncak manang di dia pe sambil marsiajar …”. Karena sebelumnya aku sudah sempat diskusikan dengan kawan-kawan calon penatua, ajakan tersebut tidak kami gubris. Juga ledekan beberapa sintua senior yang mengatakan: “Bah, antar-antar ringgas do hamu angka casi i. Atik na sonang do hamu sabotulna na libur i …”.

Angkatan kali ini memang hanya ada tiga orang calon penatua. Umur kami hampir sebaya (lahir pasca G30S/PKI alias angkatan 65-an …), dan datang dengan idealisme bahwa penatua adalah sungguh-sungguh pelayan. Sesuatu yang kami rasakan sudah mulai luntur pada banyak penatua senior di jemaat kami saat ini. Oleh sebab itu, kami sepakat untuk selalu menunjukkan bahwa kami adalah berbeda … Dan ini salah satu momennya.

Terus terang, alasan meliburkan partangiangan wejk sangat tidak bisa aku terima. Kalau hanya sedikit saja yang hadir, bukankah memang tugas parhalado untuk melayani warga jemaat? Berapapun jumlahnya! Bukankah dengan dua atau tiga orang sajapun yang hadir sudah cukup jumlahnya untuk mengundang kehadiran Yesus dalam persekutuan tersebut? Aneh, dan koq ”tega-teganya” parhalado melupakan hal yang prinsip seperti ini, ya?

Oh iya, kemarin saat ibadah Minggu, pak pendeta yang berkhotbah dalam mengomentari tingting yang menyampaikan peniadaan partangiangan wejk, dari mimbar malah mengomentari: ”Itu menandakan toleransi kita kepada umat lain yang sedang bersukacita merayakan hari kemenangan …”.

Owalah, weleh weleh weleh …

Situasi terkini 280909

Jum’at jam 16.18 WIB pak pendeta meneleponku. Karena beberapa jam sebelumnya sudah beberapa kali berbicara di telepon membicarakan tentang lokasi pelatihan pelayan tahbisan, kali itu pun aku mengira akan membicarakan hal yang sama. Ternyata berbeda: beliau memberitahu tentang peniadaan kelas sintua learning hari ini, karena gereja akan memberikan penghiburan kepada keluarga salah seorang warga jemaat yang paginya meninggal dunia (sebagaimana SMS yang aku terima sebelumnya, almarhum adalah keluarga yang baru saja minggu lalu diterima kembali sebagai warga gereja setelah kena ruhut-ruhut parmahanion dohot paminsangon = hukum siasat gereja).

 

Berikut adalah dialog telepon yang terjadi sore itu:

Aku                : Pukul ualu do kan acara penghiburan i, amang? Tapatibu ma masuk amang, unang be pukul pitu hita mulai marsiajar. Pukul onom ma, asa hupaboa tu angka dongan calon sintua na asing asa dipatibu parrona. Ala ndang pala godang dope sikarejoan di kantor saonnari ala cuti Lebaran dope angka dongan, boi ma ahu pukul lima annon borhat tu gareja.

Pendeta          : Ndang boi, amang. Ahu pe di bandara dope nuaeng mangalap Amang Ketua Departemen Koinonia tu acara peresmian pokja marsogot. Jala nunga hupaboa tu angka calon sintua na asing, nasida pe nunga mangoloi.

Aku              : … ? Nauli ma, amang anggo songon i …

 

Benarlah seperti apa yang tertulis, bahwa apa yang kita pikirkan itulah (biasanya) yang akan terjadi pada kita. Karena “dorongan” yang kuat untuk meliburkan, maka situasi yang lain akan membantu terciptanya apa yang diharapkan itu.

Hikmah Bulan Puasa … Minal Aidin wal’faidzin … 23 September 2009

Posted by tanobato in Islam & Agama.
Tags: ,
add a comment

Hikmah Ramadhan (230909)

Karena tidak mengambil cuti – sebagai “penjaga-gawang” karena yang lainnya pada cuti – hari ini aku masuk kembali ke kantor setelah menikmati libur Lebaran Senin dan Selasa kemarin. Kembali aku bisa menikmati jalanan bebas macet, suatu kemewahan hidup di Jakarta yang hanya beberapa kali bisa terjadi selama aku menumpang di ibukota republik tercinta ini. Parkiran juga sepi sehingga aku bebas untuk memarkirkan mobil pada kapling yang biasanya sangat sulit didapatkan. Sempat juga bingung karena begitu banyak pilihan …

Tak terasa, bulan puasa berlalu begitu cepatnya. Hampir sebulan aku merasakan suasana berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Tak salahlah bila pada hari pertama ’ngantor pasca-Lebaran ini aku berupaya mencatatkan kesan-kesan (tepatnya: dampak positif …) Ramadhan terhadap kehidupanku. Ya, dampak positif, di samping beberapa hal yang membuatku sempat kurang nyaman, antara lain: kebisingan aktivitas di masjid yang lebih heboh daripada biasanya, produktivitas kawan-kawan yang rada menurun, penjual makanan di kantor yang menutup warungnya selama beberapa hari, dan … hawa kurang sedap dari beberapa orang yang sedang berpuasa saat berdiskusi dengan mereka.

Di rumah

Bangun pagi menjadi relatif lebih mudah karena si Atik bangun lebih pagi untuk persiapan sahurnya. Biasanya dia melanjutkan bersih-bersih rumah dan penyiapan sarapan setelah usai menyantap sahur. Mendengar suara ”gaduh”, aku menjadi lebih mudah terbangun. Berangkat ke kantor juga tidak terburu-buru, karena jalanan menjadi relatif sepi (mungkin karena sebagian besar sekolah mulai libur, dan jam kerja menjadi lebih siang dimulainya …), aku masih nekad meninggalkan rumah setelah jam tujuh. Dengan demikian, aku jadi punya waktu lebih banyak bersama keluarga pada pagi hari itu.

Tiba di rumah juga tidak terlalu malam. Dengan suasana di mana banyak orang pulang lebih cepat (dengan alasan berbuka puasa bersama, baik di rumah maupun pada perkumpulan lainnya), aku pun seakan-akan mendapat ”kemudahan” untuk pulang lebih awal (artinya tepat waktu sesuai jam kerja di kantor yang jam lima sore) dari yang biasanya lewat jam tujuh. Meskipun tidak setiap hari, karena secara moral aku juga harus tinggal lebih lama di kantor untuk beberapa pekerjaan yang harus segera aku selesaikan (sekalian berbuka bersama di kantor …). Kecuali ada kegiatan di gereja, aku biasanya langsung pulang ke rumah.

Di gereja

Berhubungan dengan kebolehan pulang lebih awal (persisnya adalah tepat waktu …), aku pun jadi lebih mampu berkomitmen terhadap jam kegiatan di gereja. Rapat Marturia (yang aku sudah dapat ”izin terlambat” karena selalu dimulai jam 6 sore …), partangiangan wejk (yang memang biasanya dimulai lewat jam delapan malam …), dan sermon parhalado aku pastikan 100% tidak terlambat. Bahkan untuk kelas belajar calon panatua (sintua learning) setiap Jum’at malam aku berkomitmen harus bisa dimulai jam tujuh karena akan dilanjutkan dengan latihan koor ama (awalnya amang pandita resort sempat ragu karena angkatan sebelumnya selalu dimulai setelah jam delapan malam …).

Ketibaanku pada ibadah Minggu juga menjadi lebih awal. Selain situasi jalanan yang menjadi lengang (mungkin karena sebagian besar umat muslim yang berpuasa mengurangi kegiatan luar-ruangnya alias lebih banyak beraktivitas di rumah), juga kewajiban moralku untuk selalu hadir di konsistori untuk memastikan pelaksana tugas pelayanan sudah siap melaksanakan tugasnya. Sebagai calon penatua, otomatis aku (bersama dua kawan sesama calon penatua) adalah sukarelawan yang siap menggantikan peran para penatua senior yang berhalangan (pernah terjadi aku harus menjadi kolektan selain yang wajib adalah penghitung hadirin …). Situasi ini juga mendukung ”pesan moral” yang selalu aku sampaikan di rumah, bahwa malu kalau ke gereja saja pun (masih) harus terlambat … (dan sering aku bandingkan dengan acara nonton di bioskop yang rela menunggu ’ngantri sebelum film diputar di studio …).

Di kantor

Karena sedang berpuasa, kebanyakan orang-orang terkesan dalam suasana damai. Kalau meeting yang biasanya ”fight each other” dan saling mempertahankan pendapat masing-masing, kali ini menjadi lebih ”cool”. Selain karena semangat puasa yang mengajarkan perdamaian dan menahan diri, kondisi fisik juga pastilah salah satu faktor penunjang suasana yang lebih damai.

Orang-orang juga terkesan menjadi lebih jujur. Atau paling tidak, ”menunda” kebiasaan yang harus berbohong?

Boss-boss juga jadi lebih banyak senyum dan tertawa. Termasuk yang selama ini terkenal sebagai boss dengan sumbu pendek … 

Wahai, alangkah indahnya Ramadhan … Apalagi kalau bisa terjadinya pada bulan-bulan yang lainnya juga …

Wallahualam bis’sawab …

Belajar Ibadah pada Haji Ucok 4 Juni 2009

Posted by tanobato in Islam & Agama.
add a comment

Dialogue (040609)

Perkenalkan kawanku. Namanya haji Ucok (baru pulang dari Mekkah ikut rombongan haji tahun lalu), rekan sekerja di perusahaan. Sekarang menjadi kepala wilayah Kalimantan Timur (Kaltim), setelah sebelumnya kami pernah di wilayah kerja yang sama saat beliau masih ditempatkan di Bandung. Usianya tidak jauh terpaut dariku, dan sama-sama memulai karir di perusahaan ini dari tingkatan yang paling bawah di bagian penjualan. Sejak beberapa tahun yang lalu mengundangku datang ke Balikpapan, namun baru bulan lalu aku bisa ke sana karena ditugaskan untuk mendampingi beliau dalam menyeleksi calon Distributor di Samarinda untuk menggantikan Distributor sebelumnya karena beberapa kali gagal-bayar (= overdue).

Selama beberapa hari di Kaltim, beliaulah yang selalu mendampingiku ke mana pun aku pergi. Selama berinteraksi tersebut, aku mendapatkan beberapa hal yang menarik untuk dicatat. Inilah antara lain:

(1)        Tentang ketaatan beribadah. Beliau membandingkan sholat dengan pengiriman laporan dinas, dengan menyampaikan sebagai berikut: “Untuk atasan kita yang meminta laporan sesuatu hal, kita paling takut untuk terlambat mengirimkannya. Bila perlu, sebelum deadline (= tenggat) kita sudah harus memastikan boss sudah menerima laporan dimaksud. Bagaimana dengan sholat? Kalau kepada boss yang manusia saja kita tidak berani terlambat, apalagi tidak mengirimkan laporan, koq kepada Allah berani (tidak sholat)?” Dan itu beliau buktikan dengan tidak pernah lalai menjalankan sholat lima waktu. Dalam perjalanan Balikpapan – Samarinda dan di beberapa lokasi yang kami kunjungi, kami berhenti di masjid untuk beliau bersembahyang. Bahkan saat rapat (= meeting) dalam suasana apapun beliau tidak sungkan untuk permisi sholat sejenak. Bagaimana dengan aku? Selalu aku ingat berdoa pagi selepas bangun tidur, sarapan, lalu di perjalanan menjelang tiba di kantor, makan siang, makan malam, dan ditutup dengan berdoa mengantarkan tidur anakku serta kadang-kadang berdo’a sendiri bila ada hal-hal yang khusus untuk aku bawakan dalam do’a. Pada hari-hari jadual pelayanan umat, tentulah ada “bonus” karena selalu dibuka dan ditutup dengan doa bersama. Secara kuantitatif masih lebih banyak dari “sekadar” sholat lima waktu. Secara kualitatif? Ya, cuma Allah yang tahu …

(2)        Tentang jadual bangun dan tidur untuk beribadah. Setiap hari, beliau tidur paling lama jam sepuluh malam untuk terbangun jam empat subuh. Lalu berjalan kaki pergi ke masjid yang terdekat dari kediamannya untuk melakukan sholat. Jika hujan? “Kan ada mobil yang disedakan perusahaan untuk bekerja sehari-hari, saya pakailah itu ke masjid. Sebaik-baiknya sholat, adalah dilakukan di masjid.”. Hal ini menyentakkan aku. Bukankah jadual tersebut tidak jauh berbeda dengan jam do’a yang dulu pernah aku pelajari dan laksanakan? Dan masih sejalan dengan resolusiku tahun 2009 ini untuk menjadikan firman Tuhan sebagai hal yang pertama aku lihat, dan aku dengar? Dan bisa dilakukan di rumah, tanpa harus berjalan kaki atau berkendaraan ke gereja? Puji Tuhan yang selalu memakai siapa saja untuk mengingatkan umat-Nya untuk kembali kepada komitmennya …

(3)        Tentang menerima kenyataan. Yang aku tahu persis, untuk urusan pekerjaan, beliau mengalami dua hal yang mengecewakan pada tahun lalu. Pertama, hampir berhasil menjadi karyawan terbaik; dan kedua, batal dipromosikan menjadi manajer. Sebelum diumumkan dan aku buatkan surat resminya, berulang kali beliau menelepon untuk meninjau-ulang kriteria agar sesuai dengan “tafsiran” beliau agar bisa memenuhi kualifikasi dan menjadi karyawan terbaik. Sudah tentu aku tidak mau terpengaruh, karena semua kriterianya sudah jelas (dan tak perlu ditinjau-ulang, apalagi ditafsir-ulang …). Dengan tegas tanpa harus membuat tesinggung, hal itu aku sampaikan kepada beliau. Kalau urusan promosinya, itu tidak termasuk wilayahku sehingga aku sarankan untuk bertanya kepada atasan langsungnya. Dan beliau sudah mendapatkan jawaban. Ketika bertemu saat itulah, beliau menyampaikan kepadaku bahwa bisa menerimanya dengan legowo dan percaya bahwa Allah memang belum menghendaki itu semua terjadi. Meskipun secara duniawi masih terasa mengganjal di hati, tetapi secara iman sudah bisa menerimanya. “Belum takdir, pak …”, katanya dengan nada sedikit terpaksa pasrah. Menurutku, itulah sikap yang paling pas. Semua yang bisa terjadi di muka bumi ini haruslah seturut dengan kehendak Allah. Manusia hanyalah aktor pendukung …          

 

Dalam perjalanan Samarinda-Balikpapan, aku juga ”mendorong” beliau memasang kaset yang berisi rekaman materi manasik haji. Selain tidak punya pilihan lain lagi rekaman untuk didengarkan, sekaligus aku juga mau memutakhirkan pengetahuanku tentang islamologi yang dulu pernah aku dapatkan. Juga sekaigus menunjukkan bahwa Kristen itu (orang-orangnya) adalah terbuka untuk dialog dan mendengarkan hal-hal baru yang mungkin saja berbeda. Aku rasa, ini juga bagian dari kesaksian, termasuk berkeliling di masjid dan berbicara dengan orang-orang di sana sambil menunggu haji Ucok selesai menunaikan panggilannya untuk sholat.

Labbaik … Lakukan yang Baik! 8 Desember 2008

Posted by tanobato in Islam & Agama, Kartun & Karikatur HKBP.
2 comments

hajiHari Raya Haji = hari raya kurban = Idul Adha hari ini mengingatkanku akan khotbah salah seorang pendeta senior ketika mengikuti ibadah di salah satu jemaat HKBP di Jakarta. Merupakan salah satu khotbah yang membuatku merasa tidak nyaman adalah karena pernyataan sang pendeta yang mengatakan:”… oleh sebab itu saudara-saudari sekalian, marilah kita menunaikan ibadah haji ke Jerusalem …”. Dan itu bukan cuma diucapkan satu kali. Bah, entah apa yang ada di benaknya, tak ‘ngerti aku … Pemahamanku, ibadah haji bagi umat muslim tidak ada persamaannya yang persis dengan apapun di ajaran kekristenan. Bahkan dengan ziarah ke “tanah suci” Yerusalem yang makin ‘nge-trend belakangan hari ini. Dalam Islam dikenal itu sebagai salah satu rukun iman. Dalam Kristen tidak ada yang seperti itu … (oh, ya hari ini juga mengingatkanku pada seorang sahabat yang sedang melakukan ibadah haji di Mekkah, semoga mabrur broer …).

Komik dan Kartun Nabi: Jangan Salah Kaprah! 25 November 2008

Posted by tanobato in Islam & Agama.
Tags:
3 comments

tintinMinggu lalu aku terkaget-kaget membaca komentar salah seorang pendeta di blog pribadinya. Rada tendensius, dan sangat tidak setuju dengan komik dan kartun. Malah tidak menganjurkan anak-anaknya untuk membelanjakan uang untuk membeli komik. Setelah membaca lanjutannya, barulah aku ‘ngeh: ternyata beliau “terpancing” dengan keramaian komik (dan atau kartun, menjadi kurang jelas karena malah menjadi simpang siur …) di salah satu blog di wordpress yang memunculkan nabi Muhamad dengan tidak pada tempatnya.

Jika berhubungan dengan membuat kartun (dan komik, dan atau apapun bentuk visualisasinya …) yang menggambarkan wajah nabi besar tersebut, sudah tentu haruslah kita tolak mentah-mentah. Kita harus menghormati kepercayaan dan keyakinan saudara-saudara muslim dan muslimah yang dengan tegas mengharamkan penggambaran wajah beliau. Dalam komik-komik yang mengajarkan agama Islam di mana beliau harus ditampilkan, memang selalu figur beliau ditampilkan dengan tulisan Arab. Dan itu tidak mengganggu kenyamanan dalam membaca dan mengikuti alur cerita yang ditampilkan. Dan yang paling utama, tentu saja, harus menghormati apa yang diyakini oleh orang-orang. Bukan hanya dengan Islam, dengan umat apapun haruslah ada sikap saling menghormati.

Setelah menelusuri beberapa situs, akhirnya yang bisa aku sarankan adalah: jangan terpancing. Besar kemungkinan itu adalah ulah orang iseng. Atau kalaupun bukan iseng, adalah orang yang punya keinginan untuk memecah belah anak-anak bangsa. Menggunakan alamat yang mengesankan dari komunitas Batak (dan Kristen), menurutku belum tentu itu menyatakan hal yang sebenarnya. Tetaplah dibutuhkan sikap berhati-hati, dan tidak terbakar emosi …

Aku ini penggemar komik (dulu namanya cergam sebagai singkatan dari cerita bergambar). Sejak anak-anak. Bahkan ketika masih SD aku menghabiskan uang jajanku untuk menyewa komik (kalau beli harganya mahal menurut ukuranku …), tarifnya Rp 10 untuk 3 buah buku komik. Ceritanya tentu aku pilih yang bagus-bagus. Ada Tarzan, Gundala Putera Petir, Godam, Si Buta dari Gua Hantu, dan banyak lagi … Dan, harus jujur aku akui, sebagian dari itu semua ada yang memberikan kontribusi dalam kehidupanku kemudian. Sekarang aku malah sedang mengoleksi Tintin, komik yang menurutku memberikan pengajaran dan pengalaman yang memperluas cakrawala. Juga ada Trigan. Banyak yang bagus-bagus. Artinya, kalau selektif, pasti kita bisa mendapatkan yang bermutu. Memang saat ini banyak komik yang tidak mendidik, namun janganlah hal itu menjadikan kita menyamaratakan bahwa komik menjadi sesuatu yang seharusnya dihindarkan.

Kartun? Aku juga penggemarnya. Juga karikatur. Bukan hanya penikmat, tetapi aku juga pembuat. Nah, dalam blog ini aku juga akan berupaya untuk menampilkan hasil karyaku. Paling tidak sekali dalam seminggu. Yah, tergantung kondisi dan isu yang berkembanglah … Dimulai hari ini.

Jadi, selamat menikmati…