Telepon Seluler (Ponsel) Anakku Auli

Tak terasa, ternyata telepon seluler (ponsel) Nokia 6820 yang aku pakai sudah lima tahun dengan setia menemaniku sebagai alat komunikasi. Banyak peristiwa yang sudah kami jalani bersama. Banyak hp-aulipula catatan dan rekaman yang berharga yang tersimpan di dalamnya, berupa pesan pendek (sandek = short message service – SMS), foto, dan video. Peristiwa sukacita maupun tragedi keluarga dan kehidupan ada di sana. Dan aku sangat menyukainya dan bangga memilikinya. Jarang berulah, kecuali baterenya yang sangat cepat habis alias low batt. Itu pun aku bisa memakluminya, karena faktor usia.

Kalau teman-temanku sudah gonta-ganti ponsel (bahkan ada yang mengoleksi lebih dari satu sesuai dengan jumlah penyedia jaringan yang menawarkan berbagai kemudahan dan harga murah), aku setia terus dengannya dan nomor yang tidak pernah berubah bertahun-tahun. Hingga Sabtu, 14 Maret 2009 yang lalu, isteriku menjadi “tidak sabaran” untuk menggantinya setelah berkali-kali menyarankan untuk menggantikan dengan yang lebih “representatif”. Terus terang, selama ini aku kepingin memiliki sesuatu yang baru, namun sesering itu pula timbul fikiran bahwa terlalu mahal mengeluarkan uang berjuta-juta (kalau menggunakan kata ini terkesan jumlah yang banyak, ‘kan?) untuk sebuah ponsel. Masih ada yang lebih penting untuk dibeli daripada sekadar ponsel.

Semula, ponsel tersebut akan “diwariskan” kepada Dadang, supir keluarga kami sebagai pengganti ponsel yang pernah kami sediakan yang hilang di kamar indekosnya. Ternyata Auli, puteri kami satu-satunya sangat menyukai ponsel itu dan segera menyampaikan keinginannya untuk segera memilikinya. Memang di dalamnya tersimpan rekaman foto dan video yang merekam berbagai peristiwa yang melibatkan dirinya selama empat tahun tersebut. Tak punya rencana memberikan ponsel bagi anak SD kelas satu seusia Auli, tetapi ucapannya membuyarkan semuanya: “HP-nya jadi hadiah ulang tahun papa buat Auli. Tapi harus dihiasi supaya jadi cantik …”.

Jadi, kami pun beranjak dari gerai Nokia dengan N95 yang baru dibeli secara kredit untukku di Mal Kelapa Gading menuju ITC Cempaka Mas untuk menghiasi ponsel yang sudah bepindah tangan menjadi milik Auli. “Di Gramedia mahal, kita ke ITC aja. Di sana banyak pilihan”, kata isteriku menyarankan. Dan itu terbukti, setelah mencari dengan bertanya kepada beberapa gerai ponsel, akhirnya ponselnya berubah wujud menjadi sangat cantik. Warna merah muda, baik casing maupun tali gantungannya. Beberapa kali hatiku sempat “ciut” setiap kali pemilik gerai mengatakan tidak memiliki casing yang sesuai untuk tipe ponsel seperti itu (karena sudah model lama …). Juga ketika pengunggah (up-loader) menyatakan ketidaksanggupannya untuk memindahkan beberapa jenis permainan (games) karena jenis ponsel seperti itu sudah tidak memiliki format untuk mengunduh (download) permainan yang sesuai permintaan Auli. Dalam hati aku berharap jangan sampai itu semua mengecilkan hati Auli sambil aku berjanji akan membelikannya yang terbaik pada saat ponsel menjadi kebutuhan pada usianya kelak. Puji Tuhan, akhirnya ada juga yang mampu meng-copy permainan ke ponsel Auli. Lengkaplah sudah. Langkah selanjutnya adalah pemberitahuan nomor Auli kepada kerabat terdekat. Ompung-nya adalah orang yang pertama ditelepon Auli, lalu menyusul yang lain.

Dalam perjalanan pulang, sangat terasa sukacita yang melimpah pada diri Auli. Sampai hari ini dia akan selalu membawa ponsel itu ke mana pun dia pergi, kecuali ke sekolah karena memang dilarang oleh peraturan.

Setiap kali memandang ponsel tersebut, aku kembali menyadari bahwa nilai sesuatu barang itu sangat tergantung pada sejauh mana dan setinggi mana kita bisa mengukurnya (dan menghargainya!). Dengan menambah sentuhan sedikit, sesuatu bisa menjadi lebih bernilai.

Begitu juga dengan iman kita. Kalau kekristenan dengan ajaran yang kita imani tidak kita posisikan lebih istimewa dibandingkan dengan ajaran lainnya, kualitas ibadah kita tidaklah akan menjadi lebih baik. Berpotensi akan menjadi sekadar ritual dalam hidup. Kesulitan dalam hidup, cobaan, dan keberhasilan mengatasi godaan dan gangguan lainnya, akan menjadikan iman percaya kita menjadi semakin kokoh. Dan kehadiran Tuhan dengan pertolongan-Nya akan semakin bernilai. Selanjutnya, tinggal bagaimana kita menyaksikannya dalam hidup.

Iklan

Selamat Ulang Tahun, Auli …

tiup-lilin

Hari ini, salah seorang dari tiga perempuan perkasa dalam hidupku berulang tahun ke tujuh. Tak terasa, betapa cepatnya waktu berlalu. Selama itulah ternyata Tuhan menitipkan seorang anak bagi kami yang menjadi tambahan sukacita bagi kami. Yang juga menyadarkanku betapa ajaibnya campur tangan Tuhan dalam proses yang melibatkan manusia.

Setiap pagi, sesaat menjelang tiba di kantor, aku selalu mendaraskan doa bagi banyak orang. Salah satunya adalah untuk Auli, bidadari kecil satu-satunya di rumah yang sekarang beranjak memasuki tahapan baru dalam kehidupannya. Aku selalu berterima kasih atas kehadirannya yang memberikan banyak perbedaan dalam hidupku. Juga memohon pertolongan Tuhan untuk membesarkannya, memberikan yang terbaik baginya, agar bisa tumbuh dan berkembang, sehat jasmani dan rohani, mental spiritual, dan menjadi anak yang takut akan Tuhan yang menjadi kebanggaan dan kemuliaan Tuhan.

Salamat ulang taon, boru hasian. Debata ma na sai tongtong mandongani ho saleleng ngolum …

Andaliman-15 Khotbah 05 April 2009 Minggu Palmarum

king-of-kings-280309

Pujilah Tuhan! Hanya Dia saja yang layak disembah.

 

Nas Epistel: Wahyu 19:6-10

Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: “Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja. Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!” (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.) Lalu ia berkata kepadaku: “Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba.” Katanya lagi kepadaku: “Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah.” Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: “Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah! Karena kesaksian Yesus adalah roh nubuat.”

Nas Evangelium: Mazmur 99:1-7

TUHAN itu Raja, maka bangsa-bangsa gemetar. Ia duduk di atas kerub-kerub, maka bumi goyang. TUHAN itu maha besar di Sion, dan Ia tinggi mengatasi segala bangsa. Biarlah mereka menyanyikan syukur bagi nama-Mu yang besar dan dahsyat; Kuduslah Ia! Raja yang kuat, yang mencintai hukum, Engkaulah yang menegakkan kebenaran; hukum dan keadilan di antara keturunan Yakub, Engkaulah yang melakukannya. Tinggikanlah TUHAN, Allah kita, dan sujudlah menyembah kepada tumpuan kaki-Nya! Kuduslah Ia! Musa dan Harun di antara imam-imam-Nya, dan Samuel di antara orang-orang yang menyerukan nama-Nya. Mereka berseru kepada TUHAN dan Ia menjawab mereka. Dalam tiang awan Ia berbicara kepada mereka; mereka telah berpegang pada peringatan-peringatan-Nya dan ketetapan yang diberikan-Nya kepada mereka.

Sesuai namanya, yaitu Mare-mare atau Palmarum, yang diambil dari peristiwa Yesus disambut ketika memasuki Yerusalem; saat di mana orang banyak mengelu-elukan nama-Nya dengan membentangkan jubah di jalan yang akan dilalui-Nya dan melambai-lambaikan potongan daun pohon palma. ”Tradisi palma” yang sampai sekarang juga masih dianut oleh masyarakat bangsa kita dengan menggunakannya sebagai hiasan di gerbang dan atau pintu masuk suatu tempat perayaan sukacita.

Penglihatan Yohanes-lah yang dicatat dalam Kitab Wahyu yang menjadi perikop Ep kali ini. Sebagaimana sering diumpamakan oleh Yesus dalam Injil, analogi perkawinan di mana Yesus diumpamakan sebagai mempelai perempuannya. Perjamuan perkawinan Anak Domba adalah peristiwa sukacita, dan orang-orang percaya yang berkemenangan (yang setia sampai mati) diundang untuk menghadirinya. Bagi orang yang mengalami penganiayaan, itu berarti upah kesetiaan kepada Kristus. Bagi yang lain, undangan akan diberikan jika mereka bertobat.

Ada yang menarik ketika Yohanes tersungkur hendak menyembah malaikat yang mendampinginya. Sang malaikat menolak dengan mengatakan bahwa dia adalah juga hamba, sama seperti Yohanes dan orang-orang yang bersaksi tentang Kristus. Luar biasa! Malaikat saja – sebagai ”ring satu” Tuhan – masih punya kerendahan hati dengan menyamakan dirinya dengan hamba, apalah aku ini dibandingkan dirinya, ataupun Yohanes. Tamparan yang menempelak untuk mengingatkanku untuk merendahkan diri (tepatnya: merendahkan hati …).

Sejalan dengan Ep, Mazmur yang menjadi perikop Ev kembali menegaskan ke-raja-an Allah di muka bumi. Dia-lah yang berkuasa atas segalanya, dan semua makhluk dan ciptaan-Nya tunduk kepada-Nya. Menyambung perikop Minggu yang lalu yang menyerukan pembelaan dari Tuhan, Ev ini juga mengingatkan tentang keadilan-Nya. Kebenaran dan hukum yang mutlak hanya ada pada-Nya. Lalu, kenapa pula aku tidak memercayainya sungguh-sungguh? Dalam beberapa hal, iman yang aku miliki masih memerlukan ”pendampingan” dari kuasa duniawi yang aku kira akan membuatnya menjadi ”klop”. Puji Tuhan, teguran ini membawaku kembali kepada pimpinan Tuhan sepenuhnya. Dan selalu memohon petunjuk-Nya untuk apa yang aku harus lakukan untuk mengetahui apa yang menjadi kehendak-Nya. Untuk setiap persoalan dalam hidup. Tanpa lupa selalu memuji-Nya.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Bayangkan kita sedang berada di keramaian orang-orang yang sedang menyambut kedatangan Yesus yang menunggangi keledai betina muda. Kerumunan (= crowded, yang menurut ahli sosiologi akan menghilangkan kesadaran individual untuk mengikuti semangat yang tercipta dan aspirasi dari kerumunan tersebut) akan membawa kita untuk ikut meneriakkan pujian pada-Nya: ”Hosana, terpujilah Tuhan sang raja! Hosana!”.

Waspadai motivasi kita. Mau ikut, atau hanya sekadar ikut-ikutan? Nyata benar beda pengertian antara keduanya! Engkau ada di barisan mana?

Di jemaat kami saat ini sedang gencarnya dilakukan persiapan untuk perayaan Paskah. Sudah dimulai sejak beberapa minggu lalu dengan berbagai kegiatan yang diinisiatifi oleh kaum perempuan. Ada bazaar makanan di mana kaum perempuan menjual lauk di dekat pintu masuk bangunan gereja setiap Minggu, per porsi Rp 50.000,-. Lalu menjual payung (payung Paskah, katanya …). Nanti ada lagi pembatas Alkitab (tepatnya penanda ayat bacaan Alkitab). Pada partangiangan wejk diadakan juga kolekte khusus. Ada juga – ini yang sudah berlangsung lama di hampir semua jemaat HKBP – tekenles (= teken lijst). Puji Tuhan, semua aku upayakan untuk berpartisipasi sesuai dengan kesadaran yang ada padaku. Engkau juga mungkin mengalami hal yang sama, atau paling tidak, miriplah (bukankah HKBP memiliki banyak persamaan dengan semua jemaatnya di seluruh dunia?). Tradisi yang sama yang dimiliki oleh gereja-gereja lainnya juga.

Oleh sebab itu, inilah saatnya untuk menguji diri kita, apa yang menjadi pendorong dalam mengikuti semua kegiatan itu. Harapanku, motivasinya adalah positif, yaitu memuji Tuhan dan menyembah-Nya sebagai satu-satunya oknum yang layak disembah. Bukan sekadar ikut, apalagi ikut-ikutan! Bah, janganlah seperti itu …

Bika Ambon untuk Penubruk Mobilku

bika-ambon

Jumat dua minggu yang lalu tepatnya 06 Maret 2009, saat memasuki pintu tol Lenteng Agung sepulang dari kantor. Saat antri untuk mengambil dan membayar karcis tol di gardu, tiba-tiba terdengar suara benturan dari belakang dan terasa benturan pada mobil yang aku tumpangi. Menengok ke belakang, ternyata mobilku ditabrak dan bumper belakangnya masih menempel pada bumper depan mobil penabrak. Dadang, pengemudi yang selalu setia mengantarkan ke mana pun aku pergi, segera turun untuk memeriksa kondisi mobil. Tak lama kemudian melapor, “Nggak apa-apa koq mobilnya, pak”. Tidak terlalu percaya, lalu aku ikut turun memeriksa. “Ini bukan ‘nggak apa-apa namanya, Dang. Lihat bumpernya sampai turun begini. Dan ini penyok, kan?”. Aku lihat mobil penubruknya: pelat merah, dan tidak ada reaksi pengemudinya untuk turun. Karena sedikit jengkel – dan mobil-mobil yang ‘ngantri lainnya mulai membunyikan klaksonnya – aku langsung saja berteriak ke arah penubruk :”Hei, turun dong. Nabrak koq malah tenang-tenang aja …”. Namun alangkah menyesal dan merasa bersalahnya aku saat mengetahui bahwa pengemudinya yang kemudian turun dari moblinya adalah seorang tua setengah baya. Mungkin karena merasa salah, sehingga takut untuk turun dari mobilnya sebelum aku teriaki.

Setelah mereda alias cooling down, lalu aku berkata: ”Bapak sudah salah menabrak mobil saya. Apapun alasannya, bapak harus bertanggung jawab. Jangan malah di mobil saja. Harus turun, pak”. Setelah mencobajelaskan bahwa beliau lepas kendali sehingga salah menginjak rem, akhirnya menawarkan mau dibawa ke bengkel mana. Karena aku sudah ditunggu pada suatu pertemuan keluarga – ditambah suara klakson yang semakin ribut karena terjadi kemacetan – akhirnya beliau mengatakan, ”Ini kartu nama saya. Hubungi saya saja nanti untuk kelanjutannya.”. Karena merasa bagian dari tanggung jawabnya, dengan cepat Dadang menyambar  kartu nama tersebut lalu kami beranjak pergi.

Dalam perjalanan, perasaanku berkecamuk. Rasa bersalah untuk dua hal: berlaku tidak sopan pada orangtua dengan berteriak memanggil dan “kemudahan” penyelesaian dengan hanya selembar kartu nama. Begitu sampai di rumah salah seorang keluarga yang sudah menunggu kedatanganku dari tadi (sebelumnya aku sudah menelepon mengatakan akan terlambat karena kejadian ditubruk tadi), ada yang ‘nyelutuk, ”Sudahlah ito, kalau begitu. Tak usahlah disesali, apalagi yang menabrak adalah orangtua. Kasihan. Mobilmu diasuransikan, ‘kan? Anggaplah kau menyumbangnya dengan membayar klaim asuransi yang tetap harus kau bayar”.

Senin pagi, setiba di kantor aku langsung menelepon sesuai nomor yang sempat aku catat. Dengan memperkenalkan diri sebagai orang yang ditubruk minggu lalu, aku menanyakan kabarnya dan di mana posisinya saat itu. Karena dijawab sedang menyetir, aku bilang nanti saja aku telepon lagi. Sebagai orang yang ditunjuk sebagai kordinator keselamatan mengemudi, tentu saja aku harus terapkan pengetahuan yang aku dapatkan bahwa dilarang berkomunikasi dengan telepon selular saat mengemudi. Kalau memang penting dan harus menerima panggilan telepon, pemgemudi diharuskan menepikan kendaraannya dan berhenti untuk bisa berbicara dengan leluasa.

Selasanya kemudian, aku menghadiri rapat di kantor wilayah di Rawamangun. Mengira lokasinya berdekatan, aku minta Dadang untuk menjumpai sang penubruk sesuai alamat yang tertera di kartu namanya (yang sampai sekarang masih dipegang oleh Dadang). Tak lupa aku mewanti-wanti: ”Jangan memaksa meminta uangnya. Beritahu saja bahwa biaya asuransi minimal untuk klaim kecelakaan lalu lintas adalah tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Terserah berapa nanti yang akan dikasih, terima aja.”. Lalu aku beranjak menuju ruang rapat karena waktunya sudah hampir tiba untuk dimulai.

Malam hari usai rapat dan akan pulang ke rumah, aku pun tidak menanyakan kepada Dadang karena aku menangkap kesan diapun tidak terlalu bersemangat. Malah aku menduga, dia tidak jadi menjumpai penubruk tersebut karena pagi tadi dia sempat berujar, ”Saya tidak terlalu yakin dengan alamatnya ini, pak. Belum pernah saya ke daerah Kampung Lembur situ.”.

Sampai di rumah alangkah kagetnya aku ketika Dadang menyerahkan amplop dengan uang lima ratus ribu rupiah di dalamnya. Sambil menceritakan perjalanannya menemui penubruk tadi pagi dengan mengatakan, ”Bapak itu tadi ada bilang kenapa ketemuannya dengan bapak dalam kejadian tubrukan. Alangkah baiknya kalau bisa bertemu dengan bapak dalam suasana yang lebih baik. Dinasnya di Diklat Depnaker ”, Dadang juga mengatakan bahwa kalau diperbaiki di bengkel yang sederhana, ongkos perbaikannya juga ‘nggak semahal kalau dibawa ke bengkel resmi yang ditunjuk asuransi. Artinya tidak sampai tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Aku bilang, tetaplah dibawa ke asuransi sesuai ketentuan yang berlaku di perusahaan. Namun, kalimat yang disampaikan Dadang menjadi catatan tersendiri bagiku.

Begitulah, akhirnya mobil diperbaiki oleh bengkel resmi yang ditunjuk oleh asuransi. Selasa kemarin sepulang tugas dan cuti di Medan, saat di bandara Polonia aku sempatkan membeli dua kotak bika Ambon sebagai oleh-oleh. Begitu tiba di Jakarta, aku langsung meminta Dadang untuk mengantarkanku ke kantor tempat dia dulu menemui sang penubruk. Sengaja tidak memberitahu, aku baru menelepon ketika persis berada di depan ruangan kerja beliau. Kaget, beliau mengajakku masuk ke ruangannya dan ‘ngobrol-‘ngobrol sejenak. Dan kembali meminta ma’af atas kelalaiannya sehingga menubruk mobilku dari belakang.

Merasa sudah cukup berkenalan dan karena hari menjelang malam, lalu aku berpamitan. Dan beliau mengantarkanku sampai pintu kantor untuk kemudian aku berjalan menuju halaman parkir yang luas untuk segera pulang ke rumah yang sudah aku tinggalkan hampir seminggu lamanya.

Oh ya, beliau adalah Drs. Made Pastika, MM. Pagi tadi tak lupa aku menyampaikan selamat hari raya Nyepi kepada beliau. Kiranya sukacita dan damai sejahtera turut menyertai beliau (dan kita semua) selalu …

Andaliman-14: Khotbah, 29 Maret 2009 Minggu Judika

andaliman-14-judika

Allah adalah pengharapan dan penyelamat (juga penyembuh) serta pembela yang adil. Ayo, jadikan Yesus sebagai model dalam kehidupan.

Nas Epistel: 1 Petrus 2:21-25

Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.

Nas Evangelium: Mazmur 43:1-5

Berilah keadilan kepadaku, ya Allah, dan perjuangkanlah perkaraku terhadap kaum yang tidak saleh! Luputkanlah aku dari orang penipu dan orang curang! Sebab Engkaulah Allah tempat pengungsianku. Mengapa Engkau membuang aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh? Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu! Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku! Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!

 

Luluhon ma ahu, ale Jahowa! atau Belalah aku, ya Tuhan!, itulah makna Minggu ini yang diberi nama Judika; yang dikutip dari Mazmur 43:1.

 

Setelah Minggu yang lalu diminta untuk selalu bersukacita, Ev Minggu ini berlanjut dengan berharap kepada Allah yang sumber sukacita. Semua kesukaran dan ketidakadilan dalam hidup dibawa kepada-Nya untuk mendapatkan pembelaan bagi yang terbuang dan diimpit musuh. Pemazmur berseru kepada Tuhan untuk melepaskan dirinya dari ketidaknyamanan tersebut. Sangat relevan dengan kondisi saat ini: ketidakdilan yang merajalela, kecurangan, penipuan – yang juga dilakukan oleh orang-orang terhormat yang tidak sepantasnya – impitan beban ekonomi dan kesulitan hidup. Kepada siapa lagi meminta pembelaan, selain kepada Tuhan?

 

Perikop Ep menggiring imajinasiku kepada suasana sidang abad-abad yang lalu di mana Yesus sebagai terdakwanya. Sidang yang tidak memenuhi banyak kriteria yang layak menjadikannya sebagai pengadilan (yang tidak terasa membawa kenangan pada hari-hari menjelang penyaliban-Nya). Dalam serba ketidakadilan tersebut – dicaci maki, difitnah, dihujat, disiksa dan dianiaya – Yesus melakukan sesuatu yang sangat berbeda: tidak membalas, bahkan tidak mengajukan pembelaan. Jawaban sekadarnya, sambil mengingatkan bahwa Bapa-lah yang punya kehendak atas segalanya. Pun ketika Pilatus menawarkan ”remisi”, Yesus tidak menanggapinya dengan memadai. Luar biasa! Memang, sebagian kalangan berpendapat bahwa hal tersebut menunjukkan kebodohan dan ketidakmampuan (sehingga tidak pantas dilakukan oleh orang sekaliber Tuhan …), namun bagiku ”diferensiasi” yang dilakukan Yesus menunjukkan bahwa posisinya sangat jauh di atas kemampuan manusia supra sekalipun !

 

Menyadari bahwa tidak usah mengharapkan keadilan dari manusia (yang ditunjukkan-Nya dengan menolak tawaran Pilatus), dan ketaatan-Nya pada Bapa sebagai hakim yang adil, menginspirasiku untuk melakukan hal yang sama. Jangan terlalu banyak berharap kepada manusia, melainkan kepada Allah saja. Jika berkenan, Dia punya banyak cara untuk menyatakan kehendak-Nya. Yang tentu saja dapat memakai siapa saja sebagai alat-Nya.

 

Ayat-24 adalah kalimat yang sangat menarik perhatianku. Dan sudah menjadi pergumulan bagiku dalam memahami tentang kesembuhan. Banyak buku penganut teologi sukses menjadikan ayat ini sebagai referensi untuk kuasa penyembuhan. Bahwa bilur-bilur Yesus di kayu salib telah menyembuhkan orang yang sakit. Bahkan ada seorang penginjil penganut teologi sukses tersebut mengklaim telah membuktikan kuasa ayat tersebut, dan mengklaim bahwa dia berhak mengklaim Tuhan untuk memberikan kesembuhan bagi orang-orang sakit yang didoakannya.

 

Pernah mengakuinya sebagai punya kuasa (firman Tuhan ya dan amin, ’kan?), dan mencobaterapkannya dalam hidupku. Bukan untuk kesembuhan orang, tapi aku memulainya dengan diriku sendiri. Puji Tuhan, sampai sekarang aku belum disembuhkan dari penyakit yang aku derita. Lho, koq …? Ya, iyalah … Ternyata Paulus juga (dengan duri dalam dagingnya …), memiliki penyakit fisik yang sering mengganggunya, namun Tuhan tetap tidak menyembuhkannya. Apalah aku ini bila dibandingkan dengan Paulus.

 

Ceritanya belum berakhir sampai di sini. Karena penasaran, aku mencari versi-versi Alkitab lainnya. Hampir semua memang menyatakan bahwa “kamu telah disembuhkan”. Dengan gaya bahasa yang berbeda, tentunya. Sesuai ajaran tersebut, itu menunjukkan tanda waktu yang telah lampau (past tense). Artinya, janji tersebut sudah terjadi (atau sudah lewat masa berlakunya alias kadaluarsa ..?). Bukan masih akan terjadi (future tense), alias masih sebatas harapan. 

 

Mari kita lihat beberapa versi yang mendukung hal tersebut:

Alkitab Kabar Baik BIS

Kristus sendiri memikul dosa-dosa kita pada diri-Nya di atas kayu salib, supaya kita bebas dari kekuasaan dosa, dan hidup menurut kemauan Allah. Luka-luka Kristuslah yang menyembuhkan kalian.

New King James Version

who Himself bore our sins in His own body on the tree, that we, having died to sins, might live for righteousnessby whose stripes you were healed.

The Message Bible

He used his servant body to carry our sins to the Cross so we could be rid of sin, free to live the right way. His wounds became your healing.

Alkitab Klinkert 1863

Maka Toehan sendiri soedah memikoel dosa kita dalem badannja di-atas kajoe, {Rom 6:11} sopaja kita-orang, habis mati bagi dosa, bolih hidoep bagi kabeneran; maka olih karna {Biloer= bekas sapoe} biloernja kamoe soedah disemboehken.

Alkitab Klinkert 1870

Maka Ija sendiri pon menanggoeng segala dosa kita dalam toeboehnja di-atas kajoe palang, soepaja, satelah soedah kita mati bagai dosa, bolih kita hidoep bagai kabenaran; dan olih karena segala biloernja kamoe disemboehkan.

 

Kutipan terjemahan Klinkert tersebut menyibak sedikit ”misterinya”. Tahun 1863 masih mencantumkan ”soedah”, namun pada tahun 1870 kata ”soedah” tersebut sudah dihilangkan. Nyata benar bedanya, ’kan?

 

Ma’af, secara personal aku masih ”meragukan” pengertian yang banyak dianut orang-orang saat ini. Jika menyamakan dengan pengajaran teologi sukses bahwa kesembuhan sudah di tangan, seharusnyalah sudah tidak ada lagi orang yang sakit pada saat ini. Cukup mengimani saja. Mudah. Mudah? Ah, ternyata tidak. Mau bukti? Ya, aku ini, dan Paulus. Kalau keimananku, bolehlah diragukan, karena belum sampai sebesar biji sesawi. Tapi Paulus, siapa yang berani mengatakan bahwa keimanannya masih diragukan? Lagian jangan lupa, bahwa Tuhan-lah pada akhirnya yang berkehendak.  

 

Ada referensi yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan ”sembuh” pada ayat tersebut adalah ”keselamatan”. Bagiku, ini lebih mudah diterima. Apalagi dengan melihat ayat-25 sebagai lanjutannya. Sangat jelas bila yang dimaksudkan adalah keselamatan. Keselamatan dari dosa, karena tradisi pada masa itu mempercayai bahwa sakit adalah akibat dosa.  

 

Lantas bagaimana dengan klaim kesembuhan yang terjadi dengan ”kuasa” ayat tersebut? Boleh terjadi, sebab oleh imannya, si sakit dan si pendo’a, dituntun untuk beroleh keselamatan. Nah, dengan keselamatan tersebutlah yang membawanya pada kesembuhan. Jangan lupa, kesembuhan adalah salah satu bagian yang tercakup dalam keselamatan; selain sukacita, damai sejahtera, kemerdekaan, dan hal-hal lainnya.

 

Lantas, bagaimana jika setelah dido’akan, ternyata seseorang yang sakit tidak menjadi sembuh dalam arti sehat bugar kembali, malah meninggal dunia? Jawabnya adalah: jika si sakit memiliki iman yang teguh, dia telah mendapatkan keselamatan dengan kematiannya. Bebas dari penderitaan sakit penyakit, dan mendapatkan upah atas imannya yang teguh. Kematiannyalah yang menjadi kehendak Allah, dan itulah yang terbaik (dan terindah baginya …) yang juga harus diimani bagi orang yang ditinggalkan. 

   

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Semua kita sangat menginginkan kesembuhan. Beberapa pendo’a memiliki ”kuasa penyembuhan”. Dan karya kesembuhan yang mereka lakukan menjadi saksi akan kuasa tersebut. Namun jangan lupa, bahwa semuanya itu masih tergantung pada kehendak Allah. Manusia hanyalah meminta, bukan yang menentukan. Apalagi sekadar minyak urapan. Itu ”hanyalah” media yang dipakai, bukan sebagai penyembuh. Jangan mau sesat karena penyataan sesaat!

 

Saatnya bagi kita untuk membantu meluruskan pengajaran tentang mujizat, kesembuhan, dan keselamatan.

 

Hidup kita mengalami pasang surut. Dalam kehidupan nyata, banyak hal yang masih mengimpit kita. Mencengkeram dengan sangat kuat. Dalam pekerjaan, besar kemungkinannya kita mengalaminya. Misalnya dengan latar belakang yang kita miliki sebagai kelompok minoritas (sudah Batak, puji Tuhan, Kristen pula’ …) sangat rentan mengalami diskriminasi. Oleh status tersebut, seringkali kita mengalami pengadilan. Bahkan pengadilan yang tidak adil!  

Namun, jangan kecil hati. Yesus juga mengalaminya. Bahkan lebih sakit daripada yang kita alami saat ini. Bagaimana Yesus menyikapinya, layaklah kita mengikutinya. Sebagai pengikut dan murid, kelayakan kita akan posisi tersebut ditentukan oleh sejauh mana kita mampu mengadopsi teladan yang telah ditunjukkan-Nya. Jadikan Yesus sebagai model dalam kehidupan. Dan Yesus pasti bersedia menjadi pembela kita. Pembela yang benar, bukan pembela yang cuma sekadar. Apalagi pembela yang bayar, karena kita tidak punya kemampuan membayar ”jasa” yang diberikan-Nya dengan harga yang pantas.