MARTURIA = MAsuk Rumah TUhan bersukaRIA

marturia

Tadi malam kami yang tergabung dalam Dewan Marturia mengadakan rapat kerja pertama untuk tahun 2009. Sejak diminta Ketua Dewan Marturia untuk membuat undangan rapat pun perasaanku sudah kurang nyaman. Alasannya adalah aku merasa malu mengingat sudah satu tahun aku ditugaskan di tempat terhormat tersebut, namun selama tahun 2008 itu aku rasa (dan yakin penuh) belum berbuat signifikan untuk pelayanan di jemaat.

Tahun 2008 yang lalu – saat rapat pertama – dengan sangat semangat aku mempresentasikan visiku tentang Dewan Marturia. Berbekal pengalaman dan pekerjaan sehari-hari di bidang penjualan dan pemasaran, aku datang dengan konsepku. Salah satunya adalah dengan menawarakn tagline komunikasi Marturia sebagai masuk rumah Tuhan (dengan) bersukaria. Dengan komunikasi seperti itu, maka semua yang terlibat dalam dewan (seksi musik dan seksi pekabaran Injil) mengarahkan semua kegiatannya agar dapat dipersepsi oleh warga jemaat sesuai yang dimaksudkan itu. Mungkin terlalu jauh ke depan (atau terlalu muluk ya …?), banyak ditentang oleh para “sesepuh”. Pendekatan rada profesional (setiap rapat ada notulen, dan komitmen selalu aku catat, misalnya) juga tidak bisa berjalan. Aku tawarkan untuk memulai dari hal-hal yang sederhana.

Akhirnya, waktu satu tahun berlalu, dan tidak ada perubahan yang signifikan. Hanya kamar mandi yang sekarang menjadi lebih bersih dengan koster yang baru yang selalu aku sempatkan ‘ngobrol setiap aku ada di komplek gereja (padahal saat itu pemimpin jemaat dengan tak sungkan berkata: ” … molo naeng mangganti kosterta na didok hamu hurang denggan karejona, ndang sanggup ahu amang …”).

Kembali ke rapat dengan mendengarkan paparan dari Seksi Musik. Yang dipaparkan hanya dari itu ke itu: masalah sumber daya dan sumber dana. Tahun lalu, pada saat rapat khusus dengan Seksi Musik (yang mayoritas anggotanya adalah anak muda) aku memotivasi mereka dengan mengatakan:”Ayolah kita bikin sesuatu yang baru. Jangan hanya datang dengan masalah, tapi juga alternatif solusi, lalu sama-sama kita fokuskan untuk melakukan solusi tersebut. Atau cari masalah baru yang lebih sulit, jangan hanya berputar-putar di masalah yang itu itu saja tanpa ada kemajuan dalam pelaksanaannya.”.

Lalu tiba saat Seksi Zending menyampaikan paparannya. Materinya sama persis dengan tahun lalu. Bahkan masih ada kegiatan yang masih akan dilakukan di tahun 2009 ini walaupun sudah terbukti tidak ada peminatnya tahun lalu (sebagaimana juga sudah aku sampaikan tahun lalu ketika rapat pertama sekali, saat menantang mereka tentang efektivitas kegiatan pelayanan dimaksud …). Aneh, memang …

Oh ya, ada anggota Seksi Zending yang menyampaikan bahwa kita harus menginjili semua orang, bahkan warga HKBP yang berjemaat jauh dari lokasi gereja supaya pindah saja berjemaat di jemaat kami (!). Juga orang Kristen yang beribadah di gereja-gereja lain yang bukan HKBP supaya pindah saja ke HKBP jemaat kami (!!). Ketika aku bertanya kepada Ketua Dewan Marturia yang juga adalah Sintua, apakah seperti itu pengertian Boan Sada Nari yang dicetuskan HKBP, beliau malah menjawab:”‘Nggak tahu aku amang …”. Bah, massam mana pula ini? Aku sampaikan pengertianku, bahwa yang menjadi prioritas utama adalah warga jemaat sendiri yang sudah lama tidak muncul di gereja, lalu orang Kristen yang juga kita tahu bahwa mereka tidak mengikuti ibadah di gereja secara teratur dan belum terdaftar sebagai warga jemaat di mana pun … Lalu … lalu … lalu …

Aku sudah mulai jenuh dan tak bernafsu ketika Ketua Dewan menawarkan untuk menyampaikan sesuatu pembicaraan yang aku jawab untuk ditutup saja rapatnya, ketika salah seorang ibu (menurut pengakuannya sudah berumur 64 tahun) bertanya kepada Ketua Seksi Zending apakah ada perbaikan pelayanan di tahun 2009 ini dan dijawab dengan datar dan sangat normatif. Mendapat jawaban seperti itu, sang ibu (yang juga menambah semangat ibu-ibu yang lain …) lalu menyampaikan pandangannya bahwa kami (tidak termasuk beliau meskipun anggota Seksi Zending juga karena selama ini “cuti” untuk mengurus keluarga …) belum melakukan apa-apa. Hanya buang-buang waktu tanpa ada tindakan. Banyak rumah sakit sekitar yang membutuhkan pelayanan firman kepada para pasien. Tak usah menunggu banyak orang yang bisa dan mau melayankan, bila perlu beliau seorang juga bersedia (karena selama ini sudah menjalankannya, namun untuk jemaat HKBP yang lain … Nah, lo …). Ucapan ini terasa menyengat Ketua Dewan dan Ketua Seksi Zending, dan bersedia menindaklanjuti masukan berharga tersebut.

Setelah ditutup dengan nyanyian dari Buku Ende dan do’a, lalu aku mendatangi (sekaligus menyalami semua peserta rapat) ibu tersebut dan menyampaikan perasaanku yang juga merasa malu belum berbuat apa-apa untuk jemaat meskipun sudah satu tahun menerima penunjukan tersebut.

Dalam perjalanan pulang ke rumah dan dilanjutkan perenungan sebelum tidur, aku bersyukur kepada Tuhan bahwa masih ada orang yang mengingatkanku tentang betapa kecilnya aku ini di jemaat. Sebelum menutup mata untuk berdoa dan terlelap, aku masih membayangkan apa yang harus aku perbuat dengan nyata sebelum tahun 2009 kemudian  berakhir dan kejadian 2008 berulang kembali. 

Iklan
By tanobato Posted in HKBP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s