Andaliman-14: Khotbah, 29 Maret 2009 Minggu Judika

andaliman-14-judika

Allah adalah pengharapan dan penyelamat (juga penyembuh) serta pembela yang adil. Ayo, jadikan Yesus sebagai model dalam kehidupan.

Nas Epistel: 1 Petrus 2:21-25

Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.

Nas Evangelium: Mazmur 43:1-5

Berilah keadilan kepadaku, ya Allah, dan perjuangkanlah perkaraku terhadap kaum yang tidak saleh! Luputkanlah aku dari orang penipu dan orang curang! Sebab Engkaulah Allah tempat pengungsianku. Mengapa Engkau membuang aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh? Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu! Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku! Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!

 

Luluhon ma ahu, ale Jahowa! atau Belalah aku, ya Tuhan!, itulah makna Minggu ini yang diberi nama Judika; yang dikutip dari Mazmur 43:1.

 

Setelah Minggu yang lalu diminta untuk selalu bersukacita, Ev Minggu ini berlanjut dengan berharap kepada Allah yang sumber sukacita. Semua kesukaran dan ketidakadilan dalam hidup dibawa kepada-Nya untuk mendapatkan pembelaan bagi yang terbuang dan diimpit musuh. Pemazmur berseru kepada Tuhan untuk melepaskan dirinya dari ketidaknyamanan tersebut. Sangat relevan dengan kondisi saat ini: ketidakdilan yang merajalela, kecurangan, penipuan – yang juga dilakukan oleh orang-orang terhormat yang tidak sepantasnya – impitan beban ekonomi dan kesulitan hidup. Kepada siapa lagi meminta pembelaan, selain kepada Tuhan?

 

Perikop Ep menggiring imajinasiku kepada suasana sidang abad-abad yang lalu di mana Yesus sebagai terdakwanya. Sidang yang tidak memenuhi banyak kriteria yang layak menjadikannya sebagai pengadilan (yang tidak terasa membawa kenangan pada hari-hari menjelang penyaliban-Nya). Dalam serba ketidakadilan tersebut – dicaci maki, difitnah, dihujat, disiksa dan dianiaya – Yesus melakukan sesuatu yang sangat berbeda: tidak membalas, bahkan tidak mengajukan pembelaan. Jawaban sekadarnya, sambil mengingatkan bahwa Bapa-lah yang punya kehendak atas segalanya. Pun ketika Pilatus menawarkan ”remisi”, Yesus tidak menanggapinya dengan memadai. Luar biasa! Memang, sebagian kalangan berpendapat bahwa hal tersebut menunjukkan kebodohan dan ketidakmampuan (sehingga tidak pantas dilakukan oleh orang sekaliber Tuhan …), namun bagiku ”diferensiasi” yang dilakukan Yesus menunjukkan bahwa posisinya sangat jauh di atas kemampuan manusia supra sekalipun !

 

Menyadari bahwa tidak usah mengharapkan keadilan dari manusia (yang ditunjukkan-Nya dengan menolak tawaran Pilatus), dan ketaatan-Nya pada Bapa sebagai hakim yang adil, menginspirasiku untuk melakukan hal yang sama. Jangan terlalu banyak berharap kepada manusia, melainkan kepada Allah saja. Jika berkenan, Dia punya banyak cara untuk menyatakan kehendak-Nya. Yang tentu saja dapat memakai siapa saja sebagai alat-Nya.

 

Ayat-24 adalah kalimat yang sangat menarik perhatianku. Dan sudah menjadi pergumulan bagiku dalam memahami tentang kesembuhan. Banyak buku penganut teologi sukses menjadikan ayat ini sebagai referensi untuk kuasa penyembuhan. Bahwa bilur-bilur Yesus di kayu salib telah menyembuhkan orang yang sakit. Bahkan ada seorang penginjil penganut teologi sukses tersebut mengklaim telah membuktikan kuasa ayat tersebut, dan mengklaim bahwa dia berhak mengklaim Tuhan untuk memberikan kesembuhan bagi orang-orang sakit yang didoakannya.

 

Pernah mengakuinya sebagai punya kuasa (firman Tuhan ya dan amin, ’kan?), dan mencobaterapkannya dalam hidupku. Bukan untuk kesembuhan orang, tapi aku memulainya dengan diriku sendiri. Puji Tuhan, sampai sekarang aku belum disembuhkan dari penyakit yang aku derita. Lho, koq …? Ya, iyalah … Ternyata Paulus juga (dengan duri dalam dagingnya …), memiliki penyakit fisik yang sering mengganggunya, namun Tuhan tetap tidak menyembuhkannya. Apalah aku ini bila dibandingkan dengan Paulus.

 

Ceritanya belum berakhir sampai di sini. Karena penasaran, aku mencari versi-versi Alkitab lainnya. Hampir semua memang menyatakan bahwa “kamu telah disembuhkan”. Dengan gaya bahasa yang berbeda, tentunya. Sesuai ajaran tersebut, itu menunjukkan tanda waktu yang telah lampau (past tense). Artinya, janji tersebut sudah terjadi (atau sudah lewat masa berlakunya alias kadaluarsa ..?). Bukan masih akan terjadi (future tense), alias masih sebatas harapan. 

 

Mari kita lihat beberapa versi yang mendukung hal tersebut:

Alkitab Kabar Baik BIS

Kristus sendiri memikul dosa-dosa kita pada diri-Nya di atas kayu salib, supaya kita bebas dari kekuasaan dosa, dan hidup menurut kemauan Allah. Luka-luka Kristuslah yang menyembuhkan kalian.

New King James Version

who Himself bore our sins in His own body on the tree, that we, having died to sins, might live for righteousnessby whose stripes you were healed.

The Message Bible

He used his servant body to carry our sins to the Cross so we could be rid of sin, free to live the right way. His wounds became your healing.

Alkitab Klinkert 1863

Maka Toehan sendiri soedah memikoel dosa kita dalem badannja di-atas kajoe, {Rom 6:11} sopaja kita-orang, habis mati bagi dosa, bolih hidoep bagi kabeneran; maka olih karna {Biloer= bekas sapoe} biloernja kamoe soedah disemboehken.

Alkitab Klinkert 1870

Maka Ija sendiri pon menanggoeng segala dosa kita dalam toeboehnja di-atas kajoe palang, soepaja, satelah soedah kita mati bagai dosa, bolih kita hidoep bagai kabenaran; dan olih karena segala biloernja kamoe disemboehkan.

 

Kutipan terjemahan Klinkert tersebut menyibak sedikit ”misterinya”. Tahun 1863 masih mencantumkan ”soedah”, namun pada tahun 1870 kata ”soedah” tersebut sudah dihilangkan. Nyata benar bedanya, ’kan?

 

Ma’af, secara personal aku masih ”meragukan” pengertian yang banyak dianut orang-orang saat ini. Jika menyamakan dengan pengajaran teologi sukses bahwa kesembuhan sudah di tangan, seharusnyalah sudah tidak ada lagi orang yang sakit pada saat ini. Cukup mengimani saja. Mudah. Mudah? Ah, ternyata tidak. Mau bukti? Ya, aku ini, dan Paulus. Kalau keimananku, bolehlah diragukan, karena belum sampai sebesar biji sesawi. Tapi Paulus, siapa yang berani mengatakan bahwa keimanannya masih diragukan? Lagian jangan lupa, bahwa Tuhan-lah pada akhirnya yang berkehendak.  

 

Ada referensi yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan ”sembuh” pada ayat tersebut adalah ”keselamatan”. Bagiku, ini lebih mudah diterima. Apalagi dengan melihat ayat-25 sebagai lanjutannya. Sangat jelas bila yang dimaksudkan adalah keselamatan. Keselamatan dari dosa, karena tradisi pada masa itu mempercayai bahwa sakit adalah akibat dosa.  

 

Lantas bagaimana dengan klaim kesembuhan yang terjadi dengan ”kuasa” ayat tersebut? Boleh terjadi, sebab oleh imannya, si sakit dan si pendo’a, dituntun untuk beroleh keselamatan. Nah, dengan keselamatan tersebutlah yang membawanya pada kesembuhan. Jangan lupa, kesembuhan adalah salah satu bagian yang tercakup dalam keselamatan; selain sukacita, damai sejahtera, kemerdekaan, dan hal-hal lainnya.

 

Lantas, bagaimana jika setelah dido’akan, ternyata seseorang yang sakit tidak menjadi sembuh dalam arti sehat bugar kembali, malah meninggal dunia? Jawabnya adalah: jika si sakit memiliki iman yang teguh, dia telah mendapatkan keselamatan dengan kematiannya. Bebas dari penderitaan sakit penyakit, dan mendapatkan upah atas imannya yang teguh. Kematiannyalah yang menjadi kehendak Allah, dan itulah yang terbaik (dan terindah baginya …) yang juga harus diimani bagi orang yang ditinggalkan. 

   

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Semua kita sangat menginginkan kesembuhan. Beberapa pendo’a memiliki ”kuasa penyembuhan”. Dan karya kesembuhan yang mereka lakukan menjadi saksi akan kuasa tersebut. Namun jangan lupa, bahwa semuanya itu masih tergantung pada kehendak Allah. Manusia hanyalah meminta, bukan yang menentukan. Apalagi sekadar minyak urapan. Itu ”hanyalah” media yang dipakai, bukan sebagai penyembuh. Jangan mau sesat karena penyataan sesaat!

 

Saatnya bagi kita untuk membantu meluruskan pengajaran tentang mujizat, kesembuhan, dan keselamatan.

 

Hidup kita mengalami pasang surut. Dalam kehidupan nyata, banyak hal yang masih mengimpit kita. Mencengkeram dengan sangat kuat. Dalam pekerjaan, besar kemungkinannya kita mengalaminya. Misalnya dengan latar belakang yang kita miliki sebagai kelompok minoritas (sudah Batak, puji Tuhan, Kristen pula’ …) sangat rentan mengalami diskriminasi. Oleh status tersebut, seringkali kita mengalami pengadilan. Bahkan pengadilan yang tidak adil!  

Namun, jangan kecil hati. Yesus juga mengalaminya. Bahkan lebih sakit daripada yang kita alami saat ini. Bagaimana Yesus menyikapinya, layaklah kita mengikutinya. Sebagai pengikut dan murid, kelayakan kita akan posisi tersebut ditentukan oleh sejauh mana kita mampu mengadopsi teladan yang telah ditunjukkan-Nya. Jadikan Yesus sebagai model dalam kehidupan. Dan Yesus pasti bersedia menjadi pembela kita. Pembela yang benar, bukan pembela yang cuma sekadar. Apalagi pembela yang bayar, karena kita tidak punya kemampuan membayar ”jasa” yang diberikan-Nya dengan harga yang pantas.

Iklan

2 comments on “Andaliman-14: Khotbah, 29 Maret 2009 Minggu Judika

  1. Syallom, saudaraku.
    Trimakasih kabar sukacitanya, aku mencari refrensi pelayanan n menemukan tulisan saudaraku.
    “Saudaraku, kita dulu bersama-sama bernyanyi n bersukacita di sorga, tetapi kita memilih turun kebumi untuk mendapat pembelajaran dan bila kita lulus dalam pembelajaran ini maka ia akan mengangkat kita menjadi soko guru (wahyu), n soko guru dapat mendampingi Allah yang maha kuasa tersebut menghakimi orang yang hidup dan mati.
    Bila saudaraku memiliki penyakit, ambillah itu sebagai pembelajaran, tetap setia, taat jangan pernah lepas dari Roh Kudus.hingga kelak layak dapat sertipikat menemani Allah (gelar Soko Guru). God Bless You Amin

  2. Jangan lupa, tetap setia n taat, menangkan pembelajaran ini, hati-hati godaan Iblis, Alkitab mencatat 2/3 akan musnah dibumi/ tidak dapat kembali ke sorga/siapkan tiket pulang. kita tetap bagian yang 1/3 ya saudaraku. sekalipun sakit, teruslah belajar dalam pembelajaran ini, minta pertolongan Roh Kudus, hanya dengan NYA kita dapat menang.Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s