Break-away, Kesaksian, Kebaktian … 16 November 2009
Posted by tanobato in Umum.Tags: percaya, sukacita, teguh, yakin
1 comment so far

Ma’afkanlah aku jika harus menggunakan kata break-away. Selain karena belum menemukan padanan katanya dalam bahasa Indonesia, aku juga menduga bahwa istilah ini akan semakin populer di kemudian hari. Sejauh ini, pemahamanku tentang istilah ini adalah suatu unit kerja (atau sekelompok orang) pergi ke suatu tempat di luar kantor untuk membicarakan sesuatu yang masih berhubungan dengan pekerjaan, namun dalam suasana rileks. Jadi, ada nuansa rekreasinya.
Sejak Kamis (12/11/09) yang lalu sampai akhir pekannya, departemen kami (Sales Operation Development) bersama “departemen kembarnya” (Human Resources Sales Training) melaksanakan break-away meeting di Dago Pakar, Bandung. Kamis dan Jum’at mendiskusikan modul pelatihan untuk tahun 2010 yang dilanjutkan dengan “pengisian batere” dengan mengundang pembicara dari Dunamis yang menyampaikan tentang 7 Habits-nya Covey. Sabtu paginya semua peserta berjalan kaki di Taman Hutan Raya Juanda yang lokasinya sangat dekat dengan hotel tempat kami menginap. Usai makan siang, kami pun bersiap-siap pulang ke Jakarta. Nah, inilah yang aku mau ceritakan.
Sejak diputuskan tentang jadual dan lokasi, ada tiga kawanku yang menyampaikan keberatannya, khususnya untuk hari Sabtu. Dengan alasan yang berbeda (ulang tahun anak, menghadiri pesta pernikahan anak besan, dan sebagai panitia resepsi), namun satu kesimpulan: tidak bisa mengikuti kegiatan pada hari Sabtu karena harus menghadiri acara di Jakarta. Dengan kata lain, mereka harus kembali ke Jakarta pada Jum’at malam atau Sabtu pagi. Karena ditunjuk jadi pembicara pada persekutuan parsahutaon, semula aku pun berencana meminta kompensasi untuk pulang lebih awal. Namun setelah melihat agendanya dan memperhitungkan jarak tempuh Bandung-Jakarta, aku berkesimpulan dan berkeyakinan masih dapat mengikuti semua program tanpa harus mengorbankan yang lainnya.
Apa yang dipikirkan, maka itu yang akan diucapkan, lalu menjadi kenyataan. Itulah yang terjadi kemudian dengan ”nasib” ketiga orang kawan-kawanku itu. Yang pertama, urung datang dan hadir di Bandung karena tiba-tiba harus mengantar ibunya yang sakit. Lalu yang kedua dan ketiga yang sempat mengikuti acara Kamis dan Jum’at, pagi hari Sabtu melapor ke panitia tidak bisa ikut jalan kaki karena terserang diare sejak Jum’at malam sehingga memilih untuk beristirahat di hotel …
Dengan menumpang mobil kawan, kami – aku bersama tiga orang lainnya, yaitu peserta dari Surabaya, Makassar, dan Jakarta – berangkat dari Kantor Wilayah di Jakarta pada Kamis minggu lalu itu. Cuma aku sendiri yang Kristen, lainnya adalah muslim. Sebagaimana setiap kesempatan yang pas, aku juga memanfaatkan perjalanan hampir tiga jam tersebut (karena hujan deras sehingga mengganggu penglihatan dan juga sempat berhenti di tepi jalan tol karena canvass persnelling yang bermasalah sehingga mesin mobil tidak bertenaga) untuk mempersaksikan pengalaman berimanku dengan cara berbagi tentang kekuatan do’a. Saat itu aku menyampaikan bahwa sebagai ketua Panitia National Distributor Convention tahun ini, aku setiap hari membawakannya dalam do’a agar Tuhan membantu membuatnya semua menjadi lancar. ”’Gimana doanya, bang?”, tanya salah seorang dari antara mereka, lalu aku jawab, ”Di antaranya adalah supaya Tuhan memberikan kesabaran kepada setiap anggota panitia, lalu memberikan kesabaran pada setiap orang yang terlibat. Jangan sampai ada yang marah, namun kalaupun ada yang marah, yang lainnya dapat menyikapi dengan bersikap dewasa”. Dengan membagi beberapa pengalaman ketika menghadapi kesulitan dalam beberapa pengurusan, yang akhirnya Tuhan membukakan jalan, mereka menjadi terinspirasi. Bahkan ketika di Bandung bilamana ada pembicaraan yang mengarah, mereka selalu mengimbuhinya dengan ucapan, ”Jangan sampai ada yang marah, dan harus selalu bersabar …”.
Ketika pulang pada Sabtu siang, kami tetap dalam satu mobil. Saat hendak memasuki tol Jakarta, terpaksa mobil harus dikirim ke bengkel resmi. Semua kami adalah Safety Health and Environment (SHE) Champion di unit masing-masing, namun karena aku yang paling senior, maka aku memutuskan untuk berkonsultasi terlebih dahulu ke bengkel tentang kelayakan mobil tersebut melakukan perjalanan jauh. Karena bengkel Toyota tidak merekomendasikan dan mobil harus segera diperbaiki, akhirnya kami berempat (tidak termasuk kawan yang menyupiri karena harus menunggui mobil) mencari alternatif lain untuk pulang ke Jakarta.
Dengan diantar service car Toyota, kami tiba di stasiun travel Cipaganti dan melihat betapa banyak dan sesaknya orang yang akan menumpang mobil penyewaan. Bagi kami yang tersedia hanya mobil dengan jadual keberangkatan lewat jam 4. Artinya terlalu beresiko bagi kawan-kawanku yang akan pulang ke Surabaya dan ke Makassar dengan pesawat jam 8. Setelah berupaya ke sana ke mari, akhirnya kami menghentikan taksi Blue Bird. Dengan pembayaran yang disepakati (argo Bandung-Jakarta plus 50% tambahan), kami pun menuju Jakarta dengan tujuan akhir adalah Bandara Soekarno-Hatta.
Dalam perjalanan – diselingi dengan kemacetan luar biasa karena ada tabrakan beruntun di jalan tol Purbaleunyi itu – aku melihat kedua orang kawanku yang masih akan melanjutkan perjalanan pulangnya dari bandara ke kota masing-masing duduk terdiam dengan pikiran menerawang. Mudah ditebak, ada keraguan untuk bisa ikut dalam penerbangan sesuai jadual. Terbayang pula harus menambah biaya penginapan satu malam lagi di Jakarta bila terlambat sampai di bandara. Entah kekuatan dari mana – saat hendak turun di pintu tol Bekasi Barat sesuai arahan dari salah seorang kawan agar aku bisa lebih cepat tiba di rumah – aku menyemangati mereka: ”Jangan ragu, pak. Pasti tidak terlambat di bandara. Percaya saja.”. Hal yang hampir sama aku sampaikan pada mak Auli yang sebelumnya menelepon untuk mengingatkan bahwa acara persekutuan doa parsahutaon dijadualkan (sesuai himbauanku yang disepakati oleh semua hadirin pada bulan lalu …) jam tujuh, ”Jangan sampai terlambat. Papa yang bulan lalu bilang jam tujuh harus sudah dimulai. Jangan bikin malu …”.
Dengan penuh perjuangan – karena berjalan kaki dengan menenteng tas dan ransel yang lumayan berat – akhirnya aku tiba di pangkalan taksi terdekat. Jam enam, puji Tuhan, aku tiba di rumah. Setelah beristirahat dan mempersiapkan bahan untuk acara persekutuan doa tersebut, jam setengah tujuh aku menelepon salah seorang dari mereka. Dengan gembira, kawanku yang mau terbang ke Makassar menyahut: ”Wah, hebat bang. Kami baru ’nyampe dan sekarang sudah mau check-in. Terima kasih, bang.”.
Aku turut bersukacita mendengar suara dari seberang telepon. Mudah-mudahan mereka juga terinspirasi dengan kejadian yang baru berlangsung, sebagaimana aku juga bertambah keyakinan bahwa apa yang ada di pikiran kemudian dimintakan dengan sungguh-sungguh, bolehlah berharap untuk mendapatkan sesuai dengan apa yang diminta …
Terima kasih, kawan-kawan … 5 Oktober 2009
Posted by tanobato in Umum.Tags: tanobato
1 comment so far

Tak terasa, sekarang kita sudah memasuki kuartal-4 tahun 2009 ini. Di beberapa jemaat dan persekutuan lainnya aku sudah mulai mendengar persiapan untuk perayaan Natal dengan berbagai pernak-perniknya. Baguslah …
Kali ini aku mau bicara tentang blog sederhana ini. Karena sedang getol membuat analisa, aku pun melihat perkembangannya secara kuantitatif. Dan puji Tuhan, dari bulan ke bulan jumlah pengunjung bertambah secara signifikan. Beberapa komentar yang menyemangati – di antara sangat sedikit yang berbeda – bahkan memberikan inspirasi bagiku. Posting yang paling banyak dilihat adalah Andaliman yang selalu muncul setiap minggu. Dan itu sangat menggembirakan bagiku, artinya tulisan yang kebanyakan berasal dari perenungan akan pengalamanku sudah sampai kepada semakin banyak orang. Dan kiranya juga menjadi berkat, karena sesuai dengan ”slogan” blog ini: ”berkat engkau aku diberkati untuk menjadi berkat”.
Jujur saja, ada beberapa komitmen yang belum bisa aku penuhi. Yang pertama adalah untuk mem-posting kartun/karikatur, dan resensi/ komentar tentang berbagai hal (buku, rekaman, dan lain-lain) dalam KOLEKSI paling tidak, satu kali setiap bulannya. Untuk ini, aku harus memohon ma’af untuk ketidakmampuanku ini. Mudah-mudahan ke depannya akan lebih baik …
Tetaplah berkunjung dan memberi semangat!
Nasionalisme dan Agama Anak Bangsa: Sebuah Renungan 64 Tahun Proklamasi 18 Agustus 2009
Posted by tanobato in Umum.Tags: kebangsaan, nasionalisme
3 comments

Ini bukan sekadar gagah-gagahan, melainkan hasil perenungan ketika melakukan perjalanan ke beberapa tempat di Indonesia dalam minggu-minggu belakangan ini. Tentu saja dihubungkan dengan semangat memperingati ulang tahun proklamasi bangsa kita ini. Dan secara spesifik kegiatan terorisme yang kambuh kembali dalam minggu-minggu belakangan ini. Lebih spesifik lagi adalah tentang kegagalan polisi dalam memberangus Noordin M. Top, gembong teroris yang warga negara Malaysia.
Indonesia adalah negara yang penuh potensi, semua orang tentulah tahu akan hal itu. Namun belakangan hari ini lebih sering aku mendengar keluhan sinis tentang kemunduran bangsa ini daripada decak kagum atas prestasi anak bangsa. Rasa kebangsaanku seringkali terusik menyaksikan perangai buruk anak-anak bangsa (utamanya adalah para pemimpinnya yang lebih banyak menunjukkan kualitas yang sangat jauh di bawah standar kepemimpinan sebagai role model, yang sayangnya tingkatan di bawahnya ikut-ikutan mencontoh yang tidak baik …).
Lihatlah sidang paripurna DPR yang berlangsung kemarin dalam rangka memperingati hari ulang tahun proklamasi (dulu saat mengikuti Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila alias P4 sebagai mahasiswa baru disebutkan sebagai konvensi, yaitu suatu kebiasaan yang sebenarnya tidak diharuskan oleh Undang-Undang). Ada yang tidak biasa, “lupa” menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Dan sebagian besar tidak mengeskpresikan rasa bersalah (termasuk Presiden SBY yang sudah ditetapkan untuk menjabat lima tahun lagi, dan pemimpin sidang yang adalah wakil rakyat pilihan masyarakat …), kecuali seorang Panda Nababan yang langsung interupsi memprotes pemimpin sidang. Sungguh beruntung dan patutlah berbangga orang-orang yang mencontreng nama beliau ketika pilleg yang lalu …
Di kereta api yang membawaku dari Jember menuju Surabaya aku sempat salut pada petugas kereta yang dengan tegas meminta dua orang tentara “penumpang gelap” untuk segera turun (dan jangan naik ke gerbong mana pun lagi selagi tidak bisa menunjukkan karcis kereta …) karena para pengawal keamanan republik ini mengaku tidak punya uang untuk membeli karcis (sesuatu yang tidak mudah ‘kupercaya kebenarannya, sekaligus membuatku prihatin jika ternyata pengakuan mereka benar …). Namun, tak lama kemudian ada rombongan tentara yang lain yang masuk ke gerbong. Lebih muda dan dalam rombongan yang berjumlah lebih dari sepuluh orang. Oh ya, ada beberapa orang wanita dalam rombongan yang sebagian besar anggota rombongan menyandang ransel dengan bordir yang terkesan nama kesatuan pasukan. Beberapa orang yang sempat lalu lalang di samping kursiku (mungkin sedang ”bernegosiasi” dengan petugas kereta …) membuatku tidak terlalu simpatik. Dari semuanya, tidak satupun yang mengesankan ada rasa bangga alias cinta tanah airnya; sehingga aku sempat ’nyeletuk kepada kawan yang duduk di sebelahku, ”’Gimana ya mereka ini yang dianggap sebagai anak negara, semuanya lebih bangga menggunakan pakaian bertulisan ’US Army’ dan asesori lainnya. Tidak satupun yang mengesankan bahwa mereka adalah calon pemimpin yang cinta tanah air Indonesia …”. Yang lebih memprihatinkan, selama perjalanan mereka ’ngobrol dengan sesamanya dalam suara yang keras sehingga kedengaran dari tempat mereka duduk di lantai di ujung gerbong. Di lantai di ujung gerbong? Ya, ternyata mereka juga penumpang tanpa karcis. Karena jumlahnya banyak, kemungkinan petugas kereta tidak mampu bertindak tegas menghalau mereka agar turun dari kereta … Ketika kami hendak turun di stasiun Sidoarjo kami mengalami sedikit kesulitan untuk sekadar melompat turun dari gerbong, karena para pengawal republik muda usia tersebut enggan beringsut dari ”lapak”-nya (mungkin khawatir kalau-kalau kaplingnya tersebut direbut oleh penumpang lain yang statusnya sama atau mirip dengan mereka …).
Mungkin terlalu naif jika hal kecil (???) tersebut dijadikan tolok-ukur rasa kebangsaan. Lantas, bagaimana hubungannya dengan terorisme? Bisa dihubungkan.
Bertahun-tahun sudah sepak terjang kelompok ini memorakporandakan negeri ini dengan bom-bom ciptaan mereka. Dan sudah sangat banyak yang menjadi korban. Tentu saja polisi menjadi repot untuk menggulung komplotan ini. Karena terlalu lama bisa ditumpas, menimbulkan pertanyaan bagiku: koq bisa? Jawabannya sederhana: karena didukung oleh sebagian warga negara (yang tentu saja bisa diduga betapa rendahnya tingkat nasionalisme mereka). Selain berhasil merekrut kader, seorang Noordin juga ”sempat-sempatnya” menikah dan beranak-pinak di beberapa tempat yang bisa diindikasikan bahwa kehadirannya dapat diterima masyarakat setempat. Tentu akan lain halnya jika orang-orang (yang ”terlibat”) tersebut segera melaporkan diri dan memberitahu tentang keberadaan ”orang asing” (dengan tingkah laku yang kemungkinan besar asing pula …) di sekitarnya kepada pihak yang berwajib (hal yang dulu sangat efektif dilakukan oleh penguasa Orde Baru sehingga dengan singkat dan mudah dapat mendeteksi lalu memberangus kegiatan seperti ini). Lihatlah pengakuan dari beberapa orang yang diwawancarai televisi kemudian yang kurang mengesankan keprihatinan yang mendalam.
Rasa kebangsaan kita seakan tidak terusik karena pelakunya adalah dari golongan muslim dan saudara serumpun. Berbeda halnya ketika Israel menyerbu Palestina, Amerika yang menginvasi Irak, masyarakat (yang juga berasal dari golongan dengan atribut muslim) rame-rame dengan semangatnya melakukan penekanan terhadap semua hal yang berbau Israel dan AS. Melakukan sweeping kepada warga negara AS (dan yang dianggap sekutunya …), boikot produk-produk mereka (walaupun sudah diproduksi lokal), bahkan merusak restoran franchise mereka yang notabene pengusahanya adalah pribumi lokal (dan mungkin muslim pula …!). Jika hal yang sama dilakukan terhadap warga negara Malaysia (atau bangsa manapun yang terindikasi mendukung terorisme) paling tidak, tentu itu mampu menekan gerombolan jahat itu dan membuat mereka tidak nyaman sehingga (mungkin saja) meninggalkan negeri yang kita cintai ini.
Jika hal yang sama dilakukan secara bersungguh-sungguh kepada warga negara Malaysia, tentulah polisi sudah tidak perlu melakukan penyerbuan seperti di Temanggung baru-baru ini. Penyerbuan yang berhasil (apalagi kalau targetnya sekadar jadi aktor dalam adegan siaran langsung …), sekaligus gagal (karena tidak membunuh encik Noordin sebagaimana sempat ditiup-tiupkan pada awalnya pada saat penyerbuan yang menurutku ”tidak biasa”, apalagi mencermati tidak adanya serangan balasan, tiada ditemukan bahan peledak seperti dugaan sebelumnya, dan indikasi lainnya …).
Apakah karena agama? Bisa jadi. Palestina dan Irak yang jadi korban serangan Israel dan AS dianggap merepresentasikan Islam karena bangsa dengan mayoritas beragama Islam. Meskipun yang menjadi korban di sana tidak memiliki hubungan langsung dengan masyarakat muslim di Indonesia, menurut logika masyarakat Islam di negeri ini lebih pantas dibela daripada warga negara Indonesia yang menjadi korban terorisme yang tewas bersamaan dengan peledakan bom di berbagai tempat di wilayah Indonesia. Tentu saja kita tahu bahwa masyarakat muslim termasuk bagian yang tewas dalam setiap kejadian.
Tidak terbayangkan jika pelaku teror biadab ini adalah dari golongan non-muslim. Janganlah sampai terjadi, sebab sebagian besar anak bangsa ini adalah pencinta perdamaian. Dan pembenci terorisme, dari golongan manapun itu!
Merdeka! Merdeka? Ah entahlah … itulah sebabnya aku lebih suka mengatakan bahwa hari ini adalah memperingati 64 tahun sudah proklamasi dikumandangkan oleh Soekarno yang gemanya kemudian menginspirasi belahan dunia lainnya.
Pilpres, Umpasa, dan Umpama 8 Juli 2009
Posted by tanobato in Umum.Tags: pemilu, refleksi, Umum
add a comment
Minggu malam (05/07/09) sepulang ke rumah aku mendapati dua lembar surat Model C4 PPWP, yaitu Surat Pemberitahuan Waktu dan Tempat Pemungutan Suara. Artinya, aku bias ikut mencontreng pada pemilihan presiden (pilpres) kali ini. Padahal beberapa jam sebelumnya – saat menghadiri ibadah pengucapan syukur memasuki rumah baru oleh salah satu keluarga – aku mengatakan bahwa aku (lagi-lagi) tak ikut memilih, karena dipaksa jadi golput (golonga putih) karena tidak terdaftar. Ini suatu kemajuan (bagi Panitia Pemungutan Suara alias PPS), dan sekaligus beban (bagiku).
Suatu kemajuan, karena pada saat pemilihan calon anggota legislatif (sebut saja pilleg untuk menyesuaikan dengan pil-pilan yang lain …) bulan April yang lalu aku tidak ikut mencontreng karena tidak terdaftar pada Daftar Pemilih Tetap (DPT). Padahal PPS Kecamatan saat itu sudah mengeluarkan selembar surat yang menyatakan bahwa aku terdaftar sebagai salah seorang (calon) pemilih. Waktu itu aku legowo saja, karena juga – terus terang – “bingung” mau pilih siapa. Itu pulalah yang memosisikan aku menjadi terbeban saat ini. Kalau pada pilleg yang lalu ada alasan “struktural” untuk tidak mendukung beberapa caleg (yang secara agresif mengampanyekan dirinya …), maka pada pilpres ini aku harus menjatuhkan pilihan. Pilih nomor satu, dua, atau tiga? Bingung, tidak satupun dari ketiganya menjadi pilihan ideal bagiku. Ideal, lho, bukan sempurna (sebab hanya Allah sajalah yang sempurna …). Atau, malah nol alias golput? Sayang juga suaraku, bukankah vox populi vox dei? (kalau prinsip ini masih berlaku …).
Minggu lalu masih ada yang bertanya padaku: ai ise do si pilliton? (terjemahan bebasnya: ‘siapa sih yang harus dipilih?’). Dengan rujukan yang aku yakin netralitasnya (apa iya masih ada yang netral?), aku sampaikan pandanganku. Ternyata tanpa sengaja hal itu menggiring kepada calon tertentu yang kemudian membuatku tersadar adalah perkataan menanggapinya, “Mauliatema, amang manghatai hita sadari on. Gabe huboto do muse ise na naeng pillitonku mangganti naung adong hian …” (= Terima kasihlah, nak kita ‘ngobrol hari ini. Aku jadi tahu kembali siapa yang harus aku pilih mengganti yang sudah ada sebagai pilihanku sebelumnya …). Padahal, sampai detik ini aku belum menerima “titipan” dari salah satu pasangan pun …
Sejak kemarin hingga beberapa jam yang lalu, aku masih menerima kiriman pesan-pendek alias SMS dari berbagai kalangan. Dari perkumpulan gereja, dari perkumpulan marga, bahkan dari kalangan keluarga terdekat. Sepertinya berbentuk umpasa, yang demikian bunyinya: “Tubuma rimbang dohot saga, asa uli dalan lao tu huta. Tutuma podani dainang, tapillitma nomor sada, asa namborunta I na gabe siparorot di hita.” Karena prinsipku bahwa semua komunikasi harus diupayakan untuk ditanggapi, dan menjaga “netralitas”, maka aku pun menjawab pesan-pendek tersebut dengan umpama yang spontan tercipta yang berbunyi begini: “Singkoru ma singkoru, tubu di purba tua ni huta. Namboru manang amangboru, sai anggiatma na pinillit ni Debata …”. Jelas maksudnya, ‘kan? Mudah-mudahan masih sesuai dengan prinsip-prinsip yang aku anut sejauh ini …
