Kabinet Indonesia Bersatu-2 & ‘Ndang Adong Nanggo Sada Be Hita-2 22 Oktober 2009
Posted by tanobato in Kartun & Karikatur Batak, Kartun & Karikatur HKBP.Tags: HKBP, tragedi, batak, ilustrasi, refleksi
add a comment
Na sogot di pardalanan laho tu kantor, hupatinggil do si pareonku tu barita na pinaboa ni penyiar radio i, i ma angka goar ni halak na masuk tu kabinet ni paresiden SBY tu taon 2009-2014. Songon naung taboto, na bodari pukul 10 do dipaboa SBY di Istana Merdeka, i ma boa-boa na parjolo.
Nang pe di piga-piga hali punguan halak Batak na Karisten – isara ni partangiangan nang pe di parsermonan – sanga do adong na manghatai taringot tu sihol ni roha asa adong ma nian sian “hita” (lapatanna: Batak jala Karisten muse …) na masuk gabe menteri. Di bagas rohangku, sai adong do soara na mandok: “Ndang mungkin i, ai so pos roha ni si SBY tu hita”. Dibahen i, tingki sae umbege angka goar i na sogot, ndang pola tarsonggot be ahu.
“Kabinet minus-hita” ndang apala on dope na parjolo. Saleleng gabe paresiden, ndang hea dope dipamasuk SBY hita gabe menteri. Taon na salpu nunga be huarsakhon taringot tu son, i ma marhite karikatur di http://tanobato.wordpress.com/2008/12/11/ndang-adong-ianggo-sada-pe/
Ala masa do muse songon i di bagasan sadari on (nang tu lima taon haduan …), ninna rohangku porlu do muse pinamasuk asa lam tamba hita na umbotosa.
Aha do alana? Dia do parbonsirna? Ingkon ise do na mansoarahon hasiholan ni roha angka halak Batak na Karisten di negaranta on? HKBP? Punguan marga-marga? Punguan raja-raja adat? Tarimang-rimangi ma di bagasan rohanta be …
Las huhut ma taboan di tangiangta asa dipangke Debata nasida gabe ula-ula ni Debata laho pasauthon lomo ni roha-Na. Marpos ni roha ma hita di si …
Ai Ise do Sipilliton? 30 Juni 2009
Posted by tanobato in Kartun & Karikatur Batak.Tags: batak, pemilu, pilpres
add a comment

Siapa yang akan kita pilih? Siapa yang akan aku pilih sebaiknya? Itulah pertanyaan dan sejenisnya yang belakangan ini menjadi semakin sering aku dengar dan diajukan kepadaku. Bingung memilih yang terbaik di antara ketiga calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) kali ini. Bukan masing-masing punya kelebihan, namun terutama karena masing-masing punya kekurangan yang membuatnya menjadi ragu untuk dipilih. Kalau bicara platform secara umum, tidak jauh berbeda. Apalagi kalau bicara tentang kesungguhan dalam mewujudkan janjinya. Bah, tidak ada seorang pun yang berani menjamin. Apalagi kalau merujuk janji-janji para pengumbar janji sebagaimana yang banyak kita alami dalam berbagai musim “pil-pil”-an ini. Ya, pilkada, pilleg, dan pilpres, maksudnya …
Apa yang dapat dijadikan tolok ukur? Bagiku, akhirnya adalah hita. Maksudnya apalagi, kalau bukan melihat dari sisi hita, yaitu ’sudah Batak (dan puji Tuhan), Kristen pula’. Mari kita lihat satu per satu.
Pasangan nomor satu, yaitu Megawati dan Prabowo Subianto (alias Mega-Pro dengan slogannya ”pro rakyat wong cilik”). Dalam referensi yang layak dipercaya, jika terpilih jadi presiden, akan ada tiga hita yang masuk dalam kebinetnya. Antara lain jadi menteri luar negeri, dan menteri pemuda dan olah raga. Oleh sebab itu, bisalah dikategorikan sebagai ”adong do ra hita”.
Pasangan nomor dua, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono (alias SBY-Boed dengan slogannya ”lanjutkan!”). Melihat Kabinet Bersama Kita Bisa-nya yang masih akan berumur tinggal beberapa bulan lgi, tidak satu pun hita yang duduk di kabinet dimaksud. Ternyata di kalangan hita, banyak yang tak sadar sehingga memerlukan penyadaran (lihat http://tanobato.wordpress.com/2008/12/11/ndang-adong-ianggo-sada-pe/). Untuk itu, jelaslah, pasangan ini bisa dikategorikan sebagai ”ndang adong ianggo sada pe hita”.
Pasangan nomor tiga, yaitu Jusuf Kalla dan Wiranto (alias JK-Win dengan slogannya ”lebih cepat lebih baik”). Tidak pernah ada ketegasan sikapnya dalam menyikapi aspirasi hita. Bahkan sepanjang yang aku tahu, tidak terlalu positif (kalau tidak tega menyebutkannya sebagai negatif …). Dengan demikian, bisalah dikategorikan sebagai ”didia do hita”.
Masih belum mantap? Masih ada pilihan bagi kalangan tertentu, yaitu nomor nol, dengan slogannya Horas! On do sipilliton? Melihat gelagatnya, ini bisa dikategorikan sebagai ”tontu adong hita (jala olo do ra hita nama sude …)”.
Masih bingung? Pilihlah sesuai hati nurani (dohot panghuling ni mudar …).
Kantong Persembahan-2: Kotak Bekas Kardus 13 Maret 2009
Posted by tanobato in Kartun & Karikatur Batak, Kartun & Karikatur HKBP.Tags: gereja, HKBP, ibadah, kolekte, persekutuan, persembahan
5 comments

Berdasarkan pengalamanku, kotak bekas ini dipakai sebagai sarana persembahan dengan berbagai alasan. Pernah terjadi di masa yang lampau, namun tetap ada kemungkinan masih terjadi lagi di masa kini.
Pertama, situasinya darurat. Bisa terjadi pada kebaktian di mana saja. Di luar gereja, bahkan di dalam (lingkungan) gereja. Waktu ber-NHKBP di Medan dulu, sebelum menutup pertemuan dan latihan koor ada kolekte. Latihan koornya di wisma huria di sebelah bangunan gereja. Karena malam, bangunan gereja biasanya sudah tutup, jadi tidak ada kantong persembahan yang “resmi” (maksudnya yang biasanya dipakai pada setiap kebaktian Minggu yang ada lambang salibnya). Nah, kami selalu memanfaatkan setiap sumber daya yang ada. Termasuk kreativitas dalam mengumpulkan persembahan. Entah kenapa, kotak bekas seperti ini seringkali ada di sana (jangan-jangan pertemuan dan atau ibadah persekutuan yang lain juga mengalami situasi darurat yang sama …). Bekas kotak kapur tulis, kardus minuman dalam kemasan, kotak alat-alat tulis dan kantor, adalah ”media” yang paling sering kami manfa’atkan. Sekarang aku menjadi heran dengan keanehan ini: kami organisasi jemaat dan di dalam jemaat, namun untuk sekadar mendapatkan kantong persembahan yang “resmi” saja tidak pernah kami dapatkan setiap persekutuan minggu …
Kedua, persekutuan dilakukan tidak terencana. Apa iya, ada ibadah yang tidak direncanakan? Bukan ibadahnya, tetapi pengumpulan persembahannya. Misalnya dalam suatu kebaktian ada yang ‘nyeletuk:”Mardurung do hita?”, lalu yang lain mengamini untuk menjalankan kolekte dengan memanfaatkan apa yang ada yang kira-kira pantas untuk tempat persembahan. Lalu, jadilah demikian …
Ketiga, enggan. Dalam suatu ibadah padang di kebun raya yang diselenggarakan oleh persekutuan mahasiswa Kristen, Panitia “enggan” (atau sungkan?) membawa kantong persembahan yang “resmi” (ma’af, kalau sekali lagi menggunakan istilah ini untuk memaksudkan yang biasa dipakai di lingkungan gereja). Lalu dipakailah kotak bekas yang dianggap pantas untuk mengumpulkan persembahan.
Keempat, lupa. Nah, ini yang sering terjadi. Petugas lupa membawa kantong persembahan. Bisa juga karena marsitugan-tuganan. Atau mengira petugas yang lain yang membawa yang ”resmi” (ma’af lagi…), jadi dia merasa tidak perlu lagi membawanya. Pada suatu partangiangan di rumah seorang warga jemaat, pernah terjadi seperti itu. Lagu pengantar persembahan sudah mulai dikumandangkan. Sintua celingak-celinguk melihat sesamanya yang diharapkan ada membawa kantong persembahan yang ”resmi” (duh, ma’af lagi …), namun tidak ada reaksi positif. Karena tidak ada, akhirnya dicari alternatif. Tak ada pula kotak bekas. Untunglah (masih untung juga …), masih ada yang kreatif. Dibuatlah dari kertas tertib acara, dengan bentuk kerucut (mirip pembungkus kacang …), lalu diedarkan untuk mengumpulkan durung-durung. Sambil tersenyum di kulum, orang-orang memasukkan uang kolekte ke dalamnya. Creative by kepepet, ya …
Kantong Persembahan-1: Yang Mana Favoritmu? 6 Maret 2009
Posted by tanobato in Kartun & Karikatur Batak.add a comment

Sebagai bagian tradisi bergereja, dalam setiap kebaktian biasanya selalu ada kesempatan diberikan kepada umat untuk menyerahkan persembahan sebagai ungkapan syukur dan sukacitanya. Betapa “kaya” ternyata orang Kristen dengan berbagai variasi dan kreasi kantong persembahannya. Menurut pengamatanku, ada beberapa jenis bentuk kantong persembahan yang seringkali aku temukan dalam berbagai kebaktian. Semua pasti ada yang melatarbelakanginya.
Yang mana jadi favoritmu …?
