Andaliman-23 Khotbah 31 Mei 2009 Minggu Pentakosta

Pentakosta (250509)

Satu dalam baptisan sebagai anak Allah sebagai wujud untuk mendapatkan keselamatan dari-Nya. Dan hanya satu kali baptisan, tidak ada baptisan-ulang! 

Nas Epistel: Yesaya 40:12-14

Siapa yang menakar air laut dengan lekuk tangannya dan mengukur langit dengan jengkal, menyukat debu tanah dengan takaran, menimbang gunung-gunung dengan dacing, atau bukit-bukit dengan neraca? Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat? Kepada siapa TUHAN meminta nasihat untuk mendapat pengertian, dan siapa yang mengajar TUHAN untuk menjalankan keadilan, atau siapa mengajar Dia pengetahuan dan memberi Dia petunjuk supaya Ia bertindak dengan pengertian? 

Nas Evangelium: Kisah Para Rasul 10:44-48

Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah. Lalu kata Petrus: “Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?” Lalu ia menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Kemudian mereka meminta Petrus, supaya ia tinggal beberapa hari lagi bersama-sama dengan mereka.

Ini tentang salah satu dari Trinitatis, yaitu Roh Kudus sebagai unsur Tritunggal. Dalam Ev diceritakan oleh Lukas – sang penulis kitab Kis menurut tradisi Gereja – pengalaman Petrus dengan keluarga Kornelius yang adalah non-Yahudi. Pada ayat-ayat yang mendahuluinya sudah disampaikan bagaimana Tuhan mengajarinya tentang sikap dalam menerima orang-orang non-Yahudi yang juga berhak akan keselamatan yang ditawarkan oleh Kristus.  Pada “pendahuluan” tersebut Petrus yang semula menolak perintah Tuhan untuk memakan sekumpulan daging hewan yang menurut tradisi Yahudi adalah haram untuk dimakan, yang menjadi sadar bahwa karya keselamatan harus disampaikan kepada segala bangsa. Bukan hanya pada bangsa Yahudi (golongan bersunat), melainkan juga kepada non-Yahudi (golongan tidak bersunat).

Belakangan ini aku beberapa kali mengikuti perdebatan antara penganut Kristen dengan golongan muslim yang menurut mereka Yesus datang ke dunia ini  hanyalah untuk orang-orang Israel (kadang-kadang mereka sebutkan sebagai “orang-orang Yahudi”). Golongan yang merasa dirinya memiliki pengetahuan yang memadai tersebut, berargumen dengan mengutip berbagai ayat Alkitab yang mengesankan seolah-olah pendapat mereka benar. Lalu “dibenturkan” dengan Alqur’an sebagai upaya memojokkan Kristen sebagai agama yang salah alias sesat. Seru juga. Sejak semula, aku memang sudah sampaikan kepada moderator bahwa jika didasari oleh motif untuk melihat perbedaan sebagai alat untuk menyalahkan dan menyesatkan orang lain, interaksi hanyalah akan menggiring pada perdebatan dan perselisihan. Setelah berlarut-larut – yang terus terang, acapkali membuatku tersenyum melihat pendapat-pendapat yang seringkali memang dipaksa-paksakan kecocokannya dengan pendapatnya sendiri … – aku tetap mampu mengambil hal positif: paling tidak, aku tahu bahwa ada golongan yang mulai menyukai belajar Alkitab. Tinggal menunggu saja kapan mereka mendapat pencerahan sehingga mendapatkan kepastian bahwa Alkitab adalah sungguh-sungguh benar.

Bagiku, sejak pertama kali membaca ayat dalam Alkitab ini langsung yakin bahwa aku juga berhak mendapatkan keselamatan. Bukan semata sebagai anak bangsa, melainkan sebagai anak Bapa yang beriman pada Yesus Kristus.

Ev ini menyatakan bahwa keluarga Kornelius langsung dicurahkan Roh Kudus sebegitu menerima dan menyatakan iman percaya mereka kepada Yesus. Mereka menerima pembaharuan hidup dari Kristus.    

Ada yang menarik. Keluarga Kornelius mengalami pencurahan Roh Kudus saat mendengar khotbah Petrus (ayat 44), lalu dibaptis (ayat 47). Pada pemahaman yang biasanya terjadi adalah dibaptis terlebih dahulu lalu Roh Kudus dicurahkan. Bagaimana ini? Pertanyaan “nakal” yang patut diajukan saat diskusi tentang perikop ini ketika partangiangan wejk nanti …

Berbicara tentang Roh Kudus seolah tidak ada habisnya. Berbagai pandangan yang cenderung berbeda antara satu golongan dengan golongan lain acapkali terjadi. Yang aku maksudkan bukan hanya antar-golongan-agama sebagaimana pada paragraf di atas, namun terjadi juga pada internal Kristen. Dengan intensitas yang cenderung meninggi dari waktu ke waktu. Semakin banyak buku yang aku baca, semakin banyak pula perbedaan pendapat yang aku temui. Mana yang benar?

Ternyata Tuhan punya banyak cara. Pengetahuan, daya pikir, dan kemampuan manusia yang terbatas tidak akan mampu memahami semua tentang Tuhan yang tidak terbatas. Dan perikop Ep kita minggu ini menegaskannya dalam ayat 13 dan 14: “Siapa yang dapat mengatur Roh Tuhan atau memberi petunjuka kepada-Nya sebagai penasihat? Kepada siapa Tuhan meminta nasihat untuk mendapat pengertian, dan siapa yang mengajar Tuhan untuk menjalankan keadilan, atau siapa mengajar Dia pengetahuan dan memberi Dia petunjuk supaya Ia bertindak dengan pengertian? Menurutku, adakalanya aku harus melakukan sesuatu sebagai perintah Tuhan tanpa harus mempertanyakannya …

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Percakapan tentang Roh Kudus adalah salah satu hal yang tetap menarik untuk dibahas. Dengan segala “pernak-pernik” yang mengikutinya. Beberapa hal yang mungkin masih menarik bagi kita untuk didiskusikan, antara lain:

–        Bagaimana Roh Kudus dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru?

–        Siapa saja yang berhak memperoleh pencurahan Roh Kudus? Apa syaratnya?

–        Mana yang lebih dulu: baptisan atau pencurahan Roh Kudus?

–        Apa pula itu bahasa Roh?

Kita jangan mau terombang-ambing tentang baptisan ini. Hanya ada satu baptisan, yakni yang dilaksanakan di dalam nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Tidak ada baptisan ulang!

Sebagai pelayan di jemaat, pengetahuan akan Roh Kudus yang menjadi dasar pengajaran kristiani, tetaplah harus kita pahami. Hal ini sangat dibutuhkan untuk membekali diri dan membekali warga jemaat tentang seputar hal yang berhubungan dengan ini. Ajaran Tritunggal seringkali dijadikan sasaran empuk bagi golongan tertentu untuk memojokkan umat Kristiani dalam setiap kesempatan yang ada. Namun, bukan itu yang utama. Pengetahuan tentang apa yang kita yakini, pastilah akan mampu dalam menguatkan iman kita. Meskipun dalam berbagai hal – sebagaimana yang aku sudah sebutkan di atas – adakalanya kita melaksanakan perintah Tuhan tanpa harus mempertanyakannya.

Mobil untuk Pengantar Pengantin

Mobil untuk Pengantin (250509)

Beberapa tahun belakangan ini, setiap mobil kantor yang sedang dipercayakan padaku untuk menggunakannya selalu mendapat kesempatan untuk membawa pengantin. Waktu masih di Medan, membawa mitra kerja yang menikah setelah umurnya lumayan banyak baru mendapat pria pendamping hidupnya. Selain itu, ada juga kawan akrabku sejak anak-anak yang menikah dengan kawan se-NHKBP juga. Lalu waktu masih bertugas di Palembang, aku tawarkan untuk menggunakan mobilku saat adikku si bungsu menikah di Medan sehingga kami bertiga (aku, Auli yang saat itu baru berumur kurang dari setahun, dan mamaknya)  melakukan perjalanan trans-Sumatera. Dan pagi ini, mobilku dipakai untuk membawa pengantin yang prianya (sudah berumur juga …) adalah lae dari tulangku. Subuh tadi Dadang sudah berangkat ke rumah pengantin pria di Bekasi sebagaimana yang aku sudah pesankan tadi malam sebelum pulang tentang rencana kerjanya hari ini. Kemarin – usai ibadah memperingati Hari Kenaikan Yesus Kristus – aku menelepon tulangku yang saat itu beliau memesankan untuk kesiapan mobil yang akan dipakai mulai jam 6.30. Untuk acara si buha-buhai, mungkin …

Sehubungan dengan itu, tadi malam ada kesibukan di rumah kami. Aku baru ingat bahwa Tulang memesankan untuk sekalian menghiasi mobil tersebut. Biasanya pihak pengantinlah yang melakukan ini. Bukan apa-apa, kami pun baru tiba di rumah setelah jam 8 malam. Jadi, pencarian pita yang dibutuhkan barulah dilakukan saat itu. Mana hujan deras pula tadi malam.

Ketika asyik nonton teve – yang acaranya rada membosankan seperti biasanya – tiba-tiba mak Auli meneriakkan bahwa mobilnya sudah siap dihias di teras. Lalu aku bergegas. Dan aku lihat, karya mak Auli bagusnya bukan main! Dengan guyon aku sampaikan: “Wah, kalau lihat begini bagusnya, rasanya aku pengen lagi kita mengulangi jadi pengantin seperti dulu …

Karena mobil dipakai, dengan kemurahan hati kawan sekantor, pagi ini aku menumpang mobilnya untuk bareng-bareng ke kantor. Puji Tuhan, dengan apa yang aku miliki saat ini, masih bisa juga menyukacitakan orang-orang lain untuk sekadar menikmatinya. Bagi beberapa orang mungkin akan berkomentar, “Ah apalah itu sekadar meninjamkan mobil …”, tapi merujuk ke pengalamanku dulu saat menjadi pengantin, urusan mobil pengantin hampir menjadi urusan “serius” dan baru bisa diselesaikan malam hari menjelang hari H-nya.

Aku berharap semuanya berjalan lancar hari ini. Dan sore nanti usai bertugas dengan pengantin, Dadang sudah bisa menjemput Auli, mak Auli, dan ompung Auli untuk sama-sama kerumah ito-ku yang berulang tahun hari ini. Dari kantor aku akan ke sana untuk sama-sama pulang kemudian. 

Tambahan:

Baru saja aku dapat pesan-pendek dari pengurus Koor Ama untuk datang nanti malam ke gereja. Memang jadual kami marguru-ende adalah Jum’at malam, namun belakangan ini sudah sering berubah ke Minggu usai kebaktian karena seringkali yang datang cuma segelintir orang… Rencananya malam ini akan ada diskusi untuk persiapan kegiatan ulang tahun gereja. Tadi sudah aku sampaikan kemungkinan tidak dapat hadir karena acara ulang tahun itoku itu, meskipun tetap mengusahakan untuk datang ke gereja. Jadi, harap dimaklumi kalau kali ini datang terlambat … 

Cuti Sehari untuk Berbakti

Selasa (12/05/09) yang lalu aku mengambil cuti sehari. Rada mendadak, karena pemberitahuan libur seminggu anakku Auli baru aku tahu beberapa hari sebelumnya. Boss di kantor tidak mengizinkan cuti mulai Senin karena ada meeting penting yang harus aku hadiri. Sebenarnya sudah lama kami bertiga merencanakan liburan dengan menginap di luar kota. Tapi karena les musik dan les Bahasa Inggeris yang diikuti Auli saat ini tidak libur, kembali keinginan tersebut harus ditunda dulu.

Hari itu kami putuskan untuk bersama-sama seharian. Apalagi yang bisa kami lakukan di luar yang biasa kami lakukan bersama selama ini? Dan sejalan dengan kebutuhan saat ini, pilihan jatuh pada kesehatan. Kesehatan? Ya, agendanya adalah menemani Auli cabut gigi (didampingi mamanya, bulan lalu saat dicabut giginya yang segera berganti dengan yang baru, Auli stress sampai bergumam ucapan yang ”aneh” …) dan mendampingi mak Auli ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatan karena keluhan tentang benjolan di lehernya yang dirasakan semakin mengganggu.

Pagi hari kami ke PuskesAuli Cabut Gigimas Johar Baru. Puskesmas? Ya, karena di sanalah Auli selama ini merasa nyaman untuk mencabut gigi karena di sana ada bowu-nya yang dokter gigi bertugas. Pastilah secara kejiwaan ada pengaruh positifnya. Kali ini menjadi lebih baik (tidak ada gumaman …), giginya dengan cepat tercabut. Tak ada tangisan. Aku selalu membesarkan hatinya sebagai anak yang pemberani, ternyata memberikan dampak positif.

Setelah itu kami RS Mitra Keluarga Kelapa Gading di Jakarta Utara. Ini juga salah satu langganan keluarga kami sejak tinggal di kawasan Kelapa Gading bertahun-tahun yang lalu. Dokter spesialis  THT langganan kami yang memeriksa mengatakan tidak ada apa-apa, yang ada di leher mak Auli itu hanyalah benjolan biasa. Karena belum puas, akhirnya dianjurkan untuk diperiksa memakai CT-scan. Langsung saja kami ke laboratorium. Hanya boleh mendaftar, karena masih ada proses berpuasa yang harus dilalui sebelum diperiksa oleh alat yang canggih dan harus membayar mahal itu. Artinya, kalau mau dilakukan hari itu, kami harus kembali nanti jam enam. Ya sudah, kami pulang dulu ke rumah. Bagus juga, karena kami bisa mengantarkan Auli ke kursus musik, dan sorenya kembali lagi ke RS Mitra Keluarga.   

Setengah enam kami sudah berada di depan laboratorium RS Mitra Keluarga. Masih harus menunggu giliran, karena ternyata masih ada pasien yang menggunakan alat CT-Scan dimaksud. Hampir satu jam, akhirnya giliran kami dipanggil masuk. Auli harus menunggu di luar – ternyata anakku memang pemberani, dia tidak mempermasalahkan menunggu sendirian di luar; bahkan menolak tawaran mak Auli untuk ditemani Dadang, supir keluarga kami – untuk itu aku masih tetap harus melihatnya dari celah yang tersedia setiap kali ada kesempatan  untuk memastikan bahwa Auli masih duduk dengan tenang di tempatnya.

Di ruangan CT-Scan ada masalah sedikit: mak Auli kurang percaya diri untuk mengikuti pemeriksaan dan pemotretan. Melihat alatnya yang ”aneh” (seperti masuk dalam terowongan dengan suara mirip mesin pesawat …), uji alergi (yang rasanya sakit karena harus disuntik sesuatu di bawah kulit …), lalu disuntik dengan cairan pengontras dalam jumlah yang lumayan banyak, membuatnya rada ciut. Beberapa kali mengusulkan penundaan dan meminta agar dilakukan besoknya saja, namun setelah berulangkali kali aku coba meyakinkan akhirnya pemeriksaan dapat dilangsungkan pada sore hari menjelang malam tersebut.

Laughing at MCT Scan

Akhirnya usai juga, dan kami pun bergegas pulang ke rumah. Letih sudah pasti, namun paling tidak, kami bersyukur karena kami bisa menyelesaikan hari itu bersama-sama. Dan kesempatan bisa ke rumah sakit memeriksakan kesehatan mak Auli baru kali itu bisa kami dapatkan. Itulah salah satu yang membuatku bersukacita, apalagi kemudian kami diberitahu sang dokter bahwa hasilnya baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Haleluya!

Rapat CUM yang Tidak Mencapai Quorum

Tadi malam (18/05/09), diagendakan Rapat Anggota Komunitas Kredit Modifikasi (K2M) alias Credit Union Modification (CUM) di gereja. Wilayah cakupannya sesuai SK Kantor Pusat HKBP, sih, untuk Distrik Jakarta-3; namun faktanya saat ini lebih banyak berkutat di jemaat. Sudah berjalan sejak September tahun lalu, dan – berdasarkan hasil pemeriksaan yang pernah aku lakukan untuk pembukuan tahun lalu itu – menunjukkan ada prospek untuk lebih maju.

Tapi itulah, masih terdapat berbagai hal yang dapat mengimbangi agresivitas pelaksana tugas harian dalam mengembangkan komunitas ini. Yang sering dialami adalah kekurangan dana yang bisa dipinjamkan kepada nasabah (sejauh ini tidak ada kredit macet yang cukup berarti …). Sebagaimana yang pernah aku tulis dalam ‘Ngobrol di Parunung-unungan https://tanobato.wordpress.com/2009/02/02/%e2%80%98ngobrol-di-parunung-unungan-cum-doa-syafa%e2%80%99at-dan-dosa-terhadap-roh-kudus/, keterlibatan Pemimpin Jemaat (dan perangkatnya) adalah sangat minim. Dan terkesan, ma’af, “banci”. Yang sederhana saja, diwartakan dalam Kebaktian Minggu dengan media tingting pun diharamkan. Aneh, ‘kan? Bukan cuma aneh, bahkan sangat aneh.

Nah, tadi malam semua anggota diundang dalam Rapat Anggota yang agendanya adalah membicarakan perjalanan komunitas sejak dimulai beroperasi dan rencananya ke depan. Di undangan tercantum jam 20.00 WIB, namun sampai hampir jam 21.00 yang hadir cuma 19 orang (dan akulah yang ke-19 itu …) sementara minimum peserta rapat yang hadir untuk mencapai quorum adalah 37 orang. Akhirnya rapat ditunda dan direncanakan Minggu, 31 Mei 2009 siang usai ibadah Minggu.

Penundaan rapat karena tidak cukup quorum bukan kali ini saja terjadi. Memang tidak mudah menghadirkan orang-orang di Jakarta ini ke gereja. Apalagi “cuma” sekadar membicarakan komunitas yang masih kondisinya “meragukan” seperti ini. Seringkali aku usulkan untuk mengundang rapat usai Kebaktian Minggu, karena bagaimanapun pasti lebih banyak orang yang datang mengikuti ibadah Minggu daripada yang rela datang khusus untuk rapat. Secara guyon tadi malam aku sampaikan kepada Capen (= calon pendeta) yang ditunjuk Kantor Pusat HKBP sebagai manajer CUM bahwa orang-orang masih mungkin mau datang kalau disediakan makan malam. Apalagi kalau diberitahu ada pembagian “dividen” atau SHU ( = sisa hasil usaha) yang sayangnya untuk tahun ini belum ada yang bisa dibagi karena laporan keuangannya masih minus …

Secara pribadi aku sangat menyayangkan penundaan rapat ini. Sebagai Pengawas yang ditunjuk aku harus menyampaikan hasil pemeriksaan Tim yang sudah selesai bekerja sejak Maret yang lalu. Namun mengingat waktu yang menjadi terbuang percuma, sangat aku sayangkan (padahal saat ini beban pekerjaanku di kantor menjadi relatif lebih banyak, apalagi international auditor baru saja memulai tugasnya …).

Dalam perjalanan ke rumah dan sampai tiba di rumah, aku mencoba menenteramkan hati bahwa menjadi pelayan di gereja adalah pilihan dan konsekuensi bagiku. Ditambah lagi tadi malam aku diminta (sebenarnya yang paling tepat adalah “dipaksa” untuk menjadi Sekretaris Badan Kerjasama Dewan Marturia HKBP Jakarta Utara alias sebagian Distrik Jakarta-3 yang aku sendiri tidak terlalu suka dengan hal-hal seperti ini yang cenderung lebih banyak seremonialnya daripada karya nyata …). Pagi tadi sebelum aku ke kantor, mamakku (yang sejak bulan lalu tinggal di rumah) dengan merujuk pengalamannya sendiri mengingatkan bahwa pekerjaan di gereja adalah kewajiban dan pasti menjadi berkat jika dilakukan untuk Tuhan …

Andaliman-22 Khotbah 24 Mei 2009 Minggu Exaudi

Exaudi

Tuhan mendengarkan do’a yang sungguh-sungguh

Nas Epistel: Matius 9: 27 – 31

Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya.” Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” Maka meleklah mata mereka. Dan Yesuspun dengan tegas berpesan kepada mereka, kata-Nya: “Jagalah supaya jangan seorangpun mengetahui hal ini.” Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu.

Nas Evangelium: 2 Raja 20: 1 – 7

Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah nabi Yesaya bin Amos, dan berkata kepadanya: “Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi.” Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN: “Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mata-Mu.” Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat. Tetapi Yesaya belum lagi keluar dari pelataran tengah, tiba-tiba datanglah firman TUHAN kepadanya: “Baliklah dan katakanlah kepada Hizkia, raja umat-Ku: Beginilah firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu; sesungguhnya Aku akan menyembuhkan engkau; pada hari yang ketiga engkau akan pergi ke rumah TUHAN. Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi dan Aku akan melepaskan engkau dan kota ini dari tangan raja Asyur; Aku akan memagari kota ini oleh karena Aku dan oleh karena Daud, hamba-Ku.” Kemudian berkatalah Yesaya: “Ambillah sebuah kue ara!” Lalu orang mengambilnya dan ditaruh pada barah itu, maka sembuhlah ia.

“Dengarlah, TUHAN, seruan yang kusampaikan, kasihanilah aku dan jawablah aku!”, firman tersebut dikutip dari Mazmur 27:7 yang menjadi dasar firman dalam Minggu ini yang diberi nama Exaudi.

Kedua perikop Minggu ini mengisahkan tentang kesembuhan yang datangnya dari Tuhan. Ep tentang Yesus menyembuhkan orang buta, dan Ev tentang nabi Hizkia yang disembuhkan dari penyakit dan ajalnya yang sudah sangat dekat. Penderitaan diubahkan menjadi sukacita. Yang buta, matanya dicelikkan sehingga dapat melihat. Yang sekarat, disembuhkan dan malah diperpanjang umurnya 15 tahun lagi. Luar biasa?

Apa syaratnya, dan mengapa bisa begitu?

Pada Ep sangat jelas, karena kepercayaan mereka. Selain mengikuti Yesus di jalan – dengan meneriakkan Yesus sebagai Anak Daud, suatu gelar terhormat dan tinggi dalam budaya Yahudi – mereka juga ikut memasuki rumah tempat Yesus bertemu dengan para pengikut-Nya. Terlihat kesungguhan mereka dan kepercayaan mereka tentang kemampuan Yesus. Jawaban mereka mengonfirmasi pertanyaan Yesus tentang kemampuan-Nya dalam menyembuhkan mereka yang buta. Kepercayaan tersebutlah yang menjadi penghubung antara manusia dengan sang juru selamat.   

Yesus mengigatkan mereka untuk tidak memberitahu siapapun tentang kesembuhan tersebut, untuk mencegah jangan sampai kesembuhan tersebut diberitakan sebagai kedatangan Mesias, sesuatu yang sering disalahartikan sebagai Yesus yang akan memerangi bangsa Romawi yang sedang menjajah bangsa Israel. Namun sukacita mereka lebih mendorong mereka untuk menyiarkan berita kesembuhan tersebut daripada merahasiakannya terhadap orang lain yang tentu saja heran atas kesembuhan tersebut.

Sesuatu yang lazim terjadi. Juga pada masa kini. Saat meminta sesuatu kepada Tuhan, aku seringkali mengemasinya dengan puji-pujian dan pengakuan betapa berkuasanya Dia dalam segala hal sehingga mampu memberikan apa yang menjadi permintaanku. Begitu dikabulkan, rasa sukacita yang meluap-luap akan mengalahkan segala sesuatunya. Pun jika di dalamnya ada kondisi-kondisi tertentu yang harus dipatuhi …

Bagaimana dengan Ev? Perikop ini ”bersinopsis” dengan Yesaya 38 yang berkisah tentang nubuat Yesaya tentang kematian Hizkia. Dengan berurai air mata, Hizkia menyampaikan permohonannya kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh dan kepercayaan yang teguh akan kemampuan Allah dalam menyembuhkan penyakitnya. Perlu diingat, bahwa nubuatan dapat terjadi dalam kondisi-kondisi tertentu sehingga Allah-pun dapat mengubah rencana-Nya sesuai dengan tanggapan manusia terhadap firman-Nya. Masih ingat tentang Yunus dan kota Niniwe yang  dinubuatkan akan segera dimusnahkan, ’kan? Tuhan membatalkannya karena melihat kesungguhan bangsa tersebut dalam menunjukkan pertobatannya.

Itulah kekuatan doa. Minggu lalu membicarakan tentang doa (syafa’at) yang mampu meluluhkan hati Tuhan dari kemarahan-Nya yang berganti menjadi belas kasihan, yakni doa Musa untuk bangsa Israel agar Tuhan membatalkan rencana-Nya untuk memusnahkan bangsa Israel. Minggu ini mengisahkan do’a pribadi untuk diri sendiri yang disampaikan dengan sungguh-sungguh yang juga mampu mengubahkan rencana Tuhan. Penegasan ini sangat diperlukan oleh semua orang, termasuk aku yang masih terus bergumul dengan kerinduanku yang masih selalu aku mohonkan kepada Tuhan sampai suatu saat dikabulkan-Nya. Dan aku meyakininya bahwa Tuhan pasti akan menjawab kerinduanku tersebut. Pada saat terindah menurut Tuhan …

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Dalam setiap do’a syafaat pada setiap kebaktian yang pernah aku hadiri pasti ada permohonan kesembuhan untuk orang-orang sakit. Ini membuktikan bahwa sakit penyakit adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Jangan mengira bahwa orang Kristen tidak akan pernah jatuh sakit karena mengira bahwa sakit adalah hukuman Tuhan. Tidak selalu, kawan. Tapi yang pasti, setiap penyakit adalah cara Tuhan dalam menunjukkan kemuliaan-Nya. Hal yang berlaku juga untuk setiap kejadian dalam kehidupan di dunia ini, bukan?

Perikop Minggu ini keduanya menceritakan tentang penyakit dan penderitaan. Dan keduanya disembuhkan! Kata kuncinya adalah kepercayaan. Percaya bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan. Itulah yang seharusnya mendorong kita untuk memintanya dalam do’a yang sungguh-sungguh saat memohon kepada-Nya. Tuhan pasti mendengarkan. Tinggal kita yang harus melakukannya, selanjutnya serahkan kepada Tuhan kapan dan bagaimana Dia menunjukkan kuasa-Nya dalam menyembuhkan kita dan orang-orang yang berdo’a dan dido’akan dengan sungguh-sungguh.