Belajar Berenang dan Belajar dari Berenang: Habis Gelap Terbitlah Terang …

kolam-renang-1703091

Atas anjuran dokter spesialis rehabilitasi medik (yang aku sendiri belum pernah mendengarnya dan secara spontan menyampaikan keherananku tentang dokter spesialis jenis ini dengan langsung bertanya kepada sang dokter) di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading Jakarta, sejak tahun lalu aku mulai berenang. Kegiatan olah raga yang aku rasakan mahal harganya sejak dulu. Selain karena ketiadaan uang karena kehidupan orangtua yang pas-pasan, juga “efek“ keberhasilan dalam menanamkan pada fikiran bahwa berenang itu bukanlah suatu kebutuhan.

Waktu masih usia Sekolah Dasar di Medan, tidak terlalu jauh dari rumah orangtuaku ada sungai yang bernama Gedung Johor (sehingga di kalangan kami anak-anak dikenal dengan singkatan “Gedjor“); sebagian juga menyebutnya dengan “Gunjor“ (entah bagaimana, ada yang mengenalnya sebagai Gunung Johor). Belakangan – setelah beranjak dewasa – aku mengetahui nama resminya adalah Gedung Johor, yaitu suatu daerah yang terletak antara Titi Kuning dan Delitua dan Kampung Baru. Masa itu, kami berjalan kaki kalau mau berenang ke sungai itu. Hampir semua orangtua di kampung kami melarang anaknya untuk pergi berenang ke sungai, karena takut tenggelam. Namanya anak-anak, semakin dilarang malah semakin berhasrat untuk melanggarnya. Untuk menyiasatinya, kalau mau berenang, kami biasanya dari bubaran sekolah langsung pergi berjalan kaki ke sungai itu, tanpa pulang dulu ke rumah.

Yang aku ingat, tak sekalipun aku pernah berenang di situ. Takut dimarahi orangtua (walaupun berusaha menyembunyikan, tetap saja akan ketahuan kalau kami habis berenang, karena kulit kami akan menjadi seperti ”bersisik” …), aku hanya kebagian tugas menjaga baju kawan-kawan yang berenang yang biasanya diletakkan di atas batu atau di atas rumput di pinggir sungai.

Waktu usia SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), ada kewajiban berenang yang menentukan nilai mata pelajaran Olah Raga dan Kesehatan (biasanya disingkat dengan ”Orkes”). Tentu saja ada pengeluaran ekstra, paling tidak, untuk ongkos masuk ke kolam renang (waktu SMP namanya Aek Tio Tapian Nauli, waktu SMA di Paradiso Sisingamangaraja). Karena tidak mendukung, aku pun tidak rutin (hanya sesekali saja) ikut kegiatan berenang tersebut. Konsekuensinya adalah harus berupaya keras mengompensasi ketidakikutsertaan berenang dengan sub-mata pelajaran Orkes lainnya. Meskipun faktanya, guru Orkes sudah menetapkan sendiri bahwa nilai maksimum bagi murid yang tidak ikut berenang adalah enam! Ya, sudahlah … harus legowo juga, ’kan? Maka jadilah aku sebagai orang dewasa yang tidak bisa berenang.

Nah, ketika sang dokter menganjurkan untuk berenang sebagai bagian dari usaha pengobatan, aku pun harus menjalaninya. Sekarang situasinya berubah, berenang sudah menjadi kebutuhan. Yang paling senang mendengar kabar itu, tentu saja anakku si Auli. Sebelumnya dia berenang dengan mamanya, dan aku (karena tidak bisa berenang) hanya menemani. Biasanya kegiatan ke kolam renang kami lakukan Sabtu pagi. Kalau tidak ikut ’nyebur (biasanya ke tempat yang paling dangkal di mana anak-anak banyak bermain air), aku membaca buku di pinggir kolam. Namun sekarang – karena kebutuhan – mau tak mau harus berenang. Dan aku pun belajar sendiri, karena pelatih yang tersedia di kelab kebugaran (sport club) tempat kami jadi anggota, umumnya lebih mau mengajari anak-anak usia dini.

Dengan persiapan sekadarnya (karena tidak ada juga yang memberitahu), aku mulai dengan apa yang aku bisa sendiri. Karena mataku menjadi perih kena air, maka aku selalu menutup mata kalau sedang berupaya mengayunkan tangan dan kaki di permukaan air. Artinya, berenang dalam ”kegelapan”. Akibatnya adalah, aku selalu ragu (persisnya kuatir …) kalau-kalau sudah mendekati tembok pembatas. Supaya tidak terbentur, aku akan otomatis berhenti berenang pada jarak yang aku rasakan aman; sehingga jarak yang bisa aku tempuh hanyalah dua atau tiga meter saja. Dan itu berlangsung berbulan-bulan sampai suatu hari aku putuskan untuk berubah. Tidak sanggup menjalani hari-hari tanpa perkembangan yang berarti …

Aku beli kacamata yang dijual di konter yang ada di kolam renang (o ya, karena kebodohanku, sebelumnya aku berfikiran bahwa orang-orang memakai kacamata saat berenang itu hanyalah untuk gagah-gagahan …). Lalu aku pakai berenang. Ajaib! Hari itu aku mengalami kemajuan yang sangat signifikan! Ternyata, dengan membuka mata (dan meiihat ke dasar kolam yang ternyata mempunyai pemandangan yang indah dengan pantulan sinar mataharinya) dan melihat ujung kolam satunya sebagai titik yang harus aku sentuh (biasanya berupa tangga atau pegangan tangan lainnya), aku menjadi lebih percaya diri. Tidak akan mau berhenti sebelum aku berupaya maksimal untuk mencapai titik sasaran tersebut. Akibat lainnya, aku semakin bersemangat untuk datang ke kolam renang. Bahkan kalau ada kesempatan di luar Sabtu, pasti aku usahakan untuk berenang. Sekarang, jarak terjauh (yang memanjang, bukan yang melebar) sudah menjadi kegairahan tersendiri bagiku untuk menjajalnya. Berkali-kali.

Demikianlah juga kehidupan ini. Pada satu kesempatan, harus memutuskan untuk berubah. Tinggalkan semua di belakang. Berhenti sejenak, lihat situasinya, dan putuskan untuk maju. Jangan mau terbelenggu. Betapapun sulitnya, jika mempunyai sasaran dan tujuan yang jelas, kita tetap bersemangat untuk menjalaninya dan meraih apa yang menjadi tujuan hidup. Iman yang menjadi penerang untuk membawa kepada cita-cita tersebut. Yang mengarahkan untuk keluar dari keterbatasan yang sempat mengungkung. Dan menguatkan dalam menghadapi cobaan dan terpaan badai, sehingga tidak membuat patah semangat sehingga punya gairah untuk melanjutkan kehidupan. Benar juga analogi Yesus tentang terang (yang mempunyai kekuatan untuk mengalahkan kegelapan) dan yang meminta orang-orang percaya untuk menjadi terang. Betapa dahsyatnya terang itu, dan betapa nyata perbedaan yang dapat diciptakannya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s