Andaliman-19 Khotbah 03 Mei 2009 Minggu Jubilate

jubilate-240409

Pujilah Tuhan dengan sorak-sorai, karena hanya Dia-lah pengharapan bagi kita!

 

Nas Epistel: 1 Tesalonika 2:13-20

Dan karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi–dan memang sungguh-sungguh demikian–sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya. Sebab kamu, saudara-saudara, telah menjadi penurut jemaat-jemaat Allah di Yudea, jemaat-jemaat di dalam Kristus Yesus, karena kamu juga telah menderita dari teman-teman sebangsamu segala sesuatu yang mereka derita dari orang-orang Yahudi. Bahkan orang-orang Yahudi itu telah membunuh Tuhan Yesus dan para nabi dan telah menganiaya kami. Apa yang berkenan kepada Allah tidak mereka pedulikan dan semua manusia mereka musuhi, karena mereka mau menghalang-halangi kami memberitakan firman kepada bangsa-bangsa lain untuk keselamatan mereka. Demikianlah mereka terus-menerus menambah dosa mereka sampai genap jumlahnya dan sekarang murka telah menimpa mereka sepenuh-penuhnya. Tetapi kami, saudara-saudara, yang seketika terpisah dari kamu, jauh di mata, tetapi tidak jauh di hati, sungguh-sungguh, dengan rindu yang besar, telah berusaha untuk datang menjenguk kamu. Sebab kami telah berniat untuk datang kepada kamu–aku, Paulus, malahan lebih dari sekali–,tetapi Iblis telah mencegah kami. Sebab siapakah pengharapan kami atau sukacita kami atau mahkota kemegahan kami di hadapan Yesus, Tuhan kita, pada waktu kedatangan-Nya, kalau bukan kamu? Sungguh, kamulah kemuliaan kami dan sukacita kami.

 

Nas Evangelium: Yeremia 31:7-14

Sebab beginilah firman TUHAN: Bersorak-sorailah bagi Yakub dengan sukacita, bersukarialah tentang pemimpin bangsa-bangsa! Kabarkanlah, pujilah dan katakanlah: TUHAN telah menyelamatkan umat-Nya, yakni sisa-sisa Israel! Sesungguhnya, Aku akan membawa mereka dari tanah utara dan akan mengumpulkan mereka dari ujung bumi; di antara mereka ada orang buta dan lumpuh, ada perempuan yang mengandung bersama-sama dengan perhimpunan yang melahirkan; dalam kumpulan besar mereka akan kembali ke mari! Dengan menangis mereka akan datang, dengan hiburan Aku akan membawa mereka; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, di jalan yang rata, di mana mereka tidak akan tersandung; sebab Aku telah menjadi bapa Israel, Efraim adalah anak sulung-Ku. Dengarlah firman TUHAN, hai bangsa-bangsa, beritahukanlah itu di tanah-tanah pesisir yang jauh, katakanlah: Dia yang telah menyerakkan Israel akan mengumpulkannya kembali, dan menjaganya seperti gembala terhadap kawanan dombanya! Sebab TUHAN telah membebaskan Yakub, telah menebusnya dari tangan orang yang lebih kuat dari padanya. Mereka akan datang bersorak-sorak di atas bukit Sion, muka mereka akan berseri-seri karena kebajikan TUHAN, karena gandum, anggur dan minyak, karena anak-anak kambing domba dan lembu sapi; hidup mereka akan seperti taman yang diairi baik-baik, mereka tidak akan kembali lagi merana. Pada waktu itu anak-anak dara akan bersukaria menari beramai-ramai, orang-orang muda dan orang-orang tua akan bergembira. Aku akan mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan, akan menghibur mereka dan menyukakan mereka sesudah kedukaan mereka. Aku akan memuaskan jiwa para imam dengan kelimpahan, dan umat-Ku akan menjadi kenyang dengan kebajikan-Ku, demikianlah firman TUHAN.

 

Minggu ini diberi nama Jubilate yang artinya “bersorak-soraklah bagi Allah, hai seluruh bumi”, yang dikutip dari Mazmur 66:1. Dengan mudah aku memahami bahwa sukacita (yang memang menjadi ciri utama orang Kristen) mendapatkan penekanan dalam perikop, Ev dan Ep.

 

Pada Ep, Paulus menguatkan hati orang-orang Kristen di Tesalonika yang menerima banyak perlakuan tidak menyenangkan dari lingkungannya (mayoritas orang Yahudi) sebagai konsekuensi dalam mengikuti Kristus. Orang-orang Yahudi merasa terancam dengan ajaran yang baru, sehingga ada kekuatiran bahwa adat istiadat akan segera ditinggalkan oleh orang-orang yang telah menjadi Kristen. Ini jugalah yang seringkali dialami oleh orang-orang Kristen zaman sekarang. Atau sebaliknya? Karena ada juga sebagian orang menggunakan kekristenan sebagai alasan untuk meninggalkan adat istiadat, bukan? Bagiku, tentang hal ini, yang penting adalah apa yang dikatakan oleh Alkitab, karena pastilah Tuhan juga menciptakan kebudayaan sebagai salah satu kekayaan untuk memuliakan-Nya. Kalau memang bertentangan dengan firman, jangankan budaya, ajaran yang mengaku-aku kekristenan pun pastilah aku sisihkan.

 

Jika pada Ep orang Yahudi menjadi penghambat pertumbuhan kekristenan di jemaat, pada Ev diceritakan tentang seruan Yeremia pada bangsa Israel untuk menjadikan Tuhan sebagai pengharapan. Kesesakan yang dialami oleh mereka dalam pembuangan, akan berganti menjadi sukacita karena kasih setia Tuhan yang akan mengumpulkan mereka kembali ke tanah airnya dan menjadi suatu bangsa yang diberkati.

 

Hal menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya pengharapan dalam setiap kesulitan, itulah yang menghubungkan antara kedua perikop Ep dan Ev ini. Bersorak-sorailah dalam kesusahanmu, bersandarlah pada Tuhan, karena hanya Dia-lah yang pantas dijadikan pengharapan. Dan kemuliaan telah disiapkan-Nya bagi orang-orang yang percaya. Adakah yang lebih luar biasa daripada itu? 

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Jika mau dianalogikan, hidup kita ini sebenarnya kadangkala tidak jauh berbeda dengan kehidupan yang dialami oleh bangsa Israel di pembuangan. Pun kehidupan orang-orang Kristen yang menjadi jemaat di Korintus sebagaimana yang dicatat dalam Alkitab yang menjadi perikop Minggu ini. Kesulitan hidup (baik secara ekonomis, fisik, dan ataupun psikologis) yang kita alamai saat ini, adalah juga terjadi pada masa itu. Inilah sebagai bukti bahwa kehidupan memang selalu mempunyai persamaan, meskipun dalam zaman yang bertautan sangat jauh dimensi waktunya.

 

Satu hal yang mampu membuat kita tetap bertahan adalah pengharapan bahwa Tuhan tidak akan pernah melupakan kita. Dalam segala situasi kita diminta untuk selalu bersukacita. Sesuatu yang aneh, memang. Bagaimana mungkin mampu bersukacita di saat kita seharusnya menangis? Itulah iman orang Kristen. Segala sesuatu harus dilihat bahwa Tuhan turut campur dalam setiap perkara yang sedang kita hadapi. Dan pemeliharaan-Nya nyata bagi setiap orang yang menyandarkan diri kepada-Nya.

 

Sebagai pelayan jemaat, sukacita bisa kita dapatkan dengan menyampaikan firman Allah sebagai kabar sukacita kepada warga jemaat. Luka pada orang yang patah hati dapat  disembuhkan dengan mengetahui kehendak Allah yang disampaikan melalui firman.

 

Jika sedang terluka, teraniaya, putus asa, dalam kesukaran yang sangat berat, cobalah datang kepada Tuhan. Ingat kepada-Nya dan bersyukur atas apa yang sudah kita dapatkan sampai saat ini. Banyak orang bijak yang mengatakan bahwa sukacita dan kebahagiaan dalam hidup sebagian besar ditentukan bagaimana kita memandang kehidupan sebagai suatu ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Hitunglah berkat yang sudah kita terima, jangan hanya melihat hidup yang cenderung makin sulit. Layaknya bunga mawar, lebih baik melihat kuntum bunganya yang merekah dengan semerbak mewangi daripada mengeluhkan duri-durinya yang sangat banyak yang seringkali membuat kita terluka …

 

Datanglah pada Tuhan dengan sorak-sorai luapan perasaan kegembiraan. Di sana tersedia kelegaan. Bukan pada yang lain, yang hanya bisa sesaat dan … sesat!

Belajar Berenang dan Belajar Dari Berenang (2): Menjadi Serupa atau Sekadar Mengikuti Jejak Langkah, … dan Oksigen Kehidupan!

27032009017

Aku baru tahu ternyata kolam renang pada klub kebugaran ada juga yang punya ukuran olimpiade (olympic) dan semi olimpiade (semi olympic). Jadi bukan hanya untuk sekadar rekreasi, namun juga sebagai sarana olahraga untuk pembinaan prestasi. Pemanfaatan kolam renang sebagai fasilitas yang kami dapatkan sebagai anggota tahunan dari pengembang perumahan (developer) tempat kami tinggal beberapa tahun ini ternyata ukurannya barulah semi olimpiade (padahal aku sudah “penuh perjuangan“ untuk “menaklukkannya“ …). Bayangkan, dari semula hanya bisa “gaya batu“ (’nyemplung lalu tenggelam dan timbul pada posisi semula, artinya tidak ada pergerakan), akhirnya aku bisa berenang dengan gaya dada sampai sepuluh kali jarak terjauh. Terus terang, aku bangga dengan prestasi tersebut.

 

Suatu Sabtu kami sekeluarga diajak berenang ke klub kebugaran lain yang ada pada komplek perumahan yang dekat dengan komplek kami. Lebih lengkap (lebih banyak dan variatif fasilitas olahraga dan rekreasi lainnya dibandingkan dengan klub kebugaran di tempat kami yang hanya tersedia kolam renang dan bulu tangkis), dengan kolam renang yang lebih luas karena ukurannya adalah olimpiade. Di kolam renang tetangga ini semula aku tertantang untuk berenang pada jarak yang terjauh, namun hampir mendekati setengahnya aku sudah harus menyerah karena tersadar sudah banyak meminum air kolam …).

 

Kecewa dengan pencapaian yang buruk, aku lalu merenung sejenak sambil memandangi titik terjauh yang tidak bisa aku arungi itu. Memang jaraknya dua kali lipat dibandingkan dengan jarak terjauh pada kolam renang tempat aku biasa berenang. Tapi, masa’ aku harus menyerah begitu saja? Masa’ aku tidak bisa membuat kemajuan yang berarti?

 

Akhirnya pandanganku tertumbuk pada jarak terjauh satunya lagi, yakni sisi lebarnya yang kira-kira setengahnya daripada jarak terjauh panjangnya tadi yang gagal aku tempuh. Dan itu masih lebih jauh bila dibandingkan dengan jarak terjauh pada sisi panjang di kolam renang tempat aku biasa berenang. Sekali mencobanya, dan … berhasil! Lalu berulang-ulang dengan kecepatan yang semakin meningkat. Ketika istirahat sejenak, aku sempat berpikir: apa lagi yang bisa aku lakukan setelah keberhasilan ini? Tiba-tiba muncul ide: bagaimana kalau berenang dari ujung ke ujung tersebut tanpa harus sekali pun menghirup udara?  Artinya berenang di dalam air tanpa sekalipun menyembul ke atas air untuk menghirup udara! Wah, menantang juga!

 

Aku memulai yang pertama dengan tekad bulat harus bisa. Sebagaimana yang acapkali terjadi pada hal lainnya, untuk memulai yang pertama biasanya lebih sulit dibandingkan dengan yang berikutnya. Tanpa diduga, ternyata aku sanggup berenang di bawah air dari ujung yang satu ke ujung lainnya! Sudah tentu untuk putaran berikutnya menjadi lebih mudah. Dan membuatku ketagihan, sehingga aku melakukannya berulang-ulang seakan-akan baru mendapatkan mainan yang baru.

 

Hal yang aku ingin berbagi (sharing) dengan pengalamanku ini adalah: setiap akan memulai, aku selalu menanamkan dalam fikiranku bahwa aku pasti bisa berhasil mencapai titik terjauh. Dan itu memang terbukti. Satu lagi – dan ini benar-benar exciting – saat di bawah permukaan air adalah situasi yang paling sulit karena harus menahan nafas sambil menggerakkan kaki dan tangan untuk menempuh jarak mencapai tujuan. Perlu konsentrasi tinggi. Namun semua kesulitan itu tidak berarti apa-apa begitu sampai pada tujuan, lalu muncul ke permukaan air, dan menghirup udara segar. Alangkah nikmatnya oksigen setelah tidak mendapatkannya di bawah permukaan air selama beberapa menit!

 

Jika dibawa dalam kehidupan iman kita, analogi tersebut menjadi sangat relevan. Pertama, iman kita selalu ingin membawa kita ke dalam kesempurnaan. Ingin menjadi serupa dengan Yesus Kristus! Sanggup? Silakan, jika mampu. Jika tidak? Ya, mengikuti jejak langkahnya sajalah dulu. Sambil tetap berupaya bahwa suatu saat kita akan mampu sampai ke sana. Jadi, jangan mudah berkecil hati. Apalagi menyerah dan berputus asa. Jangan! Kedua, biasakan fokus pada tujuan. Dan yakinkan diri bahwa kita sanggup melakukannya. Dan yang ketiga, akan ada suatu sukacita yang besar sebagai ”upah” setiap kali kita mampu keluar dari pergumulan sebagai pemenang. Coba bayangkan, berenang di bawah permukaan air tanpa sekalipun mendapatkan pasokan oksigen sambil berjuang untuk mencapai titik terjauh, lalu tiba pada apa yang dituju sambil muncul di permukaan air dan merasakan nikmatnya udara segar yang berisi oksigen yang banyak. Luar biasa! Tidaklah berlebihan kalau pada titik tersebut, aku selalu merasakan seakan-akan nyawaku kembali pada ragaku. Dan satu teriakan nyaring sebagai ekspresi sukacita adalah ketika aku sadar bahwa aku masih hidup … Haleluya!

Andaliman-18 Khotbah 26 April 2009 Minggu Miserekordias Domini

misericordias-domini

Jadilah gembala yang baik, yang mengabdi dengan rendah hati dan menjadi teladan. Dan sebagai domba, patuhlah kepada pimpinan gembala yang baik.

 

Nas Epistel: 1 Petrus 5:1-5

Aku menasihatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu. Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”

 

Nas Evangelium: Mikha 7:14-20

Gembalakanlah umat-Mu dengan tongkat-Mu, kambing domba milik-Mu sendiri, yang terpencil mendiami rimba di tengah-tengah kebun buah-buahan. Biarlah mereka makan rumput di Basan dan di Gilead seperti pada zaman dahulu kala. Seperti pada waktu Engkau keluar dari Mesir, perlihatkanlah kepada kami keajaiban-keajaiban! Biarlah bangsa-bangsa melihatnya dan merasa malu atas segala keperkasaan mereka; biarlah mereka menutup mulutnya dengan tangan, dan telinganya menjadi tuli. Biarlah mereka menjilat debu seperti ular, seperti binatang menjalar di bumi; biarlah mereka keluar dengan gemetar dari kubunya, dan datang kepada TUHAN, Allah kami, dengan gentar, dengan takut kepada-Mu! Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut. Kiranya Engkau menunjukkan setia-Mu kepada Yakub dan kasih-Mu kepada Abraham seperti yang telah Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang kami sejak zaman purbakala!

 

Pada Rabu malam yang lalu – saat partangiangan wejk pada sesi diskusi – pak pendeta yang memimpin setelah penyampaian khotbah, menjawab pertanyaanku tentang para pelayan dan pelayanannya. Ketika menjelaskan perikop yang diambil dari kitab Titus, beliau membawa warga jemaat pada bab sebelumnya yang mencantumkan syarat-syarat menjadi diaken/pelayan jemaat. Lalu aku menceritakan sekaligus bertanya tentang situasi dan kondisi pelayanan yang cenderung menurun yang mungkin saja disebabkan oleh para pelayan yang sudah semakin jauh dari standar yang dimaui oleh Alkitab. Lalu beliau menjawab dengan “pengakuan jujur” bahwa pada saat ini tidak ada lagi yang tersembunyi. Bahwa para pucuk pemimpin HKBP di Kantor Pusat pun tidak kompak antara satu dengan yang lain dan lebih cenderung kepada penyelenggaraan organisasi dunia daripada pelayanan rohani, dan juga hal-hal buruk lainnya. Salah seorang penatua yang menjadi utusan Sinode Godang pun “mempersaksikan” bahwa pemimpin HKBP yang terpilih pada SG yang lalu bukanlah pilihan Allah. Sangat menarik dan begitu terbuka sampai-sampai sesepuh wejk menyampaikan bahwa apa yang dibicarakan jadikanlah bukti bahwa warga jemaat masih mencintai HKBP sehingga ingin HKBP menjadi lebih baik dalam pelayanannya denga berjalan sesuai dengan firman Tuhan …

 

Pada setiap kesempatan yang tepat aku juga menyampaikan pendapatku tentang perlunya para pelayan berhati hamba, bukan bersikap sebagai penguasa. Dimulai dari yang paling sederhana, yakni cara berpakaian. Berulang kali aku bilang kepada isteriku bahwa lebih baik menyediakan kemeja batik (dan berlengan pendek) untuk dipakai beribadah di gereja daripada memakai jas. Besar kemungkinan penatua (sintua) yang memakai jas double dress punya “beban psikologis” untuk menolong orangtua sepuh yang tertatih-tatih mencari tempat duduknya sendirian. Dan berdasarkan pengalamanku, orang-orang dapat dengan mudah “berubah sikap” sebagai pengaruh pakaian yang dipakainya. Beberapa kali aku melihat “orang sederhana” langsung berubah menjadi “orang berkelas” ketika sudah memakai jas. Hal ini berlangsung juga di lingkungan pelayanan gereja …

 

Minggu ini bernama Miserikordias Domini yang menurut Wikipedia diterjemahkan dari bahasa Latin berarti grace the Lord atau dalam bahasa Jerman disebutkan Gnade des Herrn  yang artinya adalah “kasih karunia Tuhan”. Gembalakan dalam kasih karunia Tuhan. Komposer besar Wolfgang Amadeus Mozart menggubah komposisi musik klasik yang sangat indah dengan judul yang sama dengan nama Minggu ini.

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Kualitas pelayanan di jemaat dengan menonjolkan kerendahan hati dan bukan kekuasaan adalah suatu kerinduan bagi banyak warga jemaat. Bukan untuk menghakimi, cobalah luangkan waktu sejenak untuk membayangkan wajah-wajah para pekerja di jemaat kita. Dari semua yang dapat dibayangkan (artinya: masih bisa diingat karena pelayanannya …), siapa sajakah yang dapat dikategorikan sebagai pelayan yang berhati hamba yang bisa dijadikan contoh teladan? Tidak banyak? Atau malah tak ada? Memprihatikan! Sekaligus, puji Tuhan, karena berarti masih banyak hal yang masih perlu didoakan dan dikerjakan untuk jemaat.

 

Jika engkau termasuk salah seorang pelayan jemaat, dan secara jujur mengakui masih belum termasuk pelayan berhati hamba, tetaplah haleluya. Puji Tuhan, inilah saatnya untuk mengubah diri untuk menjadi yang lebih baik.

 

Sebagai warga jemaat biasa, kita pun dituntut untuk melakukan perubahan agar menjadi pelayan yang berhati hamba. Lihatlah sekeliling, ada banyak hal yang membutuhkan perhatian dan penanganan kita. Perikop Ep menjanjikan bahwa saat Gembala Agung tiba (artinya kedatangan Yesus yang kedua kalinya nanti …), orang-orang yang menjadi gembala yang baik akan mendapat mahkota yang tidak pernah layu (yaitu kehidupan kekal di sorga). Dan jangan congkak, karena itu sifat yang ditentang Allah. Rendah hatilah, karena itu sifat yang disukai oleh Tuhan.

 

Bukan sebatas pekerjaan dalam pelayanan jemaat, melainkan juga relevan dalam pekerjaan “sekuler“ kita sehari-hari dalam menafkahi keluarga. Jika memosisikan pekerjaan kita tersebut sebagai bagian dari pelayanan (sehingga kita melakukannya dengan sukacita dan kerendahan hati di bawah pimpinan Tuhan), banyak hal ajaib yang menghampiri kita. Jujur saja, sampai saat ini aku tidak berani mempersaksikan bahwa kedatanganku di Jakarta dan keberadaanku saat ini tidak terlepas dari pimpinan Tuhan. Dan itu semua adalah hal yang luar biasa! Aku tidak “membawa apa-apa“, hanya bermodalkan apa yang ada padaku saat itu. Dan aku sangat merasakan pemeliharaan Tuhan. Bukankah engkau juga begitu merasakannya?

 

Jika perikop Ep memosisikan diri kita sebagai gembala, maka perikop Ev mengingatkan sekaligus menguatkan kita sebagai domba yang selalu memasrahkan dirinya pada pimpinan gembala. Dengan tetap setia pada gembala yang baik, banyak hal luar biasa yang akan menghampiri kita, sebagaimana bangsa Israel yang dipimpin Tuhan ketika keluar dari pembuangan dan perbudakan.

 

Pada sisi yang lain – sebagai domba – kita adalah makhluk yang lemah, tidak punya kekuatan. Domba adalah hewan yang sama sekali tidak mempunyai senjata untuk mempertahankan dirinya (sangat berbeda dengan kambing, hewan sejenisnya yang diperlengkapi dengan tanduk untuk mempertahankan diri). Begitulah kita yang hidup di tengah dunia yang seringkali tidak ramah. Hanya kepada Allah saja kita memohon kekuatan. Dia telah menebus dosa kita dengan harga yang sangat mahal dan memberikan kasih karunia sebagai balasan murka-Nya yang tidak selalu mengingat-ingat dosa kita di masa lalu. Dengan memasrahkan diri pada pimpinan-Nya, di sanalah terletak kekuatan kita. Dan bangsa-bangsa lain – bisa juga diartikan sebagai orang-orang lain – akan melihatnya sebagai sesuatu yang berbeda sehingga mereka menjadi takluk dan mampu melihat kemuliaan Tuhan.

Andaliman-17 Khotbah 19 April 2009 Minggu-Quasimodogeniti

susu-bebas-melamin

Susu Bebas Melamin …

 

Nas Epistel: Titus 3:3-7

Karena dahulu kita juga hidup dalam kejahilan: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci. Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita.

 

Nas Evangelium: Yohanes 21:15-19

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”* Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”* Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?”* Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku.”

 

Lebih sepuluh tahun yang lalu – waktu aku masih berjemaat di HKBP Nanggroe Aceh Darussalam – Pendeta Jemaat menghotbahkan perikop yang menjadi thema Minggu ini dengan mengatakan: “Khotbah kita Minggu ini adalah tentang krisis dan resesi”, lalu beliau melanjutkan, “Ya, karena berhubungan dengan susu, yang sebagaimana kita ketahui harganya akan naik terus dan semakin sulit didapatkan di toko-toko di kota kita ini”. Mendengar itu aku jadi tersenyum, karena teringat perbincangan kami Jum’at malam sebelumnya saat marguru ende Koor Ama. Saat itu beliau menyampaikan uneg-uneg betapa susahnya mendapatkan susu kemasan di toko-toko untuk anak balitanya, dan kalaupun ada, harganya melambung tinggi. Hal yang menjadi kurang relevan, karena aku baru saja mendengar bahwa mulai minggu depan harga susu kemasan akan mengalami penurunan harga berkisar 2%-6%.

 

Minggu ini bernama Quasimodogeniti yang berarti songon posoposo na imbaru tubu yang dikutip dari 1 Petrus 2:2 Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan,

 

Perikop yang menjadi Ev bercerita tentang dialog Yesus paska-kebangkitan dengan Simon Petrus, murid yang seringkali bertindak dan berucap secara spontan. Masih ingat komitmennya untuk selalu dengan setia mengikuti Yesus pada pra-kematian, yang faktanya kemudian menyangkal Yesus sampai tiga kali? Demikian juga kali ini ketika Yesus menanyakan tentang kasihnya kepada-Nya, Petrus dengan lantang menyatakan bahwa ia mengasihi-Nya.

 

Menurut rujukan, dua kata Yunani dipakai untuk mengekspresikan kasih dalam perikop ini. Yaitu agapao berarti kasih yang rasional dan bertujuan, terutama dari pikiran dan kehendak; dan phileo yang melibatkan perasaan kasih yang hangat yang lazim dari emosi (= kasih yang lebih pribadi dan penuh perasaan). Melalui kedua kata ini Yesus menunjukkan bahwa kasih Petrus jangan hanya dari kehendak saja, namun juga hendaknya dari hati, kasih yang timbul baik dari maksud maupun dari hubungan pribadi.

 

Yesus memerlukan tiga kali ajuan pertanyaan yang kesemuanya dijawab Petrus bahwa ia mengasihi-Nya. Ada perasaan sedih pada dirinya ketika Yesus harus mengajukan pertanyaan yang sama untuk ketiga kalinya yang mengingatkan Petrus tentang penyangkalannya sampai tiga kali juga sebelum Yesus disalibkan. Nah, inilah yang menarik …

 

Yesus dengan sengaja “melukai hati” Yohanes untuk menyadarkannya supaya jangan angkuh dan terlalu mudah memberikan komitmen. Harus dengan hati! Itulah yang acapkali terjadi pada diriku ini. Mudah memberikan janji (dan semudah itu pula mengingkari …). Menerima tugas pelayanan di jemaat, namun kemudian tidak mampu menjalankannya dengan sungguh-sungguh, lalu mengeluh setelah menyadari betapa tersitanya waktu untuk melayankan semua “jabatan” yang diterima dan disandang.  

 

Luar biasanya Yesus, setelah “melukai” dan menyadarkan Petrus, Beliau mengulurkan tangan dan memberikan kepercayaan kepada Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Domba merepresentasikan binatang yang lemah dan tidak berdaya sehingga sangat membutuhkan penjagaan yang terus menerus dari gembala yang berkompeten, taat dan setia. Yesus mengingatkan Petrus bahwa sejak menjadi gembala, dia akan sangat berbeda dengan keadaan sebelumnya. Ilustrasi yang dipergunakan Yesus adalah: masa muda yang bebas bepergian ke mana saja, lalu ketika umur semakin tua maka membutuhkan orang lain yang menuntunnya dan menentukan ke mana dia harus pergi.

 

Hal yang sama terjadi padaku. Sejak menerima status sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi, maka secara sadar sendiri aku menerima dan menjalankan berbagai konsekuensinya. Ada suatu kekuatan yang mengingatkanku: ”Hei, kau ini mahasiswa STT, ’nggak pantas lagi melakukan itu”. Apalagi setelah diwisuda dan diberangkatkan, konsekuensinya menjadi semakin banyak untuk ”mendapatkan pengakuan” dari lingkungan sekitar. Bukan hanya di lingkungan gereja, melainkan juga di lingkungan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.

 

Pengalaman hidup Petrus – oh, ya … banyak tradisi yang menyebutkan bahwa beliau akhirnya mati disalib dengan posisi terbalik di mana kepala di bawah sesuai permintaannya sendiri yang menganggap dirinya tidak pantas untuk menerima perlakukan yang sama dengan Yesus bahkan ketika disalib – yang menyangkali Yesus namun kemudian mendapatkan kasih karunia pengampunan, bahkan menjadi gembala dan menyebarluaskan kerajaan Allah; yang menjadi pesan perikop Ep Minggu ini. Jika melihat perbuatan kita yang cenderung jahat dan gemar melakukan perbuatan dosa, sepantasnyalah mendapatkan hukuman berat. Namun karena kasih karunia, kita berhak mendapatkan pengampunan dan berpengharapan akan kehidupan yang kekal.

 

Dianalogikan sebagai seorang bayi yang hidupnya sangat bergantung pada asupan susu murni (karena belum bisa mengonsumsi nutrisi lainnya), demikianlah kita dengan iman yang baru mendapatkan kasih karunia sebagai anugerah keselamatan dengan kebangkitan Yesus di kayu salib harus selalu merindukan asupan firman Allah agar semakin bertumbuh dari hari ke hari. Firman Allah yang benar dan murni sesuai yang tertulis pada Alkitab. Bukanlah ajaran yang sesat. Sebagaimana aku memahami frasa ”susu yang murni” ini adalah sebagai susu yang tidak terkontaminasi oleh zat-zat perusak lainnya. Bebas bakteri sakazaaki, dan bebas melamin …     

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Apa yang masih membekas pada kita dari rangkaian peringatan Jum’at Agung dan Paskah minggu lalu? Karya keselamatan Yesus Kristus bagi umat manusia adalah yang paling dominan dalam pemahaman orang banyak sebagai pesan utama yang didapatkan dari ibadah yang berkelanjutan (bahkan ada satu minggu penuh …

 

Inilah saatnya bagi kita untuk meninjau-ulang komitmen sebagai pengikut Yesus dan pelayanan kepada jemaat Kristus:

(1)    Apakah sebagai Petrus yang dengan sangat spontan menanggapi pertanyaan Yesus dengan pernyataan kasihnya? Atau kembali sebagai Petrus yang sama spontannya menanggapi Yesus pra peristiwa penyaliban?

(2)    Kadangkala (atau bahkan seringkali?) kita “dilukai“ dengan berbagai peristiwa yang mendukakan dan juga harus menjalani pencobaan yang berat. Sanggupkah kita menerima hal itu semua sebagai cara Tuhan dalam mengingatkan diri kita betapa lemahnya kita sehingga harus benar-benar menyandarkan diri pada-Nya? Kalau kita bisa merasakan luka, apakah kita juga pernah menyadari bahwa perbuatan dosa kita yang jahat adalah juga melukai hati Tuhan?

Dengan status kita sekarang (sebagai anak Tuhan, sebagai pelayan jemaat, dan jabatan lainnya), masihkah kita merasakan tuntutan perbedaan sebagai konsekuensi yang membedakan kita dengan masa sebelumnya? Artinya, dengan status yang kita sandang saat ini tersebut, kita menyadari bahwa kita tidak lagi memiliki kebebasan yang sama dengan masa sebelumnya? Jika jawabannya “tidak“, segeralah lakukan fit and proper test sebelum terlambat!

Andaliman-16 Khotbah 12 April 2009 Minggu Paskah

arise-060409

Yesus telah bangkit! Jadilah saksi-Nya dengan berdiri teguh tanpa goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan!

 

Nas Epistel:  1 Korintus 15:51-58

Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah, dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah. Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati. Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.

 

Nas Evangelium: Kisah Rasul 10:39-43

Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuat-Nya di tanah Yudea maupun di Yerusalem; dan mereka telah membunuh Dia dan menggantung Dia pada kayu salib. Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri, bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati. Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati. Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya.”

 

Inilah yang menjadi dasar iman Kristen: Yesus telah bangkit mengalahkan kematian dan kutuk dosa. Tak satupun agama lain sejauh ini yang memiliki klaim yang sama dengan kemahakuasaan Tuhan ini. Jujur saja, tidak mudah mempertahankan iman dengan ajaran seperti ini. Apalagi saat berhadapan dengan orang yang sangat mengandalkan kemampuan daya fikir yang sangat terbatas. Yesus yang anak Tuhan – juga bagian dari tritunggal yang memosisikan diri-Nya sebagai Tuhan – ”dibiarkan” mati setelah mengalami siksa derita yang di luar batas perikemanusiaan, lalu bangkit dari kematian!  Hanya iman yang sungguh yang bisa menerima pengajaran seperti itu. Terus terang, ”tantangan” ini salah satu yang membuatku tertantang menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh. Kalau yang biasa-saja – tidak ada unsur supra natural-nya – ’ngapain mesti diyakini, ya?

 

Ep menyampaikan suatu rahasia tentang kematian dan kebangkitan tubuh. Paulus mengatakan bahwa kita tidak akan mati, melainkan diubahkan. Meskipun ada teolog menafsir dengan mengatakan bahwa kali ini Paulus salah, sebaliknya apa yang disampaikan Paulus dapat dilihat sebagai suatu kebenaran. Tubuh yang fana pasti akan rusak sebagai konsekuensi proses alamiah, dan kematian akan membawanya memasuki proses yang lainnya, yakni kehidupan kekal sebagaimana dijanjikan Tuhan bagi orang-orang yang memercayai-Nya. Untuk memasuki kehidupan yang baru tersebut, ternyata masih tetap membutuhkan tubuh secara fisik sebagai medianya. Bedanya adalah, tubuh yang baru tersebut sangat sempurna. Tidak akan mengalami pembusukan, dan tidak akan binasa. Aku dapat meyakini hal ini dengan mempelajari apa yang dialami Yesus setelah bangkit dari kubur.

 

Paulus melalui perikop ini mengajarkan bahwa kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan. Sebagaimana ajaran Yahudi pada masa itu (ketika peristiwa ini dituliskan), orang yang mati akan pergi ke dunia bawah tanah, yang lebih banyak dipercayai sebagai neraka. Siapa yang mau ke neraka, ya? Orang jahat sekalipun pasti ogah ke neraka. Kepercayaan bahwa orang mati akan ke neraka disebabkan oleh pemahaman hukum Taurat (yang berisi peraturan yang tidak bisa dilanggar jika tidak ingin dihukum karena itu berarti melakukan dosa, sehingga harus dihukum) bahwa setelah mati orang-orang akan menghadap Tuhan untuk menjalani penghakiman. Puji Tuhan, kita bersyukur dengan kebangkitan Yesus (yang berarti mengalahkan kematian – ingat, kematian sebagai upah dari dosa – sehingga sengatnya tidak punya kuasa lagi. Dalam Perjanjian Baru, kematian lebih merupakan kepulangan kepada Bapa yang sudah lama menunggu kedatangan anak-Nya. Bukan hukuman, melainkan anugerah.

 

Perikop yang menjadi Ev mengingatkan kesediaan untuk menjadi saksi. Para pesaksi (salah satunya adalah Petrus dengan kesaksiannya yang sangat kuat tentang kematian dan kebangkitan Yesus) yang melihat dan menjalani hari-harinya bersama Yesus yang telah bangkit, telah menuliskannya dalam kitab Kisah Rasul ini. Lagi-lagi Petrus menyampaikan bahwa Yesus (dengan posisi-Nya dalam pengadilan akhir) akan mengampuni dosa orang-orang yang percaya kepada-Nya.

 

Sungguh menguatkan! Jika menjadikan hukum Taurat sebagai alat fit and proper test, sudah pastilah aku akan gagal menjadi salah seorang penghuni surga kelak. Dosaku yang sangat banyak tidak membuatku pantas untuk menghadap Bapa selain menerima penghukuman kekal. Namun, Yesus datang dengan penawaran yang sangat menarik dan melegakan: berkat kasih karunia dan anugerah-Nya semata dosaku diampuni-Nya. Dengan demikian, aku layak menerima panggilan dari Bapa yang telah menunggu kedatanganku untuk bersama-sama menikmati kehidupan kekal.

 

Syukur kepada Tuhan!

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Sejujurnya, aku sangat menyetujui pendapat yang mengatakan bahwa seharusnya bobot perayaan Paskah lebih ditekankan daripada perayaan Natal. Dan aku membayangkan perayaannya akan menjadi lebih sederhana daripada Natal yang mulai cenderung pada seremonial yang menonjolkan kemewahan pesta.

 

Minggu Paskah ini menuntut kita untuk menjadi saksi-saksi yang gigih dalam memberitakan kematian Yesus dan kebangkitan-Nya dari kubur. Inilah peristiwa kontroversial yang tidak mudah diterima oleh banyak kalangan. Bahkan oleh kalangan internal orang-orang Kristen! Hanya iman yang mampu menerima peristiwa luar biasa ini. Tanyakanlah diri sendiri, sampai saat ini sejauh mana kita sudah mengimaninya. Termasuk pemahaman tentang hidup setelah mati.

 

Potensi terjadinya gesekan dengan orang-orang, bila kita tidak menyampaikannya dengan cara yang elegan, mudah menjadi besar dan mengganggu keharmonisan. Daripada memaksa, lebih baiklah kehidupan kita yang penuh kasih yang merefleksikan sebagai orang-orang Kristen yang telah ditebus oleh kematian Yesus, menjadi kesaksian yang hidup dan dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita.