Old & New HKBP on Caleg (2)

bendera-partai

 Menyenangkan mengetahui ada komentar pengunjung situs ini yang mengatakan bahwasanya dengan melihat karikatur ini,”… bikin cerdas”, katanya. Namun ada juga yang menyampaikan bahwa senang melihat gambarnya, namun belum jelas apa maksudnya. Ya, begitulah karikatur … Supaya lebih berarti, aku jelaskan di bawah ini.

Awal bulan ini aku membaca tulisan tentang betapa alerginya seorang pendeta terhadap isu politik masuk gereja. Beliau merasa tidak nyaman pada saat bertemu dengan kenalan lama disodori selembar kartu nama yang mencantumkan nama dan juga partai politik (yang besar kemungkinan juga menitip pesan untuk memilih sang caleg …).

Terus terang, hal yang sama juga aku alami, bahkan lebih “dramatis”. Pada saat menghadiri pesta adat pemberkatan nikah (pesta pamasu-masuon) di Bandung Sabtu lalu, salah seorang pendeta (dibantu dengan isterinya = inang pandita) membagi-bagikan kartu nama dengan anjuran untuk memilihnya pada saat pemilu tahun depan. Paginya – sama dengan dua tahun lalu di kota yang sama ketika memberkati pernikahan adikku – sang pendeta memberkati pasangan tersebut di gereja sekitar. Dua tahun lalu itu aku sangat terkesan dengan cara membawakan tata ibadah dan pesan pernikahan pada pengantin, dan timbul kerinduan untuk menemukan lebih banyak lagi pelayan seperti itu. Hal yang menjadi kebalikannya pada Sabtu minggu lalu.

Pak pendeta mendatangi hampir semua orang dan menitipkan pesannya untuk memilihnya (dan lihatlah, di kartu namanya disitir firman Tuhan yang “dipaksakan” agar klop dengan pesan partai dan “kerinduannya” untuk menjadi legislator). Waktu seseorang bertanya apakah ada “gisinya” (ucapan yang sebenarnya:”ingkon adong do lapik-lapikna on da amang …?“), isteri pak pendeta (yang duduk di sebelahku) yang menjawab:”Wah ‘gimanalah pendeta mau bagi-bagi uang. Berapalah penghasilannya. Kesadaranlah yang diperlukan.” Ada lagi yang ‘nyelutuk:”Bagaimana pak pendeta ini. Jadi caleg, tapi partainya pun partai preman (dengan menyebutkan partai dimaksud yang di dalamnya memang banyak bercokol orang-orang yang sudah sangat ketahuan sepak terjangnya dalam dunia premanisme). Tak pantaslah itu”. Menyedihkan, memang. Apalagi setelah aku tahu motivasinya. Ternyata sang pendeta sudah “tergusur” dari jemaat yang dulu tempatnya ditugaskan, dimutasikan ke PGI. Mungkin merasa jabatannya sekarang “tidak ada apa-apanya”, maka beliau cari pelabuhan baru menjadi caleg.

Aku bukan anti kalau seorang pendeta mau terlibat di politik. Tapi harus adalah etikanya. Saat kuliah Etika Kristen, bagian ini (bagaimana sikap kristiani terhadap politik) yang menjadi topik pembahasanku pada saat diskusi di kelas. Boleh saja semua orang terlibat dalam politik (karena dijamin oleh UUD 1945,’kan?), tapi harus menjunjung tinggi etika. Apalagi seorang pelayan jemaat. Tinggalkan jabatan di gereja, jangan pernah menggunakan mimbar gereja untuk berkampanye, dan pastikan motivasinya benar dengan cara memastikan bahwa memang itulah kehendak Allah; adalah syarat-syarat utama yang harusnya dipatuhi oleh setiap orang. Ketentuan tersebutlah yang dulu sekali ditetapkan di HKBP bahwa gereja tidak boleh berpolitik. Eforus Ds. GHM Siahaan menyebutnya dengan “Let the church be the church.”

Situasi sekaranag sudah sangat berbeda. Eforus sekarang juga sudah “berani” memberikan dukungan secara terbuka kepada salah seorang calon bupati pada suatu pilkada. Beberapa minggu yang lalu seorang caleg (sintua HKBP) meneleponku dari Padang. Selain mendiskusikan tentang strategi (pemasaran) dalam “memasarkan” dirinya (dan idenya juga, tentunya …), beliau juga memberitahukan bahwa di Distrik Medan-Aceh sudah diselenggarakan kebaktian khusus untuk memberangkatkan warga HKBP yang menjadi caleg. (Sekadar info: kebaktian yang sejenis juga sudah diselenggarakan tadi malam di gereja HKBP Jl. Suprapto untuk Distrik Jakarta-3. Aku akan tampilkan nanti beberapa foto …

Nah, kontradiksi antara keduanya itulah yang ditampilkan dalam karikatur perdanaku itu. Yang lama Let the church be the church sekarang berubah menjadi Let us pray for them. Seorang “anak kecil” yang mewakili warga jemaat menyaksikannya dengan satu pertanyaan yang tentu saja memerlukan penjelasan. HKBP berubah? Pengaruh We can change-nya Obama? Bisalah kita jawab sendiri.

Komik dan Kartun Nabi: Jangan Salah Kaprah!

tintinMinggu lalu aku terkaget-kaget membaca komentar salah seorang pendeta di blog pribadinya. Rada tendensius, dan sangat tidak setuju dengan komik dan kartun. Malah tidak menganjurkan anak-anaknya untuk membelanjakan uang untuk membeli komik. Setelah membaca lanjutannya, barulah aku ‘ngeh: ternyata beliau “terpancing” dengan keramaian komik (dan atau kartun, menjadi kurang jelas karena malah menjadi simpang siur …) di salah satu blog di wordpress yang memunculkan nabi Muhamad dengan tidak pada tempatnya.

Jika berhubungan dengan membuat kartun (dan komik, dan atau apapun bentuk visualisasinya …) yang menggambarkan wajah nabi besar tersebut, sudah tentu haruslah kita tolak mentah-mentah. Kita harus menghormati kepercayaan dan keyakinan saudara-saudara muslim dan muslimah yang dengan tegas mengharamkan penggambaran wajah beliau. Dalam komik-komik yang mengajarkan agama Islam di mana beliau harus ditampilkan, memang selalu figur beliau ditampilkan dengan tulisan Arab. Dan itu tidak mengganggu kenyamanan dalam membaca dan mengikuti alur cerita yang ditampilkan. Dan yang paling utama, tentu saja, harus menghormati apa yang diyakini oleh orang-orang. Bukan hanya dengan Islam, dengan umat apapun haruslah ada sikap saling menghormati.

Setelah menelusuri beberapa situs, akhirnya yang bisa aku sarankan adalah: jangan terpancing. Besar kemungkinan itu adalah ulah orang iseng. Atau kalaupun bukan iseng, adalah orang yang punya keinginan untuk memecah belah anak-anak bangsa. Menggunakan alamat yang mengesankan dari komunitas Batak (dan Kristen), menurutku belum tentu itu menyatakan hal yang sebenarnya. Tetaplah dibutuhkan sikap berhati-hati, dan tidak terbakar emosi …

Aku ini penggemar komik (dulu namanya cergam sebagai singkatan dari cerita bergambar). Sejak anak-anak. Bahkan ketika masih SD aku menghabiskan uang jajanku untuk menyewa komik (kalau beli harganya mahal menurut ukuranku …), tarifnya Rp 10 untuk 3 buah buku komik. Ceritanya tentu aku pilih yang bagus-bagus. Ada Tarzan, Gundala Putera Petir, Godam, Si Buta dari Gua Hantu, dan banyak lagi … Dan, harus jujur aku akui, sebagian dari itu semua ada yang memberikan kontribusi dalam kehidupanku kemudian. Sekarang aku malah sedang mengoleksi Tintin, komik yang menurutku memberikan pengajaran dan pengalaman yang memperluas cakrawala. Juga ada Trigan. Banyak yang bagus-bagus. Artinya, kalau selektif, pasti kita bisa mendapatkan yang bermutu. Memang saat ini banyak komik yang tidak mendidik, namun janganlah hal itu menjadikan kita menyamaratakan bahwa komik menjadi sesuatu yang seharusnya dihindarkan.

Kartun? Aku juga penggemarnya. Juga karikatur. Bukan hanya penikmat, tetapi aku juga pembuat. Nah, dalam blog ini aku juga akan berupaya untuk menampilkan hasil karyaku. Paling tidak sekali dalam seminggu. Yah, tergantung kondisi dan isu yang berkembanglah … Dimulai hari ini.

Jadi, selamat menikmati…

Adven atau Natal: Saatnya Kita Kembali …

advent-candle1Sudah terima undangan untuk menghadiri perayaan Natal tahun ini? Aku sudah. Dari pengurus Persekutuan Do’a di kantor, via e-mail pula. Ini sudah tradisi yang dipelihara bertahun-tahun. Panitia pelaksananya bergantian dari departemen yang satu ke departemen lainnya. Tahun ini agak “lain” sepertinya. Tidak ada latihan paduan suara, carol, atau rapat-rapat panitia rutin. Langsung saja undangan untuk dapat menghadirinya.

Minggu lalu aku singgah ke salah satu toko buku Kristen (tepatnya: toko yang menjual buku, kaset, dan pernak-pernik yang berbau agama Kristen …) di Bekasi. Selama ini aku tidak begitu tertarik datang ke sana karena koleksinya yang ala kadarnya. Minggu lalu aku singgah, karena harus ke toko sebelahnya untuk menjilid naskah. Tidak terpikirkan sebelumnya, namun karena si pemilik toko gencar mempromosikan, akhirnya aku membeli kaset lagu rohani DR. Niko Notoraharjo (dulu lebih dikenal dengan Ir. Niko Notoraharjo) dan … kaset Lea yang berisi lagu-lagu Natal! Nah, ini …

Terus terang saja, tahun ini aku mendapat “pencerahan” dari salah seorang pendeta HKBP yang mengajak untuk kembali memosisikan Adven dan Natal dengan melakukan perayaan yang sesuai dengan waktunya masing-masing. Artinya, jika melakukan perayaan sebelum 25 Desember, itu adalah perayaan Adven. Bukan perayaan Natal. Aku sangat setuju. Dan beliau (maksudnya pak pendeta tersebut) berkomitmen untuk tidak menerima undangan berkhotbah kalau disebutkan sebagai perayaan Natal. Luar biasa!

Aku juga akan melakukan hal yang sama. Dimulai dengan mengirim pendapat dan saran ke semua karyawan yang beragama Kristen untuk mengganti perayaan tersebut menjadi perayaan Adven.

Bertahun-tahun aku menjalani “kebingungan”. Dalam tradisi orang Batak, perayaan Natal sudah mulai dilakukan sejak memasuki minggu Adven pertama. Undangan perayaan Natal sudah mulai berdatangan: perkumpulan wilayah (parsahutaon), kerabat (marga-marga), bahkan kelompok kategorial di gereja. Rasanya aneh, pada saat kebaktian Minggu, pak pendeta dalam khotbahnya di mimbar menghimbau warga jemaat untuk mempersiapkan diri menyambut hari kelahiran Yesus, eh malamnya beliau berkhotbah pada saat perayaan Natal (salah satu yang disebutkan di atas …) yang menyerukan agar peserta ibadah bersukacita karena telah lahir sang juru selamat. Pada kebaktian Minggu yang akan datang, kembali lagi berkhotbah tentang persiapan menyambut kelahiran sang juru selamat. Aneh, ‘kan?

Bertahun-tahun mengikuti perkuliahan di STT Jakarta, kami tidak pernah melakukan perayaan Natal. Karena diselenggarakan pada awal Desember, maka disebutkan sebagai perayaan Adven. Inilah yang sebenarnya dan paling pas. Apalagi dilakukan secara sederhana. Tak perlu dilakukan secara glamor. Tidak pantas. Bukan semata-mata karena situasi krisis saat ini, tapi seharusnya kita malu karena Yesus pun (menurut Injil) dilahirkan dalam kesederhanaan.

Do’a Anakku Auli

with-auli-otwPagi ini sehabis berdoa setelah terbangun seperti biasanya, anakku yang bernama Auli (umur 6 tahun, salah satu keajaiban Tuhan dalam hidupku …) terjaga dan meminta untuk ikut bersama-sama membaca firman Tuhan untuk hari ini. Sesuatu yang relatif lama tidak terjadi lagi di rumah. Dulu pernah. Setiap bangun pagi, kami bertiga membaca renungan dan firman Tuhan, lalu aku memberi penjelasan singkat (jika dianggap perlu), lalu ditutup dengan do’a bersama (secara bergantian …). Alangkah membahagiakannya suasana seperti itu.

Yang selalu terjadi pada saat berdo’a bersama, Auli pasti menyerukan permohonannya di sela-sela do’a yang aku daraskan. Hari ini dia meminta pada Tuhan agar batuknya (sudah beberapa hari) disembuhkan, dan juga minta adik yang banyak …

Mungkin ini bukanlah sesuatu yang di luar kebiasaan bagi banyak orang. Puji Tuhan untuk itu. Namun hari ini aku tertarik untuk berbagi tentang kebiasaan berdoa dan membaca firman bersama dalam keluarga berdasarkan apa yang aku alami beberapa minggu yang lalu di gereja. Setelah tamat dari Program Pasca Sarjana STT Jakarta, sesuai komitmenku, aku lebih intensif melayani di gereja. Saat ini aku ditunjuk menjadi pengajar (sebenarnya aku lebih suka dengan istilah “pemimpin diskusi” …) pada kelas pra-sidi (begitulah disebutkan …). Pesertanya adalah para remaja.

Pada salah satu pertemuan, aku melontarkan pertanyaan tentang seberapa sering mereka membaca Alkitab. Tidak ada yang menjawab pernah. Lalu aku turunkan menjadi, seberapa sering membaca dan atau mendengar firman Tuhan (bisa jadi, karena firman Tuhan tidak selalu harus dengan membaca Alkitab); jawabannya tetap sama: tidak setiap hari, tidak setiap dua hari, tidak tiga hari … Lalu? Ternyata mereka membacanya hanya pada saat kebaktian Minggu di gereja. Sekarang menjadi bertambah, karena setiap kelas pra-sidi (yang diselenggarakan menjelang kebaktian Minggu sore) selalu membahas firman Tuhan dengan membaca Alkitab. Memprihatinkan, memang …

Waktu hal tersebut aku share pada saat menyampaikan firman Tuhan pada kebaktian/persekutuan wilayah (partangiangan wejk) yang umumnya lebih banyak dihadiri oleh orangtua, ternyata para orangtua baru tersadar akan hal itu. Betapa jarangnya mereka membaca firman Tuhan di rumah. Sendirian, apalagi bersama-sama dalam keluarga. (Dan aku sempat tertegun beberapa detik tatkala menyadari bahwa salah seorang penatua (sintua) yang hadir saat itu salah seorang anaknya adalah juga peserta kelas pra-sidi …) 

Hal ini patut dijadikan perhatian bagi kita semua. Sampai hari ini aku punya prinsip: setiap hari, sebelum membaca hal yang lain aku pastikan didahului dengan membaca firman Tuhan. Tidak mutlak membaca Alkitab, bisa saja dengan membaca buku, membaca renungan, atau mendengar lagu, dan atau mendengar radio yang menyiarkan firman Tuhan. Karena apa yang ditangkap oleh panca indera kita pada pagi hari (pada saat pikiran masih jernih dan memori masih oke …), itu akan sangat memengaruhi kehidupan kita selanjutnya pada hari itu. Bisa bayangkan jika yang pertama kali kita dengar dan lihat adalah sesuatu yang buruk/jahat, bagaimana selanjutnya kehidupan kita. Jadi, tidak terlalu mengherankan jika belakangan ini banyak sekali hal-hal jahat yang terjadi (yang sebelumnya sangat jarang terjadi) yang mungkin disebabkan sebagai tanggapan oleh panca indera yang mendapat masukan tentang hal-hal yang jahat. Pagi hari kita sudah disuguhkan oleh tontonan yang lebih banyak berisi informasi (tepatnya berita, namun sayangnya lebih banyak berisi tentang kejadian yang buruk dan rasa pesimis atas situasi yang sedang terjadi), lalu dilanjutkan dengan gosip (tentang selebritas dan kelakuannya yang juga lebih banyak berhubungan dengan hal-hal yang jahat).

Sudah saatnya kita berubah. Dari diri kita, tanpa melupakan orang-orang yang kita kasihi untukmenjalani kehidupan yang lebih baik secara bersama-sama.

Tuhan (pasti) memberkati.