Andaliman-8: Khotbah 15 Februari 2009 (Minggu Seksagesima)

gandum

Jatuh ke Mana: Pinggir Jalan, Tanah Berbatu-batu, Semak Duri, atau Tanah yang Baik? Carilah Tuhan dengan rancangan-Nya!

 

Nas Epistel: Yesaya 55:6-9

Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.

 

Nas Evangelium: Lukas 8:9-15

Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”

 

Kedua perikop ini mengingatkanku untuk selalu mencari Tuhan dan mempertanggungjawabkan benih firman yang telah disemai sejak pertama kali aku mendengarnya. Membaca sekilas pada perikop Ep di mana disebutkan bahwa mencari Tuhan adalah selagi Dia berkenan untuk ditemui, rada mengejutkan juga. Pemahamanku selama ini – yang mungkin juga adalah pemahaman banyak orang – Tuhan selalu bersedia ditemui kapan saja dan di mana saja. Aneh, ya? Namun, pengalaman Daud yang pernah ditinggalkan Allah pada saat dia melakukan dosa dan kejahatan, menjadi referensi yang melegakan. Manakala mengalami situasi yang ditinggalkan Tuhan, Daud akan memanggil pemain musik untuk menghiburnya dan “mengembalikannya” kepada Tuhan. Selain itu, menguatkanku dalam menjalani kehidupan saat ini yang banyak orang mendengungkannya sebagai tahun krisis (dan pikiran kita akan semakin mudah terpengaruh dengan membaca, melihat, dan mengakses media yang banyak sekali dengan gencarnya menyampaikan tentang gejala yang ditunjukkan oleh krisis global ini: PHK di mana-mana, perusahaan yang bangkrut, bahkan pagi ini aku mendengar dari seorang kawanku di kantor bahwa Minggu kemarin temannya yang anak Tuhan ditemukan mati tergantung karena bunuh diri yang diduga karena kesulitan ekonomi yang tak tertahankannya lagi …).

 

Tidak mudah, memang. Namun rancangan-Nya adalah yang terbaik, karena bukan rancangan kita. Aku menyadari, betapa banyak rancangan yang sudah aku buat sebaik mungkin (di pekerjaan maupun di kehidupan rumah tangga dan keluarga) ternyata tidak selalu efektif. Apalagi sebagai yang terbaik bagiku!

 

Sebagai pendengar firman, tanggung jawab dituntut dari diriku yang mengklaim sebagai orang yang sudah mendengarnya sejak lama dan membacanya berulang-ulang. Akan jatuh ke manakah firman itu? Tak ada pilihan, seharusnya tanah yang baik adalah pilihan satu-satunya!

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Menanggapi cerita dari kawanku sekantor tadi tentang kenalannya yang ditemukan mati gantung diri, aku menyampaikan rasa sangat prihatin. Almarhum adalah anak Tuhan (menurut beliau dengan melihat aktivitas almarhum di jemaatnya …), pebisnis dengan skala usaha yang tidak kecil; namun krisis yang melandanya membuatnya sangat kuatir karena harus membiayai kuliah anak-anaknya di Sekolah/Universitas Pelita Harapan. Hal yang sama mengingatkanku akan beberapa “peristiwa besar” di negara ini yang dilakukan oleh orang Kristen: bunuh diri satu keluarga, dan penembakan yang lalu diikuti dengan menembak diri sendiri yang diekspos media massa tahun lalu. Sangat memprihatinkan!

 

Teguran yang aku layak untuk mendapatkannya:

(1)   Sejauh mana keprihatinanku terhadap orang yang telah merasakan dampak krisis saat ini? Sebaliknya, bagaimana rasa syukurku kepada Tuhan untuk kehidupan yang masih aku dapatkan sejauh ini? Di jemaat kami – yang juga sedang digencarkan di jemaat-jemaat lain HKBP Distrik Jakarta – kegiatan menolong orang yang sulit dengan cara meminjamkan modal usaha (dinamakan Credit Union Modification alias CUM) adalah salah satu cara dalam mengekspresikan rasa syukur kepada Tuhan. Rasa pekaku akan hal ini semakin kuat dengan terlibat aktif di dalam mengurusi komunitas ini di jemaat kami. Patut jugalah engkau pertimbangkan untuk terlibat dalam kegiatan ini yang juga kemungkinan besar mulai digalakkan di jemaatmu. Jika masih belum pernah terdengar, tidak ada salahnya menjadi “peniup peluit” dengan menanyakannya kepada pemimpin jemaat.

(2)   Tentang firman yang ditabur dan jatuh ke beberapa tempat. Kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang menjadi fenomena sejak beberapa tahun belakangan ini, dapat dijadikan sebagai ilustrasi. Usai KKR, reaksi spontan peserta dapat disejajarkan dengan perumpamaan Yesus pada Ev di atas. Ada yang sangat semangat untuk bertransformasi, bersaksi dengan hidup yang baru, mendeklarasikan imannya dengan sangat ekspresif, menyesali kehidupan lamanya yang belum memuliakan Tuhan, berjanji untuk membawa jiwa-jiwa baru kepada Yesus, dan masih banyak lagi. Namun apa yang terjadi dengan berjalannya waktu? Tidak jauh berbeda dengan perumpaan Yesus di atas! Secara pribadi, aku tidak terlalu bersemangat untuk mengikuti KKR (dan dalam berbagai kesempatan memberitahukan alasannya kepada kawan-kawanku yang beberapa kali mengajakku untuk ikut). Menurutku KKR dibutuhkan hanya bagi orang-orang yang imannya masih sangat sering “on” dan “off”. Bergantian secara drastis dengan interval waktu yang sangat singkat. Memang, aku juga mengalami “on” dan “off” beberapa kali (dan itu adalah sesuatu yang lumrah dalam kehidupan), namun frekuensinya belum masuk kategori “sangat parah”. Partangiangan wejk (yang puji Tuhan, di tempat kami formatnya sekarang menjadi interaktif sehingga lebih menyenangkan …), ibadah Minggu, dan pembacaan firman yang diikuti oleh penghayatan yang mendalam, bagiku masihlah memadai. Yang aku kuatir jika KKR menjadikan “ketagihan”, apalagi jika figur pembawa firman yang menjadi prioritas dalam mengikutinya. Bisa berbahaya!

(3)   Aku tidak punya kemampuan yang cukup dalam memahami kehendak Tuhan dalam hidupku. Apalagi terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan dan tidak seusai dengan keinginanku. Kekalahanku dalam berbagai peristiwa kehidupan, akhirnya memaksaku untuk sadar bahwa aku tidak ada apa-apanya. Kini, setiap pagi dalam perjalanan menuju tempat kerja selalu aku sempatkan berdoa:” … bentuklah aku seturut dengan kehendak-Mu, kepekaan mengetahuinya, dan ajari aku menjalankannya dengan taat, tunduk, dan patuh pada pimpinan-Mu …”.

(4)   Memang perumpamaan Yesus di atas memberikan berbagai “pilihan”, namun aku dengan tegas harus menjatuhkan pilihan untuk menjadi tanah yang baik. Bukan yang lain. Aku mengharapkan hal yang sama denganmu, dan juga kawan-kawan kita yang lain …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s