Andaliman-11 Khotbah 08 Maret 2009 Minggu Reminiscere

jonah

Bertobatlah, kasih setia-Nya masih lebih besar daripada hukuman yang pantas dijatuhkan bagi kita.

 

Nas Epistel: Yohanes 3:16-21

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.”

Nas Evangelium: Yunus 4:1-11

Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.” Tetapi firman TUHAN: “Layakkah engkau marah?” Yunus telah keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu. Lalu atas penentuan TUHAN Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu. Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu. Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.” Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawabnya: “Selayaknyalah aku marah sampai mati.” Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?”

 

Minggu ini diberi nama Reminiscere, yang artinya ’ingatlah akan kasih setia-Mu’ (dalam bahasa Batak disebutkan dengan ’sai ingotma angka denggan ni basa-Mu’). Perikop Ev menceritakan tentang Yunus yang protes kepada Tuhan karena membatalkan hukuman-Nya pada orang-orang Niniwe yang menjadi musuh bangsa Israel pada masa itu. Masih ingat Yunus? Ingatanku tentang orang ini tidak pernah lekang sejak mendengar cerita tentang dirinya pertama sekali ketika masih Sekolah Minggu. Imajinasi anak-anakku sulit membayangkan seorang manusia bisa ditelan seekor ikan raksasa dalam keadaan hidup berhari-hari dan dimuntahkan dalam keadaan sehat walafiat pula. Yunus yang semula mbalelo pada perintah Tuhan akhirnya malah dipakai Tuhan menjadi utusan-Nya (inilah ’uniknya’ Tuhan yang dapat memakai siapa saja untuk memberitakan kemuliaan-Nya, …). Daripada capek melayani protes Yunus, Tuhan mengajarinya dengan menumbuhkan pohon jarak yang rimbun dalam satu malam (alangkah ajaibnya Tuhan …), membiarkan Yunus menikmati keteduhannya, lalu mematikannya dalam waktu singkat. Lagi-lagi Yunus protes, “koq cuma sesingkat itu keteduhannya?“

 

Seperti Yunus, persoalan dasar yang seringkali aku alami adalah tidak terutama mengabdikan diri kepada kehendak Allah (tidak sensitif pada fakta bahwa Allah lebih berkehendak akan sesuatu yang mungkin saja berbeda dengan kehendakku) dan malah lebih kuatir kepada keamanan lahiriah (sebagaimana Niniwe adalah musuh bangsa Israel yang juga berarti bukan sekutu Yunus; demikianlah kecenderunganku memandang yang bukan kawan sebagai lawan …).

 

Ev ini juga mengingatkan bahwa kasih setia Allah adalah bagi semua orang (bukan hanya bagi bangsa Israel, melainkan bagi segala bangsa) yang mau berbalik meninggalkan perbuatannya yang jahat. Dan Tuhan menunjukkan kasih setia yang sesungguhnya dengan mengutus Yesus bagi semua orang yang percaya, sebagaimana dimaksudkan pada Ep kali ini. Kasih setia-Nya dinyatakan dengan arti kedatangan-Nya ke dunia ini yang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan menyelamatkannya. Sangat ’nyambung, ya.

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Ayat dalam Ep adalah salah satu yang sangat populer bagi komunitas orang-orang percaya, yakni Yohanes 3:16 dan seringkali dipakai untuk menunjukkan betapa besar kasih setia Tuhan kepada umat manusia. Aku memuji pembuat Almanak HKBP ini yang dengan “cantik“ menghubungkannya dengan kisah Yunus yang protes pada Tuhan karena kehendak-Nya yang tidak sesuai dengan kehendaknya. Padahal semula Tuhan memerintahkannya untuk memperingatkan bangsa Niniwe supaya bertobat dengan “ancaman“ hukuman dari Tuhan. Namun, saat Tuhan membatalkan hukuman-Nya karena melihat pertobatan Niniwe yang sungguh-sungguh, Yunus tidak siap menerima kenyataan tersebut. Aku juga mengalami hal yang sama: memohon sesuatu kepada Tuhan dengan keyakinan bahwa yang aku minta itu pasti sudah sesuai dengan kehendak Tuhan dan oleh sebab itu Tuhan harus mengabulkannya (siapakah aku ini sehingga bisa mengatur Tuhan agar sesuai dengan kemauanku?). Ketika kenyataannya permintaanku tidak dikabulkan, lalu aku protes pada-Nya:“kenapa sih permintaanku tidak dikabulkan?“. Kemudian Tuhan mengajariku di mana dalam perjalanan waktu kemudian terbukti bahwa ketidakterkabulannya doaku adalah yang terbaik bagi hidupku.

 

Dalam kehidupan gereja juga ada potensi “fenomena Yunus“ ini. Banyak orang mengabdi kepada “keberhasilan“ gereja, namun tidak sungguh-sungguh mengabdi kepada kehendak, rencana dan standar-standar khusus Allah. Lihatlah dengan mudah kita melihat di sekeliling kita betapa banyak gereja yang “sukses“ (punya jemaat yang bertumbuh secara kuantitatif dengan sangat cepat, harta yang melimpah sebagai sumbangan warga jemaat yang merasa terberkati oleh doa dan khotbah para pengerja) namun motivasinya kemudian berbelok sehingga fokusnya berubah dari Yesus menjadi fulus. Yang seharusnya menyampaikan pengajaran tentang apa yang seharusnya didengar oleh warga jemaat, berubah menjadi berkhotbah tentang apa yang enak didengar oleh jemaat.

 

Godaan itu dapat terjadi pada siapa saja, termasuk pada diriku. Pelayanan yang semula untuk unjuk kemuliaan nama-Nya, malah menjadi ajang “unjuk diri sendiri“. “Ini yang terbaik, program pelayanan hasil rancanganku. Kita harus melaksanakannya, supaya warga jemaat dapat melihat betapa seriusnya dan profesionalnya kita melayani dalam jemaat ini. Kita ahlinya dalam hal ini, bukan yang lain yang tidak punya pengalaman dan tidak pernah punya pengetahuan yang cukup tentang hal ini“. Dan ketika hasilnya mengecewakan – bisa saja karena Tuhan memang tidak menghendakinya karena motivasinya tidak sesuai dengan kehendak-Nya – lalu aku akan protes pada Tuhan. Padahal semuanya ’kan suka-sukanya Tuhan. Perkataan yang kedengarannya asal-asalan (dan seringkali dijadikan “kata pemutus“ oleh kami mahasiswa STT ketika “buntu“ dalam membahas sesuatu yang di luar batas pemikiran kami yang sekaligus juga mengingatkan kami hanyalah manusia biasa saja … Dan aku selalu tersenyum bilamana mendengar lagu anak-anak yang syairnya mengutip perkataan tersebut: “suka-suka-Mu, Tuhan …“.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s