“Oleh-oleh” Penyubur dari Kota

Fenomena yang masih terjadi sampai hari ini … Setelah sukses merantau, orang Batak yang tinggal di kota baru akan pulang setelah menjadi mayat untuk dikebumikan di bona pasogit-nya. Masih ada nilai “positifnya”: akan ada “pesta besar” dan tanah juga akan menjadi subur dan gembur …bangke-tu-huta

Iklan

2 comments on ““Oleh-oleh” Penyubur dari Kota

  1. “Ndang marimbar tano hamatean”, artinya mati dimana saja tidak masalah, memang betul, bisa di tempat tidur, bisa di rumah sakit, bisa dimana saja. Tapi yang masalah adalah dimana akan dikebumikan. Lagu “Pulau Samosir” yang begitu terkenal di kalangan orang Tapanuli berpesan “molo marujung do, muse nglongku sai ingot ma, anggo bangkekku disi tanomon mu, disi udeanku, sai ingot ma”. Belum mati saja sudah pesan harus dikebumikan di Pulau Samosir. Rupanya dimana tempat dikebumikan sudah merupakan “nilai” atau yang dikenal dengan values, bagi sebagian besar orang Tapanuli. Bahkan, ada orang masih hidup saja sudah membuatkan peti mati (ruma-ruma saur matua) dan terkadang sudah dicoba-coba tidur siang di ruma-ruma tadi, entah nilai apa lagi ini yang mungkin kita tidak mengerti, apa takut nanti dibuatkan peti mati dari kayu sembarang atau tidak mau menyusahi orang lain. Tapi baiklah itu kita lihat dari arti positifnya saja sebagai kekayaan nilai budaya, karena ternyata hal seperti itu bukan “values”-nya orang Tapanuli saja, bahkan saudara kita di Sulawesi Selatan juga demikian, bahkan ada yang bertahun-tahun baru dikebumikan, menunggu penyelesaian adat (Tanah Toraja) yang akhirnya bisa mendatangkan devisa ke Sulawesi Selatan karena banyaknya turis luar negeri yang menyaksikan upacara adat kematian itu. Saya berharap, sekalian saja kita tiru adat di Sulawesi selatan itu, karena menjadi objek wisatawan dari manca negara. Kaum muda orang Tapanuli memang lebih berfikir pragmatis, praktis, tapi yang jelas kalau kaum tua orang Tapanuli “matua” tentunya akan “membebani” kaum muda (tidak semua memang). khususnya yang menyangkut “values” adat, karena adat adalah sesuatu yang sudah turun temurun diikuti bahkan tak terbantahkan oleh kaum muda, karena begitu banyaknya “values” dalam hal adat kematian, tidak berkurang-kurang, bahkan bisa bertambah-tambah demi yang dinamakan “sangap”. Untuk itu menjadi bahan pemikiran bagi kaum muda orang Tapanuli untuk lebih mengutamakan makna daripada sekedar “values” yang sebenarnya belum tentu punya makna apa-apa, hanya karena tak bisa memberi argumen yang lebih baik saja maka terpaksa diikutkan. Disini para pemimpin gereja diharapkan berpartisipasi melalui khotbah dan ceramah agama untuk memberi pencerahan, karena diantara orang Tapanuli sendiri masih terjadi silang pendapat tentang adat kematian, sebagian bilang “moppo” bertentangan dengan agama, karena “ulaon hasipelebeguon” sebagian bilang tidak, makanya dari fihak gereja ada yang enggan membuka acara “moppo” tadi. Horas tondi madingin, pir tondi matogu !!!!.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s