ANDALIMAN-3 (Khotbah 11 Januari 2009 Minggu-I Setelah Efifani)

pohon-anggur1

Taatlah sebagai Ranting dari Pokok Anggur

 

Nas Epistel: Imamat 26:11-13

Aku akan menempatkan Kemah Suci-Ku di tengah-tengahmu dan hati-ku tidak akan muak melihat kamu. Tetapi Aku akan hadir di tengah-tengahmu dan Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku. Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir, supaya kamu jangan lagi menjadi budak mereka. Aku telah mematahkan kayu kuk yang di atasmu dan membuat kamu berjalan tegak. 

Nas Evangelium: Yohanes 15:1-9

”Akulah pokok anggur yang benar, dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya, dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya supaya ia lebih banyak berbuah.  Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang keluar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki , dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku. Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.” 

 

Perikop Epistel ini adalah penegasan Tuhan tentang ketuhanan-Nya dan keumatan bangsa Israel. Untuk menegaskan hal tersebut, Tuhan perlu mengingatkan bangsa Israel tentang peranan-Nya dalam membawa mereka keluar dari perbudakan Mesir yang sekaligus menjadikan mereka sebagai bangsa beradab.

 

Karya penyelamatan yang telah dilakukan Allah terhadap bangsa Israel, di kemudian hari terbukti seringkali mengecewakan Allah. Berulang-ulang mereka mencoba meninggalkan Allah dan mengandalkan kemampuan diri sendiri.

 

Dihubungkan dengan perikop Evangelium yakni berupa ucapan Yesus kepada murid-murid-Nya yang mendeklarasikan bahwa Dia adalah pokok anggur yang benar, adalah ungkapan atas kegagalan Israel untuk memenuhi harapan Tuhan, dan atas perubahannya menjadi ”pohon berbau busuk, pohon anggur liar” (bandingkan dengan teks Yesaya 5:1-2,7; Yeremia 2:1; dan Hosea 10:1).

 

Tuhan telah menyucikan kita dengan firman-Nya, membebaskan dari perbudakan/perhambaan dosa (dengan karya penyelamatan Yesus di kayu salib), dan dengan kepala tegak kita mengaku sebagai umat-Nya.

 

Sebagai ranting – yang akan dibersihkan oleh Allah sebagai pengusahanya, memotong yang tidak baik dan membakarnya – hidup kita sangat tergantung kepada pokok sebab kita tidak punya kemampuan jika tidak menyatu (tinggal di dalam Kristus) dengan sang pokok. Dengan tinggal di dalam-Nya dan memuliakan-Nya, ada jaminan bahwa apa yang kita minta yang sesuai kehendak-Nya, akan dikabulkan-Nya.     

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Perumpamaan tentang pokok anggur ini sudah sangat sering kita dengar. Tahun lalu dijadikan thema pelayanan di HKBP, yakni mengharapkan semua warga jemaat untuk menghasilkan buah yang banyak.

(1)    Dalam dunia sekuler, seringkali kita dimotivasi untuk percaya diri (populer disingkat dengan pede). Sejauh mana kita meyakini akan hal itu, yang punya potensi untuk menggiring agar tidak mengandalkan Yesus dalam kehidupan kita?

(2)    Pengalaman hidupku mengajarkan bahwa seringkali terjadi bahwa selalu saja ada hal-hal yang terjadi di luar kendali. Bahkan walaupun telah yakin bahwa semua hal sudah dipersiapkan secara sempurna (apa iya ada yang sempurna dalam kehidupan ini …?). Dalam dunia pekerjaan, aku dituntut untuk melakukan presentasi bisnis di hadapan pemimpin perusahaan (para direktur dan presiden direktur). Sampai menit terakhir yang tersedia, aku selalu melakukan persiapan yang sangat serius tentang bahan presentasiku. Misalnya: melakukan simulasi, mengantisipasi pertanyaan yang akan timbul (dan mempersiapkan jawabannya yang berkualitas), dan memeriksa audio-visual ruangan pertemuan. Detik-detik terakhir menjelang giliranku berpresentasi, aku biasanya sudah berada pada tingkat keyakinan penuh bahwa semuanya akan berlangsung dalam pengendalianku. Pada suatu kesempatan, dengan pede aku menyampaikan bahan presentasi, dan semuanya memang berjalan sesuai dengan perkiraanku sampai tiba-tiba telepon pak presdir bergetar. Genting dan penting kelihatannya, sehingga beliau keluar ruangan untuk menjawab panggilan telepon tersebut. Presentasiku berjalan terus tanpa  kehadiran beliau. Namun, ketika kembali ke ruangan usai pembicaraan telepon tersebut – mungkin masih terbawa emosi yang diakibatkan oleh hal penting dan genting tadi – sang presdir membombardir dengan pertanyaan dan pernyataan yang penuh dengan kemarahan. Hal tersebut mengubah suasana dalam ruangan pertemuan menjadi tegang dan kacau, sehingga perlu diskors untuk sementara waktu … Belajar dari situ – ditambah dengan pengalaman lain – aku selalu berprinsip bahwa tidak semua mampu aku kendalikan. Menjelang hari-H, atau menit-M, atau detik-D, selalu aku sempatkan berdoa pada Tuhan: “Aku telah melakukan semua persiapan sesuai dengan apa yang mampu aku lakukan. Urusan lainnya, adalah urusan-Mu. Bantu aku untuk melaksanakan pekerjaan ini, dan persiapkan diriku untuk kuat menghadapi apapun yang akan terjadi kemudian.“ 

(3)    Dalam kehidupan berjemaat seringkali tanpa disadari, kita terjebak dengan sikap percaya diri (yang berlebihan). Misalnya dalam suatu kepanitiaan yang tentu saja membutuhkan dana untuk pelaksanaannya. Sebagaimana yang terjadi di banyak jemaat, Panitia harus mencari sendiri dana yang dibutuhkan. Dan, lihatlah dalam persiapannya: anggota panitia lebih banyak berkutat pada segelintir orang yang menurut pengalaman bertahun-tahun dapat diandalkan sebagai donatur. Cukup! Cukup? Kalau cukup, mah bagus. Namun seringkali yang terjadi adalah dana tidak cukup menurut perkiraan. Ada usulan? Ada, tentu saja (terutama dari orang-orang yang lebih muda); namun dengan cepat di-blok oleh yang merasa lebih berpengalaman dengan mengatakan: “Dulu hasilnya adalah tidak bagus, bla … bla … bla …“ (oh ya, untuk orang seperti ini aku suka menyebutnya dengan Mr./Mrs./Ms I was, yakni orang yang suka „bercermin“ pada masa lalu, namun sayangnya cenderung mengingat dan terbelenggu dengan hal-hal yang negatifnya saja). Lantas, di mana Tuhan-nya? Entar aja, pada saat doa penutupan rapat … Bukan berani mencoba hal-hal yang baru, didiskusikan bersama, diputuskan dengan mantap, bahwa Tuhan pasti akan turut campur untuk keberhasilan pekerjaan yang diyakini adalah juga untuk kemuliaan-Nya.

(4)    Sebagai pelayan di jemaat, apakah kita sudah meyakini bahwa sampai saat ini kita sudah menghasilkan buah yang baik dan banyak? Tidak masam? Apakah Kristus sudah benar-benar kita libatkan dengan tinggal di dalam-Nya? Untuk kemuliaan siapa kita melayani jemaat sejauh ini? Sekadar berbagi, aku mengenal beberapa pelayan jemaat yang pada masa hidupnya kemudian ternyata tidak mengalami damai sejahtera dan sukacita. Engkau juga punya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s