Ketemu Penulis Lagu Rohani dan Jagoan Santet

fgbmfi

Malam ini baru saja aku tiba di rumah dari mengikuti pertemuan bulanan Full Gospel Businessman Fellowship International yaitu suatu perkumpulan yang mengklaim dirinya sebagai persekutuan internasional yang mengumpulkan pengusaha untuk kesaksian sepenuhnya tentang Injil sebagai firman yang diwahyukan Tuhan. Dari visi dan misi yang disampaikan oleh salah seorang pengurus dalam presentasinya malam ini menyatakan bahwa kaum pria harus diselamatkan, karena sebagai pemimpin yang berperan sebagai imam, nabi, dan raja yang diselamatkan, maka akan semakin banyak keluarga yang diselamatkan. Meskipun sudah beberapa kali mendengar informasi aktivitas gerakan ini (dan diajak untuk ikut), namun baru kali ini aku mau hadir di kegiatannya seperti malam ini. 

Hal ini dipicu oleh salah seorang rekan di kantor (sebut saja dengan pak M) yang sangat mengagumi figur Daud Toni (seorang mantan dukun santet yang bertobat dan menjadi penginjil). Sebagai sesama karyawan Kristen, sejak beberapa tahun lalu sering pak M aku ajak untuk mengikuti kebaktian karyawan Kristen yang rutin dilakukan setiap Jum’at siang bagi perusahaan-perusahaan dalam satu komplek perkantoran tempat kami berada. Dan tidak pernah mau ikut, dengan alasannya karena pengkhotbahnya bukan Daud Toni (selanjutnya disingkat saja dengan inisial DT). Kalau DT yang berkhotbah, barulah beliau mau nanti ikut (sayangnya, sampai hari ini belum pernah pula pengurus mengundang DT sebagai pembicara pada kebaktian  Jum’at siang tersebut …). Orang-orang pada tahu tentang hal ini dan sudah tidak mengajaknya lagi; kalaupun mengajak hanyalah sekadar basa-basi dan tanpa harapan. Itulah sebabnya sehingga suatu hari aku terkejut dengan tidak terduga pak M hadir pada suatu Persekutuan Do’a di kantor saat aku menyampaikan khotbah dan langsung mengajukan pertanyaan tentang materi yang aku sampaikan. Hari itu aku menyampaikan tentang teologi sukses.

 

Tentang DT, aku seringkali melihat beberapa judul bukunya di toko-toko buku Kristen di banyak tempat. Tanpa pernah sekalipun berkeinginan membukanya, apalagi membelinya.

 

Nah, sejak dua minggu lalu aku mendengar di radio “undangan” untuk acara pertemuan bulanan ini. Diselenggarakan di restoran Angke Kelapa Gading yang aku tahu masakannya lezat dan nikmat, karena dulu pernah menghadiri jamuan makan malam dari kantor di sana. Yang jadi pembicara (pengganti istilah “pengkhotbah” karena mereka mengklaim bukan gereja dan tidak bakalan mau jadi gereja) adalah DT dengan kesaksian oleh Jason, penyanyi dan penulis lagu yang salah satu hits-nya Sentuh Hatiku. Aku pikir, klop-lah sudah. Dapat makanan jasmani yang lezat, dan juga makanan rohani yang menyegarkan.

 

Aku beritahu tentang acara ini dan sekaligus mengajak pak M itu untuk sama-sama hadir (cuma sayangnya, karena macet akhirnya beliau menyerah untuk tidak hadir di acara malam ini …).

 

Aku tiba di restoran tersebut tepat waktu sebagaimana yang disampaikan pengurusnya via telepon bahwa acara akan dimulai jam 18.30, walau nyatanya baru dibuka dengan doa jam 19.00 dan makan malam dengan menu Chinese Restaurant. O ya, sebagaimana yang aku duga, sentuhan teologi sukses kharismatis sangat dominan dalam kegiatan ini. Para pelayan memakai setelan jas lengkap, wangi parfum mahal yang merebak di seluruh penjuru ruangan, penataan ruangan yang eksklusif, sound-system dengan suara yang empuk dan lihatlah spanduk di panggung yang mencantumkan nama perkumpulan dan slogan dengan gambar mobil sport mewah. O ya, di meja registrasi sebelumnya penerima tamu sempat bengong sejenak ketika aku membayar harga undangan dengan uang pecahan seribuan …

 

Kekesalanku semula karena acaranya terlambat ditambah dengan kebisingan lagu dan teriakan-teriakan, mulai terobati ketika makanan mulai dihidangkan. Obrolan dengan orang yang baru aku kenal yang duduk di sebelahku (orangtua pemilik SPBU di Jakarta) sejenak terhenti, dan kami mengalihkan perhatian pada makanan. Ternyata orangtua tersebut masih lebih lahap daripadaku yang sengaja ”melaparkan diri” supaya bisa makan lebih banyak …

 

Lalu Jason beraksi dan bersaksi. Bagaimana dia yang keturunan Cina dibesarkan di Banten dengan lingkungan yang tentu saja didominasi muslim. Sekolah negeri di mana murid-muridnya seringkali mengejeknya sebagai anak Cina si pemakan (daging) babi, hingga suatu kali dia harus berjuang menunjukkan eksistensinya dengan berupaya ikut (dan memenangkan) kontes lagu dangdut (sesuatu yang tidak pernah dipikirkannya sebelumnya …).

 

Sebelum menyanyikan Sentuh Hatiku, Jason menceritakan latar belakang penulisan lagu itu. Idenya berasal dari pengalaman salah seorang sahabat perempuannya (ketika masih murid SMP) yang dihamili oleh ayah kandungnya sendiri. Karena malu, maka anak tersebut diungsikan dan dipasung oleh orangtuanya tersebut di salah satu perkebunan milik pribadi mereka. Selama tiga belas tahun dipasung (dan tidak pernah dikunjungi keluarganya), suatu kali dia bisa melepaskan diri. Karena kecewa pada Tuhan, dia mengambil pisau untuk bunuh diri. Rencana tersebut digagalkan oleh suatu kekuatan yang berhasil menahan tangannya untuk menyayat nadinya. Dan dia mendengar suara yang menyuruhnya untuk mengampuni ayahnya yang telah merusak masa depannya. Dengan susah payah, akhirnya dia bersedia mengampuni dan menemui ayahnya. Karena rasa bersalah dan penyesalan, ayahnya tersebut meninggal tak lama setelah bertemu kembali dengan anak kandungnya tersebut.

 

Karena ”meledak” di pasaran (apalagi setelah ditayangkan di teve swasta), akhirnya Jason bisa memenuhi janjinya untuk membahagiakan ibunya dengan membeli rumah baru yang layak dan mobil baru. Aksi panggung Jason diakhiri dengan pemberitahuan dan imbauan untuk membeli CD rekaman terbarunya yang disediakan di konter pintu masuk …

 

Lalu tiba gilirannya DT. Melihat posturnya yang kecil, tak banyak yang menduga bahwa orang itu pernah diakui kemampuannya sebagai dukun sakti … Sebelum membacakan ayat yang dikutip dari Injil Yohanes, dia memberi kesaksian bagaimana dia yang sejak kecil telah dipersiapkan oleh kekek dan neneknya untuk menjadi dukun sakti dengan diajarkan semua ilmu yang dapat diandalkan dalam menaklukkan dunia ini, termasuk santet, gendam, ilmu memasuki tubuh makhluk lain dengan rohnya, dan ilmu hitam lainnya (yang disampaikan dengan berbagai istilah dalam bahasa Jawa). Juga bagaimana dia bertobat ketika beradu ilmu dengan Pdt. Gilbert Lumoindong (dan beberapa pendeta lainnya) sebagai kelanjutan pertemuan dalam suatu Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR). Yaitu saat DT berusia 18 tahun sebagaimana yang ”dinubuatkan” kakeknya sebelum meninggal dunia (yang juga gurunya yang penganut kejawen), bahwa pada usia 18 tahun dia akan bertemu pada suatu sinar terang yang mengalahkannya dan menghilangkan semua kekuatan hitamnya. Dan itulah ”ratu adil” dari Timur, yakni raja yang harus diikutinya dengan setia.

 

Setelah takluk dari Pdt. Gilbert, selama tiga tahun kemudian dia masuk Sekolah Alkitab dan lulus dengan peringkat empat (karena muridnya yang tersisa hanya tinggal empat orang …), lalu jadi penginjil. Masih banyak lagi yang disampaikannya yang semuanya adalah sangat menarik (dan juga menyegarkan …), termasuk ketika sebelum tahun 2004 seorang kolonel dan isterinya mendatanginya untuk memohon bantuan mengalahkan santet yang sering dikirimkan kepada iparnya yang sedang mencalonkan diri menjadi RI-1 (yang kemudian dengan resep anti santet-nya terbukti jadi Presiden RI …). O ya, sekarang sang kolonel sudah menjadi jenderal dan menjabat Pangdam. Ada juga klaimnya yang ”aneh”: Belanda bisa menjajah Indonesia selama 350 tahun (padahal di sini banyak sekali orang-orang sakti yang harusnya bisa menyantet Belanda hingga mati …) adalah karena mereka beragama Kristen dan selalu membawa pendeta ke mana pun pergi …

 

Yang menarik, dan berguna bagi kita – selain memberikan tips praktis, berdasarkan pengalamannya sebagai tukang santet yang handal – DT memberikan resep agar tidak bisa disantet:

(1)     selalu bersukacita, karena orang yang selalu gembira akan sulit disantet (sambil mengutip firman yang mengatakan bahwa hati yang gembira adalah obat …)

(2)     jangan suka marah, dan jangan ada dendam sehingga mengakibatkan akar pahit

(3)     jadilah pengampun.

(4)     lawan rasa takut, karena eksistensi ilmu hitam (santet, hipnotis, sihir, dan lain-lain) adalah dengan memanfaatkan rasa takut.

 

Usai acara – yang terkesan dihentikan Panitia karena sudah hampir jam sepuluh, padahal DT baru saja mau menyampaikan tentang bukunya yang baru terbit – aku sempatkan ke toilet yang terdekat dengan panggung. Ketika menikmati, ma’af, kencing, ada orang datang ke sebelahku (yang memang vacant …) sambil ’nyelutuk:” … rileks ajalah, ya pak …”. Ketika menoleh ke kanan, ternyata DT yang ’ngomong tadi. 

Saat menunggu giliran lift yang akan membawa turun dari lantai-3, dan karena banyak orang yang antri karena tidak seimbang antara jumlah orang dengan hanya satu lift yang akan membawa turun, aku memutuskan untuk turun saja melalui tangga. Eh, ternyata DT dengan Panitia yang akan mengantarnya pulang ke rumahnya di Pondok Indah, ikut pula sesuai caraku. Akibatnya aku yang ada di urutan paling depan punya kesempatan ’ngobrol dengan DT. Tentang pilkada dengan caleg yang sangat banyak. Sambil menuruni tangga, aku pancing dengan pertanyaan:”Kenapa dan kapan presiden Indonesia bisa orang Kristen, ya?”, lalu DT menjawab:”Bisa kapan saja, pak. Cuma sayangnya partai Kristen yang sekarang juga ikut-ikutan ribut sehingga terpecah menjadi sel-sel yang kecil yang tidak punya kekuatan.”.

Mungkin Panitia kaget ada orang lain dalam rombongan, aku menangkap rasa kurang nyaman pada mereka yang mengawalnya, sehingga aku memisahkan diri dan keluar menuju pelataran parkir di halaman bagian belakang restoran. Dalam perjalanan pulang, aku membayangkan suatu saat akan memintanya berbicara di jemaat kami. Tentang okultisme dan bagaimana meyakinkan semua warga jemaat bahwa sebenarnya orang Kristen tidak bisa disantet karena keistimewaannya sebagai anak Allah yang punya kekuasaan jauh di atas setan. Kerinduan ini mengalahkan kerinduan yang tadi sempat muncul di awal untuk mengelola suatu pertemuan seperti ini bagi warga jemaat HKBP. Bukan di restoran mahal, bisa saja di salah satu lapo yang representatif di mana banyak orang bisa menyaksikan imannya.      

Iklan

Duh, (Segelintir) Orang Batak di Jemaat Kami Koq Susah Menghargai Waktu ya?

warp-time

Sabtu lalu aku kesal dengan kawan-kawanku pelayan di jemaat. Direncanakan sejak dua minggu lalu bahwa hari Sabtu kemarin kami bersepakat untuk melakukan pemeriksaan pembukuan K2M, yaitu Komunitas Kredit Modifikasi (ini nama baru dari CUM alias Credit Union Modification). Sebagai anggota Badan Pengawas, aku diminta bersama dua anggota lainnya untuk memeriksa pembukuan K2M yang sudah berjalan sejak September 2008 lalu. Meskipun dengan berat hati (karena Sabtu adalah hari yang mahal yang khusus aku alokasikan untuk dihabiskan bersama keluarga), namun menyadari bahwa ini adalah bagian dari “panggilan”, aku setujui untuk melakukan pemeriksaan Sabtu, 21 Februari 2009 yang lalu. Otomatis semua jadual harus aku ubah. Auli dan mamaknya pun aku minta agar menyesuaikan dengan perubahan jadual ini. Artinya, habis dari gereja barulah kami menikmati kebersamaan selanjutnya.

 

Janjinya, pemeriksaan dimulai jam sembilan pagi dan harus diakhiri jam setengah dua belas (karena salah seorang anggota Badan Pengawas yang paling senior harus menjalankan fungsinya dalam adat Batak sebagai tulang pada acara perkawinan kerabat).  Karena tidak mau terlambat (aku memang paling anti dengan ketidakdisiplinan …), jam sembilan kurang aku sudah masuk pelataran gereja. Namun, alangkah terkejutnya aku dengan sambutan kasir yang dengan setelan rapi dan berdasi yang berkata:”Bah, boasa do marpahean songon i hamu, amang?” <terjemahannya:”Lho, koq berpakaian seperti itu, amang?”>. Aku memang bukan termasuk orang yang sangat peduli dengan pakaian (alias “bersahaja” …), namun mendengar pertanyaan seperti ini terasa menyentak juga:”Apa gerangan yang salah dengan pakaianku?”. Kalimat-kalimat berikutnya menjadi semakin jelas: Hari ini ada yang martumpol di gereja, dan semua ruangan dipakai untuk kegiatan itu, dan oleh sebab itu pemeriksaan pembukuan dibatalkan! Bah, kaget kalilah aku! Pemahamanku, martumpol bukanlah tindakan mendadak; artinya sudah diketahui oleh petugas gereja berminggu-minggu sebelumnya. Lalu, apakah harus “mengorbankan” kegiatan K2M yang sudah direncanakan minggu-minggu sebelumnya? (Sekali lagi aku semakin sadar tentang posisi yang tidak jelas dari kegiatan K2M ini di tengah-tengah jemaat, apakah direstui, diketahui, disembunyikan, diridhoi, atau hanya sekadar didoakan? Patutlah Ketua Badan Pengawas mengundurkan diri dengan mengirim surat ke Pemimpin Jemaat dengan tembusan Eforus dan lain-lain karena sudah tidak sabar menantikan jawaban ketegasan HKBP terhadap kegiatan “diakonia HKBP” ini …).

 

Yang paling aku kesal adalah tidak seorang pun merasa bersalah atas pembatalan  kegiatan pemeriksaan pembukuan tanpa pemberitahuan itu. Tidak juga dua orang pendeta HKBP (salah satunya adalah yang khusus direkrut untuk menjadi Manajer K2M) yang aku jumpai di konsistori. Dan masih ada “bonus” alasan yang disampaikan oleh Kasir K2M yang berkata:”Ini aku pun sengaja datang lebih awal jauh sebelum acara martumpol dimulai untuk memastikan bahwa Amang tidak datang”. Gila ‘nggak, tuh …? Sengaja datang menunggu kehadiranku untuk kemudian memberitahu bahwa pemeriksaan pembukuan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari harus dibatalkan karena ada acara martumpol (entah keluarga siapa, dan apa hubungannya dengan para pelayan jemaat sehingga terkesan sangat “powerful” …). Kenapa tidak memberitahu saja (via telepon atau SMS) supaya aku tidak usah datang ke gereja dan repot-repot menjadual-ulang acaraku bersama keluarga pada Sabtu itu. Duh, HKBP … masih separah ini ternyata para pengerjanya. Untuk hal ”kecil” seperti ini masih perlu belajar lagi. Meskipun tinggal di Jakarta, ternyata masih kampungan juga.

 

Karena kesal dan sambil ‘ngedumel aku berjalan ke tempat parkir untuk masuk ke mobil, isteriku ’nyelutuk:”Kayak belum tahu aja HKBP. Dari kemarin-kemarin juga masih begitu …”.

By tanobato Posted in HKBP

Andaliman-10: Khotbah 01 Maret 2009 Minggu Invokavit

jejak

Ikutlah Tuhan dengan sepenuh hati, jangan terbelenggu dengan godaan masa lalu. Ia adalah setia!

 

Nas Epistel: Lukas 9:57-62

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu Ia berkata kepada seorang lain: “Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata: “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Dan seorang lain lagi berkata: “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”

Nas Evangelium: Mazmur 25:1-7

Dari Daud. Kepada-Mu, ya TUHAN, kuangkat jiwaku; Allahku, kepada-Mu aku percaya; janganlah kiranya aku mendapat malu; janganlah musuh-musuhku beria-ria atas aku. Ya, semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu; yang mendapat malu ialah mereka yang berbuat khianat dengan tidak ada alasannya. Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala. Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN.

 

Mendengar tentang ada beberapa orang yang meninggalkan zona kenyamanannya untuk mengikut Tuhan, sudah seringlah aku dengar. Namun tetap membuat penasaran, koq mau-maunya meninggalkan pekerjaan dan jabatan yang „wah“ lalu mengikut Yesus dengan segala konsekuensinya (yang biasanya terbayang di awal adalah „kesengsaraan“, „penderitaan“, wah … pokoknya hal-hal yang jauh dari kenyamanan …). Dari „wah“ yang satu menjadi „wah“ yang lain … Ep ini juga menegurku yang seringkali mencari alasan (dan seringkali pula menemukannya secara kreatif …) untuk menolak permintaan yang berhubungan dengan pelayanan di jemaat. Namun, puji Tuhan, sekarang ini frekuensinya sudah menjadi jauh berkurang. Di banyak tempat, masih sering juga aku dengar, penolakan-penolakan untuk menjadi pelayan: belum siap, masih terlalu muda (apa harus menunggu pensiun dan mulai sakit-sakitan?), merasa tidak terpanggil, tidak punya cukup waktu, tidak punya kemampuan, dan lain sebagainya. Kalau memang benar adanya, ya masih ada yang bisa memaklumi. Tapi kalau sekadar mengada-ada, ’nggak pantas jugalah ya …

 

Begitulah situasi penolakan yang diterima Yesus. Ada yang meminta izin untuk menguburkan bapaknya (dalam beberapa referensi ada yang meragukan alasan ini karena kalau memang bapaknya sudah meninggal sudah pasti dia berada dekat mayat bapaknya tersebut dan berduka bersama keluarganya …). Ada pula yang membutuhkan “say good bye” kepada keluarganya. Dan, Yesus dengan tegas mengatakan bahwa setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah. Ini salah satu pernyataan yang aku suka: lupakan masa lalu, lebih baik melihat ke masa sekarang dan masa depan! Tinggalkan itu, karena bisa saja iblis menggunakan masa lalu (yang biasanya tidak baik …) untuk menghalangi siapa saja untuk menerima tugas pelayanan.

 

Hal yang sama diteriakkan oleh Ev yang menjadi perikop kali ini. Janganlah Tuhan mengingat masa laluku (yang cenderung kelam …), tetapi ulurkanlah kasih setia-Mu dan kebaikan-Mu. Masa lalu yang buruk acapkali memalukan, dan menjadi bahan ejekan orang-orang (yang merasa dirinya lebih baik …). Dan itu menghambat untuk maju melangkah. Ini seringkali menggodaku:”Ingat siapa dirimu yang dulu, kau tidak pantas untuk menjadi pelayan. Jadi jemaat biasa saja cukuplah bagimu. Jangan sok-sokan, sama dengan pelayan yang lain yang tidak sadar akan dirinya itu. Mau sama seperti dia itu? Tidak malu?”.  Untuk menguatkan, Yesus memberikan analogi dengan orang yang membajak sawah, di mana Yesus mengingatkan untuk tidak menoleh ke belakang. Ilustrasi ini merupakan jawaban dari seorang yang sudah bertekad mengikut Dia, namun masih perlu permisi kepada keluarganya di rumah. Yesus melarangnya, karena ada kemungkinan keseriusan untuk mengikut Dia menjadi hambar tatkala bertemu dengan orang-orang terdekatnya yang mungkin saja tidak sepaham dengan dirinya sehingga membatalkan niat yang semula sudah mantap. Jadi, Yesus bukan melarangnya karena etika, namun untuk menghindarkan tarikan di luar dirinya sendiri yang acapkali berpotensi menjadi penghambat dalam mengikut-Nya.   

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Kedua perikop ini berhubungan dengan topik yang sering menjadi bahan perbincanganku dengan kawan-kawan dalam berbagai kesempatan. Nama Minggu ini yang disebutkan Invokavit (jouonna ma Ahu, jadi alusanku ma ibana) yang secara harafiah diartikan sebagai ”serukanlah nama-Ku, maka Aku akan menjawabnya” sebenarnya sudah menjelaskan pesan Almanak kali ini. O ya, barusan kreativitasku muncul dengan mengubahnya menjadi jouonna ma ahu, jadi alusanku ma Ibana. Agak pas juga, ya? Boleh juga hal ini nanti ditanyakan saat partangiangan kepada pembawa firman.

 

Firman Tuhan kali ini mengingatkanku akan beberapa hal berikut ini:

(1)    Masa lalu yang buruk (dan memalukan) tidak pantas dikenang dan menghambat untuk menjadi pelayan jemaat yang sungguh-sungguh. Pengakuan dosa dan pertobatanlah yang melayakkan semua orang berdosa untuk berbalik jadi pelayan Tuhan. Sebaliknya, masa lalu yang indah (dengan segala kenyamanannya) juga bisa menjadi faktor penghambat dalam melayani jemaat. Pakailah itu semua sebagai bekal dalam menerima tugas pelayanan. Dengan pertolongan Tuhan, harus bisa dibuktikan kesungguhan dalam melaksanakan tugas pelayanan dimaksud.

(2)    Memang Tuhan selalu menerima pertobatan kita, namun untuk menerima jabatan tertentu dalam pelayanan jemaat membutuhkan kualifikasi ”tambahan”: tidak pernah terlibat dalam kasus susila (perzinahan), misalnya. Hal tersebut berpotensi menjadi batu sandungan dalam pelayanan di jemaat.

(3) Kesungguhan untuk menjadi pengikut Yesus memang tidak harus selalu direfleksikan dengan cara menjadi pelayan di jemaat. Jadi penatua, misalnya. Hidup keseharian kita juga bisa menjadi saksi bahwa kita adalah pengikut (dan murid) Yesus yang sungguh-sungguh. Sikap sopan dan hormat kepada orang lain, menunjukkan prestasi (di pekerjaan dan atau sekolah/perkuliahan) dengan usaha yang sungguh-dungguh dan jujur, adalah cara lain dalam kesaksian hidup.

Jemaat (dan atau) Warga Jemaat, Mari Kita Luruskan …

first-congregational

Kawan, aku masih sering “terganggu” dengan kesalahpenempatan kata “jemaat” dalam penggunaan komunikasi kita sehari-hari. Yang aku maksudkan adalah penggunaan kata tersebut dalam kehidupan bergereja. Masih sering campur-aduk.

Misalnya:

“Saya adalah jemaat HKBP Simpang Limun Resort Medan-2”.

“Sebagai jemaat, saya berkewajiban mematuhi semua peraturan yang berlaku”.

“Untuk memulai responsoria ini, jemaat dipersilakan berdiri …”

 

Dulunya, aku juga menggunakan kalimat seperti itu (dan juga yang keliru lainnya). Menurut kamus bahasa Indonesia versi Depdiknas, “jemaat” berarti sehimpunan umat. Oleh sebab itu, setiap individu adalah “warga jemaat” yang kemudian menjadi kumpulan/persekutuan yang disebut dengan “jemaat”. Dalam bahasa Batak, “jemaat” adalah “huria”; dan “warga jemaat” disebut dengan “ruas”. Dengan demikian, kalimat-kalimat tersebut di atas seharusnya menjadi:

 

“Saya adalah warga jemaat HKBP Simpang Limun Resort Medan-2”; atau:

“Saya terdaftar dalam jemaat HKBP Simpang Limun Resort Medan-2”.

 

“Sebagai warga jemaat, saya berkewajiban mematuhi semua peraturan yang berlaku”.

“Untuk memulai responsoria ini, warga jemaat dipersilakan berdiri …”

 

Tak usah kecil hati. Aku pun tercerahkan saat mengikuti perkuliahan Pembangunan Jemaat di STT beberapa tahun yang lalu. Sebelum memulai pelajaran, pak dosen yang pendeta (atau pak pendeta yang dosen?) meluruskan pengertian tentang “jemaat” tersebut terlebih dahulu. Mengherankan, kami semua mahasiswa yang ditanyakan pemahamannya tentang istilah tersebut, kompak menjawab dengan pengertian yang salah!

Andaliman-09: Khotbah 22 Februari 2009 Minggu Estomihi

the-kingdom-benteng1

Dia-lah benteng pertahanan, jadilah murid Kristus dengan segala konsekuensinya, dan berserulah kepada-Nya dengan iman teguh yang berasal dari pendengaran akan firman!

 

Nas Epistel: Roma 10:13-21

Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata: “Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?” Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. Tetapi aku bertanya: Adakah mereka tidak mendengarnya? Memang mereka telah mendengarnya: “Suara mereka sampai ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi.” Tetapi aku bertanya: Adakah Israel menanggapnya? Pertama-tama Musa berkata: “Aku menjadikan kamu cemburu terhadap orang-orang yang bukan umat dan membangkitkan amarahmu terhadap bangsa yang bebal.” Dan dengan berani Yesaya mengatakan: “Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak mencari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku.” Tetapi tentang Israel ia berkata: “Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada bangsa yang tidak taat dan yang membantah.”

Nas Evangelium: Markus 8:31-38

Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia. Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.”

 

Minggu ini terasa sangat istimewa bagiku. Namanya Estomihi, yang artinya ”sai Ho ma gabe partanobatoanku” yang secara harfiah diartikan sebagai ”jadilah Engkau kubu pertahananku selalu” yang dipetik dari Mazmur 31:3b. Luar biasa! Perkataan tanobato adalah sesuatu yang telah lama ”menyihirku” alias menginspirasiku, sehingga sampai menamai situs ini dengan kata itu. Hanya Tuhan-lah benteng pertahananku …

 

Ev menceritakan tentang murid-murid yang mendengar pemberitahuan kedua dari Yesus tentang penderitaan-Nya yang sudah akan tiba waktunya. Namun mereka masih belum mengerti apa maksudnya dan ke mana arah pembicaraan Yesus. Petrus – yang memang terkenal dengan spontanitasnya, terlebih bila menyangkut diri Yesus – segera ”membela” dan ”menegur” Yesus tentang ucapan-Nya yang dianggapnya tidak pantas. Garang juga si Petrus ini, berani-beraninya menegor Yesus. Aku pun seringkali melakukan seperti itu. Memosisikan diriku yang lebih tahu tentang kehendak Allah, sehingga ”menggiring” Tuhan agar sesuai dengan kehendakku. ”Tuhan, aku lebih tahu tentang hal ini. Dan inilah keputusanku yang pasti paling baik bagiku. Jangan sekali-kali berbeda dari apa yang aku minta ini. Ayolah, kabulkan saja.”.

 

Membela Yesus? Emang aku lebih hebat dari Dia? Jangan meniru orang-orang yang merasa dirinya paling bertanggung jawab terhadap agama dan atau ajaran-Nya sehingga mengklaim dirinya sebagai „tim pembela“. Padahal, apa iya, Tuhan perlu dibela?

 

Apa yang dilakukan Petrus sepertinya masih dilakukan oleh banyak orang. Mudah tersinggung bila menyangkut kehormatan Yesus, berjanji akan mengikuti dan membela-Nya sampai mati, walaupun kemudian terbukti menyangkali Yesus sampai tiga kali (walaupun sudah diperingatkan sebelumnya oleh Yesus …), dan pergi meninggalkan Yesus pada saat-saat terakhir menjelang penyaliban. Mudah menemukan contoh kontemporer saat ini. Tidak usah jauh-jauh. Itu diriku! Engkau juga?

 

Yesus juga menyampaikan tentang „harga sebagai murid“. Tidak mudah, kecuali melibatkan Tuhan di dalamnya. Ini mengingatkanku bahwa sebagai murid, kesulitan yang aku hadapi saat ini belum ada apa-apanya. Masih jauh di bawah harga yang harus aku bayar, karena Tuhan juga sudah membayarnya lebih mahal. Dan lunas, lho …!

 

Ada lagi, yaitu tentang kesaksian. Bagaimana aku menyaksikan Tuhan dalam hidup keseharianku. Malu sebagai pengikut Yesus? Tak sadar, aku sering melakukannya. Yang sederhana, misalnya tidak berdoa pada saat makan siang dengan kawan-kawan yang bukan Kristen. Apalagi dengan orang yang jenjangnya lebih tinggi, segan ah berdoa. Tapi, itu dulu, sekarang aku sudah berdoa setiap saat harus berdoa. Tanpa harus memandang dengan siapa aku saat itu. Memang tidak mudah,  tapi tetap harus dicoba.

 

Ep mengingatkanku tentang seruan kepada Tuhan untuk mendapatkan keselamatan. Menyambung Ep minggu lalu di mana kita diminta untuk mencari Tuhan selagi Dia masih bersedia untuk ditemui. Klop, ya! Serukan nama-Nya selagi Dia masih bersedia ditemui.  

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Kadangkala dalam hidup ini aku kehilangan fokus. Apa yang seharusnya menjadi prioritas, malah terabaikan. Ingin mengerjakan dan menyelesaikan banyak hal, malah menjadikan tidak mampu menyelesaikan satu hal saja pun. Aku telah mendengar firman (dan seharusnya menuruti dan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh), namun godaan kemegahan duniawi mengalihkan perhatianku untuk mencoba menjadi yang terbesar.

 

Firman Tuhan kali ini mengingatkanku akan beberapa hal berikut ini:

(1)    Layanilah jemaat sebagaimana layaknya melayani Tuhan, dan anggaplah semua itu sebagai sesuatu yang pantas dilakukan selaku pengikut (apalagi murid) Yesus. Belum ada apa-apanya kalau masih belum menjadikan nyawa sebagai taruhannya.

(2)    Dalam setiap gerak kehidupan, berseru akan nama-Nya untuk meminta pertolongan dan penyertaan.

(3)    Sampaikan firman (dan atau saksikan Dia dalam kehidupan keseharian …) kepada orang banyak agar semakin banyak yang percaya, dan diutus untuk penyebarluasan kerajaan. Namun, tetaplah harus hati-hati, jangan sampai semua itu mengarah pada kemegahan diri sendiri.

(4) Perbanyak membaca dan mendengar firman Tuhan sebagai suatu cara untuk menambahkan iman. Menjadikan firman Tuhan sebagai yang pertama dibaca, dan atau didengar, dan atau dilihat, tetap menjadi suatu tantangan berat yang harus diwujudkan sebagai salah satu resolusiku tahun 2009 ini.