Andaliman-24 Khotbah 07 Juni 2009 Minggu Trinitatis

Nicodemus

Roh Kudus yang membaharui. Jadilah ciptaan yang baru dengan dilahirkan kembali. Mari belajar dari kisah tentang Nikodemus.

Nas Epistel: Yehezkiel 36:25-28

Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya. Dan kamu akan diam di dalam negeri yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu dan kamu akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu. 

Nas Evangelium: Yohanes 3:1-8

Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.” Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Kata Nikodemus kepada-Nya: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” 

Kombinasi yang bagus antara Ep dan Ev. Keduanya memberi penekanan pada bahasan tentang Roh. Pemulihan, itulah tepatnya. 

Pada Ep Tuhan menjanjikan kepada bangsa Israel untuk membaharui mereka dengan air yang mencucikan dan menyucikan mereka dari kejahatan masa lalu. Roh yang diberikan-Nya akan menguasai hati mereka sehingga menjadi lembut dan  dan taat kepada Allah. Ini berarti, Allah membaharui mereka secara jasmani dan rohani. Roh Kudus yang kemudian menyertai mereka dalam perjalanan hidupnya kemudian.

Ev Minggu ini dengan perikop yang terasa sangat dekat dengan kehidupanku (dengan kehidupanmu juga, ‘kan?). Bayangkanlah tentang Nikodemus, sang pemimpin agama. Meskipun seorang pemimpin agama (yang seharusnya mengetahui banyak hal spiritual ternyata sangat dangkal tentang perkara-perkara Allah). Dia datang pada malam hari untuk bertanya kepada Yesus. Kemungkinan besar dia malu kalau sampai diketahui oleh orang lain.

Aku seringkali menganggap diriku tahu banyak hal, termasuk tentang firman. Hal yang buruknya (dan ini tidak patut ditiru …) adalah acapkali memandang rendah terhadap seseorang yang aku anggap masih di bawahku kualifikasinya saat bicara tentang firman. Namun – puji Tuhan – Beliau tidak segan-segan menegurku dengan menghadapkanku pada beberapa kejadian dengan beberapa orang yang semula aku pandang rendah yang kemudian harus akui mempunyai kemampuan yang melebihi diriku. Di atas langit masih ada langit, percayalah akan hal itu …

Malu bertanya tentang firman? Tidak begitu lagi persisnya, karena aku selalu merasa haus untuk mencari pengetahuan tentang hal ini. Sekarang, cenderung malu mempersaksikan iman. Tidak selalu, memang. Namun ada beberapa kali. Misalnya, di kantor, saat mendengar khotbah dan atau lagu yang diperdengarkan oleh salah satu stasiun radio yang live streaming (ma’af, aku belum menemukan padanan katanya dalam bahasa Indonesia; yang berarti mendengarkan siaran radio secara on line dari internet). Tidak semata malu, siaran radio yang suaranya kadangkala naik-turun secara tiba-tiba (akibat frekuensi yang kekuatannya belum stabil) sehingga mengeluarkan suara berisik memaksaku untuk mengecilkan volume suaranya (atau malah memindahkannya ke posisi mute alias bisu).

Beberapa kali juga timbul rasa sungkan untuk menghadiri persekutuan doa yang dilangsungkan di lingkungan kantor.  Sekali lagi, puji Tuhan, aku cepat tersadar tentang kekeliruan ini lalu langsung memohon ampun pada Tuhan. Ini buktinya Roh Kudus masih tetap bekerja di dalam diriku.

Nikodemus yang pemimpin agama masih bingung dengan pernyataan Yesus tentang konsep dilahirkan-kembali (aku pun memberikan tanggapan yang sama ketika pertama kali mendengar tentang pernyataan ini puluhan tahun yang lalu …). Pada Injil yang lain, Yesus menyatakan keheranan-Nya ketika mengetahui bahwa Nikodemus tidak memahami pernyataan ini. Nikodemus mencoba memahaminya dengan mengartikannya secara harafiah, bahwa orang yang akan dilahirkan- kembali harus masuk kembali ke rahim ibunya. Bagaimana pula jika ibunya sudah ”terlanjur” meninggal dunia, maka gagallah dia atau hilanglah kesempatannya untuk dilahirkan-kembali. Syukur pada Tuhan, bahwa yang dimaksud di sini bukanlah kelahiran secara daging seperi itu, melainkan dilahirkan dalam roh. Roh Kudus yang tertanam di dalam hati semua orang yang beroleh keselamatan yang membaharuinya dari ciptaan yang lama menjadi ciptaan yang baru. Itulah jalan keselamatan.

Pernyataan Yesus tentang dilahirkan-kembali dari air dan roh sebagai syarat masuk ke dalam kerajaan Allah, hendaknya jangan ditafsirkan secara harafiah sebagai air lalu dihubungkan dengan baptisan. Bukan itu. Air di sini konteksnya adalah sebagai air kehidupan. Ini lebih sebagai arti ungkapan, yang merujuk kepada firman. Jadi, artinya, seseorang yang ingin masuk ke dalam kerajaan Allah haruslah yang menjalankan kehidupannya sesuai dengan firman Tuhan dan dipenuhi oleh Roh Kudus yang nyata dalam kehidupannya sehari-hari. Begitulah Roh, tidak terlihat secara fisik, namun eksistensinya kelihatan dari refleksi keberadaannya dalam kehidupan.      

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Seringkali kita bersikap layaknya Nikodemus ini. Merasa dirinya paling bisa, karena statusnya sebagai pemimpin agama. Dengan status tersebut membuatnya menjadi malu untuk bertanya kepada Yesus tentang ajaran agama. Berapa sering kita menjadikan status yang kita sandang malah menjadi kendala dalam mempersaksikan iman kita? Apakah dalam dunia pekerjaan sekuler seringkali kita merasa malu jangan sampai orang lain (teman sesama Kristen, apalagi yang non- kristiani …) tahu bahwa kita sedang terlibat aktif dalam kegiatan rohani Kristen?

Dari sisi pengetahuan agama, ternyata Nikodemus bukanlah orang yang tahu semua. Kita pun, jangan sampai menganggap sebagai orang yang paling tahu segala hal. Jangan pernah, ya! Sebagai pelayan di jemaat, selayaknyalah kita banyak tahu tentang firman sehingga dapat memberikan bekal pengetahuan tersebut kepada warga jemaat yang memang seringkali membutuhkan jawaban dari firman Tuhan atas pergumulan hidupnya. Kesadaran bahwa pengetahuan kita masih ’belum ada apa-apanya’ hendaknya membuat kita menjadi orang yang rendah hati sambil terus menerus menambah pengetahuan. Ungkapan ’semakin banyak belajar semakin membuat kita tidak banyak tahu’, tentulah sangat relevan dalam hal ini. Kerendahhatian adalah salah satu refleksi keberadaan Roh Kudus dalam diri kita.

Selain semua hal di atas, ada juga yang menarik dan positif dari kehidupan Nikodemus ini. Dalam kisah lainnya dalam Injil ada beberapa kali disebutkan tentang dirinya. Antara lain disebutkan betapa dia dengan terus terang menegur pemimpin Yahudi lainnya, dan juga sebagai orang yang berani bersama Yusuf Arimatea untuk mengurus mayat Yesus ketika para murid telah secara drastis meninggalkan-Nya. Kelihatannya Roh Kudus telah bekerja dalam dirinya dan mengubahkannya dari orang yang malu-malu tersebut.

Andaliman-23 Khotbah 31 Mei 2009 Minggu Pentakosta

Pentakosta (250509)

Satu dalam baptisan sebagai anak Allah sebagai wujud untuk mendapatkan keselamatan dari-Nya. Dan hanya satu kali baptisan, tidak ada baptisan-ulang! 

Nas Epistel: Yesaya 40:12-14

Siapa yang menakar air laut dengan lekuk tangannya dan mengukur langit dengan jengkal, menyukat debu tanah dengan takaran, menimbang gunung-gunung dengan dacing, atau bukit-bukit dengan neraca? Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat? Kepada siapa TUHAN meminta nasihat untuk mendapat pengertian, dan siapa yang mengajar TUHAN untuk menjalankan keadilan, atau siapa mengajar Dia pengetahuan dan memberi Dia petunjuk supaya Ia bertindak dengan pengertian? 

Nas Evangelium: Kisah Para Rasul 10:44-48

Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah. Lalu kata Petrus: “Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?” Lalu ia menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Kemudian mereka meminta Petrus, supaya ia tinggal beberapa hari lagi bersama-sama dengan mereka.

Ini tentang salah satu dari Trinitatis, yaitu Roh Kudus sebagai unsur Tritunggal. Dalam Ev diceritakan oleh Lukas – sang penulis kitab Kis menurut tradisi Gereja – pengalaman Petrus dengan keluarga Kornelius yang adalah non-Yahudi. Pada ayat-ayat yang mendahuluinya sudah disampaikan bagaimana Tuhan mengajarinya tentang sikap dalam menerima orang-orang non-Yahudi yang juga berhak akan keselamatan yang ditawarkan oleh Kristus.  Pada “pendahuluan” tersebut Petrus yang semula menolak perintah Tuhan untuk memakan sekumpulan daging hewan yang menurut tradisi Yahudi adalah haram untuk dimakan, yang menjadi sadar bahwa karya keselamatan harus disampaikan kepada segala bangsa. Bukan hanya pada bangsa Yahudi (golongan bersunat), melainkan juga kepada non-Yahudi (golongan tidak bersunat).

Belakangan ini aku beberapa kali mengikuti perdebatan antara penganut Kristen dengan golongan muslim yang menurut mereka Yesus datang ke dunia ini  hanyalah untuk orang-orang Israel (kadang-kadang mereka sebutkan sebagai “orang-orang Yahudi”). Golongan yang merasa dirinya memiliki pengetahuan yang memadai tersebut, berargumen dengan mengutip berbagai ayat Alkitab yang mengesankan seolah-olah pendapat mereka benar. Lalu “dibenturkan” dengan Alqur’an sebagai upaya memojokkan Kristen sebagai agama yang salah alias sesat. Seru juga. Sejak semula, aku memang sudah sampaikan kepada moderator bahwa jika didasari oleh motif untuk melihat perbedaan sebagai alat untuk menyalahkan dan menyesatkan orang lain, interaksi hanyalah akan menggiring pada perdebatan dan perselisihan. Setelah berlarut-larut – yang terus terang, acapkali membuatku tersenyum melihat pendapat-pendapat yang seringkali memang dipaksa-paksakan kecocokannya dengan pendapatnya sendiri … – aku tetap mampu mengambil hal positif: paling tidak, aku tahu bahwa ada golongan yang mulai menyukai belajar Alkitab. Tinggal menunggu saja kapan mereka mendapat pencerahan sehingga mendapatkan kepastian bahwa Alkitab adalah sungguh-sungguh benar.

Bagiku, sejak pertama kali membaca ayat dalam Alkitab ini langsung yakin bahwa aku juga berhak mendapatkan keselamatan. Bukan semata sebagai anak bangsa, melainkan sebagai anak Bapa yang beriman pada Yesus Kristus.

Ev ini menyatakan bahwa keluarga Kornelius langsung dicurahkan Roh Kudus sebegitu menerima dan menyatakan iman percaya mereka kepada Yesus. Mereka menerima pembaharuan hidup dari Kristus.    

Ada yang menarik. Keluarga Kornelius mengalami pencurahan Roh Kudus saat mendengar khotbah Petrus (ayat 44), lalu dibaptis (ayat 47). Pada pemahaman yang biasanya terjadi adalah dibaptis terlebih dahulu lalu Roh Kudus dicurahkan. Bagaimana ini? Pertanyaan “nakal” yang patut diajukan saat diskusi tentang perikop ini ketika partangiangan wejk nanti …

Berbicara tentang Roh Kudus seolah tidak ada habisnya. Berbagai pandangan yang cenderung berbeda antara satu golongan dengan golongan lain acapkali terjadi. Yang aku maksudkan bukan hanya antar-golongan-agama sebagaimana pada paragraf di atas, namun terjadi juga pada internal Kristen. Dengan intensitas yang cenderung meninggi dari waktu ke waktu. Semakin banyak buku yang aku baca, semakin banyak pula perbedaan pendapat yang aku temui. Mana yang benar?

Ternyata Tuhan punya banyak cara. Pengetahuan, daya pikir, dan kemampuan manusia yang terbatas tidak akan mampu memahami semua tentang Tuhan yang tidak terbatas. Dan perikop Ep kita minggu ini menegaskannya dalam ayat 13 dan 14: “Siapa yang dapat mengatur Roh Tuhan atau memberi petunjuka kepada-Nya sebagai penasihat? Kepada siapa Tuhan meminta nasihat untuk mendapat pengertian, dan siapa yang mengajar Tuhan untuk menjalankan keadilan, atau siapa mengajar Dia pengetahuan dan memberi Dia petunjuk supaya Ia bertindak dengan pengertian? Menurutku, adakalanya aku harus melakukan sesuatu sebagai perintah Tuhan tanpa harus mempertanyakannya …

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Percakapan tentang Roh Kudus adalah salah satu hal yang tetap menarik untuk dibahas. Dengan segala “pernak-pernik” yang mengikutinya. Beberapa hal yang mungkin masih menarik bagi kita untuk didiskusikan, antara lain:

-        Bagaimana Roh Kudus dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru?

-        Siapa saja yang berhak memperoleh pencurahan Roh Kudus? Apa syaratnya?

-        Mana yang lebih dulu: baptisan atau pencurahan Roh Kudus?

-        Apa pula itu bahasa Roh?

Kita jangan mau terombang-ambing tentang baptisan ini. Hanya ada satu baptisan, yakni yang dilaksanakan di dalam nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Tidak ada baptisan ulang!

Sebagai pelayan di jemaat, pengetahuan akan Roh Kudus yang menjadi dasar pengajaran kristiani, tetaplah harus kita pahami. Hal ini sangat dibutuhkan untuk membekali diri dan membekali warga jemaat tentang seputar hal yang berhubungan dengan ini. Ajaran Tritunggal seringkali dijadikan sasaran empuk bagi golongan tertentu untuk memojokkan umat Kristiani dalam setiap kesempatan yang ada. Namun, bukan itu yang utama. Pengetahuan tentang apa yang kita yakini, pastilah akan mampu dalam menguatkan iman kita. Meskipun dalam berbagai hal – sebagaimana yang aku sudah sebutkan di atas – adakalanya kita melaksanakan perintah Tuhan tanpa harus mempertanyakannya.

Andaliman-22 Khotbah 24 Mei 2009 Minggu Exaudi

Exaudi

Tuhan mendengarkan do’a yang sungguh-sungguh

Nas Epistel: Matius 9: 27 – 31

Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya.” Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” Maka meleklah mata mereka. Dan Yesuspun dengan tegas berpesan kepada mereka, kata-Nya: “Jagalah supaya jangan seorangpun mengetahui hal ini.” Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu.

Nas Evangelium: 2 Raja 20: 1 – 7

Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah nabi Yesaya bin Amos, dan berkata kepadanya: “Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi.” Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN: “Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mata-Mu.” Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat. Tetapi Yesaya belum lagi keluar dari pelataran tengah, tiba-tiba datanglah firman TUHAN kepadanya: “Baliklah dan katakanlah kepada Hizkia, raja umat-Ku: Beginilah firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu; sesungguhnya Aku akan menyembuhkan engkau; pada hari yang ketiga engkau akan pergi ke rumah TUHAN. Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi dan Aku akan melepaskan engkau dan kota ini dari tangan raja Asyur; Aku akan memagari kota ini oleh karena Aku dan oleh karena Daud, hamba-Ku.” Kemudian berkatalah Yesaya: “Ambillah sebuah kue ara!” Lalu orang mengambilnya dan ditaruh pada barah itu, maka sembuhlah ia.

“Dengarlah, TUHAN, seruan yang kusampaikan, kasihanilah aku dan jawablah aku!”, firman tersebut dikutip dari Mazmur 27:7 yang menjadi dasar firman dalam Minggu ini yang diberi nama Exaudi.

Kedua perikop Minggu ini mengisahkan tentang kesembuhan yang datangnya dari Tuhan. Ep tentang Yesus menyembuhkan orang buta, dan Ev tentang nabi Hizkia yang disembuhkan dari penyakit dan ajalnya yang sudah sangat dekat. Penderitaan diubahkan menjadi sukacita. Yang buta, matanya dicelikkan sehingga dapat melihat. Yang sekarat, disembuhkan dan malah diperpanjang umurnya 15 tahun lagi. Luar biasa?

Apa syaratnya, dan mengapa bisa begitu?

Pada Ep sangat jelas, karena kepercayaan mereka. Selain mengikuti Yesus di jalan – dengan meneriakkan Yesus sebagai Anak Daud, suatu gelar terhormat dan tinggi dalam budaya Yahudi – mereka juga ikut memasuki rumah tempat Yesus bertemu dengan para pengikut-Nya. Terlihat kesungguhan mereka dan kepercayaan mereka tentang kemampuan Yesus. Jawaban mereka mengonfirmasi pertanyaan Yesus tentang kemampuan-Nya dalam menyembuhkan mereka yang buta. Kepercayaan tersebutlah yang menjadi penghubung antara manusia dengan sang juru selamat.   

Yesus mengigatkan mereka untuk tidak memberitahu siapapun tentang kesembuhan tersebut, untuk mencegah jangan sampai kesembuhan tersebut diberitakan sebagai kedatangan Mesias, sesuatu yang sering disalahartikan sebagai Yesus yang akan memerangi bangsa Romawi yang sedang menjajah bangsa Israel. Namun sukacita mereka lebih mendorong mereka untuk menyiarkan berita kesembuhan tersebut daripada merahasiakannya terhadap orang lain yang tentu saja heran atas kesembuhan tersebut.

Sesuatu yang lazim terjadi. Juga pada masa kini. Saat meminta sesuatu kepada Tuhan, aku seringkali mengemasinya dengan puji-pujian dan pengakuan betapa berkuasanya Dia dalam segala hal sehingga mampu memberikan apa yang menjadi permintaanku. Begitu dikabulkan, rasa sukacita yang meluap-luap akan mengalahkan segala sesuatunya. Pun jika di dalamnya ada kondisi-kondisi tertentu yang harus dipatuhi …

Bagaimana dengan Ev? Perikop ini ”bersinopsis” dengan Yesaya 38 yang berkisah tentang nubuat Yesaya tentang kematian Hizkia. Dengan berurai air mata, Hizkia menyampaikan permohonannya kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh dan kepercayaan yang teguh akan kemampuan Allah dalam menyembuhkan penyakitnya. Perlu diingat, bahwa nubuatan dapat terjadi dalam kondisi-kondisi tertentu sehingga Allah-pun dapat mengubah rencana-Nya sesuai dengan tanggapan manusia terhadap firman-Nya. Masih ingat tentang Yunus dan kota Niniwe yang  dinubuatkan akan segera dimusnahkan, ’kan? Tuhan membatalkannya karena melihat kesungguhan bangsa tersebut dalam menunjukkan pertobatannya.

Itulah kekuatan doa. Minggu lalu membicarakan tentang doa (syafa’at) yang mampu meluluhkan hati Tuhan dari kemarahan-Nya yang berganti menjadi belas kasihan, yakni doa Musa untuk bangsa Israel agar Tuhan membatalkan rencana-Nya untuk memusnahkan bangsa Israel. Minggu ini mengisahkan do’a pribadi untuk diri sendiri yang disampaikan dengan sungguh-sungguh yang juga mampu mengubahkan rencana Tuhan. Penegasan ini sangat diperlukan oleh semua orang, termasuk aku yang masih terus bergumul dengan kerinduanku yang masih selalu aku mohonkan kepada Tuhan sampai suatu saat dikabulkan-Nya. Dan aku meyakininya bahwa Tuhan pasti akan menjawab kerinduanku tersebut. Pada saat terindah menurut Tuhan …

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Dalam setiap do’a syafaat pada setiap kebaktian yang pernah aku hadiri pasti ada permohonan kesembuhan untuk orang-orang sakit. Ini membuktikan bahwa sakit penyakit adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Jangan mengira bahwa orang Kristen tidak akan pernah jatuh sakit karena mengira bahwa sakit adalah hukuman Tuhan. Tidak selalu, kawan. Tapi yang pasti, setiap penyakit adalah cara Tuhan dalam menunjukkan kemuliaan-Nya. Hal yang berlaku juga untuk setiap kejadian dalam kehidupan di dunia ini, bukan?

Perikop Minggu ini keduanya menceritakan tentang penyakit dan penderitaan. Dan keduanya disembuhkan! Kata kuncinya adalah kepercayaan. Percaya bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan. Itulah yang seharusnya mendorong kita untuk memintanya dalam do’a yang sungguh-sungguh saat memohon kepada-Nya. Tuhan pasti mendengarkan. Tinggal kita yang harus melakukannya, selanjutnya serahkan kepada Tuhan kapan dan bagaimana Dia menunjukkan kuasa-Nya dalam menyembuhkan kita dan orang-orang yang berdo’a dan dido’akan dengan sungguh-sungguh.

Andaliman-21 Khotbah 17 Mei 2009 Minggu Rogate

Praying Hands (060409)

Berdo’alah dengan tekun! Pun dalam masa pencobaan. Minta dengan iman hanya kepada Tuhan, jangan bimbang, jangan mendua hati. Tuhan pasti mendengarkan. 

Nas Epistel: Yakobus 1:2-8

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, –yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit–,maka hal itu akan diberikan kepadanya. Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya. 

Nas Evangelium: Keluaran 32:9-14 (bahasa Batak: 2 Musa 32:9-14)

Lagi firman TUHAN kepada Musa: “Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk. Oleh sebab itu biarkanlah Aku, supaya murka-Ku bangkit terhadap mereka dan Aku akan membinasakan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang besar.” Lalu Musa mencoba melunakkan hati TUHAN, Allahnya, dengan berkata: “Mengapakah, TUHAN, murka-Mu bangkit terhadap umat-Mu, yang telah Kaubawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat? Mengapakah orang Mesir akan berkata: Dia membawa mereka keluar dengan maksud menimpakan malapetaka kepada mereka dan membunuh mereka di gunung dan membinasakannya dari muka bumi? Berbaliklah dari murka-Mu yang bernyala-nyala itu dan menyesallah karena malapetaka yang hendak Kaudatangkan kepada umat-Mu. Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan Israel, hamba-hamba-Mu itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diri-Mu sendiri dengan berfirman kepada mereka: Aku akan membuat keturunanmu sebanyak bintang di langit, dan seluruh negeri yang telah Kujanjikan ini akan Kuberikan kepada keturunanmu, supaya dimilikinya untuk selama-lamanya.” Dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya.

“Ya TUHAN semesta alam, yang menguji orang benar, yang melihat batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku”, firman tersebut dikutip dari Yeremia 20:12 yang menjadi dasar firman dalam Minggu ini yang diberi nama Rogate, artinya “berdoalah” (dalam bahasa Batak disebut dengan martangiang).

Iman membutuhkan latihan untuk semakin bertambah, sebagaimana otot tubuh yang perlu dilatih sehingga semakin besar dan kuat. Dulu – ketika masih mahasiswa di Medan – aku tidak percaya dan menganggap mengada-ada manakala bertemu dengan salah seorang instruktur pusat kebugaran (fitness center) yang mengajakku untuk ikut latihan di tempatnya. Bagaimana mungkin aku yang sangat kurus (sehingga sering menjadi bahan olok-olok …) disuruh mengangkat beban yang beratnya audzubillah bin zalig … apa mungkin? Ternyata dengan latihan terstruktur, gradual (meningkat dari waktu ke waktu dengan beban yang disesuaikan), tekun, dan penuh keyakinan, akhirnya terbukti. Badanku secara ”menakjubkan” bertambah berat dengan otot-otot yang berisi. Tidak sehebat Ade Rai, memang, tapi tak terbayang dapat berubah dari ”bina-rangka” menjadi ”bina-raga”. Luar biasa! Itulah sebabnya, sampai sekarang, salah satu olah raga yang paling aku percayai manfaatnya adalah latihan beban. Bukan yang lain. Sekarang sudah tidak aku lakukan lagi, karena vonis dokter yang melarangku dan menganjurkan berolahraga renang.

Hal yang mirip terjadi yang dihubungkan dengan iman adalah ketika kami hidup di Aceh selama bertahun-tahun. Sebagai minoritas – dan seringkali tertekan karena dianggap ”makhluk aneh” di daerah yang sangat mayoritas muslim – malah aku semakin giat dalam pelayanan dan bersaksi. Jum’at, Sabtu, dan Minggu adalah hari-hari yang selalu aku tunggu, karena ada kegiatan di ”gereja” (jangan bayangkan bangunan gereja yang leluasa dibangun di banyak tempat) dan bertemu dengan sesama orang Kristen. Manakala ada saat-saat terancam, berdoa adalah kegiatan yang pertama aku lakukan sebelum yang lainnya. Untuk menguatkan orang lain, selalu aku katakan: ”Jangan takut, Tuhan kita pasti lebih berkuasa daripada Tuhan mereka yang berusaha mengganggu kita.” Hal yang sama aku lakukan pada diriku sendiri, sehingga tidak pernah takut dan ragu ke manapun aku pergi ditugaskan. Sekarang setelah sadar bahwa Tuhan itu satu adanya, maka kalimat itu menjadi ”Jangan takut, Tuhan-ku (atau kita) pasti lebih berkuasa daripada tuhan mereka yang berusaha mengganggu kita.

Setiap datang pencobaan atau kesukaran dalam hidup, aku akan bertanya ”ada apa di balik ini?”; bukan lagi ”mengapa ini terjadi?”, karena aku tahu, Tuhan pasti punya sesuatu rencana yang lebih indah bagiku. Puji Tuhan, dengan sikap seperti itu aku merasa hidup lebih nyaman karena berkurang rasa kecewa dan mengeluh.

Ep Minggu ini juga mengingatkan supaya meminta hikmat dari Allah. Baca Alkitab dan meminta bimbingan-Nya. Bukan kepada hal-hal lain! Boleh bertanya kepada orang yang dianggap lebih tahu, namun itu hanya sebagai referensi. Perikop ini juga memberitahu bahwa Tuhan bukanlah yang suka mengingat-ingat kesalahan di masa lalu. Ini yang seringkali mengganggu kita (aku juga dulu begitu …) pada saat mau berdoa: ”Ah, aku tak pantas, karena punya dosa dan keslahan besar.”. Tuhan hanya memiinta supaya berdoa dengan tekun (sebagaimana juga harus tekun dalam menghadapi pencobaan), jangan bimbang dan mendua hati.

Tuhan yang pema’af, itulah juga yang disampaikan dalam perikop Ev ini. Musa dengan keberaniannya dan rasa hormatnya meminta dengan tekun kepada Tuhan untuk membatalkan hukuman yang akan dijatuhkan kepada bangsa Israel.

Lihatlah, situasi yang diceritakan pada perikop tersebut (Israel dengan Allah yang diunggulkan mereka, dibandingkan dengan Mesir yang memuja dewa-dewanya) mirip dengan cetusanku ”… Tuhan kita pasti lebih berkuasa daripada tuhan mereka …”. Lalu, kenapa masih ragu lagi meminta kepada-Nya?

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Betapa mudahnya menemukan orang yang sedang dirundung masalah saat ini. Banyak hal dalam hidup ini yang mampu memojokkan oranguntuk melakukan apa saja, termasuk lari dari Tuhan. Sebagai umat Tuhan, kita diingatkan bahwa Tuhan itu setia dalam setiap keadaan hidup kita, termasuk bilamana kita sedang mengalami kesulitan. Mintalah di dalam do’a sambil bertekun menghadapi kesulitan tersebut. Artinya, jangan pernah meninggalkan Tuhan.

Sikap yang sama patut kita sampaikan kepada warga jemaat lainnya. Ada saja orang yang masih berpendapat bahwa cobaan yang dialami adalah disebabkan Tuhan marah dan menghukum orang tersebut karena telah melakukan kesalahan. Padahal, belum tentu demikian. Kalaupun demikian – artinya, kita yakini disebabkan oleh dosa dan kesalahan – mintalah ampun pada Tuhan. Kalau bukan karena kesalahan, bisa saja Tuhan memang menginginkan iman kita untuk bertumbuh dan berkembang. Jadi, nikmati sajalah …

Andaliman-20 Khotbah 10 Mei 2009 Minggu Kantate

 

gondang-for-kantate-0405092Lagu baru bagi Tuhan oleh yang letih lesu dan berbeban berat. Juga tentang orang bijak dan orang pandai, dan orang kecil.

 

Nas Epistel: Mateus 11:25-30

Pada waktu itu berkatalah Yesus: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.”

 

Nas Evangelium: 1 Tawarikh 16:7-12 (bahasa Batak: 1 Kronika 16:7-12)

Kemudian pada hari itu juga, maka Daud untuk pertama kali menyuruh Asaf dan saudara-saudara sepuaknya menyanyikan syukur bagi TUHAN: Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib! Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya,

 

Kalimat pertama Ep pada Minggu yang diberi nama Kantate yang artinya “nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan”, yang dikutip dari Mazmur 98:1 adalah merupakan nyanyian pujian Yesus terhadap Allah Bapa. Sangat menarik ketika Yesus terkesan mempertentangkan antara orang bijak (dan pandai) dengan wong cilik. Dan Yesus lugas menunjukkan keberpihakannya kepada orang kecil dimaksud. Jangan salah paham, ini bukan berarti Yesus tidak berkenan kepada orang bijak dan pandai. Bukan itu maksudnya.

 

Istilah orang bijak dan pandai ini diarahkan kepada ahli Taurat yang memang sangat suka memosisikan dirinya sebagai orang yang berpengetahuan dan mengetahui segala sesuatunya. Bangga dengan kemampuannya dalam menguasai teologi sehingga dengan sombongnya menutup diri terhadap ajaran yang disampaikan oleh Yesus. Sebaliknya, orang kecil adalah orang-orang yang menyadari ketiadaan pengetahuan sehingga dengan rendah hati membuka diri terhadap ajaran Yesus.

 

Kemungkinan yang sama bisa juga terjadi pada siapa saja saat ini. Misalnya kebanggaan memiliki pengetahuan yang paling mutakhir, sehingga dengan mudah merendahkan firman Allah. Bisa saja misalnya dengan mengatakan bahwa Alkitab sudah tidak relevan – karena ditulis dalam suasana kehidupan ratusan tahun yang lalu – dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dan tantangan-tantangan dalam kehidupan saat ini.

 

Atau pada diriku. Bangga (baca: besar kepala …) dengan ijazah sekolah teologi dan menganggap diri paling menguasai sehingga menutup diri terhadap hal-hal yang baru yang disampaikan oleh orang lain. Atau pendapat orang lain yang dianggap masih ”belum tahu apa-apa”. Padahal perikop Ep ini mengingatkan supaya setiap orang bersikap rendah hati karena kepada merekalah Allah berkenan.

 

Sebagai anak Allah, Yesus telah menerima semua dari Allah. Maksudnya adalah hal-hal yang diwarisi-Nya dari Allah. Dengan kuasa tersebut, maka Yesus menawarkan anugerah keselamatan bagi orang percaya dengan melepaskan kuk hukum Taurat dan dari perhambaan dosa. Dia akan memberikan kelegaan sebagai gantinya.

 

Daud dalam Ev ini mengingatkan untuk selalu bersukacita dan memuji Tuhan. Ingatlah selalu akan kasih setia-Nya. Jangan hanya mengingat kepahitan dalam hidup, tetapi ingatlah betapa ajaibnya Tuhan dalam menyertai kehidupan kita. Bila dalam kesukaran dan berbeban berat, akan menjadi sangat ringan setiap kali aku mengingatkan diriku bahwa itu semua belum ada apa-apanya bila dibandingkan kebaikan Tuhan yang aku dapatkan berkat penyertaan-Nya. Terus terang, sikap tersebut sangat memberi kelegaan dan sangat menguatkan untuk kembali menghadapi kenyataan hidup. Datanglah pada Tuhan dan carilah selalu wajah-Nya.   

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Belakangan ini sebagian besar orang menyukai lagu-lagu lama. Ada yang mengistilahkannya dengan tembang kenangan, nostalgia, evergreen, dan lain sebagainya. Bukan hanya rekaman lagu dalam bentuk kaset dan cakram (VCD dan DVD), hampir semua stasiun televisi punya acara untuk membawa orang-orang pada suasana masa lalu. Bisnis mengenang masa lalu ini nampaknya menghasilkan uang yang tidak sedikit. Tidak ada salahnya mengenang-kembali masa lalu sepanjang hal tersebut mampu memberi semangat baru dalam menyadari kenyataan saat ini.

 

Mencegah supaya jangan terjebak pada masa lalu – misalnya selalu mengingat bahwa dulu lebih baik daripada sekarang sehingga hanya merindukan agar masa lalu bisa terulang kembali, atau sebaliknya masa lalu yang buruk dan sulit sehingga ”membalas dendam” atau bahkan menghambat dalam melakukan perubahan diri – Minggu ini mengingatkan kita semua untuk meninggalkan sikap yang tidak produktif tersebut dan menggantikannya dengan berpikir sebaliknya. Inilah saatnya meninggalkan semua keluhan dan penderitaan, menggantikannya dengan puji-pujian kepada Tuhan. Dengan lagu yang baru, yang menyenangkan hati Tuhan.

 

Pelayanan dengan pola yang sangat setia pada pakem usang dan ketinggalan zaman, sudah saatnya harus ditinggalkan. Diubah dan disesuaikan dengan perkembangan jemaat yang sebenarnya adalah dinamis. Hampir pada setiap rapat yang aku ikuti di jemaat, selalu saja ada (beberapa) orang yang melontarkan hal-hal negatif dengan menjadikan masa lalu sebagai alasan. Misalnya, masa lalu lebih baik pelayanannya daripada yang sekarang, atau: cara yang baru akan diperkenalkan kepada jemaat sudah pernah dilakukan zaman dulu dan gagal (hal ini biasanya dilontarkan sebagai upaya dalam menolak perubahan yang akan dilakukan …). Padahal sesungguhnya masa lalu hanya pantas untuk dipakai sebagai bahan pelajaran dalam merumuskan upaya yang akan dilakukan dengan cara melakukan perbaikan di sana sini agar menjadi relevan dengan situasi dan kondisi kini dan di sini.