Andaliman-1 (Tahun Baru 01 Januari 2009)

Jemaat Murah Hati, Sehati, dan Sejiwa: Bukan Komunis!

 

lukisan-tangan-rodnauli 

 

NasEpistel: Kisah Rasul 4:32-37

Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualannya mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

 

Nas Evangelium: Lukas 6:36

Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.   

 

Ibadah pertama tahun 2009 ini mengingatkan kita akan kehidupan berjemaat pada jemaat mula-mula. Sebagai orang percaya, warga jemaat menyerahkan apa yang mereka miliki untuk dapat dinikmati oleh warga jemaat lainnya. Artinya, dalam jemaat tersebut, semua orang percaya merasa bertanggung jawab akan kesejahteraan satu sama lain. Prinsip sehati dan sejiwa menjadi semangat yang tercipta sehingga tak seorangpun dapat melihat kekurangan pada orang lain.

 

Dalam membaca perikop ini kita harus berhati-hati, bahwa semangat sehati dan sejiwa tersebut tidaklah sama dengan ajaran komunisme yang hidup dengan semboyan “sama rata sama rasa”. Dalam jemaat mula-mula tersebut, para pemilik menjual miliknya kemudian hasil penjualannya diserahkan kepada rasul-rasul yang kemudian membagikannya kepada warga jemaat sesuai kebutuhan masing-masing. Artinya: tidak disamaratakan. Selain itu, ada juga tradisi yang menyebutkan bahwa kepemilikian pribadi adalah juga diakui dalam komunitas orang-orang percaya mula-mula ini. Jadi, mereka menjualnya apabila jemaat membutuhkannya.

 

Bila ada seorang warga jemaat menghadapi kekurangan, segera saja ada saudara persekutuannya laki-laki dan atau perempuan yang dengan sukarela menyerahkan miliknya untuk dikelola jemaat (dalam hal ini adalah rasul-rasul) dan dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam jemaat tersebut. Mereka adalah orang-orang yang murah hati. Semangat yang sama diajarkan oleh Injil Lukas yang mengutip ucapan Yesus.

Perikop ini sangat sesuai dengan semangat HKBP yang mencanangkan tahun 2009 sebagai Tahun Diakonia.

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

(1)    Kita diingatkan untuk membangkitkan-kembali rasa kepedulian kita terhadap sesama, terhadap Gereja yang kebutuhannya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Bisakah kita seperti Yusuf alias Barnabas sebagaimana dicatat dalam perikop di atas? Jangan lupa, masih ada jemaat yang hidup dengan rancangan anggaran tahunan yang minus; artinya mengandalkan pengumpulan dana sepanjang tahun anggaran tersebut, misalnya melalui pesta …. Jangan lupa juga, untuk lebih mengutamakan orang-orang seiman terlebih dahulu.

(2)    Penyerahan donasi warga jemaat mula-mula ini lebih banyak didorong oleh kepercayaan yang meluap-luap pada berita keselamatan dari Yesus yang disampaikan oleh para rasul. Warga jemaat mula-mula tersebut memercayainya karena para rasul adalah saksi-langsung akan Yesus. Bagaimana dengan kita saat ini? Apakah kita juga memercayai para pelayan jemaat kita saat ini sama seperti pada jemaat mula-mula? Dan Alkitab sebagai sumber yang kita miliki tentang berita kelamatan Yesus Kristus? Dapatkah kita sebagai warga jemaat, mengamini bahwa pemberian kita kepada jemaat adalah untuk pelebaran kerajaan Allah; sehingga apa dan bagaimanapun yang dilakukan oleh pelayan pengelola donasi kita adalah “sudah bukan urusan kita lagi”. Bahkan andaipun kita mengetahui bahwa penggunaannya bukanlah sebagai uap na hunsus laho patimbulhon harajaon ni Debata ...

(3)    Sebagai pelayan di jemaat – yang tentu saja bukan saksi-langsung berita keselamatan Yesus Kristus – bagaimana kita mempersaksikan iman sebagaimana yang tercantum pada Alkitab sebagai andalan berita keselamatan Yesus yang ada pada kita saat ini? Apakah warga jemaat juga memercayai kita tentang penyerahan donasi mereka, sebagaimana kita saksikan dalam kehidupan keseharian kita? Sebagaimana yang kita ketahui yang banyak terjadi di jemaat, bahwa perpecahan persekutuan seringkali ditimbulkan oleh hal pengelolaan uang dan harta yang dipercayakan pada jemaat tersebut (termasuk dalam hal ini adalah juga jabatan). Bahkan lebih banyak daripada pertentangan konsep teologi.

 

Tanggal 26 Desember yang lalu aku menghadiri perayaan Natal Bersama di salah satu jemaat HKBP di Jakarta. Usai kebaktian, dilanjutkan dengan acara hiburan yang menampilkan penampil internal (sekolah Minggu, remaja, dan naposo bulung) dengan talenta masing-masing. Dan juga pelawak Batak terkenal. Antusiasme warga jemaat sangat tinggi, dan mereka sangat menikmati kegiatan tersebut. Biasanya dihadiri oleh Gubernur, yang malam itu diwakili oleh Sekda. Pada saat itu juga dibagikan sipalas roha bagi janda, pensiunan, kaum miskin, yatim piatu, dan warga jemaat yang memerlukan bantuan dana. Diambil dari poti parasian, yakni peti yang diletakkan di pintu gereja setiap Minggu untuk mengakomodasi kerinduan warga jemaat dalam memberikan sumbangannya untuk kegiatan parasi ni rohaon. Para penerima “pinjaman” secara sukarela akan “mengembalikan” dana yang diterimanya ke dalam poti parasian kembali agar dapat dipergunakan oleh warga jemaat yang lainnya. Berapa pun besarnya, terserah kepada kemampuan dan kemauan, tentunya. Tak akan ditagih oleh petugas gereja! Menurut sumber yang layak dipercaya, antusiasme jemaat semakin bertambah karena mereka melihat wujud-nyata pengelolaan sumbangan tersebut. Dan dilaporkan secara transparan.

 

Ada lagi CUM (Credit Union Modification, yang kemudian berubah wujud menjadi Komunitas Kredit Masyarakat), yang berbeda dengan konsep poti parasian dengan sistem “hibah sukarelanya”. Pada K2M ini (sudah dijalankan di sedikit distrik, salah satunya mulai dijalankan sejak Agustus 2008 di salah satu resort di Jakarta), para peminjam harus mengembalikan dana pinjamannya sesuai perjanjian. Dengan bunga (yang rendah), tentunya. Salah satu distrik di Jakarta merekomendasikan agar K2M ini di-copy paste oleh jemaat-jemaat lainnya.  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s