Hari Ini Aku Datang (bersama tiga perempuan perkasa) …

 

Ada kegembiraan padaku hari ini. Sukacita yang lebih dari biasanya. Kerinduan untuk memiliki media seperti ini sudah sangat lama menggumpal dalam dada.

Aku bukanlah siapa-siapa. Apalagi jika dibandingkan dengan orang lain yang dirasakan lebih memiliki sesuatu yang sangat menonjol. Aku hanya punya tekad yang kuat dan harapan untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik.

Untuk itu, sangat dibutuhkan dukungan dari banyak orang. Itulah engkau, sahabatku …

Salamku,

St. Rodlany A. Lbn. Tobing, SE, MBA, MMin

Iklan

Terima Kasih, Tuhan! Aku Sudah Lima Puluh Tahun …

WhatsApp Image 2018-06-19 at 19.48.01

Baru saja sampai di rumah kami setelah merayakan ulang tahunku kelimapuluh malam tadi. Dirayakan di Fishology di daerah Sunter yang baru kami “temukan” kemarin malam ketika searching bersama Auli, mamanya, dan dua anak pariban kami yang kembar yang sedang berliburan di rumah kami sejak minggu-minggu lalu. Rencananya semula on the spot checking ke restoran yang berada persis di depannya berdasarkan masukan dari pariban kami yang ke marga Sinaga yang merekomendasikan menu sangat istimewa. Memang betul bukan hanya sangat istimewa, namun juga pasti lezat masakannya. Namun mempertimbangkan bahwa abang tertua yang sedang datang dari Belitung adalah tidak lagi suka memakan daging, kami putuskanlah untuk melaksanakan perayaan di restoran yang menyajikan masakan laut ini yang tadi malam ketika kami makan di sana memang lezat (dan banyak porsinya …  🙂 )

Ruangan yang bisa kami book yang full AC semakin memantapkan pilihan kami di resto ini. Lokasinya yang berada di pertengahan kediaman kami yang satu pomparan yakni tidak terlalu jauh seperti kalau melaksanakannya di Bekasi menambah mantapnya pilihan. “Supaya jangan hanya bolak-balik Bekasi dan resto tempat kita biasanya juga bere  makanya tulang pilih di sini. Supaya kita tahu jugalah tempat pertemuan lain yang layak untuk kita berkumpul”, demikian tadi aku sampaikan menjawab pertanyaan yang bertanya tentang alasan pilihan ke tempat yang “tidak biasa”.

Tidak banyak melenceng dari jam lima sesuai undanganku via Whatsapp di grup kami Topastu (singkatan dari Tobing Pagar Besi Satu, yakni rumah bersejarah tempat kediaman kami bersama orangtua di Medan), acara pun dimulai. Dibuka dengan kata pengantar dan doa makan oleh abang tertua par-Belitung yang lagi ada di Jakarta sejak liburan Lebaran, kami pun menikmati makanan yang lezat. Layaknya perayaan ulang tahun, ada juga kue ulang tahun yang dibingkiskan pariban Sinaga par-Bandung.

Lalu diisi dengan acara nyanyi sumbangan spontan dari si kembar Audrey dan Aurel boru pariban kami Silalahi yang di Pekanbaru. Dua lagi yang sangat merdu. Disusul kemudian dengan nyanyi bareng, duet, kadang trio, … pokoknya sesuai selera dan hapalnya teks lagu. “Duo Ginting”, demikian aku menamakan bere-bereku Ginting dan boru Ginting par-Gang Sehat Medan yang sudah beberapa bulan ini merantau ke Jakarta setelah tamat kuliah di Medan, yang memang punya talenta menyanyi menyumbangkan lagu-lagu Batak dan lagu Melayu. Kadang diiringi dengan abang par-Belitung dan angkang boru Simanjuntak membuat perayaan ulang tahun ini berbeda dan meriah.

Kiranya sukacita malam ini membawa banyak kebaikan. Bagi keluarga besar Topastu, utamanya generasi kedua yang memang aku sangat rindukan untuk kompak dan aku dorong untuk semakin sering bertemu agar tumbuh dalam kebersamaan keluarga yang semakin erat yang dilandasi dengan kasih kekeluargaan. Dan sukacita juga bagi Tuhan yang sudah memberikan usia limapuluh tahun, tentunya …

(Foto Atas: Pemotongan kue ulang tahun bersama Auli boru Tobing dan dua kembar boru Silalahi, dan Bawah: Foto rame-rame menjelang bubaran)

WhatsApp Image 2018-06-19 at 20.37.03

Ki-ka: Andrew Ginting, Paul Dinovan Ginting, Elvis Sinaga, Novri Tobing, Aminthon Ginting alias Ompung Joice doli, Winda “Pupu” Oktivani Ginting (hanya tangan, wajah tidak terlihat …), Aku, Auli Tobing, mak Auli (Elly br. Simatupang), mak Mikail (Merry br. Simanjuntak), si kembar Aurel dan Audrey br. Silalahi, bpk Mikail (Rodny Tobing), Rodelina Tobing alias Ompung Joice boru, dan Frihard “Deden” Sitinjak. (photo taken by Dorce br. Simatupang alias mak Elvis Sinaga)

 

 

Siapa Bilang Tidak Ada Roh Kudus di HKBP? Ini Buktinya! Saya HKBP, Saya Mengalami Pertobatan di HKBP.

WhatsApp Image 2018-06-09 at 08.57.49

Kamis, 07 Juni 2018 yang lalu, kami – aku beserta empat orang kawanku mahasiswa lainnya – mengikuti ujian proposal disertasi. Aku dapat giliran ketiga, walau aku sudah sempat book beberapa hari sebelumnya untuk menjadi peserta pertama, karena mendadak pagi jam 09.00 WIB aku dimintakan dengan sangat mendampingi Preskom untuk rapat di Markas Besar Polri di Jl. Trunojoyo. Apa boleh buat, walau sudah mengajukan cuti jauh hari sebelumnya, pagi itu aku “terpaksa” ke Mabes Polri terlebih dahulu. Karena sudah dapat izin Rektor, aku dibolehkan ikut ujian setelah selesai dari Trunojoyo tersebut.

Dari beberapa hal yang “mengesankan”, satu dialog antara aku (A) dan dosen penguji (P) patut aku catatkan di sini:

P: Bapak menuliskan ada empat hal yang menjadi faktor penentu pertumbuhan jemaat di gereja tempat bapak melakukan penelitian. Yang mana di antaranya yang paling menentukan?

A: Migrasi, bu.

P: Koq bisa? Kenapa bukan pertobatan?

A: Jawaban saya tadi berdasarkan percakapan saya dengan pendeta selaku pemimpin jemaat yang menurut saya paling tahu tentang jemaat dan warga jemaat tempat saya melakukan penelitian tersebut. Aktualnya, tentunya akan dibuktikan oleh hasil penelitian yang akan saya lakukan kemudian.

P: Oh, iya … karena saya tahu di HKBP sangat sulit terjadi pertumbuhan jemaat yang disebabkan oleh pertobatan karena karakteristik gerejanya yang tradisional dan lokal. Beda dengan gereja kharismatis yang penuh Roh.

A: Siapa bilang di HKBP tidak ada pertobatan? Pasti banyak warga HKBP yang bertobat.

P: Apa buktinya? Saya jarang sekali mendengar ada pertobatan di HKBP …

A: Sayalah buktinya! Dari sejak lahir dan dibaptis saya sudah HKBP. Sampai sekarang. Dan saya akui saya menjadi seperti sekarang ini adalah karena pelayanan yang saya dapatkan di HKBP. Bukan di gereja atau denominasi lain yang katanya penuh Roh. Memang, banyak orang dengan mudah mengatakan bahwa Roh Kudus hanya ada di gereja-gereja lain, dan di HKBP tidak ada. Itu keliru. Saya inilah buktinya. Dan saya yakin di luar sana juga banyak yang seperti saya.

Hadirin yang hadir pada sidang terbuka tersebut menjadi riuh dengan teriakan dan tepuk tangan. Walau ada empat orang (tiga mahasiswa dan satu simpatisan yang adalah suami dari salah seorang mahasiswa peserta ujian) berlatar belakang Batak, namun hanya akulah satu-satunya yang masih HKBP sedangkan lainnya sudah menjadi pendeta di gereja-gereja kharismatis.

Hanya berselang menit, sang dosen penguji segera meninggalkan ruangan sidang. Apakah karena dialog tersebut atau karena mau ke kamar mandi (termasuk dosen yang paling “rajin” ke toilet selama aku mengenal beliau …) atau karena keperluan lain, hanya beliau yang tahu.

Belakangan ini aku memang jadi kurang begitu respek dengan perguruan tinggi tempat sekolah tinggi teologi kami melakukan memorandum of understanding ini yang disebabkan oleh oknum pengelolanya yang menurutku tidak profesional. Jadwal perkuliahan yang berubah, materi perkuliahan yang terkesan asal jadi, pembimbingan yang tidak sesuai komitmen, dan hal-hal lain yang membuatku harus berkata kepada kawan-kawan mahasiswa lainnya: “Ini pembelajaran bagi kita untuk selalu ingat untuk mengelola kampus kita sendiri nantinya menjadi lebih baik daripada mereka melayani kita. Utamanya ketika membimbing mahasiswa dalam penulisan karya tulis akhir mereka kelak.”. 

National Small Convention …

Bekerja di perusahaan kecil seperti yang aku pimpin sekarang ini tentu saja sangat berbeda dengan ketika masih menjadi profesional di perusahaan (sangat) besar di Nestle  – tempat yang aku habiskan lebih dari separuh usiaku – setelah lebih dua puluh tahun mengabdi dengan penuh suka-duka dan banyak pengalaman yang dapat dipetik dari sana. Salah satu di antaranya adalah menyelenggarakan pertemuan tahunan yang dihadiri oleh semua staf dari seluruh nusantara. Sesuai tradisi, di perusahaan ini dikenal dengan rakernas sebagai singkatan dari rapat kerja nasional. Karena terkesan lebih “formal”, maka mulailah aku perkenalkan istilah national convention. Bukan karena sok kebarat-baratan – karena jelas sejelas-jelasnya bahwa aku sangat mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia alias NKRI ini dengan kebanggaan berbahasa Indonesia – tapi memang pesan yang aku mau sampaikan adalah berbeda.

Kesan yang aku mau tampilkan:

(1) Walau kecil (baca: belum besar) sebenarnya kami sudah go international. Produk-produk yang kami jual adalah made in Canada. Dan ada juga yang buatan Cina. Jadi, wajar dong kalau mulai pakai istilah asing …

(2) Walau namanya meeting yang terkesan sangat serius (bahkan sebagian besar mengesankan dan terkesankan “menyeramkan” karena sebelumnya seringkali penuh ketegangan dan “intimidasi” …) bagiku pertemuan yang sangat langka ini harus diubah kesannya. Inspiratif (menampilkan berbagai ide), memotivasi (memberikan penghargaan bagi orang-orang yang berprestasi), terbuka (bebas berbicara dan menyampaikan pendpat), dan juga fun! (malamnya ada acara nonton bareng ke XXI dengan berjalan kaki ke Kuningan City yang memang “sepelemparan batu” saja jaraknya dari kantor kami di lantai 22 Satrio Tower ini).

(3) Walau tahun lalu – menurut info – dilakukan di hotel di luar Jakarta (Puncak), tahun ini diselenggarakan di kantor saja, karena memang kantor baru kami yang megah ini sangat memadai untuk menyelenggarakan acara seperti ini. Efisien dan efektif, memang itu sasaran yang harus dikejar …

Tidak banyak hal yang kami bahas (karena aku menganggap bahwa pertemuan seperti ini tidak harus melupakan unsur silaturahim juga …), selain poin-poin penting yang harus dilaksanakan tahun 2018 ini. Temanya back to basic karena berdasar pengamapatanku yang baru bergabung sejak September 2017 lalu, kompetensi dan mentalitas karyawan harus “dikembalikan ke titik paling mendasar” untuk kemudian segera diperbaiki untuk membuat semua orang produktif dan kompeten dengan ruang lingkup pekerjaan yang menjadi tanggung jawab masing-masing.

This is national small convention since compared to my previous company that having hundreds participants …

Suspended, oh My God! Aku Salah Apa?

Jum’at minggu lalu menjelang meninggalkan kantor dan beranjak untuk kegiatan yang lain – bertemu dengan keluarga beberapa ito, di antaranya yang datang dari Medan bersama silih dan bere-bere di Atrium Senen di Jakarta yang lanjut dengan menghadiri sermon parhalado di Kelapa Gading – aku dikejutkan dengan kenyataan bahwa blog ini di-suspend. Melihat penjelasan standar yang ada, alasan pemblokiran seperti itu adalah karena melanggar syarat dan ketentuan yang berlaku. Tentu saja hal ini makin membuatku penasaran dan bertanya-tanya karena sudah pasti aku bukan termasuk pelangggar SKB yang tercantum dalam penjelasan dimaksud.

Satu-satunya jalan adalah: bertanya kepada yang berwenang. Dan aku tulis dan kirimkanlah pertanyaan pada media yang disediakan pada situs ini juga. Dan puji Tuhan … barusan saja aku melihat bahwa blog ini sudah aktif kembali. Itulah sebabnya kita dapat bertemu kembali.

Seakan-akan hal ini mengingatkan betapa berharganya blog pribadi ini yang harus tetap dijaga, tentunya!

Many thanks, WordPress! Although not yet received any explanation accordingly, i have to say thank you to reactivate this simple blog.

Aku Datang Kembali!

Di kantor baru yang kami tempati sejak 20 November 2017 yang lalu dan sambil menatap jalanan dari ruanganku yang berada di lantai-22 malam ini, tiba-tiba aku teringat akan blog yang aku dulu sangat sukai sebagai tempat bercerita dan mencatat apa yang aku alami dan aku rasakan. Sudah lama sekali sejak aku masih rajin berkunjung dan menulis di sini.

Sudah banyak yang berubah. Tentang diriku: pekerjaan, lokasi kantor, tempat tinggal bersama keluarga, status pendidikan … Yah, banyaklah tentunya, ya. Malah aneh kalau ‘nggak ada perubahan, ya? Cerita pun pastilah banyak yang harus aku sampaikan. Tapi, nantilah ya … setelah aku mampu mengalokasikan waktu secara disiplin untuk menulis di sini lagi.

Untuk pertemuan “pertama” ini, aku cukupkanlah dulu dengan melampirkan foto terkiniku, yakni di ruang meeting, beberapa hari pertama setelah memasuki bangunan yang megah dan mewah ini …

Sampai ketemu kembali. Semoga tidak hanya sampai di sini.