Hari Ini Aku Datang (bersama tiga perempuan perkasa) …

 

Ada kegembiraan padaku hari ini. Sukacita yang lebih dari biasanya. Kerinduan untuk memiliki media seperti ini sudah sangat lama menggumpal dalam dada.

Aku bukanlah siapa-siapa. Apalagi jika dibandingkan dengan orang lain yang dirasakan lebih memiliki sesuatu yang sangat menonjol. Aku hanya punya tekad yang kuat dan harapan untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik.

Untuk itu, sangat dibutuhkan dukungan dari banyak orang. Itulah engkau, sahabatku …

Salamku,

St. Rodlany A. Lbn. Tobing, SE, MBA, MMin

Kembali ke Jalan Lurus …

Hari-hari ini dalah kesempatan yang tersisa bagi kami (aku dan semua anggota timku) untuk bekerja lebih keras agar mencapai target. Target penjualan Maret dan kwartal satu tahun 2015 ini. Dan kesempatan mendapatkan insentif kwartalan, tentunya! Khusus bagi Distributor malah disediakan insentif untuk pencapaian target Maret 2015. Alangkah menggairahkannya untuk meraih yang terbaik!

Sebagai Distributor dengan kontribusi terbesar di Tangerang Area yang dipercayakan kepadaku (dan di tempat aku berkantor sesuai keputusan Manajemen di West Java Region), tentu saja aku lebih memberikan kontribusi waktu dan energi kepada Distributor yang berlokasi di Pamulang, Tangerang Selatan ini. Dan hari-hari terakhir bulan Maret 2015 ini banyak diisi dengan langkah-langkah dalam pencapaian target. Oh ya, Tangerang Area yang aku pimpin saat ini adalah Area Terbaik 2014 dan berhak mendapatkan piala dan hadiah uang atas keberhasilan tersebut. Tentu saja kontribusi Distributor di Pamulang ini sangat signifikan dalam menunjang keberhasilan yang sangat membanggakan tersebut. Diundang ke panggung untuk menerima penghargaan dengan disaksikan oleh ratusan pasangan mata dari seluruh penjuru nusantara tentunya sesuatu yang dibanggakan oleh banyak orang, ‘kan?

Kemarin malam sebelum pulang ke kamar kos ada hal yang sangat mengejutkan bagiku. Di ruang rapat, si ibu pemilik Distributor menyampaikan pengakuannya: “Selama ini kami melakukan konfirmasi penjualan di sistem walaupun sebenarnya penjualan tersebut belum terjadi, baik secara transaksi apalagi secara fisik.”. Pengakuan tersebut tercetus ketika aku mempertanyakan kenapa stok barang di gudang masih tinggi, padahal penjualan sedang bagus-bagusnya. Selain itu, si ibu dan asistennya mulai khawatir tentang budget yang tidak tersedia lagi, padahal “transaksi fiktif” tersebut sudah dilakukan dengan memberikan ekstra harga promosi namun ‘nggak bisa diklaim karena belum bisa di-input di sistem karena tidak akan tersedia field untuk memasukkan diskon tersebut sebagai dasar untuk mengklaim ke Nestle untuk penggantiannya. Dan itu melibatkan jumlah uang yang lumayan banyak!

Dengan berbagai dalih karena ditekan oleh ASM yang dulu (yang aku gantikan) untuk mencapai target dan mendapat insentif yang banyak (dan secara langsung juga pastinya berhubungan dengan ambisi untuk menjadi yang terbaik dan meraih penghargaan tertinggi) maka terpaksa melakukan tindakan tersebut, aku sampaikan keputusan dariku: “Ini tindakan manipulasi, penipuan! Tidak bisa dilakukan lagi. Dan ganjarannya adalah berat. Di Bandung dulu pernah aku dengar di divisi lain ada orang yang harus dipecat karena melakukan hal ini. Aku ‘nggak mau hal ini dilakukan lagi, dan pastikan bulan Maret ini tidak satupun transaksi yang seperti ini. Ibu, tindakan seperti ini bisa membatalkan sembahyang lho bu .. Untuk apa kita berdoa memohon kepada Tuhan tapi kita tidak melakukan yang sesuai dengan perintah-Nya?”

“Itulah, pak Tobing. Saya tahu, tapi saya tak sanggup untuk tidak melakukannya karena dipaksa untuk mencapai target oleh ASM yang bapak gantikan. Saya tidak suka dan tidak tenang karena melakukan hal yang salah ini. Setiap saya sholat tahajud pun saya selalu meminta kepada Allah untuk diberikan rezeki yang halal dan menjadi barokah bagi semua karyawan saya. Dulu, sebelumnya, kami ‘nggak pernah melakukan kecurangan ini. Setelah dipimpin oleh orang-orang muda itulah kami terpaksa melakukannya. Saya dengar, di Distributor yang lain juga melakukan kecurangan ini, pak”.

“Sudahlah, bu. Yang lalu biarlah berlalu, tokh ibu juga menikmati insentif yang diperoleh dari melakukan hal tersebut. Mulai aku ada di sini, jangan pernah lagi melakukan kecurangan-kecurangan apa pun. Tidak baik! Aku ingin mendapatkan yang terbaik, tapi dengan cara yang baik pula. Kalaupun orang lain melakukan hal yang tidak baik, bukan berarti kita juga boleh melakukan hal yang tidak baik tersebut”.

“Terima kasihlah, pak Tobing. Untunglah sekarang ada pak Tobing yang memberikan pencerahan bagi saya dan tim kami di sini. Sekarang saya sudah tenang. Resiko kehilangan omset akan kita jalani bersama, tapi saya yakin Tuhan akan memberi kemudahan bagi kita untuk meraih yang terbaik kalau kita melakukan hal-hal yang sesuai dengan jalan yang diridhoi-Nya”.

Amiiinnn …

Ma’afkanlah Aku …

Kawan-kawan,
Aku baru tersadar bahwa terakhir kali menulis di blog ini adalah pada 31 Juli 2014. Hampir setahun aku absen. dengan bulan-bulan sebelumnya “sangat miskin” dengan tulisan. Alasannya? Klise: karena kesibukan. Meskipun itu semua adalah benar. Ketika mengawali, aku berjanji pada diriku sendiri untuk menulis minimal sepuluh tulisan setiap bulannya.

Perpindahanku tugas dari Bandung ke Jakarta memang sangat signifikan dalam banyak hal. Termasuk dalam kehidupanku. Posisiku saat itu di Kantor Pusat yang mengesankan “diparkirkan” sempat juga membuatku tertanya-tanya: ada apa gerangan? Apakah karena kinerjaku tidak cemerlang? (dengan berbagai pertimbangan tanpa bermaksud untuk sekadar membela diri, menurutku kawan-kawanku yang lainnya tidak semua lebih bagus daripadaku). Dan jawaban atasan langsungku juga benar-benar tidak memuaskan ketika aku menanyakan alasan perpindahanku (yang sempat tertunda setahun dan orang yang direncanakan sebagai penggantiku setahun yang lalu sudah menempati posisi yang baru, dan sempat mengeluh karena saat itu “buru-buru” meminta surat pindah sekolah anaknya ke Bandung …): “Ah, ‘nggak usahlah ditanya apa alasannya, bang. Yang aku tahu, Manajemen memintaku untuk memindahkan abang kembali ke Head Office”. Begitu saja. Kayaknya pengambil keputusan tidak punya pertimbangan yang lain yang berhubungan dengan perpindahan setiap karyawan: sekolah anak, rumah tempat tinggal, dan lain-lain.

Bekerja di Kantor Pusat dengan posisi “ecek-ecek” sebenarnya membuatku bisa hidup lebih nyaman. Jabatan yang diberikan kepadaku sebagai Frontliner Sales Capacity Development Manager dengan ruang lingkup tugas yang sangat kecil membuatku punya waktu yang sangat banyak untuk melakukan pekerjaan lainnya. Godaan yang seringkali memancingku untuk dismotivasi seperti bekerja di tempat yang tidak strategis, turun-pangkat, dan lain-lain yang seringkali pula menyiksaku, berusaha aku tepis dengan mengambil porsi yang lebih banyak daripada yang diwajibkan. Sekalian aku juga manfa’atkan dengan belajar akan hal-hal baru dari orang-orang lain yang mengenalku dengan baik (itulah sampai sekarang aku tanamkan pada diri sendiri dan orang-orang di sekitarku: selalulah menjadi orang baik pada semua orang tanpa memandang latar belakangnya) sehingga aku punya akses ke departemen lain.

Beberapa bulan di HO, aku pun ditawari pindah ke West Java Region (WJR), wilayah dengan omset terbesar di seluruh Indonesia . Ini adalah “kantor wilayah” yang meliputi DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Kalimantan Barat, Posisinya sebagai Local Supermarket Manager dengan wilayah tanggung jawab seluas itu, Posisi tersebut punya kekhususan yang hanya berlaku di WJR dengan bertanggung jawab langsung ke Regional Sales Manager (RSM), sementara di wilayah lainnya hanya “sekadar” Local Supermarket Cordinator yang bertanggung jawab langsung ke Sales Promotion Manager (SPM), yang berarti dua level di bawah RSM. “What’s a name”, kata William Shakespeare yang dalam banyak hal aku mengamininya, walaupun didengangdengungkan bahwa posisi itu “sangat khusus”.

Nah, efektif 01 Maret 2015 yang lalu aku dikembalikan ke “lapangan” sebagai Area Sales Manager, jabatan yang sama dengan dulu yang aku tanggung jawabi selama tiga tahun di Bandung. Wilayahnya meliputi Jakarta Selatan, Tangerang Selatan, Serang, dan Rangkas Bitung.

Dengan posisi yang sekarang ini, aku berjanji untuk kembali aktif menulis. Semoga Tuhan memberikan kebijaksanaan bagiku dalam menjalankan kewajiban dan pelayanan ini. Mohon ma’af untuk ketidakhadiran selama ini.

Salam.