Makassar, Aku Datang …

makassar-sultan-hasanuddin

Hari ini – sebagai bagian rangkaian tugas setelah tanggal 03 April yang lalu ke Surabaya – hari ini aku sedang berada  di Makassar. Ada beberapa kegiatan yang sudah aku jadualkan dan aku akan datang dengan artikel menariknya.

Selain hal lainnya, aku punya suatu kesukaan yang tidak dimiliki oleh banyak orang, yaitu mengunjungi situs sejarah. Dalam setiap kesempatan – terlebih saat bertugas di luar Jakarta – aku akan mencari kesempatan untuk mendapatkan informasi tentang hal-hal yang berbau sejarah; dan jika tersedia cukup waktu, aku pasti akan berupaya untuk mengunjunginya.

Ketika di Makassar kemarin – saat ini aku sudah kembali di Jakarta – aku sempat mengunjungi makam Sultan Hasanuddin, pahlawan nasional yang berjuang gigih sehingga Belanda menjulukinya sebagai “ayam jantan dari Timur”, yang nama beliau diabadikan sebagai nama bandara internasional di Makassar.  Pada komplek makam tersebut terdapat juga situs peninggalan tempat di mana Hasanuddin dilantik sebagai raja Gowa. Sangat sederhana, hanya terdiri dari tiga buah batu alam sederhana untuk menjejakkan kaki. Tidak dapat aku bayangkan suatu kemegahan jika dibandingkan pelantikan raja-raja dalam peradaban modern saat ini. Baik raja yang sesungguhnya (yang punya kekuasaan dan wibawa yang jelas …), maupun sekadar raja (yang hanya memiliki makna simbolis dan atau bahkan sesuatu “cagar budaya” yang harus dilestarikan …).

Ini termasuk yang paling baik yang pernah aku kunjungi untuk sebuah pemakaman kuno. Lokasinya yang sederhana ditata dengan baik dan sangat bersih. Dua orang “penunggunya” (ini manusia beneran, yakni petugas dari Dinas Purbakala) menjalankan fungsinya dengan baik. Penjelasan juga lengkap juga dapat mereka berikan. Bukan hanya tentang Sultan Hasanuddin, namun juga anak, ayah, kakek, dan raja-raja Gowa lainnya yang makamnya terawat dengan baik di komplek tersebut. Ada bekas lilin-lilin yang sudah mengecil dan padam, juga taburan bunga beragam warna, yang kelihatannya untuk mengantar do’a. Tak bisa aku bayangkan bagaimana mereka berdo’a di makam yang sangat sempit itu. Sangat sempit, karena pusara Hasanuddin – dan beberapa pusara lainnya – dilingkupi dengan menhir batu gunung yang arsitekturnya menyerupai candi Hindu, sehingga menyulitkan bagi orang yang ingin duduk pun harus merunduk karena plafon-nya yang sangat rendah.  

Ketika asyik mengamati dan memotret, salah seorang petugas bertanya kepada kawan yang mendampingiku, tentang siapa diriku ini. Dari kejauhan aku mendengar jawaban yang kira-kira disampaikan demikian: “Oh beliau orang Jakarta yang sedang bertugas di Makassar ini. Sebelum pulang ke bandara, tadi meminta saya untuk mengantarkan ke sini. Saya pun meski orang Makassar belum pernah berkunjung ke makam ini. Beliau orang Kristen dan Batak, yang saya tahu memang suka berkunjung ke tempat bersejarah. Bukan untuk ‘nyekar atau sembahyang, tapi untuk menikmati suasana dan menambah pengetahuan.”. Baguslah, sehingga aku tak perlu lagi menjelaskan motivasiku berkunjung …

Ada juga bangunan bekas istana Raja Gowa yang terletak 2 kilometer dari kompleks makam. Namun, karena ketatnya waktu aku terpaksa harus menunda ke sana. Dalam perjalanan ke bandara, aku berjanji akan datang nanti pada kesempatan yang akan datang dan mengambil cuti untuk dapat mengunjungi semua situs yang ada …

Namun ada yang membuatku kecewa. Foto-foto yang bagus yang aku sempat jepret, ternyata tidak dapat dibuka. Kesal juga dengan Nokia N95 yang baru satu bulan aku pakai ternyata performanya jelek. Karena tidak ingin kecewa – dan mengecewakan – aku segera ke Mal Kelapa Gading tempat pembelian ponselku itu. Setelah diperiksa sejenak, lalu petugas Nokia menganjurkanku ke Nokia Care di Mall of Indonesia (MOI) di sekitar Kelapa Gading juga. Sampai di sana, petugas Nokia Care menduga bahwa terjadi masalah dengan memory card ponsel tersebut, dan memintaku untuk datang kembali kemudian dengan membawa copy kuitansi pembelian dan kartu garansi. Memory card tersebut akan diformat-ulang (dengan resiko bahwa semua isinya akan hilang …). Untuk memperbaikinya dibutuhkan waktu dua minggu! Dua minggu? Alamak, selama itu? Aneh juga, untuk pengerjaan seperti itu saja dibutuhkan waktu yang sangat lama. Apa boleh buat, tak ada pilihan lain aku harus mengikuti sarannya. Aku jadi menyesal ketika beberapa hari yang lalu merekomendasikan kawanku seorang ekspatriat untuk menjatuhkan pilihan pada ponsel tipe ini, ketika menyadari bahwa kualitasnya tidak seperti yang aku bayangkan. Apalagi jika dibandingkan dengan betapa gencarnya Nokia saat memasarkan ponsel ini pada mulanya.

Mohon ma’af untuk ketiadaan foto-foto yang bagus yang bisa aku tampilkan mendampingi tulisan ini.

Iklan
By tanobato Posted in Umum Dengan kaitkata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s