Andaliman-2 (Khotbah 04 Januari 2009 Minggu Efifani)

 

andaliman-2-doa2

Sedekah dan Do’a: Jangan Munafik!  

Nas Epistel: Roma 12:9-15

Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa. Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan! Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk! Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!   

Nas Evangelium: Matius 6:1-6

”Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”  

Masih berhubungan dengan khotbah pada Tahun Baru, ibadah Minggu pertama tahun 2009 ini mengingatkan kita akan kasih kepada sesama manusia, bertolerasi, bersimpati, dan empati dengan apa yang dialami oleh saudara-saudara lainnya. Rasul Paulus juga mengingatkan kita untuk selalu kuat dalam menghadapi semua persoalan dalam hidup kita dengan pengharapan yang melahirkan sukacita.

Injil Matius dengan mengutip ucapan Yesus yang mengritik cara beribadah kaum Yahudi yang menjadikan doa dan sedekah untuk mengunjuk diri (show off) agar terlihat dan terdengar oleh banyak orang tentang betapa “taatnya” mereka menjalankan kewajiban beragama. Oh ya, kata mencanangkan ternyata datangnya dari kata canang yaitu sejenis bunyi-bunyian yang dulu dipakai untuk memberitahukan kepada khalayak tentang sesuatu yang patut untuk didengarkan. Yang ini tentu saja tidak sejalan dengan apa yang dimaui Yesus untuk berdoa dalam tempat tersembunyi karena Bapa kita menyukai hal itu. Bahkan dalam hal memberi, jangan sampai tangan kiri mengetahui apa yang dilakukan oleh tangan kanan. Luar biasa! 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Jujur saja, kedua perikop ini sangat mengusik kenyamanan yang sudah terjadi pada banyak orang Kristen.

(1)    Kita diingatkan untuk mengasihi dengan tulus kepada sesama, bersama-sama menanggung beban penderitaan sebagaimana juga sama-sama merasakan sukacita dalam setiap kenyataan hidup, berlomba-lomba dalam memberikan penghormatan (sementara saat ini semakin banyak saja orang yang „gila hormat“), dan tetap semangat dalam memberi kepada yang membutuhkan. Dan … berdoa dalam setiap situasi dan kondisi. Sangat tepat sebagai bekal dalam memasuki tahun 2009 yang diprediksi akan lebih sulit dan lebih berat. Prinsipnya: apalah krisis bila dibandingkan dengan Kristus!

(2)    Lihatlah kehidupan kita. Terus terang saja, pagi ini aku tertegur tentang dua hal ini: doa dan sedekah. Malam nanti aku diminta untuk memimpin doa syafaat pada Ibadah Akhir Tahun. Berulang kali aku meminta kepada Tuhan supaya doaku bukan untukku, melainkan untuk kemuliaan-Nya. Dan aku berulangkali juga memastikan tidak bertele-tele (akhirnya aku hanya sanggup meringkasnya menjadi delapan menit!) namun telah mencakup apa yang memang sangat dibutuhkan untuk dibawa dalam doa. Tentang sedekah, puji Tuhan, semangat dalam „menutup identitas“ setiap memberikan sesuatu kepada Gereja telah semakin berhasil aku lakukan (ternyata ini sulit juga, karena ada saja orang yang „salah tafsir“ yang menganggapku bukan sedang melaksanakan prinsip tangan kanan-tangan kiri …). 

(3)    Berapa banyak dari antara kita yang memberikan sumbangan (perpuluhan, ucapan syukur, persembahan kasih, atau apapun namanya) tanpa menyebutkan nama? Banyak juga yang tidak „rela“ mencantumkan NN dalam setiap sumbangan ke gereja. Di beberapa jemaat bahkan masih berlangsung tradisi lelang pada pesta pembangunan di mana juru lelang meneriakkan nama penyumbang dengan keras. Dan banyak orang masih menikmati euforia seperti itu (syukurlah di jemaat kami acara lelang ini sudah ditiadakan sejak tahun 2008 ini …).

(4)    Berdoa (sebagai bagian ibadah juga) haruslah dilakukan dengan tersembunyi. Maksudnya, bukan sembunyi-sembunyi. Beda lho, artinya. Bahkan sangat jauh. Itulah sebabnya aku merasa kurang nyaman dengan persekutuan Kristen yang dilakukan di beberapa ruko dekat rumah yang sangat bersemangat dalam setiap ibadahnya dengan teriakan yang keras dan lagu-lagu yang dinyanyikan dengan sound-system yang sangat keras yang diiringi dengan dentuman band dan suara alat musik yang berisik lainnya. Bahkan pada waktu malam yang malah menjadi mengganggu warga (yang tidak semuanya Kristen) pada lingkungan „gereja“ tersebut. Beribadahlah kepada Tuhan yang punya telinga untuk mendengar, bahkan yang sanggup mendengar tanpa suara sedikit pun …  

Iklan

Andaliman-1 (Tahun Baru 01 Januari 2009)

Jemaat Murah Hati, Sehati, dan Sejiwa: Bukan Komunis!

 

lukisan-tangan-rodnauli 

 

NasEpistel: Kisah Rasul 4:32-37

Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualannya mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

 

Nas Evangelium: Lukas 6:36

Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.   

 

Ibadah pertama tahun 2009 ini mengingatkan kita akan kehidupan berjemaat pada jemaat mula-mula. Sebagai orang percaya, warga jemaat menyerahkan apa yang mereka miliki untuk dapat dinikmati oleh warga jemaat lainnya. Artinya, dalam jemaat tersebut, semua orang percaya merasa bertanggung jawab akan kesejahteraan satu sama lain. Prinsip sehati dan sejiwa menjadi semangat yang tercipta sehingga tak seorangpun dapat melihat kekurangan pada orang lain.

 

Dalam membaca perikop ini kita harus berhati-hati, bahwa semangat sehati dan sejiwa tersebut tidaklah sama dengan ajaran komunisme yang hidup dengan semboyan “sama rata sama rasa”. Dalam jemaat mula-mula tersebut, para pemilik menjual miliknya kemudian hasil penjualannya diserahkan kepada rasul-rasul yang kemudian membagikannya kepada warga jemaat sesuai kebutuhan masing-masing. Artinya: tidak disamaratakan. Selain itu, ada juga tradisi yang menyebutkan bahwa kepemilikian pribadi adalah juga diakui dalam komunitas orang-orang percaya mula-mula ini. Jadi, mereka menjualnya apabila jemaat membutuhkannya.

 

Bila ada seorang warga jemaat menghadapi kekurangan, segera saja ada saudara persekutuannya laki-laki dan atau perempuan yang dengan sukarela menyerahkan miliknya untuk dikelola jemaat (dalam hal ini adalah rasul-rasul) dan dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam jemaat tersebut. Mereka adalah orang-orang yang murah hati. Semangat yang sama diajarkan oleh Injil Lukas yang mengutip ucapan Yesus.

Perikop ini sangat sesuai dengan semangat HKBP yang mencanangkan tahun 2009 sebagai Tahun Diakonia.

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

(1)    Kita diingatkan untuk membangkitkan-kembali rasa kepedulian kita terhadap sesama, terhadap Gereja yang kebutuhannya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Bisakah kita seperti Yusuf alias Barnabas sebagaimana dicatat dalam perikop di atas? Jangan lupa, masih ada jemaat yang hidup dengan rancangan anggaran tahunan yang minus; artinya mengandalkan pengumpulan dana sepanjang tahun anggaran tersebut, misalnya melalui pesta …. Jangan lupa juga, untuk lebih mengutamakan orang-orang seiman terlebih dahulu.

(2)    Penyerahan donasi warga jemaat mula-mula ini lebih banyak didorong oleh kepercayaan yang meluap-luap pada berita keselamatan dari Yesus yang disampaikan oleh para rasul. Warga jemaat mula-mula tersebut memercayainya karena para rasul adalah saksi-langsung akan Yesus. Bagaimana dengan kita saat ini? Apakah kita juga memercayai para pelayan jemaat kita saat ini sama seperti pada jemaat mula-mula? Dan Alkitab sebagai sumber yang kita miliki tentang berita kelamatan Yesus Kristus? Dapatkah kita sebagai warga jemaat, mengamini bahwa pemberian kita kepada jemaat adalah untuk pelebaran kerajaan Allah; sehingga apa dan bagaimanapun yang dilakukan oleh pelayan pengelola donasi kita adalah “sudah bukan urusan kita lagi”. Bahkan andaipun kita mengetahui bahwa penggunaannya bukanlah sebagai uap na hunsus laho patimbulhon harajaon ni Debata ...

(3)    Sebagai pelayan di jemaat – yang tentu saja bukan saksi-langsung berita keselamatan Yesus Kristus – bagaimana kita mempersaksikan iman sebagaimana yang tercantum pada Alkitab sebagai andalan berita keselamatan Yesus yang ada pada kita saat ini? Apakah warga jemaat juga memercayai kita tentang penyerahan donasi mereka, sebagaimana kita saksikan dalam kehidupan keseharian kita? Sebagaimana yang kita ketahui yang banyak terjadi di jemaat, bahwa perpecahan persekutuan seringkali ditimbulkan oleh hal pengelolaan uang dan harta yang dipercayakan pada jemaat tersebut (termasuk dalam hal ini adalah juga jabatan). Bahkan lebih banyak daripada pertentangan konsep teologi.

 

Tanggal 26 Desember yang lalu aku menghadiri perayaan Natal Bersama di salah satu jemaat HKBP di Jakarta. Usai kebaktian, dilanjutkan dengan acara hiburan yang menampilkan penampil internal (sekolah Minggu, remaja, dan naposo bulung) dengan talenta masing-masing. Dan juga pelawak Batak terkenal. Antusiasme warga jemaat sangat tinggi, dan mereka sangat menikmati kegiatan tersebut. Biasanya dihadiri oleh Gubernur, yang malam itu diwakili oleh Sekda. Pada saat itu juga dibagikan sipalas roha bagi janda, pensiunan, kaum miskin, yatim piatu, dan warga jemaat yang memerlukan bantuan dana. Diambil dari poti parasian, yakni peti yang diletakkan di pintu gereja setiap Minggu untuk mengakomodasi kerinduan warga jemaat dalam memberikan sumbangannya untuk kegiatan parasi ni rohaon. Para penerima “pinjaman” secara sukarela akan “mengembalikan” dana yang diterimanya ke dalam poti parasian kembali agar dapat dipergunakan oleh warga jemaat yang lainnya. Berapa pun besarnya, terserah kepada kemampuan dan kemauan, tentunya. Tak akan ditagih oleh petugas gereja! Menurut sumber yang layak dipercaya, antusiasme jemaat semakin bertambah karena mereka melihat wujud-nyata pengelolaan sumbangan tersebut. Dan dilaporkan secara transparan.

 

Ada lagi CUM (Credit Union Modification, yang kemudian berubah wujud menjadi Komunitas Kredit Masyarakat), yang berbeda dengan konsep poti parasian dengan sistem “hibah sukarelanya”. Pada K2M ini (sudah dijalankan di sedikit distrik, salah satunya mulai dijalankan sejak Agustus 2008 di salah satu resort di Jakarta), para peminjam harus mengembalikan dana pinjamannya sesuai perjanjian. Dengan bunga (yang rendah), tentunya. Salah satu distrik di Jakarta merekomendasikan agar K2M ini di-copy paste oleh jemaat-jemaat lainnya.  

Hari ini: Andaliman (ANtusias DALam IMAN)

andaliman

Kemarin pagi dalam perjalanan menuju kolam renang, fikiranku terbawa pada resolusi tahun 2009. Setelah mengalami berbagai penantangan – ditambah pada saat berada di kolam renang – akhirnya mengerucut pada satu hal: andaliman. Jangan tanya kemudian yang mana awal dan yang mana yang akhirnya. Inilah yang akan aku sampaikan …

Tahun 2009 aku akan membuat renungan singkat mingguan sesuai Almanak HKBP (yang sayang sekali sampai hari ini belum mendapatkannya; waktu aku tanya ke pelayan tahbisan di jemaat kami, dijawab bahwa memang belum diterima sambil meyakinkanku bahwa aku juga akan menerimanya nanti). Salah seorang kenalan pendeta di jemaat lain mengonfirmasi bahwa mereka telah menerimanya (inilah HKBP, seringkali informasi dan hal-hal lainnya tidak berlaku serentak …) dan mempersilakanku untuk mengambilnya, namun karena perayaan Natal yang sangat sibuk aku juga urung mengambilnya tadi malam. “Alai na gelleng do na adong nuaeng, lae ..“, jawab beliau via SMS. Ya, tak apalah, toh aku juga orang kecil …

Berdasarkan pengalaman bergaul dengan warga jemaat di mana mereka sangat membutuhkan bekal dalam menerima khotbah Minggu maupun pada partangiangan wejk, maka aku akan mencobajelaskan secara ringkas perikop yang dicantumkan dalam Almanak. Epistel dan Evangelium-nya biasanya “bertukar” antara khotbah hari Minggu dengan khotbah partangiangan wejk. Artinya, yang menjadi khotbah pada saat partangiangan wejk adalah perikop Epistel yang pada ibadah Minggu kemudian akan menjadi Evangelium. Demikian pula sebaliknya. (tentang Epistel dan Evangelium ini akan aku sampaikan pada tulisan kemudian …)

Di jemaat kami jadual partangiangan wejk adalah Rabu malam (yang tentu saja bervariasi dengan jemaat lain …), maka aku berkomitmen untuk mem-posting-nya setiap Senin agar semua orang bisa membacanya di awal minggu dimaksud. Itulah yang akan menjadi bekal sebelum partangiangan wejk dan kemudian ditambah khotbah Minggu.

Namanya andaliman. Sebagian besar orang Batak tentulah tahu bumbu masak khas Batak ini. Pada malam Natal yang lalu aku sedikit “komplain” ke ito-ku karena arsik-nya kurang enak karena tidak terlalu terasa andaliman-nya. Artinya, walaupun kecil namun sangat terasa keberadaannya. Kalau tak ada pun, sebenarnya tidak apa-apa (masakan arsik, na niura, atau sangsang tetaplah masakan namanya), namun akan menjadi lebih afdol kalau ada dan bisa dirasakan kehadiran andaliman tersebut.

Begitulah Andaliman ini. Ditulis dengan gaya jurnalistik yang ringan, namun tetap memiliki bobot teologi. Dipersiapkan oleh dan untuk warga jemaat biasa (artinya bukan parhalado partohonan) untuk memperkaya pengetahuan sehingga pada saat partangiangan (yang semakin terasa tuntutan jemaat supaya lebih interaktif = ada tanya jawab, tidak hanya satu arah a la khotbah tradisional) bisa memberikan pandangan dan membuat diskusi menjadi lebih hidup. Nah, pada hari Minggu juga menjadi lebih mantap pada saat mendengar khotbah dari langgatan. Bagi parhalado partohonan, bukan sebagai pengganti sermon. Namun, bisa jugalah dijadikan referensi untuk sermon.

Akronim dari antusias dalam iman, lahirlah Andaliman. Tadi malam dalam resepsi perayaan Natal, salah seorang pelawak Batak memanjangkannya menjadi andalkan iman. Ya, boleh juga, meskipun bukan itu untuk ini. Kenapa antusias? Karena memang itu diperlukan. Dalam menyikapi firman Tuhan dan pengajaran kekristenan, antusias adalah mutlak. Tanpa antusias, semua tidak akan memberikan makna positif. Sebagaimana yang disampaikan oleh Marthin Luther adakalanya warga jemaat menanyakan sesuatu yang “sekadar” atau “asal-asalan”. Misalnya pertanyaan:”Apa yang dikerjakan Tuhan sebelum menciptakan langit dan bumi?”; yang kemudian dijawab oleh Luther (karena menyadari pertanyaan “asal-asalan” ini) bahwa pada saat itu Tuhan sedang menciptakan sebuah palu besar untuk memukul kepala manusia yang suka mengajukan pertanyaan “aneh” seperti itu …

Tidak usahlah seperti itu, ya …

Harapanku, Andaliman ini akan memainkan peran untuk banyak orang dalam memuaskan sedikit dahaganya akan firman yang pada akhirnya akan mampu mempersaksikan iman dan dapat diandalkan.

Tuhan (pasti) memberkati.

Selamat Natal

Sudah terima berapa pesan-pendek yang mengucapkan selamat hari Natal hari ini? Aku harus menghapus beberapa kali supaya kapasitas telepon selularku memadai untuk menerima pesan yang baru masuk. Ada yang menarik: beberapa tidak “berani” mengucapkan selamat hari Natal, melainkan hanya mengucapkan selamat hari raya. Memang masih ada sebagian kawan-kawan yang muslim yang “alergi” karena menurut pemahaman mereka kalau ikut mengucapkan selamat hari Natal berarti mengakui keberadaan Kristen, padahal mereka hanya mengakui bahwa Islam adalah satu-satunya agama Allah.

Terganggu? Tak usah. Ada ucapan atau tidak ada ucapan, yang penting adalah hati kita dalam menyambut kelahiran juru selamat dan mengimani apa yang tertulis dalam Alkitab.

Oh ya, kemarin sore aku baru pulang dari perjalanan dinas ke Provinsi Jambi. Dari kamar yang aku tempati di Hotel Novotel dengan jelas aku bisa melihat dari jendela logo HKBP yang tertera pada suatu bangunan permanen. Dan persis di pintu masuk ada spanduk besar yang mencolok menyampaikan tentang perayaan Natal yang akan diselenggarakan hari ini dengan nuansa Batak dan Mandarin yang menampilkan artis ibukota. Hal ini menambah perasaan nyamanku tentang keberadaan halak hita setelah sore harinya aku melihat bangunan sederhana gereja HKBP dalam perjalanan ke Muara Bungo.

Selamat hari Natal bagi kita semua … dan selamat menyongsong tahun yang baru 2009.

natal2008

By tanobato Posted in Umum

Amang Pandita, Ompung Nunga Malgip-algip

malgipalgip1 

Semula, aku pikir situasi ini sudah tak terjadi lagi di zaman kontemporer ini. Beberapa bulan lalu aku masih membacanya di TATAP (ini majalah budaya spesifik Batak yang paling bagus yang aku tahu, cuma sayangnya moratorium dulu …) dengan ilustrasi yang hampir mirip.

Menyongsong 2009 sebagai Tahun Diakoni HKBP, patutlah hal ini kita renungkan sebagai inspirasi untuk memperbaiki pelayanan kepada warga jemaat. Aku bangga dengan HKBP yang menjunjung tinggi kaidah hidup bergereja (dengan aturan peraturannya), namun tak perlu harus meniru Yahudi yang sangat legalistik. 

Mosok sih, Ompung sudah malgip-algip (artinya: nyawanya sudah di ujung kerongkongan …), pak pendeta masih ‘nanyain kelengkapan birokrasi dan “kewajiban duniawi” lainnya?