Andaliman-61 Khotbah 21 Februari 2010 Minggu Invokavit

 

Berjuang bersama Tuhan! Bagi Dia-lah kemuliaan dan hormat. Eits, hati-hati dengan berhala …!

 

Nas Epistel: Yeremia 10: 6-10

10:6 Tidak ada yang sama seperti Engkau, ya TUHAN! Engkau besar dan nama-Mu besar oleh keperkasaan.

10:7 Siapakah yang tidak takut kepada-Mu, ya Raja bangsa-bangsa? Sungguh, kepada-Mulah seharusnya sikap yang demikian; sebab di antara semua orang bijaksana dari bangsa-bangsa dan di antara raja-raja mereka tidak ada yang sama seperti Engkau!

10:8 Berhala itu semuanya bodoh dan dungu; petunjuk dewa itu sia-sia, karena ia hanya kayu belaka. —

10:9 Perak kepingan dibawa dari Tarsis, dan emas dari Ufas; berhala itu buatan tukang dan buatan tangan pandai emas. Pakaiannya dari kain ungu tua dan kain ungu muda, semuanya buatan orang-orang ahli. —

10:10 Tetapi TUHAN adalah Allah yang benar, Dialah Allah yang hidup dan Raja yang kekal. Bumi goncang karena murka-Nya, dan bangsa-bangsa tidak tahan akan geram-Nya.

 

Nas Evangelium: 1 Timotius 6: 11-16

6:11 Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.

6:12 Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.

6:13 Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus yang telah mengikrarkan ikrar yang benar itu juga di muka Pontius Pilatus, kuserukan kepadamu:

6:14 Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya,

6:15 yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan.

6:16 Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin.  

 

Bulan aku diminta untuk menyampaikan khotbah di salah satu partangiangan bulanan satu ompung di Jakarta untuk Sabtu, 20 Februari nanti. Walau diberi kebebasan untuk memilih firman yang akan disampaikan, tapi sebagai pelayan yang ”setia”, aku dengan bulat hati akan menyampaikan perikop ini yang sesuai dengan tanggal dalam Almanak HKBP. Selain kepraktisan (koq mesti mencari perikop yang lain kalau memang sudah ada yang paling sesuai, ’kan?), aku juga bermaksud ”menjual” HKBP kepada hadirin (yang datang dari berbagai denominasi) dengan salah satu ciri khasnya adalah penyampaian firman yang telah terencana dengan jadual yang terstruktur. Sesuatu yang belum tentu dimiliki oleh gereja-gereja lainnya, terutama yang semakin menjamur belakangan hari ini dengan segala ”kelebihannya”. Bukan untuk menyombongkan diri, tentunya.

 

Aku melihat perikop Minggu ini lebih banyak berbicara tentang Tuhan yang dibandingkan dengan berhala-berhala, dan bagaimana orang percaya harus menyikapinya.

 

Alkitab bercerita tentang berhala pada mulanya adalah ketika bangsa Israel dalam perjalanan pulang ke Kanaan dan meminta Harun untuk membuatkan patung lembu jantan dari emas sebagai pengganti Tuhan karena Musa sudah lama tidak kembali dari gunung untuk menghadap Allah. Mereka menginginkan suatu kekuatan yang dapat dilihat dan diraba, dan berhala itulah yang menjadi keinginan mereka. Itulah yang kemudian membuat Musa sangat murka. Dan kehidupan yang mengandalkan berhala sebagai pengganti Tuhan itulah yang berulang kemudian dalam kehidupan manusia sebagaimana dikisahkan dalam berbagai peristiwa yang dicatat di Alkitab. Juga yang kemudian memasuki kehidupan nenek moyang kita, bangsa Batak. Bahkan masih menyisakannya sampai saat ini.

 

Aku sangat menyukai pernyataan Yeremia dalam nas Ep Minggu ini yang dengan tegas mengingatkan bahwa berhala-berhala itu tidak ada kekuatannya sama sekali. Apakah terbuat dari kayu, batu, emas, atau perak, dan bahkan dihiasi dengan pakaian yang mahal dan yang sangat indah, berhala tetaplah berhala: suatu benda mati. Hanya sekadar buatan manusia, tentu saja tidaklah ada apa-apanya dibandingkan Tuhan sang pencipta manusia.    

 

Bagaimana dengan zaman sekarang ini? Meskipun semakin jarang, tetap saja kadangkala terdengar masih ada sebagian orang yang masih ”mewarisi” pemujaan berhala sebagaimana dilakukan oleh nenek moyang yang belum mengenal Tuhan dalam kehidupannya. Masih beberapa kali pula terdengar orang-orang yang pulang ke bona pasogit untuk berdoa di kuburan nenek moyang untuk mendapatkan apa yang diinginkan, misalnya berkah, kemajuan usaha, jodoh, kesembuhan dari penyakit, dan lain-lain.

 

Ada pula berhala modern sebagai ciptaan manusia modern yang semula dipakai sebagai alat, namun ”beralih fungsi” sebagai hal yang utama seakan-akan sebagai sesuatu yang sangat dipuja. Misalnya, pangkat (sehingga rela menjual imannya dengan beralih agama), uang (dengan cara melakukan apa saja untuk mendapatkannya, meskipun harus melanggar peraturan), harta, dan kuasa. Bahkan ponsel dan alat sejenisnya pun mulai memikiki kecenderungan diperlakukan sebagai berhala: berapa banyak orang yang mengutamakan membaca facebook daripada membaca Alkitab setiap hari?

 

Yang lebih ironi adalah pemberhalaan di kalangan gereja. Misalnya para pengkhotbah yang sangat populer yang cenderung menjadi kultus individu dan memosisikan dirinya menjadi lebih utama dibandingkan firman Tuhan yang harus disampaikannya, bahkan menyimpang dari Alkitab. Pernah dengar ada seorang pengkhotbah yang mengklaim selalu mendapat penglihatan dan mendengar ucapan Tuhan, bahkan naik turun dari sorga kapan saja dia mau? Celakanya, di kalangan warga jemaat dia menjadi segala-galanya sehingga tidak bakalan mau menghadiri ibadah kalau tidak dilayani oleh pengkhotbah penghuni surga tersebut.

 

Masih ada lagi, yaitu minyak urapan. Minyak goreng yang didoakan itu seakan menjadi jimat yang sangat ampuh untuk digunakan dalam banyak keperluan. Bahkan hal yang sama juga menimpa roti dan anggur perjamuan kudus. Menyedihkan sekali, iman yang seharusnya membebaskan malah menjadi belenggu untuk kembali ke alam pemujaan berhala!

 

Nas Ev semakin menguatkan bahwa orang percaya harus menjauhkan diri dari hal-hal yang menyimpang dari kemuliaan Allah. Bertindaklah sebagai orang yang menerima pembaptisan dengan meneladani sikap Kristus. Menjadi saksi, dan hidup dengan tidak bercela sampai akhir hayat. Hanya Tuhan satu-satunya yang layak disembah karena kuasa yang dimiliki-Nya sebagai satu-satunya Tuhan yang paling berkuasa atas kehidupan.     

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Hidup kita masih dikelilingi dengan situasi dan kondisi yang mengarah kepada penyembahan berhala. Ada yang disadari, adapula yang tidak kita sadari. Kalau yang disadari, biasanya adalah pemujaan berhala dalam bentuk benda-benda yang seakan-akan memiliki kekuatan supranatural. Masih terdapat pula praktik yang dianggap sebagai mewarisi tradisi nenek moyang yang cenderung sebagai dinamisme dan animisme.

 

Kehidupan modern yang sangat mengidolakan sesuatu yang instan yang memiliki kekuatan supranatural juga acapkali menjadi godaan untuk memberhalakan semuanya yang dijadikan sebagai yang utama dalam kehidupan. Anggapan bahwa itu semua sebagai solusi, menjadikannya sebagai dasar untuk pemujaan. Karena Tuhan punya ketentuan waktu untuk bertindak (yang selalu tepat pada waktunya) yang seringkali dianggap sangat lambat oleh manusia, menjadikan kuasa Tuhan sebagai alternatif kedua atau ketiga atau urutan berikutnya setelah kekuatan supranatural yang menjanjikan efektivitas dalam waktu singkat.

 

Inilah saatnya kita untuk kembali dan mempercayai firman Tuhan sebagai satu-satunya pedoman untuk dijadikan sandaran dan landasan dalam menghadapi masalah dalam kehidupan. Termasuk menjauhkan diri dari keterlibatan pemberhalaan (apapun itu!) maupun menjadikanya sebagai alternatif solusi. Selayaknyalah kita menanggapi panggilan-Nya, karena Dia telah terlebih dahulu memanggil kita sebagaimana arti dari nama Minggu ini: Invokavit yang dalam bahasa Batak disebutkan ”Jouon-Na ma ahu, jadi alusanku ma Ibana, yang artinya: ”Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab”.

Andaliman-60 Khotbah 14 Februari 2010 Minggu Estomihi

Untuk Parhalado, Sudahkah Memenuhi Persyaratan?

 

Nas Epistel: Keluaran 18: 17-23 (bahasa Batak: 2 Musa 18: 17-23)

18:17 Tetapi mertua Musa menjawabnya: “Tidak baik seperti yang kaulakukan itu.

18:18 Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja.

18:19 Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku, aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau. Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah dan kauhadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah.

18:20 Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan, dan memberitahukan kepada mereka jalan yang harus dijalani, dan pekerjaan yang harus dilakukan.

18:21 Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang.

18:22 Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya.

18:23 Jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya, dan seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya.”

 

Nas Evangelium: 1 Timotius 3: 1-7

3:1 Benarlah perkataan ini: “Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah.”

3:2 Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang,

3:3 bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang,

3:4 seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya.

3:5 Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?

3:6 Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis.

3:7 Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis.

 

Secara personal, nama minggu ini (Estomihi = Ho ma Jahowa, partanobatoanku) bagiku adalah sangat istimewa. Dan nas perikop yang menjadi Ep dan Ev juga terasa sangat ”menyentak” dan sangat pas dengan suasana batinku yang diliputi dengan keterkejutan sekaligus prihatin yang amat sangat. Minggu lalu Panitia Jubileum dilantik di jemaat kami, dan aku ditunjuk menjadi Sekretaris Umum dari kepanitiaan yang diisi oleh lebih dari delapan puluh orang itu. Usai ibadah, aku permisi kepada Ketua Umum untuk tidak hadir dalam acara jamuan makan siang bersama. Selain karena harus ke rumah sakit St. Carolus, aku juga tidak terlalu sreg dengan acara makan bersama tersebut. ”Belum kerja koq sudah bikin makan bersama? Apa kata ruas nanti … Kalaupun dana pribadi Panitia, tetaplah kurang pas karena pada hakekatnya kita masih perlu pencarian dana. Apakah tidak lebih baik kalau uangnya disumbangkan saja sebagai penambah modal dasar Panitia untuk bekerja, lae?”, kataku kepada Ketua Harian saat pertama kali mendengar pemberitahuan itu di partangiangan bona taon parhalado dan keluarga yang langsung disampaikannya kepada Uluan Huria saat itu. Tak bergeming, buktinya acara makan siang bersama tetap diadakan. Tak apalah, yang penting aku sudah sampaikan isi hatiku, kataku berupaya menghibur diri sendiri.

 

Ketika meminta izin meninggalkan gereja dan tidak ikut acara makan siang bersama tersebutlah, Ketua Umum menyahut dalam bahasa Batak, ”Sempatkanlah ikut sebentar. Aku pun harus terburu-buru nanti ke bandara. Saya nanti langsung ke bandara mau ke Laguboti menangani kasus Sekolah Bibelvrow dan dosennya yang memalukan itu. Sudah diliput MetroTV kayak gini, harus cepatlah diatasi.” Semula aku tidak terlalu paham – sehingga tidak terlalu mengambil hati, lagipula karena terburu-buru – namun komunikasi selanjutnya menjadi lebih jelas: ternyata telah terjadi pelecehan seksual terhadap 19 mahasiswi Sekolah Bibelvrow oleh salah seorang dosennya. Dan ini menambah daftar buruk para pendeta dengan kasus-kasus seperti ini (yang biasanya juga bermunculan-kembali dengan adanya perkembangan terbaru ini …). Sangat sangat sangat menyedihkan!!!

 

Nas Ep menceritakan Musa dalam kepemimpinannya yang menerima nasehat mertuanya dalam menangani pekerjaannya yang berat dan melelahkan jika dikerjakan sendiri. Mungkin inilah pertama kali Alkitab mencatat tindakan pendelegasian wewenang pada berabad-abad yang lalu. Selain menyangkut kompetensi (karena kemampuan manusia pastilah sangat terbatas …), hal ini juga berhubungan dengan pembatasan wewenang. Kecenderungan untuk menjadi tidak terkendali, adalah godaan yang sangat nyata dalam kepemimpinan dengan kuasa yang hampir tidak terbatas. Faktor kelelahan akibat terlalu bekerja keras adalah juga berpotensi dalam memberikan keputusan yang tidak tepat.

 

Itulah juga yang mungkin sedang dialami oleh sebagian besar para pendeta yang seharusnya menjadi pelayan jemaat. Dalam banyak kasus, terjadinya adalah pelecehan yang dilakukan atasan dengan bawahan (praeses dengan pendeta perempuan di distriknya, pendeta dengan bibelvrow, pendeta yang dosen dengan mahasiswi Sekolah Bibelvrow, dan lain-lainnya …).

 

Ketika membaca perikop ini, aku menjadi sedikit ”nakal” setelah membaca bait-bait sebelumnya di mana Yitro – sang mertua – akhirnya mendatangi Musa – sang menantu yang menjadi pemimpin besar umat Israel – setelah berbulan-bulan tidak pulang ke rumah menjumpai isterinya. Mungkin saja Yitro terdorong oleh keprihatinannya sehingga perlu menjumpai Musa dan meningatkannya tentang komitmen sebagai pria yang sudah beristeri …

 

Pada akhirnya, Yitro mengingatkan ”jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya …”. Artinya, pekerjaan menjadi pemimpin itu adalah berat (dan banyak godaan karena kuasa yang diembannya …), namun karena Allah yang dijadikan dasar, maka kekuatan akan diberikan-Nya. Termasuk di dalamnya adalah kekuatan dalam menahan diri agar tidak menjadi seorang pemarah, dan tentunya juga menahan diri dalam dorongan seksual!

 

Nas Ev membuatnya menjadi lebih rinci. Syarat-syarat menjadi pemimpin jemaat menjadi lebih jelas. Dulu ketika mengikuti pembinaan parhalado aku pernah mendengar ayat ini dijelaskan oleh pendeta senior mantan praeses, dan ketika mendengar “Laguboti-gate” ayat ini menjadi teguran padaku untuk menguji, apakah aku memang sudah layak menjadi penilik jemaat sebagaimana dimaksudkan dalam perikop ini?          

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Jika dilakukan dengan benar dan sungguh-sungguh, pekerjaan menjadi seorang pemimpin adalah sangat berat pertanggungjawabannya. Dibutuhkan kapasitas yang memadai untuk melaksanakan tugasnya dengan baik dan berhasil. Dengan besar hati dari seorang pemimpin dibutuhkan kesediaannya untuk berbagi dengan orang lain yang punya kapasitas yang memadai. Memang tidak mudah, namun nas perikop ini sudah membekali kita dengan ketegasan bahwa Allah pasti memberi kekuatan sepanjang kita menuruti apa yang menjadi kemauan-Nya.

 

Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan berkaitan dengan situasi yang terjadi belakangan hari ini yang melibatkan pemimpin jemaat (kita sebutkan saja dengan parhalado), antara lain adalah:

(1)     Sudahkah parhalado memahami dan bercermin-kembali terhadap syarat-syarat sebagaimana dimaksud dalam perikop di atas?

(2)     Mengapa dan bagaimana, sehingga parhalado yang seharusnya menjadi panutan di jemaat ternyata berkelakuan yang sangat memalukan (pelecehan seksual) yang bahkan non parhalado pun masih tidak pantas melakukannya? Pernyataan ”parhalado juga manusia”, adalah bukan jawaban yang pas untuk hal ini!

(3) Sudah adakah tindakan tegas yang dilakukan oleh yang berwenang dalam hal ini untuk parhalado pelaku tindakan yang memalukan seperti ini? Jika iya, apa sajakah itu? Jika tidak, kenapa dan apa penyebabnya?

Andaliman-59: Khotbah 07 Februari 2010 Minggu Seksagesima

Tidak menggunakan dan menyalahgunakan: pelajaran kepemimpinan tentang kepatuhan yang memuliakan.

Nas Epistel: 1 Samuel 8:1-9

8:1 Setelah Samuel menjadi tua, diangkatnyalah anak-anaknya laki-laki menjadi hakim atas orang Israel.

8:2 Nama anaknya yang sulung ialah Yoel, dan nama anaknya yang kedua ialah Abia; keduanya menjadi hakim di Bersyeba.

8:3 Tetapi anak-anaknya itu tidak hidup seperti ayahnya; mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan.

8:4 Sebab itu berkumpullah semua tua-tua Israel; mereka datang kepada Samuel di Rama

8:5 dan berkata kepadanya: “Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain.”

8:6 Waktu mereka berkata: “Berikanlah kepada kami seorang raja untuk memerintah kami,” perkataan itu mengesalkan Samuel, maka berdoalah Samuel kepada TUHAN.

8:7 TUHAN berfirman kepada Samuel: “Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka.

8:8 Tepat seperti yang dilakukan mereka kepada-Ku sejak hari Aku menuntun mereka keluar dari Mesir sampai hari ini, yakni meninggalkan Daku dan beribadah kepada allah lain, demikianlah juga dilakukan mereka kepadamu.

8:9 Oleh sebab itu dengarkanlah permintaan mereka, hanya peringatkanlah mereka dengan sungguh-sungguh dan beritahukanlah kepada mereka apa yang menjadi hak raja yang akan memerintah mereka.”

 

Nas Evangelium: Markus 10:35-45

10:35 Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!”

10:36 Jawab-Nya kepada mereka: “Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?”

10:37 Lalu kata mereka: “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu.”

10:38 Tetapi kata Yesus kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?”

10:39 Jawab mereka: “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: “Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima.

10:40 Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan.”

10:41 Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes.

10:42 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.

10:43 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

10:44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.

10:45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

 

Ini tentang kepemimpinan. Yang satu – yakni Ep berbicara tentang kerinduan untuk memiliki pemimpin karena pemimpin yang dimiliki saat ini tidak memenuhi kriteria – sedangkan satunya lagi berbicara tentang keinginan untuk menonjolkan diri di hadapan pemimpin – yakni Ev yang berkisah tentang dua orang kakak beradik murid Yesus yang menginginkan tempat yang lebih istimewa dibandingkan kawan-kawannya. Perikop untuk Minggu Seksagesima, yang artinya enam puluh hari menjelang kebangkitan. Menurutku, ini masih dalam rangkaian persiapan pra-Paskah, Paskah, dan pasca-Paskah. Masih ada waktu …

 

Kita mulai dengan Ep di mana Samuel menjadi tokoh utamanya. Salah satu episode yang sangat mengesankan bagiku tentang nabi ini adalah ketika dengan lantang dia menunjuk kepada Daud: ”Engkaulah orangnya!”, yakni saat Daud di puncak kekuasaannya masih berupaya menghindar dari pengakuan bahwa dia berselingkuh dengan Betsyeba. Tak banyak orang seperti Samuel yang memiliki nyali yang berani mengatakan tentang keburukan seseorang yang sedang sangat berkuasa (hal ini mengingatkanku pada biografi seorang jenderal anak Tuhan yang menjadi menteri dengan berani mengingatkan Soeharto tentang kiprah dan kelakuan buruk anak-anak penguasa tunggal Orde Baru tersebut yang mulai menjadi sorotan masyarakat kala itu …).  Sayangnya, kepemimpinan yang luar biasa tersebut tidak menurunkan kepada generasi berikutnya. Malah merongrong dan menggerogoti reputasi orangtuanya. Begitulah yang terjadi dengan anak-anak Samuel, tidak satupun yang menunjukkan kelas seorang pemimpin yang layak dijadikan panutan. Dan bangsa Israel menjadikannya alasan untuk mendapatkan seorang pemimpin yang lebih sesuai dengan aspirasi mereka.

 

Dan itu menyinggung Samuel, yang selama ini mendedikasikan dirinya sebagai wakil Tuhan dalam memberikan petunjuk dan memimpin bangsa itu.  Saat itu pemerintahan Israel adalah menganut paham teokrasi (yakni Allah yang memimpin melalui wahyu yang disampaikan oleh nabi-Nya, yakni saat itu adalah Samuel). Menjadikan kekalahan perang sebagai alasan (padahal kekalahan perang tersebut lebih besar disebabkan oleh perbuatan dosa yang semakin bertambah-tambah …) untuk meminta seorang raja yang akan memerintah mereka. Tuhan mengabulkan permintaan tersebut sambil meminta Samuel memberitahu mereka tentang konsekuensi meiliki raja (yaitu wajib militer, kerja paksa di ladang-ladang milik kerajaan, penarikan bajak, perbudakan, dan sebagainya). Tuhan membesarkan hati Saumel dengan mengatakan bahwa bukan Samuel, melainkan Tuhan sendirilah yang mereka tolak. Terbukti kemudian, raja-raja yang menjadi pemimpin Israel selama puluhan tahun malah membawa mereka semakin jauh dari Tuhan dan keinginan mereka sendiri.

 

Aku mendapatkan pelajaran dari sini tentang kepemimpinan. Meskipun lebih kondusif (mendapat pengalaman dan pelajaran secara langsung dari ”mentornya”), terbukti bahwa kemampuan memimpin yang baik tidak otomatis diturunkan kepada generasi berikutnya dari seorang pemimpin yang handal. Memang, dalam sejarah kontemporer kita mengenal klan Kennedy di Amerika Serikat, Gandhi di India, Soekarno di Indonesia (apa iya?); namun belum tentu semua keturunannya punya bakat dan kemampuan yang sama. Masih ada anak-anaknya yang lain yang menjadi orang ”biasa-biasa” saja. Istilah orang sekarang, ”keturunan biologis” belum tentu menjadi ”keturunan politis”.

 

Lalu tentang bangsa Israel yang hanya ”sekadar ikut-ikutan” untuk memiliki seorang raja sebagaimana bangsa-bangsa lainnya. Padahal saat itu Tuhan dengan nyata keberadaannya yang juga sangat dekat dalam memimpin mereka melalui nabi yang ditunjuk-Nya. Namun godaan mendapatkan ”sesuatu yang lain” (yang menjadikan pemisahan antara kehidupan politis dan kehidupan spiritual) tetap mampu menaklukkan mereka. Apa bedanya dengan yang acapkali aku alami dalam kehidupanku? Sudah nyata Tuhan mengatakan akan selalu menyertaiku sepanjang hidupku bilamana menjadikan-Nya sebagai pemimpin dalam kehidupan, namun tetap saja ”sesuatu yang lain” acapkali menggodaku. ’Gimana hasilnya? Yah, tidak jauh berbedalah dengan apa yang dialami oleh bangsa Israel itu …     

 

Secara lugas, nas perikop Ep Minggu ini membicarakan tentang tidak menggunakan, yaitu kesempatan yang diberikan Tuhan bagi bangsa Israel untuk tetap di bawah pimpinan Tuhan. Mereka malah lebih memilih untuk dipimpin oleh manusia. Berbeda dengan Ep, nas perikop Ev membicarakan tentang penyalahgunaan, yaitu tentang posisi yang diharapkan oleh dua orang bersaudara murid Yesus untuk mendapatkan posisi yang utama di kerajaan yang sedang dibicarakan oleh Yesus pada saat itu.

 

Pada Injil Matius, disebutkan bahwa mereka berdua ”memanfa’atkan” ibunya sebagai ”penyambung lidah”. Jadi, tidak secara langsung, melainkan ibunya yang menjadi juru bicara mereka untuk menyampaikan aspirasi tersebut. Hal yang juga masih terjadi saat ini, bahkan dalam kehidupan kontemporer bangsa kita saat ini ’kan?

 

Kedua murid itu salah paham tentang konsep kerajaan yang disampaikan Yesus, sehingga membayangkan akan menjadi ”menteri utama” dalam ”kabinet” Yesus yang akan datang. Murid-murid lainnya menjadi marah dengan ucapan tersebut (bisa jadi mereka juga sebenarnya menginginkan posisi yang sama …).

 

Yesus menegur mereka dengan menanyakan kesanggupan mereka untuk sama-sama menderita dengan-Nya. Mereka menjawab: ”sanggup” (hal yang biasa terjadi juga bilamana dipertanyakan komitmen pada orang yang sangat berambici dan sedang mengincara suatu posisi yang diidam-idamkan …), namun Yesus menjawab dengan sangat elegan, bahwa syarat untuk menjadi orang yang terutama dan terbesar adalah bilamana sanggup menjadi hamba dan pelayan bagi orang lain. Alangkah ironisnya, dan tentu saja mengagetkan semua pendengar-Nya saat itu. Tidak ada yang menduga akan mendapat jawaban seperti itu!

 

Dan ini sekali lagi mengingatkanku tentang komitmen dalam melayani. Di kantor, maupun di jemaat: harus menjadi hamba bagi orang lain. Artinya, menjadikan orang lain sebagai yang utama daripada kemuliaan diri sendiri.     

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Kehidupan berbangsa dan bernegara di republik yang kita cintai ini dapat menjadi ilustrasi yang relevan dalam memahami perikop Minggu ini. Utamanya tentang anak, dan kepemimpinan. Betapa seringnya kita mendengar bahwa ada beberapa orang yang sangat menonjol dalam pelayanannya, namun ternyata di rumah tangga sendiri bukanlah menjadi seorang pemimpin sebagaimana yang dibayangkan oleh orang-orang pada umumnya. Kita patut menjadi teladan bagi anak-anak kita sebagaimana kita juga bertanggung jawab atas masa depan mereka. Campur tangan Tuhan dalam setiap sendi kehidupan kita dan anak-anak kita patut menjadi andalan dalam memastikan bahwa kita dan anak-anak kita adalah pemimpin yang ”diurapi” Tuhan.

 

Sebagai pelayan jemaat, inilah saatnya kembali untuk mengingatkan komitmen kita tentang posisi yang sebenarnya diinginkan Yesus bagi kita. Tidak ada yang lain, jadilah hamba yang menjadi pelayan bagi orang-orang lain.

Andaliman-58 Khotbah 31 Januari 2010 Minggu Septuagesima

 

Hai keluarga, hiduplah dengan takut akan Tuhan

 

Nas Epistel: Kolose 3:18 – 4:1

3:18 Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.

3:19 Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.

3:20 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan.

3:21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.

3:22 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.

3:23 Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

3:24 Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.

3:25 Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang.

4:1 Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di sorga.

 

Nas Evangelium: Mazmur 128:1-6

128:1Nyanyian ziarah. Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!

128:2 Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!

128:3 Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu!

128:4 Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN.

128:5 Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu,

128:6 dan melihat anak-anak dari anak-anakmu! Damai sejahtera atas Israel!   

 

Minggu ini disebut dengan septuagesima, yang artinya tujuh puluh hari menjelang kebangkitan. Persiapan yang mulai dilakukan untuk memasuki masa-masa pra-Paskah, Paskah, yang merupakan rangkaian peristiwa kebangkitan Yesus dari alam kubur.

 

Salah satu persiapan yang perlu dilakukan adalah yang berhubungan dengan keluarga, persisnya hubungan antara suami, isteri, dan anak-anak. Dalam artian, bagaimana masing-masing pihak memahami posisinya di tengah-tengah keluarga dengan cara bersikap yang tepat terhadap anggota keluarga lainnya.

 

Ep ini ditulis oleh Paulus dalam konteks kehidupan pada masa itu yang sebagian tentu saja sangat jauh situasinya dengan masa sekarang. Situasi yang sangat berbeda pada saat itu, namun pesan yang disampaikannya masih tetap relevan dengan situasi pada masa kini.

 

Dalam budaya Yahudi pada masa itu, peranan seorang isteri hampir sama sekali tidak ada harganya karena dianggap hampir sama dengan – ma’af – komoditi atau benda. Hal yang hampir sama terjadi dalam kehidupan Yunani, di mana isteri hanyalah sebagai – ma’af lagi – asesori dalam rumah tangga. Tidak ada hak bicara, dan harus patuh, tunduk mutlak terhadap suaminya. Bahkan ada tradisi yang mengatakan posisinya hampir sama seperti budak. Begitu juga posisi seorang anak terhadap orangtuanya (dalam hal ini adalah ayahnya), sangat tergantung pada sikap dan tindakan orangtuanya tersebut. Seorang ayah punya hak mutlak terhadap anaknya, bahkan yang berujung pada kematian! Jujur saja, meskipun terjadinya pada masa lalu, namun menurutku sikap seperti itu masih juga terjadi belakangan hari ini … Duduklah di depan televisi dan tontonlah berbagai program teve yang menamakan dirinya sebagai reality show (dengan berbagai kemasan sehingga aku pun sulit membedakan dan mengingat stasiun teve mana yang menayangkan program tersebut …), situasi tersebut di atas seakan-akan dihadirkan-kembali dalam kehidupan kini dan di sini …

 

Nah, Ep Minggu ini memesankan bahwa hubungan dalam keluarga adalah bersifat tanggung jawab, bukan lagi kekuasaan. Yaitu bertanggung jawab terhadap posisinya masing-masing dan memainkan peran sesuai dengan tanggung jawab yang diemban masing-masing. Yng kuat melindungi yang lemah, yang lembut memberikan kehangatan, jadi saling mendukung satu sama lain dan menjadi pelayan (= ”hamba”) satu sama lain. Dan semua itu dilaksanakan dengan bersikap seakan-akan sedang berhadapan dengan Kristus yang jadi panutan. Dan pada akhirnya, semua itu akan dipertanggungjawabkan kepada Tuhan yang telah menetapkan masing-masing orang pada peran yang harus dijalankannya.

 

Nyanyian ziarah Mazmur yang menjadi Ev Minggu ini memberikan kekuatan tentang upah yang akan didapatkan oleh keluarga yang menjalankan peranan sebagaimana yang disampaikan oleh Ep di atas. Dengan takut akan Tuhan dalam menjalankan fungsi dalam keluarga, maka damai sejahtera adalah upah yang dijanjikan dan upah yang pantas diterima oleh masing-masing orang dan masing-masing keluarga.  

  

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

KDRT alias kekerasan dalam rumah tangga dan tuntutan keras atas arogansi di tempat pekerjaan, adalah hal yang makin sering terdengar dalam kehidupan belakangan hari ini. Banyak faktor yang bisa dituding sebagai penyebabnya, namun jika kita kembali kepada prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Paulus sebagaimana tertulis dalam Ep Minggu ini, aku yakin hel yang tidak patut tersebut tidak akan terjadi dalam kehidupan orang-orang Kristen. Ironisnya, dalam pemberitaan termutakhir hampir selalu melibatkan orang-orang Kristen di dalamnya sebagai pelaku dan ataupun korban. Menyedihkan sekali!

 

Fenomena ini seharusnya menjadi tantangan yang mengarahkan kita semua untuk kembali kepada ajaran kekristenan yang sebenarnya sudah ”mengantisipasi” hal ini pada abad-abad yang lalu. Kembali kepada peran, menjalankannya dengan sikap takut akan Tuhan, sambil berharap upah yang dijanjikan-Nya, itulah yang coba diingatkan-kembali oleh nas perikop Minggu ini.

Andaliman-57 Khotbah 24 Januari 2010 Minggu III setelah Epifani

 

Tuhan adalah satu. Ajarkanlah firman-Nya … 

Nas Epistel: Matius 7:24-27

7:24 “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.

7:25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.

7:26 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.

7:27 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”   

 

Nas Evangelium: Ulangan 6:4-9 (bahasa Batak: 5 Musa 6:4-9)

6:4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!

6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.

6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,

6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.

6:8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,

6:9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.  

 

Aku pernah berdebat sangat serius dengan salah seorang kawanku yang dulu adalah kawan sebangku ketika sekolah di SD di Medan. Beliau sekarang menjadi orang profesional di BUMN, dan terlibat juga dalam pelayanan di gereja “karismatis”. Topiknya saat itu adalah tentang ke-esa-na Tuhan. Meskipun sudah aku sampaikan dasar alkitabiahnya, beliau tetap ‘ngotot dan sangat keberatan jika dikatakan bahwa Tuhan itu adalah satu (“Aku tidak setuju jika dikatakan bahwa Tuhan yang aku sembah adalah sama dengan Tuhan yang disembah oleh orang-orang “seberang” yang berbeda agama dengan kita”, itu dikatakannya berulang-ulang pada malam itu). Hal yang sama aku alami (dan aku nyatakan dengan tegas …) ketika tersentak saat membahas pertama kali tentang hal ini saat berdiskusi di kelas salah satu mata-kuliah di STT Jakarta beberapa tahun yang lalu.

 

Berdasarkan pengalaman itulah, aku menyampaikannya dengan elegan ketika diminta mengisi renungan pada salah satu partangiangan wejk. Menyadari bahwa topik ini menarik – persisnya: berpotensi menimbulkan kontradiksi – aku membuka diri untuk menggunakan format diskusi interaktif (jadi sangat berbeda dengan penyampaian khotbah konvensional yang cenderung monoton dan satu arah …).  Dan terbukti memang bahwa masih banyak orang-orang yang memandang ketuhanan sebagai suatu eksklusivitas. Tuhan itu hanya milik orang Kristen, kalau pun ada agama yang lain, mereka punya Tuhan yang berbeda dengan Tuhan orang Kristen … (!). Apalagi kalau bicara tentang Yesus, sontak semua berpendapat yang mengesankan bahwa Yesus adalah milik eksklusif orang-orang Kristen!

 

Ayat 4 dari nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan itu adalah esa. Artinya, Tuhan itu satu adanya dan satu-satunya. Itulah yang aku sampaikan dalam berbagai kesempatan yang tentunya sejalan dengan pesan Ep dan Ev Minggu ini untuk menyampaikan firman Tuhan dalam setiap kesempatan dan kepada setiap orang (yang tepat dengan hikmat Tuhan …). Tentu saja dimulai dengan keluarga sendiri sebagai lingkungan yang terdekat. Menurutku, harus dimulai dengan diri sendiri terlebih dahulu dengan keyakinan penuh akan firman Tuhan sebagai satu-satunya kebenaran dan landasan kebenaran.

 

Matius menganalogikannya dengan pendirian rumah di atas batu sebagai orang bijaksana yang mendengar dan melakukan firman Tuhan, dan sebaliknya mengumpamakannya sebagai orang bodoh yang mendirikan rumah di atas pasir bagi orang-orang yang tidak melakukannya. Analogi yang sama mungkin juga dapat diterapkan pada orang-orang yang menyampaikan firman Tuhan yang tidak alkitabiah, dan bagi orang-orang yang mendengarkan firman Tuhan yang tidak alkitabiah, dan apalagi bagi orang-orang yang melakukan firman Tuhan yang tidak alkitabiah (tentu saja terjadi penyimpangan tindakan karena mendapatkan petunjuk yang sama-sama menyimpang …).

 

Nas Ev Minggu ini mengingatkanku supaya semakin intensif mengajarkan firman Tuhan kepada keluargaku (isteri dan anak-anakku). Berulang-ulang, dan dalam setiap kesempatan. Juga melalui perlakuan yang dapat menjadi kesaksian yang dapat langsung secara nyata dilihat dan dirasakan. ’Nggak pantas ’kan, kalau pelayan jemaat berapi-api dalam melayani orang-orang namun di rumah sendiri belum dianggap memenuhi kelayakan …

 

Ada juga sebagian orang yang memahami bahwa ”membuat tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu” dengan menampilkan berbagai asesori kristiani (salib, kalung, gelang, stiker, dan lain-lain …) pada tempat-tempat dimaksud. Kalau dilandasi dengan keimanan ditambah perlakuan yang sejalan (artinya bukan sekadar ”pamer kekuatan” …), bagus juga. Tapi, bagiku, yang utama adalah bagaimana diriku benar-benar mampu merefleksikan keimananku pada Tuhan melalui setiap tindakan dan ucapan. Itu lebih efektif daripada semua asesori yang dapat dibeli di banyak toko-toko buku Kristen saat ini. Tidak mudah, memang … (jujur saja, aku pun malu sebenarnya mencantumkan kalimat-kalimat ini karena menyadari bahwa aku pun sebenarnya masih sangat jauh dari ideal …), namun dengan upaya terus-menerus sambil memohon kekuatan pada Tuhan pastilah akan bertambah kemauan dan kemampuan dari hari ke hari.   

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Pilihan ada pada kita, apakah mau mendirikan di atas batu atau di atas pasir. Apakah mau menjadi orang bodoh atau menjadi orang bijaksana. Tentu saja pilihan dijatuhkan kepada yang baik. Mungkin saja tidak mudah, tapi dengan keyakinan teguh bahwa Tuhan pasti menolong, beban kita akan menjadi lebih ringan dan bahkan mampu melaksanakannya.

 

Sebagai pelayan jemaat, kita harus punya keyakinan tentang ajaran alkitabiah yang besar kemungkinan terlebih dahulu kita dengar daripada warga jemaat. Dan kita pun – sebagai bagian dari fungsi pelayanan – harus menyampaikannya kepada warga jemaat, tidak untuk disimpan-sendiri. Sebelum membaginya kepada orang lain, seharusnyalah kita sudah meyakini dan mengimaninya terlebih dahulu.